“Kalau saya nggak ikut Abang None, mungkin saya jadi Engineer biasa”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya setelah ngobrol panjang dengan Doddy Matondang beberapa waktu lalu. Semakin saya pikirkan, semakin saya merasa… mungkin memang benar.

Karier besar  memang sering kali bukan cuma soal siapa yang paling pintar, bukan juga soal siapa yang IPK-nya paling tinggi. Tapi siapa yang mampu membangun trust, menjaga relasi, dan terus bertumbuh bersama lingkungan yang tepat.

Jujur, obrolan ini terasa personal buat saya.

Karena saya sendiri pernah berada di dunia yang kurang lebih sama dengan Bang Doddy. Saya adalah salah satu “jebolan” Raka Raki Jawa Timur, dan dulu kami pernah dipertemukan dalam komunitas bernama Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata Indonesia (IDBUDPARIDO) — sebuah wadah alumni duta wisata dari seluruh Indonesia.

Di sana saya bertemu banyak orang luar biasa. Dari Aceh sampai Papua. Dari berbagai latar belakang profesi dan daerah. Ada yang sekarang jadi pejabat, pengusaha, profesional, public figure, akademisi, bahkan pemimpin perusahaan besar.

Satu hal yang saya sadari, banyak dari mereka bertumbuh bukan semata karena “lebih pintar”, tapi karena mereka punya exposure, lingkungan, dan networking yang kuat. Makanya ketika ngobrol dengan Bang Doddy, saya seperti melihat pola yang sama.

Dari Teknik Mesin ke CEO SMESCO

Buat yang belum familiar, Bang Doddy punya perjalanan karier yang menurut saya menarik banget dipelajari. Dari mahasiswa Teknik Mesin di Universitas Trisakti, lalu menjadi bagian dari Abang None Jakarta, mendirikan dan menjadi Ketua pertama Ikatan Abang None Jakarta (IANTA), hingga hari ini dipercaya menjadi CEO SMESCO Indonesia di bawah Kementerian UMKM RI.

Selain itu, beliau juga aktif di banyak organisasi dan komunitas. Mulai dari Ketua Pengembangan Wilayah Organisasi Alumni IKA Trisakti, Board of Trustees Rumah Millennials, hingga pernah menjadi Chairman Young Engineer of ASEAN Federation of Engineering Organizations (YEAFEO).

Kariernya juga panjang dan penuh warna. Pernah menjadi dosen di LSPR Institute of Communication and Business, Direktur di perusahaan travel management, Vice President di InJourney Hospitality, CEO The Sanur, hingga kini memimpin transformasi besar di SMESCO Indonesia.

Tapi menariknya, semua itu ternyata punya satu benang merah yaitu komunitas, networking, dan kemauan untuk terus belajar.

Networking sebagai Investasi Jangka Panjang

Saya sempat bertanya ke beliau, “Seberapa signifikan organisasi dan networking terhadap karier Abang hari ini?”

Beliau langsung menjawab, “Saya selalu percaya bahwa networking is the king of the game.”

Beliau cerita, dulu aktif di organisasi kampus. Presiden mahasiswanya sekarang menjadi Menteri UMKM, Maman Abdurrahman.

Saat kuliah mereka intens berjuang bersama, lalu setelah lulus sibuk dengan karier masing-masing. Tidak selalu dekat, tidak selalu bertemu, tapi relasi itu tetap dirawat. Ada ucapan ulang tahun, komunikasi saat Lebaran, dan silaturahmi sederhana lainnya.

Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian, ketika ada transformasi besar di SMESCO Indonesia, nama beliau kembali diingat.

Mereka mencari sosok yang punya background korporasi, pengalaman organisasi, kemampuan komunikasi, dan pemahaman pelayanan publik. Dari situlah pintu itu terbuka.

Di situ saya langsung berpikir, ternyata relasi itu seperti investasi jangka panjang.

Karena kita tidak pernah tahu pertemuan hari ini akan membuka pintu apa 5, 10, atau 15 tahun ke depan.

Abang None sebagai Quantum Leap

Saya lalu bertanya, “Berarti Abang None jadi turning point terbesar?”

Beliau tertawa kecil lalu menjawab, “Game changer banget.”

Bayangkan, awalnya beliau adalah mahasiswa Teknik Mesin. Bahkan sempat berpikir hidupnya nanti akan berada di jalur engineer, perusahaan minyak, atau dunia teknikal lainnya.

Tapi setelah masuk Abang None Jakarta tahun 2008, hidupnya berubah.

Di sana beliau belajar komunikasi, hospitality, marketing, public relations, tanle manner, behavior, hingga bagaimana membangun personal branding dan menghadapi publik.

Beliau bahkan bilang, “Kalau waktu itu saya nggak ikut Abang None, mungkin saya hari ini cuma jadi engineer biasa.”

Lalu beliau menambahkan satu kalimat yang menurut saya powerful, “Quantum leap karier saya dimulai dari situ.”

Saya sangat relate dengan bagian ini. Karena banyak orang masih menganggap ajang duta wisata cuma soal penampilan. Padahal sebenarnya, dunia seperti Abang None, Raka Raki, Mojang Jajaka, Kang Nong, dan berbagai paguyuban duta wisata lainnya adalah “sekolah kehidupan”.

Di sana kita belajar public speaking, networking, kepemimpinan, komunikasi, menghadapi tekanan sosial, menjaga attitude, survive di tengah kompetisi. hingga belajar membangun image dan trust. Dalam konteks ini, saya pernah tuliskan dalam buku The Ambassadors’ Journey.

Tanpa sadar, skill-skill itu ternyata sangat relevan ketika masuk dunia profesional.

 Pentingnya Terus Belajar

Menariknya lagi, setelah sukses berkarier, Bang Doddy tidak berhenti belajar.             Saat ini beliau sedang mengambil program doktoral Manajemen di Universitas Udayana. Padahal di saat yang sama beliau juga harus memimpin transformasi besar di SMESCO Indonesia.

Saya sempat bertanya, “Kenapa masih ambil S3 di tengah kesibukan sebesar itu?”

Beliau menjawab, “Karena ilmu terus berkembang. “Saya harus memaksa diri saya untuk terus belajar.”

Beliau juga bilang bahwa apa pun profesinya nanti, semuanya akan berkaitan dengan manajemen. Karena itu beliau merasa perlu terus meng-upgrade diri.

Menurut saya ini penting banget. Hari ini banyak orang berhenti belajar ketika merasa sudah punya jabatan atau pencapaian tertentu.

Padahal dunia berubah cepat sekali.  Kalau kita berhenti belajar, cepat atau lambat kita akan kehilangan relevansi.  

Kita adalah Rata-Rata dari Circle Terdekat

Ada juga satu bagian obrolan yang menurut saya sangat menarik. Saya bilang ke beliau, “Kata banyak orang, kita adalah rata-rata dari lima orang terdekat kita.”

Beliau langsung menjawab, “Setuju banget.”

Beliau cerita punya circle bernama “Golden Boys”. Isinya teman-teman dengan latar belakang luar biasa. Ada yang jadi CEO, direksi perusahaan besar, hingga pimpinan di berbagai industri. Mereka masih rutin lunch bareng, ngobrol, bertukar insight, dan saling support satu sama lain.

Sependapat dengan Bang Doddy, semakin dewasa saya makin sadar…environment memang menentukan arah hidup kita.

Kalau kita terus berada di lingkungan yang malas berkembang, energi kita lama-lama ikut turun. Tapi kalau kita berada di lingkungan yang penuh orang-orang bertumbuh, kita juga akan terpacu naik level.

Makanya hari ini saya pribadi sangat percaya pentingnya komunitas. Karena kadang satu circle bisa mengubah arah hidup seseorang.  

Ujian dan Jalan Berliku

Obrolan kami lalu masuk ke fase hidup yang lebih personal.

Saya menyinggung masa-masa sulit yang pernah beliau alami beberapa tahun lalu. Fase ketika hidupnya dihantam opini publik, tekanan sosial, bahkan keluarganya ikut terdampak.

Jujur, saya salut dengan cara beliau melihat hidup. Beliau bilang, “Orang yang mau sampai ke puncak memang harus melewati jalan berliku. “Ada tanjakan, ada turunan, ada macet, ada belokan. “Kalau nggak melewati itu semua, ya kita nggak akan sampai ke puncak.”

Saya suka cara beliau memaknai ujian hidup. Bang Doddy tidak merasa menjadi korban atau menyalahkan keadaan. Tapi menerima bahwa proses ditempa memang bagian dari perjalanan menuju level berikutnya.

Mungkin memang benar. Kadang Tuhan tidak sedang menghukum kita. Tapi sedang memperbesar kapasitas kita.

Mentor Terbesar Bisa Datang dari Siapa Saja

Ada juga bagian yang menurut saya paling menarik. Saat saya bertanya, “Siapa mentor terbesar Abang hari ini?”

Saya kira beliau akan menyebut tokoh besar atau profesional senior. Tapi jawabannya justru,

“Anak saya.” Beliau bilang, untuk tetap relevan di era hari ini, ia harus belajar memahami cara berpikir generasi baru. Cara mereka belajar, berbicara, menggunakan teknologi, hingga melihat dunia.

Menurut saya… ini keren banget. Karena semakin tinggi posisi seseorang, biasanya semakin sulit menerima bahwa dirinya juga harus belajar dari generasi yang lebih muda. Padahal dunia hari ini berubah cepat sekali.

Orang yang paling berbahaya bukan yang kurang pintar. Tapi yang merasa sudah paling tahu.

Mimpi Besar untuk UMKM Indonesia

Di akhir obrolan, kami juga banyak membahas tentang masa depan UMKM Indonesia.

Sebagai CEO SMESCO Indonesia, Bang Doddy sedang memimpin transformasi besar agar lembaga ini tidak lagi hanya dikenal sebagai gedung pameran atau tempat event, tapi menjadi pusat end-to-end services bagi UMKM Indonesia. Mulai dari market intelligence, sertifikasi, legalitas, pembiayaan, digitalisasi, hingga scale up bisnis.

Bang Doddy juga menekankan bahwa masa depan adalah era inovasi, kolaborasi, dan digitalisasi. Dan generasi muda punya peran besar untuk membantu UMKM Indonesia naik kelas.

Karier Besar Jarang Dibangun Sendirian

Jujur, setelah ngobrol hampir dua jam dengan beliau, saya jadi makin percaya satu hal: Karier besar jarang dibangun sendirian.

Ada komunitas yang membentuk, mentor yang mengarahkan, relasi yang membuka pintu, dan lingkungan yang memacu kita naik level. Itu semua proses panjang yang menempa mental kita diam-diam.

Mungkin itu juga alasan kenapa hari ini saya sangat suka bertemu banyak orang, mewawancarai tokoh, dan membangun networking.  Karena saya sadar… hidup sering berubah lewat manusia lain.

Mungkin… orang yang hari ini duduk ngobrol santai dengan kita, bisa jadi adalah pintu menuju versi terbaik hidup kita di masa depan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *