Stories

  • Memaknai Panggilan Hidup

     

    Dalam dua tahun terakhir saya meneliti tentang apa yang membuat saya paling bergairah. Suatu hal yang membuat saya bertanya-tanya, penasaran, dan larut dalam kenikmatan prosesnya. Riset tersebut bertajuk The Calling Journey.

                Sejauh ini, saya telah mewawancarai lebih dari 1200 orang dari beragam latar belakang. Dari menteri hingga jenderal, dari profesor hingga seniman, dari dokter hingga pemuka agama, dari pengacara hingga anggota DPR, dari ilmuwan hingga motivator, dari karyawan hingga  pengusaha, dan seterusnya.

    Saya mencari tahu apa yang benar-benar mereka inginkan dalam hidup hingga apa yang menjadikan mereka bahagia. Saya menggali sangat dalam apa yang paling mereka cari selama di dunia hingga apa yang menjadikan mereka bisa sukses. Saya penasaran dengan titik balik hingga apa yang menjadikan mereka bermakna dalam bekerja.

    Setelah saya analisis dengan seksama, apa yang dituturkan oleh ribuan orang tersebut bermuara pada benang merah yang sama. Tidak lain ialah panggilan hidup.

    Memang tidak ada definisi baku yang diamini oleh semua pihak untuk memaknai panggilan hidup. Namun, saya sendiri menilainya sebagai sebuah power dari dalam diri setiap individu untuk bekerja sesuai dengan “panggilan” Tuhan.

    Lantas, panggilan seperti apa yang dimaksud? Yang pasti panggilan itu tak perlu dicari-cari. Hanya perlu disadari.

    Kemudian, siapa yang memanggil? Jelas saja, sang pemanggil ialah Tuhan – pencipta kita. Ia mengundang seluruh umat manusia agar bisa berkarya sesuai dengan kemauan-Nya.

    Lalu, bagaimana jika kita belum mengenali panggilan hidup diri sendiri? Tenang saja. Mungkin kita perlu berhenti sejenak. Barangkali kita hanya perlu jujur dengan diri sendiri. Bisa jadi, kita cuma butuh belajar bersabar mengenalinya.

    Tidak semua orang menyadari pentingnya panggilan hidup. Namun hampir setiap dari diri kita mengejar setengah mati apa  yang dinamakan dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Padahal jika kita mau jujur, panggilan hidup merupakan akar dari apa yang kita perjuangkan habis-habisan selama ini. Setinggi apapun mimpinya. Sebesar apapun targetnya. Siapapun orangnya.

    Di luar sana banyak orang mengira bahwa panggilan hidup haruslah sesuatu yang luar  biasa. Misalnya saja melakukan hal-hal spektakuler seperti halnya Bunda Theresa, Martin Luther King, atau Mahatma Gandhi.

    Kita sering kali terlupa bahwa setiap individu memiliki kepribadian, passion, keterampilan, hobi, minat, bakat, kekuatan, dan mimpi yang unik. Oleh karena itu, jelas saja kurang arif jika membanding-bandingkan panggilan hidup diri sendiri dengan orang lain.

    Setelah saya renungkan lagi, kunci untuk menemukan panggilan hidup ternyata sederhana saja. Ia sepadan dengan apa yang betul-betul membuat kita gelisah. Ia sebanding dengan masalah apa yang benar-benar ingin kita pecahkan – setidaknya sekali seumur hidup.

    Ingin membantu menciptakan lapangan pekerjaan? Panggilan kita berarti sebagai pengusaha. Mau mengangkat derajat pendidikan? Panggilan hidup kita berarti sebagai dosen atau guru. Berhasrat memperbaiki negeri ini secara langsung dari sistemnya? Panggilan hidup kita berarti sebagai politisi.

    Perjalanan setiap orang dalam mengenai panggilan hidup beragam. Yang pasti, ia akan datang ketika kita telah mengenali diri sendiri. Yang jelas, ia akan muncul ketika kita telah menyadari apa yang benar-benar kita bisa berikan untuk dunia lebih baik.

    Cepat atau lambat, kita harus menemukan apa yang paling bermakna dalam hidup. Sekarang atau belakangan, kita harus mengetahui apa  yang menjadi cetak biru hidup.

    Jadi, apa panggilan hidup Anda? Apa yang sesungguhnya Anda ingin capai dalam hidup? Apa hal yang pantas Anda perjuangkan? Apa yang paling berarti bagi Anda?

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 17 Desember 2017 

     

     

     


  • Filosofi Kendi, Batu dan Bola

    Masalah ialah teman kehidupan. Selama nafas masih di kandung badan, sepanjang itu pula ia akan mengiringi.

    Tiada seorang pun di dunia ini yang dapat terhindar dari masalah. Karena ia hanya akan hengkang ketika kita meninggal.

    Masalah ialah ujian. Ia menjadikan seorang individu “naik kelas” jika dapat mengatasi. Namun, di saat yang bersamaan menjatuhkan siapa saja yang kurang arif menyikapi.

    Masalah membelah manusia menjadi dua kelompok. Pertama, mereka yang memandangnya sebagai beban. Orang-orang tipe ini selalu mencari alasan, menyalahkan orang lain, meratapi keadaan, menyesali masa lalu, dan merisaukan yang belum terjadi. Merekalah sang pecundang. Kedua, mereka yang melihatnya sebagai peluang. Orang-orang di kategori ini selalu mencari solusi. Mereka berjuang mati-matian untuk mencari jalan keluar yang biasanya mampu menciptakan nilai tambah, melayani, hingga membantu orang banyak. Merekalah sang jawara.

    Menurut salah satu Guru saya, ada tiga jenis manusia di dunia ini jika dihadapkan pada masalah. Beliau menyebutnya dengan filosofi kendi, batu, dan bola.

    Pertama, filosofi kendi. Jika mendapati masalah, orang di kategori ini mengambil keputusan yang justru merugikan diri sendiri. Ibarat kendi yang dilempar ke lantai, sang kendi pastilah pecah. Mana ada kendi – yang terbuat dari tanah liat – masih bisa utuh tanpa cacat jika dibanting?

    Kedua, filosofi batu. Jika menemukan masalah, orang di kategori ini mengambil keputusan yang merugikan orang lain. Ibarat batu yang dilempar ke kaca, sang kaca pastilah pecah. Apa guna dilahirkan di dunia jika terus menjadi “duri” bagi sesama?

    Ketiga, filosofi bola. Jika menghadapi masalah, orang di kategori ini justru bangkit lagi. Ibarat bola (karet) yang dilempar ke lantai, sang bola tidaklah pecah. Tidak pula  merusak lantai. Ia jatuh sebentar, tapi justru naik lagi hingga beberapa kali.

    Nah, itulah filosofi kendi, batu, dan bola. Metafora sederhana yang menyadarkan kita untuk terus-menerus menjadi bola. Sebuah benda yang tahan banting. Sebuah barang lentur yang menjadi kesukaan orang di semua usia.

    Memang, kita sering kali menjadi kendi. Yang makin terpuruk ketika dirundung masalah. Atau menjadi batu yang merugikan saudara-saudara kita yang sejatinya tidak bersalah.

    Namun, masalah hakikatnya netral. Persepsi kitalah yang menjadikannya sebagai ancaman hingga beban. Persepsi kita pula yang menilainya sebagai tantangan hingga peluang. Itu mengapa siapapun boleh dihadapkan pada masalah yang sama. Hanya pola pikirlah yang membuatnya menyikapi secara berbeda.

    Pada akhirnya, cepat atau lambat, kita akan tersadar. Bahwa hidup adalah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, kita harus tahu siapa diri kita. Untuk apa kita ada, kemana kita ingin pergi, dan mengapa kita ingin sampai di sana.

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 18 Desember 2017 


  • Menyikapi Masa Depan

     

              Sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar (atau mungkin di Taman Kanak-Kanak), guru senantiasa bertanya,” nak nanti kalau sudah gede mau jadi apa?”. Sontak satu kelas pun jawabannya berbeda. Dokter, pilot, polisi, penyanyi, dan guru barangkali di antara jawaban yang paling populer. Memasuki tingkat Sekolah Menengah Atas, pertanyaan yang sama makin heboh untuk disikapi. Namun, di fase ini kebanyakan sudah mulai realistis dengan pilihannya. Oleh karenanya, tidak sedikit yang sudah mantap dengan jurusan perkuliahan, mau kerja di bidang apa dan seterusnya.

    Di pekan-pekan awal perkuliahan, setiap mahasiswa baru lazimnya ditanya oleh dosen mengenai motivasi mengambil jurusan tertentu. Sontak satu kelas memiliki jawaban yang beraneka. Anak FK sudah pasti ingin menjadi dokter, anak FISIP banyak yang ingin jadi negarawan atau aktivis sosial, anak FIB banyak yang bermimpi sebagai sastrawan, anak FIKOM sebagian besar ingin bergelut di bidang media atau kehumasan, anak FEB sebagian besar ingin menjadi pengusaha atau bekerja di perusahaan multinasional. Dan sebagainya.

    Lima tahun setelah lulus dari perkuliahan, jika ditanya mengenai cita-cita mungkin jawabannya akan mengagetkan. Ada anak FK yang mantap menjadi pengusaha lantaran bisa memperkerjakan banyak orang, ada jebolan jurusan pariwisata yang “tersesat” di bidang kehumasan, ada anak FISIP yang menikmati hari-harinya sebagai bankir, banyak pula yang masih gelisah dengan pilihan karirnya. Yang perlu digarisbawahi, di fase ini mimpi kita di waktu kecil atau di masa perkuliahan sedang diuji. Seberapa besar idealisme kita “bersahabat” dengan pragmatisme, seberapa kuat tekad kita mengejar cita di tengah masalah yang terus mendera, seberapa tinggi keshalehan sosial kita untuk mengiringi ego yang membuncah, atau seberapa yakin diri kita memandang masa depan?

    Masa depan. Ya, kata ini paling sering disebut-sebut oleh pengejar mimpi di tingkatan manapun. Demi masa depan, banyak orang habis-habisan harta untuk dapat sekolah. Sebagian ada yang rela menggadaikan keimanannya. Sebagian yang lain tega mengkhianati teman dan keluarganya. Tidak sedikit juga yang masih berada di rel nan lurus. Yang membedakan adalah bagaimana mereka menyikapinya.

    Di sekeliling kita, ada begitu banyak pelajaran dari orang-orang dalam menyikapi masa depan. Ada yang berani pergi ke dukun untuk mencari pesugihan. Ada yang bekerja 18 jam perhari untuk memenuhi target penjualan. Ada yang hanya tidur empat jam perhari untuk menjadi orang paling ahli di satu bidang. Sebagaian rela menggemplang uang negara demi perut keluarga. Sebagian yang lainnya hanya mengikuti arus lantaran takut mengambil resiko.

    Di manapun, memang ada saja orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih cita. Tapi, masih ada banyak orang yang mengejar mimpi masa depan dengan cara-cara terpuji: bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas, bekerja tuntas, dan bekerja dengan totalitas.

    Saya jadi teringat pesan Pak John M. Richardson Jr. “When it comes to the future, there are three kinds of people: those who let it happen, those who make it happen, and those who wonder what happened.”

    Di antara tiga tipe di atas, masuk di kategori manakah Anda?

    Semoga saya dan Anda sekalian berada pada sisi yang (seharusnya) benar. Menyikapi masa depan dengan mimpi, keyakinan dan berusaha mewujudkan (atau menciptakannya). Karena masa depan Anda ditentukan dari apa yang kita lakukan sekarang.

     

    *) Artikel ini dimuat di Intipesan, 28 Oktober 2017 


  • Anda Ingin Menjadi Sebaik Apa?

     

    Baru-baru ini saya beranjangsana di kediaman Vishnu (bukan  nama sebenarnya). Beliau merupakan salah satu pangarang papan atas di Asia. Karya-karyanya menghiasi daftar buku terlaris di kawasan ini.

    Seperti biasa, pertemuan diawali dengan berbasa-basi. Mengenal satu sama lain. Latar belakang pendidikan, pekerjaan, bisnis, hobi, rumah tangga, hingga bagaimana memandang kehidupan.

    Sebagai Gen Y yang masih haus dengan pengalaman, pertemuan seperti ini jelas tidak saya sia-siakan begitu saja. Terlebih lagi, tidak mudah mendapatkan slot wawancara untuk orang sekaliber Vishnu yang setiap saat “mondar-mandir” di bandara. Salah satu pertanda betapa tingginya mobilitas pria itu.

    Jika disarikan, sebenarnya ada berderet pesan moral yang disampaikannya. Namun, dari seabrek itu ada satu yang paling berkesan bagi saya. Tidak lain, tidak bukan ialah pertanyaan, “anda ingin menjadi sebaik apa”.

    Jujur, pertanyaan tersebut benar-benar menampar hati saya. Sederhana tapi begitu mendalam maknanya. Mungkin juga berlaku bagi Anda.

    Sering kali kita memiliki angan-angan besar. Acap kali kita didorong lingkungan untuk bermimpi setinggi-tingginya. Tidak jarang kita mendapatkan “tekanan sosial” untuk mencapai target-target tertentu. Sudah terbiasa kita mematok diri sendiri untuk melakukan X, memiliki Y, dan menduduki Z.

                Pertanyaan saya sekarang ialah, “anda ingin menjadi sebaik apa?” Sah-sah saja menetapkan mimpi, tujuan atau target. Tapi, apakah kita siap membayar harganya? Mudah saja berangan-angan, tapi apakah kita berkomitmen untuk mewujudkannya?

    Target hanyalah target jika kita hanya diam. Mimpi hanyalah mimpi jika kita bermalas-masalan. Tujuan hanya tujuan jika kita tidak melakukan apa-apa.

    Sebagian besar orang sebenarnya sudah berupaya untuk mewujudkan mimpi, tujuan, dan target hidupnya. Tapi tidak semua berhasil mereguknya. Di mana kesalahannya?

    Sangat mudah dijawab. Biang keladinya bernama “standar” atau “batas toleransi” yang kita buat sendiri di alam pikiran.

    Misalnya nih. Steve ingin menjadi Salesman dengan penghasilan minimal 1 Miliar perbulan. Untuk mencapai itu, setidaknya ia harus melakukan cold calling kepada 100 orang perhari dan bertatap muka langsung kepada 20 orang. Setiap saat, ia mendapati masalah yang mengancam targetnya. Entah karena faktor cuaca, prospek yang “kurang berpihak”, kemacetan jalan, kesehatan, kecapekan, hingga mood yang fluktuatif.

    Jika Steve memang benar ingin menjadi orang yang keren, sudah selayaknya ia membayar “harga” untuk mendapatkan minimal 1 M perbulan. Namun, setinggi apa Steve memberikan toleransi kepada dirinya jika faktor-faktor eksternal yang menghambat datang kepadanya? Di titik itulah motivasi sesorang diuji. Apakah ia benar-benar memiliki “panggilan” untuk do something atau sebaliknya.

    Contoh yang paling mudah juga berlaku di bidang politik. Katakanlah Anda saat ini sudah berhasil menjadi walikota di daerah Anda. Jika ambisi Anda besar, bukan tidak mungkin Anda akan mengejar posisi yang lebih tinggi seperti gubernur, menteri, hingga presiden. Jika Anda cukup berpuas diri dengan menjadi walikota, itulah yang menjadi “batas” atau “toleransi” yang Anda ciptakan di alam pikiran sendiri. Itulah ukuran keberhasilan yang Anda patok sendiri. Itulah target, tujuan, atau mimpi versi Anda.

    Bagi sebagian orang, menjadi walikota bisa jadi sudah membuat hati merinding karena kagum. Bagi sebagian lainnya, bisa jadi belumlah apa-apa. Nah, itulah artinya target, tujuan, atau mimpi yang bermuara pada pikiran. Satu hal yang bersumber pada pertanyaan, “anda ingin menjadi sebaik apa?”

    Semoga apa yang disampaikan Vishnu menjadi pelajaran bagi kita semua. Sukses atau gagal bagi setiap orang itu relatif. Besar atau kecilnya mimpi bagi setiap individu itu subyektif. Semua kembali kepada hati nurani Anda. Anda ingin menjadi sebaik apa?

     

    Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 7 September 2017. 


  • Mengapa Kebahagiaan Tak Kunjung Diraih?

    Semua orang mungkin mengamini bahwasannya hidup ini hanya sekali.Dari tunawisma di kolong jembatan, Wakil Rakyat di Senayan, tukang loak di pasar tradisional, artis yang tiap hari mondar-mandir di layarkaca, da’i sejuta ummat, hingga tentu Anda sendiri. Oleh karenanya, setiap orang berlomba-lomba untuk mengejar mimpi sesuai kadar masing-masing.

    Mimpi seperti apa yang dikejar orang kebanyakan? Yang pasti, jawabannya akan relatif. Namun, jika boleh saya sarikan ada tiga hal besar. Ada yang mengejar ketiga hal sekaligus, ada yang dua diantaranya, ada juga yang hanya berkutat di satu hal.

    Pertama, pemburu harta benda. Secara naluriah, manusia digariskan untuk bekerja. Dengan bekerja, ia dapat menghasilkan pundi-pundi Rupiah yang digunakannya memenuhi segala macam kebutuhan. Baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kebugaran, rekreasi, dantakterhingga. Sayangnya, manusia memang memiliki kesamaan dengan binatang. Bersifat rakus, selalu merasa kurang, tidak pernah merasa puas, dan seringkali abai dengan moralitas. Apa contohnya? Lihat saja ratusan birokrat yang terjerumus kasus korupsi, pengusaha yang berani menggemplang pajak, orang-orang yang mencari ‘pesugihan’ untuk mereguk kekayaan dengan jalan pintas, atau maraknya perjudian.

    Kedua, pencari ketenaran. Kebutuhan untuk diakui, dikenal, dipuji, atau dielu-elukan merupakan hal lain yang dikejar orang. Biasanya ini dilalui jika hal pertama terpenuhi. Namun, sebagian kecil lainnya memang mengejar yang pertama dengan cara ini. Tengoklah di berbagai liputan media. Berapa ribu peserta setiap diadakan kontes Peagants, ajang pencarian bakat, atau perlombaan apa saja yang dilakukan media. Di sisi lain, berapa banyak politisi, pengusaha, atau tokoh masyarakat yang menggunakan segala cara untuk meningkatkan pamor. Tidak sedikit yang rela mengeluarkan uang untuk mendongkrak publisitas.Tidak ada bedanya dengan mengiklankan produk atau jasa.Semuanya berlomba-lomba untuk menunjukkan kehebatan, memperlihatkan prestasi yang diraih, atau mensyiarkan kebaikan yang pernah dilakukan.

    Ketiga, pejuang kekuasaan. Hal ini dikejar jika yang pertama atau kedua telah digaet. Sebagian kecil fokus mengejarnya sejak kecil kendati hal pertama dan kedua tak terpikirkan. Contohnya mudah ditemui. Pengusaha yang masuk politik untuk melanggengkan imperium bisnisnya, public figure yang dipinang partai politik untuk memenangkan perolehan suara, aktivis sosial yang tergoda duduk dengan jabatan DPRD hingga DPR RI, dan sebagainya. Memang ada sih yang berpolitik secara idealis untuk memperjuangkan misi mulia. Namun sayangnya kebanyakan masih terbatas memenuhi syahwat kekuasaan yang bergelora.

    Untuk mencapai tiga hal di atas dengan patokan “sukses” di mata kebanyakan orang tidaklah mudah. Ada harga mahal yang harus dibayar.Mulai dari sulitnya waktu berkumpul dengan keluarga, jam tidur yang berantakan, kebugaran tubuh yang tergadaikan, percekcokan dengan kolega, atau kesalah pahaman orang-orang terdekat dengan sepak terjangnya. Akibatnya, hidup dipenuhi ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan keraguan yang tak berkesudahan.

    Sebenarnya, sebagian besar orang mengejar tiga hal di atas untuk mencapai kebahagiaan. Sayangnya, pengendalian emosi yang kurang baik justru semakin menjauhkannya. Ada orang yang berpikir harus kaya dulu sebelum bahagia, menjadikan ketenaran sebagai syarat bahagia, dan berkuasa baruba hagia. Masalahnya, ketiga hal di atas bukan penjamin kebahagiaan.

    Lantas, apakah mengejar harta benda, ketenaran, dan kekuasaan salah?Samas ekali tidak selama niatnya benar. Misalnya memburu harta benda agar bisa berderma lebih banyak, mengejar ketenaran supaya jalan hidupnya menjadi inspirasi, mengejar kedudukan untuk memperjuangkan misi kemanusiaan nan hakiki.

    Banyak orang tidak mengerti mengapa kebahagiaan yang dikejar tak kunjung diraih. Biasanya watak ‘keakuan’ atau ego yang mendominasi setiap gerak langkahnya. Jika tidak, mereka gagal mengendalikan keinginan yang tak berkesudahan. Akibatnya, ketidaktenangan batin atau kecemasan dalam hati sulit sulit keluar dari diri. Dengan demikian, apa resep untuk mereguk kebahagiaan? Sederhana sekali. Dalam memperjuangkan apapun, tanggalkan keakuan dan keinginan. Niatkan segala langkah untuk menebarkan manfaat kepada sesama, menciptakan nilai tambah, dan mengabdi kepadaTuhan.

    Dalam kamus falsafah Jawa, fenomena di atas disepadankan dengan peribahasa “mburu uceng kelangan deleg”. Uceng adalah salah satu jenis ikan berukuran kecil yang mudah ditemui di sungai-sungai di pedesaan Jawa. Adapun deleg adalah ikan berukuran besar yang biasanya dikenal dengan nama gabus. Uceng merupakan gambaran nikmat pemberian Tuhan yang besarnya hanya sepucuk jarum akan tetapi dikejar setiap waktu dengan pengerahan segala tenaga, pikiran, biaya dan upaya. Akan tetapi deleg, gambaran dari simbol Tuhan atau keagamaan terlupakan.

    Lantas, apa arti yang tersirat?  Kira-kira maknanya ialah jangan hanya mengejar hal-hal sekunder dengan melupakan hal primer. Sering kali kita memang berjuang habis-habisan untuk mengejar tiga hal di atas akan tetapi acuh dengan hal-hal yang sejatinya lebih penting seperti mengamalkan ajaran agama, mendidik anak, bersilaturrahmi, berderma, atau mengupayakan misi yang berdampak untuk orang banyak.

    Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan. Jika yang dikejar adalah kebahagiaan, memang sudah fitrahnya kita menyadari bahwa kenikmatan duniawi yang digambarkan “uceng”sebaiknya tidak melupakan kita kepada “deleg” yaitu Tuhan. Memang tidak mudah untuk memprioritaskan dan menyeimbangkan pengejaran uceng atau deleg. Tapi jika ada niat yang kuat, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat mengejar (dan menikmati) kebahagiaan.

     

    Dimuat pertama kali di Inti Pesan, 30 Agustus 2017 


  • Apa Guna Berkejar-Kejaran?

    Tabik.

    Beberapa bulan lalu saya bertemu dengan sahabat lama saya. Sebut saja bernama Sekar. Kami pernah sama-sama bekerja di salah satu organisasi nirlaba papan atas Indonesia yang tidak lain adalah “kantor” resmi pertama saya sebelum menamatkan sarjana.

    Sekar saat ini belajar dan tinggal di Denmark. Ia berstatus sebagai mahasiswa penerima beasiswa Pemerintah Denmark sekaligus satu dari segelintir diaspora nusantara di sana.

    Sekar merupakan potret kelas menengah atas Ibukota. Ia lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang “berada”. Ayahnya seorang pengusaha, sedangkan kakeknya adalah seorang Duta Besar RI untuk Italia di era Soeharto. Sejak kecil, ia sudah terbiasa berkeliling dunia mengikuti kerja sang ayah dan kakeknya. Tak  mengherankan jika ia merupakan polygot (orang yan menguasai beragam bahasa).

    Sekar berparas ayu. Jika dari samping, wajahnya benar-benar mirip dengan Dian Sastro Wardoyo. Ia hanya terpaut beberapa centimeter lebih pendek dari pemeran Cinta tersebut.

    Sebagai gadis Ibukota dari keluarga papan atas, sejak belia Sekar mendapatkan fasilitas terbaik dari kedua orang tuanya. Ia lulus dari jurusan Ilmu Komunikasi dari sebuah kampus di pinggiran Jakarta. Sebelum lulus, ia sempat magang di PBB Kantor Jakarta sebelum bergabung dengan kantor tempat kami berjumpa.

    Sekar sempat berpacaran dengan George (bukan nama sebenarnya). Seorang pria jebolan Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur dan MBA dari Cambridge University, Inggris. Setamat dari Tanah Eropa, George mendirikan sebuah Think Tank yang didukung oleh salah satu tokoh nasional. Singkat cerita, Sekar dan George benar-benar seperti pasangan ideal. Dilihat dari sudut pandang apapun. Berparas apik, mapan secara finansial, berpendidikan tinggi, datang dari keluarga terpandang, dan mandiri. Benar-benar sempurna.

    Namun, nasib orang tiada yang tahu. Setelah bertahun-tahun menjalin ikatan asmara, keduanya memutuskan untuk berpisah.

    Sebagai “tindak lanjut” dari statusnya yang menjomblo, baru-baru ini Sekar menulis sebuah status di Facebook yang membuat heboh. Pasalnya, ia mengungkapkan pesan di saat yang tepat bernama lebaran.

    Alih-alih “terpukul” karena ditanya ini-itu, ia memiliki ide cemerlang untuk “membalas balik” ketika momen silaturrahmi khas Idul Fitri datang.

    • Ketika ditanya, “kapan menikah”. Serang balik dengan “apa saja pencapaian setahun terakhir?”
    • Ketika ditanya, “kapan punya anak”. Serang balik dengan “resolusi mana yang belum terwujud?”
    • Ketika ditanya, “kapan puya mobil baru”. Serang balik dengan “sudah liburan ke mana saja setahun terakhir?”
    • Ketika ditanya, “kapan renovasi rumah”. Serang balik dengan “apa yang telah Anda lakukan untuk orang-orang di sekeliling kita”

    Jurus serang balik di atas sama sekali bukan untuk menyombongkan diri atau sikap negatif. Namun, hanya untuk afirmasi diri. Menyikapi hidup dengan benar.

    Mengapa saya tekankan seperti itu?

    Momen lebaran yang datang hanya setahun sekali bukan malah untuk menyambung tali komunikasi secara tulus. Tapi telah ternodai dengan pola komunikasi yang destruktif.

    Para jomblo “tertampar” ketika ditanya kapan nikah. Para pengantin baru “terpukul”  karena didesak untuk segera memiliki momongan. Para ayah “tersinggung” ketika disindir atas kepemilikan kendaraan hingga tempat tinggal. Para remaja “tersungkur” karena merasa tersaingi oleh rekan-rekannya yang baru saja membeli gawai keluaran terburu. Para ibu “tertekan” ketika mendengar orang-orang sekaumnya baru saja bepergian ke tempat-tempat wah.

    Momen-momen berkumpul seperti lebaran dan reuni sudah mulai kehilangan ruhnya. Sudah bukan lagi ajang untuk menyambung ikatan persaudaraan dan pertemanan. Tapi sudah melenceng sebagai ajang pamer status kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Sudah menjadi wadah untuk sok-sokan.

    Mungkin ini tidak terjadi di setiap tempat. Tapi setidaknya sering kita jumpai di sekitar kita. Entah disadari atau tidak.

    Pada akhirnya, cepat atau lambat kita akan tersadar. Bahwa hidup bukanlah tentang kejar-mengejar. Karena toh jalan hidup individu berbeda-beda.

    Setiap orang memiliki orbit masing-masing. Apa guna silau dengan pencapaian tetangga?

    Rezeki telah digariskan oleh Sang Hyang Widi Wasa. Apa guna iri dengan kepemilikan duniawi rekan-rekan terdekat?

    Setiap pribadi memiliki masalah tersendiri. Apa guna diperbandingkan hasilnya?

    Daripada capek mengurusi orang lain. Mengapa kita tidak berintropeksi diri? Bukankah umur kita  di dunia makin pendek dari hari ke hari? Bukankah kebahagiaan ada di dalam diri? Untuk apa semua yang kita perjuangkan di dunia ini? Saya yakin nurani Anda sudah memiliki jawaban terbijak.

     

    Artikel ini pertama kali dimuat di HR Plasa, 5 September 2017