Stories

  • Durung Wayahe: Filosofi Jawa yang Mengajarkan Cara Berdamai dengan Waktu

    Ada satu “penyakit” yang tampaknya makin menular di zaman sekarang: semua orang ingin panen, tetapi tidak ada yang mau percaya pada musim.

    Begitu melihat teman membeli rumah mewah, kita merasa tertinggal. Begitu melihat rekan naik jabatan, kita merasa hidup tidak adil. Begitu melihat konten orang lain viral, kita mulai mempertanyakan kualitas diri sendiri.

    Lucunya, kita hidup di era yang membuat semua orang bisa melihat hasil akhir orang lain, tetapi hampir tidak pernah melihat proses panjang yang mereka lalui.

    Ibarat menonton film langsung dari adegan klimaks, kita lupa bahwa sebelumnya ada ratusan halaman naskah yang penuh kegagalan, air mata, latihan, dan kesabaran.

    Di tengah budaya serba instan itu, saya justru sering teringat pada satu ungkapan sederhana dari masyarakat Jawa,

    “Durung wayahe.”

    Artinya, belum waktunya.

    Kalimat ini sering diucapkan ketika seseorang belum mendapatkan pekerjaan,  menemukan pasangan hidup,  berhasil membangun usaha, atau  memperoleh rezeki yang diharapkan.

    Bagi sebagian orang, kalimat ini terdengar seperti penghiburan.

    Namun bagi saya, “durung wayahe” adalah sebuah filosofi hidup yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa tidak semua keterlambatan adalah penolakan. Tidak semua penundaan adalah kegagalan. Tidak semua hasil yang belum datang berarti usaha kita sia-sia.

    (more…)


  • Hal-Hal Besar Jarang Mengubah Hidup Kita. Justru Kebiasaan Kecil yang Nyaris Tidak Terlihat.

    Pernah nggak, tiba-tiba melihat teman lama yang sekarang kariernya melesat?

    Dulu kalian lulus hampir bersamaan. Nilainya biasa saja. Bahkan mungkin kamu merasa kemampuanmu tidak kalah.

    Lalu entah bagaimana, lima atau sepuluh tahun kemudian, hidup kalian seperti berjalan di dua jalur yang berbeda.

    Dia memimpin perusahaan. Bisnisnya berkembang. Namanya sering muncul di berbagai forum.

    Sementara kita hanya bisa bergumam pelan, “Kok bisa, ya?”

    Yang lebih menyakitkan, kita sering mencari jawaban yang sederhana. Mungkin dia lebih pintar, lebih beruntung atau mungkin dia punya koneksi.

    Padahal sering kali jawabannya jauh lebih membosankan.

    Bukan karena satu keputusan besar,  satu peluang emas, atau satu momen yang mengubah hidup. Melainkan karena ribuan keputusan kecil yang bahkan tidak layak dijadikan unggahan LinkedIn.

    Tidak ada yang mengunggah status, “Hari ini saya memilih membaca sepuluh halaman buku.”

    Tidak ada yang bangga bercerita, “Saya kembali bangun tiga puluh menit lebih pagi.”

    Tidak ada yang viral karena berhasil menolak rasa malas hari ini.

    Namun justru keputusan-keputusan kecil itulah yang perlahan menentukan siapa kita lima tahun dari sekarang.

    Ketika membaca The Slight Edge karya Jeff Olson, saya merasa seperti sedang ditampar.

    Bukan karena bukunya menawarkan teori baru. Tapi karena isinya terlalu sederhana. Sederhana sampai-sampai kita sering mengabaikannya.

     Mungkin, memang begitulah cara kehidupan bekerja. Hal-hal yang paling mengubah hidup kita sering kali datang dalam ukuran yang terlalu kecil untuk dianggap penting.

    (more…)


  • Orang Berbakat Tidak Selalu Menang — Yang “Dikenal” yang Menang

    Bayangkan kamu sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Skill-mu tajam. Portofoliomu solid. Track record-mu bicara sendiri.

    Tapi saat posisi impianmu dibuka — atau klien besar sedang mencari mitra — nama kamu tidak muncul di benak mereka.

    Bukan karena kamu tidak layak.

    Tapi karena mereka tidak tahu kamu ada.

    Itulah yang paling menyakitkan: bukan kalah bersaing, tapi tidak ikut bertanding karena tidak ada yang mengundangmu ke arena.

     Inilah titik awal dari buku KNOWN: The Handbook for Building and Unleashing Your Personal Brand in the Digital Age karya Mark W. Schaefer — sebuah buku yang, kalau kamu baca dengan serius, bisa mengubah cara kamu memandang karier, bisnis, dan bahkan eksistensi profesionalmu secara fundamental.

    (more…)


  • Satu Konsep dari Buku Peak yang Bisa Mengubah Karier Anda Selamanya

    Pernahkah Anda diam-diam merasa tertinggal?

    Melihat teman yang kariernya melesat lebih cepat, rekan kerja yang presentasinya selalu memukau atau  pengusaha yang seolah selalu tahu keputusan terbaik. Lalu tanpa sadar kita berkata dalam hati, “Mungkin memang dia lebih berbakat.”

    Saya juga pernah berpikir seperti itu. Bahkan berkali-kali.

    Ada fase ketika saya merasa sudah bekerja keras, membaca banyak buku, mengikuti pelatihan, mengerjakan berbagai proyek, tetapi hasilnya tidak bertumbuh secepat yang saya harapkan.

    Rasanya seperti sedang mendaki gunung menggunakan tenaga penuh, tetapi setiap kali menoleh ke belakang, ternyata posisi saya tidak banyak berubah.

    Mungkin Anda juga pernah mengalaminya. Kita belajar, bekerja dan mencoba.  Tetapi mengapa ada orang yang berkembang jauh lebih cepat?

    Lalu saya membaca sebuah buku yang benar-benar mengubah cara saya memandang proses menjadi hebat.

    Judulnya Peak: Secrets from the New Science of Expertise karya K. Anders Ericsson.

    Buku ini bukan sekadar buku motivasi. Ia lahir dari puluhan tahun penelitian mengenai para atlet dunia, musisi kelas internasional, pemain catur, dokter, pilot, hingga profesional terbaik di berbagai bidang.

    Dan kesimpulan terbesarnya benar-benar mengguncang cara saya berpikir. Bukan bakat yang paling menentukan. Melainkan cara seseorang berlatih.

    (more…)


  • Mengapa Banyak Profesional Gagal Membangun Personal Brand di LinkedIn

    Beberapa tahun lalu saya pernah menghabiskan berjam-jam menulis sebuah artikel.

    Saya melakukan riset, menyusun kerangka, mencari data pendukung, memoles setiap kalimat dan membaca ulang berkali-kali.

    Ketika artikel itu akhirnya dipublikasikan, saya merasa bangga. “Ini salah satu tulisan terbaik yang pernah saya buat,” pikir saya.

    Lalu saya menunggu.

    Satu jam. Satu hari. Seminggu.

    Tidak ada yang terjadi. Tidak viral. Tidak banyak yang membaca. Tidak ada diskusi berarti. Tidak ada dampak signifikan.

    Saya kecewa.

     Mungkin Anda juga pernah mengalaminya.

    Membuat presentasi terbaik tetapi tidak mendapat perhatian. Membangun produk hebat tetapi tidak ada yang membeli. Menjadi profesional kompeten tetapi tidak ada yang menawarkan peluang. Menulis buku berkualitas tetapi tidak ada yang membahasnya.

    Saat itu saya berpikir dunia tidak adil.

    Namun setelah membaca buku The Content Code karya Mark W. Schaefer, saya menyadari sesuatu yang sangat menampar.

    Masalahnya bukan kualitas, tapi distribusi.

    (more…)


  • Ketika AI Menggantikan Banyak Pekerjaan, Skill Ini Justru Semakin Berharga

    Ada sesuatu yang menurut saya cukup ironis. Sejak kecil kita menghabiskan belasan bahkan puluhan tahun di sekolah dan kampus.

    Kita belajar matematika, sejarah, fisika, akuntansi, manajemen, hukum dan seabrek lainnya.

    Tetapi ada satu hal yang hampir tidak pernah diajarkan secara serius.

    Bagaimana cara belajar itu sendiri.

    Bayangkan. Kita menghabiskan sebagian besar hidup menggunakan sebuah alat. Namun tidak pernah diajarkan bagaimana mengoptimalkan alat tersebut.

    Seperti seseorang yang membeli mobil mewah, mengendarainya setiap hari selama puluhan tahun, tetapi tidak pernah belajar cara merawat mesinnya.

    Lalu ia heran mengapa performanya menurun.

    Ketika membaca buku The Only Skill That Matters karya Jonathan A. Levi, saya seperti mendapat tamparan yang cukup keras.

    Buku ini membuat saya sadar bahwa di era ketika informasi tersedia di mana-mana, masalah terbesar kita bukan lagi kekurangan informasi. Masalah terbesar kita adalah ketidakmampuan mengolah informasi.

    Mungkin inilah alasan mengapa sebagian orang terus bertumbuh sementara yang lain tertinggal.

    Bukan karena mereka lebih pintar, melainkan karena mereka lebih cepat belajar.

    (more…)