Stories

  • Jangan Bangga Dulu Jadi Bos. Kalau Jabatan Hilang, Apa yang Tersisa dari Nama Lo?

    Banyak memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan. Tapi kalau namanya dicari di luar industrinya, hampir tidak ada jejak.

    Setuju kah Anda dengan pendapat saya ini?

    Kadang, kita terlalu percaya bahwa jabatan tinggi otomatis membuat nama kita dikenal luas. Padahal, menjadi orang penting di sebuah perusahaan itu seperti menjadi kapten kapal yang hebat.

    Semua orang di dalam kapal tahu siapa yang memberi komando. Namun, orang-orang di pelabuhan belum tentu tahu siapa kaptennya, apalagi apa yang membuatnya layak dihormati.

    Sayangnya, banyak profesional baru menyadari hal ini ketika mereka mulai kehilangan jabatan, berpindah perusahaan, atau ingin membangun sesuatu atas nama sendiri.

    Gue pernah membayangkan sebuah situasi seperti ini.

    Sebut saja X.

    Ia adalah direktur utama sebuah perusahaan besar dengan ribuan karyawan. Pengalamannya panjang. Keputusannya memengaruhi banyak orang. Di ruang rapat, pendapatnya didengar. Di internal perusahaan, reputasinya tidak perlu dipertanyakan.

    Kalau ada masalah strategis, orang mencari X.

    Jika ada keputusan besar yang harus diambil, X duduk di meja paling depan.

    Bila ada target yang sulit dicapai, tim berharap X punya jawabannya.

    Singkatnya, X bukan orang sembarangan. Tapi, di luar lingkaran industrinya, nyaris tidak ada yang mengenal siapa dirinya.

    Namanya jarang muncul dalam percakapan publik. Pemikirannya tidak terdokumentasi dengan baik. Pengalamannya tidak banyak diketahui oleh profesional di luar perusahaannya. Bahkan, jika seseorang mencari namanya di internet, jejak yang muncul tidak sebanding dengan perjalanan karier dan kontribusinya.

    Selama bertahun-tahun, ia sibuk membangun perusahaan, tetapi belum sungguh-sungguh membangun narasi tentang nilai yang ia bawa. Di sinilah percakapan tentang personal branding menjadi relevan.

    (more…)


  • Mau Buku Lo Diterbitkan Kompas Gramedia Group? Ini 2 Jalur yang Jarang Diketahui Penulis Pemula

    “Mas, gue punya naskah buku yang menurut gue bagus banget. Tapi gimana caranya supaya bisa diterbitkan Gramedia?”

    Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul dari orang-orang yang ingin menulis buku. Ada yang sudah punya naskah lengkap, tetapi bingung harus mengirimkannya ke mana. Ada yang baru punya ide, tetapi merasa minder karena bukan penulis terkenal. Ada juga yang menganggap menerbitkan buku di penerbit besar hanya mungkin dilakukan kalau punya koneksi orang dalam.

    Padahal, coba bayangkan sebuah restoran dengan chef luar biasa, bahan makanan berkualitas, dan resep yang istimewa. Sayangnya, restoran itu tidak punya alamat yang jelas, tidak memasang papan nama, dan tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa mereka sedang membuka pintu.

    Pertanyaannya sederhana, bagaimana orang bisa menikmati masakannya kalau mereka tidak tahu restoran itu ada?

    Begitu pula dengan naskah buku.

    (more…)


  • Rahasia Orang Paling Sukses Ternyata Bukan Kerja Keras, Tapi Ini!

    Senin pagi. Alarm sudah berbunyi untuk ketiga kalinya. Kamu menatap langit-langit kamar, menghela napas, lalu bertanya dalam hati, “Sebenarnya gue ngelakuin semua ini buat apa sih?”

    Kamu tetap bangun. Tetap mandi, berangkat, buka laptop, ikut rapat. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam, ada suara kecil yang pelan-pelan makin keras: capek, tapi nggak tahu capek untuk siapa.

    Kalau kamu pernah merasa begitu, tenang. Kamu nggak sendirian, dan kamu nggak rusak. Kamu mungkin hanya sedang bekerja dengan sumber energi yang keliru.

    Bayangkan dua perangkat. Yang pertama power bank. Tenaganya besar, tapi hanya selama isinya masih ada. Begitu habis, kamu harus mencari colokan lagi. Yang kedua panel surya. Selama matahari terbit, dia menghasilkan energinya sendiri, hari demi hari, tanpa harus dicolok ke mana-mana.

    Kebanyakan dari kita bekerja seperti power bank. Energi kita diisi dari luar: target bulanan, bonus, takut ditegur atasan, gengsi di depan teman. Kita bergerak, tapi diam-diam bergantung pada colokan yang tidak kita kendalikan. Sementara orang yang berkinerja unggul secara konsisten biasanya punya panel surya di dalam dirinya: alasan yang membuat mereka tetap menyala bahkan ketika tidak ada yang menonton.

    Pertanyaannya, bagaimana memasang panel surya itu? Sains punya jawabannya, dan jawabannya jauh lebih membumi daripada yang kita kira.

    (more…)


  • Kamu Rela Habiskan Ratusan Juta untuk Iklan, Tapi Gratisan Pun Nggak Mau Ngurus LinkedIn?

    Ada ironi yang sering saya temui di ruang rapat perusahaan. Mereka menghabiskan anggaran besar untuk iklan, rebranding logo, dan sponsor acara. Tapi begitu HR bilang, “Pak, kita susah cari talenta bagus,” semua orang saling pandang bingung. Padahal, kalau kita buka halaman LinkedIn perusahaan itu, isinya sepi seperti mal yang baru tutup. Postingan terakhir tiga bulan lalu, isinya pengumuman libur nasional, dan ucapan selamat Idulfitri dengan desain template.

    Perusahaannya hebat. Budayanya sehat. Gajinya kompetitif. Tapi dari luar, semua itu tidak terlihat.

    Bayangkan kamu mau menginap di sebuah kota yang belum pernah kamu kunjungi. Kamu buka aplikasi pemesanan hotel, lalu menemukan satu hotel dengan nama bagus, tapi tanpa foto, tanpa ulasan, tanpa deskripsi. Padahal, bisa jadi kamarnya luar biasa, pelayanannya prima, sarapannya juara. Apa yang kamu lakukan? Hampir pasti, kamu scroll ke hotel lain yang fotonya jelas dan ulasannya meyakinkan.

    Itulah yang terjadi pada perusahaan yang mengabaikan employer branding.

    Calon karyawan hari ini bertindak seperti tamu hotel yang cermat. Sebelum melamar, mereka mengintip dulu: seperti apa sih budaya kerjanya? Siapa pemimpinnya? Apa yang dikatakan orang dalam tentang tempat ini? Dan tempat pertama yang mereka buka untuk mencari jawabannya, hampir selalu LinkedIn.

    Kalau yang mereka temukan hanya halaman kosong, mereka tidak menyimpulkan “mungkin perusahaan ini sibuk bekerja”. Mereka menyimpulkan, “ya sudah, saya lamar tempat lain saja.”

    (more…)


  • Kredibilitas Nggak Dibeli dari Algoritma, Tapi dari Rak Buku Gramedia

    Kamu nggak butuh menulis buku untuk jadi berpengaruh.

    Cukup rajin posting konten, rutin bikin video motivasi, sesekali naik panggung seminar — reputasimu akan terbangun dengan sendirinya. Kedengarannya masuk akal, kan? Toh banyak juga motivator yang besar cuma lewat media sosial.

    Kalau kamu percaya kalimat di atas, izinkan saya cerita dulu soal apa yang terjadi minggu lalu.

    Saya diajak ketemuan oleh salah satu klien saya. Sebut saja namanya Bhrahma, bukan nama sebenarnya.

    Kini Bhrahma bisa dibilang sebagai salah satu motivator paling berpengaruh di Asia. Kontennya ditonton jutaan kali, dan kalau saya sebutin nama aslinya, saya yakin kamu langsung tahu siapa dia. Tapi maaf saya tak bisa sembarangan spill namanya, karena sudah ada kode etiknya.

    Beberapa tahun silam, saya bantu dia menulis sebuah buku. Buku itu meledak. Viral.  Sejak saat itu, kariernya nggak pernah sama lagi. Bayarannya melonjak fantastis, reputasinya makin dipercaya, dan brandingnya makin kokoh di mata publik.

    Malam itu, sambil menyantap makan malam, dia bilang satu kalimat yang bikin saya diam cukup lama: “Konten gue udah ditonton jutaan kali sebelum buku itu terbit. Tapi orang baru benar-benar menganggap gue ‘layak dibayar mahal’ setelah buku itu ada.”

    (more…)


  • Follower LinkedInku Tumbuh dari 31K menjadi 78K dalam waktu 1,5 tahun: Ini Pelajaran yang Bisa Lo Petik

    Beberapa waktu lalu, saya menerima pesan dari seorang CEO yang dulu pernah saya bantu bangun personal brand-nya di LinkedIn. Isinya singkat: “Gung. Gue baru dibajak sama perusahaan yang jauh lebih besar. Mereka bilang, alasan mereka ngontak gue karena sering lihat postingan gue jadi pembicara di berbagai forum.”

    Saya masih ingat betul, dua tahun sebelumnya, orang ini nyaris nggak dikenal di LinkedIn. Followernya sedikit, postingannya jarang, dan dia sendiri sempat ragu, “Emang segitu pentingnya ya main LinkedIn?”

    Saya cuma tersenyum membaca pesan itu. Bukan karena saya merasa paling berjasa. Tapi karena momen itu mengingatkan saya pada satu hal yang selalu saya percaya.

    LinkedIn bukan sekadar platform cari kerja atau pamer sertifikat. LinkedIn adalah ruang sosial dengan aturan tak tertulis — dan orang yang memahami aturan itu, biasanya yang justru paling banyak “ditemukan” oleh peluang, bukan yang paling sibuk mencarinya.

    (more…)