Pernahkah kamu berhenti sejenak dan bertanya—dengan jujur pada diri sendiri:
“Kalau besok pekerjaanku hilang, apakah karierku ikut mati?”
Sebagian besar dari kita tidak pernah benar-benar memikirkan pertanyaan ini. Kita terlalu sibuk mengejar promosi, target, jabatan, dan validasi. Kita diajarkan sejak kecil bahwa karier itu lurus: sekolah → kerja → naik jabatan → pensiun. Aman. Rapi. Bisa diprediksi.
Masalahnya, dunia tidak lagi bergerak lurus.
Dan di situlah buku The Career Is Dead—Long Live the Career menghantam saya dengan satu kesadaran yang tidak nyaman, tapi sangat membebaskan.
Judul buku ini provokatif, bahkan terdengar ekstrem. Tapi Douglas T. Hall tidak sedang mengatakan bahwa karier benar-benar berakhir. Yang ia bongkar adalah mitos besar tentang karier.
Mitos itu berbunyi kira-kira begini:
-
Karier = jabatan
-
Karier = stabilitas
-
Karier = loyal pada satu organisasi
-
Karier = naik tangga hierarki
Hall menyebut model ini sebagai traditional career—karier yang dikendalikan oleh organisasi. Di masa lalu, model ini masuk akal. Dunia relatif stabil. Perubahan berjalan lambat. Perusahaan bisa berjanji “pekerjaan seumur hidup”.
Hari ini? Janji itu tidak realistis lagi.
PHK massal, disrupsi teknologi, perubahan industri, dan ketidakpastian global telah membuktikan satu hal: organisasi tidak lagi bisa menjadi penjamin utama karier kita.
Jadi bukan karier yang mati.
Yang mati adalah cara lama kita menggantungkan hidup sepenuhnya pada sistem eksternal.