Category: Blog

  • Menghadirkan Diri Di Tempat dan Waktu Sekarang

                    Sore itu ponsel saya berdering. Tidak seperti biasanya, saya mendapati panggilan dari nomor yang tak dikenal. Awalnya saya ragu untuk menerimanya, namun setelah beberapa detik berpikir, akhirnya saya angkat juga.

    Saya: Haaaaa lllloooo.

    Penelpon: Ya, dengan Pak Agung ya?

    Saya: Ya benar, saya sendiri. Btw, dengan siapa saya bicara? Ada yang bisa dibantu?

    Penelpon: Perkenalkan saya Dewa dari Singaraja. Saya mendapatkan kontak Pak Agung dari buku Anda yang berjudul “Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Krisis Seperempat Baya”. Bisa menggangu waktunya sebentar?

    Saya: Oh, kalau memang dibutuhkan, why not?

    Penelpon:  Begini. Saya seorang dua dengan dua anak. Umur saya 50 tahun. Saat ini saya benar-benar merasa terpuruk. Dulu saya pikir, bercerai merupakan pilihan terbaik karena rumah tangga saya dengan mantan istri benar-benar mengerikan. Percekokan hampir saban hari kami lakukan. Sekarang secara keuangan saya memang tidak ada masalah. Namun, mengurusi dua anak yang masih remaja tidak semudah yang dibayangkan. Saya kepikiran ingin mencari istri lagi, namun saya takut jika nanti anak-anak tidak suka. Sekarang saya benar-benar stres Pak Agung.

    Saya: Ehmmm, terus? Apa yang bisa saya bantu?

    Penelpon: Apa sih resep agar bisa bahagia?

    Saya: Sederhana saja. Kebahagiaan sama sekali tidak ditentukan oleh sesuatu yang datang dari luar diri Anda. Bukan karena kejadian, benda, ataupun orang. Anda bisa bahagia karena diri Anda sendiri. Karena kebahagiaan ialah pilihan. Anda bisa berbagia dalam kondisi yang terpuruk sekalipun jika Anda memutuskannya.

    Penelpon: Hah? Masak sih?

    Saya: Ya, Dewa. Resep kebahagiaan sederhana saja. Yaitu menghadirkan diri di tempat dan waktu sekarang. Ketika Anda fokus menjalani apa yang ada di depan Anda dengan keikhlasan, maka Anda akan terhindarkan dari kekhawatiran tentang masa depan dan penyesalan atas masa lalu. Yang ada adalah kebermaknaan.

    Penelpon: Wah, benar juga ya. Untuk saat ini, sudah dulu ya Pak Agung. Bolehlah ya kapan-kapan saya “ganggu lagi”?

    Saya: Oh tentu.

    **

    Apa yang dialami Dewa di atas saya rasa begitu dekat dengan keseharian kita. Banyak orang yang mengejar kebahagiaan dari sesuatu yang datang dari luar diri. Oleh karena itu, berapun besar uang yang diperoleh tak menjadikan hati tentram. Setinggi apapun jabatan yang diemban tak membuat diri nyaman. Sepopuler apapun brand seseorang, tak lantas membuat dirinya bersyukur.

    Sekarang, bagaimana dengan diri Anda? Sudahkah hari ini Anda berbahagia?

     

    Kebagusan, 14 Oktober 2018

  • Hidup Yang Bermakna

                    Belum lama ini saya berjumpa dengan Tom. Beliau ialah salah satu mentor pengembangan diri saya. Kami bertemu di sebuah kedai di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

    Di mata saya, Tom merupakan sosok yang paripurna. Sukses secara finansial. Anak istrinya terlihat bahagia. Badannya bugar. Pengaruhnya di industri yang digeluti begitu besar. Kesalihan spiritualnya tidak diragukan. Perannya di masyarakat tak kalah keren. Karyanya pun di mana-mana.

    Sebagai seorang millennial yang baru aka merenda bahtera rumah tangga, saya begitu takjub dengan Tom. Bagaimana tidak, di usianya yang baru menginjak 50 ia benar-benar telah menjadi sosok yang sangat mengagumkan? Setidaknya, mendekati imaginasi saya untuk menjadi pribadi dengan pencapaian tertentu.

    Setelah saya “telanjangi” selama 120 menit, akhirnya terpenuhi sudah rasa penasaran saya. Ternyata, Tom memiliki satu “kata kunci” yang kebetulan sejalan dengan  nilai yang saya pegang. Apa itu?

    Hidup yang bermakna.  Apa artinya? Sederhana saja. Yaitu hidup yang benar-benar hidup. Bukan sekedar hidup. Hidup yang memiliki tujuan yang jelas. Sehingga, tidak terlewatkan sedetik pun yang sia-sia.

    Hidup yang bermakna mungkin definisinya berbeda satu sama lain. Namun, secara umum dianggap sebagai hidup yang memiliki alasan yang kuat. Sebuah kehidupan yang dilalui untuk kebermanfaatan orang lain – bukan untuk memuaskan syahwat diri sendiri.

    Hidup yang bermakna sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Tuhan dari kita. Juga berbanding lurus dengan apa yang dibutuhkan orang lain atau masyarakat dari kita.

    Hidup yang bermakna mendorong kita untuk melalui hari-hari dengan ikhlas. Karena hidup, mati, dan di antara keduanya hanyalah untuk Tuhan.

    Hidup yang bermakna dimulai dari pengenalan diri sendiri. Dari mana kita berasal, untuk apa kita ada, apa yang benar-benar kita inginkan, dan bagaimana cara kita mengisi waktu di dunia.

    Hidup yang bermakna membuat kita punya alasan yang sangat kuat dari dalam diri untuk melakukan sesuatu. Bukan hidup seperti robot yang tidak ada ruh, nirjiwa.

    Bagi saya, hidup yang bermakna berarti hidup yang sejalan dengan panggilan hidup. Bisa mengekspresikan diri saya guna memecahkan masalah di sekitar, bermanfaat banyak untuk sesama, dan diridhai Tuhan.

    Kalau Anda bagaimana?

    Kebagusan, 12 Oktober 2018

  • Pantun Di Kebagusan  

     

    Merantau ke Ibukota

    Tidak lupa mampir ke Kota Tua

    Hei kawan-kawanku semua

    Mari bersihkan hati dan jiwa

     

    Mampirlah awak ke Tanjungpinang

    Meski sebentar senangnya bukan kepalang

    Ayo saudaraku waktu jangan sampai terbuang

    Karena tak mungkin diputar ulang

     

    Ane tinggal di Tanah Abang

    Surganya tekstil semua orang

    Jika ragamu terasa meriang

    Itu saatnya rehat dengan yang tersayang

     

    Berkompetisi di Surabaya

    Sambil pelesiran ke Kota Malang

    Kebahagiaanlah tujuan utama

    Bukan senang yang cepat meradang

     

    Menjadi santri di Kabupaten Nganjuk

    Tinggal di asrama yang begitu menawan

    Jika adik-kakak mengantuk

    Itu pertanda segera ke peraduan

     

    Untuk apa Anda hidup

    Jika kebahagiaan jauh dari kenyataan

    Jika jantung Anda sering berdegup

    Saatnya Anda perhatikan kesehatan

     

    Kebagusan, 11 Oktober 2018

  • Ikhlas Tanpa Syarat

                    Ikhlas. Apa yang ada di benak Anda jika mendengar kata yang satu ini? Saya yakin jawabannya gado-gado yah.

    Yang pasti, ikhlas tidak asing di telinga kita. Pasalnya, setiap saat saya maupun Anda senantiasa diuji oleh berbagai tantangan yang mengharuskan bersikap seperti itu.

    Baru-baru ini misalnya. Saya berjumpa dengan kawan SMA yang hampir depresi karena bisnis yang digelutinya bangkrut. Ia down karena “merasa” telah berusaha sebaik mungkin, tapi hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Lain lagi dengan rekan S1 saya yang secara mengejutkan cukup kecewa dengan tabiat pasangannya. Ia “merasa” telah memberikan yang terbaik, namun tidak mendapatkan “balasan” yang setimpal.

    Dalam Islam, ikhlas sering disebut  sebagai intisadari dari iman. Itu mengapa dalam salah satu ayat kitab suci disebutkan bahwa sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan mati kita hanya untuk Tuhan.

    Konon, orang yang ikhlas cenderung lebih bahagia daripada yang terlalu “hitung-hitungan”. Pasalnya, mereka senantiasa berusaha ikhtiar yang terbaik tanpa “terikat” dengan hasil akhir.

    Ikhlas mungkin sepele di mata Anda. Namun, ia merupakan dasar dari “cinta”. Karena apa yang kita lakukan untuk orang lain semata-mata untuk Tuhan. Bukan agar mendapatkan balasan, imbalan, keuntungan dan semacamnya.

    Di dunia yang sungguh disruptif ini, saya agak kesulitan menemukan orang yang benar-benar ikhlas dalam kesehariannya. Segala sesuatu nampaknya bersifat transaksional atau bersifat bisnis.

    Coba tengok. Berapa politisi yang benar-benar tulus melayani publik? Susahkah Anda mendapati pemuka agama yang tidak “sok ngartis”?

    Ya, jika dipikir-pikir lagi, semua orang memang ada “maunya”. Tidak salah memang. Namun, jika niat agar mendapatkan “sesuatu” terlalu mendominasi, sulit rasanya untuk mencapai titik bahagia.

    Karena bahagia ada dalam keikhlasan. Dalam cinta. Dalam melayani, mengasihi, memberi, mengabdi, dan berbagi. Bukan dalam mental “mengharapkan”.

    Sekarang, renungkan saja hidup Anda. Sudahkah ibadah dan berkarya Anda telah benar-benar ikhlas? Hanya Anda yang bisa menjawab.

     

    Kebagusan, 10 Oktober 2018

  • Dua Jam Bersama Resi

                    Sejak kecil, saya sangat tertarik dengan ketauhidan. Pasalnya, saya lahir dan dibesarkan di keluarga yang mendalami tasawwuf. Tak mengherankan jika ketuhanan menjadi topik yang sudah saya kenal di usia balita.

    Saya mengenyam pendidikan agama di tingkat dasar dan menengah. Dimulai dari sebuah Islam di bawah yayasan PSM di tingkat SD, dilanjutkan dengan sebuah madrasah tsanawiyah negeri, hingga “terdampar” di sebuah “penjara suci” selama 5 (lima) tahun.

    Spiritual seakan-akan sudah menjadi “ruh” saya sejak kecil. Nilai-nilai agama seolah-olah sudah mendarah-daging dalam diri. Dan upaya menjadi Sufi yang “benar” mulai digembleng ketika belajar di asrama SMA.

    Memasuki bangku perguruan tinggi, orientasi hidup saya seperti “bergeser”. Saya memang masuk di sebuah kampus yang “bernafaskan” Islam. Namun, falsafah yang dimiliki tidak serta-merta sesuai dengan fondasi ketauhidan yang saya imani sejak belia.

    Beruntung, saya termasuk orang yang sangat cair. Pandai menyesuaikan diri ibarat bunglon. Saya “meleburkan diri” di tempat baru secara total.

    Awalnya, saya tidak mendapati masalah ketika menanggalkan prinsip yang telah “diprogram” orang tua saya. Namun, selepas meninggalkan dunia akademik, berbagai masalah berdatangan. Saya mengalami “badai” hidup yang bernama krisis identitas.

    Beruntung, saya tidak berlama-lama terjerembab dalam “gua” kegelisahan. Karena saya rela meluangkan waktu belasan bulan “hanya” untuk mencari tahu apa yang benar-benar saya inginkan. Saya mengikuti suara hati untuk mengikuti panggilan jiwa.

    Di tengah lembah kehausan spiritual, saya berjumpa dengan ribuan orang dari berderet latar belakang. Baik dari perspektif gender, suku, agama, ras, afiliasi politik, profesi, renjana, minat, asal daerah, dan strata pendidikan.

    Semua orang yang saya temui saya anggap sebagai guru dengan caranya masing-masing. Semua masalah yang saya lalui saya pandang sebagai pelajaran. Dan semua tempat yang pernah saya singgahi saya ibaratkan sekolah.

    Belum lama ini, saya bertemu dengan seorang resi. Memang tidak lama. Hanya dua jam. Pertemuan empat mata beda generasi ini tidak lain ialah membahas makna hidup. Lebih spesifik lagi mengulas arti kebahagiaan.

    Resi yang satu ini sesungguhnya memberikan wejangan saya begitu banyak. Namun ada satu yang masih teringat dalam benak saya. Bahwa, dalam hidup kita dianjurkan untuk ikhlas. Maksudnya?

    Ya, menjalani apa yang ada di depan mata. Tidak perlu merisaukan apa yang belum terjadi. Tidak usah menyesali apa yang telah dilalui.

    Dalam hidup, kita diajarkan untuk tidak banyak berharap. Karena apa? Itulah sumber kekecewaan.

    Lantas, apakah tidak boleh memiliki hasrat yang menggebu-gebu lalu berusaha mati-matian untuk mengejar cita? Tidak ada salahnya. Namun, batin kita tidak boleh terikat dengan batin. Karena itulah sumber kesengsaraan, ketidaktentraman, kehampaan, dan kekosongan jiwa.

    Dua jam bersama resi. Rasanya masih kurang untuk membas A ke Z. Namun, saya masih bersyukur untuk dapat secara langsung mendapatkan wejangannya.

     

    Kebagusan, 9 Oktober 2018

  • Keajaiban Persepsi

                      Perbedaan.

    Apa sih yang ada di benak Anda ketika mendengarnya?

    Apakah langsung mengingat perselisihan rumah tangga tetangga? Mungkin Anda menghubungkannya dengan debat kusir para Wakil Rakyat? Ataukah konflik antaragama yang seakan tak ada titik temunya?

    Ya, perbedaan merupakan keniscayaan. Tanpa perbedaan dunia ini tidak seru. Coba bayangkan ketika pelangi itu hanya terdiri dari satu warna? Apakah namanya masih pelangi? Tentu tidak kan.

    Sama halnya dengan manusia. Apa jadinya jika penduduk bumi ini hanya terdiri dari satu etnis atau agama? Coba imaginasikan, apakah seru jika penduduk Indonesia ini terdiri dari satu profesi?

    Mengingat perbedaan, saya langsung teringat dengan persepsi. Sebuah topik yang sangat menarik untuk dikupas hingga tuntas.

    Satu kejadian bisa memberikan 1000 persepsi. Karena 1000 orang yang memandangnya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

    Ya, persepsi seorang individu dipengaruhi oleh banyak aspek. Mulai dari pola asuh orang tua, pendidikan, nilai-nilai, kepribadian, pengetahuan, hingga pengalaman.

    Konflik, perselisihan, perang, percekcokan, keributan, atau segala macam pertentangan bisa jadi dimulai dari persepsi. Oleh karena itulah dalam Islam, kita diajarkan untuk mengenal satu sama lain. Pasalnya, melalui cara itu kita bisa berpeluang menebarkan kebaikan bersama.

    Saya kira persepsi begitu ajaib. Karena dari sinilah segala macam kebaikan dan keburukan berasal. Pesannya apa?

    Kenali orang lain. Rayakan perbedaan. Setuju?

     

    Kebagusan, 8 Oktober 2018