Suatu sore, saya duduk di ruang kerja seorang kepala daerah yang beberapa bulan kemudian dilantik jadi menteri. Beliau bertanya satu hal yang sederhana tapi susah dijawab, “Gimana caranya orang percaya saya, bukan cuma kenal saya?”
Pertanyaan yang sama, dengan nada berbeda, pernah saya dengar dari seorang motivator nasional yang jemaahnya jutaan api mengaku “capek jadi terkenal doang”. Dari seorang anggota DPR RI yang bingung kenapa elektabilitasnya nggak sebanding dengan seberapa sering dia diliput media hingga seorang wali kota, bupati, sampai CEO perusahaan besar yang semuanya, di titik tertentu, sampai pada kegelisahan yang sama: mereka dikenal, tapi belum tentu dipercaya.
Selama bertahun-tahun membantu mereka membangun branding — dari gubernur, pengusaha, hingga figur publik lintas industri — saya sadar satu benang merah yang selalu muncul. Bukan soal strategi konten yang canggih ataupun seberapa sering muncul di media. Tapi soal satu hal yang jauh lebih mendasar dan saya temukan setelah membaca buku tentang dunia influencer berjudul Influencer: Building Your Personal Brand in the Age of Social Media karya Brittany Hennessy.
Bayangkan personal brand itu seperti restoran kecil di pinggir jalan. Ada yang laris karena rasa masakannya konsisten — orang tahu, setiap datang, rasa itu-itu juga, dan itu yang bikin mereka balik lagi. Tapi ada juga restoran yang menunya berubah tiap minggu, rasanya kadang enak kadang aneh, dan pelanggannya nggak pernah tahu harus berekspektasi apa. Restoran itu mungkin ramai sesekali karena “viral”, tapi jarang jadi langganan.
Pejabat publik, pengusaha, motivator — semua figur yang pernah saya bantu — pada dasarnya menghadapi masalah restoran yang sama, hanya dengan taruhan yang jauh lebih besar. Karena yang mereka pertaruhkan adalah kepercayaan publik, suara pemilih, loyalitas klien, dan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Brittany Hennessy, lewat bukunya, pada dasarnya bilang satu hal sederhana yang menampar siapa pun — mau dia influencer TikTok atau kepala daerah sekalipun.
Brand yang bertahan bukan yang paling kreatif, tapi yang paling konsisten dengan siapa dirinya.
(more…)