Kamu nggak butuh menulis buku untuk jadi berpengaruh.
Cukup aktif posting tiap hari, rajin bikin reels, sesekali jadi pembicara di panggung seminar — nama kamu akan otomatis diingat orang. Followers naik, engagement ramai, DM masuk terus. Kedengarannya masuk akal, kan?
Kalau kamu percaya kalimat di atas, izinkan saya meluruskan satu hal.
Konten yang hilang dalam 24 jam, nggak pernah bisa jadi warisan.
Algoritma berubah setiap bulan. Reels yang viral hari ini, besok lusa sudah tenggelam di scroll orang lain. Podcast yang kamu isi, mungkin cuma didengar sekali lalu lupa judulnya apa. Story yang kamu susun semalaman, hilang dalam 24 jam tepat seperti yang dijanjikan fiturnya.
Semua itu penting untuk visibility. Tapi visibility bukan legacy.
Visibility itu bunga yang mekar cantik lalu layu dalam semusim. Legacy itu pohon oak — ditanam sekali, akarnya menembus tanah, dan tetap berdiri jauh setelah orang yang menanamnya sudah nggak ada di sana lagi.
Buku adalah pohon oak itu.
Selama 18 tahun terakhir, saya menulis lebih dari 100 buku. Diterbitkan oleh nama-nama besar seperti Elex Media Komputindo, Penerbit Buku Kompas, M&C!, Erlangga, Tiga Serangkai, Andi Publisher, hingga Raja Grafindo Persada. Buku-buku itu berjejer di rak Gramedia dari Sabang sampai Merauke, tersedia di Google Play Book, Amazon, Shopee, Tokopedia — di tempat orang mencari jawaban, bukan sekadar scroll iseng. Dari situ saya belajar satu hal yang nggak diajarkan di kelas personal branding mana pun.