Category: Blog

  • Kebebasan Yang Seperti Apa?

    Kebahagiaan, keberhasilan, dan kesehatan. Tiga kata itu nampaknya paling populer disuarakan oleh siapa saja dalam “berjuang” menjalani kehidupan yang hanya sementara ini.

    Ya, setiap orang saban hari “bersaing” dengan egonya sendiri untuk mencapai titik bahagia. Demikian halnya untuk mencapai derajat keberhasilan, siapapun sepertinya akan berusaha sekuat tenaga – lahir dan bathin – untuk mencapainya. Tak ketinggalan, untuk mereguk kesehatan siapa saja harus rutin berolahraga, tidur cukup, tidak kekurangan air mineral, dan menjaga asupan gizi.

    Belakangan, ada satu kata lagi yang “tidak kalah” tenar diperbincangkan. Apa itu? Ya, Anda benar. Ia adalah kebebasan.

    Setiap orang secara naluriah tidak ingin hidupnya diatur oleh orang lain. Setiap anak Adam pada hakikatnya (jika tidak ada hambatan finansial) ingin bersenang-senang memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Siapapun sepertinya mendambakan kebebasan waktu untuk melakukan A ke Z. Sesuka hatinya.

    Lalu, adakah sejatinya kebebasan itu? Jika ada, seperti apa? Nampaknya, perdebatan kusir tiga hari tiga malam tidak akan cukup untuk mencapai mufakat guna memaknai kebebasan. Ya, kebebasan itu relatif. Setiap “kepala” punya definisi masing-masing.

                Oxford Dictionary saja memaknai kebebasan sebagai The power of right to act, speak, or think as one wants.Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan akar kata “bebas” dengan “lepas sama sekali” yaitu tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa.

    Saya secara pribadi langsung teringat curahan hati beberapa rekan dekat saya.

    Si A, 25 tahun, lajang. Profesi sehari-hari sebagai agen asuransi dan pemasaran jaringan. Penghasilan mencapai lebih dari 1 Miliar rupiah perbulan. Setiap kali bertemu dengan teman lama dan kenalan baru ia “menggoda” (dan membujuk) agar yang bersangkutan mengikuti profesinya dengan dalih kebebasan waktu. Si A ini secara finansial (kelihatannya) memang berkelimpahan, pun waktu. Tapi sejatinya dia tidak “sebebas” yang ia koarkan. Bisa saja sih dia liburan setiap hari ke manapun yang ia mau, membeli apapun yang ia suka, dan berleha-leha di ranjang. Tapi, tidak demikian dengan A. Setiap saat dia terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Kadang kala ia kesepian karena tidak ada yang mendikte dirinya. Oleh karena itu, ia harus mau dan mampu memimpin diri sendiri agar dapat “bebas”. Si A masih punya sederet daftar mimpi untuk dikejar.

    Si B, 75 tahun, menikah dengan 2 anak dan 4 cucu. Beliau adalah mantan CEO perusahaan multinasional yang saat ini menjadi pimpinan organisasi nirlaba dengan fokus pendidikan untuk anak kurang beruntung. Dari kacamata finansial dan waktu, beliau sebenarnya “berpeluang” besar untuk ongkang-ongkang kaki, menghabiskan usia senjanya dengan jalan-jalan, bersenang-senang, atau hal lainnya. Tapi mengapa beliau memilih untuk “menyibukkan diri” dengan mendermakan waktunya untuk pendidikan di Indonesia? Kenapa dia ingin bersusah payah seperti itu? Karena, itu merupakan panggilan hidup.

    Si C, 7 tahun, anak jalanan. Sehari-hari C ini merupakan satu dari puluhan ribu anak yang memadati jalanan Jakarta. C merupakan yatim piatu yang sekarang menggantungkan nasibnya kepada dirinya sendiri, tidak bergantung orang lain. Karena (mungkin) tidak neko-neko, C nampak bahagia. Setiap saat dia “menyumbangkan” suaranya kepada para penumpang bus dalam kota Jakarta dengan imbalan beberapa perak Rupiah saja. Sesekali dia berlibur semaunya. Tidur di mana saja. Makan seadanya. Tidak ada yang mengatur. Tidak ada beban. Tidak ada yang digelisahkan. C bebas sebebas-bebasnya.

    Apa yang bisa dipetik dari tiga profil nyata di atas? Ya, Anda benar. Setiap orang punya definisi masing-masing dalam memandang kebebasan. Tidak ada definisi pasti sebagaimana halnya rumus Matematika yang rumit – setidaknya bagi saya.

    Akhirnya, tugas kita dalam menjalani hidup nan singkat ini adalah menikmati apa yang kita miliki sekarang sepenuh hati. Seperti petuah Ki Ageng Suryomentaram saiki, ing kene, ngene, aku gelem”. Yang kira-kira bermakna: sekarang, di sini, apapun yang terjadi atau yang dihadapi, saya (mau) menerima dengan ikhlas.”

     

    Artikel ini dimuat di Pedenesia, 10 Agustus 2017

  • Pilar-Pilar Keseimbangan Hidup

    “Sukses ialah mendapatkan apa yang kita inginkan, sedangkan bahagia ialah menginginkan apa yang kita dapatkan”. Ungkapan seperti ini terdengar begitu klise di telinga kita. Bukankah demikian?

    Seorang ayah bisa dikatakan sukses jika mampu mendidik putera-puterinya. Seorang pemimpin bisa dikatakan sukses jika mampu mewujudkan tujuan organisasi yang dinahkodainya.Seorang manajer penjualan bisa dikatakan sukses jika dapat mencetak closing sebanyak-banyaknya. Bagaimana dengan ukuran kesuksesan Anda?

    Setiap orang terlahir unik. Oleh karena itu masing-masing, memiliki patokan untuk menilai kesuksesan.Kendati demikian kesuksesan dalam hidup, alangkah baiknya jika dipandang secara holistik. Tidak dinilai secara sepotong-sepotong.

    Buat apa banyak uang tapi sakit-sakitan? Apa makna popularitas jika menjadikan narkoba sebagai pelarian? Untuk siapa jabatan bergengsi bila bahtera rumah tangga tergadaikan? Apa guna sembahyang jika hubungan horizontal berantakan?

    Saya yakin setiap orang menginginkan keseimbangan dalam hidup. Karena bahagia akan datang ketika aspek-aspek kesuksesan menemukan titik keseimbangan. Tidak ekstrem di salah satu sisi saja.

    Menyadari hal itu, rekan-rekan saya di Yayasan PIBAS memiliki visi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup di negeri ini. Melalui survei  dalam jaringan yang bisa diakses secara cuma-cuma, yayasan tersebut telah mempopulerkan konsep yang dikenal dengan Balanced Pillar (BALPIL). Sebuah pendekatan untuk mengukur keseimbangan hidup dalam empat pilar, yakni spiritual, intelektual, sosial, dan fisik (kesehatan).

    Dikembangkan oleh tim profesional dalam bidang kesehatan dan psikologi, Tes BalpilTM bisa dikatakan sebagai tes paling komprehensif yang mengukur keseimbangan individu secara paripurna. Sisi spiritual menguji apakah kesadaran diri, agama/kepercayaan, dan integritas berjalan dengan baik atau tidak.Sisi intelektual memeriksa apakah faktor pendidikan, pengalaman di lapangan, dan “latihan otak” berlaku semestinya atau tidak dalam menjalani keseharian. Sisi sosial memetakan apakah kita telah mampu memberikan dampak positif kepada keluarga/kerabat, teman/kolega, dan masyarakat luas atau belum. Sisi fisik mengetes apakah kita telah memberikan porsi yang seharusnya untuk olahraga, makanan, hingga istirahat atau belum.

    Hingga Maret 2016 saja, Yayasan PIBAS telah menguji lebih dari 26.270 responden pada rentang usia 17-30 tahun dari Sabang sampai Merauke. Hasil survei yang terdiri dari 100 pertanyaan tersebut menunjukkan, masyarakat di kepulauan ini cukup baik dalam aspek spiritual dan sosial namun masih memprihatinkan dalam aspek intelektual dan fisik. Apakah Anda kaget dengan temuan tersebut?

    Coba kita amati dari fenomena yang sederhana saja. Mengapa kita dengan begitu mudah menyebarkan hoax tanpa terlebih dahulu mencerna dan menggunakan akal sehat? Mengapa banyak pihak yang masih mengunggulkan orang yang pandai menghafal daripada yang berpikir kritis ? Mengapa sebagian dari saudara kita baru sadar akan pentingnya kesehatan setelah mengalami sakit?

    Untuk mendayagunakan potensi terbaiknya, segenap warga negara Indonesia mau tidak mau, suka tidak suka, harus memperhatikan keseimbangan hidupnya. Karena kebahagiaan hakiki, hanya dapat dicapai jika keempat aspek kehidupan berjalan berimbang. Jadi bukan kesuksesan secara parsial.

    Revolusi Mental pun tidak akan berjalan baik tanpa diiringi oleh keseimbangan hidup di tingkat individu. Bukan semata-mata program pemerintah yang dipandang secara politis.

    Saatnya kita turut andil untuk mewujudkan Garuda bisa terbang lebih tinggi lagi. Kepakan kedua sayap yang menuntut keseimbangan hanya dapat diwujudkan oleh sinergi bersama dari saya, Anda dan kita semua sebagai anak bangsa.Sudahkah Anda menjadi insan yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, dan berjiwa api yang menyala-nyala?

    Mungkin kita wajib mengamini kata Thomas Merton bahwa “happiness is not a matter of intensity but of balance, order, rhythm and harmony.”

     

    Artikel ini dimuat di Inti Pesan, 7 Agustus 2017

  • Pemicu Utama Pengunduran Diri

     Mengundurkan diri (resign) adalah bukan hal yang aneh di dunia kerja. Itu terjadi jika sudah tidak ada lagi “titik temu” ekspektasi karyawan dengan “penyedia kerja”. Bisa juga muncul lantaran hal-hal lain yang menyebabkan karyawan tidak mungkin lagi bertahan seperti sakit, mengikuti suami (atau isteri) dinas ke luar kota, hingga melanjutkan studi di luar negeri.

    Secara acak,  alasan karyawan “tega” meninggalkan pekerjannya adalah seperti:

    • Atasan yang payah
    • Tidak adanya jenjang karir
    • Terdorong untuk membuka bisnis sendiri
    • Terbersit untuk fokus “menjual” keahlian yang dimilikinya secara serius (self-employed)
    • Besaran gaji yang “belum” memenuhi harapan
    • Budaya perusahaan/institusi yang kurang mendukung
    • Menghadapi kejenuhan atau kebosanan di bidang yang digeluti
    • Jarak antara kantor dengan rumah yang relatif jauh
    • Tidak sesuainya keterampilan yang dimiliki dengan yang diharapkan oleh institusi
    • Terbatasnya kesempatan untuk “berkembang”
    • Nihilnya apresiasi dari Manajemen atas prestasi karyawan
    • Tidak berjalannya sistem Reward & Punishment
    • Rendahnya passion
    • Dan lain-lain

    Dari beragam riset yang dilakukan oleh sejumlah lembaga terkemuka sekelas Harvard Business Review, Gallup, maupun Times; ternyata faktor atasan menduduki peringkat wahid. Mengagetkan kah?

    Berdasarkan pengalaman pribadi, saya sependapat dari hasil riset tersebut. Memutuskan pengunduran diri bukanlah semata-mata disetir oleh alasan Rupiah,  memenuhi ekspektasi orang lain, ataupun sebatas passion. Pengunduran diri adalah momen yang bukan dihasilkan dari keputusan semalam. Ia adalah “keputusan besar” yang tidak main-main. Kira-kira selevel dengan keputusan untuk memilih jodoh dan menentukan jurusan kuliah.

    Mengapa faktor atasan sebegitu berpengaruh? Tidak ada jawaban yang bisa membuat Anda semua mengiyakan. Karena pola pikir, persepsi, dan nilai-nilai individu menentukan bagaimana ia memandang “atasan” itu sendiri. Tapi, kalau boleh diutarakan kira-kira seperti ini:

    • Atasan adalah mitra kerja yang “bersama” karyawan dalam waktu yang tidak sebentar. Katakanlah Anda bekerja 8 jam perhari, berapa waktu yang Anda habiskan dengannya selama setahun?
    • Atasan secara profesional (idealnya, walaupun tidak selalu) merupakan Supervisor, Coach, Role Model, Guru, Mentor, atau teman yang dapat diandalkan untuk pengembangan diri secara berkelanjutan. Bagaimana jika menemukan atasan yang sebaliknya?
    • Atasan seyogyanya mampu menerapkan konsep P-C-D-C-A (Plan, Coordinate, Do, Check, Act) dalam mendelegasikan segala pekerjaan ke bawahannya agar lebih efektif dan efisien. Bagaimana kalau salah satu dari pilar itu tidak terlaksana?
    • Atasan ada baiknya (tapi sebenarnya harus) mau memberi dan menerima feedback kepada anggota timnya. Problema yang jamak ditemukan adalah masih banyaknya atasan yang menjunjung tinggi benih-benih “feodalisme” dengan pendekatan Top-Down yang mengunci rapat-rapat aspirasi dari bawahannya (Bottom-Up)
    • Atasan yang baik adalah yang mampu mengembangkan anggota timnya. Senada dengan pemimpin sejati yang mampu mencetak pemimpin lebih baik dibandingkan dengan dirinya. Kenyataannya, masih ada atasan yang tidak mau “tersaingi” oleh anggota timnya.  Tidak sedikit juga atasan yang tidak mau (dan mampu) memberikan arahan, mengutarakan umpan balik, melakukan evaluasi, dan mendengarkan dengan hati dari bawahannya.

    Apapun karakter atasan yang Anda miliki saat ini, tidak ada manusia sempurna. Sebagai atasan, sudah seyogyanya Anda mampu menjadi pemimpin, teman, mitra, dan coach bagi anggota. Sebagai bawahan, sudah sepantasnya Anda dapat menjadi pengikut yang baik. Karena syarat mutlak untuk menjadi seorang pemimpin yang baik adalah menjadi pengikut yang baik.

    Sudahkah Anda menjadi atasan yang baik? Apakah Anda pernah resign karena faktor atasan?

     

    (*) Artikel ini sebelumnya dimuat di Intipesan, 4 Agustus 2017 

     

     

  • Memaknai Kembali Pekerjaan

    Bekerja ialah salah satu kegiatan utama setiap orang di sepanjang hidup. Sebagian besar orang menghabiskan setidaknya sepertiga waktu produktif untuknya. Sebagian lainnya bahkan lebih dari itu.

    Melalui pekerjaan, setiap individu “menyumbangkan” diri. Dari waktu, tenaga, pikiran dan tentu saja biaya. Dengan pekerjaan kita rela meneteskan darah, keringat dan air mata. Menguji ketulusan, kesabaran, ketekunan, pengorbanan, tanggungjawab, dan integritas. Berkat pekerjaan kita bisa menggapai mimpi dan cita (bahkan cinta).

    Menyadari berharganya pekerjaan, setiap insan berjuang setengah mati untuk mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Dimulai dari kelulusan SMP. Saudara-saudara kita yang ingin cepat bekerja tentu memilih SMK, sesuai dengan vokasi yang diinginkan. Sementara itu yang memiliki hasrat untuk meneruskan ke perguruan tinggi, mempercayakan SMA dengan konsentrasi Ilmu Alam, Ilmu Sosial hingga Bahasa.

    Bagi yang beruntung bisa melanjutkan kuliah, “drama” pemilihan jurusan tak terelakkan lagi. Seringkali orang tua ikut campur tangan dalam menentukan program studi buah hati. Tidak jarang pilihan yang diambil mengabaikan aspek minat, bakat, potensi dan kepribadian. Banyak yang masih ikut-ikutan tren hingga mengambil jurusan tertentu hanya karena prospek pekerjaan. Tidak ada yang salah memang. Namun dari sini kita bisa mengerti, betapa pekerjaan menjadi isu penting yang tak bisa dipungkiri.

    Pekerjaan merupakan salah satu pilar dalam menentukan pasangan hidup. Beberapa orang mengidolakan calon jodoh dari profesi tertentu. Sebagian orang mematok calon pasangan, harus memiliki penghasilan dengan jumlah yang menurut mereka “wajar”. Sebagian lainnya sama sekali tidak mempermasalahkan profesi, asalkan bisa menghidupi.

    Pekerjaan ibarat pisau bermata dua. Bergantung dari cara individu menyikapi masalah bertubi-tubi yang mengiringi karirnya. Banyak figur publik mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sebagian dipenjara karena korupsi hingga mengkonsumsi narkotika. Tidak sedikit yang stres tiada henti karenanya. Sementara itu masih ada yang bahagia karena bekerja. Apapun rintangan yang dilaluinya.

    Lantas bagaimana kita memaknai pekerjaan? Jika kita ulik lagi, ada beberapa poin yang bisa disarikan.

    Pekerjaan Sebagai Beban

    Ini dirasakan oleh orang-orang yang belum mengenal dengan baik siapa dirinya. Mereka menganggap segala tanggungjawab yang dihadapi karena keterpaksaan. Mengeluh, menyalahkan orang lain, dan acuh tak acuh sudah menjadi kebiasaan orang di level ini. Mereka bekerja semata-mata ingin mendapatkan Rupiah. Seringkali mereka ingin menang sendiri, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, dan mengabaikan kata hati.

    Pekerjaan Sebagai Aktualisasi Diri

    Ini dirasakan oleh kebanyakan orang. Mereka bekerja secara profesional. Menyalurkan potensi, minat, bakat dan keterampilannya dalam keseharian. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan upah. Sistem reward & punishment cukup efektif dalam “memompa” semangat orang-orang di level ini. Mereka bekerja keras demi jenjang karir yang didambakan. Paada saat yang bersamaan, mereka terus tumbuh karena bertambahnya pengalaman. Didewasakan oleh masalah, ditempa dengan tugas yang dari hari ke hari makin besar.

    Pekerjaan Sebagai Cara untuk Melayani Sesama

    Mereka bekerja bukan karena keterpaksaan. Mereka berkarya bukan sekonyong-konyong karena uang. Namun mereka “ada” untuk melayani sesama. Semakin besar tanggung jawab yang dieemban, semakin besar pula “peluang” mereka untuk bahagia. Memberikan sebagian tenaga, waktu dan pikiran sudah menjadi denyut nadi. Membantu sesama telah menjadi citra diri. Mereka tidak tinggi hati ketika dipuji, dan tidak rendah diri ketika dicaci.

    Pekerjaan Sebagai Jalan untuk Memecahkan Masalah Orang Lain

    Pekerjaan sejatinya merupakan ujian yang wajib diselesaikan. Itu artinya, siapa saja yang bisa “lulus”, secara otomatis akan “naik kelas”. Dengan kata lain, cepat atau tidaknya perkembangan karir kita ditentukan oleh seberapa besar masalah yang kita pecahkan. Semakin tinggi posisi, semakin tinggi pula tantangan yang harus diredamkan. Semakin dahsyat kepuasan yang ditawarkan, semakin dahsyat pula resiko yang mengiringi. Menyadari hal itu, orang-orang yang berada pada level ini tidak pernah iri dengan pencapaian orang lain. Mereka percaya dengan hukum alam bahwa apa yang ditanam, itu pula yang akan dituai.

    Pekerjaan Sebagai Panggilan

    Ini merupakan “derajat” tertinggi dalam menghayati sebuah pekerjaan. Mereka berkarya bukan semata-mata karena kepentingan dunia. Melainkan sebagai sarana untuk mengabdi kepada Sang Hyang Widhi. Orang-orang ini berkarya karena ibadah. Jadi, mereka tidak lagi bekerja “hitung-hitungan”. Melainkan berusaha menciptakan nilai tambah dari masa ke masa. Mereka berhubungan dengan Tuhan sebaik berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu mereka yakin, bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar. Bagi mereka, bekerja merupakan proses ibadah yang dengan suka cita dilaksanakan dengan “tujuan” mulia.

    Nah, di atas merupakan beberapa makna pekerjaan versi saya. Bisa jadi Anda memiliki definisi tersendiri. Namun itu tidak jadi soal. Karena pekerjaan merupakan cermin dari siapa kita. Jadi ingin menjadi sebaik apakah Anda dalam menyelami pekerjaan?

     

    Artikel ini sebelumnya dimuat di Intipesan, 31 Juli 2017 

  • Seni Melewati Krisis Seperempat Baya

    Baru-baru ini saya bertemu dengan Albert (bukan nama sebenarnya), di salah satu kedai kopi populer di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

    Albert merupakan purwarupa Gen Y yang belakangan menjadi bahan diskusi di mana-mana. Dari orangtua, dosen, praktisi sumber daya manusia, hingga pemerintah. Sebuah generasi yang dikenal aktif, kreatif, “banci tampil”, melek teknologi suka berpindah-pindah kerja dan berambisi tinggi.

    Di usia yang baru menginjak 24, Albert bisa dikatakan cukup sukses. Bekerja di perusahaan multinasional, pendapatan bulanan di atas rata-rata teman sebayanya, relasi yang luas, dan memiliki bisnis dengan omset yang membuat semua orang bilang “wow”.

    Kedatangan Albert di hari itu hanya satu, yakni untuk meminta nasehat dari seorang “kakak kelas” yang terpaut lima tahun usianya yang tidak lain adalah saya.

    Setelah melewati jam pertama mendengarkan curhatan, saya mendapati kesimpulan bahwa Albert tengah dalam krisis seperempat baya. Sebuah periode ketika seorang early jobbers mempertanyakan keputusan-keputusan yang telah dialami, sekaligus mencemaskan masa depan. Sebuah fase tatkala fresh graduates takut salah mengambil langkah, ragu-ragu dalam bertindak, membandingkan (pencapaian) diri sendiri, dengan  rekan sebaya dan dirundung kegalauan yang seakan tak berkesudahan.

    Cerita Albert yang ditumpahkan kepada saya hanyalah puncak dari gunung es. Dirinya hanyalah salah satu dari jutaan pemuda yang mendapati fresh graduate syndrome. Sebuah krisis yang memang jamak dialami oleh siapa saja di usia antara 24-34 tahun.

    Nasehat yang saya berikan kepada Albert sejatinya telah saya rangkum dalam buku “Mantra Kehidupan”, yang telah terbit beberapa bulan silam. Bukan bermaksud menggurui – tapi hanya sekedar berbagi – berikut ialah beberapa tips yang mungkin bisa diterapkan oleh pengidap krisis seperempat baya.

    Kenali Diri Sendiri

    Ini merupakan langkah pertama yang tak bisa “dilangkahi”. Mengetahui kekuatan, kelemahan, hobi, minat, bakat, dan tipe kepribadian adalah modal yang tak bisa ditawar sebelum meniti karir hingga mengarungi bahtera rumah tangga. Anda memang bisa memanfaatkan biro-biro konsultasi sumber daya manusia untuk memetakan siapa diri Anda. Namun pada akhirnya hanya Anda (dan Tuhanlah) yang benar-benar mengetahui jawaban terbaiknya. Itu mengapa saya setuju dengan ungkapan, barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.

    Jangan Membandingkan Kehidupan Anda Dengan Orang Lain

    Setiap orang memiliki “orbit” masing-masing. Dari start  waktu kita lahir hingga angan-angan yang dimiliki. Itu mengapa membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain hanya akan membuat Anda tidak bahagia. Terinspirasi dengan prestasi memukau dari orang lain memang sah-sah saja, namun jangan sampai itu malah menjadi mental block yang membuat Anda tidak bersyukur. Karena perlu kita ingat bahwa di luar sana selalu ada orang yang lebih kaya, lebih berkuasa, lebih berpengaruh, lebih terkenal, lebih cantik, lebih tampan, atau lebih langsing. Oleh karena itu mensyukuri apa yang kita miliki saat ini tidak bisa ditawar lagi, jika ingin berbahagia.

    Terus Mencoba

    Jika telah yakin dengan apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup, saya ucapkan selamat. Namun jika Anda masih diselimuti dengan keraguan, tenang saja. Anda tidaklah sendirian. Karena hidup memang dinamis. Alih-alih menghabiskan hari-hari Anda dengan kegalauan, coba saja hal-hal yang memancing keingintahuan Anda. Bisa dimulai dengan menekuni hobi, aktif terlibat di komunitas, menjadi sukarelawan, mencoba peruntungan sebagai pekerja lepas, hingga membuka bisnis yang sesuai dengan minat Anda. Di masa transisi ini memang tidak ada hal terbaik selain mencoba hal-hal baru. Karena dari situ Anda bisa menyaring apa yang cocok dengan diri sendiri, apa yang tidak perlu Anda tekuni lagi, dan apa yang perlu didalami pada sisa usia produktif Anda. Jika  tidak mencoba banyak hal, bagaimana  Anda yakin dengan pilihan yang telah dibuat ? Karena fokus hanya bisa dilakukan setelah melewati masa “coba-mencoba”.

    Miliki Visi, Tapi Nikmatilah Prosesnya

    Visi ialah bagaimana Anda melihat diri sendiri di masa yang akan datang. Ia terkait dengan apa yang benar-benar Anda cari, Anda inginkan, Anda raih, atau Anda lakukan. Suatu kondisi yang tentu saja unik, pun subyektif. Menyadari hal itu sudah seyogyanya Anda untuk menikmati prosesnya. Mengapresiasi setahap demi setahap kemajuan yang Anda capai. Karena kebahagiaan sesungguhnya ada di dalam perjalanan, bukan tujuan akhir.

    Nah, di atas merupakan beberapa tips yang mungkin bisa Anda pertimbangkan dalam mengarungi krisis seperempat baya. Beberapa mungkin cocok bagi Anda, sebagian bisa jadi tidak relevan untuk sebagian orang. Yang terpenting Anda menyadari bahwa masa depan sepenuhnya ada di dalam kendali Anda. Bukan dari atasan, orang tua, teman, atau yang lain.

     

    Artikel ini sebelumnya dimuat di Intipesan, 25 Juli 2017 

  • Sudahkah Organisasi Anda “Bertujuan”?

    Semua orang tahu bahwa bisnis diciptakan untuk mendatangkan keuntungan. Sehingga pertumbuhan bisnis berkelanjutan tidak bisa ditawar lagi, agar bisa bertahan di tengah persaingan yang kian sengit. Namun sadarkah kita mengapa ribuan perusahaan yang dulunya “jagoan” satu persatu tumbang? Di saat yang bersamaan, mengapa ada segelintir perusahaan “kawakan” yang masih mampu eksis hingga sekarang? Jawabannya tentu bergantung dari sudut mana kita memandangnya.

    Belakangan ini saya bertemu dengan Ali Zaenal Abidin, yang tidak lain adalah Chief of Organizational Happiness Insight Out. Kami berjumpa di salah satu gerai makanan cepat saji populer di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Jebolan Wagner Graduate School of Public Service di New York University tersebut, menyadarkan saya pentingnya “tujuan” dalam bergerak. Tidak hanya dalam konteks individu, namun juga dalam konteks bisnis.

    Seperti yang (mungkin) telah Anda ketahui, Ali bersama rekan-rekannya mendirikan Insight Out dengan “tujuan” mulia. Mereka ingin membantu para individu dan organisasi menemukan dan menjalankan “tujuan”, hingga membangun budaya organisasi yang berbasis nilai. Sehingga bisa diterjemahkan ke dalam kegiatan sehari-hari.

    Di tataran individu, Insight Out memiliki program bertajuk I’m On My Way (IOMW). Sebuah program yang dibesut untuk memfasilitasi individu menemukan dan menjalani passion dan “panggilan hidup”, merancang jalur hingga memulai perjalanan untuk mencapainya. Tidak tanggung-tanggung, program ini memiliki misi untuk mewujudkan satu juta “Purposeful People”,  yaitu orang-orang yang telah menemukan dan menjalankan tujuan hidupnya pada tahun 2027. Melalui proses fasilitasi self-discovery intensif selama 10 pekan, program ini tidak hanya benar-benar cocok untuk membantu para peserta mengenali siapa dirinya, tapi juga menciptakan snowball effect dalam  mempromosikan “Enabling Purposeful Dreams” yaitu mewujudkan mimpi yang dapat memberikan positif bagi masyarakat.

    Lantas apa hubungannya dengan dunia bisnis? Kalau IOMW membantu individu untuk menemukan “panggilan hidup”, Insight Out memiliki  jasa Organizational Discovery untuk tataran organisasi – baik profit maupun non-profit. Jadi jasa konsultansi ini membantu organisasi-organisasi menentukan visi-misi, mengembangkan nilai-nilai dan perilaku, menerjemahkan ke dalam kegiatan operasional. Hingga kepada cara mengukur kinerjanya secara sistematis. Singkat kata Insight Out membantu klien membangun budaya perusahaan, dengan cara yang berbeda dari firma konsultansi kebanyakan.

    Insight Out mengingatkan saya dengan Ford Motor Company. Perusahaan legendaris asal Negeri Paman Sam ini pada tahun 1914 menjadi yang pertama dalam mengedepankan “tujuan”, di samping keuntungan dalam berbisnis. Suatu ketika Henry Ford  mengejutkan jagat, karena mampu melipatgandakan upah karyawan sebanyak dua kali upah rata-rata produsen mobil lain pada zamannya. Tidak hanya itu beliau juga memotong jam kerja, dari sembilan menjadi delapan setiap harinya. Serta menawarkan pembagian keuntungan bagi karyawan yang mau menjalani gaya hidup “bersih”, hingga memimpikan setiap karyawannya mampu membeli sendiri mobil buatannya.

    Apakah Ford tumbang karena terlalu dermawan? Bukankah kebijakan di atas hanya menghabiskan keuntungan saja? Anggapan yang salah. Ford begitu berhasil pada zamannya. Ia justru menjadi perusahaan yang paling didambakan dan di saat yang bersamaan paling profitable sepanjang abad ke-20.

    Ford mengingatkan saya lagi kisah sukses Facebook. Perusahaan fenomenal besutan Mark Zuckerberg ini mengaku bahwa pada awalnya didirikan sebagai misi sosial, bukan sebagai perusahaan. Tidak lain ialah untuk membuat dunia yang lebih terbuka dan terhubung. Sehingga Zuckerberg tidak membebani pengguna dengan biaya untuk membuat akun, hingga menikmati berderet fitur gratis yang kian bertambah dari hari ke hari.  Hal tersebut  justru membuat Facebook  menjadi salah satu jejaring sosial, dengan jumlah pengguna terbanyak dan keuntungan terbesar di dunia.

    Ketika para pengguna menikmati fitur-fitur yang ditawarkan Facebook, dengan sendirinya mereka tentu merekomendasikan kepada teman-temannya untuk membuat akun dan  berlama-lama aktif di sana tanpa diminta. Seiring dengan  meningkatnya jumlah  pengguna dan durasi mengaksesnya, para pengiklan berbondong-bondong mempercayakannya untuk mempromosikan produk dan jasanya. Belakangan Facebook memperbaharui “tujuan” bisnisnya menjadi sebuah perusahaan yang mampu memberikan kesempatan kepada orang-orang kekuatan, untuk membangun komunitas dan mendekatkan dunia bersama-sama.

    Apa “benang merah” dari perjalanan Ford dan Facebook? Sederhana saja. Organisasi tanpa tujuan hanya mampu mengelola sumber dayanya, sedangkan organisasi yang “bertujuan” bisa memobilisasi sumber dayanya. Tujuan merupakan kunci terwujudnya budaya perusahaan yang kuat, terukur dan berkelanjutan. Ia memang bukan elemen terlihat, namun kehadirannya selalu menyertai derap langkah perusahaan. Ia laksana  ruh yang memberikan energi tak terbendung.

    Menyadari hal itu kini semakin banyak saja perusahaan, yang menuliskan pernyataan tujuan guna melengkapi pernyataan misi. Satu hal yang sekilas sama, namun sebenarnya jelas terlihat perbedaannya.

    Misi menggambarkan apa yang diinginkan, dikejar, atau dicapai oleh perusahaan. Sedangkan tujuan adalah alasan mengapa perusahaan didirikan. Jadi tujuan bukan semata-mata mengenai hasil – melainkan perjalanan atau proses.

    Kita bisa ambil contoh dari perusahaan sekelas PricewaterhouseCoopers (PwC). Perusahaan yang berpusat di New York ini memiliki misi untuk membantu perusahaan dan organisasi, untuk menciptakan nilai melalui jasa-jasa yang ditawarkannya.  Adapun “tujuan” PwC adalah membangun kepercayaan di tengah masyarakat dan menyelesaikan masalah-masalah penting. Tujuan itulah yang menjadi jawaban mengapa ia masih begitu “perkasa” bersanding dengan Deloitte, Ernst & Young, dan KPMG.

    Jadi sudahkah perusahaan Anda menemukan purpose? Jika ya, apakah ia telah benar-benar “terpatri” dalam budaya perusahaan Anda? Tujuan ialah “ruh” mengapa bisnis Anda ada, untuk siapa bisnis Anda dijalankan, dan apa yang ditawarkan bisnis Anda untuk melayani, menciptakan nilai tambah, dan memecahkan masalah di sekitar kita.

     

    Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di Inti Pesan, 21 Juli 2017