Category: Blog

  • Buku SOUP Lezat, Usaha Hebat

    Menyajikan soup lezat untuk bisnis skala besar jelas lebih rumit dibandingkan dengan soup lezat untuk skala “kaki lima”. Kuncinya dimulai dari membuat semangkok soup lezat. Baru bisa diperbanyak dengan standar resep dan cara memasak yang sama.

    Filosofi soup lezat menyadarkan kita mengapa 4 dari 5 pebisnis pemula gagal di dua tahun pertama dan mengapa 1 dari 25 perusahaan jatuh sebelum berumur 10 tahun. Konsep ini mengingatkan kita betapa ketidakseimbangan dalam menjalankan aspek sistem, orang, uang, dan pelanggan secara berkesinambungan menjadi bumerang yang mempercepat kehancuran usaha.

    Buku ini mengenalkan konsep Balanced Pillar sebagai alternatif Balanced Scorecard dengan gaya bertutur dan diksi yang membumi. Sehingga mudah dipahami pembaca untuk menyadarkan pentingnya menata keseimbangan pengembangan sistem yang dikelola oleh orang yang tepat, ditunjang oleh penataan uang yang tepat guna dan pengembangan jaringan pelanggan yang luas guna mencapai kinerja efisien yang berkelanjutan.

    Digodok bersama oleh tim solid yang berisi CEO di perusahaan multinasional & lokal, pengusaha, konsultan manajemen dan praktisi SDM; buku ini dilengkapi dengan kuisioner untuk membantu pembaca menilai organisasi secara paripurna dari empat aspek yang tak dapat dipisahkan yaitu sistem, orang, uang, dan pelanggan (SOUP). Sarat dengan studi kasus, lessons learned, best practices, dan temuan mutakhir dari persepektif lokal dan global; buku ini layak menjadi teman sekaligus guru yang mengajak pembaca belajar mengukur keseimbangan proses guna mewujudkan kinerja organisasi secara berkelanjutan – baik untuk lembaga profit maupun non-profit. Sehingga wajib digunakan sebagai “panduan” untuk pebisnis, direktur, manajer, Self-Employee, konsultan, mahasiswa, maupun masyarakat  luas.

     

    Mengapa Harus Membaca Buku Ini? 

    1. Menawarkan konsep manajemen asli Indonesia;
    2. Belum ada satupun buku terbitan lokal yang mengupas tuntas sistem manajemen strategis
    3. Menjadi konsep alternatif untuk melengkapi Balanced Scorecard (BSC);
    4. Ditulis dengan gaya bertutur yang menghadirkan engagement dengan pembaca sehingga lebih mudah dipahami;
    5. Dilengkapi dengan temuan mutakhir, best-practices dan studi-studi kasus dari dalam dan luar negeri;
    6. Dilengkapi dengan kuisioner yang berisi 76 pertanyaan untuk mengukur keseimbangan proses yang menjadi kunci kinerja organisasi, baik profit maupun non-profit;
    7. Membantu pembaca menilai organisasi secara paripurna dari empat aspek yang tak dapat dipisahkan yaitu sistem, orang, uang, dan pelanggan (SOUP);
    8. Menyadarkan pembaca pentingnya proses yang “seimbang” dan benar untuk keuntungan berkelanjutan.

     

    Di mana Bisa Mendapatkan Buku Ini?

    1. Versi cetak bisa diperoleh di toko buku Gramedia, Togamasdan Gunung Agung
    2. Versi digital bisa dibeli di 4 apps: iPusnas, iReader, iJogja dan E-Sentral 

     

    Apa Kata Para Tokoh? 

    “Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang ingin meningkatkan kinerja perusahaan dan mengerti konsep sistem manajemen strategis! Baca buku ini, perjuangkan mimpi Anda dan berkaryalah bagi negara kita tercinta. Indonesia, Pasti Bisa!”

    ~ Merry Riana, Motivator Wanita No.1 di Indonesia & Asia, Tokoh Inspirasi Buku & Film ‘MERRY RIANA: Mimpi Sejuta Dolar’,  TV Host ‘I’m Possible’ on Metro TV, Radio Host ‘The Merry Riana  Show’ on Sonora Network, www.MerryRiana.com

    “Membaca konsep dan narasi dalam buku ini secara utuh laksana menyelesaikan kuliah strategi di program MBA dalam waktu singkat namun tetap mendalam.”

    Harryadin Mahardika, Ph.D.

    Kepala Program Magister Manajemen

    Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

     

    “Apabila proses bisnis tidak seimbang, maka bisnis dengan usaha sekeras apapun akan tersendat bahkan bisa gagal total. Saya angkat topi untuk penulis yang telah mampu menuliskan gagasannya dengan cemerlang!”

    Dr. Ir., Ahmad Syamil, MBA

     Dekan Binus Business School Jakarta

     

    “Kita semua harus menjaga keberhasilan perusahaan kita, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dan untuk itu semua kegiatan perusahaan harus diukur agar mendukung keberhasilan dari kedua perspective itu. Balanced Pillar akan mengajak Anda untuk membuat pengukuran keberhasilan perusahaan Anda, baik untuk pencapaian objective di masa sekarang maupun keberlangsungan perusahaan di masa depan.”

    Pambudi Sunarsihanto

    Ketua Umum Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (Indonesia)

    “Membangun bisnis bagi siapapun tidaklah mudah. Dibutuhkan sistem yang baik, sumber daya manusia  yang bertalenta, modal, dan kecakapan dalam memenuhi apa yang diinginkan pelanggan. Buku ini akan melengkapi tentang apa yang dibutuhkan dalam mengelola dan mengembangkan usaha.”

    Dr. Asto  Sunu Subroto

     CEO Mars Data Science

    Layaknya kehidupan manusia, bisnis yang sehat harus dijalankan secara seimbang. Dari aspek sistem, pengembangan sumber daya manusia, keuangan, hingga memuaskan pelanggan. Tanpa keseimbangan, bisnis memang masih bisa bergerak. Namun pasti akan datang suatu masa yang bernama ketumbangan. Congratulation Agung for writing this brilliant idea, keep up the good work! 
    Kus Heryuwono, President Director Intipesan Group
    “Buku ini hadir sebagai alternatif sekaligus pelengkap bagi Balanced Scorecard – konsep yang jauh dari sempurna untuk konteks Indonesia. Ia wajib dibaca oleh organisasi dan eksekutif yang ingin melakukan terobosan.”  
    Wijayanto Samirin, Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Ekonomi dan Keuangan & Komisaris Independen PT Indosat Ooredoo Tbk

    “Indonesia sebagai negara yang besar dan progresif membutuhkan buah pendalaman manajemen yang baik dan segar seperti buku ini. Para praktisi dan pemikir ilmu manajemen dapat menambah perspektifnya akan ketahanan organisasi dengan SOUP yang ditawarkan oleh Agung Setiyo Wibowo.”

    ~Andrew Emmanuel Tani, CEO AndrewTani & Co.

    “Ini merupakan buku pertama paling komprehensif yang pernah saya baca mengenai pentingnya menjaga keseimbangan seluruh aspek dalam roda organisasi. Studi-studi kasus yang dipaparkan mampu menyadarkan saya betapa mengelola organisasi  yang benar itu bermuara pada dua hal: strategy & execution. Yang terpenting, buku ini membantu saya memahami pengukuran kinerja organisasi dengan lebih masuk akal dan komprehensif.”
    Bahari Antono, CEO HRD Forum
    “Salah satu cara paling efektif dalam pembelajaran ialah meniru best practices dan lessons-learned dari the crème de la crème. Buku ini mampu menyuguhkan jalinan cerita perusahaan-perusahaan terbaik di buka bumi dalam mengelola aspek sistem (S), orang (O), uang (U) dan pelanggan (P)”.
    ~Hilbram Dunar; Pembawa Acara TV & Radio, Penulis Buku My Public Speaking
    “Buku ini kaya dengan inspirasi dan sekaligus how to yang aplikatif. Oleh karena itu, disarankan untuk menjadi rujukan para leader maupun manager yang ingin mewujudkan meaning dan effectiveness sekaligus.  Enjoy your reading. “
     ~ Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, Executive & Leadership Coach

    “Seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya, Agung menyajikan hasil kajian dan pemikirannya dalam tulisan yang enak dibaca dan mudah dipahami. Konsep “Balanced Pillar”, yang diajukan sebagai alternatif dari pendekatan “Balanced Scorecard” yang sudah lebih banyak dikenal dan dipakai, menekankan pada pentingnya keseimbangan empat aspek utama dalam organisasi, baik yang berorientasi profit maupun non-profit, yaitu sistem, orang, uang dan pelanggan (disingkat SOUP). Apa yang disampaikan dalam buku ini sangat mengena dan sesuai dengan pengalaman saya sendiri dalam mengelola usaha swasta maupun organisasi non-profit.”

    ~ Wicaksono Sarosa, Chief Knowledge Worker Ruang-Waktu Knowledge-Hub for Sustainable [Urban] Development dan Ketua Dewan Eksekutif Kemitraan-Habitat

    “Tidak semua orang bisa membaca kinerja perusahaan secara paripurna. Buku ini menawarkan semua yang perlu dipahami untuk menjalankan bisnis dengan benar. Saya rekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh pebisnis dan manager serta pimpinan perusahaan maupun organisasi nirlaba yang ingin meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasinya dengan signifikan.”

    ~ Aries Nugroho, General Manager Ogilvy Public Relations

    “Buku ini memiliki dua hal: komprehensif dan seimbang. Komprehensif dalam penyampaian mengenai pentingnya menjaga keseimbangan seluruh aspek dalam roda organisasi. Seimbang dalam penyajiannya yang komprehensif, mulai dari sejarah, filosofi, elaborasi aspek-aspek, hingga kuesioner untuk mengukur keseimbangan proses yang menjadi kunci kerja organisasi. Pun pula, studi-studi kasus yang dipaparkan mampu menyegarkan kita kembali mengenai cara mengelola organisasi yang benar yaitu bermuara pada dua hal: strategy & execution.”

    ~ Bambang Suseno, ST, CIIB, ANZIIF (Snr. Assoc.), CIP; Ketua Umum Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI)

    “Apa yang ditawarkan dalam buku ini tidak hanya bisa diterapkan untuk kalangan korporasi, tapi juga organisasi nirlaba. Agung dengan cerdas menggoreskan gagasannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Sehingga dapat dipahami oleh siapa saja.”

    ~ Tito Hananta Kusuma, Managing Partner Tito Hananta Kusuma & Co.

     

     

    Ingin Pesan Sekarang?

    Kamu bisa mendapatkan harga khusus sebelum 31 Agustus 2018. Jadi, tunggu apa lagi. Pesan sekarang  juga melalui Krishna di +62-852-3050-4735 (Whatsapp/Telegram/Line/SMS/Call) atau grandsaint@gmail.com.

  • Menjadi Politisi Millennial Idaman

    “Tidak ada kawan maupun musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi”.

    Ungkapan ini mungkin terdengar begitu klise bagi sebagian kita. Namun, memang begitulah adanya. Ia tidak lekang dimakan zaman.

    Politik memang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan. Siapapun yang berjuang di ranah ini, seyogyanya menjadikannya sebagai “kendaraan” untuk mewujudkan cita-citanya – bukan tujuan akhir.

    Saya sebut “kendaraan” karena tujuan politik itu sendiri ialah tidaklah tunggal. Idealnya, ia dijadikan “ladang” untuk mengabdi kepada Tuhan. Dengan cara memberikan solusi, menciptakan nilai tambah, melayani sesama, dan membantu kehidupan orang banyak. Itu semua dikristalkan dalam berderet luaran dari yang berbentuk undang-undang, kebijakan, hingga program-program.

    Karena politik hanyalah kendaraan, politisi idaman tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Ia justru dimanfaatkan sebagai “jalan tol” untuk memperjuangkan cita-cita bangsa yang telah terpatri dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

    Sayangnya, dalam konteks kekinian tidak mudah mendapati politisi idaman. Mungkin bisa dianalogikan dengan mencari jarum dalam tumpukan sekam. Pasalnya, bisa dibuktikan dengan tiada hentinya KPK menjerat para pemimpin daerah yang korup. Mereka ialah potret orang-orang yang menjadikan politik sebagai tujuan akhir. Menghisap uang rakyat dengan jubah agama, dan merampok aset negara dengan segala cara.

    Sebagai generasi yang sangat melek teknologi, sudah sepantasnya millennial bisa membedakan mana politisi busuk dan mana politisi idaman. Kategori pertama dengan mudah diidentifikasi karena mereka telah “diwakili” oleh para politisi yang sekarang ada di balik jeruji. Mereka sering “memainkan” proyek untuk kepentingan pribadi dan golongan, tidak banyak prestasi selama mengemban amanah, dan pada umumnya hanya licik dalam mengambil hati rakyat.

    Millennial adalah harapan bangsa. Mereka ialah agen perubahan sesungguhnya untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 – tepat seabad pasca kemerdekaan. Suatu fase yang disebut-sebut akan menempatkan negeri ini di peringkat lima besar ekonomi dunia. Suatu periode yang hanya bisa dicapai jika bonus demografi dimanfaatkan dengan benar.

    Dalam kacamata saya sebagai People Developer, ada beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada para calon politisi millennial idaman.

    Pertamamengenali diri sendiri. Sebelum benar-benar terjun ke ranah politik, langkah ini tidak bisa dilewati. Anda harus mengerti betul kekuatan, minat, bakat, passion, dan cita-cita diri sendiri. “Selesai dengan diri sendiri” ialah kunci sebelum menjadi pelayan masyarakat paripurna.

    Keduamenemukan panggilan hidup. Politik hanyalah salah satu cara untuk bermanfaat kepada orang lain. Karena untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik bisa dilakukan dari berbagai cara. Oleh karena itu, tanyalah diri Anda sendiri. Mengapa Anda ingin terjun ke politik praktis? Apa yang benar-benar Anda gelisahkan dalam politik Indonesia? Apa yang betul-betul Anda cari dan perjuangkan sebagai politisi? Di antara berderet masalah yang mendera bangsa ini, apa sektor yang akan Anda prioritaskan untuk dibenahi?

    Ketiga, merayakan kemajemukan. Karena NKRI harga mati, hanya Pancasila yang mampu menjadi bentengnya. Oleh karena itu perbedaan adalah rahmat, bukanlah kutukan. Itu mengapa ia ada untuk dirayakan, bukan dicari-cari segala cara untuk menambah masalah.  Menyadari hal ini, inklusifitas tidak bisa ditawar lagi. Politisi millennial harus benar-benar menjadi pribadi yang terbuka, progresif, dan memandang keragaman sebagai modal untuk mengantar kejayaan negeri.

    Keempat, memahami konteks glokal. Artinya, politisi millennial tidak hanya dituntut untuk berwawasan global, namun juga wajib memahami kearifikan lokal. Suka tidak suka, mau tidak mau, globalisasi tidak bisa  dihindarkan; itu mengapa menjadi pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah dengan konteks lokal menjadi keharusan. Untuk itu, membangun jejaring internasional demi kepentingan lokal menjadi kuncinya. Karena itu, membaca hikmah tersurat dan tersirat menjadi pedoman. Karena dewasa ini dan ke depannya, sinergitas atau kolaborasi ialah “panglima” bukan semata-mata kompetisi dalam arti sempit.

    Kelimamemiliki mentor. Memang benar, terjun langsung di lapangan ialah kunci untuk sukses di bidang apapun. Namun, memiliki mentor secara beriringan akan bisa menjadikan Anda lebih bernilai. Pasalnya, seorang mentor lebih dahulu menyelami ranahnya. Itu mengapa dengannya, Anda bisa mempelajari best practices, lessons learned, dan unique insights yang mungkin tak dapat didapatkan dari buku. Yang lebih penting lagi, Anda bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya agar tak jatuh di lubang yang sama. Jadi, tentukan segera “siapa saja mentor politisi Anda?”

    Keenammerancang obituari. Menjadi politisi rata-rata memang mudah, namun menjadi politisi idaman butuh perjuangan ekstra secara lahir maupun bathin. Oleh karena itu, sebelum mematok target setinggi langit, ada baiknya Anda untuk merancang obituari. Anda bisa berimaginasi dengan perjalanan hidup Anda sendiri, masalah-masalah yang ingin Anda selesaikan, orang-orang yang ingin Anda layani, prestasi yang ingin Anda torehkan, dan bagaimana Anda ingin dikenal oleh dunia. Mungkin ini terkesan idealis, namun tidak ada salahnya dicoba. Karena kata orang; nasib kita dimulai dari pikiran, bukan?

    Di luar dari enam poin di atas, sebenarnya masih ada berderet pesan lain yang ingin saya sampaikan untuk para calon politisi millennial idaman. Namun yang pasti, apapun ambisi yang Anda miliki, saya sarankan berpijak pada tiga kata: Be, Do, dan HaveBecoming yang diwakili oleh “Why” berarti misi hidup, mengapa ingin menjadi politisi dan apa motivasi terkuat dari dalam diri. Doing yang diwakili oleh “How” berarti apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencapai misi, itu mengapa disebut dengan strategi. Oleh karenanya, ini bersifat fleksibel karena menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kata kuncinya ialah cara, jalan, dan bagaimana. Having yang diwakili oleh “What” merupakan akibat dari upaya yang Anda kerahkan. Dalam kamus manajemen, bisa diartikan sebagai prestasi baik yang terlihat maupun tidak.

    Akhir kata, hidup ialah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda. Untuk apa Anda ada. Ke mana Anda ingin pergi. Dan mengapa Anda ingin sampai di sana. Selamat berjuang sababatku politisi millennial idaman!

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Biem.co pada 23 Juli 2018 

  • Seni Transformasi Diri

     

    Baru-baru ini saya bertemu kawan lama saya. Sebut saja bernama Heri. Kami bersua di salah satu pusat perbelanjaan papan atas di bilangan Senayan.

    Perjumpaan saya dengan Heri kali ini berbeda dari yang sudah-sudah. Pasalnya jika sebelumnya kami bercakap-cakap sebagai sesama teman seperjuangan. Pertemuan di Senayan itu ia memosisikan diri sebagai coachee, sedangkan saya sebagai coach.

    Usut demi usut, Heri ingin sekali mengubah hidupnya secara holistik. Ia mengaku sudah berusaha mati-matian untuk “menyulap” nasib dalam kurun lima tahun terakhir. Namun, hasilnya lagi-lagi selalu gagal. Ia memang unggul dalam satu atau dua sisi, namun masih saja “hancur” dalam sisi lain. Hidupnya tidak seimbang.

    Intinya, Heri berada dalam keputusasaan. Ia sudah mencoba hampir semua cara yang telah disarankan oleh para coach senior. Juga telah mengikuti apa yang disampaikan oleh para pembicara di seminar atau forum pengembangan diri yang diikutinya. Tidak hanya itu, berbagai buku keluaraan Amerika telah ia lahap. Namun, hasilnya masih nihil.

    Heri tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia ingin sekali memperbaiki hidupnya. Namun, selalu berhenti bahkan mundur di situ-situ saja karena satu dan lain hal.

    Sekilas, masalah yang dihadapi Heri sejatinya sederhana saja. Tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Mulai dari mental block hingga dorongan dari dalam diri yang ternyata hangat-hangat tahi ayam.

    Setelah saya cermati lebih dalam, Heri tak kunjung berhasil mengubah hidupnya karena empat hal. Ya, empat hal yang mungkin terkesan sepele tapi sering diabaikan dalam transformasi diri.

    Pertama, mengindentifikasi nilai-nilai hidup. Heri memang memiliki semangat besar untuk berubah. Namun, upayanya tidak diiringi dengan pengenalan diri sendiri terlebih dahulu. Sebagai contoh, ia sebenarnya tahu bahwa keluarga menjadi prioritas pertama dibandingkan dengan uang dan status. Realita di lapangan menunjukkan hal bertentangan, sehingga keluarga yang seharusnya menjadi support system malah tercampakkan. Sehingga, meski ia berhasil mendapatkan fortune & fame, kebahagiaan tidak hinggap di hatinya karena merasa “kosong”.

    Kedua, menetapkan goal yang jelas dan memiliki komitmen tinggi. Setelah saya amati, Heri memang sudah cukup baik memetakan tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Sayangnya, ia masih memiliki komitmen yang rendah. Sebagai contoh, ia ingin senantiasa fit. Namun, ia malas berolahraga dan malah sering mengkonsumsi masakan cepat saji, dan  begadang atas nama produktifitas. Akibatnya, ia memang senang dalam jangka pendek. Namun ia “kebobolan” untuk kebahagiaan jangka panjang. Tak mengherankan, tak peduli berapa banyak  uang dan popularitas yang ia dapatkan, ia masih merasa sebagai “remah-remah rengginang” karena sakit-sakitan.

    Ketiga, menyadari hambatan. Bertahun-tahun, Heri hanya mengukur keberhasilan dari satu sisi saja. Sebagaimana kebanyakan orang, ia menempatkan harta-tahta-ketenaran di urutan pertama. Sayangnya, ia tidak menyadari bahwa hidup ini pilihan. Jadi, selalu berlaku hukum trade-off. Alhasil, tak peduli seberapa besar dorongan ia ingin berubah, selalu saja gagal. Karena ia tak sadar bahwa kesehatan dan keluarga tidak kalah pentingnya dengan “kesuksesan semu” yang ia kejar setengah mati. Jadi, alangkah baiknya jika mampu menyeimbangkannya secara terus-menerus.

                Keempat, mengukur dan merayakan keberhasilan. Heri memang tahu apa yang diinginkan dalam hidupnya. Suatu permulaan yang cukup baik. Sayangnya, ia kurang menghargai diri sendiri. Jadi, ia enggan mengapresiasi kemajuan (progress) yang dicapai dalam upaya mereguk cita-cita besarnya. Ia lupa bahwa menikmati proses atau perjalanan terkadang lebih penting ketimbang mencapai titik akhir – yang mana sebenarnya tidak pernah ada kondisi itu.

    Semoga yang Heri alami di atas menjadi pelajaran berharga bagi Anda. Untuk senantiasa memandang hidup secara holistik. Bukan sepotong-potong, bukan secara parsial.

    Selamat menikmati proses transformasi diri. Sebuah seni yang sejatinya dapat kita poles di sepanjang perjalanan hidup. Sebagaimana yang dituturkan Rick Warren bahwa Transformation is a process, and as life happens there are tons of ups and downs. It’s a journey of discovery – there are moments on mountaintops and moments in deep valleys of despair.”
     

    *) Pertama kali dimuat di Inti Pesan, 13 Juli 2018

     

     

  • Film Itu Bernama Kehidupan Diri Sendiri

    “Setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba: forsythia, kamelia dan bunga-bunga lain. Bebungaan itu tahu kapan mereka akan mekar; tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain. Apakah kamu merasa tertinggal dari teman-temanmu? Apakah kamu merasa telah menyia-nyiakan waktu sementara teman-temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kamu berpikir demikian, ingatlah bahwa kamu memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga dengan teman-temanmu. Musimmu belum datang, Namun ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar sebelum dirimu. Jadi, angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu. Ingatlah, kamu begitu menakjubkan!”

     

    Kutipan di atas lahir dari seorang profesor berkebangsaan Korea bernama Rando Kim dalam buku berjudul “Time of Your Life”. Dalam karya tersebut, pria  yang sehari-hari mengajar di Universitas Nasional Korea itu menuturkan nasehat-nasehat luar biasa bagi kawula muda yang sebagian besar (mungkin) frustasi oleh tuntutan keluarga, masyarakat, dan pergaulan.

    Rando Kim telah berhasil mencuri perhatian millennial Negeri Ginseng. Pasalnya, buku yang pertama kali diterbitkan di penghujung 2010 itu menduduki peringkat wahid pada daftar buku terlaris selama tiga pekan. Tidak hanya itu, rekor penjualan satu juta kopi pecah hanya dalam waktu delapan bulan.

    Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa buku yang topiknya terkesan “remeh-temeh” digandrungi? Jawabannya sederhana sekali. Karena karya itu mampu tampil sebagai solusi.

    Kita tahu pertumbuhan ekonomi Korea Selatan begitu menakjubkan. Sebuah negeri yang beberapa dekade lalu selevel dengan Indonesia, kini bisa dikatakan (hampir) sejajar dengan Jepang dan negara-negara maju lainnya. “Demam Korea” menjadi saksinya. Gastrodiplomacy menjadi penyokongnya. Kunjungan turis mancanegara menjadi indikatornya. Dan tak bisa dibantah lagi, produk-produk andalan bangsanya telah menyebar ke  seluruh penjuru dunia. Mulai dari Samsung, LG, Hyundai, KIA dan seterusnya.

    Seiring dengan pesatnya kemajuan ekonomi Korea, semakin ketat pula iklim “persaingan” di tengah kawula mudanya. Setiap orang berlomba-lomba menjadi sukses, berpengaruh, dan berkedudukan. Setiap individu habis-habisan untuk menjadi yang terbaik di bidangnya.

    Kerasnya persaingan menjadikan “beban” kawula muda Korea menjadi-jadi. Tekanan sosial tak bisa terelakkan. Akibatnya, angka bunuh diri di negara itu menjadi salah satu yang tertinggi di jagad. Tak mengherankan buku Rando Kim yang awalnya ditulis untuk puteranya yang bernama Jun langsung “meledak” di pasaran.

    Sebagian apa yang dituturkan Kim persis dengan apa yang saya tuliskan dalam buku Mantra Kehidupan: Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life Crisis beberapa waktu lalu. Sebuah buku Self-Help yang membantu anak muda untuk mengarungi usia 20an dan 30an dengan lebih produktif berbasis pengenalan diri.

    Lantas, apa pesan yang ingin saya sampaikan?

    Hidup itu bisa diibaratkan seperti film. Kita bisa berperan sebagai pemain, sutradara, dan produser sekaligus. Tidak hanya menjadi penonton.

    Karena kehidupan laksana film, maka pikiranlah yang menjadi panglimanya. Karena apa yang kita pikirkan bisa menjadi “film diri”, maka pikiranlah yang menjadi proyektornya.

    Proyeksi melahirkan persepsi. Oleh karena itu, masa depan kita ditentukan oleh bagaimana kita memproyeksikan keyakinan mengenai masa lalu yang digerakkan oleh tindakan kita hari ini.

    Mengambil hikmah dari masa silam sudah menjadi keharusan. Memiliki harapan akan masa depan menjadi kewajiban. Namun yang terpenting ialah apa yang kita lakukan saat ini. Dari momen ke momen.

    Karena Anda ialah film yang Anda buat sendiri, Anda bisa membuat film apapun yang Anda mau. Andalah yang berhak menentukan ceritanya dari awal hingga akhir. Anda pulalah yang memilih alurnya secara rinci.

    Pilihan di tangan Anda. Mau menjadi aktor yang seperti Apakah Anda? Ingin cerita yang “sedramatis” apakah Anda di akhir film?

    Yang pasti, nikmati saja proses pembuatan film itu. Jiwai peran yang Anda mainkan. Karena hidup katanya tidak lebih dari sekedar permainan yang melenakan.

     

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di AkuBisaBerbuatBaik.com

  • Sabbatical: Seni Menemukan Makna Hidup Dalam Jeda

    Jeda ialah kemewahan yang sepertinya sulit dicapai oleh manusia modern. Sebuah masyarakat yang identik dengan kejar-mengejar  kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran. Sebuah sistem sosial yang memuja-muja kesibukan, kecepatan, dan kompetisi di segala lini.

    Di Indonesia, jeda sepertinya masih dipandang tabu. Berhenti sejenak dari rutinitas nampaknya dianggap aib. Cuti agak panjang seringkali jadi bahan omongan. Karena katanya sukses identik dengan “bergerak”. Laksana mesin-mesin di pabrik.

    Namun, manusia bukanlah robot. Itu mengapa di  negara-negara Barat para lulusan SMA banyak yang “menunda perkuliahan” (Gap Year). Mereka menikmati satu tahun penuh untuk mencari apa yang benar-benar diinginkan dalam hidup sebelum masuk ke jenjang perguruan tinggi.   Begitupun dengan kaum profesional. Lumrah saja mereka mengambil cuti yang berkisar dua bulan hingga setahun (Career Break). Biasanya diisi dengan traveling, volunteering, menekuni hobi, mencoba hal-hal baru, atau sekedar kontemplasi.

    Buku ini menuturkan kisah nyata penulis mengambil Sabbatical. Suatu fase yang dimanfaatkan untuk mencari jati diri. Suatu masa yang diisi untuk menemukan apa  yang disebut dengan kebahagiaan. Suatu periode yang membawanya mewawancarai lebih dari 1200 orang dari semua strata sosial untuk menceritakan apa makna hidup. Dari pengamen sampai presiden. Dari bhiksu sampai jenderal. Dari penyanyi sampai profesor.

    Disajikan dengan gaya bertutur tanpa menggurui, buku ini mengajak pembaca melihat kehidupan dari sisi lain. Berhenti sejenak dari kesibukan untuk menemukenali diri sendiri (self-discovery), mencari tahu apa yang paling dianggap penting dalam hidup, dan mendatangkan kebahagiaan tanpa syarat. Lebih dari itu, memoar ini menyadarkan pentingnya mencari jati diri sebelum mematok goal yang lekat dengan be, do, dan have.

     

    Apa Yang Dibahas Dalam Buku Ini?

    • Mengedukasi pentingnya mengambil Sabbatical yang belum jamak dilakukan oleh masyarakat Indonesia
    • Menyadarkan para pelajar dan mahasiswa mengapa mengambil Gap Year penting sebelum menentukan jurusan dan profesi
    • Menuturkan manfaat Career Break dari perspektif individu dan profesional
    • Memaknai keberhasilan dan kebahagiaan dari beragam sudut pandang
    • Mengulas “seni mencari jati diri” melalui berderet metafora sederhana
    • Menemukenali minat, bakat, kekuatan, potensi, passion dan panggilan hidup
    • Mengajak pembaca mempertanyakan tujuan hidup

     

    Keunggulan Naskah

    • Belum ada satupun buku asli Indonesia yang membahas Sabbatical, Gap Year, atau Career Break. Sehingga, buku ini menjadi rujukan utama bagi siapa saja yang ingin mengambil “masa jeda” dalam hidupnya.
    • Menawarkan “intisari” penulis selama lebih dari setahun menikmati masa jeda.
    • Menguraikan pemaknaan hidup lebih dari 1200 orang di 50 kota dan 10 negara yang penulis temui selama masa jeda. Dari beragam latar belakang mulai dari Presiden, Menteri, Bupati, anggota DPR, Jenderal, dokter, pengacara, pemuka agama, artis, jurnalis, bankir, praktisi SDM, motivator, pembawa acara berita, PR, agen asuransi, petani, dosen, pelaut, programmer, pengusaha, dll.
    • Mengajak pembaca mempertanyakan tujuan hidup dengan metafora sederhana. Suatu hal yang sejatinya dibutuhkan oleh setiap orang tapi terabaikan.
    • Membantu pembaca memaknai kembali apa yang benar-benar diinginkan, dicari, diperjuangkan, dan dianggap penting dalam
    • Memberikan perspektif lain dalam memandang keberhasilan, kebahagiaan, kekuasaan, kekayaan, dan ketenaran.
    • Menyadarkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dari aspek spiritual, finansial, emosional, intelektual, keluarga, sosial, karir dan kesehatan.

     

    Apa Kata Mereka?

    “Hidup ini singkat. Itu mengapa sah-sah saja kita terus berpacu dengan waktu untuk mencapai target demi target. Namun kita sering lupa bahwa goal yang kita anggap bisa membuat bahagia tersebut ternyata hanya sementara. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk menjalani kemewahan yang tak bisa dibeli dengan Rupiah: Sabbatical. Saya rekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin serius mengenal dirinya sendiri.”

    Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, M.M., CPHCM

    Guru Besar Manajemen SDM Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

     

    “Sederhana tapi berisi. Mencerahkan tapi tidak menggurui. Nampaknya dua kalimat tersebut dapat mewakili memoar buku Mas Agung ini.”

    Muqsith Ahmadi

    Co-Founder & CEO of Authentic Guards Pte Ltd

     

    Career Break harus diakui belum populer di tanah air. Mungkin karena orang Indonesia pada umumnya tidak ingin dilihat do nothing. Bisa jadi karena persepsi  masyarakat kita yang menganggap kesuksesan harus identik dengan sibuk, bergerak, dan berpacu dengan waktu. Saya salut dengan penulis yang berani menyuarakan hal berbeda dari orang kebanyakan. Untuk Anda yang punya “nyali” dan berani menantang hidup, saya rekomendasikan buku ini.  Anda WAJIB membacanya!”

    Vita Harsono

    Grapho-Therapist – Transformational Coach – Healing Practitioner

    Founder of Grapho Solution

     

    Intro-spectare yang lazim diucapkan orang menjadi introspeksi, sesungguhnya sebuah proses spiritual penuh makna dan mendalam di mana seseorang bukan saja harus berhenti, tetapi juga menyelami dalamnya samudera jiwa dengan satu tujuan utama mencari jati diri murni, apa dan siapa kita sesungguhnya, dan mau ke mana jiwa dan diri ini akan diarahkan. tulisan Mas Agung ini memberikan banyak pencerahan sekaligus tuntunan bagaimana melakukan perjalanan spiritual untuk mencari dan menemukan ulang arah diri dan jiwa kita. Bravo Mas Agung dan tetaplah mencerahkan…”

    Haris Herdiansyah, M.Si

    Dosen Psikologi, Penulis dan Peneliti Kualitatif

     

    Break kerja setahun, gilaa…! Itu pikiran banyak orang. Namun mengambil jeda sejenak sesungguhnya aktivitas bermanfaat untuk membuat Anda tidak sekedar merilekskan fisik dan hati. Tapi kesempatan berharga memperoleh hal-hal yang takkan anda dapati ketika tetap bekerja dan bekal untuk membuat anda melambung lebih tinggi dalam prestasi. Tidak percaya? Simak memoar ini. Siapa tahu Anda jadi terinspirasi dan tergoda mengikuti jejaknya.”

    Nunki Nilasari

    Konsultan dan Pendiri Subconsious Communication Academy

    (Handwriting, Body Languange, Physiognomy & Intuition)

     

    “Buku apik yang ditulis oleh sahabat Agung Setiyo Wibowo ini mengantarkan kita ke daratan kebahagiaan. Tema Sabbatical, Gap Year atau Career Break yang diangkatnya menurut saya laksana pitstop dalam arena perlombaan kebaikan dalam akhirat (fastabiqul khairat). Siapapun membutuhkannya. Dengan gaya bertutur, kita akan diajak untuk memahami renyahnya kata dan kalimat yang disajikan dalam buku ini. Karena itu, milikilah dan bacalah agar apa yang Anda harapkan dapat terwujud.”

    Abdul Muin Badrun SE, ME

    Passion for Improving Life Trainer dan Founder www.akubisaberbuatbaik.com

     

    “Original!!! Inilah buku pertama tentang “sabbatical” yang ditulis oleh penulis Indonesia. Penuh hikmah dan pengalaman. Karya “riset bertutur” yang cair dan mendalam. Teman ideal bagi Anda yang tengah menggali makna hidup di rimba peradaban modern.”

    Guru Kepribadian, Inventor PRiADI Psychological Fingerprints (P2F)

     

    Career Break harus diakui belum populer di tanah air. Mungkin karena orang Indonesia pada umumnya tidak ingin dilihat do nothing. Bisa jadi karena persepsi masyarakat kita yang menganggap kesuksesan harus identic dengan sibuk, bergerak, dan berpacu dengan waktu. Saya salut dengan penulis yang berani menyuarakan hal berbeda dari orang kebanyakan.”

    Guruh Taufan, M.Kom

    Trainer dan Penulis Buku Statement Analysis

     

    “Sebuah buku yang syarat dengan inspirasi fresh, ringan, applicable dan sangat masuk akal sehingga  mudah dicerna. Sebuah ‘Kitab Suci’, khususnya untuk kalangan pelajar dan mahasiswa sebagai pegangan dasar. Baca, pahami, gali dan lakukan. Buku yang syarat ide. Pak Agung mampu menceritakan dalam bahasa sehari-hari yang sangat lugas dan simple.”

    Alfa Maulana, MBA., CEC

    Sales & Leadership Professional Trainer

     

    “Buku ini memberikan perspektif yang berbeda tentang Sabbatical Leave. ‘Kekosongan’ selama periode sabbatical bisa memberi pencerahan, inspirasi, kreativitas dan penemuan yang belum terbayangkan sebelumnya.”

    Rudy Efendy, CPCC, ACC, NLP, CWM, CHRM

    Executive Coach, Facilitator & Trainer

     

    Jangan engkau mendayung perahumu terus-menerus tetapi berhentilah sejenak untuk melihat arah. Itu kata bijak yang sangat sesuai menggambarkan buku ini. Pelita bagi kita semua yang larut dengan berderet aktivitas. Ambilah jeda itu … dan buku ini sangat saya rekomendasikan untuk Anda.”

    Nur Fannie Prasetyo, MBA, ACC

    Life, Business & Corporate Coach

    Learning Development Consultant  & Corporate Trainer

     

     

    Mau Pesan?

    Gampang! Hubungi +62 819- 0861-2832 (Krishna).

  • Jurus Mengarungi Quarter-Life Crisis

    Baru -baru ini saya bertemu dengan sahabat kuliah. Sebut saja masing-masing bernama Tom, Fahmi, dan Andi. Kami akhirnya bisa berjumpa setelah lebih dari tiga tahun jarang bertegur sapa. Bulan Ramadhan rupanya menjadikan persuaan kami menjadi nyata dalam momen klise bertajuk Buka Bersama (Bukber).

    Tom merupakan jebolan Teknik Kimia dari PTN terbaik Indonesia yang terletak di Kota Bandung. Sejak lulus kuliah di akhir 2012, ia sampai saat ini masih bekerja di sebuah perusahaan migas asal Malaysia. Berdasarkan pengakuannya, ia ingin menyegerakan diri untuk undur diri. Namun belum ada “gambaran” mau melakukan apa setelahnya. Pikirannya terombang-ambing antara mengambil MBA di Ivy League atau membesut startup sendiri.

    Fahmi merupakan alumni Universitas Gadjah Mada jurusan Ilmu Politik. Ketika menjadi mahasiswa di Kota Gudeg, ia pernah dipercaya sebagai pimpinan di organisasi kemahasiswaan paling bergengsi tingkat nasional. Di penghujung perkuliahannya hingga empat tahun setelah wisuda, ia menjabat sebagai Staf Ahli salah satu Menteri. Ia belum lama ini menyelesaikan jenjang Master di Australia jurusan Kebijakan Publik. Saat ini hatinya gundah apakah mau merintis organisasi nirlaba yang dari dulu diidam-idamkannya atau menjadi “orang kepercayaan” politisi ternama lagi.

    Sementara itu Andi merupakan Lulusan Ekonomi dari Universitas Indonesia. Sejak wisuda hingga saat ini masih aktif sebagai seorang Konsultan Manajemen ternama. Ia telah menikah tiga tahun lalu. Sayangnya, belum diberi buah hati. Berdasarkan curhatannya, ia memang cukup sukses di bidang karirnya. Namun, ia merasa “remah-remah” ketika membicarakan biduk rumah tangganya. Ia merasa iri dengan Tom dan Fahmi yang masih melajang. Sehingga bebas mau pergi ke mana saja tanpa  dipusingkan “perizinan” dengan pasangan.

    Tom, Fahmi, dan Andi adalah potret dari Gen Y Indonesia yang termasuk kelompok kelas menengah baru. Dalam perspektif psikologi, apa yang mereka utarakan di atas bisa dikatakan sebagai Quarter-Life CrisisSebuah masa ketika seorang early jobbers dan profesional berusia 20an hingga 30an mempertanyakan keputusan yang telah diambil sekaligus mencemaskan apa yang akan dihadapi. Sebuah periode ketika anak-anak muda yang terlihat sukses di mata orang kebanyakan namun realitanya takut salah mengambil keputusan, ragu-ragu dalam melangkah, terlalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan galau akut yang seakan tak berkesudahan.

    Cerita sahabat kuliah saya di atas hanyalah puncak gunung es. Ketiganya mungkin mewakili suara jutaan millennial Indonesia yang kini menekuni segala profesi.

    Quarter-Life Crisis bukanlah isu baru. Itu merupakan fenomena global  yang tidak pandang batasan geografis. Sebagaimana dalam buku saya Mantra Kehidupan yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo setahun silam.

    Berikut ialah beberapa jurus mengarungi Quarter-Life Crisis yang bisa jadi bermanfaat untuk rekan-rekan.

    Pertama, kenali misi hidupmu. Mungkin terdengar berlebihan. Namun, begitulah semestinya. Dengan mengenal misi hidup sendiri, hidup kamu akan lebih terarah.

    Misi berbeda dengan goal. Misi lebih berkaitan dengan tujuan hidup. Apa  saja yang akan menjadi “warisan” kelak ketika kamu tiada. Misi bersifat jangka panjang dan berkaitan erat dengan spiritual. Sementara itu goal merupakan target-target yang bisa mendukung misi tersebut. Jika goal lebih bersifat fleksibel, misi sebaliknya.

    Misi berkaitan dengan identitasmu. Ia sebaiknya sudah dulu lebih kamu miliki sebelum beraktifitas. Karena kata orang Barat, “Activity follows identity”. Maksudnya, segala bentuk aktivitasmu berbanding lurus dengan identitas yang kamu yakini.

    Kedua, jangan membanding-bandingkan. Ini sudah pasti harus kamu lakukan. Membandingkan dirimu dengan orang lain hanya akan membuatmu tidak bahagia.

    Apa guna membanding-bandingkan? Bukankah dari lahir kita memang sudah “berbeda”? Lagipula, mimpi kita tidaklah sama.

    Yang harus kamu sadari, hanya kamu yang mengetahui apa yang kamu inginkan. Karena setiap individu merupakan unik.

    Jadi, kamu jangan sekali-kali membandingkan prestasi diri sendiri dengan orang lain. Bandingkan saja prestasi dirimu saat ini dan sebelumnya. Karena sukses sejatinya bukanlah hasil akhir. Melainkan progress alias kemajuan yang kamu capai dari waktu ke waktu.

    Ketiga, nikmati setiap momennya. Dalam kamus Barat, bisa dikatakan sebagai “present” yang artinya hidup di saat ini, sekarang juga.

    Sederhana saja. Kamu hanya perlu untuk ikhlas menjalani setiap proses untuk mewujudkan misi hidupmu. Dengan senantiasa “sadar” tanpa terikat pada hasil.

    Karena pada akhirnya, bahagia itu tak ada syaratnya. Ia hanya perlu kita terima, kita lalui, kita selami. Ia bukan masa lalu yang perlu kita sesali. Ia bukan masa depan yang kita cemaskan. Ia ada di depanmu, sekarang juga.

    Ketiga di atas hanyalah tiga dari berderet jurus untuk mengarungi Quarter-Life CrisisBisa jadi sebagian cocok dengan dirimu. Sebagian lainnya mungkin tidak relevan.

    Yang pasti, hanya kamu yang tahu dengan dirimu sendiri. Cuma kamu yang memegang kendali kebahagiaanmu. Sebagaimana kata filsuf Persia Umar Khayyam bahwa “Be happy for this moment. This moment is your life.”

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Biem.com pada 30 April 2018