Pernah lihat orang upload selfie di LinkedIn sambil caption: “Feeling grateful, finally touched down in Bali for client meeting.

Yup, saya juga. Dan jujur, kadang saya bingung—ini mau ngasih insight profesional atau pamer gaya hidup yang dibungkus pakai emotikon bisnis?


LinkedIn itu kayak ruang tamu digital. Kita ngobrolin hal-hal penting di situ: kerjaan, kolaborasi, value, dan perjalanan profesional. Tapi makin ke sini, banyak yang memperlakukannya kayak feed Instagram yang cuma diganti template biru dan font Arial.

Sebagai pengguna LinkedIn aktif dan juga pengamat diam-diam (iya, saya sering scrolling jam 8 pagi), saya mau cerita dari hati ke hati: gimana sih sebaiknya kita manfaatin LinkedIn biar meaningful, nggak cuma numpang eksis?


 Let’s Talk: Do’s yang Bikin Kamu Menonjol di LinkedIn

1. Tunjukin Value, Bukan Jabatan Doang.
Orang lebih tertarik sama cerita perjalanan kamu naik jabatan, bukan sekadar update posisi baru. Share struggles kamu saat adaptasi di tempat baru, pelajaran dari gagal pitching, atau cara kamu handle tim hybrid. Cerita itu relatable dan bikin kamu terlihat manusiawi, bukan robot korporat.

2. Ngobrol, Jangan Ceramah.
LinkedIn bukan panggung TED Talk. Tulis dengan nada ngobrol. Ajak diskusi. Gunakan bahasa yang mengalir, kayak kamu lagi ngobrol bareng temen di coffee shop—tapi tetap sopan.

3. Bangun Personal Brand yang Autentik.
Kalau kamu konsultan, tunjukin pendekatan unik kamu bantu klien. Kalau kamu HR, bagikan proses rekrutmen yang beretika dan transparan. Jangan takut jadi beda. Autentik = menarik.

4. Bantu Orang Lain Naik ke Atas.
LinkedIn bukan kompetisi siapa paling keren. Engage dengan post orang lain. Kasih insight, komentar yang thoughtful, atau bantu repost lowongan kerja. Itu investasi sosial jangka panjang.


 Now, The Don’ts (Please, Jangan Dilakuin Lagi)

1. Jangan Pake Gaya Motivator Ngawang.
“Jangan pernah menyerah, Tuhan tahu kamu kuat.” – ini cocok buat IG Story, bukan LinkedIn. Di sini, kita butuh konteks, cerita nyata, bukan quotes kosong.

2. Jangan Asal Add Orang Tanpa Konteks.
Koneksi itu bukan angka. Kalau kamu recruiter, kasih intro dulu. Kalau kamu mau kolaborasi, jelaskan kenapa kamu reach out. Random connect = ignored.

3. Jangan Pura-Pura Humble.
Kalau mau cerita pencapaian, langsung aja. Nggak usah bilang “nggak nyangka bisa sampai sini” tiap kali posting. Itu udah basi. Own your success, tapi tetap rendah hati.


Contoh yang Keren?

Saya pernah follow seorang CFO muda yang rutin bagikan “fail story” waktu dia salah baca cash flow dan sempat bikin panik timnya. Tapi di akhir post, dia ngasih insight tentang pentingnya sense of ownership dan resilience. Itu baru konten berkualitas: jujur, edukatif, dan inspiratif.


Penutup

LinkedIn itu bukan sekadar tempat cari kerja. Ini platform buat membangun reputasi, berbagi insight, dan tumbuh bareng komunitas profesional.

So, sebelum kamu posting, tanya dulu ke diri sendiri:
“Post ini nambah nilai, atau cuma nambah views?”

Kalau kamu setuju atau punya cerita sendiri soal “LinkedIn blunders”, drop komentar, like, atau repost tulisan ini. Siapa tahu, kamu bantu orang lain jadi lebih bijak dalam ber-LinkedIn-ria.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *