Stories

  • 7 Level yang Membedakan LinkedIn Biasa dengan LinkedIn yang Menghasilkan Klien.

    Banyak orang berpikir LinkedIn adalah soal membuat konten setiap hari. Padahal, konten hanyalah puncak gunung es dari sebuah sistem yang jauh lebih besar.

    Bayangkan kamu sedang membangun sebuah gedung pencakar langit. Apakah arsitek akan mulai dari lantai paling atas?

    Tentu tidak. Mereka akan menghabiskan waktu berbulan-bulan membangun pondasi yang bahkan tidak terlihat oleh siapa pun.

    Ironisnya, justru bagian yang tidak terlihat itulah yang menentukan seberapa tinggi gedung itu bisa berdiri.

    LinkedIn pun bekerja dengan prinsip yang sama.

    Banyak orang ingin langsung dikenal, ingin viral, ingin menjadi thought leader, ingin mendapatkan ribuan followers, bahkan berharap setiap postingan mendatangkan klien.

    Namun mereka lupa satu hal.

    Tidak ada gedung tinggi yang dibangun tanpa pondasi. Tidak ada personal brand besar yang dibangun tanpa sistem.

    Itulah mengapa saya sangat menyukai konsep The LinkedIn Growth Pyramid.

    Bukan karena desainnya menarik. Tetapi karena ia menjelaskan bahwa pertumbuhan di LinkedIn bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah hasil dari urutan yang benar.

    (more…)


  • Presence: Buku yang Membuat Saya Berhenti Berpura-pura

    Pernah tidak…

    Masuk ke ruang rapat lalu tiba-tiba merasa semua orang lebih pintar?

    Datang ke acara networking, tetapi bingung harus memulai percakapan dari mana?

    Duduk di ruang wawancara kerja sambil berharap pewawancara tidak menanyakan pertanyaan yang sulit?

    Atau mungkin…

    Sudah punya pengalaman dan kemampuan, tetapi setiap kali harus tampil di depan orang lain, tiba-tiba rasa percaya diri menghilang begitu saja.

    Kalau iya, tenang.

    Saya rasa hampir semua orang pernah mengalaminya. Masalahnya, kita sering menganggap penyebabnya adalah kurang percaya diri.

    Setelah membaca buku Presence karya Amy Cuddy, saya justru menemukan sesuatu yang berbeda.

    Mungkin masalahnya bukan karena kita kurang percaya diri, tapi terlalu sibuk menjadi orang lain.

    (more…)


  • Saya Pernah Mengira Networking Itu Menjilat. Ternyata Saya Salah Besar.

    Dulu, saya benar-benar percaya bahwa dunia kerja itu adil. Saya berpikir, kalau saya belajar lebih keras, bekerja lebih rajin, menambah sertifikasi, mempercantik CV, dan memberikan hasil terbaik, maka peluang pasti akan datang dengan sendirinya.

    Nyatanya? Tidak.

    Saya pernah melihat orang yang kemampuannya biasa saja justru mendapat promosi lebih dulu, melihat proyek bernilai miliaran rupiah jatuh ke tangan orang yang bahkan tidak pernah mengajukan proposal, dan posisi strategis terisi tanpa pernah diumumkan ke publik.

    Awalnya saya marah. Saya menyebutnya nepotisme, menganggapnya “orang dalam” dan merasa sistemnya tidak adil. Namun semakin lama saya berkarier, semakin saya memahami bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks daripada itu.

    Bayangkan dua restoran yang sama-sama menyajikan makanan terenak di kota. Yang satu berada di jalan protokol dengan papan nama besar. Yang satu lagi berada di gang sempit tanpa papan nama.

    Mana yang lebih dulu didatangi pelanggan? Belum tentu yang makanannya lebih enak. Tetapi yang lebih mudah ditemukan.

    Begitu pula dengan karier.

    Kompetensi adalah kualitas makananmu. Networking adalah alamat restoranmu.

    Kalau tidak ada yang tahu kamu ada, bagaimana kesempatan bisa datang mengetuk pintumu?

    (more…)


  • CV-mu Sudah Menjual Belum? Jangan Sampai HR Tidak Pernah Sempat Mengenalmu

    Pernah nggak kamu merasa begini?

    “Aku sudah kirim puluhan CV. Pengalamanku bagus. Skill-ku juga relevan. Tapi kok nggak ada panggilan interview?”

    Kalau iya, mungkin masalahnya bukan ada pada dirimu. Bisa jadi… CV-mu bahkan belum pernah dibaca manusia.

    Iya, kamu tidak salah baca. Sebelum HR melihat siapa dirimu, sering kali ada “penjaga gerbang” yang harus kamu lewati terlebih dahulu. Namanya Applicant Tracking System (ATS).

    Bayangkan begini. Kamu ingin masuk ke sebuah gedung perkantoran elit. Kamu sudah berpakaian rapi, membawa portofolio terbaik, bahkan datang lebih awal. Namun ternyata, pintu masuk gedung itu hanya bisa dibuka menggunakan kartu akses tertentu.

    Sehebat apa pun dirimu, kalau kartunya tidak cocok, pintunya tidak akan pernah terbuka.

    Begitulah CV di era sekarang. Masalahnya bukan kamu tidak kompeten, tapi CV-mu belum berbicara dalam “bahasa” yang dimengerti ATS.

    (more…)


  • Kalau Anda Merasa Hidup Berantakan, Bacalah Biografi Steve Jobs


  • Konten Media Sosial Bisa Viral Semalam. Buku Bisa Membuat Namamu Hidup Puluhan Tahun.

    Pernah sadar nggak? Semakin banyak orang bikin konten setiap hari, justru semakin sedikit orang yang benar-benar dipercaya.

    Ironis, ya?

    Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa terlihat pintar. Tinggal buka AI, ketik beberapa prompt, lalu lima menit kemudian lahirlah thread, carousel, newsletter, bahkan e-book.

    Masalahnya… Di tengah banjir konten itu, kepercayaan justru menjadi barang paling langka.

    Ibarat pasar malam.

    Semua pedagang teriak paling kencang agar dagangannya dilihat. Lampunya sama-sama terang. Spanduknya sama-sama besar. Musiknya sama-sama keras.

    Tapi ketika kita benar-benar mau membeli sesuatu yang mahal, kita justru mencari toko yang sudah lama berdiri, punya reputasi, dan dipercaya banyak orang.

    Personal branding juga begitu.

    Konten media sosial adalah lampu neon yang menarik perhatian. Sedangkan buku adalah fondasi bangunan yang membuat orang yakin untuk masuk.

    (more…)