Category: Blog

  • Masyarakat Penyembah Hasil

    “Anda termasuk orang yang mengedepankan hasil atau proses”?

    Kalimat di atas nampaknya sering kita dengar dalam keseharian. Terlebih lagi dalam ranah bisnis. Dari Salesman bau kencur sampai para taipan kelas wahid saya rasa tidak pernah absen melontarkan pertanyaan yang satu ini.

    Ngomong-ngomong, saya jadi teringat masa SMA. Satu fase yang begitu membekas di hati saya ketika menyikapi pertanyaan sederhana di atas.

    Ceritanya begini.

    SMA saya notabennya ialah sekolah berasrama yang mengedepankan nilai-nilai sufisme. Jadi, seluruh siswa benar-benar digembleng untuk mengharapkan hasil yang terbaik dengan proses yang benar. Sekilas mungkin terdengar  mudah, tapi prakteknya berbanding terbalik.

    Teman-teman saya pada masa itu, sebagian besar berpikiran sempit. Ingin mendapatkan nilai ujian terbaik tapi tidak pernah belajar. Ingin menjuarai perlombaan, tapi mengabaikan persiapan (atau latihan). Ingin menjadi siswa cerdas nan pandai tapi tidak pernah membaca buku.

    Selidik demi selidik, hampir 100% salah mengartikan fatwa yang dilontarkan para guru. Pasalnya, siswa memang diwanti-wanti untuk tidak mengejar nilai, tapi lebih ditekankan pada proses. Dari sini sudah cukup jelas sebenarnya.

    Mungkin karena anak SMA, jadi pola pikirnya belum ‘terbentuk’. Yang terjadi ialah budaya belajar yang sangat menyedihkan. Malasnya minta ampun  . . .

    Menginjak dunia profesional saya juga mendapati fenomena di masyarakat. Banyak salesman yang ingin mendapatkan komisi tinggi, tapi takut ditolak. Banyak anak muda ingin mendapatkan beasiswa di luar negeri tapi belajar bahasa Inggris saja ogah-ogahan. Banyak pula orang di luar sana ingin menjadi penulis tapi tidak pernah mencicil menulis. Dan masih banyak lagi contohnya.

    Apa yang ingin saya tekankan di sini?

    Masyarakat kita mungkin tergolong “penyembah” hasil. Dalam artian lebih menghargai hasil daripada proses. Jadi, tidak sedikit yang tidak mau tahu bagaimana upaya yang dikeluarkan. Yang penting hasil, hasil, dan hasil. Akibatnya?

    Anda bisa lihat sendiri di sekitar kita.

    Para Caleg, Cagub, atau Cabup ada yang dilarikan ke rumah sakit jiwa karena tidak kuat menghadapi kenyataan Pilkada. Para artis dan penyanyi banyak yang mengonsumsi obat-obatan terlarang karena ingin hasil yang prima di panggung. Beberap siswa lulusan SMA unggulan mengakhiri hidup karena tidak terima sebagai mahasiswa di perguruan tinggi favorit. Para politisi merapat ke dukun untuk meraup suara yang diinginkan. Para biduan memakai susuk agar order mengalir manis. Dan berderet contoh lain.

    Mengapa itu terjadi?

    Mungkin mentalnya yang bermasalah. Banyak yang ingin menjadi pemenang, tapi tidak siap kalah. Banyak yang ingin sukses tapi tidak mau membayar harga “prosesnya”. Banyak yang ingin berhasil dalam hidup tapi hanya mau yang instan. Duh . . .

    Lumrah sebenarnya. Karena saya sendiri pun pernah mengalaminya sebelum masa Sabbatical. Sebelumnya saya tidak terlalu percaya dengan yang namanya takdir. Karena saya pikir kalau kita mau berusaha, hasil pasti selalu berbanding lurus. Toh  kata pepatah “barang siapa menanam, pasti memanen”.

    Sebenarnya ungkapan di atas benar. Tapi tidak sepenuhnya tepat. Karena ternyata porsi manusia ialah ada pada sisi proses, alias usaha, bin upaya. Hasil bukan pada kendali kita.

    Saya ingat betul, 2 (dua) tahun “gagal” menembus PhD. Satu kenyataan yang sangat menyedihkan, memalukan, dan membuat kepercayaan diri saya hilang tak bersisa. Seakan-akan puluhan juta Rupiah yang saya keluarkan sia-sia. Sekonyong-konyong ribuan buku dan jurnal yang saya baca mubadzir. Dan tentu saja tidak terhitung berapa jam saya berkutat untuk berpikir. Berapa energi yang saya keluarkan untuknya.

    Setelah berinteraksi dengan rekan-rekan. Apa yang saya lakukan belumlah apa-apa. Saya pernah berjumpa dengan seorang mahasiswa Indonesia di NTU yang memutuskan berhenti dari PhD karena kehilangan motivasi. Saya pernah bertemu dengan pemimpin daerah di kota saya yang menghabiskan ber-M-M (baca: ratusan Miliar) tapi tak terpilih dalam Pilkada. Saya pun teringat dengan kisah nyata seorang Rasul yang hanya mendapatkan pengikut belasan saja kendati sudah berdakwah puluhan tahun.

    So, apa moral story?

    Masyarakat penyembah hasil sulit untuk mencapai titik bahagia dalam hidup. Karena penghargaan seorang individu kepada sesamanya hanya dilihat dari apa yang terlihat. Seperti kepemilikan harta, exposure di media, atau jabatan tertentu yang sifatnya sementara.

    Masyarakat penyembah hasil sulit untuk berdamai dengan diri sendiri. Karena mereka masih memerlukan pengakuan, validasi, atau persetujuan dari orang lain.

    Masyarakat penyembah hasil lebih cenderung menghalalkan segala cara untuk mengejar titik yang menurut mereka bahagia. Para PNS atau politisi yang mencuri uang rakyat, para karyawan di perusahaan yang tidak amanah, para pedagang yang mengakali timbangan, para pengusaha yang menyuap pemerintah, atau para siswa yang tidak jujur dalam mengikuti Ujian Nasional.

    Masyarakat penyembah hasil terbukti hanya fokus pada dunia. Memenuhi syahwat nafsu yang bermuara pada kekayaan, kekuasaan dan ketenaran.

    Masyarakat penyembah hasil lupa dengan esensi hidup. Bahwa di Hari Akhir, Tuhan tidak akan mempertanyakan hasil. Melainkan proses. Karena setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban yang termaktub pada “rapor”. Serinci apapun proses yang ditempuh akan tercatat.

    Jadi, rumus bahagia di dunia ini sederhana sih. Berusaha saja sebaik mungkin dalam mengejar apa yang menjadi mimpi kita. Tapi jangan sekali-kali melihat hasil karena itu di luar dari kendali kita.

    Jadi, apakah Anda termasuk dalam golongan masyarakat penyembah hasil? Semoga saja tidak ya.

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Mega Kuningan, 29 April 2017

  • Hati-hati dengan Mimpi

    Sedari kecil, setiap individu didorong untuk berani bermimpi. Oleh karenanya, dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), para ibu guru selalu mengingatkan adik-adik untuk berimaginasi.

    “Anak-anak, kelak kamu nanti ingin menjadi apa?” Begitulah satu pertanyaan sederhana yang mungkin akan terus terngingang. Satu frase yang bisa jadi dianggap sepele tapi berdampak dahsyat pada perjalanan hidup siapapun.

    Setiap orang berhak bermimpi. Toh, nggak ada syarat khusus untuk memetakan mimpi. Hanya saja, ada satu hal yang sering dilupakan teman-teman ketika melakukannya.

    Ya, setiap orang bisa bermimpi. Tapi, tidak semua orang berhasil mewujudkan mimpinya. Mungkin kurang dari sepuluh persen manusia di dunia ini yang benar-benar hidup sesuai dengan impiannya.

    Mengapa itu terjadi? Apa yang salah? Ada banyak faktor sih. Tapi salah satu kesalahan fatalnya ialah kurangnya pengenalan individu terhadap diri sendiri.

    Mimpi itu gratis. Tapi tidak dengan strategi hingga proses untuk mewujudkannya. Itu mengapa pengenalan terhadap diri sendiri tidak bisa ditawar sebelum merenda mimpi.

    Sah-sah saja sih bermimpi yang “besar-besar”. Keren sih bermimpi yang membuat orang lain bilang “wow”. Tapi jika akarnya rapuh, apa bisa mencapainya?

    Thus, hati-hati dengan mimpi. Karena jika tidak berhati-hati, penyesalan mungkin akan terjadi di kemudian hari.

    Lalu apa solusinya?

    Sebelum bermimpi, tanyakan terlebih dahulu hal-hal substansial seperti ini. Siapa saya? Apa yang saya inginkan? Apa yang saya perjuangkan? Apa yang saya cari? Apa nilai-nilai yang saya yakini? Apa tujuan hidup saya?

    Setelah merancang mimpi: just do it. Fokuslah mengejar mimpimu habis-habisan, sekuat tenaga dan pikiran. Karena jika tidak, kamu hanya akan menjadi “sekrup mesin” untuk mewujudkan mimpi orang lain.

    Jadi, siapkah kamu (mewujudkan) mimpi?

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Mega Kuningan, 13 Maret 2017

  • Lakonono

    Akhir-akhir ini saya banyak berdiam diri. Bukan berarti pasif. Bukan berarti menunggu. Tapi karena murni terpanggil untuk kontemplasi.

    Saya melihat lagi ke belakang. Apa saja yang saya lakukan selama tiga belas bulan terakhir – lebih tepatnya lebih dari seperempat baya.

    Dimulai dari ‘drama’ kejar-mengejar target hidup. Kemudian terjerembab dalam ‘kubangan’ Gap Year. Hingga terdampar dalam suatu pulau bernama transisi.

    Saya pun mendapati salah satu kesalahan terfatal tahun lalu: overthinking. Sikap tersebut sebenarnya berniat baik. Membuat keputusan terbaik berdasarkan beragam pilihan yang terlihat sama-sama menarik. Namun pada akhirnya berujung pada kebuntuan karena terlalu banyak pertimbangan. (Maklumlah sebagai peneliti kan selalu ada trial & error sebelum menemukan ‘racikan’ bernama temuan hehe).

    Jadi, pelajaran terbesar selama 2016 ialah satu kata: lakonono. Persis seperti wejangan legenda basket dunia Michael Jordan, “just do it”.

    Lakukan saja. Lakukan saja. Lakukan saja.

    Karena kita tidak perlu menunggu sempurna untuk berkarya. Kesalahan bisa diperbaiki sambil berjalan. Tantangan bisa ditangani sembari evaluasi. Masalah bisa teratasi beriringan. Tapi waktu takkan pernah bisa diputar ulang.

    Thus, lakonono. Jangan terlalu banyak pertimbangan. Jangan terlalu dipusingkan dengan pikiran yang Anda buat sendiri. Karena esensi hidup ialah bergerak. Dan bergerak setali dengan melakukan.

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Bintan, 4 Februari 2017

  • Bukan Kebetulan

    Tabik.

    Belum lama ini saya bertemu dengan salah satu CEO di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan. Orang itu sebelumnya mengirimkan surat elektronik kepada saya untuk menawarkan kerjasama. Karena terlihat menarik, saya pun tidak butuh waktu lama langsung mengiyakan. Jadi, pertemuan hari itu tidak lain ialah buah dari percakapan melalui email.

    Well, saya tidak perlu membahas apa isi kerjasamanya. Karena toh nggak penting untuk dibeberkan ke muka publik hehe. Namun saya hanya mengulas dari satu perspektif saja. Apa itu?

    Bukan kebetulan.

    Setelah menyimak dengan seksama, ternyata CEO yang menawarkan kerjasama dengan saya itu berjejaring cukup kuat dengan donor saya: Theodore Permadi Rachmat. Ia pun cukup mafhum dengan Mr. Corporate Culture yang menjadi Guru saya di tempat kerja sebelumnya.

    Yang lebih mengejutkan lagi, apa yang ditawarkan sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini. Lebih dari itu, apa yang ditawarkan sejalan dengan apa yang saya cari selama ini. Setidaknya dari pesan moral.

    Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

    Percaya atau tidak. Hukum tarik-menarik (ketertarikan) benar-benar ada. Jadi, apa yang kita pikirkan lama kelamaan menjadi kenyataan. Setidaknya dalam kasus kerjasama ini.

    Jika ditarik mundur, akan ada lebih banyak lagi momen-momen yang bukan kebetulan. Saya yakin semua telah digariskan-Nya. Hanya saja cara kita menyikapilah yang membuatnya tidak begitu terasa.

    Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan di dunia ini. Kita tidak bisa memilih kapan dilahirkan. Sebaliknya, kita tidak bisa menentukan kapan kematian datang. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dengan etnis dan agama apa. Kita juga tidak bisa menentukan dilahirkan di kota dan negara mana.

    Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan di dunia ini. Semua masalah yang kita hadapi unik. Tidak ada orang yang benar-benar memiliki jalan hidup serupa dengan kita. Karena setiap insan diciptakan Tuhan dengan nilai istimewa. Karena setiap yang bernyawa memiliki peran masing-masing.

    Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin bagi Anda ungkapan ini terdengar sangat klise. Tapi begitulah cara Tuhan mengingatkan hamba-Nya. Bukan kebetulan?

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Jakarta, 20 Februari 2017

  • Buah Semedi Itu Bernama Life Mantra

    Mungkin semua orang pernah menikmati liburan. Tapi saya yakin belum tentu semua orang berani keluar dari pekerjaan hanya untuk “semedi”. Satu aktifitas yang dianggap buang-buang uang, waktu, tenaga dan pikiran.

    Gw sendiri memutuskan “bertapa” selam 1 (satu) tahun penuh. Meninggalkan karir yang cukup baik (untuk ukuran kelas menengah Indonesia). Menjalani hari demi hari tanpa perlu menunggu perintah bos, aturan waktu yang mengikat, dan gaya hidup yang nyaman. Satu fase yang penuh dengan hal-hal paling mengejutkan dalam hidup.

    So, apa yang didapatkan selama semedi? Ada banyak. Tapi salah satunya ya buku kecil berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life CrisisHanya butuh 2 minggu menuliskan “bocah” ke-8 saya ini. Tapi, isinya tidak main-main.

     

    So, apa sih pesan dari “jabang bayi” ini?

    1. Saripati (>) 1/4 abad petualangan, pergumulan bathin dan kontemplasi menjalani hidup.
    2. “Oleh-oleh” 1 tahun penuh masa Sabbatical (Gap Year) melintasi lebih 16 provinsi, ratusan kota dan ribuan desa. Termasuk 6 bulan “semedi” di sebuah pulau (surga) di bibir Selat Malaka 😛
    3. Riset saya pribadi yang menghabiskan wawancara face to face (maupun virtual) lebih dari 500 orang di 20 provinsi, 35 kota, dan 7 negara. Mulai dari Profesor, CEO, Menteri, Juru Bicara Presiden, Rektor, anggota DPR, bankir, penulis, artis, dokter, pengacara, pedagang, bhiksu, motivator, penyanyi, Pemimpin Redaksi, Panglima TNI, ilmuwan, politisi, PR, akuntan, petani, hingga profesional dari berbagai bidang.
    4. Studi literatur yang “memakan” lebih dari 1300 buku. Sebagian besar terbitan USA dengan perspektif (peradaban dan pemikiran) gado-gado. Mulai dari Islam, Barat, Kejawen, Yahudi, Persia, Tiongkok, dan Hindi.

    Baca Juga:  Ngapain Aja Gue Selama “Semedi”? —– Apa Yang Gue Dapet Selama Gap Year? —– 4 Hal Yang Harus Lho Pikirkan Sebelum Sabbatical

     

    Mengapa buku ini gw tulis?
    Simple saja. Gw pernah berada di titik terendah dalam hidup bertajuk Quarter-Life Crisis. Mencoba berdamai diri sendiri dengan mendatangi para bijak bestari, yogi, dan mencari “diri yang hilang” melalui beragam cara. Memakai jasa hipnoterapis, Life Coach, psikiater, grafolog, hingga psikolog. > 50 Self-Assesment multipendekatan (dan teknologi) telah gw coba.

    Gw nggak ingin adik-adik generasi di bawah gw mengalami hal yang sama. So, buku ini tidak berisi bualan. Bukan curhatan sampah. Bukan pula rangkaian kata-kata untuk (sok) memotivasi. Buku ini murni hasil perenungan berbasis riset ilmiah.

    Buku ini nggak berisi kutipan sono-sini yang penuh teori. Tapi sarat dengan Work Book. So, rugi banget kalau hanya sekedar membaca tapi nggak mau mengerjakan “tugas” dari gw.

    Dan . . . . buku ini dilengkapi dengan berderet pendekatan untuk mengenali diri pembacanya. Self-Discovery paripurna. Inshaallah.

    Gw ucapkan banyak terima kasih untuk para Guru Kehidupan yang telah memberikan testimoni. Bapak Asep Saefuddin, Kang Dedi Priadi, Mas Kemal Gani. dan Coach Andrew Tani.

     

    13 Maret 2017 bisa didapatkan di Gramedia terdekat di seluruh Indonesia. Semoga nggak molor ya hehe.

  • Life Mantra: Jurus Melewati Fresh Graduate Syndrome dan Krisis Seperempat Baya

    Berbicara mengenai masa transisi memang tidak ada habisnya. Sebuah fase kehidupan yang sarat dengan kejutan, ketidakpastian, dan tentu saja perubahan. Sebuah periode yang lekat dengan persimpangan, pengambilan keputusan, dan pilihan ekstrem.

    Turbulensi kehidupan di masa peralihan terbukti menjadikan setiap orang lebih dewasa. Hal itu ditopang oleh dorongan dari dalam diri dan tekanan sosial bertubi-tubi yang membuatnya mengenal diri lebih dekat dari fase kehidupan mana pun.

    Namun bukan berarti masa peralihan berjalan mulus-mulus saja. Yang kebanyakan terjadi justru sebaliknya. Alih-alih langsung tanggap menerima ketidaknyamanan, orang-orang yang melewati “masa pancaroba” tersebut dirundung kegalauan tak berkesudahan. Bimbang mengambil keputusan, cemas menghadapi masa depan, hingga takut menentukan pilihan. Akibatnya stuck tak terelakkan lagi.

    Buku sederhana yang Anda baca saat ini muncul ke  permukaan bukan tanpa tujuan. Karena penulis  secara pribadi pernah terjerembab dalam krisis seperempat baya yang menguras emosi. Terpaan badai fresh graduate syndrome yang membuatnya menjadi “kutu loncat”, hilang arah, jatuh di titik terendah dalam hidup, berpetualang selama setahun dalam misi sabbatical, hingga menemukan diri yang baru. Mirip roller coaster.

    Terinspirasi dari kisah nyata yang dialami penulis, buku ini diperkuat oleh riset dari berbagai institusi.  Termasuk survei pribadi yang melibatkan lebih dari 200 orang di 20 provinsi dan 27 kota di tanah air serta 8 kota di 7 negara. Mulai dari profesor, bankir, pengacara, pengusaha, guru, artis, hingga pemuka agama.

     

    Apa Kata Mereka? 

    “Tidak seperti buku-buku self-help lainnya, buku ini ditulis dengan ungkapan bahasa yang menakjubkan. Mengalir lepas seperti air! Inilah kelebihan tulisan-tulisan Agung Setiyo Wibowo. Mas Agung – demikian penulis biasa disapa – menulis dengan aliran kata yang fasih, bernas, diksi yang membumi, namun tetap akurat mengungkap fakta.” 

    (Dedi Priadi, MT., MA., – Inventor PRiADI Psychological Fingerprints)

     

    “Buku ini penting dibaca oleh para fresh graduate yang masih galau dengan masa depannya. Masa transisi dari lulus kuliah hingga bekerja dan berumah tangga memang tidak mudah. Karena ada begitu banyak pilihan, persimpangan jalan, dan ketidakpastian yang sering membingungkan setiap individu. Banyak orang yang hanya jalan di tempat atau malah jatuh terjerembab. Buku ini mungkin tidak bisa menjadi obat instan, tapi setidaknya bisa dijadikan rujukan untuk menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan menjadi baik.”

    (Kemal E. Gani – Group Chief Editor SWA Media Inc.)

     

    “Buku Life Mantra karya Agung Setiyo Wibowo akan mengisi kekosongan referensi bagi para fresh college graduate yang dapat memberikan nasehat berharga mengenai upaya menyiasati dan merintis permulaan karir generasi para milenial pada abad ke 21 ini.”

    (Andrew Tani – CEO AndrewTani & Co.)

     

                “Saya salut kepada penulis buku ini, Mas Agung Setiyo Wibowo, yang telah mampu menuangkan pemikirannya tentang Fresh Graduate Syndrome (FGS) dan Krisis Seperempat Baya (QLC). Mengapa? Karena masalah ini sering dihadapi orang di saat berbahagia tetapi dihadapkan dengan kebingungan masa depan. Pada saat seseorang lulus ujian sarjana dan diwisuda, tentu bahagia. Tetapi pada saat itu juga dia bingung, tidak yakin, kurang faham keterampilan apa yang telah diperolehnya selama ini. Memang itu tidak melulu kesalahan individual, tetapi juga persoalan kelembagaan pendidikan dan dunia kerja. Akan tetapi setidaknya buku ini bisa menjadi penerawang bagaimana masa depan itu harus dihadapi.

                Rasa salut saya juga bertambah karena buku ini boleh dikatakan sebagai produk riset. Karena buku ini diperkuat melalui setidaknya 200 responden di 20 provinsi, 27 kota/kabupaten di Indonesia, dan 8 kota di 7 negara. Ini luar biasa dan membuat tentunya kita semakin ingin tahu apa isinya. Untuk menghilangkan rasa kepenasaran itu, buku ini menjadi wajib  dibaca. Selain itu, diharapkan juga buku ini dapat membantu metode self-help dan move on. Masa depan itu kita sendiri yang menentukan melalui kerja, usaha dan do’a. Selamat membaca.”

    (Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc – Rektor Universitas Trilogi, Guru Besar Statistika FMIPA IPB)

     

    Siapa sih yang perlu baca?

    1. Fresh Graduates (SMA/SMK/D1/D3/S1)
    2. Profesional muda yang masih galau dengan masa depan
    3. Para jomblo yang bengong jika ditanya kapan kawin
    4. Para Career Climber yang merasa stuck dengan pekerjaan sekarang
    5. Orang tua hebat yang peduli dengan kesuksesan putera-puterinya
    6. Para manager/supervisor (atasan) yang ingin mengenal lebih baik bawahannya
    7. Para Direktur Sumber Daya Manusia (HR) yang ingin tahu “luar dalam” karyawannya
    8. Siapapun yang ingin mencari jati diri, kebahagiaan, dan ketentraman
    9. Para pencari kebijaksanaan di mana pun berada

     

    Berapa harganya?

    Di Gramedia, buku ini dipatok Rp. 64.800,- per eksemplar.

     

    Bagaimana cara mendapatkannya?

    Ada dua cara sih sebenarnya mah:

    1. Anda bisa membeli buku sederhana ini di Gramedia terdekat di kotamu.
    2. Anda bisa membeli buku versi digital di Scoop dengan harga Rp 50.400,-
    3. Anda bisa membeli secara daring melalui Bukabuku dengan harga Rp 51.840,-
    4. Anda bisa memesan langsung kepada saya dengan harga Rp 65.000,- (di luar ongkos kirim). Bonus voucher Squline senilai Rp 100.000,- untuk belajar bahasa Inggris/Mandarin/Jepang, dan gratis Self-Discovery Coaching bersama penulis senilai Rp 500.000,-. Ini hanya berlaku untuk 50 pemesan pertama sebelum 30 April 2017 ya 😛 

    Nggak Sabar Mau Baca? Yuk Isi Formulir Pemesanan Di sini!

    Bagaimana cara pembayaran jika membeli langsung kepada penulis?

    1. Pembeli mengirim SMS/Whatsapp ke 085230504735 dengan mengetik <Jumlah Eksemplar> <Life Mantra> <Nama> <Kota Asal>
    2. Penulis memberitahukan ongkos kirim (+ Rp 65.0000/harga buku) kepada pembeli
    3. Pembeli mentransfer ke rekening  34200-99-761 (BCA) atas nama Agung Setiyo Wibowo
    4. Pembeli mengirimkan bukti transfer melalui grandsaint@gmail.com maupun Whatsapp/Instagram/Line +62 852 3050 4735
    5. Penulis mengirimkan buku ke alamat yang diinginkan pembeli

     

    Adakah narahubung untuk ‘kepo’ maksimal?

    Ya ada dong dear. Lho langsung bisa menghubungi penulisnya Agung Setiyo Wibowo melalui:

    • hello@agungwibowo.com atau grandsaint@gmail.com (surel)
    • +62 852 3050 4735 (Call/SMS/Whatsapp/Telegram/Line)