Pernah merasa sudah bekerja sangat keras… tapi hasilnya tetap terasa biasa saja?
To-do list penuh.
Meeting padat.
Target ada.
Ambisi juga ada.
Tapi entah kenapa, progres terasa lambat.
Seperti bergerak… tapi tidak benar-benar mendekat ke tujuan.
Kalau jujur, mungkin kita semua pernah ada di fase itu.
Fase di mana kita melakukan banyak hal… tetapi tidak yakin apakah yang kita lakukan benar-benar penting.
Dan sering kali, masalahnya bukan karena kita kurang bekerja keras.
Masalahnya karena kita belum punya strategi yang jelas.
Buku Good Strategy Bad Strategy karya Richard Rumelt membuka perspektif yang cukup menampar:
Banyak organisasi, profesional, bahkan individu, sebenarnya tidak memiliki strategi.
Yang mereka miliki hanyalah daftar keinginan.
Atau lebih tepatnya: slogan yang terdengar strategis.
Peta Bukan Sekadar Tujuan, Tapi Cara Menemukan Jalan
Bayangkan seseorang ingin pergi ke suatu kota.
Ia tahu tujuannya.
Ia punya semangat.
Ia bahkan sudah menyiapkan kendaraan.
Tetapi ia tidak tahu jalannya.
Tidak tahu hambatan yang mungkin muncul.
Tidak tahu rute alternatif.
Tidak tahu prioritas mana yang harus diambil.
Ia hanya bergerak.
Cepat, mungkin.
Tapi belum tentu sampai.
Banyak orang menetapkan tujuan seperti:
ingin sukses,
ingin berkembang,
ingin meningkatkan karier,
ingin membangun bisnis.
Tetapi jarang berhenti untuk bertanya:
Apa sebenarnya tantangan utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu?
Rumelt menjelaskan bahwa strategi bukan tentang tujuan besar.
Strategi adalah tentang memahami masalah inti, lalu memilih pendekatan yang fokus.
Strategi selalu melibatkan pilihan.
Dan setiap pilihan berarti ada hal yang tidak kita pilih.
Apa yang Saya Pelajari dari Good Strategy Bad Strategy
1. Strategi Bukan Ambisi Besar, Tapi Fokus pada Masalah Nyata
Banyak orang mengira strategi adalah visi besar yang terdengar inspiratif.
Contohnya:
“Menjadi perusahaan terbaik di industri.”
“Menjadi profesional yang sukses.”
“Meningkatkan performa bisnis.”
Rumelt menjelaskan bahwa kalimat seperti ini bukan strategi.
Itu adalah aspirasi.
Strategi selalu dimulai dari diagnosis: apa masalah utamanya?
Dalam karier, misalnya:
banyak orang ingin naik jabatan,
tetapi tidak benar-benar memahami gap kompetensi yang perlu diperbaiki.
Dalam bisnis:
banyak organisasi ingin bertumbuh,
tetapi tidak jelas bottleneck yang menghambat pertumbuhan.
Tanpa diagnosis yang tepat, strategi hanya menjadi motivasi tanpa arah.
2. Good Strategy Selalu Memiliki Trade-off
Strategi berarti memilih fokus.
Masalahnya, banyak orang ingin melakukan semuanya sekaligus.
Belajar banyak skill sekaligus.
Masuk banyak peluang sekaligus.
Menargetkan banyak hal sekaligus.
Akibatnya:
energi tersebar.
progres tidak terasa signifikan.
Good strategy justru berani mengatakan: ini prioritas utama, yang lain menunggu.
Dalam personal branding LinkedIn misalnya:
banyak profesional ingin terlihat expert di semua bidang.
Padahal kredibilitas biasanya dibangun dari spesialisasi.
Lebih baik dikenal jelas di satu area, daripada samar di banyak area.
3. Strategi Membutuhkan Kejelasan, Bukan Kompleksitas
Sering kali kita mengira strategi harus rumit.
Padahal strategi yang efektif justru sederhana.
Rumelt menjelaskan konsep kernel of strategy:
- diagnosis
- guiding policy
- coherent actions
Guiding policy: pendekatan apa yang dipilih?
Coherent actions: aksi apa yang konsisten dengan pendekatan tersebut?
Dalam konteks karier:
Diagnosis:
kurang terlihat kredibel di industri.
Guiding policy:
membangun reputasi melalui thought leadership.
Coherent actions:
menulis insight di LinkedIn secara konsisten.
Sederhana, tetapi powerful.
Penerapan dalam Karier
Contoh nyata:
Seorang profesional merasa kariernya stagnan.
Ia mengikuti banyak pelatihan,
mengambil banyak sertifikasi,
tetapi tidak tahu mana yang paling relevan.
Diagnosis yang lebih tepat mungkin: kurang terlihat sebagai problem solver.
Strategi yang lebih fokus: mengembangkan kemampuan komunikasi solusi.
Aksi: aktif berbagi insight profesional.
Karier berkembang bukan karena aktivitas bertambah, tetapi karena arah menjadi lebih jelas.
Penerapan dalam Bisnis
Dalam bisnis, strategi sering disalahartikan sebagai target revenue.
Padahal revenue adalah hasil.
Strategi adalah cara menghadapi tantangan.
Misalnya:
penjualan stagnan.
Bad strategy: meningkatkan target sales.
Good strategy: mengidentifikasi mengapa customer tidak membeli.
Apakah positioning kurang jelas?
Apakah value proposition kurang kuat?
Apakah trust belum terbentuk?
Tanpa diagnosis yang tepat, solusi hanya menjadi trial and error.
Penerapan dalam LinkedIn Personal Branding
Banyak orang ingin personal branding kuat, tetapi tidak punya strategi konten.
Akibatnya:
posting random,
pesan tidak konsisten,
audience bingung.
Strategi sederhana:
Diagnosis: belum dikenal sebagai expert.
Guiding policy: konsisten berbagi insight spesifik.
Actions: membuat konten edukatif mingguan.
Hasilnya bukan instan.
Tetapi kredibilitas terbentuk.
Penutup
Sering kali kita merasa kurang beruntung, padahal sebenarnya kita hanya kurang fokus.
Bukan karena kita tidak mampu.
Tetapi karena energi kita tersebar terlalu luas.
Good Strategy Bad Strategy mengingatkan bahwa kesuksesan jarang datang dari melakukan lebih banyak hal.
Kesuksesan sering datang dari melakukan hal yang tepat secara konsisten.
Strategi bukan tentang terlihat pintar.
Strategi tentang berani jujur melihat tantangan, lalu memilih langkah yang paling relevan.
Karena dalam dunia yang penuh distraksi,
kejernihan arah adalah keunggulan kompetitif.
Jika Anda atau perusahaan Anda membutuhkan mitra terbaik untuk training, consulting, coaching, dan mentoring dengan tujuan untuk Grow & Glow, jangan ragu untuk menghubungi The Pandita Institute.
Nah, bagaimana dengan diri Anda? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:
#LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding #Strategy #CareerGrowth #PersonalBranding #Leadership #BusinessStrategy #LinkedInTips #ProfessionalDevelopment #ThoughtLeadership #GrowAndGlow #ThePanditaInstitute
Leave a Reply