Stories

  • Kalau CEO-nya Tak Terlihat, Bagaimana Perusahaannya Bisa Menyala?

    Suatu sore, aku duduk di ruang tunggu kantor sebuah perusahaan yang omzetnya delapan digit dolar. Aku ke sana untuk bertemu CEO-nya. Sambil menunggu, iseng aku buka LinkedIn perusahaan itu. Lalu aku cari nama sang CEO.

    Hasilnya kosong. Bukan kosong dalam arti tidak ada akun — akunnya ada. Tapi isinya foto profil dari lima tahun lalu, dan postingan terakhir soal “Selamat Hari Kemerdekaan” tahun sebelumnya.

    Aku duduk di sana sambil mikir, “Perusahaan ini triliunan rupiah nilainya. Tapi orang yang memimpinnya, di ruang publik paling ramai untuk kalangan profesional dunia, nyaris tidak eksis.”

    (more…)


  • Di Era AI, Mengapa Menulis Buku Justru Menjadi Semakin Berharga?

    Pernahkah Anda membayangkan satu hal yang cukup mengganggu?

    Jika suatu hari seluruh akun media sosial Anda hilang, seluruh postingan Anda lenyap, algoritma tidak lagi mengenali nama Anda, dan semua konten yang selama ini Anda bangun tidak dapat ditemukan—apa yang tersisa dari 10, 20, atau bahkan 30 tahun pengalaman Anda?

    Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan. Namun bagi seorang leader, public figure, consultant, entrepreneur, atau profesional yang hidup dari pengalaman dan keahliannya, pertanyaan tersebut layak direnungkan.

    Sebab ada perbedaan besar antara memiliki pengalaman dan meninggalkan warisan pemikiran dari pengalaman tersebut.

    Bayangkan seorang chef yang selama 30 tahun memasak dengan resep-resep luar biasa. Ribuan orang pernah menikmati masakannya. Banyak yang mengaguminya. Tetapi seluruh resep itu hanya tersimpan di kepalanya. Ketika ia berhenti memasak, sebagian besar pengetahuannya ikut berhenti.

    Sekarang bayangkan chef yang sama menulis sebuah buku. Resepnya dapat dipelajari. Pengalamannya dapat diwariskan. Cara berpikirnya dapat diteruskan. Namanya dapat ditemukan bertahun-tahun kemudian.

    Itulah kekuatan sebuah buku.

    (more…)


  • Kalau Orang Butuh Waktu Lama untuk Mengingatmu, Kamu Sedang Kalah di Branding

    Aku harus mengaku sesuatu yang agak memalukan buat orang yang profesinya “membantu orang lain jadi visible.”

    Lima tahun lalu, ada klien datang ke aku. Produknya bagus. Skill-nya di atas rata-rata. Testimoninya pun tidak sedikit. Tapi dia hampir tidak dikenal siapa-siapa di luar lingkaran kecilnya. Dan waktu itu, aku memberi saran yang sekarang aku sesali: “Fokus aja perbaiki produknya dulu. Branding belakangan.”

    Aku pikir itu saran bijak. Ternyata itu saran yang membuat dia diam-diam kalah dari kompetitor yang produknya biasa saja, tapi namanya lebih dulu nempel di kepala orang.

    Butuh waktu cukup lama — dan satu buku yang mengubah cara aku bekerja — sebelum aku sadar bahwa aku salah karena aku belum paham apa itu branding sesungguhnya.

    Bayangkan ada restoran di gang buntu, jauh dari jalan utama. Chef-nya juara masak, bahan bakunya premium, rasanya bahkan lebih enak dari restoran bintang lima di pusat kota. Tapi karena lokasinya tersembunyi dan tidak ada papan nama yang jelas, restoran itu sepi. Sementara restoran lain, dengan menu standar tapi neon sign mencolok dan nama yang gampang diingat, selalu ramai antre.

    Orang tidak selalu memilih yang terbaik. Orang memilih yang paling gampang diingat, paling gampang ditemukan, dan paling jelas posisinya di kepala mereka.

    Itulah inti dari branding. Dan itu juga inti dari buku yang akhirnya membongkar cara berpikirku: The 22 Immutable Laws of Branding karya Al Ries dan Laura Ries.

    (more…)


  • Self-Deception: Musuh Terbesar Pemimpin yang Tidak Pernah Disadari

    Saya masih ingat malam itu dengan sangat jelas. Jam sepuluh malam, laptop masih menyala, dan saya mengetik pesan panjang ke salah satu anggota tim saya — nadanya sopan di permukaan, tapi kalau jujur, isinya penuh kekesalan yang saya bungkus rapi dengan kata-kata profesional.

    Dalam hati saya berkata, “Kenapa sih dia selalu lambat merespons? Kenapa saya harus terus-menerus mendorong dia untuk kerja lebih baik?”

    Saya merasa benar. Saya merasa sudah menjadi pemimpin yang sabar dan  sudah berusaha maksimal menghadapi orang yang “kurang inisiatif”. Saya bahkan sempat cerita ke teman dekat, mengeluh betapa capeknya menjadi atasan yang harus terus mendorong orang lain.

    Tapi ada satu hal kecil yang mengganjal. Saya tidak pernah benar-benar bertanya, “Jangan-jangan, masalahnya bukan di dia. Jangan-jangan, masalahnya ada di cara saya melihat dia?”

    Butuh waktu bertahun-tahun, dan satu buku tipis berjudul Leadership and Self-Deception dari The Arbinger Institute, untuk akhirnya membuat saya berhenti dan bertanya sejujur-jujurnya pada diri sendiri.

    (more…)


  • Jangan Kejar Pembeli di LinkedIn. Bangun Reputasi yang Membuat Mereka Datang

    “Mas, sebenarnya gimana sih cara jualan di LinkedIn tanpa kelihatan kayak orang yang lagi jualan?”

    Ini salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar.

    Saya memakluminya karena banyak orang masuk LinkedIn dengan mindset:

    “Gue harus posting lebih banyak.”

    Lalu naik level menjadi:

    “Gue harus punya followers lebih banyak.”

    Kemudian naik lagi:

    “Gue harus viral.”

    Padahal…

    jualan di LinkedIn bukan lomba siapa yang paling sering menawarkan sesuatu.

    Bayangkan LinkedIn seperti sebuah restoran.

    Profil lo adalah pintu masuknya. Content lo adalah aroma makanan yang bikin orang penasaran. Relationship adalah pengalaman mereka selama duduk di meja lo. Akhirnya, ketika mereka sudah percaya dengan kualitas “makanan” lo… barulah mereka bertanya menu dan harganya.

    Masalahnya, banyak orang baru buka pintu restoran langsung teriak: “PAK! MAU PESAN APA?”

    Belum duduk, lihat menunya, tahu siapa chef-nya, dan nyobain makanannya.  Tapi disuruh beli, ya kabur. 😂

    Ini yang sering terjadi di LinkedIn.

    (more…)


  • Cara Gue Menulis 100+ Buku Selama 18 Tahun

    Lo sebenarnya nggak harus jago nulis untuk bisa menerbitkan buku.

    Iya. Gue ulang sekali lagi.

    Lo nggak harus jago nulis untuk punya buku sendiri.

    Yang sering bikin orang nggak jadi menulis justru keyakinan bahwa menulis buku itu harus dimulai dari kemampuan menulis yang luar biasa.

    Harus punya bahasa yang indah, pintar merangkai kata, waktu berjam-jam setiap hari, tahu teknik menulis sejak halaman pertama dan bisa bikin kalimat yang “wah”.

    Padahal, setelah 18 tahun berkecimpung di dunia penulisan dan menghasilkan 100+ buku, gue justru melihat persoalannya sering ada di tempat lain.

    Orang terlalu sibuk memikirkan bagaimana menulis buku, sampai lupa memikirkan bagaimana menyelesaikan buku.

    Bayangin lo mau pergi dari Jakarta ke Surabaya. Apakah lo harus hafal seluruh jalan di Pulau Jawa sebelum berangkat?

    Enggak.

    Lo cuma perlu tahu tujuan akhirnya, kendaraan yang dipakai, rute awal yang harus ditempuh, dan sesekali mengecek apakah lo masih berada di jalur yang benar.

    Menulis buku juga begitu.

    Lo nggak harus mengetahui semuanya sejak halaman pertama. Lo cuma perlu tahu:

    Apa yang mau lo sampaikan?
    Siapa yang mau lo bantu?
    Kenapa buku ini penting?
    Dan bagaimana cara membawa pembaca dari halaman pertama sampai halaman terakhir?

    Sisanya bisa kita pecah menjadi langkah-langkah kecil.

    Ini salah satu hal yang gue pelajari selama 18 tahun terakhir.

    Gue sudah menulis lebih dari 100 buku sebagai penulis, co-writer, editor, maupun ghostwriter untuk puluhan tokoh nasional dan public figure. Sebagian buku tersebut menjadi best-seller. Karya-karya yang gue kerjakan juga telah diterbitkan oleh berbagai penerbit besar seperti Elex Media Komputindo, Penerbit Buku Kompas, M&C!, Erlangga, Tiga Serangkai, Andi Publisher, Raja Grafindo Persada, dan lainnya.

    Buku-buku tersebut juga hadir di berbagai kanal distribusi, dari Gramedia di berbagai kota hingga Google Play Books, Amazon, Shopee, Tokopedia, dan marketplace lainnya.

     Dari perjalanan itu, gue semakin percaya bahwa menulis buku sebenarnya bukan pekerjaan menulis. Menulis buku adalah pekerjaan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dirasakan, dan digunakan orang lain.

    (more…)