Stories

  • Trade Off

    “Tuhan Maha Adil”. Ungkapan ini begitu klise. Karena dimanapun semua orang juga sudah tahu. Kalau kata teman-teman nongkrong saya di Jakarta, “biasa aja kaleeee . . .”.

    Lantas, bila sudah menjadi rahasia umum mengapa saya tulis di sini? Well, akhir tahun ini saya memang menarik benang merah dari apa yang saya alami di sepanjang 2016.

    Memang, masih ada lesson-learned lain yang tak kalah penting. Namun, kalau dipikir-pikir lagi saya rasa “Trade Off” yang paling mewakili. Lah, apa dasarnya?

    Sederhana saja sih. Dalam hidup kita tidak mungkin akan mendapatkan semua hal dalam satu waktu. Karena kesempurnaan katanya hanya milik Gusti Allah.

    Taruh saja kehidupan para artis. Kurang apa sih mereka? Tenar ya. Berkecukupan? So pasti. Sehat wal’afiat?  Belum tentu. Harmonis rumah tangganya? Perlu dipertanyakan deh. Bandingkan dengan pejabat kelas kakap yang tengah korup. Berkuasa? Yes. Bergelimang harta? Ya dong karena “merampok uang rakyat”. Apakah hidupnya bahagia? Mungkin tidak karena sewaktu-waktu amal perbuatannya terbongkar.

    Walaupun tak apple-to-apple, saya bisa juga membandingkan kehidupan orang Jabodetabek dengan orang Bintan – tempat saya menghabiskan masa Sabbatical belakangan. Kelompok pertama lebih unggul secara finansial, stres berlama-lama terjebak macet, pergi ke pusat perbelanjaan, membeli barang-barang bermerek, dan pelesiran ke luar negeri untuk tangkal stres. Kelompok kedua mungkin pendapatannya tak seberapa, tak (atau belum) pernah merasakan macet, masih bisa hidup seimbang (olahraga, kumpul dengan keluarga dan ibadah) terjaga. Kedua kelompok memang tidak absolut seperti itu karakteristiknya. Tapi mungkin itu mewakili gambaran umum.

    Begitulah trade off. Dengan caranya, Tuhan memberikan keadilan bagi setiap orang. Ada yang diunggulkan finansialnya, ada yang dilebihkan keluangan waktunya, ada yang dijamin kesehatannya, ada yang oke spiritualnya, ada yang lebih baik modal sosialnya, ada pula yang mendapatkan semuanya dalam satu waktu – kendati hampir mustahil.

    So, hidup memang trade off. Karena bermuara kepada pilihan. Mau dibawa kemana hidup kita? Ya, bergantung pilihan masing-masing. Mau dipakai untuk apa hidup ini? Ya, kembali ke pilihan pribadi. Mau dimaknai seperti apa hidup ini? Ya, setiap hati dan kepala memiliki jawaban yang saling sahut-menyahut.

    Bagaimanapun hidup kita saat ini, jalani saja! Karena bahagia atau tidaknya hidup ini ialah pilihan. Kita tidak bisa mengendalikan atau menolak apa yang akan terjadi kepada kita. Tapi kita bisa mengendalikan cara kita menyikapinya. So, enjoy your trade off!

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Bintan, 29 Desember 2016


  • Apa Pelajaran Selama Masa Sabbatical?

    Sepanjang 2016 hidup saya bak drama. Betapa tidak. Rutinitas 9-5 tiada. Tiada bos, tiada bawahan. Yang ada hanyalah menjadi anak bolang. Seorang yang dengan sadar memilih untuk jeda sejenak dari hiruk-pikuk kejar-mengejar target hidup.

    Itulah Sabbatical. Satu pengalaman yang mungkin tidak terulang dua kali. Satu episode perjalanan yang sarat dengan hikmah.

    Lantas, apa yang kamu dapat Mas Agung? Bukannya kamu buang-buang waktu dan uang saja? Nggak sayang tuh tidak bekerja selama setahun?

    Heiiii, hidup memang butuh uang. Tapi bukan berarti semua aktivitas kita bisa dinilai dengan uang toh?

    Oke deh. Kali ini saya beberkan apa saja sih yang saya pelajari selama masa jeda. Yuk mareee …..

     

    Baca juga: Mau Jalani Sabbatical? Pikir-Pikir Dulu Deh . . .  *** Apa Yang Saya Lakukan Selama Masa Sabbatical?

    Hidup Adalah Perjalanan

    Klise sekali bukan? Yes, apa boleh buat. Begitulah kenyataannya. Manusia bisa berencana sekece badai apapun. Tapi toh kita nggak akan tahu persis apa yang benar-benar mengisi setiap episode hidup ini. Yang paling simple deh, bisa nggak lho menentukan kapan waktu lahir dan mati, nikah dan beranak, atau menghindari sakit? Mungkin merencanakan bisa aja ya. Tapi, hasil bukanlah wewenang kita.

    Seperti saya sendiri. 2016 ini harusnya saya sudah berada di negeri orang. Bergumul dengan buku dan jurnal lagi dalam misi Strata Tiga jika dicocokkan dengan rencana 2015.  Kenyataannya, saya justru mengurungkan niat untuk sekolah lagi karena satu dan lain hal. Hanya ikhlas yang menjadi obat untuk bahagia di titik  ini.

     

    Waktu Takkan Pernah Terbeli

    Yes, Tuhan paling adil kalau yang satu ini. Siapapun diberi jatah waktu yang sama. Satu hari ada 24 jam kan? Mana ada orang yang hanya diberi 20 jam atau 12 jam hanya karena Tuhan marah kepada mereka? Ehhehehe.

    Eh beneran deh. Waktu itu mahal sob. Makin banyak urusan, makin tinggi jabatan, makin besar pengaruh; waktu berasa begitu kurang.

    So, buat setiap detik bermakna dalam hidupmu. Apapun rencana, target, dan tujuan hidupmu. Karena waktu yang telah berlalu nggak akan bisa diputar ulang. Lantaran waktu nggak bisa dibeli. Misal gini deh, lho ditakdirkan Tuhan di usia 90 tahun. Sebanyak apapun uang yang kau miliki mana bisa lho membeli 1 atau 5 tahun untuk menunda kematian? Ya kali . . . . .

     

    Hidup Adalah Pilihan

    Setiap saat kita dihadapkan pada pilihan. Entah dari yang remeh temeh seperti mau makan apa, mau rapat jam berapa, atau mau pakai baju apa di pesta. Hingga urusan njlimet sekelas menentukan pekerjaan, rumah, dan jodoh. Kenyataannya, hidup memang serangkaian dari pilihan yang seakan tak berujung.

     

    Tujuan Hidup Itu Kompas

    Hidup ini singkat saudara-saudara. Kita nggak akan pernah tahu di usia berapa Tuhan mencabut nyawa ini. So, kalau mau hidupmu bermakna ya harus tahu tujuan hidup. Jika tidak ada tujuan, hidup kita akan “muter-muter” saja bak benang kusut.

    Misalnya gini deh. Lho sekarang lagi ada di Kota Jakarta. Lagi bingung nih mau balik ke mana. Sampai 1 abad pun lo akan muter-muter di Jakarta jika tak tahu arah pulang. Berbeda ceritanya jika lo udah mantap mau pulang ke Surabaya. Cara menuju ke Kota Pahlawan bisa via udara, darat, dan laut. Lewat darat pun masih bisa memilih dengan mobil pribadi, kereta api, jalan kaki, bus, hingga sepeda motor.

    Jadi, nggak berlebihan kan kalau tujuan hidup itu seperti kompas? Ya penunjuk arah ketika kita tersesat. Ia menjadi cahaya ketika kita berada dalam kegelapan. Ia menjadi energi ketika kita sedang terpuruk. Ia penunjuk jalan yang mengantarkan langkah-langkah kecil kita setiap hari.

     

    Bahagia Itu Sederhana

    Sebenarnya apa sih yang kita cari di dunia ini? Kita rela banget capek macet-macetan di jalan hingga berjam-jam. Di akhir pekan, tak jarang kita masih kejar setoran agar bisa lebih cepat memiliki A, agar bisa mencapai X, agar bisa mencapai G. Kita seringkali menggadaikan waktu-waktu emas bersama keluarga hanya untuk mengejar angan-angan yang seperti tak ada ujungnya. Apa sih yang kita mau sebenarnya?

    Golongan Satu mungkin sekarang berapi-api ingin bebas secara finansial. Karena menurut mereka jika harta sudah mencapai titik tertentu, mereka tinggal ongkang-ongkang kaki, kipas-kipas cantik sambil, berleha-leha di pantai sambil minum bir? Sesederhana itukah? Kayaknya nggak deh. Saya nggak percaya tuh dengan “kebebasan finansial”. Karena setajir apapun orang, nggak ada tuh ceritanya menganggur. Nggak ada tuh kata malas. Yang ada mereka bergerak, apapun yang dikerjakan.

    Sama seperti Bapak saya deh. Di usianya yang sudah mendekati 70, harusnya beliau nggak usah ngoyo. Diam saja di rumah. Tapi faktanya, beliau sebaliknya. Bekerja ialah panggilan hidupnya. Jadi mau bagaimanapun tiap saat harus ada yang dilakukan. Setali tiga uang dengan donor S1 saya. Beliau adalah salah satu dari 30 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Dengan pencapaian itu, mungkin kita pikir dia hanya menikmati masa tuanya dengan males-malesan di kasur, tidur-tiduran di pantai, atau foya-foya menghabiskan uangnya yang nggak terhitung jumlahnya. Kenyataannya tidak. Justru beliau makin rajin berderma. Menyumbangkan rizkinya untuk amal. Memberi beasiswa, menyantuni kaum miskin, dan memajukan gurita bisnisnya.

    So, omong kosong deh kalau bahagia itu mahal. Karena yang sebenarnya justru sebaliknya. Bahagia begitu sederhana. Nikmati aja apa yang kamu miliki sekarang. Nikmati saja peran kamu sekarang. Nikmati saja perjalanan hidupmu sekarang. Nggak perlu menunggu mencapai ini itu, memiliki ABC, atau menduduki kursi XYZ.

     

    Kunci Sukses

    Yes, setiap orang saya yakin pasti mau sukses. Lihat saja sejak kecil kita sudah bersaing ketat untuk meraih peringkat pertama di kelas. Menjadi yang terbaik! Ketika menjadi karyawan, berjuang mati-matian agar bisa segera naik ke level CEO. Ketika bisnis sendiri, kita berambisi seperti api agar usaha makin menggurita dengan keuntungan tak terbatas.

    Singkat kata, detik demi detik kita seperti dalam perlombaan. Seperti kesetanan dikejar anjing galak di tengah hutan rimba. Ya kali . . .

    Manusiawi memang. Setiap individu menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Entah kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan.

    Masalahnya, apa sih sukses itu? “Makanan” macam apa tuh? Apakah definisi suksesku sama dengan suksesmu? Apa parameter sukses?

    Yes, kunci sukses itu satu teman-teman. Menjadi diri sendiri. Bagi saya, sukses ialah ketika dari waktu ke waktu kita makin menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat kepada sesama, lebih menciptakan dampak positif, lebih dapat memberikan nilai tambah. Dan tentunya menjadi seseorang yang dari hari ke hari makin dicintai oleh Tuhan.

    Itu artinya apa? Sukses nggak perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain. Nggak ada parameter universalnya. Sukses adalah perjalanan hidup kita itu sendiri. Bagaimanapun alur ceritanya.

     

    Pada akhirnya, Sabbatical merupakan salah satu keputusan terbaik di usia 20an saya ini. Memang ya sih, ia tidak menawarkan materi yang berlimpah. Tidak pula menawarkan gaya hidup yang glamor. Tapi ia mengajarkan makna hidup nan hakiki. Juga menunjukkan kompas hidup  yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah.

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Bintan, 3 Desember 2016


  • Jadi, Kamu Pilih Jurusan HI?

    Memilih jurusan kuliah mungkin bagi sebagian orang remeh-temeh saja. Sesederhana memilih kostum untuk pesta, destinasi plesiran, atau nongki-nongki cantik. Tapi bagi sebagian yang lain, justru sebaliknya. Jurusan kuliah dianggap sebagai “kunci ajaib” yang mengantarkannya kepada profesi tertentu. Tidak sedikit yang tidak mau ambil pusing. Pilih saja salah satu, toh apapun jurusannya memiliki peluang yang sama untuk bisa menjadi “cetar badai” di kemudian hari.
     
    Apapun pendapatnya, sah-sah saja. Karena setiap orang memiliki mindset, values, asa, dan tujuan hidup masing-masing to?
     
    Cerita sederhana yang terangkum dalam buku ini sengaja saya tulis untuk adik-adik yang ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Di dalamnya, saya beberkan dari A ke Z mengenai jurusan yang “katanya” cukup favorit itu. Mulai dari kurikulum, dinamika organisasi kemahasiswaan, KKN, magang, tugas akhir, prospek pekerjaan, networking, ‘go international’, dan panduan mengenali jati diri berbasis multipendekatan (Self-Help). Oh ya, juga ada kurasi profil para alumni kenamaan lintas generasi, lintas perguruan tinggi, dan lintas profesi. Dari Menteri, Artis, Pesulap, Penulis, Pengusaha, Aktivis NGO, Diplomat, Bankir, Bupati, Grafolog, Coach, Sociopreneur, dan seterusnya
     
    Buku ini sama sekali bukan untuk menggurui. Hanya secercah cerita dari orang yang pernah mengalami lebih dulu. Informasi yang diberikan pun berimbang, tidak berat sebelah. Gaya bahasa yang dipakai juga “lo, gue”. Dibumbui dengan inspirasi dari para alumni HI yang kece dengan berbagai rahasia kesuksesannya, buku ini sangat recommended sebagai bacaan selingan untuk:
    1. Calon mahasiswa yang lagi galau bin kepo untuk memilih HI
    2. Mahasiswa dan dosen HI di seluruh Indonesia
    3. Para alumni HI yang ingin mengenang masa kuliahnya
    4. Guru Bimbingan Konseling (BK) dan Wali Kelas SMA/MA sederajat
    5. Pencari kebijaksanaan dimanapun berada

     

    Apa kata mereka?

    “International relations: Master something about everything, vs master everything about something. In life and work, I prefer the first.”

    (Daniel Tumiwa – CEO OLX Indonesia)

     

    “Hubungan Internasional sebagai sebuah disiplin ilmu telah menempati posisi penting dan strategis tidak hanya dalam dunia akademik tetapi juga praktis. Keseharian kita hampir tidak mungkin terlepas dari fenomena hubungan internasional dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia hingga aktualisasi diri dalam berkontribusi bagi peradaban. Buku ini membuka kesadaran dan pemahaman Anda atas pilihan hidup yang tepat dengan memilih Hubungan Internasional.”
    (Prof. Dr. Tirta N. Mursitama Ph.D – Ketua Departemen Hubungan Internasional Binus University, Ketua Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia).

     

    “Belajar Hubungan Internasional di UGM memberi saya pijakan untuk memahami berbagai isu dalam masyarakat dalam kerangka politik nasional, regional, maupun global. Kini sebagai novelis dan pendiri ASEAN Literary Festival, saya mengawinkan dua hal yang telah membentuk saya: ilmu hubungan internasional dan sastra. Buku ini akan menjadi pengantar yang menarik bagi siapapun yang ingin tahu tentang ilmu hubungan internasional dan sumbangan alumninya pada masyarakat.”

    (Okky Madasari – Penulis Novel Best Seller)

     

    “Berbicara bidang studi memang cenderung kering. Dunia akademis memang tidak mudah dicerna. Buku ini berbeda, karena meskipun topiknya akademik, tetapi yang dibahas justru manusianya. Kalau bicara manusia, apalagi dengan pengalaman yang nyata, maka siapapun pasti tertarik untuk membacanya. Perspektif terhadap program studi Hubungan Internasional memang cenderung abstrak, karena memang prodi ini tidak fokus sejak awal. Cerita mengenai “orang-orang HI” tentu berbeda, karena dia bisa saja tetangga sebelah, teman main futsal, atau kolega bisnis. Jadi apa dan siapa mereka, buku ini pasti memuaskan rasa ‘kepo’ kita.”

    (Ir. Totok Amin Soefijanto, MA, Ed.D – Deputi Rektor Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina)

     

    “Masa kuliah boleh dikatakan sebagai masa paling penting dalam pengembangan diri setiap individu. Pada titik ini, siapa saja bisa bertransformasi sesuai yang diinginkan. Buku ini wajib dimiliki oleh setiap mahasiswa hubungan internasional yang berani membuat perbedaan.“

    (Muhammad Dudi Hari Saputra – Wasekjend DPD KNPI Kalimantan Timur)

     

    “Saya percaya Mas Agung adalah orang yang merangkak dari bawah mengenali sesuatu, tekun mencerna, dan sungguh-sungguh menjalani pengenyaman akademisnya. Perjuangan yang lebih besar dibandingkan orang kebanyakan mengantarkannya menjadi pribadi yang lengkap, berpengalaman, dan layak menjadi dosen yang sanggup memberikan ilmu afektif, kognitif, dan pengajaran berbagai dinamika terbaru politik internasional dari berbagai sudut pandang. Buku ini menyampaikan apa yang juga saya rasakan: memilih HI dan melihat realita yang ada, tidak perlu berkecil hati dengan keilmuan lain. Pengabdian atas keilmuan HI bisa dilakukan di begitu banyak lini kehidupan, sejauh bagaimana tiap-tiap insan HI menjalani perkuliahannya.”

    (Adi Mulia Pradana – Assistant Manager Operations Aleph-Labs; Co-founder Wikidpr.org)

     

    Ku persembahkan buku sederhana ini untuk Ayahanda Theodore Permadi Rachmat (Founder Triputra Group, Mantan CEO Astra Internasional) yang telah mendonasikan sebagian rizkinya sehingga saya bisa mencicipi bangku kuliah di Universitas Paramadina.

     

    For more info:

    +62 852 3050 4735 (Whatsapp/Line/Call/SMS) – grandsaint@gmail.com

     


  • Apa Yang Saya Lakukan Selama Masa Sabbatical?

    30 Desember 2015 menjadi awal petualangan saya. Di hari itu, untuk kesekian kalinya saya berpisah dengan orang-orang terbaik di lingkaran pekerjaan. Ada perasaan gembira, sedih, bangga, puas, jatuh, kecewa, takut, gamang, sekaligus bebas. Ibarat pancaroba, babak kehidupan saya berikutnya resmi dimulai.

    Sabbatical memang telah saya rencanakan. Mengambil jeda setelah bertahun-tahun kuliah dan kerja. Menikmati petulangan yang sarat dengan ketidakpastian dan kejutan. Kedengarannya menarik ya liburan berhari-hari bahkan berbulan-bulan? Kenyataan tidak selamanya demikian.

    Lalu, apa aja yang lho lakuin Mas Agung? Ada banyak. Buaanyakkkk. Jika disebutkan, ada beberapa kegiatan utama:

    Pertama, traveling. Ini mah nggak usah diomongin lagi ya.  Di masa ini saya berkesempatan menjelajahi beberapa pulau cantik Indonesia. Tak tanggung-tanggung ada banyak pulau yang saya singgahi. Bertemu dengan orang-orang baru di jalanan. Mencicipi kulinernya. Dan tentu saja menghadapi hal-hal di luar dugaan yang mendewasakan.

    Kedua, research. Kedengarannya berat sekali kan melakukan riset? Tapi tunggu dulu. Riset yang saya lakukan saya buat semenarik mungkin. Lagian juga dari, oleh, dan untuk saya. Apa gunanya dibuat garing?

    Ketiga, networking. Yes, ini tak boleh dilewatkan. Kendati nggak terikat dengan pekerjaan bukan berarti membina hubungan manusia terhenti. Itu mah bukan tipe saya. Di masa ini saya memiliki privilege untuk bertemu orang dari berbagai kalangan. Mulai dari panglima TNI, menteri, motivator, rektor, pengusaha, CEO, profesional PR, Ketua DPRD, petani, nelayan, pedagang asongan, pemulung, pengemis, suhu pemasaran, agen asuransi, agen properti, polisi, kuli bangunan, karyawan pabrik, supir, Office Boy, pembantu rumah tangga, dan masih banyak lagi. Saya anggap mereka semua guru saya dalam kehidupan. Makanya saya mau bertemu hehe.

    Keempat, spirituality. Nggak boleh terlewatkan ini mah. Ketika runitinas normal ditinggalkan, mencari ketenangan bathin sudah tidak bisa ditawar lagi. Ini pengalaman yang mungkin paling dramatis dalam hidup ketika saya harus up and down mencari jati diri untuk “berkenalan dengan Tuhan”. Singkat katanya sih memperbaiki dirilah. Kembali ke “jalan yang benar” lagi. Kalau boleh jujur, ini merupakan pengalaman paling berharga di masa Sabbatical mengalahkan atribut pencapaian duniawi lainnya.

    Kelima, reading. Yup, saya menghabiskan hampir 1000 buku terbitan Barat dan lokal di masa ini. Semua bacaan saya lahap. Genre apapun. Dari yang serius banget sampai yang nggak penting.

    Keenam, family gathering. Saya berkumpul dengan orang tua dengan rekor terlama sejak saya pertama merantau. Biasanya kalau liburan paling lama satu atau dua minggu. Ini mah lama banget. Jadi nostalgia masa kecil deh. Kapan lagi bisa ada waktu berlama-lama di rumah kalau nggak pas Sabbatical?

    Ketujuh, volunteering.  Mungkin kalau ketika di hari biasa terlalalu disibukkan dan dipusingkan dengan rutinitas, masa jeda harus dimanfaatkan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Salah satunya dengan menjadi sukarelawan. Apapun bidangnya. Saya sendiri melakukan beberapa hal sekaligus.

    Kedelapan, contemplating. Yang  ini mah nggak usah ditanya. Semua orang yang menjalani career break, dengan sendirinya pasti berkontemplasi. Memperbanyak me time. Meningkatkan “interaksi” dengan diri sendiri. Membuat rencana-rencana aksi ketika sudah kembali ke “kehidupan normal”

    Kesembilan, projects. Rugi banget kalau ambil masa jeda tapi do nothing. Nah, mending emang fokus mengerjakan proyek yang sesuai dengan hati. Jangan terlalu mikirin Rupiah deh. Kalau kita ngerjain dengan hati, biasanya kan hasil nggak menghianati usaha to?

     

    Di luar sembilan hal di atas, masih ada beberapa kegiatan minor yang mengisi sela-sela waktu. Semuanya saling mendukung untuk self-discovery, mewujudkan personal fulfillment, dan mereguk kedamaian bathin yang tak mudah tereguk. Jadi kalau ditanya apakah menyesal atau tidak mengambil Sabbatical, jawaban saya TIDAK!  Selamat mencoba sendiri kawan.

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Bintan, 23 Oktober 2016

     


  • Wayang Kehidupan

    Akhir tahun 2015 saya memberanikan diri untuk mengambil keputusan ‘tidak populer’. Buah dari itu, sejak 1 Januari 2016 saya menjalani masa Sabbatical. Suatu fase yang mungkin belum begitu populer di Indonesia dibandingkan dengan di negara-negara semakmur Amerika Serikat, Kanada, Inggris, ataupun Australia.

    Selain menyempatkan diri untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, bertemu dengan orang-orang baru, bersilaturrahmi dengan teman lama, giat berolahraga, dan rutin melakukan meditasi; saya pun sangat intens berhari-hari “hibernasi” di perpustakaan sekelas Center for Strategic and International Studies  (CSIS). Pilihan untuk berlama-lama di CSIS bukanlah tanpa alasan. Tempat ini hanya memakan waktu 3 menit berjalan kaki dari rumah. Koleksi bacaannya super lengkap. Akses transportasi ke dalam atau luar kota mudah. Menjangkau makanan dan minuman apalagi. Mushala pun tersedia. Dan terpenting, sangat kondusif untuk menenangkan diri.

    Berhari-hari ‘hibernasi’ di CSIS saya manfaatkan sebaik-baiknya. Tidak hanya menambah ‘gizi’ untuk persiapan PhD saja, akan tetapi juga melahap puluhan (atau ratusan) buku biografi. Jenis bacaan yang paling saya butuhkan di masa jeda.

    Tokoh yang saya ‘korek’ perjalanan hidupnya, tidak hanya tokoh-tokoh nasional. Tapi juga tokoh internasional. Baik negarawan, taipan, cendekiawan, professional, pembela hukum, pejuang, aktivis sosial, analis politik, tokoh militer, dan sebagainya.

    Setiap sosok tentu saja memberikan pelajaran masing-masing bagi saya. Entah dari sisi kepribadian, profesionalisme, hingga spiritual.

    Dari buku-buku biografi tersebut saya belajar untuk Connecting the dots. Rupanya, pencapaian yang dilalui oleh setiap tokoh di puncak karirnya tidak dapat dilepaskan dari masa lalunya. Hal itu mencakup gaya didikan orang tua, pengaruh budaya di masa kecil, pendidikan, tempaan masalah, komunitas yang dimasuki, orang-orang yang pernah ditemui, nilai-nilai yang dipegang hingga tujuan hidup.

    Jika direnungkan lebih dalam, perjalanan setiap anak manusia tidak lebih dari hubungan dalang-wayang. Dalam konteks ini, dalang dianalogikan sebagai Sang Pemberi Kehidupan. Sedangkan wayang diibaratkan manusia itu sendiri. Dalang memiliki power untuk menentukan alur cerita wayang selama “permainan”. Sedangkan wayang mau tidak mau ‘mengikuti’ apa yang ditakdirkan dalang.

    Bagi orang Jawa, wayang merupakan lambang yang disebut dengan pasemon. Pasemon dalam konteks ini terdapat dalam alur cerita, penokohan, hingga eksistensinya.  Wayang pun bermakna wewayangan yang berarti wewayanganing ngaurip (bayangan kehidupan). Oleh karenanya, wayang dapat bergerak, berbicara, atau berbuat karena ada dalang yang melakukannya. Singkat kata, wayang hanya sak dermo nglakoni apa yang dilakukan dalang.

    Dalang kira-kira dapat diartikan sebagai Ngudal piwulang. Ngudal berarti menguraikan, sedangkan piwulang berarti nasehat atau pelajaran. Sehingga dalang bermakna seseorang yang menguraikan nasehat melalui media wayang.

    Pagelaran wayang biasanya tidak terjadi begitu saja. Selalu ada yang “punya gawe”. Si dalang diberi wewenang untuk mementaskan wayang, dan penyelenggara tidak dapat mengintervensi permainan. Hal ini mungkin bermakna bahwa kebebasan berpikir manusia terbatas, sehingga tak akan dapat meramalkan apa yang terjadi.

    Namun dalam permainan ini, wayang bukan sama sekali powerless. Ia diberi ‘kekuatan lebih’ untuk mewarnai jalannya cerita. Dengan kata lain, dalang hanya menentukan script  secara umum. Wayang berkesempatan untuk  memutuskan alur permainan serinci-rincinya.

    Manusia memang dapat diibaratkan laksana wayang. Tetapi, manusia bukanlah wayang. Manusia diberi jasad, hati, roh, dan rasa untuk bersikap maupun bertindak sesuka hati. Wayang 100% tunduk dengan perintah si dalang. Dalam kehidupan, Tuhan sebatas memberikan petunjuk untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Mana perbuatan  yang menjadi jalan surga atau neraka.

    Dari sebuah pagelaran wayang kita dapat menarik sebuah benang merah. Bahwasannya wayang, dalang, dan “yang punya hajat” merupakan simbol dari manusia, roh, dan Tuhan. Wayang tidak lebih dari manusia yang hanya hidup apabila ada dalang sebagai roh, dan kehidupan ada lantaran diciptakan oleh yang punya hajat yaitu Tuhan.

    Kita adalah wayang kehidupan yang terus bergerak mengikuti lakon dari dalang. Kita adalah wayang kehidupan yang kadang-kadang (atau sering) powerless untuk memaksa dalang mengubah alur cerita. Ya, begitulah kehidupan di alam dunia nan fana ini.

    “A human being always acts and feels and performs in accordance with what he imagines to be true about himself and his environment…For imagination sets the goal ‘picture’ which our automatic mechanism works on. We act, or fail to act, not because of ‘will,’ as is so commonly believed, but because of imagination.”
    ― Maxwell MaltzNew Psycho-Cybernetics

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Gambir – Jakarta Pusat, 26 Februari 2016


  • Jangan Jadi Meteor

    Tabik.

     Look at the sky. We are not alone. The whole universe is friendly to us and conspires only to give the best to those who dream and work. ~ A. P. J. Abdul Kalam

    Pada 10 Februari 2016 lalu saya berkesempatan untuk membuka relasi dengan dua tokoh kenamaan. Pertama, dengan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) yang saat ini merupakan salah satu pengamat dan penulis penerbangan terpopuler. Kedua, dengan salah satu rektor perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan yang menamatkan doktoralnya di Amerika Utara.

    Sejatinya kedua tokoh tersebut memiliki banyak cerita yang dapat diulas di blog ini. Karena pertimbangan urgensi, kali ini saya hanya mengulas sedikit dari apa yang saya pelajari dari tokoh pertama. Maklum, saya kira rektor manapun relatif lebih mudah untuk dihubungi dan diajak bekerjasama. Namun, sepertinya – setidaknya menurut kacamata saya – tidak semua tokoh militer demikian.

    Beralamatkan di salah satu gedung di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan pagi itu saya beruntung untuk menemui tokoh militer tersebut. Sebut saja namanya Bapak Elang. Setelah beberapa saat saya ‘diajak’ mengenang masa kecilnya, tibalah saya diceritakan bagaimana ‘drama’ perjalanan beliau berkarir di dunia militer hingga mencapai puncaknya.

    Elang tidak hanya menyadarkan pentingnya sebuah negara memperkuat manajemen pertahanan udaranya, akan tetapi juga berhasil memancing keingintahuan saya dalam bidang penerbangan. Nampaknya jiwa penerbangan beliau sudah mendarah daging. Hal itu tampak dari bagaimana beliau bertutur, karya apa saja yang telah ditelurkan, pencapaian apa yang telah diraih, sejauh mana kepuasan batin yang telah direguk, hingga seberapa besar penghargaan publik dengan karyanya.

    Sepertinya tidak cukup menuliskan sebanyak sepuluh halaman untuk mengulas hikmah yang saya dapatkan dari Elang. Karena beliau membeberkan filosofi, konsep, hingga praktek ranah militer – khususnya penerbangan. Uniknya, segalanya dapat disambungkan dalam kehidupan sehar-hari untuk penduduk sipil.

    Salah satu poin yang saya ingat dari Elang adalah agar kita jangan menjadi sebuah meteor. Maksudnya? Mungkin ingatan Anda langsung melayang ke pelajaran Astronomi di bangku SMA. Bisa jadi Anda menghubungkannya dengan tata surya, galaksi, planet, atau apapun itu namanya. Karena, toh memang terkait.

    Secara sederhana, meteor dapat dilukiskan sebagai benda langit yang masuk ke wilayah bumi yang mengakibatkan adanya gesekan permukaan meteor dengan udara dalam kecepatan tinggi. Gesekan tersebut menimbulkan pijaran api dan cahaya yang dari kejauhan nampak laksana ‘bintang jatuh’. Menurut para ahli, tidak semua meteor sampai ke bumi lantaran sudah habis terbakar pada saat bergesekan dengan atmosfer. Itu kenapa meteor yang berhasil menginjak bumi disebut meteorid.

    Lantas, apa hubungannya dengan diri kita? Bapak Elang menganjurkan agar diri ini tidak menjadi seperti meteor. Apa pasal?

    Karena meteor tidak memiliki orbit. Pun tidak memiliki periode ‘kunjungan’ tetap ke bumi. Benda ini tidak memiliki aturan.

    Sebaliknya, beliau menyarankan agar setiap individu ‘meneladani’ planet atau bintang. Planet adalah benda langit yang secara beraturan mengelilingi bintang sebagai pusat tata surya. Sedangkan bintang adalah benda luar angkasa berukuran besar yang mampu memancarkan cahaya sendiri.

    Dalam konteks berkehidupan, baik planet maupun bintang memiliki orbit. Keduanya memiliki positioning. Keduanya memiliki diferensiasi yang kuat. Keduanya memiliki peran dan fungsi yang jelas. Sehingga kehadirannya dapat dirasakan oleh orang-orang sekelilingnya. Jangan jadi meteor!

     “When positioning a brand, aggressively avoid becoming a “me too” by assertively being a “who else?”
    ― Crystal Black Davis

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Gambir – Jakarta Pusat, 11 Februari 2016