Ada satu “penyakit” yang tampaknya makin menular di zaman sekarang: semua orang ingin panen, tetapi tidak ada yang mau percaya pada musim.
Begitu melihat teman membeli rumah mewah, kita merasa tertinggal. Begitu melihat rekan naik jabatan, kita merasa hidup tidak adil. Begitu melihat konten orang lain viral, kita mulai mempertanyakan kualitas diri sendiri.
Lucunya, kita hidup di era yang membuat semua orang bisa melihat hasil akhir orang lain, tetapi hampir tidak pernah melihat proses panjang yang mereka lalui.
Ibarat menonton film langsung dari adegan klimaks, kita lupa bahwa sebelumnya ada ratusan halaman naskah yang penuh kegagalan, air mata, latihan, dan kesabaran.
Di tengah budaya serba instan itu, saya justru sering teringat pada satu ungkapan sederhana dari masyarakat Jawa,
“Durung wayahe.”
Artinya, belum waktunya.
Kalimat ini sering diucapkan ketika seseorang belum mendapatkan pekerjaan, menemukan pasangan hidup, berhasil membangun usaha, atau memperoleh rezeki yang diharapkan.
Bagi sebagian orang, kalimat ini terdengar seperti penghiburan.
Namun bagi saya, “durung wayahe” adalah sebuah filosofi hidup yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa tidak semua keterlambatan adalah penolakan. Tidak semua penundaan adalah kegagalan. Tidak semua hasil yang belum datang berarti usaha kita sia-sia.
Saya pernah mengalami masa ketika semua yang saya kerjakan terasa seperti tidak menghasilkan apa-apa.
Menulis buku, membangun personal branding, membuat konten, mengajar hingga membangun jaringan.
Bahkan ada masa ketika saya merasa seperti sedang berbicara sendirian. Kontennya sepi, respons minim, dan peluang belum terlihat.
Kalau memakai ukuran media sosial hari ini, mungkin saya sudah dianggap “gagal”. Namun untungnya saya tidak berhenti. Karena saya merasa memang inilah pekerjaan yang harus saya lakukan.
Belakangan saya baru memahami sesuatu. Mungkin memang saat itu durung wayahe. Bukan karena usahanya salah, Melainkan karena diri saya belum cukup siap menerima apa yang saya minta.
Kadang kapasitas kita memang harus tumbuh terlebih dahulu sebelum keberuntungan datang mengetuk pintu.
Pohon mangga tidak pernah iri kepada pohon rambutan. Pasalnya, masing-masing memiliki musim berbuah yang berbeda.
Tidak ada pohon yang memaksa dirinya menghasilkan buah sebelum waktunya. Ia terus menumbuhkan akar, memperkuat batang, merawat daun dan ketika musim tiba, buah akan muncul dengan sendirinya.
Ironisnya, manusialah yang sering memaksa panen ketika akarnya sendiri belum cukup kuat.
Kita ingin dihargai sebelum memberi nilai, dipercaya sebelum menunjukkan kompetensi, atau sukses sebelum tahan menghadapi proses.
Dalam psikologi modern, ada konsep yang dikenal sebagai growth mindset.
Sederhananya, seseorang percaya bahwa kemampuan bukan sesuatu yang tetap, tetapi dapat terus berkembang melalui belajar, latihan, dan pengalaman.
Orang yang memiliki growth mindset tidak melihat kegagalan sebagai vonis. Ia melihatnya sebagai umpan balik.
Ia tidak bertanya, “Mengapa saya gagal?” Tetapi, “Apa yang perlu saya pelajari agar lebih siap?”
Bukankah ini sejalan dengan makna durung wayahe? Belum berhasil bukan berarti tidak mampu.
Belum berhasil bisa jadi berarti masih ada sesuatu yang perlu dipelajari, karakter yang perlu dibentuk, kompetensi yang perlu diasah dan kesabaran yang perlu diperluas.
Dalam tradisi spiritual, khususnya dalam Islam, kita mengenal dua konsep yang berjalan berdampingan:
Ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar berarti memberikan usaha terbaik. Tawakal berarti menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Masalahnya, banyak orang ingin tawakal tanpa ikhtiar. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang sudah berikhtiar tetapi gagal bertawakal.
Akibatnya hidup menjadi penuh kecemasan. Setiap hari mengecek angka, membandingkan pencapaian, menghitung validasi atau mengukur harga diri dari hasil yang belum tentu bisa sepenuhnya kita kendalikan.
Padahal hasil bukan “wilayah” kita. Yang menjadi wilayah kita adalah usaha, sikap, belajar, dan integritas.
Jadi, kapan hasil itu datang? Sering kali berada di luar kuasa kita.
Semakin bertambah usia, saya justru semakin percaya bahwa salah satu bentuk kedewasaan adalah tidak terlalu melekat pada hasil.
Bukan berarti tidak punya target atau tidak ambisius. Melainkan memahami bahwa kebahagiaan tidak boleh disandarkan sepenuhnya pada sesuatu yang belum tentu bisa kita kontrol.
Ketika kita terlalu melekat pada hasil, maka setiap penolakan terasa seperti penghinaan, keterlambatan terasa seperti hukuman dan kegagalan terasa seperti akhir dunia.
Namun ketika kita belajar melepaskan keterikatan itu, sesuatu yang menarik justru terjadi. Kita menjadi lebih tenang, fokus, kreatif dan berani mencoba lagi.
Identitas kita tidak lagi ditentukan oleh satu hasil. Melainkan oleh proses menjadi pribadi yang terus bertumbuh.
Saya sering melihat orang yang akhirnya berhasil bukan karena mereka paling pintar atau paling beruntung. Melainkan karena mereka bertahan sedikit lebih lama dibandingkan yang lain.
Mereka terus menanam ketika orang lain sudah berhenti mencangkul, belajar ketika orang lain sibuk mengeluh, dan memperbaiki diri ketika orang lain sibuk menyalahkan keadaan.
Mungkin inilah makna lain dari durung wayahe.
Bukan ajakan untuk pasrah. Melainkan undangan untuk tetap bergerak.
Siapa tahu, yang selama ini terasa seperti penundaan ternyata hanyalah proses Tuhan memperbesar kapasitas kita. Siapa tahu, pintu yang belum terbuka karena kita sedang dipersiapkan. Dan siapa tahu, keberhasilan yang sedang kita tunggu sebenarnya juga sedang mencari versi terbaik dari diri kita.
Jadi, jika hari ini usahamu belum membuahkan hasil, doamu terasa belum menemukan jawaban, atau kerja kerasmu masih tampak sepi; jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidupmu gagal. Mungkin saja… Durung wayahe.
Tetaplah bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Teruslah memperbesar kapasitas melalui belajar dan bertumbuh. Lakukan ikhtiar terbaikmu tanpa lelah. Lalu bertawakallah dengan hati yang lapang.
Pasalnya sering kali, kebahagiaan lahir ketika kita mampu bekerja sepenuh hati, menerima hasil dengan penuh keikhlasan, dan tetap menemukan rasa syukur di setiap musim kehidupan. Sebab pada akhirnya, hidup bukan sekadar soal seberapa cepat kita sampai. Melainkan seberapa utuh kita bertumbuh selama perjalanan itu.
Jika mau tahu cara main LinkedIn untuk menarik peluang dari 0, baca ebook #LinkedInHacks di lynk.id/thegrandsaint/y91xr21pnxmk. Siapa tahu, peluang besar yang Anda tunggu juga sedang mencari versi terbaik dari diri Anda.
Leave a Reply