Author: Agung Wibowo

  • Saya Pernah Mengira Networking Itu Menjilat. Ternyata Saya Salah Besar.

    Dulu, saya benar-benar percaya bahwa dunia kerja itu adil. Saya berpikir, kalau saya belajar lebih keras, bekerja lebih rajin, menambah sertifikasi, mempercantik CV, dan memberikan hasil terbaik, maka peluang pasti akan datang dengan sendirinya.

    Nyatanya? Tidak.

    Saya pernah melihat orang yang kemampuannya biasa saja justru mendapat promosi lebih dulu, melihat proyek bernilai miliaran rupiah jatuh ke tangan orang yang bahkan tidak pernah mengajukan proposal, dan posisi strategis terisi tanpa pernah diumumkan ke publik.

    Awalnya saya marah. Saya menyebutnya nepotisme, menganggapnya “orang dalam” dan merasa sistemnya tidak adil. Namun semakin lama saya berkarier, semakin saya memahami bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks daripada itu.

    Bayangkan dua restoran yang sama-sama menyajikan makanan terenak di kota. Yang satu berada di jalan protokol dengan papan nama besar. Yang satu lagi berada di gang sempit tanpa papan nama.

    Mana yang lebih dulu didatangi pelanggan? Belum tentu yang makanannya lebih enak. Tetapi yang lebih mudah ditemukan.

    Begitu pula dengan karier.

    Kompetensi adalah kualitas makananmu. Networking adalah alamat restoranmu.

    Kalau tidak ada yang tahu kamu ada, bagaimana kesempatan bisa datang mengetuk pintumu?

    (more…)

  • CV-mu Sudah Menjual Belum? Jangan Sampai HR Tidak Pernah Sempat Mengenalmu

    Pernah nggak kamu merasa begini?

    “Aku sudah kirim puluhan CV. Pengalamanku bagus. Skill-ku juga relevan. Tapi kok nggak ada panggilan interview?”

    Kalau iya, mungkin masalahnya bukan ada pada dirimu. Bisa jadi… CV-mu bahkan belum pernah dibaca manusia.

    Iya, kamu tidak salah baca. Sebelum HR melihat siapa dirimu, sering kali ada “penjaga gerbang” yang harus kamu lewati terlebih dahulu. Namanya Applicant Tracking System (ATS).

    Bayangkan begini. Kamu ingin masuk ke sebuah gedung perkantoran elit. Kamu sudah berpakaian rapi, membawa portofolio terbaik, bahkan datang lebih awal. Namun ternyata, pintu masuk gedung itu hanya bisa dibuka menggunakan kartu akses tertentu.

    Sehebat apa pun dirimu, kalau kartunya tidak cocok, pintunya tidak akan pernah terbuka.

    Begitulah CV di era sekarang. Masalahnya bukan kamu tidak kompeten, tapi CV-mu belum berbicara dalam “bahasa” yang dimengerti ATS.

    (more…)

  • Kalau Anda Merasa Hidup Berantakan, Bacalah Biografi Steve Jobs

  • Konten Media Sosial Bisa Viral Semalam. Buku Bisa Membuat Namamu Hidup Puluhan Tahun.

    Pernah sadar nggak? Semakin banyak orang bikin konten setiap hari, justru semakin sedikit orang yang benar-benar dipercaya.

    Ironis, ya?

    Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa terlihat pintar. Tinggal buka AI, ketik beberapa prompt, lalu lima menit kemudian lahirlah thread, carousel, newsletter, bahkan e-book.

    Masalahnya… Di tengah banjir konten itu, kepercayaan justru menjadi barang paling langka.

    Ibarat pasar malam.

    Semua pedagang teriak paling kencang agar dagangannya dilihat. Lampunya sama-sama terang. Spanduknya sama-sama besar. Musiknya sama-sama keras.

    Tapi ketika kita benar-benar mau membeli sesuatu yang mahal, kita justru mencari toko yang sudah lama berdiri, punya reputasi, dan dipercaya banyak orang.

    Personal branding juga begitu.

    Konten media sosial adalah lampu neon yang menarik perhatian. Sedangkan buku adalah fondasi bangunan yang membuat orang yakin untuk masuk.

    (more…)

  • 5 Menit Mengaudit LinkedIn Bisa Mengubah Karier Bertahun-tahun.

    Banyak orang mengira mereka butuh lebih banyak konten. Padahal yang sebenarnya mereka butuhkan adalah profil LinkedIn yang bisa mengonversi perhatian menjadi peluang.

    Bayangkan kamu memiliki sebuah toko di jalan paling ramai di dunia.

    Setiap hari ribuan orang lewat di depan tokomu. Mereka berhenti sebentar, melihat etalase, lalu pergi begitu saja.

    Bukan karena produkmu jelek atau hargamu mahal. Tetapi karena mereka tidak langsung memahami apa yang kamu jual, siapa yang kamu bantu, dan kenapa mereka harus percaya kepadamu.

    LinkedIn bekerja dengan cara yang hampir sama. Banyak orang sibuk mengejar views, impression, followers, bahkan viral. Namun mereka lupa bahwa setelah seseorang tertarik pada sebuah konten, hampir semua orang akan melakukan satu hal yang sama:

    Mereka membuka profilmu. Di situlah keputusan sebenarnya dibuat.

    Apakah orang itu akan menghubungimu?

    Mengajakmu bekerja sama?

    Mengundangmu menjadi pembicara?

    Merekrutmu?

    Membeli jasamu?

    Atau… menutup profilmu dalam waktu kurang dari 10 detik.

    Saya sering mengatakan bahwa konten membuka pintu, tetapi profil menentukan apakah orang akan masuk atau tidak.

    (more…)

  • Kalau Orang Masih Bingung Anda Ahli Apa, Personal Branding Anda Belum Jadi.

    “Mas Agung, saya bingung. Saya sebenarnya harus bahas apa di LinkedIn?”

    Saya tersenyum. Lalu saya balik bertanya.

    “Kalau saya membuka profil LinkedIn Anda hari ini, dalam lima detik saya harus mengingat Anda sebagai siapa?”

    Beliau terdiam. Beberapa detik kemudian menjawab pelan.

    “Nah… itu dia yang saya juga belum tahu.”

    Percakapan seperti ini sudah terlalu sering saya alami. Baik dengan founder, entrepreneur, profesional, konsultan, maupun coach yang mengikuti pelatihan atau mentoring saya. Menariknya, hampir semuanya memiliki masalah yang sama. Mereka ingin dikenal, dipercaya dan mendapatkan recruiter, investor, klien, atau peluang bisnis. Namun mereka belum pernah memutuskan mau dikenal karena apa.

    (more…)