Stories

  • Dulu Saya Takut Berbelok Arah. Sekarang Saya Justru Bersyukur Pernah Tersesat.

    Saya pernah berada di fase ketika melihat perjalanan karier orang lain terasa begitu rapi.

    Lulus kuliah.

    Masuk perusahaan besar.

    Naik jabatan setiap beberapa tahun.

    Menjadi direktur.

    Lalu pensiun dengan tenang.

    Sementara saya? Rasanya seperti sedang menggambar garis menggunakan tangan yang gemetar. Kadang naik, kadang turun, pindah peran, belajar hal baru, mencoba bisnis, kembali mengajar, masuk dunia konsultasi, menulis buku, lalu berbicara di depan publik.

    Jujur saja, pernah ada rasa takut.

    “Apakah saya terlalu banyak berbelok?”

    “Apakah saya kurang fokus?”

    “Apakah semua ini hanya membuang waktu?”

    Sampai akhirnya saya membaca buku The Squiggly Career karya Helen Tupper dan Sarah Ellis. Buku itu membuat saya berhenti memandang tikungan sebagai kegagalan. Justru di situlah saya menemukan pola.

    Bayangkan Anda melihat aliran sungai dari atas. Hampir tidak ada sungai yang mengalir lurus. Ia berkelok, memutar, bahkan sesekali tampak menjauh dari tujuan akhirnya.

    Namun justru karena kelokan itulah air mampu terus mengalir melewati berbagai medan.

    (more…)


  • Semakin Keras Kita Ingin Diakui, Semakin Jauh Kita dari Kebahagiaan

    Pernahkah Anda bertanya: sebenarnya siapa yang sedang menjalani hidup Anda saat ini?

    Pertanyaan itu mungkin terdengar aneh.

    Tetapi semakin lama saya hidup, semakin saya menyadari bahwa banyak keputusan yang kita ambil bukan berasal dari diri kita yang sesungguhnya.

    Kita memilih pekerjaan tertentu karena ingin terlihat sukses.

    Kita membeli sesuatu karena ingin dianggap berhasil.

    Kita mengejar jabatan karena ingin diakui.

    Kita bahkan terkadang bekerja terlalu keras bukan karena mencintai pekerjaan itu, tetapi karena takut dianggap gagal.

    Lalu suatu hari kita sampai di tujuan.

    Jabatan sudah ada. Rumah sudah ada. Mobil sudah ada. Penghasilan sudah naik.

    Tetapi muncul pertanyaan yang jauh lebih mengganggu:

    “Mengapa saya masih merasa ada yang kurang?”

    Pertanyaan itulah yang terus terngiang di kepala saya ketika membaca buku A New Earth: Awakening to Your Life’s Purpose karya Eckhart Tolle.

    Dan jujur saja, ini bukan buku yang membuat saya merasa nyaman.

    Ini buku yang membuat saya merasa tertampar.

    (more…)


  • Kita Mengira Bahagia Ada di Garis Finish. Ternyata Tidak.

    Beberapa tahun terakhir, saya mulai menyadari satu hal yang agak mengganggu.

    Semakin banyak target yang tercapai, semakin cepat pula muncul target baru.

    Selesai satu proyek. Muncul proyek berikutnya.

    Selesai satu sertifikasi. Muncul kebutuhan belajar yang baru.

    Naik jabatan. Muncul ekspektasi yang lebih tinggi.

    Pendapatan naik. Gaya hidup ikut naik.

    Seolah-olah hidup sedang berlari di atas treadmill yang tidak pernah berhenti.

    Capek. Tapi tidak benar-benar sampai ke mana-mana.

    Saya yakin banyak dari kita pernah mengalami fase seperti ini.

    Secara objektif hidup kita baik-baik saja.

    Karier berjalan. Bisnis bertumbuh. Keluarga sehat.

    Tetapi entah mengapa ada perasaan kosong yang sulit dijelaskan.

    Seperti selalu ada sesuatu yang kurang.

    Dan di tengah perasaan itulah saya menemukan buku Peace Is Every Step karya Thich Nhat Hanh.

    Awalnya saya mengira buku ini hanya akan berisi nasihat spiritual yang abstrak.

    Ternyata saya salah.

    Buku ini justru terasa sangat relevan untuk siapa pun yang hidup di era modern. Termasuk para profesional, pemimpin, entrepreneur, konsultan, dan siapa saja yang setiap hari hidup dalam tekanan target dan ekspektasi.

    (more…)


  • Berhentilah Menunggu Hidup Berubah. Yang Harus Berubah Pertama Kali Adalah Dirimu.

    Ada sebuah kenyataan yang tidak nyaman untuk diterima.

    Sebagian besar dari kita sebenarnya tidak hidup di masa depan. Kita hidup di masa lalu. Bukan secara fisik, tetapi secara mental.

    Kita bangun pagi dengan pikiran yang sama.

    Kekhawatiran yang sama.

    Ketakutan yang sama.

    Kebiasaan yang sama.

    Reaksi emosional yang sama.

    Lalu kita berharap hidup menghasilkan sesuatu yang berbeda.

    Ironis, bukan?

    Kita ingin karier yang berbeda, bisnis yang berbeda, relasi yang berbeda, bahkan kualitas hidup yang berbeda.

    Tetapi setiap hari kita berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara yang sama seperti kemarin.

    Beberapa waktu lalu saya membaca buku Breaking the Habit of Being Yourself karya Dr. Joe Dispenza.

    Dan jujur saja, buku ini membuat saya berhenti sejenak.

    Bukan karena teorinya rumit. Justru karena pesannya sangat sederhana, tetapi menampar.

     Hidup kita hari ini adalah hasil dari identitas yang terus kita ulang setiap hari.

     Kalau kita ingin masa depan yang berbeda, kita tidak cukup hanya mengubah target.

    Kita harus mengubah orang yang sedang mengejar target tersebut.

    (more…)


  • Mengapa Orang Bugis Bisa Bertahan dan Sukses di Mana Pun Mereka Berada?

    Pernahkah Anda memperhatikan satu hal yang menarik? Mengapa ada kelompok masyarakat yang seolah mampu bertahan dan berkembang di mana pun mereka berada?

    Mereka meninggalkan kampung halaman, menyeberangi laut, memulai hidup dari nol di tempat yang asing, lalu perlahan membangun pengaruh, usaha, bahkan kepemimpinan. Bukan hanya sekali. Bukan hanya satu dua orang. Tetapi berulang kali, lintas generasi.

    Fenomena itulah yang membuat saya penasaran ketika mempelajari filosofi hidup masyarakat Bugis.

    Saya menemukan sesuatu yang menarik. Ternyata rahasia mereka bukan semata-mata terletak pada keberanian merantau atau kemampuan berdagang.

    Ada sesuatu yang lebih dalam.

    Ibarat sebuah kapal layar yang berlayar jauh melintasi samudra, banyak orang hanya melihat layar yang terkembang dan kapal yang melaju. Padahal yang menentukan arah kapal bukanlah layarnya, melainkan kompas yang tersembunyi di dalamnya.

    Begitu pula dengan orang Bugis. Yang membuat mereka mampu bertahan, bangkit, dan berhasil di berbagai tempat bukan hanya kerja kerasnya, tetapi kompas nilai yang mereka pegang sepanjang hidup.

    Kompas itu dikenal melalui berbagai nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Menariknya, nilai-nilai tersebut justru terasa semakin relevan di tengah dunia modern yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.

    (more…)


  • Anda Bukan Gagal Karena Kurang Keras Berjuang — Anda Gagal Karena Salah Memilih Apa yang Layak Diperjuangkan

    Ini mungkin bukan hal yang nyaman untuk didengar: sebagian besar dari kita tidak gagal karena malas. Kita gagal karena terlalu sibuk — sibuk peduli pada hal-hal yang sebetulnya tidak pernah layak mendapatkan energi kita.

    Kita peduli pada pendapat orang yang bahkan tidak mengenal kita. Kita panik melihat pencapaian orang lain di LinkedIn. Kita habiskan malam-malam yang panjang mempertahankan proyek yang sudah lama seharusnya dilepas, hanya karena tidak ingin terlihat menyerah.

    Dan di sinilah masalahnya: bukan energinya yang kurang — tapi arahnya yang keliru. 

    Bayangkan Anda hendak terbang ke kota baru untuk memulai kehidupan segar. Anda mengemas satu koper besar — penuh sesak. Ada baju-baju lama yang sudah tidak muat, kenangan yang menyakitkan tapi sayang dibuang, dan berbagai “mungkin nanti berguna” yang tidak pernah benar-benar berguna.

    Di bandara, koper Anda kelebihan berat. Anda harus membayar biaya ekstra. Anda tersengal-sengal membawanya. Dan ketika sampai di kota tujuan, Anda terlalu lelah untuk benar-benar memulai hal baru.

    “Itulah yang terjadi ketika kita peduli pada terlalu banyak hal sekaligus. Kita tiba di tujuan — tapi sudah kehabisan tenaga untuk menikmatinya.”

    Mark Manson, dalam bukunya The Subtle Art of Not Giving a F*ck, tidak sedang mengajak kita menjadi apatis atau tidak peduli. Ia mengajak kita untuk memilih dengan sadar — apa yang benar-benar layak mendapat perhatian kita, dan apa yang sebaiknya kita biarkan berlalu.

    (more…)