Stories

  • Ketika Jalan Karier Terasa Kritis, Inilah yang Bisa Kita Pelajari dari Rivan Achmad Purwantono

    Pernahkah kamu berada di titik ketika karier tiba-tiba berubah menjadi situasi yang serba genting?

                Baru saja beradaptasi dengan jabatan baru, tiba-tiba kamu harus menghadapi masalah besar yang tidak pernah masuk dalam deskripsi pekerjaan. Semua mata tertuju kepadamu. Waktu terus berjalan. Risiko terus membesar. Dan keputusan yang kamu ambil bisa menentukan nasib banyak orang.

                Mungkin skala masalah yang kamu hadapi tidak sebesar itu. Namun hampir setiap profesional pernah mengalami versinya sendiri. Entah ketika target terasa mustahil dicapai, organisasi sedang menghadapi tekanan, tim kehilangan arah atau dituntut tetap tenang padahal di dalam hati sedang bergulat dengan ketidakpastian.

                Ada masa-masa dalam karier ketika tantangannya bukan lagi soal naik jabatan atau mencari peluang baru. Tantangannya adalah bertahan, mengambil keputusan yang tepat, dan membawa orang lain melewati situasi yang tidak nyaman.

                Kalau iya, kamu akan lebih mudah memahami perjalanan Rivan Achmad Purwantono. Dalam salah satu episode paling menentukan dalam kariernya, ia dipanggil untuk menyelamatkan sebuah bank yang sedang menghadapi krisis likuiditas serius—hanya sekitar empat puluh hari setelah menjabat posisi strategis di perusahaan lain.

                Bayangkan karier seperti perjalanan di jalan raya. Sebagian besar waktu kita menikmati jalan yang relatif stabil. Namun ada kalanya kita memasuki tikungan tajam, cuaca buruk, atau kondisi darurat yang menuntut respons cepat. Pada momen seperti itulah kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya diuji. Bukan ketika semuanya berjalan baik, melainkan ketika keadaan berada dalam titik paling kritis.

                Dan jika ada satu sosok yang berkali-kali dipercaya memimpin organisasi melewati masa-masa seperti itu, sosok tersebut adalah Rivan Achmad Purwantono.

    (more…)


  • Jika Besok Kamu Kena PHK, Siapa yang Masih Mau Mengangkat Teleponmu?

    Kalau besok pagi semua yang Anda miliki hilang, siapa yang masih mau mengangkat telepon Anda?

    Bukan pertanyaan yang nyaman. Tetapi mungkin itulah pertanyaan paling jujur yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri.

    Karena dalam hidup profesional, kita sering mengukur kekayaan dari hal-hal yang terlihat.

    Jabatan. Gelar. Penghasilan. Aset. Jumlah pengikut. Kartu nama. Jabatan di LinkedIn. Omzet bisnis. Portofolio investasi.

    Semua itu penting. Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua itu tidak berharga.

    Tetapi ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita.

    Sebagian besar hal yang kita banggakan hari ini bisa hilang lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

    Perusahaan bisa melakukan restrukturisasi. Bisnis bisa menghadapi krisis. Pasar bisa berubah. Teknologi bisa menggantikan pekerjaan tertentu. Bahkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu keputusan yang salah.

    Lalu apa yang tersisa?

    Saya pernah melihat orang yang kehilangan jabatan tetapi tetap dihormati. Saya juga pernah melihat orang yang kehilangan jabatan lalu seolah menghilang dari peredaran.

    Perbedaannya bukan pada posisi mereka. Perbedaannya ada pada relasi yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

    Ibarat pohon besar, banyak orang sibuk merawat buahnya, tetapi lupa merawat akarnya.

    Padahal ketika badai datang, bukan buah yang menyelamatkan pohon. Akarlah yang membuatnya tetap berdiri.

    Dan dalam kehidupan profesional, akar itu bernama kepercayaan.  

    (more…)


  • Dari Militer ke Sekretaris Kabinet: Apa yang Bisa Dibaca Numerologi dari Teddy Indra Wijaya?

    “Mengapa ada orang yang sejak muda seolah selalu bergerak menuju posisi-posisi yang menuntut tanggung jawab besar? Kebetulan, hasil kerja keras, atau ada pola yang menarik untuk direnungkan?”

    Pertanyaan itu mungkin terdengar provokatif. Apalagi ketika kita melihat perjalanan Teddy Indra Wijaya yang meniti karier di dunia militer, dipercaya menjadi ajudan tokoh-tokoh penting negara, hingga kemudian mengemban amanah sebagai Sekretaris Kabinet Indonesia.

    Sebagian orang akan menjawab, “Itu murni prestasi.” Sebagian lagi mungkin tergoda berkata, “Memang sudah jalannya.” Bahkan ada yang menghujat karena ia pandai “menjilat”.

    Saya justru ingin mengajak melihatnya dari sudut yang berbeda: numerologi.  Bukan sebagai alat meramal masa depan atau membuktikan nasib, melainkan sebagai bahasa simbolik untuk memahami kecenderungan karakter dan nilai hidup.

    Dan menariknya, jika tanggal lahir Teddy Indra Wijaya—14 April 1989—dijumlahkan menurut metode numerologi Pythagorean (1+4+0+4+1+9+8+9 = 36 → 3+6 = 9), ia memiliki Life Path Number 9, salah satu angka yang paling sering diasosiasikan dengan misi kemanusiaan, kepemimpinan moral, dan pengabdian.

    (more…)


  • Semakin Sibuk, Semakin Besar Kemungkinan Anda Tidak Bergerak ke Mana-Mana

    Ada satu kebohongan yang diam-diam dipercaya banyak orang.

    Katanya, semakin sibuk kita, semakin dekat kita dengan kesuksesan.

    Padahal kenyataannya justru sering berkebalikan. Banyak orang bekerja dari pagi hingga malam, menghadiri rapat tanpa henti, membalas ratusan email, mengejar puluhan target, tetapi bertahun-tahun kemudian merasa hidupnya tidak benar-benar berubah.

    Saya jadi teringat sebuah analogi sederhana.

    Bayangkan Anda sedang menyiram tanaman di halaman rumah. Namun alih-alih menyiram satu pohon sampai akarnya kuat, Anda hanya memercikkan sedikit air ke seratus tanaman berbeda. Hasilnya? Tidak ada satu pun yang benar-benar tumbuh subur.

    Begitulah hidup kita.

    Energi, waktu, perhatian, dan sumber daya tersebar ke mana-mana sampai akhirnya tidak ada satu tujuan pun yang benar-benar tercapai.

    Di situlah buku The 4 Disciplines of Execution karya Chris McChesney, Sean Covey, dan Jim Huling memberikan tamparan yang menyegarkan. Buku ini bukan mengajarkan cara bekerja lebih keras, melainkan cara mengeksekusi hal yang paling penting di tengah kesibukan sehari-hari.

    Menurut saya, pelajarannya relevan bukan hanya untuk perusahaan besar, tetapi juga untuk karier individu, bisnis kecil, bahkan kehidupan pribadi.

    (more…)


  • Bekerja Keras Saja Tidak Cukup: Inilah Alasan Banyak Orang Hebat Tetap Gag

    “Kalau besok pagi Anda kehilangan pekerjaan, siapa orang pertama yang akan menelepon dan berkata, ‘Saya punya peluang untuk Anda’?”

    Pertanyaan itu terdengar sederhana.

    Tapi justru di situlah letak masalahnya.

    Banyak dari kita menghabiskan puluhan tahun untuk belajar, mengejar IPK tinggi, mengambil sertifikasi, mengikuti pelatihan, bahkan lembur sampai larut malam. Kita percaya bahwa kalau bekerja cukup keras, dunia akan memberi penghargaan yang setimpal.

    Sayangnya…

    Dunia nyata tidak selalu bekerja seperti itu.

    Ada orang yang kemampuannya biasa saja, tetapi kariernya melesat. Ada pebisnis yang produknya tidak jauh lebih unggul, tetapi kliennya mengalir tanpa henti. Ada profesional yang selalu mendapat kesempatan berbicara, diajak kolaborasi, atau direkomendasikan untuk posisi strategis.

    Kenapa?

    Apakah mereka lebih pintar?

    Belum tentu.

    Sering kali jawabannya jauh lebih sederhana:

    Mereka dikenal. Mereka dipercaya. Mereka punya jaringan yang kuat. 

    (more…)


  • Pelajaran Termahal dari McKinsey: Jangan Pernah Menyelesaikan Masalah yang Salah.

    “Bagaimana kalau selama ini yang salah bukan solusi Anda, melainkan pertanyaan yang Anda ajukan?”

    Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi efeknya bisa menampar siapa saja.

    Bayangkan seseorang mengeluh mobilnya selalu boros bensin. Ia mengganti oli, membeli aditif mahal, bahkan mengganti ban premium. Namun ternyata masalah utamanya hanyalah rem yang terus menahan roda sehingga mobil bekerja lebih berat.

    Semua usaha tadi tidak salah. Hanya saja diarahkan pada masalah yang keliru.

    Saya merasa analogi itu sangat mirip dengan kehidupan kita. Banyak orang bekerja lebih keras, rapat lebih lama, menambah karyawan, membeli teknologi baru, atau mengambil sertifikasi demi sertifikasi. Namun hasilnya tetap biasa saja karena akar masalahnya tidak pernah benar-benar disentuh.

    Di situlah saya merasa mendapat tamparan intelektual ketika membaca The McKinsey Mind. Buku ini bukan sekadar membahas dunia konsultansi. Buku ini mengajarkan sebuah cara berpikir yang bisa mengubah bagaimana kita mengambil keputusan dalam pekerjaan, membangun bisnis, bahkan menjalani hidup.

    Yang menarik, ternyata kehebatan konsultan top dunia bukan karena mereka selalu punya jawaban. Mereka justru luar biasa dalam mendefinisikan masalah.

    (more…)