Category: Blog

  • Kupu-Kupu Atau Permata?  

     

                     Berinteraksi dengan orang ialah “hobi bawaan” yang dimiliki oleh seorang ekstrovert. Bertemu, bertukar pikiran, atau sekedar mengobrol santai menjadi keasyikan tersendiri.

    Tak terkecuali dengan diri saya. Berinteraksi dengan sesama ibarat baterai yang sedang diisi (charging). Pasalnya, saya bisa “menyerap energi” orang yang saya ajak bicara. Jadi, berapapun lamanya saya berbincang-bincang, tidak pernah merasa lelah.

    Sebaliknya, orang ekstrovert akan merasa “loyo” ketika sendirian. Energi seakan-akan habis. Sehingga, tidak akan betah jika berlama-lama menyendiri.

    Menyadari sifat alamiah ini, saya berusaha bertemu dengan kawan lama atau kenalan sesering mungkin. Karena selain menambah dan merekatkan hubungan persaudaraan, aktivitas ini memang membawa banyak positif. Itu mengapa benar-benar membuat ketagihan.

    Belum lama ini saya bersua dengan Mahatma (bukan nama sebenarnya). Beliau merupakan salah satu “resi” yang cukup tersohor di nusantara. Maksud kedatangan saya tidak lain ialah untuk mewawancarainya guna memperkaya riset saya.

    Sesungguhnya ada begitu banyak pelajaran hidup yang saya “curi” dari Mahatma. Namun, ada satu hal yang paling saya ingat. Yakni analogi kupu-kupu dan permata.

    Maksudnya apa Mas Agung? Sebagian besar manusia di dunia ini fokus mengejar kupu-kupu. Sehingga, semakin lama mereka mengejar, kupu-kupu malah semakin menjauh.

    Sebaliknya, hanya segelintir saja manusia yang menggali permata. Padahal, semakin lama permata digali dari dalam tanah, maka semakin banyak “keindahan” yang diterima. Semakin dalam galiannya, peluang untuk mendapatkan permata berkualitas prima semakin besar.

    Kupu-kupu dan permata hanyalah simbol. Bahwa sebagian besar orang cenderung mengejar kupu-kupu yang merupakan perumpamaan dari kebahagiaan. Mereka sulit untuk mendapatkannya karena mengejar apa yang ada di luar dirinya. Itu mengapa banyak orang yang tidak bahagia meski kekayaan, ketenaran dan kekuasaan dalam genggaman. Karena manusia memang merasa kurang, kurang, dan kurang.

    Hanya sedikit manusia yang mau menggali “permata” di dalam dirinya. Padahal kebahagiaan sejati ada di dalam diri sendiri. Lantaran kebahagiaan ialah perihal hati yang menyatu jiwa dan ilahi.

    Jadi, selama ini mana yang Anda dambakan? Mengejar kupu-kupu atau menggali permata? Hidup adalah pilihan.

    Kebagusan, 7 Oktober 2018

     

  • Otak Sampul

                    Belum lama ini saya berjumpa dengan “emak-emak”. Sebut saja bernama Mawar. Ia merupakan salah satu “teman setia” jogging pagi di sebuah taman di bilangan Kebagusan, Jakarta Selatan.

    Saya: “Nggak terasa sudah tanggal 1 Oktober aja ya bu.”

    Mawar: “Ya. Cepet banget ya. Kayaknya hari berlari aja. Ngomong-ngomong kamu tinggal sebulan lagi ya dik nikahnya?”

    Saya: “Benar bu. Mohon doanya aja bu.”

    Mawar: “Kamu sudah tidak bekerja lagi di H** ya? Trus ngapain aja tiga bulan terakhir?”

    Saya: “Saya penulis penuh waktu bu. Sesekali mengajar di salah satu perguruan tinggi. Pekerja lepas lah intinya mah.”

    Mawar: “Wah, ntar mau kamu kasih makan apa anak dan istrimu? Mau nikah kok malah nggak kantoran?”

    Saya: “Ehmmm mohon doanya aja ya bu. Saya kurang cocok bekerja di perusahaan besar ehhehe.”

    ***

    Percakapan saya dengan Mawar ini nyata. Tidak saya buat-buat. Saya yakin banyak kawula millennial yang pernah mengalami hal serupa.

    Era telah berubah. Generasi juga berbeda. Apa yang dikatakan Mawar memang sangat masuk akal menurut Baby Boomer dalam dalam tingkat tertentu Gen X. Namun belum tentu berlaku untuk Gen Y.

    Mawar merupakan potret dari orang yang “berotak sampul”. Maksudnya, orang-orang yang menilai sesuatu seperti sampul. Mempersepsikan apapun dari kulit atau apa yang tampak dari luar.

    Bekerja dalam benaknya mungkin harus menjalani ritual 8-5. Berkarya sepertinya harus “kantoran” dalam benaknya.

    Otak sampul ada di mana-mana. Mereka ada di sekitar saya dan Anda. Orang-orang yang menilai sesuatu dari apa yang terlihat oleh mata telanjang.

    Sebagai “orang visual”, saya sih sama sekali tidak tersinggung. Ya wajarlah ya. Bagaimanapun, “penampilan” atau “kemasan” masih dianggap lebih seksi dari “isi”.

    Saya ambil saja sisi positifnya. Di dunia yang sangat disruptif seperti dewasa ini, terkadang kita perlu “memoles” sebaik mungkin agar dipandang dengan nilai tertentu. Agar apa yang kita suarakan lebih mudah diterima.

    Mungkin Anda memiliki pendapat berbeda?

     

    Kebagusan, 6 Oktober 2018

  • Bukan Sumber (Air) Mencari Timba

                      Belum lama ini saya bertemu dengan Maharishi (bukan nama sebenarnya). Beliau merupakan salah satu “guru spiritual” saya. Kami bertemu di padepokannya yang begitu asri. Lebih tepatnya di sebuah desa kecil di lereng Gunung Lawu.

    Percakapan kami dimulai dengan basa-basi. Beliau menanyakan kesibukan saya selama dua tahun terakhir. Sementara itu, saya penasaran apa resep awet muda beliau. Karena meskipun beliau sudah berusia 50an, wajahnya seakan-akan masih seperti pria di pertengahan 30.

    Sebenarnya  tidak cukup untuk menuliskan obrolan kami yang hampir memakan waktu 3 jam. Namun, jika boleh saya sarikan, di bawah ini poin utamanya.

     

    Saya                       :  Romo, mengapa panjenengan tidak mempromosikan diri seperti para pemuka agama  lainnya? Mengunggah kajian di Youtube, menyebarkan tulisan di blog, mengirim                      pemikiran ke media massa, atau menyewa praktisi kehumasan untuk “melambungkan                            nama?”Bukankah itu  akan mendongkrak citra pesantren ini? Sehingga, makin banyak                            santri yang belajar di sini. Makin besar pula manfaat yang romo berikan?

    Maharishi            :  Buat apa? Jika demikian apa bedanya saya dengan para “pelacur ilmu?” Timba itu    mencari sumber (mata air). Bukan sebaliknya.

    Saya                       :  Hemmmm. Benar juga ya. Jadi, kalau banyak kaum cendekia yang mem-PR-kan dirinya bagaimana dong? Apakah itu salah? Kan maksudnya baik juga?

    Maharishi            :  Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung niatnya. Agung pikirkan saja sendiri.

     

    ***

    Apakah Anda bisa menangkap pesan dari guru spiritual saya di atas? Jika ya, bagaimana pendapat Anda?

    Di abad informasi ini, pengetahuan jauh lebih mudah diperoleh. Hanya dengan modal sentuh, klik, dan share; siapapun bisa mengaku menjadi ahli meski kapasitas keilmuannya diragukan.

    Bisa jadi sosok seperti Maharishi, guru spiritual saya di atas kini semakin langka. Orang yang sangat berilmu tapi tidak mempromosikan dirinya habis-habisan. Karena beliau berpikir, oran-orang yang butuh ilmunyalah yang akan mendekat kepadanya.

    Di sisi lain, bisa jadi 99% orang yang Anda anggap sebagai pakar, guru atau suhu di luar sana sebaliknya. Barangkali keilmuannya masih “setetes.” Namun, dorongan untuk menjadi terkenal dan cepat kaya raya; membuat mereka berani melacurkan pengetahuan.

    Pada akhirnya, semua memang bergantung pada niatnya. Saya dan Anda hanya bisa membuat persepsi dari apa yang terlihat dari permukaan. Sementara itu, hanya Sang Penciptalah yang benar-benar mengetahui hatinya.

    Jadi, apakah Anda yakin selama ini telah berguru kepada orang yang tepat? Atau justru percaya pada para pelacur ilmu? Bukan sumber (air) mencari timba . . .

     

    Kebagusan, 5 Oktober 2018

  • Menemukan Benang Merah

                      “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.”

    Nampaknya ungkapan di atas sudah sering Anda dengar, bukan?  Jika ya, apa tanggapan Anda?

    Saya sendiri percaya. Bahkan, sangat mengamini. Karena setelah saya renungkan dalam-dalam, segala sesuatu memiliki arti. Baik masalah yang saya temui, orang-orang yang pernah saya jumpai, tempat-tempat yang saya singgahi, atau buku-buku yang pernah saya baca.

    SBY saya tidak akan pernah menjadi presiden RI jika tidak menikahi Ibu Kristiani Herrawati. Merry Riana tidak mungkin menjadi motivator jika bermalas-malasan ketika kuliah di Singapura. Bali mustahil sekali bisa menjadi “Pulau Surga” jika di masa lalu tidak ada “eksodus” masyarakat Majapahit dari Tanah Jawa.

    Sekarang, bagaimana diri Anda? Mungkin Anda capek dengan tekanan pekerjaan di kantor yang seakan tiada habisnya? Barangkali ada cepat mengeluh lantaran perilaku pasangan maupun buah hati yang menjengkelkan?  Ataukah Anda ingin mengakhiri hidup gara-gara beratnya masalah?

    Saya tidak mengenal Anda secara pribadi. Namun, kalau boleh saya beri saran; nikmatilah apa yang Anda hadapi sekarang. Karena bukan tidak mungkin di kemudian hari Anda akan baru menyadari apa maksudnya. Jalani apa yang menjadi peran Anda. Lantaran tidak mustahil kelak Anda justru merindukannya.

    Yang harus Anda ingat, diri Anda saat ini merupakan “akumulasi” dari pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda di masa lalu. Pencapaian Anda hari ini merupakan akibat dari sikap diri Anda di masa silam.

    Yang harus Anda sadari, Andalah kapten hidup Anda sendiri. Andalah penulis dari buku yang bernama kehidupan Anda sendiri. Andalah pencipta nasib Anda sendiri.

    Hidup Anda ibarat teka-teki. Karena dari waktu ke waktu Anda menorehkan potongan-potongan penuh warna. Mungkin saat ini Anda belum tahu apa maksudnya. Namun, cepat atau lambat Anda akan menyadarinya.

    Anda memang hanya bisa menemukan benang merah dari apa yang telah terjadi. Namun, hidup Anda sesungguhnya hanyalah di hari ini. Oleh karena itu, belajarlah dari masa lalu demi masa depan Anda. Dan, sekarang adalah waktu terbaik untuk mewujudkannya.

    Jadi, sudahkah Anda menemukan benang merah hidup Anda sendiri?

     

    Kebagusan, 4 Oktober 2018

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Apa Yang Saya Pelajari Di Usia 20an?

                Katanya, waktu tidak bisa ditukar dengan Rupiah. Konon, pengalaman tak bisa dihargai dengan Dolar.  Bagi saya, keduanya tidak salah. Yang pasti, waktu tidak pernah kembali dan pengalaman akan terus menjadi memori.

    Tahun ini saya resmi meninggalkan usian 20an. Artinya, saya mulai menginjak angka 30 di tahun 2018.

    Ada perasaan senang dan sedih yang mengiringi. Senang karena banyak hal yang telah saya lalui dalam satu dasawarsa terakhir. Sedih lantaran saya belum bisa memanfaatkan waktu sebagaimana mestinya.

    Saya sangat bersyukur bisa melewati usia 20an dengan pengalaman penuh warna. Karena masih diberi “kepercayaan” oleh Tuhan untuk bernafas di alam dunia.

    Mungkin bagi sebagian orang ini berlebihan. Namun, tidak bagi saya. Lantaran tidak sedikit teman sekolah, saudara, maupun tetangga seusia saya atau bahkan yang lebih muda sudah lebih dahulu menghadap kepada-Nya.

    Saya yakin pengalaman setiap orang melewati fase ini pastilah unik. Begitu pula cara memaknainya. Namun, jika saya ditanya apa pelajaran yang dapat saya ceritakan di usia 20an, inilah jawabannya.

     

    Men Can Plan Well, But God is the Best Planner

    Saya kira ini pelajaran terpenting. Karena sehebat apapun kita berencana, pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.

    Dalam konteks saya pribadi, untuk pertama kalinya saya percaya takdir di usia ini.  Sejak kecil – karena didikan orang tua dan agama – saya tahu takdir memang ada. Namun, saya baru bisa benar-benar menghayati apa itu takdir dan nasib di fase ini.

    Jika ditarik ke belakang, saya masih ingat betul bagaimana dulu pernah “jatuh” karena pendidikan. Khususnya ketika gagal menjadi mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga dan PKN STAN di tahun 2007.

    Dalam konteks karir, saya begitu banyak “ditolak” oleh perusahaan. Di sisi lain, tidak kalah banyak saya “dibajak” atau tiba-tiba ditawari untuk bergabung perusahaan tertentu.

    Dalam konteks penjualan, saya bertubi-tubi ditolak calon pelanggan. Namun, tak sedikit juga yang tiba-tiba mendapatkan closing tanpa saya menawarkan.

    Dalam konteks perjodohan tidak kalah seru. Tak terhitung berapa orang yang ingin saya “dekati”, tapi ujung-ujungnya tidak mendapati kecocokan. Tak ingat lagi berapa orang yang telah menolak saya untuk menjadi bagian hidupnya – meski baru mengatakan “halo”. Yang pasti, tidak sedikit  yang begitu agresif mempengaruhi saya untuk menikah dengannya.

     

     

    Dalam Hidup Kita Memilih dan Dipilih

                Apakah hidup ialah pilihan? Ya, saya mengamini. Lebih tepatnya lagi merupakan kumpulan dari beragam pilihan yang seolah tak berkesudahan.

    Yang saya pelajari di fase 20an ialah tentang memilih dan dipilih. Ya, ada saatnya kita memang benar-benar berkuasa penuh dengan pilihan yang kita inginkan. Namun, ada momen-momen tertentu yang ternyata kita “dipilih” oleh Tuhan untuk menjadi, melakukan atau mempunyai hal tertentu.

    Pada tahun 2008 misalnya. Saya “dipilih” untuk menerima beasiswa penuh dari Theodore Permadi Rachmat di Universitas Paramadina di bidang yang dulu saya cintai – hubungan internasional. Juga terpilih untuk menerima beasiswa penuh di salah satu sekolah kedinasan di Yogyakarta.

    Di tahun 2012, lain lagi ceritanya. Saya memilih untuk menjadi mahasiswa Master di Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Techological University (NTU), Singapura. Namun nasib berkata lain, saya gagal di “babak” terakhir. Sehingga membuat saya dipilih untuk menjadi mahasiswa Master di Universitas Indonesia melalui beasiswa Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

    Masih di tahun 2013, saya dipilih oleh salah satu profesor manajemen di Amerika Serikat. Lebih tepatnya untuk menjadi mahasiswa MBA di salah satu kampus di Florida. Karena sudah lebih dulu terikat dengan beasiswa di Universitas Indonesia, saya melepas atau menolak tawaran studi di Negeri Paman Sam.

     

    Tentang Menemukan Jodoh

                Berbeda dengan sebagian laki-laki di luar sana, saya tidak pernah berpacaran. Itu mengapa saya sama sekali tidak memiliki cerita romantis dengan orang tertentu.

    Untuk urusan perjodohan, saya termasuk orang yang “mengalir”. Artinya, saya bukan tipe perencana seperti beberapa teman saya yang memang telah merancang dengan sangat baik kriteria pasangan, hingga kapan dan di mana harus menikah.

    Jodoh memang misteri. Kita sering mendengar bahwa lama atau tidaknya berpacaran tidak menjamin sepasang manusia terikat dalam institusi pernikahan. Sebaliknya, tidak ada jaminan juga pasangan yang mengambil “jalur” taaruf bisa langgeng sampai “kakek-nenek”. Begitu pun mereka yang menikah karena dijodohkan oleh keluarga seperti cerita Siti Nurbaya.

    Jalan hidup orang berbeda-beda. Ada yang menemukan jodohnya di tempat kerja, komunitas, kampus, dikenalkan teman, dijodohkan, taaruf, hingga melalui aplikasi tertentu.

    Bagi saya, menikah bukanlah kompetisi. Bukan siapa yang paling cepat menemukan pasangannya. Bukan pula hanya dipengaruhi faktor finansial dan mental.

    Percaya atau tidak, siapapun akan menemukan jodohnya di saat dan waktu yang tepat menurut Tuhan. Disadari atau tidak, siapa saja akan memperoleh pasangan seperti yang dipikirkan dan diharapkan. Jika sudah demikian, yang harus dilakukan oleh orang-orang yang melajang ialah cukup berusaha dan berdoa.

     

    Mengenai Rezeki

                Usia 20an mungkin merupakan fase terpenting dalam menentukan pekerjaan. Tak mengherankan, di masa ini ada berbagai banyak keputusan yang harus diambil. Mulai dari memilih perguruan tinggi, tempat magang, profesi, hingga bidang bisnis yang ingin ditekuni.

    Yang saya pelajari, usia 20an begitu dinamis. Ada banyak perubahan pola pikir di masa ini. Ada beragam kejutan yang tak disangka-sangka. Ada berderet orang yang mewarnai perjalanan hidup kita di  fase ini.

    Di usia 20an, kita mulai belajar kerasnya kehidupan. Saya tidak mengatakan di fase sebelum atau setelahnya tidak keras – sama sekali bukan. Namun, di periode ini kita memang sedang gencar-gencarnya berjuang menjemput, mengupayakan, atau mencari rezeki.

    Yang saya pahami, uang bukan satu-satunya tolok ukur rezeki. Karena sudah jamak terdengar orang yang kaya-raya tapi bunuh diri. Para pesohor yang memiliki puluhan juta penggemar mengakhiri hidup dengan tragis. Para pengusaha yang bergelimang kemewahan tidak memiliki waktu untuk anak. Para pejabat yang terlihat “enak” menyesal dalam penjara yang memalukan.

    Rezeki tentang keberkahan. Bukan dari seberapa banyak kita memperoleh. Rezeki ialah tentang memberi, bukan terhenti pada tahap memiliki.

     

    Kebahagiaan Yang Paling Didambakan

                Di usia 20an kita mulai diuji oleh berbagai pernak-pernik kehidupan. Khususnya mengenai karir, bisnis, rumah tangga, dan gaya hidup.

    Di fase ini, nilai-nilai kehidupan kita benar-benar diuji. Karena pengaruh dari luar diri kita begitu luar biasa untuk “menggoyang” apa yang sesungguhnya kita inginkan dalam hidup.

    Kendali ada pada diri kita. Apakah kita mau mengikuti apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup atau mengikuti apa yang orang lain inginkan dari diri kita?

    Kendali ada pada diri sendiri. Apakah kita mau mengikuti apa yang membuat kita bahagia atau didikte oleh orang tua, teman, institusi atau media.

    Di usia 20an, identitas kita benar-benar mulai diuji. Apakah kebahagiaan versi kita berbanding lurus dengan kekayaan, ketenaran dan kekuasaan? Atau bukan dari ketiganya?

    Yang pasti, apapun yang sebenarnya kita inginkan, itulah yang membuat diri kita bahagia. Jika kita sudah tahu apa itu, ikuti saja kata hati.

    Namun, kita juga harus ingat. Bahwa apa yang kita lakukan tidak melanggar. Baik dari sisi agama, hukum, sosial dan alam.

     

    Sebenarnya di luar 5 (lima) hal di atas, masih ada berderet pelajaran lain yang bisa saya tuturkan. Namun, saya kira kelimanya telah mewakili.

    Usia 20an ialah periode eksplorasi. Jadi, lakukan saja apapun yang kita inginkan. Kejar apa saja yang membuat kita bahagia.

    Di fase 20an, energi kita berada pada puncaknya. Jadi, jangan sampai ia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang berarti dan kita banggakan di kemudian hari.

    Saya baru saja mengakhiri fase 20an. Ini cerita saya, bagaimana dengan Anda?

     

     

     

     

     

     

  • Followership Yang Terlupakan

    Belum lama ini saya bertukar pikiran dengan salah satu mitra. Sebut saja bernama Peter. Ia merupakan Direktur Pengembangan Bisnis di sebuah perusahaan telekomunikasi asal negeri jiran.

    Tiga bulan terakhir Peter pusing bukan kepalang. Pasalnya, berbagai pelatihan kepemimpinan yang diikuti oleh para bawahannya (setingkat Kepala Divisi) seolah sia-sia saja. Padahal ia telah memfasilitasi berderet program untuk mengasah jiwa kepemimpinan mereka.

    Kepercayaan diri Peter pelan-pelan meredup. Kendati ia telah mengikuti program Executive Coaching di salah satu firma konsultasi ternama. Ia merasa kemampuan kepemimpinannya sendiri lemah. Karena para bawahan yang diharapkan bisa membantunya memenuhi target-target perusahaan tidak berkinerja.

    Cerita Peter mungkin terdengar sangat klise. Betapa di luar sana para pemimpin di berbagai level dibuat frustasi oleh kinerja bawahannya. Mereka berlomba-lomba mengikutsertakan bawahannya dalam berbagai program. Dari training hingga coaching, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

    Menjadi pemimpin di era disruptif memang tidak mudah. Terlebih lagi jika di dalam organisasi tersebut komposisi antar generasi cukup berwarna. Entah Baby Boomer, Gen X, ataupun yang terutama Millennial. Karena pola pikir, cara pandang, dan orientasi karirnya bisa jadi berbeda satu sama lainnya.

    Sebagai mitra, saya tentu tidak bisa serta merta menghakimi Peter. Karena sebagai seorang Direktur, saya yakin ia telah berusaha memberikan yang terbaik untuk mewujudkan misi dan visi perusahaannya. Terlebih lagi jika saya lihat dari jejak rekam pendidikan, pengalaman organisasi, dan gaya kepribadiannya yang begitu mengesankan. Hampir tidak ada celah bagi saya untuk memberikan umpan balik yang berarti.

    Saya justru menangkap permasalahan Peter dari sisi lain. Karena saya pikir ia merupakan pemimpin yang baik. Namun, bagaimana dengan bawahannya? Apakah ia memiliki jiwa “kepengikutan” (followership) yang baik juga? Nah, ini yang masih menjadi tanda tanya.

    Seseorang bisa dikatakan sebagai pemimpin jika memiliki pengikut. Oleh karena itu, sejak kita kecil seolah-olah kita sudah didoktrin oleh pendidikan formal, masyarakat, maupun keluarga untuk menjadi pemimpin.

    Tidak ada yang salah memang.  Karena setiap orang dilahirkan sebagai pemimpin dengan kadar masing-masing. Minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarga. Alangkah baiknya jika bisa memimpin dalam skala lebih luas seperti perusahaan, organisasi nirlaba, atau pemerintahan.

    Namun, yang sering terlupakan ialah kepengikutan (followership). Karena seolah-olah pengikut dianggap memiliki “kasta” lebih rendah daripada pemimpin. Padahal, sejatinya sama saja. Pemimpin dan pengikut bagaikan dua sisi koin.

    Setiap orang ialah pemimpin. Setiap orang pada dasarnya juga merupakan pengikut dalam ruang dan waktu tertentu. Karena tidak akan ada  pemimpin yang baik tanpa memiliki pengalaman kepengikutan yang baik.

    Kepengikutan ialah kemauan untuk bekerjasama mencapai misi, yang ditunjukkan dengan kerjasama tim yang tinggi, guna membangun kohesi di antara anggota  organisasi. Dalam kacamata manajemen modern, pengikut merupakan bawahan yang memiliki power, wewenang, dan pengaruh lebih kecil dibandingkan dengan atasannya.

    Konsep kepengikutan di Indonesia mungkin belum setenar kepemimpinan. Karena dari buku-buku, seminar, pelatihan, konferensi, lokakarya, maupun pendidikan formal hampir semuanya ingin mencetak pemimpin yang hebat. Setidaknya yang saya alami sendiri.  Saya belum pernah menemukan satu pun buku panduan terbitan lokal atau forum yang mengajarkan saya sebagai “pengikut yang baik” di sepanjang 18 tahun belajar di bangku formal dan 6 tahun di dunia kerja.

    Jika Anda sekarang dipercaya sebagai  pemimpin, jangan sekal-kali meremehkan para bawahan Anda. Karena bukan tidak mungkin di suatu hari kelak, mereka akan berada di posisi setara atau lebih berpengaruh daripada Anda.

    Jika Anda sekarang “hanya” sebagai pengikut, jangan berkecil hati. Karena Anda bisa belajar banyak dari pemimpin di organisasi atau di luar organisasi Anda bekerja. Manfaatkan kesempatan emas tersebut untuk menjadikan diri Anda pemimpin yang kredibel di kemudian hari.

    Akhir kata, saya ingat pesan Mike Bonem dan Roger Patterson bahwa “If you believe lack of authority prevents you from leading effectively, it is time to rethink your understanding of leadership.” Sudahkah Anda menjadi pengikut yang baik?

     

    *Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan, 20 Agustus 2018