Stories

  • Kalau Anda Merasa Hidup Berantakan, Bacalah Biografi Steve Jobs


  • Konten Media Sosial Bisa Viral Semalam. Buku Bisa Membuat Namamu Hidup Puluhan Tahun.

    Pernah sadar nggak? Semakin banyak orang bikin konten setiap hari, justru semakin sedikit orang yang benar-benar dipercaya.

    Ironis, ya?

    Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa terlihat pintar. Tinggal buka AI, ketik beberapa prompt, lalu lima menit kemudian lahirlah thread, carousel, newsletter, bahkan e-book.

    Masalahnya… Di tengah banjir konten itu, kepercayaan justru menjadi barang paling langka.

    Ibarat pasar malam.

    Semua pedagang teriak paling kencang agar dagangannya dilihat. Lampunya sama-sama terang. Spanduknya sama-sama besar. Musiknya sama-sama keras.

    Tapi ketika kita benar-benar mau membeli sesuatu yang mahal, kita justru mencari toko yang sudah lama berdiri, punya reputasi, dan dipercaya banyak orang.

    Personal branding juga begitu.

    Konten media sosial adalah lampu neon yang menarik perhatian. Sedangkan buku adalah fondasi bangunan yang membuat orang yakin untuk masuk.

    (more…)


  • 5 Menit Mengaudit LinkedIn Bisa Mengubah Karier Bertahun-tahun.

    Banyak orang mengira mereka butuh lebih banyak konten. Padahal yang sebenarnya mereka butuhkan adalah profil LinkedIn yang bisa mengonversi perhatian menjadi peluang.

    Bayangkan kamu memiliki sebuah toko di jalan paling ramai di dunia.

    Setiap hari ribuan orang lewat di depan tokomu. Mereka berhenti sebentar, melihat etalase, lalu pergi begitu saja.

    Bukan karena produkmu jelek atau hargamu mahal. Tetapi karena mereka tidak langsung memahami apa yang kamu jual, siapa yang kamu bantu, dan kenapa mereka harus percaya kepadamu.

    LinkedIn bekerja dengan cara yang hampir sama. Banyak orang sibuk mengejar views, impression, followers, bahkan viral. Namun mereka lupa bahwa setelah seseorang tertarik pada sebuah konten, hampir semua orang akan melakukan satu hal yang sama:

    Mereka membuka profilmu. Di situlah keputusan sebenarnya dibuat.

    Apakah orang itu akan menghubungimu?

    Mengajakmu bekerja sama?

    Mengundangmu menjadi pembicara?

    Merekrutmu?

    Membeli jasamu?

    Atau… menutup profilmu dalam waktu kurang dari 10 detik.

    Saya sering mengatakan bahwa konten membuka pintu, tetapi profil menentukan apakah orang akan masuk atau tidak.

    (more…)


  • Kalau Orang Masih Bingung Anda Ahli Apa, Personal Branding Anda Belum Jadi.

    “Mas Agung, saya bingung. Saya sebenarnya harus bahas apa di LinkedIn?”

    Saya tersenyum. Lalu saya balik bertanya.

    “Kalau saya membuka profil LinkedIn Anda hari ini, dalam lima detik saya harus mengingat Anda sebagai siapa?”

    Beliau terdiam. Beberapa detik kemudian menjawab pelan.

    “Nah… itu dia yang saya juga belum tahu.”

    Percakapan seperti ini sudah terlalu sering saya alami. Baik dengan founder, entrepreneur, profesional, konsultan, maupun coach yang mengikuti pelatihan atau mentoring saya. Menariknya, hampir semuanya memiliki masalah yang sama. Mereka ingin dikenal, dipercaya dan mendapatkan recruiter, investor, klien, atau peluang bisnis. Namun mereka belum pernah memutuskan mau dikenal karena apa.

    (more…)


  • Saya Baru Sadar, Ternyata Selama Ini Saya Salah Memahami Pertemanan

    Ada satu nasihat yang hampir semua orang percaya.

    “Kalau mau sukses, perbanyak networking.”

    Kedengarannya masuk akal.

    Semakin banyak kartu nama, koneksi LinkedIn, dan nomor WhatsApp; maka semakin besar peluang sukses.

    Sayangnya…

    Saya mulai percaya bahwa nasihat itu tidak sepenuhnya benar.

    Networking yang luas tidak otomatis menghadirkan kesempatan.

    Bahkan saya mengenal orang yang memiliki puluhan ribu koneksi di LinkedIn, ratusan grup WhatsApp, dan mengenal banyak tokoh. Tetapi ketika membutuhkan bantuan, justru bingung harus menghubungi siapa.

    Sebaliknya, saya juga mengenal beberapa orang yang lingkaran pertemanannya relatif kecil. Namun ketika mereka memulai bisnis, menerbitkan buku, mencari investor, bahkan berpindah karier, selalu ada orang yang siap membantu.

    Apa bedanya?

    Jawabannya saya temukan ketika membaca buku Plays Well with Others karya Eric Barker.

    (more…)


  • Personal Branding Tanpa Sistem Hanya Akan Menghasilkan Popularitas, Bukan Profit.

    Saya pernah percaya bahwa semakin tinggi impressions, semakin besar peluang bisnis yang akan datang. Karena keyakinan itu, fokus saya bertahun-tahun hanya tertuju pada satu hal: bagaimana membuat konten yang menarik perhatian sebanyak mungkin.

    Saya mempelajari copywriting, mengamati algoritma, menguji berbagai format, bahkan bereksperimen dengan jam posting terbaik. Sebagian berhasil. Namun semakin lama saya menyadari satu kenyataan yang tidak nyaman.

    Perhatian (attention) ternyata tidak selalu berubah menjadi peluang (opportunity).

    Di situlah cara pandang saya terhadap LinkedIn berubah sepenuhnya. Bayangkan seseorang ingin membangun sebuah gedung perkantoran. Ia memiliki arsitektur yang indah, desain interior yang modern, dan lokasi yang strategis. Namun gedung tersebut tidak memiliki pintu masuk, papan nama, maupun resepsionis yang mengarahkan tamu.

    Gedungnya megah. Tetapi orang tidak tahu bagaimana masuk. Begitulah yang sering terjadi pada banyak akun LinkedIn.

    Kontennya menarik. Insight-nya berkualitas. Followers-nya terus bertambah. Namun tidak ada sistem yang mengubah perhatian menjadi percakapan, lalu percakapan menjadi peluang bisnis. Padahal LinkedIn bukan hanya platform distribusi konten.

    (more…)