You won’t believe this—
salah satu fase paling “tidak bahagia” dalam hidup saya justru terjadi saat semua indikator eksternal terlihat baik-baik saja.
Karier stabil.
Pekerjaan dihormati.
Agenda penuh undangan diskusi, proyek, dan ruang rapat.
You won’t believe this—
salah satu fase paling “tidak bahagia” dalam hidup saya justru terjadi saat semua indikator eksternal terlihat baik-baik saja.
Karier stabil.
Pekerjaan dihormati.
Agenda penuh undangan diskusi, proyek, dan ruang rapat.
Saya mulai dengan afirmasi terbalik ini karena hampir semua orang—termasuk saya—pernah meyakini kebalikannya.
Kita sering berkata,
“Hidup lagi nggak adil.”
“Karier gue stuck.”
“Bos gue toxic.”
“Situasinya nggak mendukung.”
Kalimat-kalimat itu terdengar wajar. Bahkan terdengar manusiawi. Tapi justru di sanalah masalahnya dimulai.
Kita hidup di era paling produktif sekaligus paling bingung.
Kalender penuh. To-do list panjang. Target bertebaran. Tapi anehnya, banyak orang yang tetap merasa: kok hidup gue jalan di tempat, ya?
Kita rajin ikut webinar, beli buku pengembangan diri, pasang resolusi tiap awal tahun—lalu menertawakan resolusi itu sendiri ketika Desember tiba. Seolah-olah kegagalan sudah jadi tradisi tahunan.
Padahal, mungkin masalahnya bukan pada kurangnya usaha.
Mungkin kita terlalu sibuk bergerak, sampai lupa menentukan arah.
Saya baru sadar satu hal yang agak menyakitkan.
Selama bertahun-tahun, saya—dan mungkin Anda juga—terlalu sibuk menjadi profesional yang pintar, sampai lupa menjadi profesional yang mudah diingat.
Dan kenyataan paling pahitnya adalah ini:
di dunia karier dan bisnis, yang diingatlah yang dipilih—bukan selalu yang paling hebat.
Kesadaran itu datang setelah membaca buku Sticky Branding karya Jeremy Miller. Buku ini tidak menawarkan trik viral, tidak mengajarkan gimmick personal branding, dan tidak menjanjikan “10 langkah cepat jadi terkenal”. Justru sebaliknya. Buku ini seperti menampar pelan tapi tepat sasaran.
Karena ternyata, banyak dari kita gagal bukan karena kurang kompeten, tapi karena tidak pernah benar-benar “menempel” di benak orang lain.
Mari kita luruskan satu mitos besar yang sering kita percaya:
“Kalau kerja kita bagus, orang pasti akan ingat dan menghargai.”
Sayangnya, dunia profesional tidak bekerja seadil itu.