Stories

  • Bukan Kebetulan

    Tabik.

    Belum lama ini saya bertemu dengan salah satu CEO di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan. Orang itu sebelumnya mengirimkan surat elektronik kepada saya untuk menawarkan kerjasama. Karena terlihat menarik, saya pun tidak butuh waktu lama langsung mengiyakan. Jadi, pertemuan hari itu tidak lain ialah buah dari percakapan melalui email.

    Well, saya tidak perlu membahas apa isi kerjasamanya. Karena toh nggak penting untuk dibeberkan ke muka publik hehe. Namun saya hanya mengulas dari satu perspektif saja. Apa itu?

    Bukan kebetulan.

    Setelah menyimak dengan seksama, ternyata CEO yang menawarkan kerjasama dengan saya itu berjejaring cukup kuat dengan donor saya: Theodore Permadi Rachmat. Ia pun cukup mafhum dengan Mr. Corporate Culture yang menjadi Guru saya di tempat kerja sebelumnya.

    Yang lebih mengejutkan lagi, apa yang ditawarkan sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini. Lebih dari itu, apa yang ditawarkan sejalan dengan apa yang saya cari selama ini. Setidaknya dari pesan moral.

    Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

    Percaya atau tidak. Hukum tarik-menarik (ketertarikan) benar-benar ada. Jadi, apa yang kita pikirkan lama kelamaan menjadi kenyataan. Setidaknya dalam kasus kerjasama ini.

    Jika ditarik mundur, akan ada lebih banyak lagi momen-momen yang bukan kebetulan. Saya yakin semua telah digariskan-Nya. Hanya saja cara kita menyikapilah yang membuatnya tidak begitu terasa.

    Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan di dunia ini. Kita tidak bisa memilih kapan dilahirkan. Sebaliknya, kita tidak bisa menentukan kapan kematian datang. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dengan etnis dan agama apa. Kita juga tidak bisa menentukan dilahirkan di kota dan negara mana.

    Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan di dunia ini. Semua masalah yang kita hadapi unik. Tidak ada orang yang benar-benar memiliki jalan hidup serupa dengan kita. Karena setiap insan diciptakan Tuhan dengan nilai istimewa. Karena setiap yang bernyawa memiliki peran masing-masing.

    Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin bagi Anda ungkapan ini terdengar sangat klise. Tapi begitulah cara Tuhan mengingatkan hamba-Nya. Bukan kebetulan?

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Jakarta, 20 Februari 2017


  • Buah Semedi Itu Bernama Life Mantra

    Mungkin semua orang pernah menikmati liburan. Tapi saya yakin belum tentu semua orang berani keluar dari pekerjaan hanya untuk “semedi”. Satu aktifitas yang dianggap buang-buang uang, waktu, tenaga dan pikiran.

    Gw sendiri memutuskan “bertapa” selam 1 (satu) tahun penuh. Meninggalkan karir yang cukup baik (untuk ukuran kelas menengah Indonesia). Menjalani hari demi hari tanpa perlu menunggu perintah bos, aturan waktu yang mengikat, dan gaya hidup yang nyaman. Satu fase yang penuh dengan hal-hal paling mengejutkan dalam hidup.

    So, apa yang didapatkan selama semedi? Ada banyak. Tapi salah satunya ya buku kecil berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life CrisisHanya butuh 2 minggu menuliskan “bocah” ke-8 saya ini. Tapi, isinya tidak main-main.

     

    So, apa sih pesan dari “jabang bayi” ini?

    1. Saripati (>) 1/4 abad petualangan, pergumulan bathin dan kontemplasi menjalani hidup.
    2. “Oleh-oleh” 1 tahun penuh masa Sabbatical (Gap Year) melintasi lebih 16 provinsi, ratusan kota dan ribuan desa. Termasuk 6 bulan “semedi” di sebuah pulau (surga) di bibir Selat Malaka 😛
    3. Riset saya pribadi yang menghabiskan wawancara face to face (maupun virtual) lebih dari 500 orang di 20 provinsi, 35 kota, dan 7 negara. Mulai dari Profesor, CEO, Menteri, Juru Bicara Presiden, Rektor, anggota DPR, bankir, penulis, artis, dokter, pengacara, pedagang, bhiksu, motivator, penyanyi, Pemimpin Redaksi, Panglima TNI, ilmuwan, politisi, PR, akuntan, petani, hingga profesional dari berbagai bidang.
    4. Studi literatur yang “memakan” lebih dari 1300 buku. Sebagian besar terbitan USA dengan perspektif (peradaban dan pemikiran) gado-gado. Mulai dari Islam, Barat, Kejawen, Yahudi, Persia, Tiongkok, dan Hindi.

    Baca Juga:  Ngapain Aja Gue Selama “Semedi”? —– Apa Yang Gue Dapet Selama Gap Year? —– 4 Hal Yang Harus Lho Pikirkan Sebelum Sabbatical

     

    Mengapa buku ini gw tulis?
    Simple saja. Gw pernah berada di titik terendah dalam hidup bertajuk Quarter-Life Crisis. Mencoba berdamai diri sendiri dengan mendatangi para bijak bestari, yogi, dan mencari “diri yang hilang” melalui beragam cara. Memakai jasa hipnoterapis, Life Coach, psikiater, grafolog, hingga psikolog. > 50 Self-Assesment multipendekatan (dan teknologi) telah gw coba.

    Gw nggak ingin adik-adik generasi di bawah gw mengalami hal yang sama. So, buku ini tidak berisi bualan. Bukan curhatan sampah. Bukan pula rangkaian kata-kata untuk (sok) memotivasi. Buku ini murni hasil perenungan berbasis riset ilmiah.

    Buku ini nggak berisi kutipan sono-sini yang penuh teori. Tapi sarat dengan Work Book. So, rugi banget kalau hanya sekedar membaca tapi nggak mau mengerjakan “tugas” dari gw.

    Dan . . . . buku ini dilengkapi dengan berderet pendekatan untuk mengenali diri pembacanya. Self-Discovery paripurna. Inshaallah.

    Gw ucapkan banyak terima kasih untuk para Guru Kehidupan yang telah memberikan testimoni. Bapak Asep Saefuddin, Kang Dedi Priadi, Mas Kemal Gani. dan Coach Andrew Tani.

     

    13 Maret 2017 bisa didapatkan di Gramedia terdekat di seluruh Indonesia. Semoga nggak molor ya hehe.


  • Life Mantra: Jurus Melewati Fresh Graduate Syndrome dan Krisis Seperempat Baya

    Berbicara mengenai masa transisi memang tidak ada habisnya. Sebuah fase kehidupan yang sarat dengan kejutan, ketidakpastian, dan tentu saja perubahan. Sebuah periode yang lekat dengan persimpangan, pengambilan keputusan, dan pilihan ekstrem.

    Turbulensi kehidupan di masa peralihan terbukti menjadikan setiap orang lebih dewasa. Hal itu ditopang oleh dorongan dari dalam diri dan tekanan sosial bertubi-tubi yang membuatnya mengenal diri lebih dekat dari fase kehidupan mana pun.

    Namun bukan berarti masa peralihan berjalan mulus-mulus saja. Yang kebanyakan terjadi justru sebaliknya. Alih-alih langsung tanggap menerima ketidaknyamanan, orang-orang yang melewati “masa pancaroba” tersebut dirundung kegalauan tak berkesudahan. Bimbang mengambil keputusan, cemas menghadapi masa depan, hingga takut menentukan pilihan. Akibatnya stuck tak terelakkan lagi.

    Buku sederhana yang Anda baca saat ini muncul ke  permukaan bukan tanpa tujuan. Karena penulis  secara pribadi pernah terjerembab dalam krisis seperempat baya yang menguras emosi. Terpaan badai fresh graduate syndrome yang membuatnya menjadi “kutu loncat”, hilang arah, jatuh di titik terendah dalam hidup, berpetualang selama setahun dalam misi sabbatical, hingga menemukan diri yang baru. Mirip roller coaster.

    Terinspirasi dari kisah nyata yang dialami penulis, buku ini diperkuat oleh riset dari berbagai institusi.  Termasuk survei pribadi yang melibatkan lebih dari 200 orang di 20 provinsi dan 27 kota di tanah air serta 8 kota di 7 negara. Mulai dari profesor, bankir, pengacara, pengusaha, guru, artis, hingga pemuka agama.

     

    Apa Kata Mereka? 

    “Tidak seperti buku-buku self-help lainnya, buku ini ditulis dengan ungkapan bahasa yang menakjubkan. Mengalir lepas seperti air! Inilah kelebihan tulisan-tulisan Agung Setiyo Wibowo. Mas Agung – demikian penulis biasa disapa – menulis dengan aliran kata yang fasih, bernas, diksi yang membumi, namun tetap akurat mengungkap fakta.” 

    (Dedi Priadi, MT., MA., – Inventor PRiADI Psychological Fingerprints)

     

    “Buku ini penting dibaca oleh para fresh graduate yang masih galau dengan masa depannya. Masa transisi dari lulus kuliah hingga bekerja dan berumah tangga memang tidak mudah. Karena ada begitu banyak pilihan, persimpangan jalan, dan ketidakpastian yang sering membingungkan setiap individu. Banyak orang yang hanya jalan di tempat atau malah jatuh terjerembab. Buku ini mungkin tidak bisa menjadi obat instan, tapi setidaknya bisa dijadikan rujukan untuk menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan menjadi baik.”

    (Kemal E. Gani – Group Chief Editor SWA Media Inc.)

     

    “Buku Life Mantra karya Agung Setiyo Wibowo akan mengisi kekosongan referensi bagi para fresh college graduate yang dapat memberikan nasehat berharga mengenai upaya menyiasati dan merintis permulaan karir generasi para milenial pada abad ke 21 ini.”

    (Andrew Tani – CEO AndrewTani & Co.)

     

                “Saya salut kepada penulis buku ini, Mas Agung Setiyo Wibowo, yang telah mampu menuangkan pemikirannya tentang Fresh Graduate Syndrome (FGS) dan Krisis Seperempat Baya (QLC). Mengapa? Karena masalah ini sering dihadapi orang di saat berbahagia tetapi dihadapkan dengan kebingungan masa depan. Pada saat seseorang lulus ujian sarjana dan diwisuda, tentu bahagia. Tetapi pada saat itu juga dia bingung, tidak yakin, kurang faham keterampilan apa yang telah diperolehnya selama ini. Memang itu tidak melulu kesalahan individual, tetapi juga persoalan kelembagaan pendidikan dan dunia kerja. Akan tetapi setidaknya buku ini bisa menjadi penerawang bagaimana masa depan itu harus dihadapi.

                Rasa salut saya juga bertambah karena buku ini boleh dikatakan sebagai produk riset. Karena buku ini diperkuat melalui setidaknya 200 responden di 20 provinsi, 27 kota/kabupaten di Indonesia, dan 8 kota di 7 negara. Ini luar biasa dan membuat tentunya kita semakin ingin tahu apa isinya. Untuk menghilangkan rasa kepenasaran itu, buku ini menjadi wajib  dibaca. Selain itu, diharapkan juga buku ini dapat membantu metode self-help dan move on. Masa depan itu kita sendiri yang menentukan melalui kerja, usaha dan do’a. Selamat membaca.”

    (Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc – Rektor Universitas Trilogi, Guru Besar Statistika FMIPA IPB)

     

    Siapa sih yang perlu baca?

    1. Fresh Graduates (SMA/SMK/D1/D3/S1)
    2. Profesional muda yang masih galau dengan masa depan
    3. Para jomblo yang bengong jika ditanya kapan kawin
    4. Para Career Climber yang merasa stuck dengan pekerjaan sekarang
    5. Orang tua hebat yang peduli dengan kesuksesan putera-puterinya
    6. Para manager/supervisor (atasan) yang ingin mengenal lebih baik bawahannya
    7. Para Direktur Sumber Daya Manusia (HR) yang ingin tahu “luar dalam” karyawannya
    8. Siapapun yang ingin mencari jati diri, kebahagiaan, dan ketentraman
    9. Para pencari kebijaksanaan di mana pun berada

     

    Berapa harganya?

    Di Gramedia, buku ini dipatok Rp. 64.800,- per eksemplar.

     

    Bagaimana cara mendapatkannya?

    Ada dua cara sih sebenarnya mah:

    1. Anda bisa membeli buku sederhana ini di Gramedia terdekat di kotamu.
    2. Anda bisa membeli buku versi digital di Scoop dengan harga Rp 50.400,-
    3. Anda bisa membeli secara daring melalui Bukabuku dengan harga Rp 51.840,-
    4. Anda bisa memesan langsung kepada saya dengan harga Rp 65.000,- (di luar ongkos kirim). Bonus voucher Squline senilai Rp 100.000,- untuk belajar bahasa Inggris/Mandarin/Jepang, dan gratis Self-Discovery Coaching bersama penulis senilai Rp 500.000,-. Ini hanya berlaku untuk 50 pemesan pertama sebelum 30 April 2017 ya 😛 

    Nggak Sabar Mau Baca? Yuk Isi Formulir Pemesanan Di sini!

    Bagaimana cara pembayaran jika membeli langsung kepada penulis?

    1. Pembeli mengirim SMS/Whatsapp ke 085230504735 dengan mengetik <Jumlah Eksemplar> <Life Mantra> <Nama> <Kota Asal>
    2. Penulis memberitahukan ongkos kirim (+ Rp 65.0000/harga buku) kepada pembeli
    3. Pembeli mentransfer ke rekening  34200-99-761 (BCA) atas nama Agung Setiyo Wibowo
    4. Pembeli mengirimkan bukti transfer melalui grandsaint@gmail.com maupun Whatsapp/Instagram/Line +62 852 3050 4735
    5. Penulis mengirimkan buku ke alamat yang diinginkan pembeli

     

    Adakah narahubung untuk ‘kepo’ maksimal?

    Ya ada dong dear. Lho langsung bisa menghubungi penulisnya Agung Setiyo Wibowo melalui:

    • hello@agungwibowo.com atau grandsaint@gmail.com (surel)
    • +62 852 3050 4735 (Call/SMS/Whatsapp/Telegram/Line)

  • Resmi Dibuka: Pemesanan Buku “Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?”

    Memilih jurusan kuliah mungkin bagi sebagian orang remeh-temeh saja. Sesederhana memilih kostum untuk pesta, destinasi plesiran, atau nongki-nongki cantik. Tapi bagi sebagian yang lain, justru sebaliknya. Jurusan kuliah dianggap sebagai “kunci ajaib” yang mengantarkannya kepada profesi tertentu. Tidak sedikit yang tidak mau ambil pusing. Pilih saja salah satu, toh apapun jurusannya memiliki peluang yang sama untuk bisa menjadi “cetar badai” di kemudian hari.
     
    Apapun pendapatnya, sah-sah saja. Karena setiap orang memiliki mindset, values, asa, dan tujuan hidup masing-masing to?
     
    Cerita sederhana yang terangkum dalam buku ini sengaja saya tulis untuk calon mahasiswa, mahasiswa, dan alumni jurusan Hubungan Internasional (HI). Di dalamnya, saya beberkan dari A ke Z mengenai jurusan yang “katanya” cukup favorit itu. Mulai dari kurikulum, dinamika organisasi kemahasiswaan, KKN, magang, tugas akhir, prospek pekerjaan, networking, ‘go international’, dan panduan mengenali jati diri berbasis multipendekatan (Self-Help). Oh ya, juga ada kurasi profil para alumni kenamaan lintas generasi, lintas perguruan tinggi, dan lintas profesi. Dari Menteri, Artis, Pesulap, Penulis, Pengusaha, Aktivis NGO, Diplomat, Bankir, Bupati, Grafolog, Coach, Sociopreneur, dan seterusnya
     
    Buku ini sama sekali bukan untuk menggurui. Hanya secercah cerita dari orang yang pernah mengalami lebih dulu. Informasi yang diberikan pun berimbang, tidak berat sebelah. Gaya bahasa yang dipakai juga “lo, gue”. Dibumbui dengan inspirasi dari para alumni HI yang kece dengan berbagai rahasia kesuksesannya, buku ini sangat recommended sebagai bacaan selingan untuk:
    1. Calon mahasiswa yang lagi galau bin kepo untuk memilih HI
    2. Mahasiswa dan dosen HI di seluruh Indonesia
    3. Para alumni HI yang ingin mengenang masa kuliahnya
    4. Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Wali Kelas SMA/MA sederajat
    5. Pencari kebijaksanaan dimanapun berada

     

    Apa kata mereka?

    “International relations: Master something about everything, vs master everything about something. In life and work, I prefer the first.”

    (Daniel Tumiwa – CEO OLX Indonesia)

     

    “Hubungan Internasional sebagai sebuah disiplin ilmu telah menempati posisi penting dan strategis tidak hanya dalam dunia akademik tetapi juga praktis. Keseharian kita hampir tidak mungkin terlepas dari fenomena hubungan internasional dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia hingga aktualisasi diri dalam berkontribusi bagi peradaban. Buku ini membuka kesadaran dan pemahaman Anda atas pilihan hidup yang tepat dengan memilih Hubungan Internasional.”
    (Prof. Dr. Tirta N. Mursitama Ph.D – Ketua Departemen Hubungan Internasional Binus University, Ketua Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia).

     

    “Belajar Hubungan Internasional di UGM memberi saya pijakan untuk memahami berbagai isu dalam masyarakat dalam kerangka politik nasional, regional, maupun global. Kini sebagai novelis dan pendiri ASEAN Literary Festival, saya mengawinkan dua hal yang telah membentuk saya: ilmu hubungan internasional dan sastra. Buku ini akan menjadi pengantar yang menarik bagi siapapun yang ingin tahu tentang ilmu hubungan internasional dan sumbangan alumninya pada masyarakat.”

    (Okky Madasari – Penulis Novel Best Seller)

     

    “Berbicara bidang studi memang cenderung kering. Dunia akademis memang tidak mudah dicerna. Buku ini berbeda, karena meskipun topiknya akademik, tetapi yang dibahas justru manusianya. Kalau bicara manusia, apalagi dengan pengalaman yang nyata, maka siapapun pasti tertarik untuk membacanya. Perspektif terhadap program studi Hubungan Internasional memang cenderung abstrak, karena memang prodi ini tidak fokus sejak awal. Cerita mengenai “orang-orang HI” tentu berbeda, karena dia bisa saja tetangga sebelah, teman main futsal, atau kolega bisnis. Jadi apa dan siapa mereka, buku ini pasti memuaskan rasa ‘kepo’ kita.”

    (Ir. Totok Amin Soefijanto, MA, Ed.D – Deputi Rektor Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina)

     

    “Masa kuliah boleh dikatakan sebagai masa paling penting dalam pengembangan diri setiap individu. Pada titik ini, siapa saja bisa bertransformasi sesuai yang diinginkan. Buku ini wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa hubungan internasional yang berani membuat perbedaan.“

    (Muhammad Dudi Hari Saputra – Wasekjend DPD KNPI Kalimantan Timur)

     

    “Saya percaya Mas Agung adalah orang yang merangkak dari bawah mengenali sesuatu, tekun mencerna, dan sungguh-sungguh menjalani pengenyaman akademisnya. Perjuangan yang lebih besar dibandingkan orang kebanyakan mengantarkannya menjadi pribadi yang lengkap, berpengalaman, dan layak menjadi dosen yang sanggup memberikan ilmu afektif, kognitif, dan pengajaran berbagai dinamika terbaru politik internasional dari berbagai sudut pandang. Buku ini menyampaikan apa yang juga saya rasakan: memilih HI dan melihat realita yang ada, tidak perlu berkecil hati dengan keilmuan lain. Pengabdian atas keilmuan HI bisa dilakukan di begitu banyak lini kehidupan, sejauh bagaimana tiap-tiap insan HI menjalani perkuliahannya.”

    (Adi Mulia Pradana – Assistant Manager Operations Aleph-Labs; Co-founder Wikidpr.org)

     

    Berapa harganya?**

    • Early Bird (sebelum 28 Februari 2017): Rp 50.000,-*
    • Harga normal: Rp 70.000,-*

    *belum termasuk ongkos kirim

    ** 30% dari hasil penjualan buku disumbangkan untuk amal

     

    Apa benefit membeli buku ini?

    1. Voucher belajar bahasa Inggris/Mandarin/Jepang dari Squline senilai Rp 100.000,- untuk semua pembeli
    2. Gratis coaching dengan Syahrul Komara, M.BC Nav.,C.Ht,CI, CTA,CM-NLP – HR Coach & Talent Analyst senilai Rp 500.000,- untuk semua pembeli
    3. Gratis Self-Discovery Coaching dengan Agung Setiyo WibowoASEAN Blogger Ambassador 2011 & Penulis 7 Buku senilai Rp 500.000,- untuk semua pembeli
    4. Gratis  tiket pesawat Jetstar Airways rute Jakarta-Singapura (PP) dan tiket pesawat  Malaysia Airlines rute Jakarta-Kuala Lumpur (PP) untuk pembeli ke-9000 dan ke-10.000  pada penerbangan Mei 2017 dari Zaki Yamani –  CEO PT.Cahaya Maha Pertiwi
    5. Gratis analisis tulisan tangan (grafologi) dengan  Vita Harsono ‎ –  Grapho-therapist & Transformation Coach untuk 3 pengirim ulasan buku terbaik masing-masing senilai Rp 500.000,-
    6. Gratis konsultasi & analisis kepribadian berbasis sidik jari dengan Dedi Priadi, MT, MA –  Penemu PRiADI Psychological Fingerprints (P2F)  untuk pembeli ke-1000 senilai Rp 500.000,-
    7. Gratis Brain Massage dan terapi pikiran dengan Noval Y. Ramsis, CNLP., CH., CHT., CMIH – Master Instant Healing & Hypnotherapist untuk pembeli ke-100, ke-500, dan ke-750 masing-masing senilai Rp. 1.950.000 ,-
    8. Potongan harga untuk pembelian rumah di Teras Cikarang 2 Bekasi untuk pembeli ke-2000, ke-3000, ke-4000, ke-5000, ke-6000, ke-7000, ke-8000 dari PT.Cahaya Maha Pertiwi masing-masing senilai Rp 20.000.000,- (selama persediaan masih ada)
    9. Gratis coaching dengan MNF. Prasetyo, MBA, CEC – Life, Business, & Corporate Coach untuk 3 pengirim testimoni terbaik masing-masing senilai Rp 1.000.000,-

     

     

    Ingin memesan?

    Isi saja formulir ini atau klik pranala ini:  goo.gl/forms/C0uzLkFweenwhivE3

     

    Narahubung

    Kontak: Agung Setiyo Wibowo

    Mobile: +62 852 3050 4735 (Whatsapp/Line/Call/SMS/Telegram)

    Email: grandsaint@gmail.com/hello@agungwibowo.com


  • Trade Off

    “Tuhan Maha Adil”. Ungkapan ini begitu klise. Karena dimanapun semua orang juga sudah tahu. Kalau kata teman-teman nongkrong saya di Jakarta, “biasa aja kaleeee . . .”.

    Lantas, bila sudah menjadi rahasia umum mengapa saya tulis di sini? Well, akhir tahun ini saya memang menarik benang merah dari apa yang saya alami di sepanjang 2016.

    Memang, masih ada lesson-learned lain yang tak kalah penting. Namun, kalau dipikir-pikir lagi saya rasa “Trade Off” yang paling mewakili. Lah, apa dasarnya?

    Sederhana saja sih. Dalam hidup kita tidak mungkin akan mendapatkan semua hal dalam satu waktu. Karena kesempurnaan katanya hanya milik Gusti Allah.

    Taruh saja kehidupan para artis. Kurang apa sih mereka? Tenar ya. Berkecukupan? So pasti. Sehat wal’afiat?  Belum tentu. Harmonis rumah tangganya? Perlu dipertanyakan deh. Bandingkan dengan pejabat kelas kakap yang tengah korup. Berkuasa? Yes. Bergelimang harta? Ya dong karena “merampok uang rakyat”. Apakah hidupnya bahagia? Mungkin tidak karena sewaktu-waktu amal perbuatannya terbongkar.

    Walaupun tak apple-to-apple, saya bisa juga membandingkan kehidupan orang Jabodetabek dengan orang Bintan – tempat saya menghabiskan masa Sabbatical belakangan. Kelompok pertama lebih unggul secara finansial, stres berlama-lama terjebak macet, pergi ke pusat perbelanjaan, membeli barang-barang bermerek, dan pelesiran ke luar negeri untuk tangkal stres. Kelompok kedua mungkin pendapatannya tak seberapa, tak (atau belum) pernah merasakan macet, masih bisa hidup seimbang (olahraga, kumpul dengan keluarga dan ibadah) terjaga. Kedua kelompok memang tidak absolut seperti itu karakteristiknya. Tapi mungkin itu mewakili gambaran umum.

    Begitulah trade off. Dengan caranya, Tuhan memberikan keadilan bagi setiap orang. Ada yang diunggulkan finansialnya, ada yang dilebihkan keluangan waktunya, ada yang dijamin kesehatannya, ada yang oke spiritualnya, ada yang lebih baik modal sosialnya, ada pula yang mendapatkan semuanya dalam satu waktu – kendati hampir mustahil.

    So, hidup memang trade off. Karena bermuara kepada pilihan. Mau dibawa kemana hidup kita? Ya, bergantung pilihan masing-masing. Mau dipakai untuk apa hidup ini? Ya, kembali ke pilihan pribadi. Mau dimaknai seperti apa hidup ini? Ya, setiap hati dan kepala memiliki jawaban yang saling sahut-menyahut.

    Bagaimanapun hidup kita saat ini, jalani saja! Karena bahagia atau tidaknya hidup ini ialah pilihan. Kita tidak bisa mengendalikan atau menolak apa yang akan terjadi kepada kita. Tapi kita bisa mengendalikan cara kita menyikapinya. So, enjoy your trade off!

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Bintan, 29 Desember 2016


  • Apa Pelajaran Selama Masa Sabbatical?

    Sepanjang 2016 hidup saya bak drama. Betapa tidak. Rutinitas 9-5 tiada. Tiada bos, tiada bawahan. Yang ada hanyalah menjadi anak bolang. Seorang yang dengan sadar memilih untuk jeda sejenak dari hiruk-pikuk kejar-mengejar target hidup.

    Itulah Sabbatical. Satu pengalaman yang mungkin tidak terulang dua kali. Satu episode perjalanan yang sarat dengan hikmah.

    Lantas, apa yang kamu dapat Mas Agung? Bukannya kamu buang-buang waktu dan uang saja? Nggak sayang tuh tidak bekerja selama setahun?

    Heiiii, hidup memang butuh uang. Tapi bukan berarti semua aktivitas kita bisa dinilai dengan uang toh?

    Oke deh. Kali ini saya beberkan apa saja sih yang saya pelajari selama masa jeda. Yuk mareee …..

     

    Baca juga: Mau Jalani Sabbatical? Pikir-Pikir Dulu Deh . . .  *** Apa Yang Saya Lakukan Selama Masa Sabbatical?

    Hidup Adalah Perjalanan

    Klise sekali bukan? Yes, apa boleh buat. Begitulah kenyataannya. Manusia bisa berencana sekece badai apapun. Tapi toh kita nggak akan tahu persis apa yang benar-benar mengisi setiap episode hidup ini. Yang paling simple deh, bisa nggak lho menentukan kapan waktu lahir dan mati, nikah dan beranak, atau menghindari sakit? Mungkin merencanakan bisa aja ya. Tapi, hasil bukanlah wewenang kita.

    Seperti saya sendiri. 2016 ini harusnya saya sudah berada di negeri orang. Bergumul dengan buku dan jurnal lagi dalam misi Strata Tiga jika dicocokkan dengan rencana 2015.  Kenyataannya, saya justru mengurungkan niat untuk sekolah lagi karena satu dan lain hal. Hanya ikhlas yang menjadi obat untuk bahagia di titik  ini.

     

    Waktu Takkan Pernah Terbeli

    Yes, Tuhan paling adil kalau yang satu ini. Siapapun diberi jatah waktu yang sama. Satu hari ada 24 jam kan? Mana ada orang yang hanya diberi 20 jam atau 12 jam hanya karena Tuhan marah kepada mereka? Ehhehehe.

    Eh beneran deh. Waktu itu mahal sob. Makin banyak urusan, makin tinggi jabatan, makin besar pengaruh; waktu berasa begitu kurang.

    So, buat setiap detik bermakna dalam hidupmu. Apapun rencana, target, dan tujuan hidupmu. Karena waktu yang telah berlalu nggak akan bisa diputar ulang. Lantaran waktu nggak bisa dibeli. Misal gini deh, lho ditakdirkan Tuhan di usia 90 tahun. Sebanyak apapun uang yang kau miliki mana bisa lho membeli 1 atau 5 tahun untuk menunda kematian? Ya kali . . . . .

     

    Hidup Adalah Pilihan

    Setiap saat kita dihadapkan pada pilihan. Entah dari yang remeh temeh seperti mau makan apa, mau rapat jam berapa, atau mau pakai baju apa di pesta. Hingga urusan njlimet sekelas menentukan pekerjaan, rumah, dan jodoh. Kenyataannya, hidup memang serangkaian dari pilihan yang seakan tak berujung.

     

    Tujuan Hidup Itu Kompas

    Hidup ini singkat saudara-saudara. Kita nggak akan pernah tahu di usia berapa Tuhan mencabut nyawa ini. So, kalau mau hidupmu bermakna ya harus tahu tujuan hidup. Jika tidak ada tujuan, hidup kita akan “muter-muter” saja bak benang kusut.

    Misalnya gini deh. Lho sekarang lagi ada di Kota Jakarta. Lagi bingung nih mau balik ke mana. Sampai 1 abad pun lo akan muter-muter di Jakarta jika tak tahu arah pulang. Berbeda ceritanya jika lo udah mantap mau pulang ke Surabaya. Cara menuju ke Kota Pahlawan bisa via udara, darat, dan laut. Lewat darat pun masih bisa memilih dengan mobil pribadi, kereta api, jalan kaki, bus, hingga sepeda motor.

    Jadi, nggak berlebihan kan kalau tujuan hidup itu seperti kompas? Ya penunjuk arah ketika kita tersesat. Ia menjadi cahaya ketika kita berada dalam kegelapan. Ia menjadi energi ketika kita sedang terpuruk. Ia penunjuk jalan yang mengantarkan langkah-langkah kecil kita setiap hari.

     

    Bahagia Itu Sederhana

    Sebenarnya apa sih yang kita cari di dunia ini? Kita rela banget capek macet-macetan di jalan hingga berjam-jam. Di akhir pekan, tak jarang kita masih kejar setoran agar bisa lebih cepat memiliki A, agar bisa mencapai X, agar bisa mencapai G. Kita seringkali menggadaikan waktu-waktu emas bersama keluarga hanya untuk mengejar angan-angan yang seperti tak ada ujungnya. Apa sih yang kita mau sebenarnya?

    Golongan Satu mungkin sekarang berapi-api ingin bebas secara finansial. Karena menurut mereka jika harta sudah mencapai titik tertentu, mereka tinggal ongkang-ongkang kaki, kipas-kipas cantik sambil, berleha-leha di pantai sambil minum bir? Sesederhana itukah? Kayaknya nggak deh. Saya nggak percaya tuh dengan “kebebasan finansial”. Karena setajir apapun orang, nggak ada tuh ceritanya menganggur. Nggak ada tuh kata malas. Yang ada mereka bergerak, apapun yang dikerjakan.

    Sama seperti Bapak saya deh. Di usianya yang sudah mendekati 70, harusnya beliau nggak usah ngoyo. Diam saja di rumah. Tapi faktanya, beliau sebaliknya. Bekerja ialah panggilan hidupnya. Jadi mau bagaimanapun tiap saat harus ada yang dilakukan. Setali tiga uang dengan donor S1 saya. Beliau adalah salah satu dari 30 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Dengan pencapaian itu, mungkin kita pikir dia hanya menikmati masa tuanya dengan males-malesan di kasur, tidur-tiduran di pantai, atau foya-foya menghabiskan uangnya yang nggak terhitung jumlahnya. Kenyataannya tidak. Justru beliau makin rajin berderma. Menyumbangkan rizkinya untuk amal. Memberi beasiswa, menyantuni kaum miskin, dan memajukan gurita bisnisnya.

    So, omong kosong deh kalau bahagia itu mahal. Karena yang sebenarnya justru sebaliknya. Bahagia begitu sederhana. Nikmati aja apa yang kamu miliki sekarang. Nikmati saja peran kamu sekarang. Nikmati saja perjalanan hidupmu sekarang. Nggak perlu menunggu mencapai ini itu, memiliki ABC, atau menduduki kursi XYZ.

     

    Kunci Sukses

    Yes, setiap orang saya yakin pasti mau sukses. Lihat saja sejak kecil kita sudah bersaing ketat untuk meraih peringkat pertama di kelas. Menjadi yang terbaik! Ketika menjadi karyawan, berjuang mati-matian agar bisa segera naik ke level CEO. Ketika bisnis sendiri, kita berambisi seperti api agar usaha makin menggurita dengan keuntungan tak terbatas.

    Singkat kata, detik demi detik kita seperti dalam perlombaan. Seperti kesetanan dikejar anjing galak di tengah hutan rimba. Ya kali . . .

    Manusiawi memang. Setiap individu menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Entah kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan.

    Masalahnya, apa sih sukses itu? “Makanan” macam apa tuh? Apakah definisi suksesku sama dengan suksesmu? Apa parameter sukses?

    Yes, kunci sukses itu satu teman-teman. Menjadi diri sendiri. Bagi saya, sukses ialah ketika dari waktu ke waktu kita makin menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat kepada sesama, lebih menciptakan dampak positif, lebih dapat memberikan nilai tambah. Dan tentunya menjadi seseorang yang dari hari ke hari makin dicintai oleh Tuhan.

    Itu artinya apa? Sukses nggak perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain. Nggak ada parameter universalnya. Sukses adalah perjalanan hidup kita itu sendiri. Bagaimanapun alur ceritanya.

     

    Pada akhirnya, Sabbatical merupakan salah satu keputusan terbaik di usia 20an saya ini. Memang ya sih, ia tidak menawarkan materi yang berlimpah. Tidak pula menawarkan gaya hidup yang glamor. Tapi ia mengajarkan makna hidup nan hakiki. Juga menunjukkan kompas hidup  yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah.

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Bintan, 3 Desember 2016