Stories

  • Hidup Sejatinya Rangkaian dari Pilih-memilih

    Hidup Sejatinya Rangkaian dari Pilih-memilih

    Bagi Agung Setiyo Wibowo, hidup adalah memilih. Baginya, untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana. ”Hidup sejatinya merupakan rangkaian dari pilih-memilih. Dari urusan yang paling sederhana seperti memilih menu makanan, kostum, dan hangout hingga yang paling rumit seperti jodoh, pekerjaan, dan rumah tinggal. Siapapun yang ingin sukses secara lahir ataupun batin tidak bisa dilepaskan dari urusan memilih. Dan itu semua bermuara pada self-discovery,” ungkapnya ke Bernas (28/4).

    Ya, hidup adalah memilih. Pada 30 Desember 2015, ia memilih mengundurkan diri di sebuah firma konsultansi manajemen ternama di Indonesia. Padahal, posisinya (sekaligus gaji), waktu itu bisa dikatakan sudah lumayan. “Itu mengapa, banyak orang yang menyayangkan keputusan saya yang dianggap ‘tidak populer’. Lalu, apa yang saya lakukan? Saya ingin memenuhi cita-cita saya menjadi seorang Profesor ketika masih kuliah S1. Jadi, terhitung 1 Januari 2016, saya belajar siang dan malam untuk fokus persiapan PhD di Amerika Serikat. Ribuan buku dan jurnal ilmiah saya lahap. Saya mondar-mandir dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain di Ibukota,” ujarnya.

    Saat itu, ia merasa hidup memang tidak selamanya seperti yang kita inginkan. Setelah 6 bulan mati-matian mempersiapkan PhD, hasilnya tidak seperti yang direncanakan. Ia berpikir dengan fokus belajar di perpustakaan bisa mempercepat proses untuk Strata Tiga, tapi kenyataannya tidak demikian. “Jenjang Doktoral berbeda sekali dengan dua jenjang sebelumnya. Jadi, semakin banyak saya baca, semakin bertambah pula kebingungan saya. Mengapa itu terjadi? Karena saya memiliki terlalu banyak alternatif topik  penelitian sehingga, sulit  untuk bisa  yakin dengan satu atau dua Research Question,” jelasnya.

    Ketika itu, dunia seperti kiamat saja. Kepercayaan diri yang sebelumnya setinggi langit, tiba-tiba habis tak tersisa. Ia berada di titik terendah dalam hidup. Bisa dikatakan down dan depresi berat. Ia merasa sudah mengorbankan semua waktu, tenaga, pikiran, dan biaya dari jauh-jauh hari sejak pertama kuliah S1 apalagi sudah mengorbankan diri untuk resign hanya untuk PhD. “Terlebih lagi semua anggota keluarga, sahabat, dan rekan kerja sudah saya beritahu niat saya untuk pergi ke Negeri Paman Sam. Apa kata mereka ketika saya gagal? Saya benar-benar merasa menjadi orang paling gagal. Pesimisme dan pikiran negatif pun menguasai pikiran. Menyalahkan diri, kecewa, dan menyesali diri merupakan sikap yang saya ambil waktu itu,” terangnya.

    Namun, ia tidak ingin berlama-lama dalam kubangan kegalauan. Setelah merasa 6 bulan berjuang untuk PhD tanpa hasil di Jakarta, ia pulang kampung  dengan “beban moral” yang maha berat. Ia pun mengambil jeda sejenak dari hiruk-pikuk ambisi akademik. “Dan Voila . . .saya mendapatkan kesempatan mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Beberapa kampus di Pulau Jawa, hingga di Jayapura, dan Tanjungpinang. Setelah saya renungkan, saya memilih untuk mengajar di Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Karena saya pikir, kota-kota di Pulau Jawa sudah sangat semrawut. Bukan main macetnya. Bukan rahasia lagi betapa sesaknya manusia di situ,” katanya.

    Selanjutnya, yang dilakukan di semester kedua tahun 2016, ia menjadi dosen dan trainer di ibukota provinsi yang kebetulan terletak di Pulau Bintan. “Saya sengaja mengajar untuk mencoba, apakah menjadi dosen merupakan hal yang benar-benar saya inginkan. Di saat yang bersamaan, saya mendirikan Bintan Intitute. Sebuah forum pelatihan yang menyasar kawula muda. Jadi, saya bertindak sebagai pendiri sekaligus Master Trainer. Saya memberikan pelatihan berbagai topik, mulai dari Personality, Self-Discovery, Personal Mastery, Public Speaking, English Proficiency, Leadership, Communications, hingga Writing. Para mahasiswa yang saya latih ternyata sangat antusias. Kepercayaan diri saya pun meningkat berlipat-lipat,” ujarnya.

    Di awal 2017 ini, ia pun mendapati diri dalam titik balik karena merasa lebih menikmati menjadi seorang Trainer daripada Dosen. “Meski saya sadar keduanya sama-sama membagikan ilmu. Meski saya tahu keduanya juga bisa dikatakan sebagai seorang guru. Sebuah profesi yang saya impikan di masa SD,” imbuhnya.

    Di bulan kelahirannya (Februari), ia pun  memilih untuk mengambil keputusan besar. “Rencana untuk menetap di Pulau  Bintan hingga PhD di Amerika saya kubur. Dengan berat hati, saya meninggalkan Tanjungpinang yang begitu cantik alam dan budayanya. Dengan sangat menyesal, saya harus berpisah dengan para mahasiswa dari Negeri Segantang Lada yang saya cintai. Saya kembali meniti mimpi di Jakarta,” tuturnya.

    Baginya, tahun 2016, ia sebut sebagai Sabbatical atau bisa juga dinamakan Gap Year. Sebuah masa jeda untuk pencarian diri. “Sebuah Career Break yang saya habiskan dengan menulis tiga buku, ratusan artikel, traveling, mengajar, dan mencoba hal-hal baru. Sebuah masa yang menyadarkan saya bahwa hidup ibarat roda yang terus berputar. Mirip Roller Coaster,” ucapnya.

    Ia pun membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisah Anda ini. “Bahwa hidup ini singkat. Daripada mengejar kebahagiaan semu, alangkah lebih bijaksananya untuk memperjuangkan kebahagiaan hakiki. So, self-discovery is the first step to get all what you want, to have, and to become. Untuk saran, kenali potensi diri sendiri. Bisa dimulai dari minat, bakat, kekuatan (kelebihan), dan kelemahan (kekurangan). Dari situ, kita bisa membuat peta jalan pribadi yang dapat diturunkan menjadi goal-goal jangka panjang dan pendek. Dan diturunkan lagi menjadi rencana aksi. Anda harus menjadi orang yang paling tahu mengenai diri sendiri dibandingkan oleh siapapun,” bebernya.

    Penyuka hobi bercerita ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya. Untuk project, menerbitkan 3 (tiga) buku. Satu sudah selesai ditulis tinggal mencari penerbit. Satu sedang ditulis. Dan yang terakhir masih dalam tahap riset.  Untuk impian, memiliki social enterprise yang fokus pada bidang pengembangan diri, kepemimpinan, dan pendidikan. Selain itu, menerbitkan lebih banyak lagi buku-buku bermutu yang bisa mengubah hidup orang banyak. Pada akhirnya, bisa membantu pemerintah dalam pemberdayaan sumber daya manusia,” pungkasnya.

     

    Sumber: Harian Bernas, 5 Mei 2017 


  • Menjadi Kapten untuk Pikiran

    Tabik.

    Beberapa tahun terakhir mungkin satu kata yang paling membekas di hati saya adalah pikiran. Pasalnya ia menjadi kata kunci sakti, yang menjadi benang merah petualangan intelektual  saya.

    Mengapa pikiran bukan yang lain?

    Sederhana saja. Pikiran merupakan “otak” sesungguhnya dari manusia. Itu mengapa orang bijak bilang bahwa apa yang kita pikirkan itulah yang akan menjadi kenyataan. Pun dalam kitab suci yang saya yakini dijelaskan bahwa Tuhan mengikuti prasangka hambanya.

    Maka tak mengherankan jika nasib seseorang bukan ditentukan oleh bagaimana cara mengelola pikiran. Bukan ditentukan setinggi apa jenjang pendidikan kita, sekaya apa orang tua kita, di kota mana kita tinggal, atau agama apa yang kita imani.

    Pikiran memang “mesin” sesungguhnya dari robot berotak yang bernama manusia. Ibarat komputer, di layar tidak akan muncul huruf X jika kita tidak mengetik huruf X. Tidak akan ada piranti lunak Adobe bila kita tidak memasangnya. Akan terus-menerus dihantui oleh virus yang berbahaya jika tak terpasang piranti lunak penangkal virus.

    Pikiran benar-benar dahsyat efeknya. Kita bisa dengan leluasa “mengunduh” program hingga menghilangkannya sesuai kemauan. Apa yang kita inginkan benar-benar bisa terwujud. Semua sikap, gerak-gerik, atau perilaku tidak akan pernah ada tanpa adanya pikiran yang menjadi komando.

    Banyak orang sukses karena cerdas mengelola pikirannya. Tidak kalah sedikit pula yang terpuruk karena gagal menjadi kapten pikirannya sendiri.

    Kalau sudah tahu begitu, apa yang kita ingin lakukan dalam hidup? Apakah kita menggantungkan kebahagiaan kita pada hal-hal yang terjadi di luar diri kita? Apakah kita hanya reaktif meratapi hal-hal yang tidak kita harapkan? Maukah Anda terus mengeluh, mengutuk, dan menyalahkan orang lain jika ada hal-hal yang tidak mengenakkan?

    Semua kembali kepada Anda. Karena kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di hadapan kita. Tapi, kita bisa mengendalikan cara kita menyikapinya.

    Sekarang “bola” ada di kepala Anda. Apakah ingin menjadi kapten atau budak dari pikiran. Mau jadi pemenang atau pecundang Kehidupan? Mau proaktif atau reaktif? Mau aktif atau pasif? Mau “memimpin” pikiran sendiri atau pasrah mengikuti emosi yang tak  terkendalikan?

    Hidup adalah memilih. Tapi, untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana.

     

    Artikel ini pertama kali dimuat di Inti Pesan, 21 Agustus 2017 


  • Membalikkan Inferiority Complex

    Sepanjang 2016 saya menghabiskan waktu produktif saya dengan Sabbatical. Sebuah episode hidup yang saya isi dengan kontemplasi, menekuni hobi, jalan-jalan dan menjadi sukarelawan pengajar di sebuah pulau yang hanya terpaut satu jam perjalanan via ferry dari Singapura dan Malaysia.

    Belakangan setelah saya renungkan kembali, Career Break tersebut merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam hidup. Kendati tidak begitu populer di tengah masyarakat yang lebih menghargai “kesibukan”.

    Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, “bagaimana mungkin saya menyia-nyiakan usia emas saya dengan kegiatan yang tak menghasilkan materi? ”Bisa jadi sebagian lainnya menambahkan, “apa untungnya mengambil Gap Year?”

    Apapun kata orang, saya begitu menikmati masa jeda. Suatu fase yang memberikan saya kesempatan wawancara dengan ribuan orang dan membaca ribuan buku.

    Salah satu tokoh yang saya pelajari kisah hidupnya pada masa Sabbatical ialah Mahathir Mohamad – mantan perdana menteri sekaligus Bapak Pembangunan Malaysia. Sosok yang lahir di Alor Setar, Kedah ini pada tahun 2017 berusia 92 tahun. Ayah beliau merupakan keturunan India yang berprofesi sebagai guru. Sedangkan ibunya merupakan kaum Melayu semenanjung. Secara ekonomi keduanya hidup secara pas-pasan. Terlebih lagi pada masa itu pengaruh kolonial Inggris masih sangat kental. Sehingga, hanya warga keturunan raja atau “penjajah” yang dapat hidup makmur. Tak berbeda jauh dengan realita di Indonesia pada zaman kolonial Belanda.

    Mahathir tampil sebagai sosok yang sangat pemberani, cemerlang di bidang akademik, dan tak mau kalah (kiasu). Tamat dari jenjang SMA, beliau sempat ‘down’ lantaran impian untuk kuliah Hukum di Inggris kandas walaupun prestasinya begitu memukau. Tak mau berlarut-larut dalam kegalauan, ia sempat berdagang di pasar local bersama teman-temannya. Di tahun berikutnya, beliau mendapatkan beasiswa di Singapura dengan jurusan Kedokteran.

    Semasa kuliah di Singapura, beliau aktif dalam berorganisasi. Prestasi akademiknya berhasil dipertahankan. Yang paling mengesankan, pemikirannya kerap kali diterbitkan dalam harian berpengaruh The Strait Times walau harus memakai nama samaran. Lulus dari Singapura, beliau mengamalkan ilmunya melalui praktek kedokteran sebagaimana dokter-dokter muda lainnya. Selang beberapa lama, beliau membuka klinik sendiri atas bantuan kakak iparnya. Di usia 30 tahun, beliau terpanggil hatinya untuk berpolitik guna mengembalikan (atau lebih tepatnya mengangkat) marwah kaum Melayu yang menjadi budak di negeri sendiri.

    Berkat kegigihannya, beliau berhasil menjadi perdana menteri selama 22 tahun dengan pencapaian yang “tidak main-main”. Walau dikenal sangat rasis, beliau dikenal sebagai “bapak pembangunan”, yang menyulap Malaysia dari negara antah berantah menjadi negara yang cukup disegani. Hal itu ditandai dengan menara kembar Petronas, hadirnya sirkuit Sepang, dibangunnya Putrajaya, jaringan tol yang menghubungkan tepian Semenanjung hingga Sarawak dan Sabah, kenaikan signifikan pendapatan perkapita warganya dan masih banyak lagi.

    Namun tak banyak yang tahu apa rahasia di balik keberhasilan Mahathir. Apakah karena sebuah keberuntungan ataukah memang sungguh-sungguh diupayakan. Namun yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana perjalanannya semenjak usia kanak-kanak hingga remaja. Serta bagaimana gaya mendidik orang tuanya, sehingga mampu melahirkan sosok fenomenal sepertiitu.

     

    Dari Inferiority Complex ke Superiority Complex

    Ditinjau dari kacamata psikologi, Mahathir sejatinya mengalami apa yang disebut dengan Inferiority Complex. Adalah sebuah kesehatan mental yang ditandai dengan rendahnya harga diri, keraguan, dan ketidakpastian. Dari alam bawah sadar, orang seperti ini cenderung memiliki rasa dendam, keterasingan, dan depresi. Adapun bagi banyak orang, keadaan ini disulut oleh kombinasi antara karakateristik kepribadian genetik dan pengalaman pribadi.

    Inferiority Complex sebenarnya merupakan masalah psikologis yang jelas merugikan diri sendiri. Orang yang mengidap kondisi ini biasanya melabeli diri sendiri sebagai orang yang lemah, bodoh, jelek, tertinggal, kalah, tak berdaya, dan hal-hal negative lainnya. Hal tersebut ditunjukkan mulai dari lingkungan RT sampai sekolah. Pun diperparah dengan adanya penolakan dari teman dan keluarga. Juga harapan yang terlalu tinggi dari orang lain yang menjadikan dirinya makin terpuruk.

    Namun, seorang Mahathir tidak menyerah begitu saja ketika mengidap Inferiority Complex. Dia dari kecil menyadari sebagai orang yang cukup asing. Terlahir bukan dari keturunan raja Melayu semenanjung. Bukan dari keturunan kolonial Inggris. Bukan dari keturunan China yang biasanya sukses berdagang. Ia hanya terlahir dari keluarga keturunan India yang serba pas-pasan. Apalagi, ia dibesarkan di sebuah kota kecil yang tidak semaju Penang, Melaka, atau Kuala Lumpur.

    Menyadari segala kekurangan yang tersemat pada dirinya, Mahathir dididik oleh orang tuanya dengan tidak sembarangan. Sebagai anak bungsu dari sembilan bersaudara, ia mewarisi tiga nilai dari ayahnya: disiplin, kerja keras, dan perbaikan diri sendiri. Nilai itu menjadi “cambuk” bagi dirinya untuk menjadi yang terbaik.

    Sejak remaja, Mahathir bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin. Menyadari hal itu, ia selalu berusaha untuk mewujudkannya dari hal-hal yang terkecil. Selalu  get things done. Menjadi aktivis politik di kampus, menulis pemikirannya di harian ternama dan meluaskan pengaruhnya dengan strategi yang kreatif.

    Mahathir berhasil membalikkan Inferiority Complex menjadi Superiority Complex. Merasa sebagai “orang luar” (keturunan India) yang besar dan tumbuh di tengah kaum Melayu yang tertinggal, ia menasbihkan dirinya sebagai pemimpin. Oleh karenanya, di setiap tangga karirnya selalu memberikan yang terbaik. Dengan mewujudkan hal-hal yang oleh orang banyak dianggap tidak masuk akal. Ia memiliki kemauan yang kuat untuk mengikuti visinya, tidak gentar dengan segala kritikan, berani mengambil keputusan tidak populer, dan tidak pernah lelah untuk memberi dampak bagi orang banyak.

    Satu kutipan yang saya ingat dari Mahathir Mohamad adalah fight harder, shout louder & build bigger.  Bagi beliau untuk mewujudkan visi yang luhur kita harus berani untuk berjuang lebih keras, bersuara lebih lantang dan membangun sesuatu yang lebih besar dari orang kebanyakan. Tapi itu saja tidak cukup. Kita harus berani bersikap, berpikiran, dan bertindak layaknya Maverick. Sebuah kata yang menurut Kamus Oxford diartikan sebagai An unorthodox or independent -minded person. Seorang yang menurut etnis Sunda harus kekeuh  dalam mewujudkan apa yang benar-benar diinginkan dalam hidupnya.

    Are you ready to turn your inferiority complex to become a maverick like Mahathir Mohamad?

     

    Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 16 Agustus 2017


  • Bersahabat Dengan Masalah

    Satu kata yang mungkin paling banyak dituliskan, dipikirkan, dirasakan dan dibicarakan oleh umat manusia ialah masalah. Kata ini bisa jadi bersaing dengan kata-kata populer harian seperti makan, minum, bekerja, sakit, bahagia, Tuhan, bahkan asmara sekalipun. Lantas seberapa signifikan peran masalah dalam eksistensi seseorang?

    Tidak ada seorang pun yang terhindar dari masalah dalam hidupnya.Tidak ada seorang pun yang memiliki masalah yang sama dalam segala aspeknya. Tidak ada seorang pun yang “naik kelas” dalam arti apapun sebelum melaluinya.

    Cara menyikapi masalah adalah tolok ukur paling mudah dalam mengetahui kepribadian, karakter, dan “kualitas” seseorang. Masalahlah yang membedakan pemenang dan pecundang, si kaya dan si miskin, yang bahagia dan yang sedih, pemimpin dan pengikut, hingga pada akhirnya melahirkan “strata tak tertulis” yang diamini.

    Dalam kehidupan yang singkat ini kita sering kali bersahabat dengan masalah. Ada pula yang merasa menjadi “korban” tak berkesudahan karenanya. Menjadi sahabat atau musuh masalah adalah pilihan. Tapi tidak banyak orang yang menyadari akan konsekuensinya.

    Banyak tokoh besar yang justru tampil sebagai pemenang kehidupan karena “berkah” dari masalah. SBY menemukan titik baliknya untuk menjadi “seseorang” lantaran keretakan rumah tangga kedua orangtuanya. Mahathir Muhammad menjadi Malaysian Maverick lantaran sejak kecil mampu membalikkan Inferiority Complex. KH Ahmad Dahlan tergerak mendirikan Muhammadiyah karena menemukan praktek Islam yang “tidak seharusnya” di lingkungannya. Oprah Winfrey menjadi milyuner wanita pertama keturunan Afrika di Amerika Serikat, karena terdorong masa lalunya yang super kelam. Demikian seterusnya.

    Bagi banyak orang, masalah sering dijadikan alasan untuk kalah. Tapi, tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai tantangan untuk “naik kelas”.Ibarat di dunia pendidikan, masalah tidak lebih dari sebuah “ujian” yang menentukan prasyarat untuk kelulusan, atau melenggang ke tahap berikutnya. Oleh karenanya, barang siapa yang dengan bijak bestari menyikapinya maka akan dapat mereguk kebaikan yang tak terduga di kemudian hari.

    Kenyataan ini mengingatkan saya pada pesan seseorang belakangan ini. Seorang pimpinan di salah satu lembaga tertinggi negara asal Jawa Tengah. Berdasarkan sharing beliau, dapat disimpulkan bahwa mulusnya menaiki tangga karir tidak lain adalah keberhasilannya memenangkan masalah yang menghadang di setiap fase.

    Banyak pemimpin yang terlahir dari krisis yang sarat masalah. Banyak pula pecundang yang merasa menjadi korban’ hingga tersungkur ke titik nadir karena masalah. Keduanya ibarat dua sisi pisau yang memberikan kita pilihan. Kalau sudah mafhum seperti ini, sudahkah kita memupuk “persahabatan” dengan masalah?

     

    Artikel ini dimuat  di Inti Pesan, 15 Agustus 2017 


  • Jebakan Hedonic Treadmill

    Mungkin sebagian besar (atau semua) orang mengamini bahwasannya kebahagiaan adalah yang paling dicari dalam hidup ini.Begitu juga dengan kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan. Tapi jika diminta untuk memilih atau dibuat skala prioritas, saya yakin kebahagiaan ada di urutan pertama.

    Peliknya, kebahagiaan bersifat relatif. Standar setiap insan berbeda. Pun cara bagaimana mereka memaknai, menghayati, memandang dan menjalani kebahagiaan.

    Yang menggelikan, tidak sedikit orang yang (masih) mengukur kebahagiaan dari materi. Oleh karena itu, ada satu kata yang terngiang di hatinya dari detik ke detik. Uang, uang, dan uang. Masalahnya, apa benar makin tinggi pendapatan seseorang makin tinggi juga potensi kebahagiaan dalam dirinya? Mengapa yang kebanyakan terjadi tidak selalu linear?

    Ternyata, semakin tinggi pendapatan justru semakin menurunkan peran uang dalam menghasilkan kebahagiaan. Lah, kok bias begitu? Gambarannya kira-kira seperti ini.Saat pendapatan 5 juta per bulan, tinggal di rumah kontrakan tidak jadi soal. Saat pendapatan 50 juta perbulan, punya rumah tipe C sudah cukup girang. Saat pendapatan setengah milyar perbulan, punya 1 rumah dan 1 apartemen belum juga puas. Saat pendapatan 50 milyar perbulan, punya aset di mana-manapun tetap saja masih merasa kurang. Apa ada yang salah?

    Dalam kamus Psikologi Keuangan, fenomena tersebut dikenal dengan Hedonic Treadmill. Dinamakan demikian karena anak manusia sekonyong-konyong berjalan di atas treadmill. Terus saja berjalan, akan tetapi sejatinya tidak maju alias “jalan di tempat”. Kebahagiaan yang dicari-cari tidak kunjung ada karena nafsu terhadap kepemilikan duniawi yang tak berkesudahan. Kebahagiaan yang didambakan jaraknya laksana bumi dengan langit karena nafsunya yang tidak berbeda dengan hewan.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hedonic Treadmill erat kaitannya dengan kata hedonisme/he·do·nis·me/ /hédonisme/ n yaitu pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

    Hedonic Treadmill mendorong keinginan akan materi yang meletup-letup, tak ada habisnya. Itu mengapa kebahagiaan yang diperolehmenjadi stagnan meski penghasilan berlipat-lipat. Hal itu sama halnya dengan salah satu cerita populer di masyarakat. Seseorang yang mendapatkan “rezeki nomplok”, katakanlah undian berhadiah senilaiRp 100 miliar. Ketika ditelusuri 1 tahun kemudian, tingkat kebahagiaan orang tersebut sama dengan kebahagiaan sebeleum mendapatkan “durian jatuh” tersebut.

    Saya jadi teringat nukilan kutipan Andrew Carnagie, seorang pengusaha besar pada awal abad ke-20. Beliau merupakan filantropi  terkenal yang menyumbangkan 90% kekayaannya untuk kemanusiaan. Dalam sebuah kesempatan Andrew pernah mengatakan,

    “Saya sudah bisa mendapatkan jutaan dollar, tapi rasa bahagianya tak bisa mengalahkan ketika saya mendapatkan bayaran mingguan pertama saya”.

    Lantas, apakah salah mengejar pendapatan yang tinggi?  Ya, tidak ada yang salah dong. Kalau kata orang bijak, justru sebagai manusia kita sebaiknya mengejar penghasilan setinggi-tingginya, menggunakan seperlunya, lalu mendermakan sebanyak-banyaknya. Karena, kebahagiaan tercipta ketika kita mau (dan mampu) memberi, melayani, atau menolong sesama yang (paling) membutuhkan.

    Bagaimana dengan Anda?

     

    Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 11 Agustus 2017


  • Kebebasan Yang Seperti Apa?

    Kebahagiaan, keberhasilan, dan kesehatan. Tiga kata itu nampaknya paling populer disuarakan oleh siapa saja dalam “berjuang” menjalani kehidupan yang hanya sementara ini.

    Ya, setiap orang saban hari “bersaing” dengan egonya sendiri untuk mencapai titik bahagia. Demikian halnya untuk mencapai derajat keberhasilan, siapapun sepertinya akan berusaha sekuat tenaga – lahir dan bathin – untuk mencapainya. Tak ketinggalan, untuk mereguk kesehatan siapa saja harus rutin berolahraga, tidur cukup, tidak kekurangan air mineral, dan menjaga asupan gizi.

    Belakangan, ada satu kata lagi yang “tidak kalah” tenar diperbincangkan. Apa itu? Ya, Anda benar. Ia adalah kebebasan.

    Setiap orang secara naluriah tidak ingin hidupnya diatur oleh orang lain. Setiap anak Adam pada hakikatnya (jika tidak ada hambatan finansial) ingin bersenang-senang memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Siapapun sepertinya mendambakan kebebasan waktu untuk melakukan A ke Z. Sesuka hatinya.

    Lalu, adakah sejatinya kebebasan itu? Jika ada, seperti apa? Nampaknya, perdebatan kusir tiga hari tiga malam tidak akan cukup untuk mencapai mufakat guna memaknai kebebasan. Ya, kebebasan itu relatif. Setiap “kepala” punya definisi masing-masing.

                Oxford Dictionary saja memaknai kebebasan sebagai The power of right to act, speak, or think as one wants.Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan akar kata “bebas” dengan “lepas sama sekali” yaitu tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa.

    Saya secara pribadi langsung teringat curahan hati beberapa rekan dekat saya.

    Si A, 25 tahun, lajang. Profesi sehari-hari sebagai agen asuransi dan pemasaran jaringan. Penghasilan mencapai lebih dari 1 Miliar rupiah perbulan. Setiap kali bertemu dengan teman lama dan kenalan baru ia “menggoda” (dan membujuk) agar yang bersangkutan mengikuti profesinya dengan dalih kebebasan waktu. Si A ini secara finansial (kelihatannya) memang berkelimpahan, pun waktu. Tapi sejatinya dia tidak “sebebas” yang ia koarkan. Bisa saja sih dia liburan setiap hari ke manapun yang ia mau, membeli apapun yang ia suka, dan berleha-leha di ranjang. Tapi, tidak demikian dengan A. Setiap saat dia terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Kadang kala ia kesepian karena tidak ada yang mendikte dirinya. Oleh karena itu, ia harus mau dan mampu memimpin diri sendiri agar dapat “bebas”. Si A masih punya sederet daftar mimpi untuk dikejar.

    Si B, 75 tahun, menikah dengan 2 anak dan 4 cucu. Beliau adalah mantan CEO perusahaan multinasional yang saat ini menjadi pimpinan organisasi nirlaba dengan fokus pendidikan untuk anak kurang beruntung. Dari kacamata finansial dan waktu, beliau sebenarnya “berpeluang” besar untuk ongkang-ongkang kaki, menghabiskan usia senjanya dengan jalan-jalan, bersenang-senang, atau hal lainnya. Tapi mengapa beliau memilih untuk “menyibukkan diri” dengan mendermakan waktunya untuk pendidikan di Indonesia? Kenapa dia ingin bersusah payah seperti itu? Karena, itu merupakan panggilan hidup.

    Si C, 7 tahun, anak jalanan. Sehari-hari C ini merupakan satu dari puluhan ribu anak yang memadati jalanan Jakarta. C merupakan yatim piatu yang sekarang menggantungkan nasibnya kepada dirinya sendiri, tidak bergantung orang lain. Karena (mungkin) tidak neko-neko, C nampak bahagia. Setiap saat dia “menyumbangkan” suaranya kepada para penumpang bus dalam kota Jakarta dengan imbalan beberapa perak Rupiah saja. Sesekali dia berlibur semaunya. Tidur di mana saja. Makan seadanya. Tidak ada yang mengatur. Tidak ada beban. Tidak ada yang digelisahkan. C bebas sebebas-bebasnya.

    Apa yang bisa dipetik dari tiga profil nyata di atas? Ya, Anda benar. Setiap orang punya definisi masing-masing dalam memandang kebebasan. Tidak ada definisi pasti sebagaimana halnya rumus Matematika yang rumit – setidaknya bagi saya.

    Akhirnya, tugas kita dalam menjalani hidup nan singkat ini adalah menikmati apa yang kita miliki sekarang sepenuh hati. Seperti petuah Ki Ageng Suryomentaram saiki, ing kene, ngene, aku gelem”. Yang kira-kira bermakna: sekarang, di sini, apapun yang terjadi atau yang dihadapi, saya (mau) menerima dengan ikhlas.”

     

    Artikel ini dimuat di Pedenesia, 10 Agustus 2017