Stories

  • Karma

    Hei, kamu.
    Apakah kamu pernah mendengar kata karma?
    Jika ya, percaya kah?
    Jika ya, apa alasannya?
    Jika tidak, apa yang menjadi faktornya?
    Saya sih percaya dengan karma.
    Dari kaca mata sains saja menguatkan loh. Jadi, karma itu semacam energi yang konon abadi. Energi hanya berubah bentuk, tidak hilang, tidak musnah.
    Jadi, jika kita suatu hari menaburkan kebajikan kepada si X senilai Y. Entah kita sadari atau tidak, kelak kita akan mendapati “balasan” yang setimpal. Mungkin bentuknya bisa Dewata ubah dalam bentuk lain. Penerimanya pun bisa jadi tidak langsung melalui diri kita. Bisa pasangan, anak, atau bahkan cucu.
    Karma, karma, karma.
    Jika apa saja yang kita lakukan kelak mendapatkan balasannya, masih beranikah kita mengingkari nurani?
    Jika apa pun yang kita tanam nanti akan kita panen, maukah kita menanam asal-asalan?
    Jika segala pikiran, tindakan, ucapan dan sikap kita ke depannya akan ditimbang; masihkah kita seenaknya sendiri?
    Karma. Mungkin di setiap kepercayaan bahasanya berbeda-beda. Namun yang pasti, hukum ini berlaku universal.
    Tak peduli siapa diri Anda, tidak ada orang yang “kebal” dengan hukum ini.
    Apa yang kamu tanam, kelak itulah yang akan kamu panen.
    Demi karma. Hidupmu, hidupku, hidup kita semua. Semua akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega  Kuningan, 12 September 2019

  • Lukisan Itu Bernama Anak

    Kata orang-orang bijak, ketika seorang manusia dilahirkan ia ibarat kertas putih. Bagaimana kualitas “olahan” kertas itu kelak bergantung bagaimana orang tua melukiskannya.
    Mungkin, ini terdengar sangat klise. Namun, itulah kehidupan. Mau jadi apa seseorang kelak sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua berperan dalam masa emas perkembangan buah hatinya.
    Benar, pendidikan formal dan pengaruh lingkungan tak kalah penting. Kendati demikian, menurut penelitian dari berbagai pihak, peran orang tua begitu sentral.
    Tentu, semua orang hanya mau melihat lukisan terindah. Mana ada orang yang mendambahkan lukisan terburuk?
    Sayangnya, belum tentu semua orang memahami peran hakikinya sebagai orang tua. Akibatnya, mereka seenaknya sendiri dalam mendampingi tumbuh kembang sang anak.
    Semakin baik orang tua dalam mendidik anak, semakin baik pula “ganjaran” yang diterimanya kelak. Entah di alam dunia, maupun di alam keabadian.
    Akhir kata, saya teringat dengan untaian kata indah karya sang maestor Khalil Gibran berikut.

    Anakmu bukanlah milikmu,

    mereka adalah putra putri sang Hidup,

    yang rindu akan dirinya sendiri.

     

    Mereka lahir lewat engkau,

    tetapi bukan dari engkau,

    mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

     

    Berikanlah mereka kasih sayangmu,

    namun jangan sodorkan pemikiranmu,

    sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

     

    Patut kau berikan rumah bagi raganya,

    namun tidak bagi jiwanya,

    sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

    yang tiada dapat kau kunjungi,

    sekalipun dalam mimpimu.

     

    Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,

    namun jangan membuat mereka menyerupaimu,

    sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

    ataupun tenggelam ke masa lampau.

     

    Engkaulah busur asal anakmu,

    anak panah hidup, melesat pergi.

     

    Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,

    Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,

    hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

     

    Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

    sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,

    sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

    Agung Setiyo Wibowo
    Mega Kuningan, 17 September 2019

  • Bahagia yang Seperti Apa?

    Bahagia adalah satu kata yang begitu magis bagi saya. Dan mungkin untuk miliaran orang lainnya. Apa pasal?
    Apapun yang kita jalani memang untuk mewujudkannya. Apapun yang kita kejar demi menjadikannya kenyataan.
    Namun, sudahkah kamu bahagia?
    Ayo, jawab saja dengan jujur. Aku tak berhak memberikan penilaian, kok!
    Di sekitar kita, banyak sekali fenomena yang dapat kita jadikan pelajaran. Dari orang yang hanya mengejar harta, tahta dan wanita. Hingga orang yang hanya mati-matian mendambakan ketenaran. Apapun itu, setiap orang secara naluriah memang ingin berbahagia.
    Sayangnya, meski syarat bahagia sesungguhnya gratis; banyak orang yang tak mencapai titik kebahagiaan. Mengapa? Karena mereka membuat persyaratan ini atau itu. Mereka menyetel bahagia dengan syarat.
    Ada yang baru bisa bahagia ketika memiliki mobil termewah. Ada yang baru merasa bahagia jika menduduki posisi tertentu. Ada yang baru memandang dirinya bahagia ketika memiliki uang atau harta benda dengan patokan tertentu. Ada yang merasa baru akan bahagia ketika mendapatkan anak. Ada yang merasa akan bahagia hanya ketika menjadi terkenal. Mungkin kalau ku uraikan tidak cukup 100 halaman.
    Bahagia sesungguhya tanpa syarat, kok. Benar-benar gratis pula. Semua yang kita butuhkan untuk menjadi bahagia sudah ada pada diri kita. Apa pasal?
    Karena bahagia adalah sekarang, apapun situasi atau kondisi yang kita hadapi. Jadi, penyesalan dengan masa lalu dan kegelisahan dengan masa depan tak dapat dihubungkan.
    Hmmmmm, begitulah bahagia. Ikhlas menjalani berderet ujian hidup tanpa syarat. Kalau kamu bagaimana? Kebahagiaan seperti apa yang kamu kejar?
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega Kuningan, 3 Oktober 2019

  • Pengingat Terbaik

    12 Agustus 2019 menjadi begitu bersejarah bagi saya. Di hari itu Tuhan memberikan kepercayaan kepada saya dan istri untuk merawat, mendidik, dan membesarkan putra pertama yang kami beri panggil Pandit.

    Dari jeritan tangis pertamanya saja, saya Pandit telah sukses membuat saya menangis penuh makna. Tentunya sangat bahagia bisa menemani tumbuh kembangnya kelak. Di sisi lain, berderet tantangan yang kelak mungkin menghadang bulai terbayang-bayang.

    Benar kata salah satu sahabat saya bahwa hadirnya seorang anak membawa pengaruh signifikan bagi keluarga muda. Tak mengherankan jika kelahiran bayi pertama menjadi “Game Changer” yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Lantas, apa yang dapat saya pelajari dari anak dalam beberapa minggu pertama kehadirannya?

    Pertama, manajemen waktu. Hadirnya anak mengingatkan saya untuk menghargai setiap detik kehidupan. Pasalnya dulu ketika masih melajang, saya sering menyia-nyiakan waktu begitu saja. Saya acapkali menghabiskan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang berfaedah.

    Kedua, tanggung jawab. Hadirnya anak mengingatkan saya untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Tidak hanya kepada diri sendiri dan Tuhan, namun juga kepada keluarga. Ketika masih berstatus sebagai jomblo mungkin bisa seenaknya “lari dari kenyataan” atau bersifat kekanak-kanakan. Sejak anak muncul, semua sifat itu secara naluriah ditinggalkan.

    Ketiga, akhlak. Hadirnya anak mengingatkan saya untuk menjadi “orang baik dan benar” sepanjang waktu. Jika dulu senantiasa melakukan dosa kecil tanpa merasa bersalah (meski tak merugikan orang lain). Sekarang sebaliknya. Setiap mau mengambil keputusan selalu berpikir seribu kali dan terbayang-bayang wajahnya. Karena kelak anak pasti akan meneladani orang tuanya.

    Mungkin masih berderet pelajaran dari hadirnya anak. Namun, jika boleh saya simpulkan tiga poin di ataslah yang utama. Bagi saya, anak adalah sebaik-baik pengingat. Lebih tepatnya lagi, anak adalah pengingat terbaik untuk menjadi yang lebih baik.

     

     

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Mega Kuningan, 27 September 2019


  • Pulang

    Pulang.
    Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama ini?
    Bagi yang merantau, mungkin langsung menghubungkannya dengan mudik. Berkumpul bersama orang tua tercinta dan kerabat.
    Bagi yang bekerja, bisa jadi langsung mengaitkannya dengan balik ke rumah. Merajut keceriaan kembali bersama anak dan istri.
    Tentu saya, Anda, dan kita semua memiliki makna yang berbeda-beda.
    Yang pasti, setiap orang di bumi ini kelak akan pulang. Karena sesungguhnya keberadaan kita di sini hanya sementara.
    Pulang ke mana Mas Agung?
    Pulang ke tempat kita berasal. Ke Maha Pencipta.
    Lantas, sudahkah Anda mempersiapkan bekal untuk pulang?
    Jika kita ingin bepergian yang identik senang-senang saja menyiapkan berderet bekal, bukankah kita lebih serius mempersiapkan pulang ke alam keabadian?
    Sejauh mana kita serius untuk berniat pulang kepada-Nya?
    Sebesar apa persiapan yang telah kita tunaikan untuk kembali ke sumber cinta?
    Siap atau tidak siap, kelak kita akan pulang.
    Mau-tidak mau, nanti kita pergi untuk kembali
    Pulang. Pulang. Pulang.
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega Kuningan, 12 September 2019

  • Demi Waktu

    Waktu. Kadang-kadang disebut masa. Baru-baru ini  — khususnya sejak menikah dan memiliki keturunan – saya makin menyadari bahwa waktu merupakan aset paling berharga dalam hidup.
    Kita mungkin bisa kehilangan uang. Entah karena bisnis bangkrut, ditipu orang, atau lantaran berbagai musibah lainnya. Namun, jika uang nihil dalam genggaman; kita masih bisa mengejarnya untuk kembali bahkan meningkatkan nilainya.
    Lalu, bagaimana dengan waktu?
    Sayangnya, waktu tak bisa diputar ulang seperti video. Hari yang telah kita lewati tak mungkin kita “perbaiki”. Yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan “sisa” waktu yang kita sendiri tidak pernah tahu berapa lama.
    Kabar baiknya. Tuhan begitu adil. Kita semua mendapatkan 24 jam perhari. Tidak lebih, tidak kurang. Meskipun di sisi lain kita tak pernah tahu berapa jatah waktu hidup di dunia.
    Ya, kematian memang misteri. Kita tak mungkin bisa mempercepat kedatangannya. Kita pun tak pernah bisa meminta penundaan.
    Jika sudah begini, apa yang masih kita banggakan?
    Waktu memang benar-benar  tak terbeli. Sekali ia berlalu, ia tak pernah bisa kembali.
    Waktu adalah saksi yang hakiki. Tentang bagaimana hidup kita isi.
    Waktuku, waktumu, waktu kita. Semuanya telah tertulis dalam suratan takdir-Nya.
    Demi waktu. Demi masa.
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega  Kuningan, 5 September 2019