Pagi itu, dari jendela kereta cepat Whoosh, pemandangan hijau Jawa Barat berkelebat secepat kilat.
Dalam 40 menit, Jakarta dan Bandung terasa seperti dua halte dalam satu kota besar.
Di atas kertas, ini adalah lompatan peradaban. Tapi di balik kecepatan yang mengagumkan itu, terselip sesuatu yang berjalan jauh lebih lambat: kesadaran geopolitik kita. Pasalnya, proyek ini bukan sekadar urusan moda transportasi. Ia adalah bagian dari strategi global Tiongkok yang bernama The Belt and Road Initiative (BRI).
Sayangnya, banyak pejabat kita tampak belum sepenuhnya memahami bahwa setiap kilometer rel yang dibangun membawa konsekuensi politik, ekonomi, dan kedaulatan yang panjang.
Jejak Panjang di Rel Geopolitik
Sejak diumumkan Xi Jinping pada 2013, The Belt and Road Initiative (BRI) digadang-gadang sebagai proyek abad ini. Visinya sederhana tapi ambisius yaitu menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika melalui jaringan infrastruktur — pelabuhan, jalur kereta, pipa gas, hingga kabel serat optik — dalam satu sabuk ekonomi global yang berpusat pada Tiongkok.
Bagi Beijing, ini bukan sekadar investasi. Ini adalah strategi geopolitik untuk menghidupkan kembali kejayaan “Sinosentrisme”, di mana dunia ekonomi berputar di orbit Tiongkok.
BRI adalah cara baru Tiongkok untuk mengendalikan dunia, bukan lewat kekuatan militer, melainkan lewat utang dan konektivitas.
Pelajaran dari Dunia
Bukan hanya Indonesia yang terpikat pada janji pembangunan cepat.
Sri Lanka pernah memimpikan hal serupa lewat proyek pelabuhan Hambantota, dibiayai oleh pinjaman Tiongkok. Tapi karena gagal membayar, pelabuhan itu kini disewakan ke Tiongkok selama 99 tahun — sebuah simbol modern dari kehilangan kedaulatan ekonomi.
Pakistan pun menghadapi dilema serupa lewat China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Proyek infrastruktur raksasa itu awalnya diharapkan memacu pertumbuhan, tapi kini membebani kas negara dengan utang miliaran dolar.
Di Afrika, Zambia dan Djibouti juga terperangkap dalam utang BRI — menimbulkan istilah yang kini populer di kalangan analis internasional: “debt-trap diplomacy.”
Dan Kini, Giliran Indonesia?
Ketika proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) disetujui pada 2015, banyak yang menyambutnya dengan euforia.
Tapi di balik semangat “modernisasi transportasi”, terdapat konsekuensi finansial yang besar.
Awalnya proyek ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 75 triliun, namun kini membengkak menjadi Rp 116 triliun atau sekitar 7,2 miliar dolar AS.
Sebagian besar dananya berasal dari pinjaman Tiongkok melalui China Development Bank.
Ketika proyeksi penumpang tidak seindah yang dibayangkan, maka siapa yang menanggung bebannya?
Jawabannya: kita semua — melalui BUMN dan, pada akhirnya, APBN.
Yang ironis, kita menamai proyek ini Whoosh — singkatan dari “Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat” — padahal di sisi lain, waktu dan uang kita justru tersedot ke dalam beban finansial yang belum tentu lekas terbayar.
Bukan Salah Teknologi, Tapi Kurangnya Literasi Geopolitik
Masalahnya bukan pada teknologinya. Siapa pun bisa mengagumi kecanggihan Whoosh, kecepatannya, dan kenyamanan yang ditawarkan.
Masalahnya adalah kurangnya kesadaran geopolitik di baliknya.
BRI bukan sekadar proyek ekonomi. Ia adalah instrumen politik luar negeri Tiongkok — cara halus untuk memperluas pengaruh dengan “baju” investasi.
Yang lebih disayangkan, sebagian pejabat kita seolah tidak (atau enggan) membaca konteks itu.
Seorang akademisi hubungan internasional dari Beijing University pernah berkata,“BRI adalah cara Tiongkok menulis ulang peta dunia, dengan jalur perdagangan sebagai tinta, dan utang sebagai pena.”
Sayangnya, di Indonesia, “membaca peta dunia” tampaknya bukan hobi yang populer di kalangan pengambil keputusan.
Sebagian lebih tertarik membaca komik Jepang ketimbang strategic white paper milik Tiongkok.
Padahal, cukup dengan mengetik “What is China’s Belt and Road Initiative” di Google, kita akan tah bahwa BRI bukan sekadar bantuan, tapi strategi hegemoni ekonomi global.
Manis di Awal, Pahit di Akhir
Tiongkok pandai memainkan soft power. Mereka datang bukan dengan kapal perang, tapi dengan proposal investasi. Mereka tidak meminta tanah, hanya menawarkan “pinjaman lunak” yang tampak ramah.
Tapi dalam banyak kasus, bunga kecil di awal berubah menjadi beban besar di akhir.
Boorstein, seorang ekonom dari Harvard, menyebut BRI sebagai “geoeconomic statecraft” — seni menggabungkan ekonomi dan kekuasaan.
Negara penerima merasa “berdaulat” karena tidak dijajah secara formal, padahal keputusan ekonominya kini bergantung pada Beijing.
Jika tidak hati-hati, Indonesia bisa menjadi contoh berikutnya: negara yang tampak merdeka secara politik, tapi terikat secara ekonomi.
Kita perlu bertanya jujur: apakah proyek kereta cepat benar-benar untuk rakyat, atau sekadar simbol prestise politik jangka pendek?
Apakah kita membangun peradaban, atau sekadar membangun monumen dari utang?
Hubungan Indonesia–Tiongkok selama ini memang kompleks: di satu sisi kita butuh investasi, di sisi lain kita juga harus waspada terhadap ketergantungan.
Keseimbangan ini adalah inti dari diplomasi modern — antara membuka diri dan menjaga jarak.
Sayangnya, dalam kasus KCJB, keseimbangan itu tampak goyah.
Keputusan yang seharusnya berbasis kalkulasi jangka panjang, justru diwarnai oleh euforia proyek dan agenda politik jangka pendek.
Tiga Langkah untuk Tidak Terjerat Lagi
Agar sejarah tidak berulang, Indonesia perlu berhenti jadi penonton dalam permainan geopolitik, dan mulai jadi pemain yang sadar peta.
Berikut tiga langkah realistis yang bisa dilakukan:
Pertama, perkuat literasi geopolitik di birokrasi. Para pejabat ekonomi dan infrastruktur perlu memahami konteks politik global dari setiap investasi.
Jangan hanya membaca laporan keuangan, tapi juga membaca “niat strategis” negara asal modal.
Kedua, diversifikasi sumber pembiayaan.
Jangan terlalu bergantung pada satu negara, apalagi yang punya agenda geopolitik besar.
Alternatif seperti Japan International Cooperation Agency (JICA), World Bank, atau Asian Development Bank bisa menjadi penyeimbang.
Ketiga, tegakkan transparansi dan akuntabilitas publik. Publikasikan detail pinjaman, bunga, dan jangka waktu pembayaran.
Rakyat berhak tahu: uang siapa yang dipakai, untuk apa, dan siapa yang akan menanggung risikonya.
Antara Kecepatan dan Kebijaksanaan
Kereta cepat memang simbol kemajuan, tapi kemajuan sejati bukan diukur dari kecepatan kereta, melainkan dari kedalaman kebijakan.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang bergerak cepat tanpa arah, tapi yang tahu ke mana dan mengapa ia bergerak.
Di tengah euforia Whoosh yang melesat 350 km/jam, semoga pemerintah kita masih punya waktu untuk menekan rem, melihat peta, dan bertanya: “Apakah kita masih di rel yang benar, atau justru sedang melaju di rel milik orang lain?”
Leave a Reply