Film Itu Bernama Kehidupan Diri Sendiri

“Setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba: forsythia, kamelia dan bunga-bunga lain. Bebungaan itu tahu kapan mereka akan mekar; tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain. Apakah kamu merasa tertinggal dari teman-temanmu? Apakah kamu merasa telah menyia-nyiakan waktu sementara teman-temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kamu berpikir demikian, ingatlah bahwa kamu memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga dengan teman-temanmu. Musimmu belum datang, Namun ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar sebelum dirimu. Jadi, angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu. Ingatlah, kamu begitu menakjubkan!”

 

Kutipan di atas lahir dari seorang profesor berkebangsaan Korea bernama Rando Kim dalam buku berjudul “Time of Your Life”. Dalam karya tersebut, pria  yang sehari-hari mengajar di Universitas Nasional Korea itu menuturkan nasehat-nasehat luar biasa bagi kawula muda yang sebagian besar (mungkin) frustasi oleh tuntutan keluarga, masyarakat, dan pergaulan.

Rando Kim telah berhasil mencuri perhatian millennial Negeri Ginseng. Pasalnya, buku yang pertama kali diterbitkan di penghujung 2010 itu menduduki peringkat wahid pada daftar buku terlaris selama tiga pekan. Tidak hanya itu, rekor penjualan satu juta kopi pecah hanya dalam waktu delapan bulan.

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa buku yang topiknya terkesan “remeh-temeh” digandrungi? Jawabannya sederhana sekali. Karena karya itu mampu tampil sebagai solusi.

Kita tahu pertumbuhan ekonomi Korea Selatan begitu menakjubkan. Sebuah negeri yang beberapa dekade lalu selevel dengan Indonesia, kini bisa dikatakan (hampir) sejajar dengan Jepang dan negara-negara maju lainnya. “Demam Korea” menjadi saksinya. Gastrodiplomacy menjadi penyokongnya. Kunjungan turis mancanegara menjadi indikatornya. Dan tak bisa dibantah lagi, produk-produk andalan bangsanya telah menyebar ke  seluruh penjuru dunia. Mulai dari Samsung, LG, Hyundai, KIA dan seterusnya.

Seiring dengan pesatnya kemajuan ekonomi Korea, semakin ketat pula iklim “persaingan” di tengah kawula mudanya. Setiap orang berlomba-lomba menjadi sukses, berpengaruh, dan berkedudukan. Setiap individu habis-habisan untuk menjadi yang terbaik di bidangnya.

Kerasnya persaingan menjadikan “beban” kawula muda Korea menjadi-jadi. Tekanan sosial tak bisa terelakkan. Akibatnya, angka bunuh diri di negara itu menjadi salah satu yang tertinggi di jagad. Tak mengherankan buku Rando Kim yang awalnya ditulis untuk puteranya yang bernama Jun langsung “meledak” di pasaran.

Sebagian apa yang dituturkan Kim persis dengan apa yang saya tuliskan dalam buku Mantra Kehidupan: Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life Crisis beberapa waktu lalu. Sebuah buku Self-Help yang membantu anak muda untuk mengarungi usia 20an dan 30an dengan lebih produktif berbasis pengenalan diri.

Lantas, apa pesan yang ingin saya sampaikan?

Hidup itu bisa diibaratkan seperti film. Kita bisa berperan sebagai pemain, sutradara, dan produser sekaligus. Tidak hanya menjadi penonton.

Karena kehidupan laksana film, maka pikiranlah yang menjadi panglimanya. Karena apa yang kita pikirkan bisa menjadi “film diri”, maka pikiranlah yang menjadi proyektornya.

Proyeksi melahirkan persepsi. Oleh karena itu, masa depan kita ditentukan oleh bagaimana kita memproyeksikan keyakinan mengenai masa lalu yang digerakkan oleh tindakan kita hari ini.

Mengambil hikmah dari masa silam sudah menjadi keharusan. Memiliki harapan akan masa depan menjadi kewajiban. Namun yang terpenting ialah apa yang kita lakukan saat ini. Dari momen ke momen.

Karena Anda ialah film yang Anda buat sendiri, Anda bisa membuat film apapun yang Anda mau. Andalah yang berhak menentukan ceritanya dari awal hingga akhir. Anda pulalah yang memilih alurnya secara rinci.

Pilihan di tangan Anda. Mau menjadi aktor yang seperti Apakah Anda? Ingin cerita yang “sedramatis” apakah Anda di akhir film?

Yang pasti, nikmati saja proses pembuatan film itu. Jiwai peran yang Anda mainkan. Karena hidup katanya tidak lebih dari sekedar permainan yang melenakan.

 

 

*) Artikel ini pertama kali dimuat di AkuBisaBerbuatBaik.com

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit