“Kalau politik itu dianggap kotor, lalu kenapa orang-orang baik justru memilih menjauhinya?”

Pertanyaan itu terus terngiang di kepala saya setelah beberapa waktu lalu bertemu dan berbincang cukup panjang dengan Bonggas Adhi Chandra.

Jujur, awalnya saya mengira percakapan kami akan dipenuhi strategi pemenangan, teknik lobbying, atau pembahasan soal kekuasaan. Tetapi ternyata, yang paling terasa justru keresahannya terhadap kondisi politik Indonesia hari ini.

Kita hidup di negeri yang hampir setiap hari mengeluhkan politik. Entah itu drama, saling menjatuhkan atau kekuasaan yang terasa semakin jauh dari rakyat. Namun ironisnya, banyak orang baik, orang cerdas, bahkan anak muda idealis justru memilih menjauh dari dunia politik karena merasa panggung itu terlalu “kotor” untuk dimasuki.

Ibarat sebuah kapal besar bernama Indonesia, banyak orang sibuk mengkritik arah kapal ini dari kejauhan. Tetapi sedikit yang benar-benar mau naik ke ruang kemudi untuk mencoba memperbaikinya. Banyak yang lebih memilih menjadi penonton di pinggir lapangan yang sibuk menyoraki dan mengejek, tapi hanya sedikit yang mau jadi pemain lapangan yang bisa mengubah pertandingan.

Nah, dari percakapan itulah, saya mulai memahami mengapa Bonggas Adhi Chandra memilih mendirikan Politician Academy.

“Coach, boleh dijelaskan sedikit siapa sebenarnya Coach Bonggas?”

Beliau tersenyum kecil sebelum mulai bercerita.

“Sebetulnya latar belakang saya dari segi keilmuan berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan hubungan internasional. Sebelumnya saya adalah dosen dan peneliti.”

Mas Bonggas mengajar selama kurang lebih 13 tahun, terutama di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Ia juga sempat mengajar di Universitas Paramadina, Universitas Pelita Harapan, hingga Universitas Pertahanan Indonesia.

Kalau melihat perjalanan akademiknya, memang tidak biasa. Setelah lulus S1, ia mendapatkan beasiswa ke Swedia dan melanjutkan studi magister di Uppsala University. Setelah itu, ia kembali mendapatkan beasiswa doktoral dari pemerintah Australia untuk menempuh pendidikan di University of Queensland, Brisbane. Ia juga rajin mengikuti konferensi dan seminar internasional di berbagai negara, bahkan mimpinya untuk menginjak 5 benua dari jalur akademik dan penelitian sdh di penuhinya di usia 30-an.

“Setelah pulang tugas belajar, saya kembali menjadi dosen seperti biasa,” ujarnya.

Namun hidup membawanya ke arah yang berbeda.

“Tahun 2009 ada sebuah peristiwa tertentu yang membuat saya masuk ke politik praktis. Saya diminta membantu anggota dewan sebagai tenaga ahli.”.

Dari sana, ia mulai masuk lebih dalam ke dunia politik. Membantu kegiatan anggota dewan di dapil, terlibat dalam partai politik, hingga membantu strategi pemenangan anggota legislatif maupun kepala daerah.

“Jadi background saya cukup lengkap. Saya mengalami dunia akademik, dunia penelitian, lalu masuk ke dunia politik praktis. Di situ saya mulai melihat ada gap besar antara teori di textbook dengan realita di lapangan.”

 

Politik Itu Seperti Pisau

Salah satu bagian percakapan yang paling membekas bagi saya adalah ketika ia menjelaskan pandangannya tentang politik.

“Kalau mau jujur, dulu saya juga melihat politik sebagai panggung yang buruk. Backstabbing, saling menjatuhkan, fitnah, bullying, dan lain-lain. Tapi setelah tercebur langsung di dunia politik praktis, kemudian saya melihat justru politik adalah panggung yang baik, karena di dalam politik nasib banyak orang bisa berubah lebih baik.”

Lalu ia memberikan analogi sederhana, tetapi sangat kuat.

“Politik itu seperti pisau.”

Pisau bisa dipakai chef hebat untuk memasak makanan lezat yang bermanfaat bagi banyak orang. Di tangan seniman yang hebat bisa jadi karya seni patung kayu yang cantik

Tetapi di tangan orang yang salah, pisau juga bisa dipakai untuk mengancam, merampok, melukai bahkan membunuh orang lain.

“Jadi politik itu netral,” katanya.

“Dia hanya instrumen. Apakah menjadi baik atau buruk, tergantung siapa yang memegangnya.”

Saya rasa, ini adalah salah satu perspektif paling penting yang sering hilang dalam diskusi politik di Indonesia.

Kita terlalu sibuk membenci politik sebagai sistem, tetapi lupa bahwa kualitas politik sangat ditentukan oleh kualitas manusia di dalamnya.

“Kenapa akhirnya mendirikan Politician Academy?”

Beliau menjawab dengan nada yang cukup serius.

“Karena saya melihat politik sering dipandang buruk akibat perilaku aktornya. Padahal esensi politik seharusnya adalah kekuasaan yang memberikan kesejahteraan, keadilan, dan keamanan bagi masyarakat.”

Menurutnya, masalah terbesar politik Indonesia hari ini adalah minimnya literasi politik.

“Dokter punya sekolah spesialis. Pengacara punya pendidikan profesi. Tapi politisi sekolahnya di mana?”

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat menampar.

Karena selama ini banyak politisi belajar langsung di lapangan tanpa pembekalan dan mindset yang matang tentang kepemimpinan, etika, maupun makna kekuasaan itu sendiri.

“Partai politik sekarang lebih sibuk menjelang pemilu. Tetapi proses training, literasi, dan mencerdaskan kadernya masih sangat minim.”

Dari kegelisahan itulah Politician Academy lahir.

Sebuah platform yang menurutnya bukan sekadar konsultan politik biasa, tetapi tempat untuk memberikan literasi kepada calon politisi maupun mereka yang sudah berada di dalam kekuasaan.

“Supaya cara berpikir mereka tepat. Cara bergerak mereka tepat. Dan idealismenya tetap ada.”

 

Politik Butuh Lebih Banyak Orang Baik

Ada satu kalimat Mas Bonggas yang menurut saya sangat penting:

“Saya selalu bermimpi semakin banyak orang baik, semakin banyak anak muda, semakin banyak orang-orang dengan idealisme tinggi dan cerdas masuk ke politik Indonesia.”

Karena menurutnya, kalau politik diisi lebih banyak orang baik, maka perilaku politik dan cara berpolitiknya juga akan menjadi lebih baik.

Jujur, di tengah realitas politik Indonesia hari ini yang sering membuat publik lelah dan sinis, pendekatan seperti ini terasa semakin langka.

Hari ini Mas Bonggas Adhi Chandra tidak hanya dikenal sebagai Founder Politician Academy, tetapi juga sebagai Managing Director Govnection Consulting Group (GCG) sebuah perusahaan Konsultan Kebijakan Publik dan Government Relations. Mas Bonggas juga rutin menjadi pembicara di Lemhanas, Kesbang Linmas, Parpol dan Ormas Kepemudaan.

Namun yang paling menarik bagi saya bukan sekadar jabatannya.

Melainkan konsistensinya membawa satu misi yang sama: menghadirkan lebih banyak literasi, idealisme, dan kualitas kepemimpinan di dunia politik Indonesia.

 

Epilog

Di akhir percakapan, saya menyadari satu hal.

Mungkin kita memang tidak bisa langsung mengubah wajah politik Indonesia dalam semalam.

Tetapi perubahan besar sering dimulai dari orang-orang yang masih percaya bahwa sistem ini bisa diperbaiki.

Mas Bonggas Adhi Chandra tampaknya memilih menjadi salah satu dari orang-orang itu.

Karena pada akhirnya, politik akan selalu menjadi panggung yang menentukan arah bangsa.

Pertanyaannya tinggal satu, Apakah panggung itu akan terus kita tinggalkan…
atau mulai kita isi dengan lebih banyak orang baik yang benar-benar ingin memperbaikinya?

Kalau menurut Anda sosok seperti beliau perlu lebih banyak dikenal publik—terutama generasi muda—boleh share tulisan ini.

Siapa tahu, semakin banyak orang sadar bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan.
Tetapi juga tentang kontribusi, komitmen dan pengabdian.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *