Apa Yang Saya Pelajari Di Usia 20an?

            Katanya, waktu tidak bisa ditukar dengan Rupiah. Konon, pengalaman tak bisa dihargai dengan Dolar.  Bagi saya, keduanya tidak salah. Yang pasti, waktu tidak pernah kembali dan pengalaman akan terus menjadi memori.

Tahun ini saya resmi meninggalkan usian 20an. Artinya, saya mulai menginjak angka 30 di tahun 2018.

Ada perasaan senang dan sedih yang mengiringi. Senang karena banyak hal yang telah saya lalui dalam satu dasawarsa terakhir. Sedih lantaran saya belum bisa memanfaatkan waktu sebagaimana mestinya.

Saya sangat bersyukur bisa melewati usia 20an dengan pengalaman penuh warna. Karena masih diberi “kepercayaan” oleh Tuhan untuk bernafas di alam dunia.

Mungkin bagi sebagian orang ini berlebihan. Namun, tidak bagi saya. Lantaran tidak sedikit teman sekolah, saudara, maupun tetangga seusia saya atau bahkan yang lebih muda sudah lebih dahulu menghadap kepada-Nya.

Saya yakin pengalaman setiap orang melewati fase ini pastilah unik. Begitu pula cara memaknainya. Namun, jika saya ditanya apa pelajaran yang dapat saya ceritakan di usia 20an, inilah jawabannya.

 

Men Can Plan Well, But God is the Best Planner

Saya kira ini pelajaran terpenting. Karena sehebat apapun kita berencana, pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.

Dalam konteks saya pribadi, untuk pertama kalinya saya percaya takdir di usia ini.  Sejak kecil – karena didikan orang tua dan agama – saya tahu takdir memang ada. Namun, saya baru bisa benar-benar menghayati apa itu takdir dan nasib di fase ini.

Jika ditarik ke belakang, saya masih ingat betul bagaimana dulu pernah “jatuh” karena pendidikan. Khususnya ketika gagal menjadi mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga dan PKN STAN di tahun 2007.

Dalam konteks karir, saya begitu banyak “ditolak” oleh perusahaan. Di sisi lain, tidak kalah banyak saya “dibajak” atau tiba-tiba ditawari untuk bergabung perusahaan tertentu.

Dalam konteks penjualan, saya bertubi-tubi ditolak calon pelanggan. Namun, tak sedikit juga yang tiba-tiba mendapatkan closing tanpa saya menawarkan.

Dalam konteks perjodohan tidak kalah seru. Tak terhitung berapa orang yang ingin saya “dekati”, tapi ujung-ujungnya tidak mendapati kecocokan. Tak ingat lagi berapa orang yang telah menolak saya untuk menjadi bagian hidupnya – meski baru mengatakan “halo”. Yang pasti, tidak sedikit  yang begitu agresif mempengaruhi saya untuk menikah dengannya.

 

 

Dalam Hidup Kita Memilih dan Dipilih

            Apakah hidup ialah pilihan? Ya, saya mengamini. Lebih tepatnya lagi merupakan kumpulan dari beragam pilihan yang seolah tak berkesudahan.

Yang saya pelajari di fase 20an ialah tentang memilih dan dipilih. Ya, ada saatnya kita memang benar-benar berkuasa penuh dengan pilihan yang kita inginkan. Namun, ada momen-momen tertentu yang ternyata kita “dipilih” oleh Tuhan untuk menjadi, melakukan atau mempunyai hal tertentu.

Pada tahun 2008 misalnya. Saya “dipilih” untuk menerima beasiswa penuh dari Theodore Permadi Rachmat di Universitas Paramadina di bidang yang dulu saya cintai – hubungan internasional. Juga terpilih untuk menerima beasiswa penuh di salah satu sekolah kedinasan di Yogyakarta.

Di tahun 2012, lain lagi ceritanya. Saya memilih untuk menjadi mahasiswa Master di Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Techological University (NTU), Singapura. Namun nasib berkata lain, saya gagal di “babak” terakhir. Sehingga membuat saya dipilih untuk menjadi mahasiswa Master di Universitas Indonesia melalui beasiswa Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia.

Masih di tahun 2013, saya dipilih oleh salah satu profesor manajemen di Amerika Serikat. Lebih tepatnya untuk menjadi mahasiswa MBA di salah satu kampus di Florida. Karena sudah lebih dulu terikat dengan beasiswa di Universitas Indonesia, saya melepas atau menolak tawaran studi di Negeri Paman Sam.

 

Tentang Menemukan Jodoh

            Berbeda dengan sebagian laki-laki di luar sana, saya tidak pernah berpacaran. Itu mengapa saya sama sekali tidak memiliki cerita romantis dengan orang tertentu.

Untuk urusan perjodohan, saya termasuk orang yang “mengalir”. Artinya, saya bukan tipe perencana seperti beberapa teman saya yang memang telah merancang dengan sangat baik kriteria pasangan, hingga kapan dan di mana harus menikah.

Jodoh memang misteri. Kita sering mendengar bahwa lama atau tidaknya berpacaran tidak menjamin sepasang manusia terikat dalam institusi pernikahan. Sebaliknya, tidak ada jaminan juga pasangan yang mengambil “jalur” taaruf bisa langgeng sampai “kakek-nenek”. Begitu pun mereka yang menikah karena dijodohkan oleh keluarga seperti cerita Siti Nurbaya.

Jalan hidup orang berbeda-beda. Ada yang menemukan jodohnya di tempat kerja, komunitas, kampus, dikenalkan teman, dijodohkan, taaruf, hingga melalui aplikasi tertentu.

Bagi saya, menikah bukanlah kompetisi. Bukan siapa yang paling cepat menemukan pasangannya. Bukan pula hanya dipengaruhi faktor finansial dan mental.

Percaya atau tidak, siapapun akan menemukan jodohnya di saat dan waktu yang tepat menurut Tuhan. Disadari atau tidak, siapa saja akan memperoleh pasangan seperti yang dipikirkan dan diharapkan. Jika sudah demikian, yang harus dilakukan oleh orang-orang yang melajang ialah cukup berusaha dan berdoa.

 

Mengenai Rezeki

            Usia 20an mungkin merupakan fase terpenting dalam menentukan pekerjaan. Tak mengherankan, di masa ini ada berbagai banyak keputusan yang harus diambil. Mulai dari memilih perguruan tinggi, tempat magang, profesi, hingga bidang bisnis yang ingin ditekuni.

Yang saya pelajari, usia 20an begitu dinamis. Ada banyak perubahan pola pikir di masa ini. Ada beragam kejutan yang tak disangka-sangka. Ada berderet orang yang mewarnai perjalanan hidup kita di  fase ini.

Di usia 20an, kita mulai belajar kerasnya kehidupan. Saya tidak mengatakan di fase sebelum atau setelahnya tidak keras – sama sekali bukan. Namun, di periode ini kita memang sedang gencar-gencarnya berjuang menjemput, mengupayakan, atau mencari rezeki.

Yang saya pahami, uang bukan satu-satunya tolok ukur rezeki. Karena sudah jamak terdengar orang yang kaya-raya tapi bunuh diri. Para pesohor yang memiliki puluhan juta penggemar mengakhiri hidup dengan tragis. Para pengusaha yang bergelimang kemewahan tidak memiliki waktu untuk anak. Para pejabat yang terlihat “enak” menyesal dalam penjara yang memalukan.

Rezeki tentang keberkahan. Bukan dari seberapa banyak kita memperoleh. Rezeki ialah tentang memberi, bukan terhenti pada tahap memiliki.

 

Kebahagiaan Yang Paling Didambakan

            Di usia 20an kita mulai diuji oleh berbagai pernak-pernik kehidupan. Khususnya mengenai karir, bisnis, rumah tangga, dan gaya hidup.

Di fase ini, nilai-nilai kehidupan kita benar-benar diuji. Karena pengaruh dari luar diri kita begitu luar biasa untuk “menggoyang” apa yang sesungguhnya kita inginkan dalam hidup.

Kendali ada pada diri kita. Apakah kita mau mengikuti apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup atau mengikuti apa yang orang lain inginkan dari diri kita?

Kendali ada pada diri sendiri. Apakah kita mau mengikuti apa yang membuat kita bahagia atau didikte oleh orang tua, teman, institusi atau media.

Di usia 20an, identitas kita benar-benar mulai diuji. Apakah kebahagiaan versi kita berbanding lurus dengan kekayaan, ketenaran dan kekuasaan? Atau bukan dari ketiganya?

Yang pasti, apapun yang sebenarnya kita inginkan, itulah yang membuat diri kita bahagia. Jika kita sudah tahu apa itu, ikuti saja kata hati.

Namun, kita juga harus ingat. Bahwa apa yang kita lakukan tidak melanggar. Baik dari sisi agama, hukum, sosial dan alam.

 

Sebenarnya di luar 5 (lima) hal di atas, masih ada berderet pelajaran lain yang bisa saya tuturkan. Namun, saya kira kelimanya telah mewakili.

Usia 20an ialah periode eksplorasi. Jadi, lakukan saja apapun yang kita inginkan. Kejar apa saja yang membuat kita bahagia.

Di fase 20an, energi kita berada pada puncaknya. Jadi, jangan sampai ia berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang berarti dan kita banggakan di kemudian hari.

Saya baru saja mengakhiri fase 20an. Ini cerita saya, bagaimana dengan Anda?

 

 

 

 

 

 

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit