Category: Blog

  • Kenapa KDM Begitu Mudah Diingat? Coba Lihat dari Life Path Number-nya

    Ada satu hal yang selalu membuat saya tertarik ketika melihat seseorang yang berhasil membangun pengaruh besar, apa sebenarnya yang membuat orang mengingatnya?

    Apakah karena jabatan? Sering muncul di media? Punya tim komunikasi yang bagus? Algoritma sedang berpihak? Atau jangan-jangan orang tersebut berhasil membuat publik merasa “Saya tahu siapa dia.”

    Saya teringat hal itu ketika memperhatikan perjalanan Kang Dedi Mulyadi.

    Di tengah banyaknya pejabat yang berbicara dengan bahasa birokrasi, KDM justru membangun cara berkomunikasi yang sangat personal. Ia memakai simbol budaya, turun ke masyarakat, berbicara dengan bahasa yang mudah dicerna, membuat kebijakan yang sering kali mengundang perdebatan dan hadir begitu sering dalam percakapan publik sampai nama “KDM” terasa seperti sebuah karakter, bukan sekadar nama seorang pejabat.

    Lalu saya mencoba melihat sosok ini dari sudut yang agak berbeda: khususnya Life Path Number.

    Saya tahu, bagi sebagian orang, numerologi mungkin terdengar seperti sesuatu yang terlalu metafisik untuk dibawa ke pembicaraan tentang leadership dan personal branding.

    Numerologi  tidak bisa dipakai untuk membuktikan kepribadian seseorang, apalagi meramalkan masa depan. Jadi saya tidak sedang mengatakan bahwa perilaku KDM terjadi karena angka tertentu. Saya justru ingin memperlakukannya sebagai sebuah lensa reflektif.

    Semacam kaca pembesar.

    Kita melihat dulu perjalanan hidup dan perilakunya. Setelah itu, kita lihat apakah simbolisme angka tersebut membantu kita memahami pola yang menarik di dalamnya.

    Dan kebetulan, dari tanggal lahir yang tercantum dalam bahan biografi yang saya gunakan—11 April 1971—perhitungan numerologi populer menghasilkan angka 33, yang kemudian direduksi menjadi 6. (more…)

  • Kenapa Sudah Rajin Posting di LinkedIn Tapi Tetap Tidak Dilirik? Mungkin Anda Melanggar Aturan Ini

    Anda tidak perlu memahami LinkedIn untuk sukses di LinkedIn.

    Setidaknya, itu yang sering kita yakini — dan itu yang membuat begitu banyak orang berhenti di titik yang sama.

    Logikanya sederhana. Bikin profil, posting sesekali, tambah koneksi sebanyak-banyaknya, sesekali tinggalkan komentar, lalu berharap recruiter, klien, atau partner bisnis datang dengan sendirinya. Masalahnya, LinkedIn tidak pernah bekerja sesederhana itu — dan orang-orang yang benar-benar berhasil di sana tahu persis kenapa.

    Coba bayangkan LinkedIn sebagai sebuah ruangan networking eksklusif. Semua orang datang membawa kartu nama. Semua ingin dikenal, didengar, dan merasa punya sesuatu yang layak ditawarkan.

    Lalu, di tengah keramaian itu, masuklah satu orang yang berbeda. Dia tidak sibuk membagikan kartu nama ke setiap orang yang lewat. Dia justru mendengarkan lebih dulu — mengajukan pertanyaan yang tepat, memberi insight ketika memang dibutuhkan, menyapa orang lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

    Ketika orang-orang di ruangan itu akhirnya membutuhkan sesuatu, satu nama yang keluar dari mulut mereka selalu sama, “Coba tanya dia.”

    (more…)

  • Mengapa Orang-Orang Paling Sibuk di Dunia Butuh Ghostwriter?

    Izinkan saya jujur tentang sesuatu yang jarang dibicarakan orang.

    Selama 18 tahun terakhir, saya telah menulis lebih dari 100 buku. Buku-buku itu terbit di penerbit-penerbit terkemuka seperti Elex Media Komputindo, Erlangga, Tiga Serangkai, Penerbit Buku Kompas, Quanta, Andi Publisher, M&C, dan banyak lagi.

    Tapi ada rahasia kecil di balik angka itu. Sebagian besar dari buku-buku tersebut — namanya bukan nama saya yang tercetak di sampulnya.

    Saya menulis. Orang lain yang terkenal.

    Itu bukan sesuatu yang memalukan. Justru, itulah yang membuat saya bangga. Saya dipercaya menjaga suara, pikiran, dan warisan seseorang dengan cara yang paling jujur — lewat kata-kata.

    Saya adalah ghostwriter.

     Hari ini, saya ingin menceritakan sebuah “rahasia publik” yang sudah terlalu lama hanya diketahui oleh kalangan dalam.

    (more…)

  • Personal Branding Tanpa Buku Itu Kayak Rumah Tanpa Fondasi

    Kamu nggak butuh menulis buku untuk jadi berpengaruh.

    Cukup aktif posting tiap hari, rajin bikin reels, sesekali jadi pembicara di panggung seminar — nama kamu akan otomatis diingat orang. Followers naik, engagement ramai, DM masuk terus. Kedengarannya masuk akal, kan?

    Kalau kamu percaya kalimat di atas, izinkan saya meluruskan satu hal.

    Konten yang hilang dalam 24 jam, nggak pernah bisa jadi warisan.

    Algoritma berubah setiap bulan. Reels yang viral hari ini, besok lusa sudah tenggelam di scroll orang lain. Podcast yang kamu isi, mungkin cuma didengar sekali lalu lupa judulnya apa. Story yang kamu susun semalaman, hilang dalam 24 jam tepat seperti yang dijanjikan fiturnya.

    Semua itu penting untuk visibility. Tapi visibility bukan legacy.

    Visibility itu bunga yang mekar cantik lalu layu dalam semusim. Legacy itu pohon oak — ditanam sekali, akarnya menembus tanah, dan tetap berdiri jauh setelah orang yang menanamnya sudah nggak ada di sana lagi.

    Buku adalah pohon oak itu.

    Selama 18 tahun terakhir, saya menulis lebih dari 100 buku. Diterbitkan oleh nama-nama besar seperti Elex Media Komputindo, Penerbit Buku Kompas, M&C!, Erlangga, Tiga Serangkai, Andi Publisher, hingga Raja Grafindo Persada. Buku-buku itu berjejer di rak Gramedia dari Sabang sampai Merauke, tersedia di Google Play Book, Amazon, Shopee, Tokopedia — di tempat orang mencari jawaban, bukan sekadar scroll iseng.  Dari situ saya belajar satu hal yang nggak diajarkan di kelas personal branding mana pun.

    Buku bekerja bahkan ketika kamu sedang tidur. 

    (more…)

  • Karyawan Anda Adalah Iklan Paling Jujur yang Pernah Anda Keluarkan

    Lebih dari satu dekade saya mendampingi orang, brand, dan perusahaan membangun citra mereka. Saya duduk di ruang rapat, berdiri di atas panggung, mengajari para pemimpin cara berbicara dengan pasar, cara memenangkan kepercayaan pelanggan, cara membuat dunia melihat mereka sebagaimana mereka ingin dilihat.

     Saya pikir saya sudah paham segalanya tentang branding. Ternyata, saya baru melihat setengah dari gambarnya. Pasalnya, ada satu pertanyaan yang tidak pernah saya tanyakan cukup dalam kepada klien-klien saya — dan juga kepada diri saya sendiri.

    Bagaimana karyawan Anda menceritakan Anda kepada teman-teman mereka saat makan malam?

    Izinkan saya mulai dengan analogi sederhana.

    Bayangkan Anda masuk ke sebuah toko sepatu. Displaynya indah, iklannya memenangkan penghargaan, dan logonya terasa premium. Tapi begitu Anda masuk, pelayannya tampak ogah-ogahan. Mereka menjawab pertanyaan Anda dengan setengah hati. Wajah mereka bicara lebih keras dari mulut mereka, Saya tidak ingin ada di sini.

    Berapa lama Anda bertahan di dalam toko itu?

    Tidak lama.

    Inilah yang Simon Barrow dan Richard Mosley tulis dalam buku mereka yang mengubah cara saya berpikir selamanya: The Employer Brand: Bringing the Best of Brand Management to People at Work.

    Tesis mereka sederhana namun dahsyat:

    brand bukan hanya apa yang Anda jual ke pasar, tapi brand adalah apa yang Anda jual kepada orang-orang yang bekerja untuk Anda.

    Jika keduanya tidak selaras, seluruh bangunan itu rapuh.

    (more…)

  • It’s Okay Jadi Late Bloomer, Hidup Bukan Lomba Lari 100 Meter Kok!

    Jujur ya, gue masih inget banget momen itu. Umur 27, duduk di food court, scroll LinkedIn sambil makan nasi goreng yang udah dingin. Terus muncul satu post, “Proud to announce, di usia 24 aku udah jadi VP.” Dengan foto pake blazer, background gedung kaca.

    Gue liat makanan gue. Gue liat hidup gue. Terus gue mikir, “anjir, gue ngapain aja selama ini?”

    That moment tuh literally bikin gue ngerasa kayak ketinggalan kereta yang bahkan gue nggak tau jadwalnya kapan.

    Kenapa sih kita selalu ngukur “sukses” pake stopwatch? Siapa yang bikin rule kalo umur 25 harus udah jadi manager, umur 30 harus udah punya rumah, umur 35 harus udah “settled”?

    Nobody actually agreed sama timeline itu. Tapi somehow kita semua running the same race, comparing our chapter 3 sama chapter 20 orang lain.

    Real talk, itu toxic banget buat mental kita.

    (more…)