Bukan Sumber (Air) Mencari Timba

                  Belum lama ini saya bertemu dengan Maharishi (bukan nama sebenarnya). Beliau merupakan salah satu “guru spiritual” saya. Kami bertemu di padepokannya yang begitu asri. Lebih tepatnya di sebuah desa kecil di lereng Gunung Lawu.

Percakapan kami dimulai dengan basa-basi. Beliau menanyakan kesibukan saya selama dua tahun terakhir. Sementara itu, saya penasaran apa resep awet muda beliau. Karena meskipun beliau sudah berusia 50an, wajahnya seakan-akan masih seperti pria di pertengahan 30.

Sebenarnya  tidak cukup untuk menuliskan obrolan kami yang hampir memakan waktu 3 jam. Namun, jika boleh saya sarikan, di bawah ini poin utamanya.

 

Saya                       :  Romo, mengapa panjenengan tidak mempromosikan diri seperti para pemuka agama  lainnya? Mengunggah kajian di Youtube, menyebarkan tulisan di blog, mengirim                      pemikiran ke media massa, atau menyewa praktisi kehumasan untuk “melambungkan                            nama?”Bukankah itu  akan mendongkrak citra pesantren ini? Sehingga, makin banyak                            santri yang belajar di sini. Makin besar pula manfaat yang romo berikan?

Maharishi            :  Buat apa? Jika demikian apa bedanya saya dengan para “pelacur ilmu?” Timba itu    mencari sumber (mata air). Bukan sebaliknya.

Saya                       :  Hemmmm. Benar juga ya. Jadi, kalau banyak kaum cendekia yang mem-PR-kan dirinya bagaimana dong? Apakah itu salah? Kan maksudnya baik juga?

Maharishi            :  Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung niatnya. Agung pikirkan saja sendiri.

 

***

Apakah Anda bisa menangkap pesan dari guru spiritual saya di atas? Jika ya, bagaimana pendapat Anda?

Di abad informasi ini, pengetahuan jauh lebih mudah diperoleh. Hanya dengan modal sentuh, klik, dan share; siapapun bisa mengaku menjadi ahli meski kapasitas keilmuannya diragukan.

Bisa jadi sosok seperti Maharishi, guru spiritual saya di atas kini semakin langka. Orang yang sangat berilmu tapi tidak mempromosikan dirinya habis-habisan. Karena beliau berpikir, oran-orang yang butuh ilmunyalah yang akan mendekat kepadanya.

Di sisi lain, bisa jadi 99% orang yang Anda anggap sebagai pakar, guru atau suhu di luar sana sebaliknya. Barangkali keilmuannya masih “setetes.” Namun, dorongan untuk menjadi terkenal dan cepat kaya raya; membuat mereka berani melacurkan pengetahuan.

Pada akhirnya, semua memang bergantung pada niatnya. Saya dan Anda hanya bisa membuat persepsi dari apa yang terlihat dari permukaan. Sementara itu, hanya Sang Penciptalah yang benar-benar mengetahui hatinya.

Jadi, apakah Anda yakin selama ini telah berguru kepada orang yang tepat? Atau justru percaya pada para pelacur ilmu? Bukan sumber (air) mencari timba . . .

 

Kebagusan, 5 Oktober 2018

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit