Mengapa Lulusan Lokal Sulit Bersaing Di Pasar Kerja Global?

Artikel ini pertama kali dimuat di Intipesan dengan pranala ini

 

Berbicara mengenai globalisasi, sepertinya terdengar klise. Meskipun demikian, mau tidak mau, suka tidak suka, kita sedang dan akan terus bersinggungan dengannya. Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi yang semakin tak terbendung. Sehingga benar-benar makin mengukuhkan “desa global” yang kian terhubung.
Globalisasi memang mempengaruhi segala sendi kehidupan. Dalam perspektif sumber daya manusia, ia memungkinkan terjadinya pergerakan arus tenaga kerja lintas batas. Menembus sekat-sekat administratif yang bernama negara.
Pesatnya pertumbuhan perusahaan multinasional memang sangat mencengangkan dalam satu dekade terakhir. Kenyataan tersebut diikuti dengan makin sengitnya persaingan talent untuk menduduki posisi-posisi strategis.
Kini, kita dengan begitu mudah menemukan warga negara asing yang mencari penghidupan di tanah air. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Batam, Denpasar dan Semarang misalnya. Profesional dari India, Tiongkok Filipina, Australia, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, hingga Inggris berseliweran. Sebaliknya, dewasa ini makin banyak saudara kita yang menjadi profesional di negara lain. Khususnya Singapura, Kuala Lumpur, Dubai, Doha, Sydney, Bangkok, dan Melbourne.
Lantas, seberapa baik daya saing lulusan perguruan tinggi lokal kita dalam pasar kerja global? Jujur, saya belum menemukan satu riset komprehensif yang membahas rinci dari A ke Z. Namun berdasarkan gabungan temuan riset yang dilakukan oleh beberapa institusi, dapat disarikan beberapa poin berikut.
Masih Rendahnya Kemampuan Berbahasa Asing
Faktor ini yang paling mencolok. Mungkin bagi para lulusan dari kota-kota besar sudah cukup baik kemampuan berbahasa asingnya. Namun, jika diambil rata-rata secara nasional, kemampuan berbahasa internasional lulusan perguruan tinggi kita masih lemah. Kita bisa belajar dari tetangga kita Filipina dan India – dua negara yang menjadi penyumbang diaspora terbesar di dunia. Keterampilan berbahasa Inggris masyarakat di dunia negara tersebut terbukti menjadi daya tawar yang tak bisa diremehkan.
Memang, belakangan pasar juga makin membutuhkan lulusan yang fasih berbahasa Mandarin, Korea, atau Jepang. Namun, kemampuan berbahasa Inggris masih menjadi syarat utama. Lebih disarankan lagi fasih berbahasa Inggris dan minimal satu bahasa lain, khususnya Mandarin.
Lemahnya Kemampuan Memecahkan Masalah
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sistem pendidikan kita masih banyak masalah. Jika dirunut ke akarnya, kita tidak serta-merta menyalahkan perguruan tinggi. Namun, bisa menengok dari Sekolah Dasar, bahkan Taman Kanak-Kanak.
Pendidikan kita masih menuntut anak didik untuk menghafal, menghafal, dan menghafal. Bukan melatih berpikir kritis, kreatif, atau memecahkan masalah. Di luar itu, dari pendidikan dasar anak-anak didik kita dituntut untuk mengikuti semua pelajaran yang kadang-kadang tidak dibutuhkan di pasar kerja. Apa mungkin negara ini ingin mencetak generalis sebanyak-banyaknya?
Kendati demikian, belakangan sudah ada pembenahan kurikulum di berbagai jenjang pendidikan. Kurikulum baru diharapkan dapat merangsang pembelajaran yang lebih bersifat student-centric, mengasah kreatifitas, kerjasama, dan memecahkan masalah. Tentu ini menjadi “angin segar”. Semoga saja. Asal jangan sampai kurikulum terus berubah mengikuti perubahan Menteri atau kabinet.
Adanya Skill Gap
Salah satu kemajuan suatu negara ditentukan oleh solidnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Tidak lain ialah ABCG yang tidak lain merupakan A (akademik/institusi pendidikan), B (komunitas bisnis/perusahaan/industri), C (masyarakat sipil), dan G (pemerintah). Dalam kacamata pasar kerja Indonesia, masalah paling mendasarnya ialah tidak adanya kesesuaian antara keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia usaha dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi.
Pendek kata, masih tingginya kesenjangan keterampilan (skill gap) antara yang dibutuhkan pasar (demand) dengan “pasokan” (supply) yang tidak lain ialah para Sarjana/Diploma. Itu mengapa jutaan anak muda di berbagai kota masih menganggur sementara itu para praktisi sumber daya manusia berteriak karena sulit mencari kandidat yang cocok.
Yang paling konstektual, bisa kita lihat dari geliat perusahaan rintisan alias startup. Memang, perkembangan lima tahun terakhir cukup menggembirakan. Namun, konon para investor maupun co-founder dari startup tersebut kesulitan mencari talent yang sesuai dengan “standar”. Tak mengherankan, bajak-membajak talent begitu sengit. Tak mengherankan, banyak di antara startup yang terpaksa merekrut para insinyur dari India, Filipina atau Singapura untuk memenuhi kebutuhan organisasinya.

 
Berorientasi Ke Dalam
Faktor terakhir yang tak bisa remehkan adalah kenyataan dari mental bangsa ini yang terlalu berorientasi ke dalam (inward looking). Tak terkecuali dengan lulusan perguruan tinggi lokal kita.
Mungkin sebagian besar dari kita terlalu nyaman dengan negeri sendiri. Sebagian lainnya menganggap para profesional berkeahlian tinggi yang bekerja di luar negeri tidak nasionalis. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa talent lokal lebih baik di “kandang sendiri” saja karena masih banyak dibutuhkan.
Tidak ada yang benar atau salah dari mental inward looking ini. Yang pasti, kita harus ingat ada puluhan ribu profesional dari negara lain yang menyesaki perkantoran di kota-kota besar tanah air. Mereka tidak hanya menduduki posisi direksi. Namun banyak yang menempati posisi-posisi yang seharusnya bisa diisi oleh lulusan lokal seperti manajer, pengawas bahkan officer.
Ketika kita terlena dengan orientasi ke dalam negeri, negara-negara tetangga kita banyak yang sebaliknya. Mereka outward looking. Pemerintah Filipina sudah puluhan tahun menggenjot kemampuan berbahasa Inggris agar warganya siap menaklukkan dunia. India dari dulu sudah ada kementerian khusus yang menangani diaspora. Di Vietnam maupun Thailand kursus bahasa Indonesia makin diminati warga karena mereka tahu nusantara ini pasar yang menggiurkan. Sementara itu pemerintah Malaysia telah memiliki cetak biru sumber daya manusia yang kukuh untuk memenangkan persaingan global.
Bagaimana dengan lulusan perguruan tinggi kita? Sejauh mana mereka berpikir untuk goes global? Sebaik apa mereka “memantaskan diri”?
Permasalahan dewasa ini memang bukan perkara hitam dan putih. Tidak bijak juga saling menyalahkan dan gontok-gontokan. Yang pasti, saatnya sinergi antar pemangku kepentingan direkatkan. Yang lebih penting lagi, saatnya negeri ini memiliki cetak biru, peta jalan dan rencana aksi yang matang dalam pembangunan sumber daya manusia.
Masalahnya bukan mampu atau tidak mampu. Tapi mau atau tidak.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *