Category: Blog

  • Karyawan Anda Adalah Iklan Paling Jujur yang Pernah Anda Keluarkan

    Lebih dari satu dekade saya mendampingi orang, brand, dan perusahaan membangun citra mereka. Saya duduk di ruang rapat, berdiri di atas panggung, mengajari para pemimpin cara berbicara dengan pasar, cara memenangkan kepercayaan pelanggan, cara membuat dunia melihat mereka sebagaimana mereka ingin dilihat.

     Saya pikir saya sudah paham segalanya tentang branding. Ternyata, saya baru melihat setengah dari gambarnya. Pasalnya, ada satu pertanyaan yang tidak pernah saya tanyakan cukup dalam kepada klien-klien saya — dan juga kepada diri saya sendiri.

    Bagaimana karyawan Anda menceritakan Anda kepada teman-teman mereka saat makan malam?

    Izinkan saya mulai dengan analogi sederhana.

    Bayangkan Anda masuk ke sebuah toko sepatu. Displaynya indah, iklannya memenangkan penghargaan, dan logonya terasa premium. Tapi begitu Anda masuk, pelayannya tampak ogah-ogahan. Mereka menjawab pertanyaan Anda dengan setengah hati. Wajah mereka bicara lebih keras dari mulut mereka, Saya tidak ingin ada di sini.

    Berapa lama Anda bertahan di dalam toko itu?

    Tidak lama.

    Inilah yang Simon Barrow dan Richard Mosley tulis dalam buku mereka yang mengubah cara saya berpikir selamanya: The Employer Brand: Bringing the Best of Brand Management to People at Work.

    Tesis mereka sederhana namun dahsyat:

    brand bukan hanya apa yang Anda jual ke pasar, tapi brand adalah apa yang Anda jual kepada orang-orang yang bekerja untuk Anda.

    Jika keduanya tidak selaras, seluruh bangunan itu rapuh.

    (more…)

  • It’s Okay Jadi Late Bloomer, Hidup Bukan Lomba Lari 100 Meter Kok!

    Jujur ya, gue masih inget banget momen itu. Umur 27, duduk di food court, scroll LinkedIn sambil makan nasi goreng yang udah dingin. Terus muncul satu post, “Proud to announce, di usia 24 aku udah jadi VP.” Dengan foto pake blazer, background gedung kaca.

    Gue liat makanan gue. Gue liat hidup gue. Terus gue mikir, “anjir, gue ngapain aja selama ini?”

    That moment tuh literally bikin gue ngerasa kayak ketinggalan kereta yang bahkan gue nggak tau jadwalnya kapan.

    Kenapa sih kita selalu ngukur “sukses” pake stopwatch? Siapa yang bikin rule kalo umur 25 harus udah jadi manager, umur 30 harus udah punya rumah, umur 35 harus udah “settled”?

    Nobody actually agreed sama timeline itu. Tapi somehow kita semua running the same race, comparing our chapter 3 sama chapter 20 orang lain.

    Real talk, itu toxic banget buat mental kita.

    (more…)

  • Rezeki Tak Pernah Tertukar

    “Lo tau nggak, gue reject offer itu.”

    Temen gue bilang gitu sambil ngaduk kopinya, santai banget, kayak lagi ngomongin cuaca. Padahal offer itu gaji-nya double dari kerjaan dia sekarang. Gue sampe berenti nyuap makanan.

    “Loh, kenapa? Itu kan dream company lo dari dulu.”

    Dia diem sebentar. Terus jawab, “Iya. Tapi pas gue submit portofolio buat posisi itu, gue keinget satu client yang udah nunggu proposal gue dua minggu. Gue mikir, kalo gue ambil ini, siapa yang handle dia?”

    Gue ketawa. “Bro, itu bukan tanggung jawab lo doang.”

    Dia cuma senyum. Enam bulan kemudian, client yang dia “nggak tega tinggalin” itu justru yang refer dia ke posisi C-level di company lain. Gaji-nya triple dari offer yang dia tolak.

    (more…)

  • Kalau CEO-nya Tak Terlihat, Bagaimana Perusahaannya Bisa Menyala?

    Suatu sore, aku duduk di ruang tunggu kantor sebuah perusahaan yang omzetnya delapan digit dolar. Aku ke sana untuk bertemu CEO-nya. Sambil menunggu, iseng aku buka LinkedIn perusahaan itu. Lalu aku cari nama sang CEO.

    Hasilnya kosong. Bukan kosong dalam arti tidak ada akun — akunnya ada. Tapi isinya foto profil dari lima tahun lalu, dan postingan terakhir soal “Selamat Hari Kemerdekaan” tahun sebelumnya.

    Aku duduk di sana sambil mikir, “Perusahaan ini triliunan rupiah nilainya. Tapi orang yang memimpinnya, di ruang publik paling ramai untuk kalangan profesional dunia, nyaris tidak eksis.”

    (more…)

  • Di Era AI, Mengapa Menulis Buku Justru Menjadi Semakin Berharga?

    Pernahkah Anda membayangkan satu hal yang cukup mengganggu?

    Jika suatu hari seluruh akun media sosial Anda hilang, seluruh postingan Anda lenyap, algoritma tidak lagi mengenali nama Anda, dan semua konten yang selama ini Anda bangun tidak dapat ditemukan—apa yang tersisa dari 10, 20, atau bahkan 30 tahun pengalaman Anda?

    Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan. Namun bagi seorang leader, public figure, consultant, entrepreneur, atau profesional yang hidup dari pengalaman dan keahliannya, pertanyaan tersebut layak direnungkan.

    Sebab ada perbedaan besar antara memiliki pengalaman dan meninggalkan warisan pemikiran dari pengalaman tersebut.

    Bayangkan seorang chef yang selama 30 tahun memasak dengan resep-resep luar biasa. Ribuan orang pernah menikmati masakannya. Banyak yang mengaguminya. Tetapi seluruh resep itu hanya tersimpan di kepalanya. Ketika ia berhenti memasak, sebagian besar pengetahuannya ikut berhenti.

    Sekarang bayangkan chef yang sama menulis sebuah buku. Resepnya dapat dipelajari. Pengalamannya dapat diwariskan. Cara berpikirnya dapat diteruskan. Namanya dapat ditemukan bertahun-tahun kemudian.

    Itulah kekuatan sebuah buku.

    (more…)

  • Kalau Orang Butuh Waktu Lama untuk Mengingatmu, Kamu Sedang Kalah di Branding

    Aku harus mengaku sesuatu yang agak memalukan buat orang yang profesinya “membantu orang lain jadi visible.”

    Lima tahun lalu, ada klien datang ke aku. Produknya bagus. Skill-nya di atas rata-rata. Testimoninya pun tidak sedikit. Tapi dia hampir tidak dikenal siapa-siapa di luar lingkaran kecilnya. Dan waktu itu, aku memberi saran yang sekarang aku sesali: “Fokus aja perbaiki produknya dulu. Branding belakangan.”

    Aku pikir itu saran bijak. Ternyata itu saran yang membuat dia diam-diam kalah dari kompetitor yang produknya biasa saja, tapi namanya lebih dulu nempel di kepala orang.

    Butuh waktu cukup lama — dan satu buku yang mengubah cara aku bekerja — sebelum aku sadar bahwa aku salah karena aku belum paham apa itu branding sesungguhnya.

    Bayangkan ada restoran di gang buntu, jauh dari jalan utama. Chef-nya juara masak, bahan bakunya premium, rasanya bahkan lebih enak dari restoran bintang lima di pusat kota. Tapi karena lokasinya tersembunyi dan tidak ada papan nama yang jelas, restoran itu sepi. Sementara restoran lain, dengan menu standar tapi neon sign mencolok dan nama yang gampang diingat, selalu ramai antre.

    Orang tidak selalu memilih yang terbaik. Orang memilih yang paling gampang diingat, paling gampang ditemukan, dan paling jelas posisinya di kepala mereka.

    Itulah inti dari branding. Dan itu juga inti dari buku yang akhirnya membongkar cara berpikirku: The 22 Immutable Laws of Branding karya Al Ries dan Laura Ries.

    (more…)