Category: Blog

  • Orang Berbakat Tidak Selalu Menang — Yang “Dikenal” yang Menang

    Bayangkan kamu sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Skill-mu tajam. Portofoliomu solid. Track record-mu bicara sendiri.

    Tapi saat posisi impianmu dibuka — atau klien besar sedang mencari mitra — nama kamu tidak muncul di benak mereka.

    Bukan karena kamu tidak layak.

    Tapi karena mereka tidak tahu kamu ada.

    Itulah yang paling menyakitkan: bukan kalah bersaing, tapi tidak ikut bertanding karena tidak ada yang mengundangmu ke arena.

     Inilah titik awal dari buku KNOWN: The Handbook for Building and Unleashing Your Personal Brand in the Digital Age karya Mark W. Schaefer — sebuah buku yang, kalau kamu baca dengan serius, bisa mengubah cara kamu memandang karier, bisnis, dan bahkan eksistensi profesionalmu secara fundamental.

    (more…)

  • Satu Konsep dari Buku Peak yang Bisa Mengubah Karier Anda Selamanya

    Pernahkah Anda diam-diam merasa tertinggal?

    Melihat teman yang kariernya melesat lebih cepat, rekan kerja yang presentasinya selalu memukau atau  pengusaha yang seolah selalu tahu keputusan terbaik. Lalu tanpa sadar kita berkata dalam hati, “Mungkin memang dia lebih berbakat.”

    Saya juga pernah berpikir seperti itu. Bahkan berkali-kali.

    Ada fase ketika saya merasa sudah bekerja keras, membaca banyak buku, mengikuti pelatihan, mengerjakan berbagai proyek, tetapi hasilnya tidak bertumbuh secepat yang saya harapkan.

    Rasanya seperti sedang mendaki gunung menggunakan tenaga penuh, tetapi setiap kali menoleh ke belakang, ternyata posisi saya tidak banyak berubah.

    Mungkin Anda juga pernah mengalaminya. Kita belajar, bekerja dan mencoba.  Tetapi mengapa ada orang yang berkembang jauh lebih cepat?

    Lalu saya membaca sebuah buku yang benar-benar mengubah cara saya memandang proses menjadi hebat.

    Judulnya Peak: Secrets from the New Science of Expertise karya K. Anders Ericsson.

    Buku ini bukan sekadar buku motivasi. Ia lahir dari puluhan tahun penelitian mengenai para atlet dunia, musisi kelas internasional, pemain catur, dokter, pilot, hingga profesional terbaik di berbagai bidang.

    Dan kesimpulan terbesarnya benar-benar mengguncang cara saya berpikir. Bukan bakat yang paling menentukan. Melainkan cara seseorang berlatih.

    (more…)

  • Mengapa Banyak Profesional Gagal Membangun Personal Brand di LinkedIn

    Beberapa tahun lalu saya pernah menghabiskan berjam-jam menulis sebuah artikel.

    Saya melakukan riset, menyusun kerangka, mencari data pendukung, memoles setiap kalimat dan membaca ulang berkali-kali.

    Ketika artikel itu akhirnya dipublikasikan, saya merasa bangga. “Ini salah satu tulisan terbaik yang pernah saya buat,” pikir saya.

    Lalu saya menunggu.

    Satu jam. Satu hari. Seminggu.

    Tidak ada yang terjadi. Tidak viral. Tidak banyak yang membaca. Tidak ada diskusi berarti. Tidak ada dampak signifikan.

    Saya kecewa.

     Mungkin Anda juga pernah mengalaminya.

    Membuat presentasi terbaik tetapi tidak mendapat perhatian. Membangun produk hebat tetapi tidak ada yang membeli. Menjadi profesional kompeten tetapi tidak ada yang menawarkan peluang. Menulis buku berkualitas tetapi tidak ada yang membahasnya.

    Saat itu saya berpikir dunia tidak adil.

    Namun setelah membaca buku The Content Code karya Mark W. Schaefer, saya menyadari sesuatu yang sangat menampar.

    Masalahnya bukan kualitas, tapi distribusi.

    (more…)

  • Ketika AI Menggantikan Banyak Pekerjaan, Skill Ini Justru Semakin Berharga

    Ada sesuatu yang menurut saya cukup ironis. Sejak kecil kita menghabiskan belasan bahkan puluhan tahun di sekolah dan kampus.

    Kita belajar matematika, sejarah, fisika, akuntansi, manajemen, hukum dan seabrek lainnya.

    Tetapi ada satu hal yang hampir tidak pernah diajarkan secara serius.

    Bagaimana cara belajar itu sendiri.

    Bayangkan. Kita menghabiskan sebagian besar hidup menggunakan sebuah alat. Namun tidak pernah diajarkan bagaimana mengoptimalkan alat tersebut.

    Seperti seseorang yang membeli mobil mewah, mengendarainya setiap hari selama puluhan tahun, tetapi tidak pernah belajar cara merawat mesinnya.

    Lalu ia heran mengapa performanya menurun.

    Ketika membaca buku The Only Skill That Matters karya Jonathan A. Levi, saya seperti mendapat tamparan yang cukup keras.

    Buku ini membuat saya sadar bahwa di era ketika informasi tersedia di mana-mana, masalah terbesar kita bukan lagi kekurangan informasi. Masalah terbesar kita adalah ketidakmampuan mengolah informasi.

    Mungkin inilah alasan mengapa sebagian orang terus bertumbuh sementara yang lain tertinggal.

    Bukan karena mereka lebih pintar, melainkan karena mereka lebih cepat belajar.

    (more…)

  • Ketika Jalan Karier Terasa Kritis, Inilah yang Bisa Kita Pelajari dari Rivan Achmad Purwantono

    Pernahkah kamu berada di titik ketika karier tiba-tiba berubah menjadi situasi yang serba genting?

                Baru saja beradaptasi dengan jabatan baru, tiba-tiba kamu harus menghadapi masalah besar yang tidak pernah masuk dalam deskripsi pekerjaan. Semua mata tertuju kepadamu. Waktu terus berjalan. Risiko terus membesar. Dan keputusan yang kamu ambil bisa menentukan nasib banyak orang.

                Mungkin skala masalah yang kamu hadapi tidak sebesar itu. Namun hampir setiap profesional pernah mengalami versinya sendiri. Entah ketika target terasa mustahil dicapai, organisasi sedang menghadapi tekanan, tim kehilangan arah atau dituntut tetap tenang padahal di dalam hati sedang bergulat dengan ketidakpastian.

                Ada masa-masa dalam karier ketika tantangannya bukan lagi soal naik jabatan atau mencari peluang baru. Tantangannya adalah bertahan, mengambil keputusan yang tepat, dan membawa orang lain melewati situasi yang tidak nyaman.

                Kalau iya, kamu akan lebih mudah memahami perjalanan Rivan Achmad Purwantono. Dalam salah satu episode paling menentukan dalam kariernya, ia dipanggil untuk menyelamatkan sebuah bank yang sedang menghadapi krisis likuiditas serius—hanya sekitar empat puluh hari setelah menjabat posisi strategis di perusahaan lain.

                Bayangkan karier seperti perjalanan di jalan raya. Sebagian besar waktu kita menikmati jalan yang relatif stabil. Namun ada kalanya kita memasuki tikungan tajam, cuaca buruk, atau kondisi darurat yang menuntut respons cepat. Pada momen seperti itulah kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya diuji. Bukan ketika semuanya berjalan baik, melainkan ketika keadaan berada dalam titik paling kritis.

                Dan jika ada satu sosok yang berkali-kali dipercaya memimpin organisasi melewati masa-masa seperti itu, sosok tersebut adalah Rivan Achmad Purwantono.

    (more…)

  • Jika Besok Kamu Kena PHK, Siapa yang Masih Mau Mengangkat Teleponmu?

    Kalau besok pagi semua yang Anda miliki hilang, siapa yang masih mau mengangkat telepon Anda?

    Bukan pertanyaan yang nyaman. Tetapi mungkin itulah pertanyaan paling jujur yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri.

    Karena dalam hidup profesional, kita sering mengukur kekayaan dari hal-hal yang terlihat.

    Jabatan. Gelar. Penghasilan. Aset. Jumlah pengikut. Kartu nama. Jabatan di LinkedIn. Omzet bisnis. Portofolio investasi.

    Semua itu penting. Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua itu tidak berharga.

    Tetapi ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita.

    Sebagian besar hal yang kita banggakan hari ini bisa hilang lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

    Perusahaan bisa melakukan restrukturisasi. Bisnis bisa menghadapi krisis. Pasar bisa berubah. Teknologi bisa menggantikan pekerjaan tertentu. Bahkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu keputusan yang salah.

    Lalu apa yang tersisa?

    Saya pernah melihat orang yang kehilangan jabatan tetapi tetap dihormati. Saya juga pernah melihat orang yang kehilangan jabatan lalu seolah menghilang dari peredaran.

    Perbedaannya bukan pada posisi mereka. Perbedaannya ada pada relasi yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

    Ibarat pohon besar, banyak orang sibuk merawat buahnya, tetapi lupa merawat akarnya.

    Padahal ketika badai datang, bukan buah yang menyelamatkan pohon. Akarlah yang membuatnya tetap berdiri.

    Dan dalam kehidupan profesional, akar itu bernama kepercayaan.  

    (more…)