“Mas Agung, saya bingung. Saya sebenarnya harus bahas apa di LinkedIn?”
Saya tersenyum. Lalu saya balik bertanya.
“Kalau saya membuka profil LinkedIn Anda hari ini, dalam lima detik saya harus mengingat Anda sebagai siapa?”
Beliau terdiam. Beberapa detik kemudian menjawab pelan.
“Nah… itu dia yang saya juga belum tahu.”
Percakapan seperti ini sudah terlalu sering saya alami. Baik dengan founder, entrepreneur, profesional, konsultan, maupun coach yang mengikuti pelatihan atau mentoring saya. Menariknya, hampir semuanya memiliki masalah yang sama. Mereka ingin dikenal, dipercaya dan mendapatkan recruiter, investor, klien, atau peluang bisnis. Namun mereka belum pernah memutuskan mau dikenal karena apa.
Bayangkan Anda masuk ke sebuah supermarket yang menjual semuanya. Ada beras, laptop, ban mobil, obat, parfum, ikan hias, jasa pijat, pakan burung, pembasmi serangga, hingga celana dalam. Secara teori memang lengkap.
Tetapi apakah supermarket seperti itu akan menjadi tujuan utama ketika seseorang ingin membeli sesuatu yang spesifik? Kemungkinan besar tidak.
Sekarang bandingkan dengan sebuah toko kecil yang hanya menjual kopi artisan. Begitu melihat namanya, Anda langsung tahu apa yang mereka kuasai.
Begitulah cara kerja niche. Semakin jelas spesialisasi Anda, semakin mudah orang mengingat Anda.
Dan di era ekonomi perhatian (attention economy), diingat jauh lebih berharga daripada sekadar dilihat.
Kesalahan Terbesar di LinkedIn
Selama beberapa tahun terakhir, saya berkesempatan membantu ribuan founder, entrepreneur, self-employed professional, eksekutif, hingga pemilik bisnis membangun personal branding di LinkedIn. Saya menemukan satu pola yang hampir selalu berulang.
Sebagian besar orang tidak kekurangan kemampuan. Mereka kekurangan fokus.
Hari Senin membahas AI. Selasa membahas investasi. Rabu membahas kepemimpinan. Kamis membahas parenting. Jumat membahas motivasi.
Sabtu membahas politik. Minggu membahas kesehatan mental.
Tidak ada yang salah dengan semua topik tersebut. Masalahnya adalah audiens kesulitan membentuk asosiasi.
Mereka tidak tahu Anda sebenarnya ahli dalam bidang apa. Padahal otak manusia bekerja dengan cara yang sangat sederhana. Ia menyukai kategori dan ingin memberi label.
Niche Tidak Dimulai dari Passion
Banyak orang berkata, “Carilah passion Anda.”
Saya justru memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Dalam konteks LinkedIn, niche lahir dari pertemuan tiga hal.
Pertama, apa yang benar-benar Anda kuasai. Anda tidak harus menjadi orang terbaik di dunia. Cukup menjadi beberapa langkah lebih maju dibanding orang yang ingin Anda bantu.
Kedua, masalah apa yang benar-benar ingin diselesaikan oleh pasar. Kalau tidak ada rasa sakit (pain), tidak ada kebutuhan. Kalau tidak ada kebutuhan, tidak ada alasan bagi orang untuk memperhatikan Anda.
Ketiga, siapa orang yang ingin Anda bantu. “Semua orang” bukan target pasar. “Profesional muda yang ingin mendapatkan pekerjaan melalui LinkedIn” jauh lebih jelas. “Founder startup B2B yang ingin membangun thought leadership” bahkan lebih kuat lagi. Semakin spesifik target Anda, semakin mudah pesan Anda menemukan orang yang tepat.
Jangan Takut Memulai dari Niche yang Kecil
Banyak profesional takut terlihat terlalu sempit. Mereka khawatir kehilangan peluang.
Ironisnya, justru kebalikannya yang terjadi. Semakin umum pesan Anda, semakin kecil kemungkinan orang merasa bahwa Anda sedang berbicara kepada mereka.
Saya sering mengatakan kepada para mentee,
Spesifik bukan berarti membatasi. Spesifik justru memperjelas positioning.
Niche Bukan Penjara
Ada satu kesalahpahaman lain yang sering saya temui. Orang mengira niche adalah keputusan seumur hidup. Padahal tidak.
Niche adalah hipotesis. Ia akan berkembang seiring pengalaman, data, dan respons audiens.
Saya sendiri terus melakukan penyempurnaan. Saya mengamati konten mana yang menghasilkan percakapan. Topik mana yang mendatangkan recruiter. Insight mana yang menghasilkan klien. Framework mana yang paling banyak dibagikan.
Data itulah yang kemudian membentuk positioning saya hari ini sebagai Growth & Visibility Architect yang membantu individu maupun organisasi mengubah LinkedIn menjadi mesin pembuka peluang.
Ukuran Niche yang Tepat
Bagaimana mengetahui bahwa niche Anda mulai bekerja?
Ada beberapa indikator sederhana.
Pertama, ide konten mengalir lebih mudah karena Anda memahami persoalan audiens.
Kedua, engagement menjadi lebih berkualitas. Bukan sekadar banyak komentar, tetapi komentar dari orang yang memang relevan.
Ketiga, Direct Message mulai berubah. Bukan lagi pertanyaan umum. Melainkan ajakan berdiskusi, tawaran kolaborasi, undangan menjadi pembicara, hingga permintaan konsultasi.
Keempat, Anda mulai menjadi nama pertama yang diingat ketika orang membutuhkan solusi tertentu. Dan percayalah, itulah tujuan terbesar personal branding. Bukan terkenal, tetapi menjadi top of mind.
LinkedIn Bukan Tentang Menjangkau Semua Orang
Banyak orang masih mengukur keberhasilan LinkedIn dari jumlah followers. Saya justru lebih tertarik pada satu pertanyaan.
“Berapa banyak peluang berkualitas yang datang dari LinkedIn?”
Karena pada akhirnya, personal branding bukan kompetisi popularitas. Ia adalah proses membangun persepsi.
Dan persepsi hanya akan terbentuk ketika Anda konsisten menyampaikan pesan yang sama kepada audiens yang sama dalam waktu yang cukup lama.
Di situlah niche memainkan peran yang tidak tergantikan. Ia membantu orang mengenali, mengingat, mempercayai, lalu pada saat yang tepat, memilih Anda.
Bukan karena Anda satu-satunya pilihan. Tetapi karena Anda adalah pilihan pertama yang muncul di benak mereka.
Kalau Anda ingin LinkedIn tidak lagi sekadar menghasilkan likes, tetapi juga menghasilkan recruiter, clients, investors, business partners, dan berbagai peluang nyata lainnya, mulailah membangun sistemnya dari sekarang; Baca ebook LinkedIn Hacks untuk memahami cara optimasi LinkedIn dari nol.
Atau jika Anda ingin saya membantu menyusun strategi LinkedIn yang sesuai dengan positioning dan target bisnis Anda melalui pendampingan yang lebih personal, silakan bergabung di Private Mentoring.
#LinkedIn #LeadGeneration #PersonalBranding #ContentMarketing #SocialSelling
Leave a Reply