Stories

  • Hindari Tujuh Kesalahan Ini, Agar Sukses Berkarir

    Memiliki karir cemerlang rasanya sudah menjadi impian banyak orang. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat persaingan di dunia kerja makin begitu sengit dari hari ke hari. Sehingga untuk menapaki tangga demi tangga kemajuan, mensyaratkan upaya yang tidak mudah .

    Sayangnya kegagalan sebagian besar orang berkarir bukan disebabkan karena ia malas atau kurang berkomitmen. Namun justru bermuara pada  hal-hal mendasar yang sering kali tidak terpikirkan. Nah, berikut ialah beberapa tujuh kesalahan karyawan yang perlu dihindari dalam berkarir. Khususnya bagi  mereka yang ingin menjadi “Super Star”. Apapun jenis industri dan profesi yang dipilih.

    Tidak Mengenali Potensi Diri

    Ini merupakan langkah pertama yang tak bisa dilewati. Mengetahui minat, bakat, kekuatan, kelemahan, hingga kepribadian bisa menjadi kunci sekaligus katalisator untuk percepatan karir. Sayangnya poin ini sering diabaikan. Bahkan sebelum si fulan menentukan jurusan atau program studi di perguruan tinggi. Bagaimana mungkin seseorang mampu sukses berkarir jika “peta” dan kompas diri saja masih buta?

    Mengabaikan Goal Tertulis

    Mimpi hanyalah angan-angan kosong, jika tidak ada komitmen untuk mencapainya. Target hanyalah target, jika tidak ada kesungguhan untuk mendapatkannya. Itu mengapa menulis “goal” sudah menjadi suatu keharusan. Pasalnya dengan menuliskannya seseorang bisa terus-menerus teringat dengan apa yang diinginkan. Terlebih lagi tulisan tersebut dipasang di kamar, meja kantor, atau dibuat versi digitalnya. Sehingga bisa dipajang di layar telepon genggam, laptop hingga ipad.

    Malas Melakukan Riset

    Dalam setiap sesi wawancara, seorang recruiter maupun calon atasan, pasti menanyakan hal-hal mendasar. Mulai dari mengapa Anda tertarik bekerja di perusahaan X? Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan Y? Apa yang Anda ketahui tentang dinamika industri di sektor Z? Hingga seberapa mahal Anda ingin dibayar? Untuk menjawab berderet pertanyaan tersebut sekilas memang mudah. Tapi jika tidak melakukan riset, bagaimana mungkin bisa “mencuri perhatian” pewawancara? Itu berlaku untuk para fresh graduate. Bagi karyawan berpengalaman, riset merupakan salah satu strategi jitu untuk mengembangkan karir. Mulai dari menentukan jenis industri mana yang tren ke depannya akan berkembang, budaya perusahaan seperti apa yang cocok dengan values, hingga keterampilan apa saja yang dibutuhkan untuk menduduki level tertentu.

    Mispersepsi Tujuan Bekerja

    Rata-rata setiap orang di seluruh dunia menghabiskan setidaknya delapan jam bekerja di sepanjang hidupnya. Itu artinya bekerja merupakan salah satu aktivitas pokok dalam kehidupan siapapun. Namun bekerja bukan satu-satunya aktivitas yang dapat dilakukan di dunia. Masih ada kehidupan lain yang harus diperhatikan, seperti berinteraksi dengan keluarga, mendekatkan diri kepada Tuhan, hingga bersosial. Hasil riset dari berbagai lembaga di dunia menunjukkan, ketidakbahagiaan, konflik dalam rumah tangga hingga masalah kesehatan bermuara pada pekerjaan. Itu mengapa setiap individu harus mendefinisikan kembali niatnya dalam bekerja. Apakah hanya sekedar untuk bertahan hidup, sebagai sarana untuk mengamalkan ilmu, atau justru pengisi waktu semata?

    Mengejar Status, Bukan Kontribusi

    Kekayaan, kekuasaan dan ketenaran adalah tiga poin utama yang dikejar oleh sebagian orang dalam bekerja. Ketiganya memang menjadi dorongan positif untuk berprestasi. Namun jika tidak pandai mengendalikan emosi, justru menjadi pemicu utama stres. Oleh karena itu, jangan pernah mengejar status yang bersifat semu. Mulailah bersikap untuk menjadikan bekerja, sebagai sarana untuk berkontribusi kepada sesama. Menjadi orang yang mampu menaburkan manfaat dengan apa yang kita bisa lakukan.

    Enggan Aktif di Komunitas

    Komunitas ialah tempat di mana orang-orang yang memiliki kesamaan tujuan berkumpul. Entah karena hobi, minat, pekerjaan, almamater, hingga latar belakang pendidikan. Dalam komunitas, orang-orang secara sukarela aktif untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan bersama. Ini merupakan wadah yang tepat untuk meluaskan jejaring. Entah untuk pengembangan bisnis, atau kemajuan karir. Oleh karena itu untuk menjadi karyawan super, aktif di komunitas yang sesuai dengan panggilan hati tidak bisa ditawar lagi untuk dilakukan.

    Nihilnya Mentor

    Orang-orang yang sukses biasanya memiliki mentor. Pasalnya seorang mentor mampu mengarahkan si fulan untuk menjadi lebih baik. Ia bisa mengkritik secara pedas namun konstruktif. Ia bisa memberikan saran kepada si fulan berdasarkan pengalaman yang telah dilaluinya – bukan masukan normatif seperti yang dibaca di buku-buku ilmiah. Jadi umpan balik yang ditawarkan mentor biasanya lebih berdampak, karena ada hubungan secara pribadi yang diikat dengan trust. Jadi bagi Anda yang belum memiliki mentor, carilah segera orang-orang yang Anda anggap lebih berpengalaman atau yang Anda dikagumi. Orang-orang yang secara pribadi Anda jadikan panutan.

    Nah, di atas ialah beberapa kesalahan yang terlihat sepele, tapi berdampak besar dalam perkembangan karir Anda. Cobalah untuk menerapkan satu demi satu solusinya secara berkesinambungan. Karena keberhasilan dalam berkarir merupakan proses panjang sebagaimana maraton, bukan lari jarak pendek (sprint). Sehingga yang terpenting bukanlah kecepatan, melainkan daya tahan tiada henti dalam mengarungi setiap “lintasan”. (***)

     

    *** Artikel ini sebelumnya dimuat di Intipesan, 8 Juli 2017

     

     


  • Menemukan “Panggilan” Dalam Bekerja

    Artikel ini sebelumnya dimuat di Inti Pesan, 21 Juni 2017

                 Setiap individidu memiliki motivasi unik dalam bekerja. Sebagian mendambakan kekayaan. Beberapa di antaranya mengejar kekuasaan. Tidak sedikit yang mencari ketenaran. Sebagian lainnya berupaya mereguk keberhasilan yang sifatnya relatif.

    Sebenarnya, mengapa kita bekerja? Apa yang kita cari dalam bekerja? Bagaimana bekerja dapat membantu pencapaian mimpi kita? Tiga pertanyaan mendasar ini meski terdengar begitu klise, masih tetap relevan dalam menganalisis perilaku manusia.

    Karena memiliki hasrat yang bergelora, saya mengambil Sabbatical selama setahun penuh di sepanjang 2016. Satu keputusan yang kurang populer di mata masyarakat tanah air – khususnya generasi Y.  Saya  isi hari demi hari dengan mencoba hal-hal baru, menekuni hobi, membaca, bertemu ribuan orang, jalan-jalan, hingga menjadi relawan selama enam bulan di salah satu pulau terluar yang hanya memakan waktu 2 jam perjalanan via ferry dari Singapura  dan Malaysia.

    Di sela-sela masa kontemplasi yang dikenal dengan Gap Year tersebut, saya menyempatkan diri untuk melakukan riset independen. Saya mencari tahu bagaimana manusia-manusia Indonesia memandang hidup. Mulai dari kapan mereka menemukan “panggilan”, apa yang mereka cari dalam hidup, apa  yang paling penting dalam hidup mereka, bagaimana mereka memandang keberhasilan, bagaimana mereka mengartikan kebahagiaan, hingga mengapa mereka bekerja.

    Secara rinci, saya mewawancarai lebih dari 1100 responden yang tersebar di 40 kota lapis pertama dan kedua  di  tanah air. Belum termasuk para diaspora Indonesia yang tersebar di New York, Kuala Lumpur, Penang, Singapura, Bangkok, Amsterdam, London, Jeddah, Sydney, New Delhi, Tokyo,  Hong Kong, hingga Bandar Seri Begawan. Profesi (dan jabatan) mereka beragam mulai dari mantan Menteri, anggota DPR, motivator, humas, akuntan, pemuka agama, perencana keuangan, konsultan, dokter, insinyur, bankir, guru, dosen, diplomat, wartawan, peneliti, pengacara, seniman, penulis, inovator, juru bicara presiden, pembawa acara berita, pengusaha, petani, hingga buruh.

    Hasil riset yang lebih mendalam akan saya rilis dalam bentuk buku kelak, namun berikut beberapa (ringkasan) temuan menarik yang dapat disimak.

    Pertama, bekerja merupakan salah satu pengejawantahan “panggilan” hidup.  Temuan ini sama sekali tidak mengejutkan saya, mengingat sekurang-kurangnya 8 jam dihabiskan untuk bekerja setiap harinya. Itu mengapa orang yang menganggur dan pensiunan yang tidak beraktivitas cenderung kurang bahagia dalam hidupnya. Karena meski mengharuskan adanya pengorbanan, bekerja menjadi salah satu dorongan untuk menemukan “makna” dalam hidup.

    Kedua, pemaknaan bekerja manusia Indonesia beragam. Sebagian semata-mata bekerja untuk menumpuk bongkahan berlian, memburu habis jabatan tertentu, dan mencari segala cara untuk menjadi pesohor. Namun sebagian besar bekerja sebagai “ladang ibadah”, sarana aktualisasi ilmu, melayani (atau membantu) sesama, memberikan nilai tambah, dan memecahkan masalah orang lain.

    Ketiga, yang paling diinginkan manusia Indonesia ialah kebahagiaan. Meski  makna kebahagiaan relatif, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menempatkannya sebagai salah satu aspek utama dalam menjalani hidup – khususnya dalam bekerja. Kebahagiaan tersebut dapat direguk ketika turut menolong sesama sehingga merasa diri mereka “ada” dan bermanfaat. Dengan kata lain, bekerja merupakan salah satu pertanda eksistensi manusia.

    Keempat, kesuksesan memang penting tapi bukan segalanya. Sukses ialah mendapatkan apa yang kita  inginkan, sedangkan bahagia ialah menginginkan apa yang kita  dapatkan. Karena tidak ada patokan yang disepakati untuk mengukur kesuksesan, takaran satu-satunya (mungkin) ialah syukur. Itu mengapa orang yang paling bahagia ialah orang-orang yang paling pandai bersyukur. Sehingga sama sekali tidak ada hubungannya dengan ukuran yang dapat dinalar seperti keuangan, jabatan, popularitas atau strata pendidikan.

    Kelima, setiap individu memiliki “orbit” masing-masing. Salah satu motivasi terbesar saya mengambil “jeda bekerja” selama setahun penuh (career break) ialah menemukan passion hingga “panggilan” hidup. Yang mengagetkan, jawaban lebih dari 1000 responden penelitian saya begitu berbeda-beda ketika ditanya kapan mereka menemukan renjana dan tujuan hidup. Ada seorang cendekiawan yang menemukannya ketika masih duduk di bangku SMA, ada seorang pengusaha ternama yang mencapainya di usia 35, ada seorang motivator yang mengenali dirinya di usia 30, ada seorang CEO yang mendapatkannya di usia  40, dan ada pula seorang pembicara papan atas yang meyakini panggilan hidupnya di usia 9 tahun. Jadi, bagi saudara-saudara sekalian yang belum menemukan passion-nya, janganlah berkecil  hati. Karena setiap orang memiliki jalan hidup  yang berbeda-beda. Renjana dan panggilan hidup akan ditemukan ketika kita mengenali siapa diri kita dan untuk apa kita ada di dunia. Sehingga, bisa dikatakan sebagai sebuah perjalanan sepanjang hayat.

    Sebagian intisari dari riset di atas, telah saya paparkan dalam buku saya yang telah terbit beberapa waktu lalu berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life Crisis. Yang terpenting bagi Anda sekarang tentu saja mencari tahu apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup, nilai-nilai apa yang paling Anda pegang, apa yang membuat Anda bahagia dalam bekerja, dan menemukan jawaban “mengapa” Anda ada di jagad raya. Semua pertanyaan klise yang bermuara pada pengenalan jati diri kita sebagai manusia.

                Akhir kata, saya jadi teringat pelajaran paling berharga selama setahun menjalani Sabbatical. Bahwa hidup adalah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana. Doa saya untuk Anda adalah agar segera menemukan “panggilan” hidup, sehingga bisa mereguk makna bekerja dan kebahagiaan hakiki. Selamat mudik bagi yang menjalankan, semoga selamat sampai tujuan. Selamat berlebaran.

     


  • Bacaan Wajib Mahasiswa Hubungan Internasional

    Memilih jurusan kuliah mungkin bagi sebagian orang remeh-temeh saja. Sesederhana memilih kostum untuk pesta, destinasi plesiran, atau nongki-nongki cantik. Tapi bagi sebagian yang lain, justru sebaliknya. Jurusan kuliah dianggap sebagai “kunci ajaib” yang mengantarkannya kepada profesi tertentu. Tidak sedikit yang tidak mau ambil pusing. Pilih saja salah satu, toh apapun jurusannya memiliki peluang yang sama untuk bisa menjadi “cetar badai” di kemudian hari.
     
    Apapun pendapatnya, sah-sah saja. Karena setiap orang memiliki mindset, values, asa, dan tujuan hidup masing-masing to?
     
    Cerita sederhana yang terangkum dalam buku ini sengaja saya tulis untuk adik-adik yang ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Di dalamnya, saya beberkan dari A ke Z mengenai jurusan yang “katanya” cukup favorit itu. Mulai dari kurikulum, dinamika organisasi kemahasiswaan, KKN, magang, tugas akhir, prospek pekerjaan, networking, ‘go international’, dan panduan mengenali jati diri berbasis multipendekatan (Self-Help). Oh ya, juga ada kurasi profil para alumni kenamaan lintas generasi, lintas perguruan tinggi, dan lintas profesi. Dari Menteri, Artis, Pesulap, Penulis, Pengusaha, Aktivis NGO, Diplomat, Bankir, Bupati, Grafolog, Coach, Sociopreneur, dan seterusnya
     
    Buku ini sama sekali bukan untuk menggurui. Hanya secercah cerita dari orang yang pernah mengalami lebih dulu. Informasi yang diberikan pun berimbang, tidak berat sebelah. Gaya bahasa yang dipakai juga “lo, gue”. Dibumbui dengan inspirasi dari para alumni HI yang kece dengan berbagai rahasia kesuksesannya, buku ini sangat recommended sebagai bacaan selingan untuk:
    1. Calon mahasiswa yang lagi galau bin kepo untuk memilih HI
    2. Mahasiswa dan dosen HI di seluruh Indonesia
    3. Para alumni HI yang ingin mengenang masa kuliahnya
    4. Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Wali Kelas SMA/MA sederajat
    5. Pencari kebijaksanaan dimanapun berada

     

    Apa kata mereka?

    “International relations: Master something about everything, vs master everything about something. In life and work, I prefer the first.”

    (Daniel Tumiwa – CEO OLX Indonesia)

     

    “Hubungan Internasional sebagai sebuah disiplin ilmu telah menempati posisi penting dan strategis tidak hanya dalam dunia akademik tetapi juga praktis. Keseharian kita hampir tidak mungkin terlepas dari fenomena hubungan internasional dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia hingga aktualisasi diri dalam berkontribusi bagi peradaban. Buku ini membuka kesadaran dan pemahaman Anda atas pilihan hidup yang tepat dengan memilih Hubungan Internasional.”
    (Prof. Dr. Tirta N. Mursitama Ph.D – Ketua Departemen Hubungan Internasional Binus University, Ketua Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia).

     

    “Belajar Hubungan Internasional di UGM memberi saya pijakan untuk memahami berbagai isu dalam masyarakat dalam kerangka politik nasional, regional, maupun global. Kini sebagai novelis dan pendiri ASEAN Literary Festival, saya mengawinkan dua hal yang telah membentuk saya: ilmu hubungan internasional dan sastra. Buku ini akan menjadi pengantar yang menarik bagi siapapun yang ingin tahu tentang ilmu hubungan internasional dan sumbangan alumninya pada masyarakat.”

    (Okky Madasari – Penulis Novel Best Seller)

     

    “Berbicara bidang studi memang cenderung kering. Dunia akademis memang tidak mudah dicerna. Buku ini berbeda, karena meskipun topiknya akademik, tetapi yang dibahas justru manusianya. Kalau bicara manusia, apalagi dengan pengalaman yang nyata, maka siapapun pasti tertarik untuk membacanya. Perspektif terhadap program studi Hubungan Internasional memang cenderung abstrak, karena memang prodi ini tidak fokus sejak awal. Cerita mengenai “orang-orang HI” tentu berbeda, karena dia bisa saja tetangga sebelah, teman main futsal, atau kolega bisnis. Jadi apa dan siapa mereka, buku ini pasti memuaskan rasa ‘kepo’ kita.”

    (Ir. Totok Amin Soefijanto, MA, Ed.D – Deputi Rektor Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina)

     

    “Masa kuliah boleh dikatakan sebagai masa paling penting dalam pengembangan diri setiap individu. Pada titik ini, siapa saja bisa bertransformasi sesuai yang diinginkan. Buku ini wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa hubungan internasional yang berani membuat perbedaan.“

    (Muhammad Dudi Hari Saputra – Wasekjend DPD KNPI Kalimantan Timur)

     

    “Saya percaya Mas Agung adalah orang yang merangkak dari bawah mengenali sesuatu, tekun mencerna, dan sungguh-sungguh menjalani pengenyaman akademisnya. Perjuangan yang lebih besar dibandingkan orang kebanyakan mengantarkannya menjadi pribadi yang lengkap, berpengalaman, dan layak menjadi dosen yang sanggup memberikan ilmu afektif, kognitif, dan pengajaran berbagai dinamika terbaru politik internasional dari berbagai sudut pandang. Buku ini menyampaikan apa yang juga saya rasakan: memilih HI dan melihat realita yang ada, tidak perlu berkecil hati dengan keilmuan lain. Pengabdian atas keilmuan HI bisa dilakukan di begitu banyak lini kehidupan, sejauh bagaimana tiap-tiap insan HI menjalani perkuliahannya.”

    (Adi Mulia Pradana – Assistant Manager Operations Aleph-Labs; Co-founder Wikidpr.org)

     

    Bagaimana Cara Memesannya? 

    1. Pembeli mengirim SMS/Whatsapp ke 085230504735 dengan mengetik <Jumlah Eksemplar> <Buku HI> <Nama> <Kota Asal>
    2. Penerbit memberitahukan ongkos kirim (+ Rp 70.0000/harga buku) kepada pembeli
    3. Pembeli mentransfer ke rekening 34200-99-761 atas nama Agung Setiyo Wibowo BCA KC Matraman
    4. Pembeli mengirimkan bukti transfer melalui grandsaint@gmail.com maupun Whatsapp/Instagram/Line +62 852 3050 4735
    5. Penerbit mengirimkan buku kepada pembeli

    Nggak mau ribet? Anda langsung bisa mengambil  “jalan pintas” dengan mengisi formulir pemesanan di sini.

     

    Info Lebih Lanjut?

    +62 852 3050 4735 atau hello@agungwibowo.com (Penulis)


  • Lelah Karena No Lillah

    Tabik.

    Di sebuah kedai paling populer di Kawasan Mega Kuningan. Sore itu mungkin saya merupakan orang yang beruntung. Pasalnya, saya saya bertemu dengan seorang lelaki paruh baya. Usianya kurang lebih dua kali lipat dibandingkan saya. Sebut saja bernama Ken.

    Ken lahir dan besar di sebuah kota kecil nan asri di Provinsi Bengkulu. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya seorang “mantri” – juru kesehatan di era kolonial.

    Ken benar-benar membuat saya iri. Sekaligus terpesona karena berderet prestasi yang diraihnya. Selulus SMA, ia mendapatkan beasiswa paling prestius di sebuah kampus kenamaan di Inggris hingga jenjang Master.

    Sepulang dari Tanah Eropa, Ken bekerja di sebuah perusahaan multinasional raksasa di Jakarta. Tak lama kemudian, ia melepaskan masa lajangnya. Hidup bahagia bersama pujaan hatinya.Selang beberapa bulan, Ken kembali membuat saya terpana. Pasalnya, ia lagi-lagi mendapatkan beasiswa di Amerika Serikat dengan jurusan Manajemen Pemasaran.

    Sepulang dari Negeri Paman Sam, Ken menjadi konsultan manajemen dengan gaji dan tunjangan yang menggiurkan. Berbagai tawaran mengalir bertubi-tubi. Ia menyenangi pekerjaan, anak-anaknya tumbuh dengan baik, dan pengaruhnya makin naik di permukaan. Hidup nampaknya benar-benar berpihak kepadanya.

    Kami berdua larut dalam obrolan yang begitu dalam. Hingga masuk ke relung-relung pribadi. Bahkan ada beberapa kepingan cerita Ken yang hanya disampaikan kepada saya, belum pernah terlontarkan ke publik. Tak mengagetkan, tidak kurang dari tiga jam kami berbicara dari hati ke hati untuk saling mengenal.

    Jujur, jika dituliskan mungkin bisa menjadi satu buku tersendiri. Perjalanan hidup Ken begitu menginspirasi. Saya belajar begitu banyak dari penuturan jujurnya yang bernas. Mulai dari aspek spiritual, kesehatan, bisnis, kepemimpinan, dan tentu saja sosial.

    Namun, dari berbagai wejangannya kepada saya, ada satu hal yang masih terpatri di dinding nurani. Apa itu? Tidak lain ialah “Lelah karena no lillah”.

    Apa maksudnya ya Mas Agung? Ken menyadarkan kepada saya:

    • mengapa banyak orang sering mendapati kebosanan dalam bekerja;
    • mengapa >90% orang tidak puas dengan pekerjaannya;
    • mengapa kegalauan sangat mudah melanda kaum muda;
    • mengapa self-fulfillment tidak pernah hinggap meski kekayaan, ketenaran dan kekuasaan diraih;
    • mengapa banyak pesohor yang tega mengakhiri hidupnya dengan cara tragis;
    • dan seterusnya.

    Dari penuturannya yang kalem, Ken berpendapat bahwa lelah datang karena “No Lillah”. Maksudnya ialah salahnya niat si fulan dalam menyikapi hidup. Cepatnya kegalauan dan kebosanan hinggap ketika bekerja mencerminkan jauhnya diri kita dari Tuhan. Ketidakbahagiaan yang selalu datang muncul karena niat kita dalam berbisnis atau bekerja salah.

    Mungkin kita bergerak karena ingin mendapatkan X. Barangkali kita berusaha lantaran ingin menduduki posisi A. Mungkin kita berbagi karena pamrih, ingin dikenal, atau dipuji. Barangkali kita berbuat karena ingin memiliki Z.

    Kita lupa selupa-lupanya akan esensi hidup. Kita abai seabai-abainya akan hakikat keberadaan diri. Untuk apa kita hidup? Untuk siapa kita berbisnis? Demi apa kita bekerja setengah mati? So what kalau semua angan-angan yang tiada batasnya tercapai? Mau ke mana diri ini setelah kematian datang?

    Lelah karena no lillah. Setelah saya renungkan, ada benarnya juga. Wejangan sederhana ini menyadarkan kepada saya akan pengalaman setahun dalam masa Sabbatical. Sebuah “drama” perjalanan anak manusia atas nama career break dan self-discovery.

              Sore berubah ke malam. Hari itu kami berpisah dengan sejuta kesan.

    Ken merupakan sosok panutan saya yang paripurna. Teladan di semua aspek. Dari spiritual, bisnis, karir, sosial, kesehatan dan pengembangan diri. Ia menyadarkan saya pentingnya menyeimbangkan kehidupan secara holistik. Tidak sepotong-sepotong seperti kebanyakan orang.

    Lelah karena no lillah. Saya mengamini ungkapan itu, kalau Anda?

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Mega Kuningan, 9 Juni 2017

     


  • Wahai Millennial! Jangan (Hanya) Mengikuti “Passion”

    Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di RumahMilennials.com, di sini.  

     

    Dalam beberapa  tahun terakhir, kata “passion” (baca: renjana) sepertinya makin populer saja. Betapa tidak, kata ini kerap dijadikan salah satu parameter untuk menilai karir hingga kesuksesan. Lantas, apa hubungannya?

    Banyak orang mengatakan bahwa orang yang bekerja sesuai passion akan jauh lebih produktif. Passion dianggap menjadi driver yang memungkinkan individu bekerja tidak “hitung-hitungan”. Sehingga bekerja laksana bermain. Lantaran dinilai sesuai dengan hobi, kesukaan, atau minat.

    Orang yang memiliki renjana dinilai lebih sukses berkarya dibandingkan orang yang bekerja semata-mata berorientasi Rupiah.  Contoh yang sederhana ialah penyanyi, artis, desainer, pelukis, hingga penulis.

    Makin dikenalnya kata passion nampaknya sejalan dengan fenomena Gen Y. Suatu generasi dinamis yang dianggap kurang setia bekerja di satu tempat. Suatu generasi yang suka berpindah-pindah profesi atau kantor karena dinilai cepat bosan. Suatu generasi cinta gadget yang bisa multitasking. Suatu generasi yang bekerja tidak semata-mata karena uang. Tapi lebih menyeimbangkan antara pemanfaatan keterampilan, passion, keseimbangan bekerja, dan aktualisasi diri.

    Masalah paling mendasar tentu tidak (atau belum) semua orang tahu apa passionnya. Kalaupun sudah tahu, tidak sedikit yang bisa mencari penghidupan darinya. Sehingga, bekerja tidak harus sesuai dengan passion agar dapur tetap mengebul. Apalagi, passion cenderung self-oriented. Dalam artian, korelasinya paling bisa dirasakan pertama kali oleh si fulan. Dari aspek kepuasan bathin atau kebahagiaan misalnya.

    Jadi, bagi teman-teman yang sekarang tengah gundah mencari passion, tenang saja. Anda tidaklah sendirian. Toh, apa tujuan kita bekerja? Bukankah sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Hyang? Bukankah agar aktualisasi diri bermanfaat untuk sesama? Bukankah untuk menciptakan nilai tambah? Bukankah untuk melayani orang lain? Bukankah untuk memberi?

    Passion memang salah satu “modal” awal untuk mereguk kesuksesan. Tapi untuk mencapai titik sukses, mengandalkan passion saja tidaklah cukup.

    Memang dengan mudah kita jumpai orang-orang yang sukses karena mengikuti passion. Tapi jika boleh jujur, ada lebih banyak lagi orang yang sukses karena tidak (hanya) mengikuti passion.

    Buktinya? Sebutkan saja satu persatu. Banyak penemu, pebisnis, aktivis sosial, hingga politisi kelas dunia yang sukses karena tidak  semata-mata mengikuti passion. Mereka sukses karena membantu memecahkan masalah orang lain.  Misalnya saja Steve Jobs dan Bill Gates sukses karena memudahkan manusia untuk berkarya dengan komputer. Gandhi dan Bunda Teresa sukses karena welas asihnya untuk sesama.

    Lantas, apa pesan moralnya? Temukan masalah di sekitar kita yang menurut Anda “penting” untuk diselesaikan. Masalah yang membuat hati Anda gelisah. Masalah yang benar-benar Anda pedulikan. Masalah yang sejalan dengan nilai-nilai hidup Anda.

    Lalu, apa kuncinya? Sederhana saja. Jangan egois. Tapi, buat kehadiran Anda bermanfaat orang lain. Buat keberadaan Anda membantu orang lain. Buat eksistensi Anda menciptakan nilai tambah. Buat diri Anda dibutuhkan orang banyak. Buat diri Anda pemecah masalah.

    Benang merahnya apa? Jika sekarang teman-teman pusing karena belum menemukan passion, tenang saja. Alih-alih galau yang membuat Anda tidak produktif, lebih baik terus memikirkan bagaimana caranya agar keberadaan kita bermanfaat kepada sesama. Karena sebaik-baik anak manusia ialah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

    Sekali lagi, jangan (hanya) mengikuti passion. Sebagaimana petuah Travis Bradberryl yang menegaskan bahwa, “Grit is that ‘extra something’ that separates the most successful people from the rest. It’s the passion, perseverance, and stamina that we must channel in order to stick with our dreams until they become a reality.”

     


  • Masyarakat Penyembah Hasil

    “Anda termasuk orang yang mengedepankan hasil atau proses”?

    Kalimat di atas nampaknya sering kita dengar dalam keseharian. Terlebih lagi dalam ranah bisnis. Dari Salesman bau kencur sampai para taipan kelas wahid saya rasa tidak pernah absen melontarkan pertanyaan yang satu ini.

    Ngomong-ngomong, saya jadi teringat masa SMA. Satu fase yang begitu membekas di hati saya ketika menyikapi pertanyaan sederhana di atas.

    Ceritanya begini.

    SMA saya notabennya ialah sekolah berasrama yang mengedepankan nilai-nilai sufisme. Jadi, seluruh siswa benar-benar digembleng untuk mengharapkan hasil yang terbaik dengan proses yang benar. Sekilas mungkin terdengar  mudah, tapi prakteknya berbanding terbalik.

    Teman-teman saya pada masa itu, sebagian besar berpikiran sempit. Ingin mendapatkan nilai ujian terbaik tapi tidak pernah belajar. Ingin menjuarai perlombaan, tapi mengabaikan persiapan (atau latihan). Ingin menjadi siswa cerdas nan pandai tapi tidak pernah membaca buku.

    Selidik demi selidik, hampir 100% salah mengartikan fatwa yang dilontarkan para guru. Pasalnya, siswa memang diwanti-wanti untuk tidak mengejar nilai, tapi lebih ditekankan pada proses. Dari sini sudah cukup jelas sebenarnya.

    Mungkin karena anak SMA, jadi pola pikirnya belum ‘terbentuk’. Yang terjadi ialah budaya belajar yang sangat menyedihkan. Malasnya minta ampun  . . .

    Menginjak dunia profesional saya juga mendapati fenomena di masyarakat. Banyak salesman yang ingin mendapatkan komisi tinggi, tapi takut ditolak. Banyak anak muda ingin mendapatkan beasiswa di luar negeri tapi belajar bahasa Inggris saja ogah-ogahan. Banyak pula orang di luar sana ingin menjadi penulis tapi tidak pernah mencicil menulis. Dan masih banyak lagi contohnya.

    Apa yang ingin saya tekankan di sini?

    Masyarakat kita mungkin tergolong “penyembah” hasil. Dalam artian lebih menghargai hasil daripada proses. Jadi, tidak sedikit yang tidak mau tahu bagaimana upaya yang dikeluarkan. Yang penting hasil, hasil, dan hasil. Akibatnya?

    Anda bisa lihat sendiri di sekitar kita.

    Para Caleg, Cagub, atau Cabup ada yang dilarikan ke rumah sakit jiwa karena tidak kuat menghadapi kenyataan Pilkada. Para artis dan penyanyi banyak yang mengonsumsi obat-obatan terlarang karena ingin hasil yang prima di panggung. Beberap siswa lulusan SMA unggulan mengakhiri hidup karena tidak terima sebagai mahasiswa di perguruan tinggi favorit. Para politisi merapat ke dukun untuk meraup suara yang diinginkan. Para biduan memakai susuk agar order mengalir manis. Dan berderet contoh lain.

    Mengapa itu terjadi?

    Mungkin mentalnya yang bermasalah. Banyak yang ingin menjadi pemenang, tapi tidak siap kalah. Banyak yang ingin sukses tapi tidak mau membayar harga “prosesnya”. Banyak yang ingin berhasil dalam hidup tapi hanya mau yang instan. Duh . . .

    Lumrah sebenarnya. Karena saya sendiri pun pernah mengalaminya sebelum masa Sabbatical. Sebelumnya saya tidak terlalu percaya dengan yang namanya takdir. Karena saya pikir kalau kita mau berusaha, hasil pasti selalu berbanding lurus. Toh  kata pepatah “barang siapa menanam, pasti memanen”.

    Sebenarnya ungkapan di atas benar. Tapi tidak sepenuhnya tepat. Karena ternyata porsi manusia ialah ada pada sisi proses, alias usaha, bin upaya. Hasil bukan pada kendali kita.

    Saya ingat betul, 2 (dua) tahun “gagal” menembus PhD. Satu kenyataan yang sangat menyedihkan, memalukan, dan membuat kepercayaan diri saya hilang tak bersisa. Seakan-akan puluhan juta Rupiah yang saya keluarkan sia-sia. Sekonyong-konyong ribuan buku dan jurnal yang saya baca mubadzir. Dan tentu saja tidak terhitung berapa jam saya berkutat untuk berpikir. Berapa energi yang saya keluarkan untuknya.

    Setelah berinteraksi dengan rekan-rekan. Apa yang saya lakukan belumlah apa-apa. Saya pernah berjumpa dengan seorang mahasiswa Indonesia di NTU yang memutuskan berhenti dari PhD karena kehilangan motivasi. Saya pernah bertemu dengan pemimpin daerah di kota saya yang menghabiskan ber-M-M (baca: ratusan Miliar) tapi tak terpilih dalam Pilkada. Saya pun teringat dengan kisah nyata seorang Rasul yang hanya mendapatkan pengikut belasan saja kendati sudah berdakwah puluhan tahun.

    So, apa moral story?

    Masyarakat penyembah hasil sulit untuk mencapai titik bahagia dalam hidup. Karena penghargaan seorang individu kepada sesamanya hanya dilihat dari apa yang terlihat. Seperti kepemilikan harta, exposure di media, atau jabatan tertentu yang sifatnya sementara.

    Masyarakat penyembah hasil sulit untuk berdamai dengan diri sendiri. Karena mereka masih memerlukan pengakuan, validasi, atau persetujuan dari orang lain.

    Masyarakat penyembah hasil lebih cenderung menghalalkan segala cara untuk mengejar titik yang menurut mereka bahagia. Para PNS atau politisi yang mencuri uang rakyat, para karyawan di perusahaan yang tidak amanah, para pedagang yang mengakali timbangan, para pengusaha yang menyuap pemerintah, atau para siswa yang tidak jujur dalam mengikuti Ujian Nasional.

    Masyarakat penyembah hasil terbukti hanya fokus pada dunia. Memenuhi syahwat nafsu yang bermuara pada kekayaan, kekuasaan dan ketenaran.

    Masyarakat penyembah hasil lupa dengan esensi hidup. Bahwa di Hari Akhir, Tuhan tidak akan mempertanyakan hasil. Melainkan proses. Karena setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban yang termaktub pada “rapor”. Serinci apapun proses yang ditempuh akan tercatat.

    Jadi, rumus bahagia di dunia ini sederhana sih. Berusaha saja sebaik mungkin dalam mengejar apa yang menjadi mimpi kita. Tapi jangan sekali-kali melihat hasil karena itu di luar dari kendali kita.

    Jadi, apakah Anda termasuk dalam golongan masyarakat penyembah hasil? Semoga saja tidak ya.

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Mega Kuningan, 29 April 2017