Semakin banyak proyek, peluang, koneksi, produk atau konten. Sekilas terdengar masuk akal.
Tetapi pernahkah Anda memperhatikan seorang pemahat? Ia tidak menciptakan patung dengan menambahkan batu, tapi justru menghilangkan bagian-bagian yang tidak penting. Semakin banyak yang dipahat, semakin jelas bentuk akhirnya.
Saya rasa, hidup juga bekerja dengan cara yang sama.
Kita sering berpikir kesuksesan datang dari menambah. Padahal sering kali, kesuksesan justru datang dari mengurangi.
Mengurangi distraksi, ego, dan hal-hal yang tidak benar-benar penting.
Itulah pelajaran pertama yang saya rasakan setelah menutup buku Steve Jobs karya Walter Isaacson.
Jujur saja, saya tidak selesai membaca buku ini dengan perasaan, “Saya ingin menjadi Steve Jobs.”
Justru sebaliknya. Saya selesai membacanya dengan pikiran, “Saya ingin memiliki keberanian untuk memegang prinsip seperti Steve Jobs, tanpa harus meniru semua kepribadiannya.”
Karena buku ini adalah kisah tentang seseorang yang sangat visioner, perfeksionis dan sering kali sulit diajak bekerja sama, tetapi berhasil mengubah cara dunia bekerja, berkomunikasi, dan berkreasi. Menurut saya, justru di situlah letak pelajarannya.