Stories

  • Bekerja Keras Saja Tidak Cukup: Inilah Alasan Banyak Orang Hebat Tetap Gag

    “Kalau besok pagi Anda kehilangan pekerjaan, siapa orang pertama yang akan menelepon dan berkata, ‘Saya punya peluang untuk Anda’?”

    Pertanyaan itu terdengar sederhana.

    Tapi justru di situlah letak masalahnya.

    Banyak dari kita menghabiskan puluhan tahun untuk belajar, mengejar IPK tinggi, mengambil sertifikasi, mengikuti pelatihan, bahkan lembur sampai larut malam. Kita percaya bahwa kalau bekerja cukup keras, dunia akan memberi penghargaan yang setimpal.

    Sayangnya…

    Dunia nyata tidak selalu bekerja seperti itu.

    Ada orang yang kemampuannya biasa saja, tetapi kariernya melesat. Ada pebisnis yang produknya tidak jauh lebih unggul, tetapi kliennya mengalir tanpa henti. Ada profesional yang selalu mendapat kesempatan berbicara, diajak kolaborasi, atau direkomendasikan untuk posisi strategis.

    Kenapa?

    Apakah mereka lebih pintar?

    Belum tentu.

    Sering kali jawabannya jauh lebih sederhana:

    Mereka dikenal. Mereka dipercaya. Mereka punya jaringan yang kuat. 

    (more…)


  • Pelajaran Termahal dari McKinsey: Jangan Pernah Menyelesaikan Masalah yang Salah.

    “Bagaimana kalau selama ini yang salah bukan solusi Anda, melainkan pertanyaan yang Anda ajukan?”

    Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi efeknya bisa menampar siapa saja.

    Bayangkan seseorang mengeluh mobilnya selalu boros bensin. Ia mengganti oli, membeli aditif mahal, bahkan mengganti ban premium. Namun ternyata masalah utamanya hanyalah rem yang terus menahan roda sehingga mobil bekerja lebih berat.

    Semua usaha tadi tidak salah. Hanya saja diarahkan pada masalah yang keliru.

    Saya merasa analogi itu sangat mirip dengan kehidupan kita. Banyak orang bekerja lebih keras, rapat lebih lama, menambah karyawan, membeli teknologi baru, atau mengambil sertifikasi demi sertifikasi. Namun hasilnya tetap biasa saja karena akar masalahnya tidak pernah benar-benar disentuh.

    Di situlah saya merasa mendapat tamparan intelektual ketika membaca The McKinsey Mind. Buku ini bukan sekadar membahas dunia konsultansi. Buku ini mengajarkan sebuah cara berpikir yang bisa mengubah bagaimana kita mengambil keputusan dalam pekerjaan, membangun bisnis, bahkan menjalani hidup.

    Yang menarik, ternyata kehebatan konsultan top dunia bukan karena mereka selalu punya jawaban. Mereka justru luar biasa dalam mendefinisikan masalah.

    (more…)


  • Dulu Saya Takut Berbelok Arah. Sekarang Saya Justru Bersyukur Pernah Tersesat.

    Saya pernah berada di fase ketika melihat perjalanan karier orang lain terasa begitu rapi.

    Lulus kuliah.

    Masuk perusahaan besar.

    Naik jabatan setiap beberapa tahun.

    Menjadi direktur.

    Lalu pensiun dengan tenang.

    Sementara saya? Rasanya seperti sedang menggambar garis menggunakan tangan yang gemetar. Kadang naik, kadang turun, pindah peran, belajar hal baru, mencoba bisnis, kembali mengajar, masuk dunia konsultasi, menulis buku, lalu berbicara di depan publik.

    Jujur saja, pernah ada rasa takut.

    “Apakah saya terlalu banyak berbelok?”

    “Apakah saya kurang fokus?”

    “Apakah semua ini hanya membuang waktu?”

    Sampai akhirnya saya membaca buku The Squiggly Career karya Helen Tupper dan Sarah Ellis. Buku itu membuat saya berhenti memandang tikungan sebagai kegagalan. Justru di situlah saya menemukan pola.

    Bayangkan Anda melihat aliran sungai dari atas. Hampir tidak ada sungai yang mengalir lurus. Ia berkelok, memutar, bahkan sesekali tampak menjauh dari tujuan akhirnya.

    Namun justru karena kelokan itulah air mampu terus mengalir melewati berbagai medan.

    (more…)


  • Semakin Keras Kita Ingin Diakui, Semakin Jauh Kita dari Kebahagiaan

    Pernahkah Anda bertanya: sebenarnya siapa yang sedang menjalani hidup Anda saat ini?

    Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh.

    Tetapi semakin lama saya hidup, semakin saya menyadari bahwa banyak keputusan yang kita ambil bukan berasal dari diri kita yang sesungguhnya.

    Kita memilih pekerjaan tertentu karena ingin terlihat sukses.

    Kita membeli sesuatu karena ingin dianggap berhasil.

    Kita mengejar jabatan karena ingin diakui.

    Kita bahkan terkadang bekerja terlalu keras bukan karena mencintai pekerjaan itu, tetapi karena takut dianggap gagal.

    Lalu suatu hari kita sampai di tujuan.

    Jabatan sudah ada. Rumah sudah ada. Mobil sudah ada. Penghasilan sudah naik.

    Tetapi muncul pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:

    “Mengapa saya masih merasa ada yang kurang?”

    Pertanyaan itulah yang terus terngiang di kepala saya ketika membaca buku A New Earth: Awakening to Your Life’s Purpose karya Eckhart Tolle.

    Dan jujur saja, ini bukan buku yang membuat saya merasa nyaman.

    Ini buku yang membuat saya merasa tertampar.

    (more…)


  • Kita Mengira Bahagia Ada di Garis Finish. Ternyata Tidak.

    Beberapa tahun terakhir, saya mulai menyadari satu hal yang agak mengganggu.

    Semakin banyak target yang tercapai, semakin cepat pula muncul target baru.

    Selesai satu proyek. Muncul proyek berikutnya.

    Selesai satu sertifikasi. Muncul kebutuhan belajar yang baru.

    Naik jabatan. Muncul ekspektasi yang lebih tinggi.

    Pendapatan naik. Gaya hidup ikut naik.

    Seolah-olah hidup sedang berlari di atas treadmill yang tidak pernah berhenti.

    Capek. Tapi tidak benar-benar sampai ke mana-mana.

    Saya yakin banyak dari kita pernah mengalami fase seperti ini.

    Secara objektif hidup kita baik-baik saja.

    Karier berjalan. Bisnis bertumbuh. Keluarga sehat.

    Tetapi entah mengapa ada perasaan kosong yang sulit dijelaskan.

    Seperti selalu ada sesuatu yang kurang.

    Dan di tengah perasaan itulah saya menemukan buku Peace Is Every Step karya Thich Nhat Hanh.

    Awalnya saya mengira buku ini hanya akan berisi nasihat spiritual yang abstrak.

    Ternyata saya salah.

    Buku ini justru terasa sangat relevan untuk siapa pun yang hidup di era modern. Termasuk para profesional, pemimpin, entrepreneur, konsultan, dan siapa saja yang setiap hari hidup dalam tekanan target dan ekspektasi.

    (more…)


  • Berhentilah Menunggu Hidup Berubah. Yang Harus Berubah Pertama Kali Adalah Dirimu.

    Ada sebuah kenyataan yang tidak nyaman untuk diterima.

    Sebagian besar dari kita sebenarnya tidak hidup di masa depan. Kita hidup di masa lalu. Bukan secara fisik, tetapi secara mental.

    Kita bangun pagi dengan pikiran yang sama.

    Kekhawatiran yang sama.

    Ketakutan yang sama.

    Kebiasaan yang sama.

    Reaksi emosional yang sama.

    Lalu kita berharap hidup menghasilkan sesuatu yang berbeda.

    Ironis, bukan?

    Kita ingin karier yang berbeda, bisnis yang berbeda, relasi yang berbeda, bahkan kualitas hidup yang berbeda.

    Tetapi setiap hari kita berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara yang sama seperti kemarin.

    Beberapa waktu lalu saya membaca buku Breaking the Habit of Being Yourself karya Dr. Joe Dispenza.

    Dan jujur saja, buku ini membuat saya berhenti sejenak.

    Bukan karena teorinya rumit. Justru karena pesannya sangat sederhana, tetapi menampar.

     Hidup kita hari ini adalah hasil dari identitas yang terus kita ulang setiap hari.

     Kalau kita ingin masa depan yang berbeda, kita tidak cukup hanya mengubah target.

    Kita harus mengubah orang yang sedang mengejar target tersebut.

    (more…)