Tag: Ghostwriter

  • Mau Buku Lo Diterbitkan Kompas Gramedia Group? Ini 2 Jalur yang Jarang Diketahui Penulis Pemula

    “Mas, gue punya naskah buku yang menurut gue bagus banget. Tapi gimana caranya supaya bisa diterbitkan Gramedia?”

    Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul dari orang-orang yang ingin menulis buku. Ada yang sudah punya naskah lengkap, tetapi bingung harus mengirimkannya ke mana. Ada yang baru punya ide, tetapi merasa minder karena bukan penulis terkenal. Ada juga yang menganggap menerbitkan buku di penerbit besar hanya mungkin dilakukan kalau punya koneksi orang dalam.

    Padahal, coba bayangkan sebuah restoran dengan chef luar biasa, bahan makanan berkualitas, dan resep yang istimewa. Sayangnya, restoran itu tidak punya alamat yang jelas, tidak memasang papan nama, dan tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa mereka sedang membuka pintu.

    Pertanyaannya sederhana, bagaimana orang bisa menikmati masakannya kalau mereka tidak tahu restoran itu ada?

    Begitu pula dengan naskah buku.

    (more…)

  • Mengapa Orang-Orang Paling Sibuk di Dunia Butuh Ghostwriter?

    Izinkan saya jujur tentang sesuatu yang jarang dibicarakan orang.

    Selama 18 tahun terakhir, saya telah menulis lebih dari 100 buku. Buku-buku itu terbit di penerbit-penerbit terkemuka seperti Elex Media Komputindo, Erlangga, Tiga Serangkai, Penerbit Buku Kompas, Quanta, Andi Publisher, M&C, dan banyak lagi.

    Tapi ada rahasia kecil di balik angka itu. Sebagian besar dari buku-buku tersebut — namanya bukan nama saya yang tercetak di sampulnya.

    Saya menulis. Orang lain yang terkenal.

    Itu bukan sesuatu yang memalukan. Justru, itulah yang membuat saya bangga. Saya dipercaya menjaga suara, pikiran, dan warisan seseorang dengan cara yang paling jujur — lewat kata-kata.

    Saya adalah ghostwriter.

     Hari ini, saya ingin menceritakan sebuah “rahasia publik” yang sudah terlalu lama hanya diketahui oleh kalangan dalam.

    (more…)

  • Cara Gue Menulis 100+ Buku Selama 18 Tahun

    Lo sebenarnya nggak harus jago nulis untuk bisa menerbitkan buku.

    Iya. Gue ulang sekali lagi.

    Lo nggak harus jago nulis untuk punya buku sendiri.

    Yang sering bikin orang nggak jadi menulis justru keyakinan bahwa menulis buku itu harus dimulai dari kemampuan menulis yang luar biasa.

    Harus punya bahasa yang indah, pintar merangkai kata, waktu berjam-jam setiap hari, tahu teknik menulis sejak halaman pertama dan bisa bikin kalimat yang “wah”.

    Padahal, setelah 18 tahun berkecimpung di dunia penulisan dan menghasilkan 100+ buku, gue justru melihat persoalannya sering ada di tempat lain.

    Orang terlalu sibuk memikirkan bagaimana menulis buku, sampai lupa memikirkan bagaimana menyelesaikan buku.

    Bayangin lo mau pergi dari Jakarta ke Surabaya. Apakah lo harus hafal seluruh jalan di Pulau Jawa sebelum berangkat?

    Enggak.

    Lo cuma perlu tahu tujuan akhirnya, kendaraan yang dipakai, rute awal yang harus ditempuh, dan sesekali mengecek apakah lo masih berada di jalur yang benar.

    Menulis buku juga begitu.

    Lo nggak harus mengetahui semuanya sejak halaman pertama. Lo cuma perlu tahu:

    Apa yang mau lo sampaikan?
    Siapa yang mau lo bantu?
    Kenapa buku ini penting?
    Dan bagaimana cara membawa pembaca dari halaman pertama sampai halaman terakhir?

    Sisanya bisa kita pecah menjadi langkah-langkah kecil.

    Ini salah satu hal yang gue pelajari selama 18 tahun terakhir.

    Gue sudah menulis lebih dari 100 buku sebagai penulis, co-writer, editor, maupun ghostwriter untuk puluhan tokoh nasional dan public figure. Sebagian buku tersebut menjadi best-seller. Karya-karya yang gue kerjakan juga telah diterbitkan oleh berbagai penerbit besar seperti Elex Media Komputindo, Penerbit Buku Kompas, M&C!, Erlangga, Tiga Serangkai, Andi Publisher, Raja Grafindo Persada, dan lainnya.

    Buku-buku tersebut juga hadir di berbagai kanal distribusi, dari Gramedia di berbagai kota hingga Google Play Books, Amazon, Shopee, Tokopedia, dan marketplace lainnya.

     Dari perjalanan itu, gue semakin percaya bahwa menulis buku sebenarnya bukan pekerjaan menulis. Menulis buku adalah pekerjaan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dirasakan, dan digunakan orang lain.

    (more…)

  • Media Sosial Membuat Anda Viral. Buku Membuat Anda Dibayar Lebih Mahal.

    Pernah nggak sih melihat fenomena seorang content creator dapat satu juta views, orang cuma bilang “kontennya keren.” Tapi begitu orang yang sama menerbitkan buku, komentarnya berubah jadi “wah, dia beneran ahli ya.”

    Padahal pesannya bisa jadi sama persis. Topiknya sama. Bahkan beberapa bab di buku itu mungkin daur ulang dari konten yang sudah pernah dia unggah di media sosial.

    Kenapa persepsinya bisa berubah sedrastis itu?

    Pertanyaan ini yang terus mengusik saya selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia personal branding.  Semakin saya pikirkan, semakin jelas jawabannya.

    Perhatian (attention) dan kepercayaan (trust) itu dibangun dengan cara yang benar-benar berbeda.

    Media sosial membuat orang mengenal nama kita. Buku membuat orang mempercayai nama kita. Perbedaan tipis inilah yang sering menentukan siapa yang cuma “dikenal” dan siapa yang benar-benar “diingat.”

    (more…)

  • Ghostwriter: Investasi atau Pemborosan? Ini Faktanya

    Pernah merasa seperti ini?

    Anda punya banyak ide.
    Pengalaman hidup yang “mahal”.
    Insight yang kalau dibagikan… bisa mengubah cara orang berpikir.

    Tapi setiap kali mau menulis:

    • Anda sibuk
    • Anda menunda
    • Atau… tidak tahu mulai dari mana

    Dan akhirnya?

    Ide itu tetap jadi ide.
    Tidak pernah menjadi buku.
    Tidak pernah menjadi legacy.

    Padahal…

    Di luar sana, orang-orang dengan pengalaman “biasa saja”
    sudah lebih dulu menulis—dan justru mendapatkan klien, panggung, dan peluang.

    Lalu muncul pertanyaan penting:

    Apakah saya perlu ghostwriter?

    (more…)

  • Cara Memilih Ghostwriter Terbaik di Indonesia (Panduan Lengkap untuk Pebisnis, Profesional, dan Public Figure)

    Pernah merasa Anda punya cerita besar, pengalaman luar biasa atau insight yang bisa mengubah banyak orang…

    tapi setiap kali duduk di depan laptop—blank?

    Atau lebih parah… Anda sudah mulai menulis, tapi berhenti di halaman 3 atau naskahnya selesai… tapi terasa “biasa saja”.

    Padahal Anda tahu— buku itu bisa jadi legacy, personal branding, bahkan mesin lead klien bernilai tinggi.

    Di sinilah banyak orang mulai mencari ghostwriter.

    Tapi masalahnya… tidak semua ghostwriter diciptakan sama.

    (more…)