Tag: LinkedIn

  • Aktif di LinkedIn, Tapi Sepi Peluang? Mungkin Kamu Belum Lakuin Ini

    Pernah nggak Anda merasa sudah cukup aktif di LinkedIn—posting rutin, like sana-sini, bahkan sesekali komentar—tapi… tetap saja sepi?

    Tidak ada recruiter yang menghubungi.
    Tidak ada klien yang tertarik.
    Tidak ada peluang yang benar-benar datang.

    Lalu muncul pertanyaan yang sedikit mengganggu:

    “Saya sudah aktif. Tapi kenapa tidak ada yang ‘melirik’?”

    Kalau Anda pernah merasakan ini, Anda tidak sendirian.

    Dan jujur saja, masalahnya sering bukan pada “kurang aktif”.

    Bayangkan Anda membuka toko.

    Lokasinya strategis. Lampunya terang. Etalase rapi.

    Setiap hari Anda:

    • menyapu lantai
    • merapikan barang
    • membuka pintu tepat waktu

    Tapi tidak ada yang masuk.

    Aneh?

    Tidak juga.

    Karena satu hal penting mungkin belum Anda lakukan:

    Anda belum menjelaskan apa yang Anda jual—dan kenapa orang harus masuk.

    Begitu juga dengan LinkedIn.

    Banyak orang sibuk “aktif”, tapi lupa membangun makna dari aktivitas itu.

    (more…)

  • LinkedIn Bukan Soal Konsistensi. Tapi Soal Formula.

    Selama ini kita percaya satu hal:
    kalau rajin posting di LinkedIn, audiens akan datang dengan sendirinya.

    Nyatanya?
    Banyak orang konsisten bertahun-tahun—tapi tetap sepi.
    Like segitu-gitu saja. Komentar dari orang yang itu-itu juga.
    Bahkan algoritma terasa seperti “tidak berpihak”.

    Bukan karena LinkedIn kejam.
    Bukan juga karena kita kurang pintar.

    Masalahnya lebih sederhana—dan sekaligus lebih menyakitkan:
    kita rajin, tapi tanpa formula.

    (more…)

  • Bukan Mengejar Viral: Inilah Cara Influencer yang Sebenarnya Bekerja

    “Postinganmu viral, tapi besok orang lupa.”

    Kalimat ini terasa menampar saat pertama kali saya benar-benar memahaminya.
    Di era media sosial, kita sering terjebak pada satu ilusi besar: ramai = berhasil. Padahal, semakin sering saya mengamati—terutama di LinkedIn—semakin jelas satu fakta pahit: banyak orang terlihat terkenal, tapi tidak dipercaya. Banyak yang didengar, tapi tidak diingat. Banyak yang viral, tapi tidak relevan.

    Di titik inilah saya membaca ulang buku Influencer: Building Your Personal Brand in the Age of Social Media karya Brittany Hennessy, dan menyadari satu hal penting:
    menjadi influencer bukan soal jangkauan, tapi soal posisi.

    (more…)

  • Kenapa Banyak Orang Rajin Posting di LinkedIn Tapi Tetap Tak Didengar?

    LinkedIn hari ini mirip pasar malam.
    Semua teriak.
    Semua promosi.
    Semua merasa penting.

    “Dengan pengalaman 15 tahun…”
    “Sebagai profesional berpengalaman…”
    “Sebagai leader visioner…”

    Lucunya, semakin keras orang bicara tentang dirinya,
    semakin sedikit yang benar-benar mendengarkan.

    Ironisnya, banyak yang merasa sudah personal branding,
    padahal yang dilakukan hanyalah personal broadcasting.

    Di sinilah saya merasa buku Building a StoryBrand karya Donald Miller menampar dengan cara yang sangat elegan—tanpa marah, tanpa menggurui, tapi tepat di wajah.

    (more…)

  • LinkedIn Itu Bukan Instagram Pakai Jas—Tapi Banyak yang Salah Kaprah

    Pernah lihat orang upload selfie di LinkedIn sambil caption: “Feeling grateful, finally touched down in Bali for client meeting.

    Yup, saya juga. Dan jujur, kadang saya bingung—ini mau ngasih insight profesional atau pamer gaya hidup yang dibungkus pakai emotikon bisnis?


    LinkedIn itu kayak ruang tamu digital. Kita ngobrolin hal-hal penting di situ: kerjaan, kolaborasi, value, dan perjalanan profesional. Tapi makin ke sini, banyak yang memperlakukannya kayak feed Instagram yang cuma diganti template biru dan font Arial.

    Sebagai pengguna LinkedIn aktif dan juga pengamat diam-diam (iya, saya sering scrolling jam 8 pagi), saya mau cerita dari hati ke hati: gimana sih sebaiknya kita manfaatin LinkedIn biar meaningful, nggak cuma numpang eksis?


     Let’s Talk: Do’s yang Bikin Kamu Menonjol di LinkedIn

    1. Tunjukin Value, Bukan Jabatan Doang.
    Orang lebih tertarik sama cerita perjalanan kamu naik jabatan, bukan sekadar update posisi baru. Share struggles kamu saat adaptasi di tempat baru, pelajaran dari gagal pitching, atau cara kamu handle tim hybrid. Cerita itu relatable dan bikin kamu terlihat manusiawi, bukan robot korporat.

    2. Ngobrol, Jangan Ceramah.
    LinkedIn bukan panggung TED Talk. Tulis dengan nada ngobrol. Ajak diskusi. Gunakan bahasa yang mengalir, kayak kamu lagi ngobrol bareng temen di coffee shop—tapi tetap sopan.

    3. Bangun Personal Brand yang Autentik.
    Kalau kamu konsultan, tunjukin pendekatan unik kamu bantu klien. Kalau kamu HR, bagikan proses rekrutmen yang beretika dan transparan. Jangan takut jadi beda. Autentik = menarik.

    4. Bantu Orang Lain Naik ke Atas.
    LinkedIn bukan kompetisi siapa paling keren. Engage dengan post orang lain. Kasih insight, komentar yang thoughtful, atau bantu repost lowongan kerja. Itu investasi sosial jangka panjang.


     Now, The Don’ts (Please, Jangan Dilakuin Lagi)

    1. Jangan Pake Gaya Motivator Ngawang.
    “Jangan pernah menyerah, Tuhan tahu kamu kuat.” – ini cocok buat IG Story, bukan LinkedIn. Di sini, kita butuh konteks, cerita nyata, bukan quotes kosong.

    2. Jangan Asal Add Orang Tanpa Konteks.
    Koneksi itu bukan angka. Kalau kamu recruiter, kasih intro dulu. Kalau kamu mau kolaborasi, jelaskan kenapa kamu reach out. Random connect = ignored.

    3. Jangan Pura-Pura Humble.
    Kalau mau cerita pencapaian, langsung aja. Nggak usah bilang “nggak nyangka bisa sampai sini” tiap kali posting. Itu udah basi. Own your success, tapi tetap rendah hati.


    Contoh yang Keren?

    Saya pernah follow seorang CFO muda yang rutin bagikan “fail story” waktu dia salah baca cash flow dan sempat bikin panik timnya. Tapi di akhir post, dia ngasih insight tentang pentingnya sense of ownership dan resilience. Itu baru konten berkualitas: jujur, edukatif, dan inspiratif.


    Penutup

    LinkedIn itu bukan sekadar tempat cari kerja. Ini platform buat membangun reputasi, berbagi insight, dan tumbuh bareng komunitas profesional.

    So, sebelum kamu posting, tanya dulu ke diri sendiri:
    “Post ini nambah nilai, atau cuma nambah views?”

    Kalau kamu setuju atau punya cerita sendiri soal “LinkedIn blunders”, drop komentar, like, atau repost tulisan ini. Siapa tahu, kamu bantu orang lain jadi lebih bijak dalam ber-LinkedIn-ria.

  • Menjual Tanpa Menjual di Media Sosial, Emang Bisa?

    Pernah nggak sih, lo buka LinkedIn dengan semangat, bikin postingan keren, tapi… view-nya cuma segitu-gitu aja? Atau lebih nyesek lagi: udah DM orang rapi-rapi, ending-nya malah ignored. Gue pernah, dan rasanya kayak ngobrol sendiri di ruangan kosong.

    (more…)