Pernahkah kamu berada di titik ketika karier tiba-tiba berubah menjadi situasi yang serba genting?

            Baru saja beradaptasi dengan jabatan baru, tiba-tiba kamu harus menghadapi masalah besar yang tidak pernah masuk dalam deskripsi pekerjaan. Semua mata tertuju kepadamu. Waktu terus berjalan. Risiko terus membesar. Dan keputusan yang kamu ambil bisa menentukan nasib banyak orang.

            Mungkin skala masalah yang kamu hadapi tidak sebesar itu. Namun hampir setiap profesional pernah mengalami versinya sendiri. Entah ketika target terasa mustahil dicapai, organisasi sedang menghadapi tekanan, tim kehilangan arah atau dituntut tetap tenang padahal di dalam hati sedang bergulat dengan ketidakpastian.

            Ada masa-masa dalam karier ketika tantangannya bukan lagi soal naik jabatan atau mencari peluang baru. Tantangannya adalah bertahan, mengambil keputusan yang tepat, dan membawa orang lain melewati situasi yang tidak nyaman.

            Kalau iya, kamu akan lebih mudah memahami perjalanan Rivan Achmad Purwantono. Dalam salah satu episode paling menentukan dalam kariernya, ia dipanggil untuk menyelamatkan sebuah bank yang sedang menghadapi krisis likuiditas serius—hanya sekitar empat puluh hari setelah menjabat posisi strategis di perusahaan lain.

            Bayangkan karier seperti perjalanan di jalan raya. Sebagian besar waktu kita menikmati jalan yang relatif stabil. Namun ada kalanya kita memasuki tikungan tajam, cuaca buruk, atau kondisi darurat yang menuntut respons cepat. Pada momen seperti itulah kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya diuji. Bukan ketika semuanya berjalan baik, melainkan ketika keadaan berada dalam titik paling kritis.

            Dan jika ada satu sosok yang berkali-kali dipercaya memimpin organisasi melewati masa-masa seperti itu, sosok tersebut adalah Rivan Achmad Purwantono.

 Dari Kudus ke Dunia Perbankan

Lahir di Kudus pada 26 September 1966, Rivan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran sebelum merantau untuk kuliah Filsafat di Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta. Tidak ada yang menandakan saat itu bahwa anak Kudus ini akan memimpin beberapa BUMN besar secara berturut-turut di kemudian hari.

            Jalan karier Rivan dimulai dari LippoBank pada awal dekade 90-an, dan ia tidak memulainya dari kursi direksi yang empuk. Ia ditempatkan sebagai Kepala Kantor Pati, kemudian Kepala Bagian Kredit Semarang, lalu berpindah memimpin cabang di beberapa wilayah lain. Belasan tahun dihabiskan untuk memahami bisnis perbankan dari lantai paling bawah—bagaimana kredit benar-benar bekerja, bagaimana cabang benar-benar berjalan, bagaimana nasabah benar-benar berpikir.

            Tahun 2006 Rivan memutuskan keluar dari LippoBank, sempat mencicipi dunia yang sama sekali berbeda sebagai General Manager di PT Sophie Martin Indonesia, sebelum akhirnya kembali ke dunia perbankan dengan bergabung ke Bank Bukopin—kini KB Bank—di tahun yang sama.

            Kalau dipetakan ke analogi jalan tadi, fase ini adalah jalan kabupaten yang panjang dan berkelok. Bukan jalur cepat, tapi justru di sanalah Rivan mengumpulkan bekal yang nantinya jadi penentu—pengalaman lapangan yang tidak bisa didapat dari ruang rapat mana pun.

 Naik Pelan, Mendarat di Posisi yang Tepat

Di Bukopin, Rivan menanjak melalui tahapan yang jelas: Vice President dari 2006 hingga 2014, General Manager hingga 2018, lalu Direktur Konsumer hingga 2020. Di posisi terakhir inilah ia mulai dikenal sebagai orang yang gemar mendorong transformasi digital—lahirlah Tabungan Digital Wokee, layanan Laku Pandai yang menjangkau masyarakat di luar jaringan cabang konvensional, serta layanan pembayaran e-Samsat yang memudahkan masyarakat membayar pajak kendaraan tanpa harus mengantre di kantor Samsat.

            Pola ini akan terus berulang sepanjang kariernya: setiap kali Rivan menjabat posisi baru, hal pertama yang ia cari bukan status, melainkan masalah apa yang bisa diselesaikan lebih cepat dengan teknologi.

Empat Puluh Hari, Lalu Panggilan Darurat

Mei 2020, Rivan ditunjuk sebagai Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi PT Kereta Api Indonesia. Ia baru mulai membenahi dashboard laporan keuangan di setiap Daerah Operasi dan mengembangkan KAI Access menjadi lebih dari sekadar aplikasi tiket, saat sebuah telepon mengubah arah kariernya untuk kesekian kali.

            Bank Bukopin, tempat Rivan mengabdi belasan tahun sebelumnya, sedang dalam krisis likuiditas yang serius. Bank itu punya kewajiban sebesar Rp900 miliar yang harus dibayarkan ke Bank Indonesia, sementara nasabah mulai menarik dana besar-besaran karena isu negatif yang beredar. Pemerintah memanggilnya kembali—bukan untuk posisi yang ia tinggalkan, tapi untuk kursi Direktur Utama, kursi yang harus diisi orang yang paling memahami isi perusahaan itu dari dalam.

            Rivan baru 40 hari menjabat di KAI ketika harus berpindah lagi. Bantuan datang dari BNI yang turut menyetor Rp1,1 triliun untuk menutup kewajiban ke Bank Indonesia, menyisakan Rp200 miliar sebagai modal untuk menjaga Bukopin agar tidak tutup. Tak lama setelah itu, dalam Rapat Umum Pemegang Saham, Menteri BUMN Erick Thohir secara resmi memintanya menjadi Direktur Utama.

            Yang Rivan lakukan setelah itu adalah pelajaran kepemimpinan yang jarang diajarkan di kelas manajemen mana pun. Ia mengumpulkan seluruh karyawan dan menyampaikan analogi yang sangat sederhana: ibarat kapal yang hampir bocor, semua orang di dalamnya harus memilih—ikut menutup kebocoran dengan cara apa pun, atau turun dari kapal kalau memang sudah tidak percaya pada nakhoda barunya. Ia menyampaikan itu secara terbuka, tanpa basa-basi, dan hasilnya di luar ekspektasi banyak orang: tidak satu pun karyawan mengundurkan diri selama masa krisis itu.

            Langkah keduanya menyasar ke luar perusahaan. Rivan mengumpulkan para pemimpin redaksi media untuk meminta pemberitaan yang berimbang, tidak semata menonjolkan sisi negatif yang bisa memperparah kepanikan nasabah. Langkah ketiganya menyasar jaringan—mencari dukungan dari pemerintah dan bank-bank daerah agar ikut memberi pinjaman yang menopang kebangkitan Bukopin.

            Hasilnya tercatat jelas: rating dari Pefindo naik ke level AAA, dan harga saham Bukopin yang sempat terpuruk melonjak dari Rp61 hingga titik tertinggi Rp700. Tak lama setelah itu, KB Kookmin Bank dari Korea Selatan masuk sebagai pemegang saham mayoritas dan nama bank berubah menjadi KB Bukopin—sebuah akhir yang jauh lebih baik dari yang dibayangkan banyak orang saat krisis itu pertama kali pecah.

            Bagi Rivan sendiri, pencapaian ini bukan soal kehebatan pribadi. Dalam catatannya, ia menulis bahwa kesuksesan memimpin di masa krisis adalah buah kerja keras bersama, bukan karena dirinya seorang, melainkan karena bahu-membahu semua pihak yang terlibat. Ia juga menempatkan kepemimpinan dalam krisis bukan sekadar tugas yang harus digugurkan, tapi sebagai panggilan—sebuah cara memandang jabatan yang membuatnya terus memposisikan diri sebagai pemecah masalah, bukan sekadar pemegang jabatan.

 Kabin Baru, Misi yang Sama: Jasa Raharja

Juni 2021, setelah satu tahun menstabilkan Bukopin, Kementerian BUMN kembali memanggil Rivan—kali ini untuk memimpin Jasa Raharja, perusahaan yang bertugas memberikan santunan kepada korban kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia. Pola yang sama langsung terlihat: begitu menjabat, fokusnya langsung pada bagaimana teknologi bisa mempercepat layanan yang selama ini berjalan lambat.

            Rivan mengembangkan sistem layanan bergerak yang memungkinkan petugas merespons data kecelakaan langsung dari rumah sakit, tanpa korban atau ahli waris harus repot mendatangi kantor Jasa Raharja. Bersamaan dengan itu, perusahaan menerbitkan standar diagnosis cedera dan kompendium medis nasional sebagai pedoman penanganan korban di fasilitas kesehatan.

            Di sisi tata kelola, Rivan memperkuat koordinasi dengan Korlantas Polri dan instansi keuangan daerah untuk mengaktifkan kembali pembinaan Samsat secara nasional, sekaligus membangun basis data kendaraan bermotor berbasis big data untuk memantau kepatuhan pajak secara real-time. Program JR Care lahir sebagai standar biaya perawatan korban kecelakaan di rumah sakit, melengkapi rangkaian transformasi yang ia gagas.

            Hasil dari semua inisiatif ini bukan klaim kosong. Dalam catatannya sendiri, Rivan menyebut tahun 2022 sebagai tahun yang membuktikan kerja keras itu berbuah manis. Total penerimaan perusahaan mencapai 106% dari target dengan pertumbuhan 8,76%, lebih dari 90% kantor cabang mencatat pertumbuhan dua digit, kecepatan penyerahan santunan meninggal dunia terealisasi dalam waktu satu hari enam jam—empat jam lebih cepat dari tahun sebelumnya—dan penyelesaian berkas santunan hanya membutuhkan waktu 12 menit 2 detik.

 Falsafah yang Menuntun Setiap Langkah

Kalau ditanya apa yang membuat pola kepemimpinan Rivan konsisten di setiap perusahaan yang ia pimpin, jawabannya mungkin ada di buku yang ia tulis sendiri, Srawung, Laden, Sembodo. Tiga kata Jawa ini menjadi fondasi filosofi hidupnya.

            Srawung yang berarti membangun relasi, laden yang berarti melayani dengan tulus, dan sembodo yang berarti berkomitmen sesuai dengan kemampuan dan ukuran yang dimiliki.

            Bukan kebetulan kalau hampir semua langkah transformasinya—dari Bukopin sampai Jasa Raharja—selalu dimulai dari memperbaiki relasi dengan karyawan dan publik, lalu diikuti dengan memperbaiki layanan, dan ditutup dengan komitmen yang realistis terhadap apa yang bisa dicapai.

 Dari Infrastruktur Menjadi Infraculture di Jasa Marga

Mei 2025, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, Rivan resmi menjabat Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk—operator jalan tol terbesar di Indonesia. Dan di sinilah analogi jalan tol yang kita bicarakan sejak awal jadi benar-benar literal.

            Di bawah kepemimpinannya, Jasa Marga menggulirkan agenda transformasi besar: dari “infra as structure” menuju “infra as culture”. Maksudnya sederhana tapi dalam—jalan tol bukan lagi sekadar aspal dan struktur beton, melainkan ruang di mana pengalaman pengguna jadi dasar setiap kebijakan.

            Lahirlah program JSMR MOVE, sebuah budaya kerja yang membentuk karakter “Roadster” Jasa Marga agar selaras dengan arah strategis perusahaan, lengkap dengan praktik Salam Roadster Melayani—Salam, Senyum, Sapa—sebagai standar interaksi di setiap titik layanan jalan tol.

            Di sisi teknologi, Jasa Marga mengoptimalkan Jasa Marga Tollroad Command Center, pusat pemantauan jalan tol berbasis machine learning dan kecerdasan buatan yang mencakup sistem manajemen insiden, analisis lalu lintas cerdas, hingga sistem pemeliharaan terintegrasi.

            Di sisi penegakan aturan, teknologi Weight In Motion diterapkan lebih agresif untuk mendeteksi truk yang melebihi kapasitas muatan, lengkap dengan integrasi otomatis ke sistem penilangan elektronik.

            Rivan sendiri menyebut JSMR MOVE sebagai jawaban strategis atas dinamika ekspektasi pelanggan dan tantangan bisnis di era mobilitas modern—komitmen perusahaan untuk bekerja lebih cepat, tepat, bermakna, dan berdampak, sekaligus cara Jasa Marga merespons tantangan zaman secara proaktif alih-alih menunggu zaman yang menentukan arah.

Implementasinya tidak berhenti di slogan.   Pengembangan kompetensi Roadster—sebutan bagi karyawan Jasa Marga— dirancang lewat program pembelajaran terstruktur dan peningkatan literasi digital, lalu distandarkan di seluruh titik operasional, sehingga setiap pengambilan keputusan di lapangan bisa lebih cepat dan tetap selaras dengan arah strategis perusahaan secara keseluruhan.

            Sekali lagi, pola yang sama muncul: relasi dengan Roadster diperkuat dulu, layanan kepada pengguna jalan dibenahi, baru kemudian teknologi dan tata kelola menyusul sebagai penopang.

 Lebih dari Sekadar Eksekutif

Di tengah jadwal yang padat sebagai direktur utama, Rivan tetap menjaga satu kaki di dunia akademis. Sejak 2006 ia aktif mengajar dan menjadi dosen tamu di sejumlah kampus besar seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Padjadjaran.

            Rivan menuntaskan gelar doktor ilmu hukum di Universitas Islam Sultan Agung pada 2023, dan setahun setelahnya dikukuhkan sebagai Guru Besar Kehormatan Ilmu Hukum di kampus yang sama. Karya tulisnya pun tidak sedikit—mulai dari jurnal ilmiah soal hukum dan tata kelola BUMN, hingga belasan buku tentang kepemimpinan krisis, manajemen perubahan, dan tata kelola risiko, termasuk satu yang mengisahkan langsung pengalamannya menyelamatkan Bukopin, Melawan Bank Gagal.

 Tentukan Jalanmu Sendiri

Balik lagi ke pertanyaan di awal: pernah merasa di tikungan tanpa rambu?

            Rivan pun pernah, lebih dari sekali, di posisi yang taruhannya jauh lebih besar dari kebanyakan orang. Yang membedakan bukan soal seberapa mulus jalan yang ia lewati, tapi seberapa konsisten ia menerapkan tiga hal yang sama di setiap kesempatan: membangun relasi sebelum membangun sistem, melayani sebelum dilayani, dan berkomitmen sesuai kemampuan, bukan sekadar janji di atas kertas.

            Mungkin kamu sedang di fase jalan kabupaten yang berkelok sekarang—belum dapat promosi yang diinginkan, masih meragu dengan jalur karier yang dipilih, atau justru baru dilempar ke posisi yang menuntut lebih dari yang kamu siap.

            Perjalanan karier Rivan menunjukkan bahwa jalan berkelok bukan tanda kamu salah arah. Kadang itu justru rute yang menyiapkanmu untuk tikungan besar berikutnya.

            Tiga puluh tahun lebih jalan kariernya membuktikan satu hal sederhana: orang yang naik dari kantor cabang kecil di Pati pun bisa berakhir memimpin tiga BUMN strategis, selama ia mau menjalani setiap tikungan dengan relasi yang tulus, layanan yang nyata, dan komitmen yang realistis.

            Kalau cerita ini membuatmu mulai memikirkan ulang jalur kariermu sendiri, jangan simpan refleksi itu sendirian. Bagikan ke rekan kerja yang mungkin sedang butuh pengingat yang sama, atau tulis di kolom komentar SuperCareer: tikungan tanpa rambu seperti apa yang sedang atau pernah kamu hadapi?

            Supaya nggak ketinggalan kisah-kisah perjalanan karier inspiratif lainnya setiap minggu, pastikan kamu tetap berlangganan newsletter SuperCareer—karena jalan tol menuju karier impianmu, mungkin sedang dibangun sekarang juga.


Nah, bagaimana dengan diri Anda? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:

#LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding #RivanAchmadPurwantono #JasaMarga

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *