Category: Blog

  • Kalau Orang Butuh Waktu Lama untuk Mengingatmu, Kamu Sedang Kalah di Branding

    Aku harus mengaku sesuatu yang agak memalukan buat orang yang profesinya “membantu orang lain jadi visible.”

    Lima tahun lalu, ada klien datang ke aku. Produknya bagus. Skill-nya di atas rata-rata. Testimoninya pun tidak sedikit. Tapi dia hampir tidak dikenal siapa-siapa di luar lingkaran kecilnya. Dan waktu itu, aku memberi saran yang sekarang aku sesali: “Fokus aja perbaiki produknya dulu. Branding belakangan.”

    Aku pikir itu saran bijak. Ternyata itu saran yang membuat dia diam-diam kalah dari kompetitor yang produknya biasa saja, tapi namanya lebih dulu nempel di kepala orang.

    Butuh waktu cukup lama — dan satu buku yang mengubah cara aku bekerja — sebelum aku sadar bahwa aku salah karena aku belum paham apa itu branding sesungguhnya.

    Bayangkan ada restoran di gang buntu, jauh dari jalan utama. Chef-nya juara masak, bahan bakunya premium, rasanya bahkan lebih enak dari restoran bintang lima di pusat kota. Tapi karena lokasinya tersembunyi dan tidak ada papan nama yang jelas, restoran itu sepi. Sementara restoran lain, dengan menu standar tapi neon sign mencolok dan nama yang gampang diingat, selalu ramai antre.

    Orang tidak selalu memilih yang terbaik. Orang memilih yang paling gampang diingat, paling gampang ditemukan, dan paling jelas posisinya di kepala mereka.

    Itulah inti dari branding. Dan itu juga inti dari buku yang akhirnya membongkar cara berpikirku: The 22 Immutable Laws of Branding karya Al Ries dan Laura Ries.

    (more…)

  • Self-Deception: Musuh Terbesar Pemimpin yang Tidak Pernah Disadari

    Saya masih ingat malam itu dengan sangat jelas. Jam sepuluh malam, laptop masih menyala, dan saya mengetik pesan panjang ke salah satu anggota tim saya — nadanya sopan di permukaan, tapi kalau jujur, isinya penuh kekesalan yang saya bungkus rapi dengan kata-kata profesional.

    Dalam hati saya berkata, “Kenapa sih dia selalu lambat merespons? Kenapa saya harus terus-menerus mendorong dia untuk kerja lebih baik?”

    Saya merasa benar. Saya merasa sudah menjadi pemimpin yang sabar dan  sudah berusaha maksimal menghadapi orang yang “kurang inisiatif”. Saya bahkan sempat cerita ke teman dekat, mengeluh betapa capeknya menjadi atasan yang harus terus mendorong orang lain.

    Tapi ada satu hal kecil yang mengganjal. Saya tidak pernah benar-benar bertanya, “Jangan-jangan, masalahnya bukan di dia. Jangan-jangan, masalahnya ada di cara saya melihat dia?”

    Butuh waktu bertahun-tahun, dan satu buku tipis berjudul Leadership and Self-Deception dari The Arbinger Institute, untuk akhirnya membuat saya berhenti dan bertanya sejujur-jujurnya pada diri sendiri.

    (more…)

  • Jangan Kejar Pembeli di LinkedIn. Bangun Reputasi yang Membuat Mereka Datang

    “Mas, sebenarnya gimana sih cara jualan di LinkedIn tanpa kelihatan kayak orang yang lagi jualan?”

    Ini salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar.

    Saya memakluminya karena banyak orang masuk LinkedIn dengan mindset:

    “Gue harus posting lebih banyak.”

    Lalu naik level menjadi:

    “Gue harus punya followers lebih banyak.”

    Kemudian naik lagi:

    “Gue harus viral.”

    Padahal…

    jualan di LinkedIn bukan lomba siapa yang paling sering menawarkan sesuatu.

    Bayangkan LinkedIn seperti sebuah restoran.

    Profil lo adalah pintu masuknya. Content lo adalah aroma makanan yang bikin orang penasaran. Relationship adalah pengalaman mereka selama duduk di meja lo. Akhirnya, ketika mereka sudah percaya dengan kualitas “makanan” lo… barulah mereka bertanya menu dan harganya.

    Masalahnya, banyak orang baru buka pintu restoran langsung teriak: “PAK! MAU PESAN APA?”

    Belum duduk, lihat menunya, tahu siapa chef-nya, dan nyobain makanannya.  Tapi disuruh beli, ya kabur. 😂

    Ini yang sering terjadi di LinkedIn.

    (more…)

  • Cara Gue Menulis 100+ Buku Selama 18 Tahun

    Lo sebenarnya nggak harus jago nulis untuk bisa menerbitkan buku.

    Iya. Gue ulang sekali lagi.

    Lo nggak harus jago nulis untuk punya buku sendiri.

    Yang sering bikin orang nggak jadi menulis justru keyakinan bahwa menulis buku itu harus dimulai dari kemampuan menulis yang luar biasa.

    Harus punya bahasa yang indah, pintar merangkai kata, waktu berjam-jam setiap hari, tahu teknik menulis sejak halaman pertama dan bisa bikin kalimat yang “wah”.

    Padahal, setelah 18 tahun berkecimpung di dunia penulisan dan menghasilkan 100+ buku, gue justru melihat persoalannya sering ada di tempat lain.

    Orang terlalu sibuk memikirkan bagaimana menulis buku, sampai lupa memikirkan bagaimana menyelesaikan buku.

    Bayangin lo mau pergi dari Jakarta ke Surabaya. Apakah lo harus hafal seluruh jalan di Pulau Jawa sebelum berangkat?

    Enggak.

    Lo cuma perlu tahu tujuan akhirnya, kendaraan yang dipakai, rute awal yang harus ditempuh, dan sesekali mengecek apakah lo masih berada di jalur yang benar.

    Menulis buku juga begitu.

    Lo nggak harus mengetahui semuanya sejak halaman pertama. Lo cuma perlu tahu:

    Apa yang mau lo sampaikan?
    Siapa yang mau lo bantu?
    Kenapa buku ini penting?
    Dan bagaimana cara membawa pembaca dari halaman pertama sampai halaman terakhir?

    Sisanya bisa kita pecah menjadi langkah-langkah kecil.

    Ini salah satu hal yang gue pelajari selama 18 tahun terakhir.

    Gue sudah menulis lebih dari 100 buku sebagai penulis, co-writer, editor, maupun ghostwriter untuk puluhan tokoh nasional dan public figure. Sebagian buku tersebut menjadi best-seller. Karya-karya yang gue kerjakan juga telah diterbitkan oleh berbagai penerbit besar seperti Elex Media Komputindo, Penerbit Buku Kompas, M&C!, Erlangga, Tiga Serangkai, Andi Publisher, Raja Grafindo Persada, dan lainnya.

    Buku-buku tersebut juga hadir di berbagai kanal distribusi, dari Gramedia di berbagai kota hingga Google Play Books, Amazon, Shopee, Tokopedia, dan marketplace lainnya.

     Dari perjalanan itu, gue semakin percaya bahwa menulis buku sebenarnya bukan pekerjaan menulis. Menulis buku adalah pekerjaan mengubah gagasan menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dirasakan, dan digunakan orang lain.

    (more…)

  • Kamu Bukan Terlambat, Kamu Sedang Menunggu Musimmu

    Coba jujur pada diri sendiri sebentar.

    Pernah nggak, kamu buka LinkedIn, scroll sebentar, terus tiba-tiba dada rasanya sesak? Lihat teman seangkatan sudah jadi VP. Junior yang dulu kamu ajarin sekarang jadi founder startup yang baru raise seed funding. Sementara kamu masih di posisi yang itu-itu saja, masih meraba-raba mau ke mana, masih bertanya-tanya: “Ini aku yang salah jalan, atau memang belum waktunya?”

    Kalau pernah, tarik napas. Kamu tidak sendirian. Yang lebih penting: kamu mungkin bukan tertinggal, tapi kamu mungkin cuma belum berbunga.

    Ada satu jenis bambu di Tiongkok namanya Moso. Begitu ditanam, ia hampir tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan selama empat tahun pertama. Petani menyiram, memupuk, merawat—dan yang terlihat di permukaan tanah cuma tunas kecil yang seolah tidak ke mana-mana. Tapi begitu masuk tahun kelima, bambu itu tumbuh nyaris satu meter setiap hari, sampai mencapai puluhan meter hanya dalam hitungan minggu. Yang orang tidak lihat: selama empat tahun itu, akarnya sedang menjalar diam-diam ke segala arah di bawah tanah, membangun fondasi yang nanti akan menopang pertumbuhan segila itu.

    Pertanyaannya bukan “kenapa bambu ini lambat”. Pertanyaannya adalah: apa yang sedang dibangun saat kita tidak melihatnya tumbuh?

    Yang Kita Anggap Terlambat, Ternyata Cuma Beda Jalur

    Kita hidup di zaman yang sangat sibuk membuat linimasa ideal.

    Umur 25 harus sudah mapan. Umur 30 harus sudah punya rumah. Umur 35 kalau belum jadi manajer, dianggap “kurang gerak”.

    Linimasa ini seolah jadi standar universal, padahal ia cuma konstruksi sosial yang kita sepakati bersama—dan sialnya, kita jadikan tolok ukur untuk menghakimi diri sendiri.

    Padahal kalau ditelusuri, banyak sekali orang yang justru menemukan jalannya jauh setelah linimasa “ideal” itu lewat.

    Vincent van Gogh baru serius melukis di usia dua puluhan akhir, dan sebagian besar dari sekitar delapan ratus enam puluh lukisan minyaknya lahir hanya dalam dua tahun terakhir hidupnya. Ia tidak sempat merasakan pengakuan semasa hidup, tapi karyanya kini jadi salah satu yang paling berpengaruh dalam sejarah seni Barat.

    Ada juga sosok yang dikenal dunia sebagai Grandma Moses—perempuan yang justru memulai karier melukisnya di usia tujuh puluhan, setelah radang sendi memaksanya berhenti menyulam. Atau Colonel Sanders, yang baru membangun waralaba ayam gorengnya di usia enam puluhan, setelah bertahun-tahun berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

    Laura Ingalls Wilder baru menerbitkan novel pertamanya di usia enam puluhan, setelah dua dekade lebih menjadi kolumnis biasa.

    Frank McCourt baru menulis buku pertamanya, yang kelak memenangkan Pulitzer, di usia enam puluh enam tahun.

    Matematikawan Yitang Zhang mengirimkan risetnya yang mengguncang dunia matematika di usia lima puluh delapan tahun—setelah bertahun-tahun bekerja jauh dari sorotan, bahkan sempat bekerja di luar bidang akademik untuk menyambung hidup.

    June Huh, peraih Fields Medal, baru mulai serius mempelajari matematika di usia dua puluh empat, setelah sempat putus sekolah dan menghabiskan masa mudanya menulis puisi.

    Bahkan di dunia yang serba cepat seperti sepak bola, ada Jamie Vardy—baru debut di liga profesional Inggris di usia dua puluh lima, dari klub semi-profesional, dan akhirnya jadi juara Liga Primer bersama Leicester City.

    Mereka semua tidak “terlambat”. Mereka sedang menjalani akar mereka sendiri, di bawah tanah yang tidak terlihat orang lain.

    Cintai Jalan yang Sedang Kamu Jalani

    Filsuf Nietzsche pernah menawarkan satu sikap hidup yang sederhana tapi berat untuk benar-benar dijalani: amor fati. Mencintai takdir. Bukan cuma menerima apa yang terjadi, tapi merangkulnya seolah kamu sendiri yang memilihnya—termasuk bagian-bagian yang lambat, yang berputar-putar, yang kelihatan seperti kegagalan dari luar.

    Ini bukan soal pasrah. Ini soal berhenti berperang dengan waktu yang sedang kamu jalani sekarang, dan mulai bertanya: apa yang sedang aku bangun di fase ini, meski belum kelihatan hasilnya?

    Karena begini kenyataannya: proses itu tidak pernah linear. Orang yang kelihatan “berhasil cepat” biasanya juga sedang menyembunyikan bertahun-tahun percobaan, kegagalan, dan pengulangan yang tidak pernah masuk ke highlight reel media sosial. Yang kita lihat cuma hasil panen. Kita jarang melihat musim tanamnya.

    Di Indonesia, tekanan linimasa ini terasa lebih kental lagi. Ada beban “anak sulung harus segera mapan supaya bisa bantu adik-adik”. Ada tekanan “umur segini kok belum nikah, belum punya rumah, belum jadi manajer”. Ada juga budaya kerja yang diam-diam membandingkan siapa yang paling cepat naik jabatan, bukan siapa yang paling matang menjalani prosesnya.

    Padahal banyak juga di sekitar kita—mungkin termasuk kamu sendiri—yang baru menemukan passion sesungguhnya setelah resign dari zona nyaman di usia tiga puluhan. Yang baru berani membangun bisnis sendiri setelah gagal berkali-kali cari kerja “yang sesuai”. Yang baru menemukan versi terbaik dari dirinya setelah melewati fase yang dari luar kelihatan seperti “nggak ke mana-mana”.

    Itu bukan kegagalan mengejar linimasa orang lain. Itu proses kamu menanam akar versi kamu sendiri.

    Kalau kamu sedang merasa tertinggal hari ini . . .

    Coba ganti pertanyaannya. Bukan “kenapa aku belum sampai”, tapi “akar apa yang sedang aku bangun sekarang, yang nanti akan menopang aku waktu tumbuh cepat?”

    Late bloomer bukan berarti kurang mampu. Ia cuma butuh musim yang berbeda untuk berbunga. Dan musim itu tidak bisa dipaksa datang lebih cepat—ia cuma bisa disambut dengan sabar, sambil terus merawat akar, terus belajar, terus mencoba, sambil menikmati prosesnya, bukan cuma mengejar hasilnya.

    Amor fati. Cintai jalanmu. Bukan karena kamu terpaksa, tapi karena jalan itu—dengan segala keterlambatannya—yang sedang membentuk kamu jadi versi yang nanti akan kamu syukuri.

    Nah, bagaimana dengan diri Anda? Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:

    #LinkedInHacks #LinkedInStorytelling #LinkedInThatWorks #Networking #PersonalBranding #LateBloomer #BukanTerlambat

  • Berhentilah Mencari Motivasi. Mulailah Mencari Diri Anda yang Hilang.

    Ini bukan tulisan yang akan berkata, “Bangunlah pukul lima pagi, minum air putih, dan hidup Anda akan berubah.”

    Justru sebaliknya.

    Selama bertahun-tahun, saya percaya bahwa persoalan saya adalah soal kemauan. Jika saya kurang bahagia, itu karena saya kurang bersyukur. Jika saya mudah marah, itu karena saya kurang sabar. Jika saya sulit berkomitmen dalam sebuah hubungan, itu karena saya belum bertemu orang yang tepat.

    Keyakinan itu bertahan lama—sampai saya membaca sebuah buku yang membuat saya berhenti di tengah kalimat, menutup halamannya, dan terdiam cukup panjang menatap langit-langit kamar.

    Buku itu berjudul How to Do the Work, ditulis oleh Dr. Nicole LePera, seorang psikolog klinis yang lebih dikenal publik lewat akun Instagram-nya, @the.holistic.psychologist.

     Kalimat pembuka di atas—bahwa kita tidak rusak—bukan sekadar afirmasi manis ala poster motivasi. Itu adalah inti dari seluruh buku ini. Sekaligus mitos besar yang selama ini kita telan tanpa pernah dipertanyakan: bahwa jika hidup kita berantakan, berarti kitalah yang berantakan.

    LePera menawarkan pandangan berbeda. Menurutnya, kita bukan sedang rusak. Kita hanya sedang menjalankan pola lama—pola yang dulu, di masa kanak-kanak, adalah satu-satunya cara kita bertahan.

    (more…)