Lo sebenarnya nggak harus jago nulis untuk bisa menerbitkan buku.

Iya. Gue ulang sekali lagi.

Lo nggak harus jago nulis untuk punya buku sendiri.

Yang sering bikin orang nggak jadi menulis justru keyakinan bahwa menulis buku itu harus dimulai dari kemampuan menulis yang luar biasa.

Harus punya bahasa yang indah, pintar merangkai kata, waktu berjam-jam setiap hari, tahu teknik menulis sejak halaman pertama dan bisa bikin kalimat yang “wah”.

Padahal, setelah 18 tahun berkecimpung di dunia penulisan dan menghasilkan 100+ buku, gue justru melihat persoalannya sering ada di tempat lain.

Orang terlalu sibuk memikirkan bagaimana menulis buku, sampai lupa memikirkan bagaimana menyelesaikan buku.

Bayangin lo mau pergi dari Jakarta ke Surabaya. Apakah lo harus hafal seluruh jalan di Pulau Jawa sebelum berangkat?

Enggak.

Lo cuma perlu tahu tujuan akhirnya, kendaraan yang dipakai, rute awal yang harus ditempuh, dan sesekali mengecek apakah lo masih berada di jalur yang benar.

Menulis buku juga begitu.

Lo nggak harus mengetahui semuanya sejak halaman pertama. Lo cuma perlu tahu:

Apa yang mau lo sampaikan?
Siapa yang mau lo bantu?
Kenapa buku ini penting?
Dan bagaimana cara membawa pembaca dari halaman pertama sampai halaman terakhir?

Sisanya bisa kita pecah menjadi langkah-langkah kecil.

Ini salah satu hal yang gue pelajari selama 18 tahun terakhir.

Gue sudah menulis lebih dari 100 buku sebagai penulis, co-writer, editor, maupun ghostwriter untuk puluhan tokoh nasional dan public figure. Sebagian buku tersebut menjadi best-seller. Karya-karya yang gue kerjakan juga telah diterbitkan oleh berbagai penerbit besar seperti Elex Media Komputindo, Penerbit Buku Kompas, M&C!, Erlangga, Tiga Serangkai, Andi Publisher, Raja Grafindo Persada, dan lainnya.

Buku-buku tersebut juga hadir di berbagai kanal distribusi, dari Gramedia di berbagai kota hingga Google Play Books, Amazon, Shopee, Tokopedia, dan marketplace lainnya.

 Dari perjalanan itu, gue semakin percaya bahwa menulis buku sebenarnya bukan pekerjaan menulis. Menulis buku adalah pekerjaan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dirasakan, dan digunakan orang lain.

Makanya, gue punya formula sederhana.

1. Mulai dari IDE, bukan dari halaman kosong

Kesalahan paling umum adalah membuka Microsoft Word lalu menatap halaman putih sambil berpikir, “Gue harus nulis apa?”

Stop.

Jangan mulai dari halaman kosong. Mulailah dari masalah.

Apa yang sedang dialami orang?

Apa yang lo ketahui tetapi belum banyak orang pahami?

Pengalaman apa yang pernah lo lalui?

Kesalahan apa yang pernah lo buat?

Pelajaran apa yang ingin lo wariskan?

Dari sana biasanya ide buku mulai muncul. Karena buku yang kuat hampir selalu lahir dari sesuatu yang ingin diselesaikan.

2. Tentukan pembacanya

Banyak orang ingin bukunya dibaca semua orang.

Hasilnya?

Bukunya sering kali tidak benar-benar berbicara kepada siapa pun.

Tentukan satu manusia yang ingin lo bantu.

Fresh graduate? Profesional? Pengusaha? Pemimpin? Ibu bekerja? Guru? Atau mungkin orang yang sedang mengalami fase hidup seperti yang pernah lo alami?

Semakin jelas pembacanya, semakin mudah lo menentukan apa yang harus ditulis.

3. Bangun ALUR sebelum menulis

Ini salah satu rahasia yang sering gue gunakan.

Jangan buru-buru menulis bab.

Bangun dulu peta besarnya.

Apa yang ingin pembaca pahami di awal?

Apa masalah yang harus mereka sadari?

Apa insight yang perlu mereka dapatkan?

Apa solusi yang ingin lo tawarkan?

Apa perubahan yang ingin terjadi setelah mereka selesai membaca?

Setelah itu, baru kita pecah menjadi bab.  Dengan begitu, lo nggak lagi melihat buku sebagai sesuatu yang panjangnya ratusan halaman.

Lo melihatnya sebagai kumpulan perjalanan kecil. Satu bab, satu gagasan, satu cerita, satu pelajaran dan satu langkah.

4. Tulis dulu. Rapikan kemudian.

Ini juga penting.

Banyak orang terlalu cepat menjadi editor bagi dirinya sendiri.

Baru menulis dua paragraf, sudah menghapus. Baru satu halaman, sudah mengganti kata. Baru tiga halaman, sudah merasa tulisannya jelek.

Akhirnya?

Tidak pernah selesai.

Gue lebih suka memisahkan dua pekerjaan: writer mode dan editor mode.

Saat menjadi writer, tugas lo mengeluarkan gagasan. Saat menjadi editor, tugas lo memperbaiki gagasan tersebut.

Jangan suruh dua orang bekerja dalam satu kepala pada saat yang sama. Nanti malah berantem.

5. Jangan takut menggunakan cerita

Buku yang penuh teori bisa terasa berat. Buku yang penuh cerita bisa terasa hidup.

Karena manusia lebih mudah mengingat sesuatu yang mereka rasakan daripada sesuatu yang sekadar mereka baca.

Misalnya, cerita tentang kegagalan, percakapan, momen ketika lo hampir menyerah, kesalahan yang pernah lo buat, pertemuan dengan seseorang hingga keputusan yang mengubah hidup.

Semua itu bisa menjadi bahan bakar buku. Bahkan pengalaman yang menurut lo biasa saja mungkin justru sangat berarti bagi orang lain.

6. Buku bukan cuma tentang tulisan

Ini bagian yang sering terlupakan.

Buku yang bagus perlu dipikirkan dari hulu sampai hilir. Konsepnya, risetnya, strukturnya, naskahnya, editingnya, judulnya, covernya, penerbitannya, distribusinya, promosinya,  hingga personal branding penulisnya.

Karena di era ketika begitu banyak konten diproduksi setiap hari, nama penulis juga menjadi bagian dari alasan seseorang membeli buku.

Di sinilah pengalaman gue sebagai ghostwriter, penulis, editor, sekaligus personal branding consultant bertemu.

Buat gue, buku bukan sekadar produk. Buku adalah aset reputasi.

Buku bisa membantu seseorang memperkuat kredibilitas, membuka percakapan baru, mendatangkan peluang bisnis, membangun authority, membuka pintu kolaborasi, bahkan memperluas visibility.

Itulah kenapa gue melihat peran gue hari ini bukan cuma membantu orang menulis.

Gue membantu orang grow & glow—mengembangkan value sekaligus membuat value tersebut lebih terlihat. Sebagai Growth & Visibility Architect, salah satu cara gue melakukannya adalah melalui personal branding dan ghostwriting. Nah, buku adalah salah satu kendaraan paling kuat untuk itu.

Jadi kalau selama ini lo punya ide buku yang terus mengendap di kepala, jangan buru-buru bilang “Gue belum bisa nulis.”

Mungkin lo cuma belum punya peta, sistem, dan teman perjalanan yang tepat.

Karena buku pertama lo nggak harus sempurna. Buku pertama lo cuma perlu selesai.

Setelah selesai, baru kita bisa memperbaikinya. Setelah diterbitkan, baru kita bisa mengembangkannya. Setelah orang mulai membaca, baru kita bisa melihat sejauh apa gagasan lo bisa berjalan.

Jadi, kalau lo sudah lama punya mimpi menerbitkan buku tapi selalu bingung harus mulai dari mana, gue membuka Online Private Mentoring Menulis Buku secara one-on-one.

Kita bisa mulai dari ide yang masih berantakan,  pengalaman yang belum tahu mau dijadikan apa, draf yang mangkrak, atau bahkan dari halaman kosong. Kita susun bersama sampai menjadi sesuatu yang layak dibaca dan layak diterbitkan.

Kalau lo pengen nulis dan nerbitin buku tapi nggak tahu harus mulai dari mana, lo bisa ikutan Online Private Mentoring bareng gue di sini:

Online Private Mentoring Menulis Buku — Program 1 atau Offline Private Mentoring Menulis Buku — Program 2

Siapa tahu, buku yang selama ini cuma ada di kepala lo, tahun ini benar-benar ada di tangan pembaca.

#MenulisBuku #CaraMenulisBuku #TerbitkanBuku #PenulisIndonesia #Ghostwriter #GhostwriterIndonesia #PersonalBranding #PersonalBrandingConsultant #AuthorBranding #BookWriting #MenjadiPenulis #TipsMenulis #BukuIndonesia #BestSeller #WritingTips #ContentCreator #GrowthAndVisibility #AgungWibowo

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *