Banyak orang percaya hidup ditentukan oleh keberuntungan. Ada yang merasa orang lain lebih “beruntung” mendapat peluang, koneksi, atau kepercayaan. Namun setelah membaca Karma: A Yogi’s Guide to Crafting Your Destiny karya Sadhguru, saya justru menemukan perspektif yang berbeda: mungkin yang kita sebut keberuntungan sebenarnya hanyalah pola yang berulang cukup lama hingga terlihat seperti takdir.
Jika karma adalah hasil tindakan masa lalu, apakah masa depan berarti sudah terkunci? Jika benar begitu, apa gunanya belajar, bekerja keras, atau mencoba berubah?
Karma bukan hukuman kosmis, bukan pula konsep mistis yang membuat manusia pasrah. Karma adalah akumulasi pola — cara kita berpikir, merespons, dan bertindak — yang secara konsisten membentuk realitas hidup kita.
Bayangkan algoritma LinkedIn. Setiap interaksi kecil — posting, komentar, koneksi, bahkan waktu membaca konten — memberi sinyal. Satu sinyal mungkin tidak berarti. Tetapi ribuan sinyal kecil yang konsisten akan membentuk reputasi digital yang sangat nyata.
Tanpa sadar, kita sedang “menciptakan karma” profesional setiap hari.
Dalam bukunya, Sadhguru menekankan bahwa manusia sering merasa terjebak bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena tidak sadar sedang mengulang pola yang sama. Kita mengira masalahnya ada di luar, padahal sering kali pola internal kita yang membatasi kemungkinan.