Category: Blog

  • Kalau Nama Anda Disebut, Apa yang Orang Ingat?

    Ada satu kenyataan yang cukup tidak nyaman untuk diterima.

    Dunia tidak memberi penghargaan kepada yang terbaik. Dunia memberi penghargaan kepada yang paling diingat.

    Mungkin terdengar sinis.

    Kita diajarkan sejak kecil bahwa kalau bekerja keras, belajar lebih banyak, meningkatkan kompetensi, dan menghasilkan karya terbaik, maka orang akan datang dengan sendirinya.

    Sayangnya tidak sesederhana itu.

    Saya mengenal banyak profesional yang kompetensinya luar biasa, tetapi kariernya jalan di tempat.

    Saya juga mengenal banyak konsultan yang sangat pintar, tetapi kesulitan mendapatkan klien.

    Bahkan tidak sedikit perusahaan dengan produk berkualitas tinggi yang akhirnya kalah dari kompetitor yang produknya biasa-biasa saja.

    Mengapa?

    Karena pasar tidak memilih berdasarkan realitas objektif.

    Pasar memilih berdasarkan persepsi.

    Dan persepsi hidup di dalam pikiran manusia.

    Inilah tamparan terbesar yang saya rasakan ketika membaca buku klasik karya Al Ries dan Jack Trout, Positioning: The Battle for Your Mind.

    Buku ini pertama kali terbit puluhan tahun lalu. Namun ironisnya, justru terasa semakin relevan di era LinkedIn, personal branding, media sosial, dan ekonomi perhatian seperti sekarang. (more…)

  • Obrolan Reflektif Bersama Doddy Matondang Tentang Turning Point, Networking, dan Kehidupan

    “Kalau saya nggak ikut Abang None, mungkin saya jadi Engineer biasa”

    Kalimat itu terus terngiang di kepala saya setelah ngobrol panjang dengan Doddy Matondang beberapa waktu lalu. Semakin saya pikirkan, semakin saya merasa… mungkin memang benar.

    Karier besar  memang sering kali bukan cuma soal siapa yang paling pintar, bukan juga soal siapa yang IPK-nya paling tinggi. Tapi siapa yang mampu membangun trust, menjaga relasi, dan terus bertumbuh bersama lingkungan yang tepat.

    Jujur, obrolan ini terasa personal buat saya.

    Karena saya sendiri pernah berada di dunia yang kurang lebih sama dengan Bang Doddy. Saya adalah salah satu “jebolan” Raka Raki Jawa Timur, dan dulu kami pernah dipertemukan dalam komunitas bernama Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata Indonesia (IDBUDPARIDO) — sebuah wadah alumni duta wisata dari seluruh Indonesia.

    Di sana saya bertemu banyak orang luar biasa. Dari Aceh sampai Papua. Dari berbagai latar belakang profesi dan daerah. Ada yang sekarang jadi pejabat, pengusaha, profesional, public figure, akademisi, bahkan pemimpin perusahaan besar.

    Satu hal yang saya sadari, banyak dari mereka bertumbuh bukan semata karena “lebih pintar”, tapi karena mereka punya exposure, lingkungan, dan networking yang kuat. Makanya ketika ngobrol dengan Bang Doddy, saya seperti melihat pola yang sama.

    (more…)

  • Pelajaran Finansial Paling “Ngena” yang Tidak Pernah Diajarkan di Sekolah

    Kita tumbuh dengan imajinasi yang agak menipu tentang orang kaya.

    Mobil mewah.
    Jam mahal.
    Rumah besar.
    Pakaian branded.
    Liburan ke luar negeri.

    Seolah-olah kekayaan itu harus terlihat.

    Padahal setelah membaca The Millionaire Next Door karya The Millionaire Next Door oleh Thomas J. Stanley dan William D. Danko, saya justru menemukan sesuatu yang cukup “menampar”:

    Banyak orang kaya… tidak terlihat kaya.

    Dan banyak orang yang terlihat kaya… sebenarnya sedang berjuang mempertahankan gaya hidupnya.

    Ironis, ya?

    Buku ini membongkar satu mitos besar yang selama ini diam-diam membentuk cara kita memandang kesuksesan.

    Bahwa kekayaan bukan tentang “terlihat sukses”, tetapi tentang memiliki kebebasan. 

    (more…)

  • Di Saat Banyak Orang Sinis pada Politik, Pria Ini Justru Membangun ‘Sekolah untuk Politisi’

    “Kalau politik itu dianggap kotor, lalu kenapa orang-orang baik justru memilih menjauhinya?”

    Pertanyaan itu terus terngiang di kepala saya setelah beberapa waktu lalu bertemu dan berbincang cukup panjang dengan Bonggas Adhi Chandra.

    Jujur, awalnya saya mengira percakapan kami akan dipenuhi strategi pemenangan, teknik lobbying, atau pembahasan soal kekuasaan. Tetapi ternyata, yang paling terasa justru keresahannya terhadap kondisi politik Indonesia hari ini.

    Kita hidup di negeri yang hampir setiap hari mengeluhkan politik. Entah itu drama, saling menjatuhkan atau kekuasaan yang terasa semakin jauh dari rakyat. Namun ironisnya, banyak orang baik, orang cerdas, bahkan anak muda idealis justru memilih menjauh dari dunia politik karena merasa panggung itu terlalu “kotor” untuk dimasuki.

    Ibarat sebuah kapal besar bernama Indonesia, banyak orang sibuk mengkritik arah kapal ini dari kejauhan. Tetapi sedikit yang benar-benar mau naik ke ruang kemudi untuk mencoba memperbaikinya. Banyak yang lebih memilih menjadi penonton di pinggir lapangan yang sibuk menyoraki dan mengejek, tapi hanya sedikit yang mau jadi pemain lapangan yang bisa mengubah pertandingan.

    Nah, dari percakapan itulah, saya mulai memahami mengapa Bonggas Adhi Chandra memilih mendirikan Politician Academy.

    (more…)

  • Relevansi Personal Branding di Era AI

    Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana wajah-wajah politisi berubah menjadi “lebih manusiawi” di tahun politik?
    Ada yang tiba-tiba rajin berbagi kisah keluarga di media sosial, tampil sederhana di warung kopi, atau menulis refleksi panjang tentang arti pengabdian.
    Fenomena ini menunjukkan satu hal: personal branding bukan sekadar strategi kampanye, melainkan seni membangun kepercayaan di tengah banjir informasi.

    Kini, di era kecerdasan buatan (AI), seni itu menghadapi tantangan baru.
    Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia bisa dikalahkan oleh mesin, melainkan apakah manusia masih bisa menjaga keasliannya di tengah algoritma yang semakin canggih.

    (more…)