Stories

  • Win-Win

    Dalam hidup ini, perbedaan pandangan akan selalu ada. Apapun topiknya, setiap individu memiliki pandangan masing-masing terhadap suatu hal.
    Pandangan bisa dihubungkan dengan persepsi. Sebuah elemen yang dipengaruhi oleh nilai-nilai, keyakinan dan pengalaman masa lalu.
    Ketidakmampuan mengelola perbedaan menjadi sumber petak yang tak berkesudahan. Konflik antarsuku, perang antarnegara, pertengkaran antarsahabat hingga perceraian dalam biduk rumah tangga.
    Kita mengenal pendekatan Win-Win. Artinya, kedua belah pihak yang bertentangan pandangan sama-sama menyepakati sebuah solusi. Masing-masing merasa “menang”. Tidak ada yang merasa dirugikan.
    Tentu saja, semua individu mengharapkan yang terbaik jika mendapati masalah. Namun, yang terbaik menurut siapa? X, Y, atau Z?
    Di sinilah kepekaan berperan. Kita tidak serta merta menilai orang hitam putih, benar salah, atau baik buruk. Karena setiap insan memiliki versinya masing-masing.
    Bagaimana cara mencapai Win-Win? Tentu melalui tahap-tahap komunikasi yang tidak mudah. Mungkin prosesnya bisa menguras emosi. Namun, demi kebaikan tetap harus diperjuangkan.
    Apa pasal?”
    Karena dalam hidup, Zero-Sum Game tidak dapat diterapkan dalam keseharian. “Dia menang, saya kalah” atau “Saya menang, dia kalah” tidak bisa lagi menjadi pedoman.
    Akhir kata, saya teringat dengan pesan kakak kandungku ketika menasehatiku baru-baru ini. “Jika kamu dan si X sama-sama mau menang sendiri, sesungguhnya kalian sama-sama kalah”. Untuk itu, kadang salah satu pihak harus legowo untuk mengalah. Untuk mewujudkan apa yang disebut dengan Win-Win.
     
    Agung Setiyo Wibowo
    Mega Kuningan, 30 Agustus 2019

  • Tentang Ketenangan

    Sayur sawi sungguh bergizi

    Juga dengan Mangga Manalagi
    Ayo kawan kenali diri sendiri
    Untuk menjaga kedamaian hati
    Berselancar di Banyuwangi
    Menjelajahi Taman Nasional Baluran
    Hidup itu hanya sekali
    Janganlah sekali-kali menyia-nyiakan
    Mampir sepekan di Tulungagung
    Belanja marmer segala rupa
    Hanya Allah tempat bergantung
    Dari segala urusan dunia
    Buah duku, bunga kemitir
    Buah durian, bunga kamboja
    Tak usah ragu dan khawatir
    Dari ujian di dunia
    Jalan-jalan ke Minahasa
    Lalu berpetualang ke Morowali
    Ingatlah Allah sepanjang masa
    Karena ia tempat kembali
    Makan siang di Tanah Deli
    Lalu tamasya ke Brastagi
    Waktu yang pergi tak pernah kembali
    Buat hidupmu sungguh berarti

  • Menari Dalam Perubahan

    Teman.

    Menurutmu, apa yang pasti dalam kehidupan ini? Apakah kesuksesan, kebahagiaan, kesehatan, ketenaran, kekuasaan atau apa lagi? 

    Jika kamu mengatakan demikian, bolehlah kita berpikir ulang.

    Dalam hidup, tidak ada yang pasti teman. Yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. 

    Perubahan adalah keniscayaan. Masalah silih berganti menyertai kita. Orang-orang pun, datang dan pergi. Satu-satunya kepastiannya adalah keharusan kita untuk “menari” dalam perubahan. 

    Mengapa menari?

    Menari menggambarkan keluwesan, fleksibilitas dan dinamika. Karena disuguhkan untuk menghibur orang lain, sang penari berlenggak-lenggok memberikan sebaik mungkin kemampuannya. Harapannya, penonton pulang dengan hati riang. 

    Bagi sebagian orang, menari identik dengan permainan. Karena dianggap bukan aktivitas primer. Bukankah kehidupan di dunia demikian? Kita hanya bermain sesaat sebelum akhirnya benar-benar kembali kepada Sang Khaliq. Singgah sesaat untuk mengumpulkan bekal demi kehidupan abadi. 

    O ya, menari berlangsung begitu singkat. Aktivitas itu sementara saja. Demikian halnya dengan kehidupan berdunia. Kita diajarkan untuk menjalani kesementaraan ini dengan  keikhlasan.

    Hari ini mungkin kita berlimpah harta, besok bisa jadi tak punya apa-apa. Hari ini mungkin kamu dipuja-puja, besok mungkin dikutuk oleh siapa saja. Hari ini mungkin jabatan melenakanmu, tapi siapa tahu besok justru meresahkanmu. 

    Menarilah teman. 

    Menarilah teman. 

    Perubahan adalah keniscayaan.

    Satu-satunya kepastian dalam hidup adalah ketidapastian itu sendiri. 

    Rayakan dengan tarian. Kenali dirimu. Cintai takdirmu. 

     

    Agung Setiyo Wibowo, 

    Mega Kuningan, 16 Agustus 2019


  • Nrimo Ing Pandum

    “Nerimo ing pandum.” Bagi orang Jawa falsafah ini begitu mengakar kuat dari generasi ke generasi. Tak terkecuali Gen Y seperti saya.

    Secara harfiah, falsafah itu berarti “menerima pemberian-Nya.”  Secara praktik, tidak jauh berbeda maknanya. Kita, manusia mau tidak mau, suka tidak suka, cepat lambat harus menyadari bahwa segala hal yang kita lalui di duni ini adalah semata-mata karena rida-Nya.

    Mungkin, falsafah ini begitu mudah dicerna. Namun, apakah juga mudah dipraktikkan?

    Di dunia yang penuh dengan kompetisi ini, setiap orang – apapun latar belakang pendidikan dan strata sosialnya – seakan-akan dituntut untuk menjadi yang terbaik. Tak mengherankan, mungkin setiap individu terus berpacu dengan ritmenya masing-masing dalam mengejar ambisinya. Entah menumpuk harta, mencari ketenaran, meraih jabatan atau apapun itu sasarannya.

    Apalagi, bagi kalangan terdidik, kita seolah-olah telah dicuci otaknya untuk hanya mengandalkan logika. Oleh karena itu, prinsip seperti  “1 +1 = 2”; “Barang siapa menanam, ia akan memanen”; “Gagal merencanakan sama halnya dengan merencanakan kegagalan” begitu terpatri di benak kita.

    Namun, apalah daya manusia. Apakah segala hal yang diinginkan tercapai? Tidak. Apakah segala sasarannya terpenuhi? Tidak juga.

    Percaya atau tidak, setiap orang memiliki takdir. Karena Sang Hyang telah menetapkan “takaran” pemberian untuk masing-masing hamba-Nya yang konon tak pernah tertukar.

    Nrimo ing pandum mengajarkan kita untuk ikhlas. Untuk menerima apapun pemberian-Nya.

    Kadang-kadang kita diberi “lebih” sehingga membuat kita senang bukan kepalang. Tak jarang kita mendapati sebaliknya yang mendorong kita untuk merasa menjadi orang paling sial.

    Lantas, apa pelajarannya? Hidup ini begitu sederhana. Kita tinggal menjalani, menikmati dan mensyukurinya.

    Itu bukan berarti kita diajarkan untuk pasif. Untuk bermalas-malasan. Atau menunggu.  Sebaliknya, kita diberi tugas untuk mengupayakan, berusaha, berikhtiar. Hasilnya?

    Hasil, pencapaian, atau apa yang kita dapatkan sesungguhnya di luar kontrol diri kita. Dalam Islam, kita hanya dituntut untuk memberikan yang terbaik sebagai wujud kepatuhan kita kepada-Nya. Karena tawakal menjadi keharusan.

    Sekali berarti, setelah itu mati. Lantas, apa yang pantas kita risaukan lagi jika semua adalah titipan-Nya? Mengapa kita terlalu khawatir dengan “pemberian” yang hanya diciptakan untuk menguji kita?

    Selamat berbahagia. Di manapun, sekarang juga.

     

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Karanganyar, 7 Juli 2019


  • Bahan Bakar Itu Bernama Nilai

    Nilai. Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar satu nama itu?

    Mungkin sebagian dari diri Anda menghubungkannya dengan angka. Sebagian lainnya bisa jadi mengaitkannya dengan ukuran. Sisanya barangkali hanya geleng-geleng kepala.

    Nilai yang saya maksud di sini ialah apa yang paling kita anggap penting dalam hidup. Suatu hal yang berkaitan erat dengan kepercayaan, prinsip, dan filosofi hidup pribadi.

    Mengapa nilai begitu penting?

    Karena kita sadari atau tidak, nilai merupakan bahan bakar diri kita. Apa yang kita alami sejauh ini merupakan buah darinya. Nasib kita sekarang pun tak bisa dilepaskan begitu saja darinya.

    Nilai menjadi unsur sentral dalam pengambilan keputusan. Nilai paling memengaruhi kita dalam memprioritaskan apa saja. Nilai mewarnai kita dalam membuat sasaran, target, dan tujuan hidup. Intinya, nilai menunjukkan siapa kita.

    Apakah itu berlebihan?

    Sebelum Sabbatical, saya tidak peduli dengan nilai. Karena dulu saya pikir, apa gunanya sih memikirkan sesuatu yang abstrak? Namun, masalah demi masalah menyadarkan saya betapa pentingnya kita mengetahui jati diri. Dan itu bisa terbantu jika kita mengenali nilai-nilai yang kita pegang.

    Seorang pengusaha yang berani ambil risiko memiliki nilai tidak sama dengan seorang Aparatur Sipil  Negara. Seorang politisi yang haus kekuasaan memiliki nilai berbeda dengan seorang artis yang haus ketenaran. Seorang guru idealis di pedesaan tentu memiliki nilai yang tidak serupa dengan guru di sebuah sekolah internasional di kota besar.

                Derajat kesuksesan setiap individu dipengaruhi oleh nilai. Begitu pun profesi, cara pengambilan keputusan, pola asuh mendidik anak, kepemimpinan, hingga kebahagiaan.

    Jadi, bagaimana dengan diri Anda? Sudahkan Anda mengenal “bahan bakar” yang tersembunyi dalam diri Anda.? Selamat berkelana!

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Depok, 25 Mei 2019


  • Antara Ketakutan dan Harapan

                Setiap orang memiliki masalah masing-masing. Tapi, mengapa tidak semuanya merasakan apa yang disebut dengan kebahagiaan?

    Jawabannya sangat sederhana. Setidaknya dalam perspektif saya.  Beberapa waktu yang lalu misalnya, saya dikejutkan oleh tulisan nyentrik di sebuah badan truk di pinggiran Jakarta. Saya memang lupa bagaimana kalimat persisnya karena ditulis dalam bahasa Jawa.

    Yang pasti, truk tersebut mengingatkan saya akan satu hal yaitu keikhlasan. Apa pasal?

    Karena jika kita mau jujur, ada berapa ratus juta orang yang gagal bahagia karena ketakutan? Takut gagal. Takut bisnisnya bangkrut. Takut kehilangan pekerjaan. Takut tidak lulus ujian. Atau takut masa depan.

    Sebaliknya, ada juga orang-orang yang terlalu berharap dengan masa depan. Mereka terbawa arus halusinasi. Apa pasal? Berharap  memang sah-sah saja. Namun, ketika apa yang kita lakukan semata-mata harapan itu sendiri, biasanya kita akan dihadapkan pada kekecewaan yang mengerikan. Dalam dimensi waktu berikutnya, ini juga bisa memicu penyelasan lantaran harapan tidak sesuai dengan kenyataan.

    Jadi, harus bagaimana dong?

    Ya itu tadi. Ikhlas. Ikhlas. Ikhlas. Hidup ini untuk dijalani saja, kok!

    Hidup tidak cukup untuk dipikirkan. Tapi untuk diisi sebaik mungkin dengan tingkat kepasrahan tertinggi.

    Lakukan saja yang terbaik. Jangan takut melangkah. Jangan terlalu banyak berharap. Itu aja. Sederhana kan?

     

    Mega Kuningan, 10 Mei 2019