Category: Blog

  • Jalan Menuju Kebahagiaan

    Saya rasa ini adalah satu kata yang mewakili semua orang.
    Apa yang saya, Anda, dan kita semua lakukan saat ini mencerminkan apa yang membuat kita bahagia.
    Ada yang bahagia ketika banyak harta. Sebagian bahagia jika punya tahta. Tak sedikit yang bisa bahagia jika punya banyak pengikut di jagad maya
    Sayangnya, tidak semua orang menyadari apa yang benar-benar membuatnya bahagia. Akibatnya, meski semua pencapaian duniawi telah digapai, yang mereka dapatkan hanyalah kesenangan semu.
    Setiap individu memiliki persepsi, makna, dan standar masing-masing akan kebahagiaan. Jadi, tentu saja kebahagiaan setiap orang tidak dapat diperbandingkan.
    Apa yang membuat Anda bahagia, belum tentu membuat saya bahagia. Dan sebaliknya.
    Karena kebahagiaan itu sendiri sangat subyektif.
    Namun, secara umum kebahagiaan dapat kita capai jika kita menerima apa yang ditawarkan oleh semesta tanpa banyak menghakimi. Bersyukur adalah kata kuncinya. Yaitu merayakan semua pengalaman yang menghampiri diri kita.
    Banyak pakar mengatakan bahwa rumus kebahagiaan = realita – ekspektasi. Artinya apa? Mensyukuri segala hal yang terjadi. Ikhlas alias menerima segala hal yang ditawarkan oleh semesta.
    Rumus ini sepertinya begitu sederhana. Tapi toh dalam praktiknya masih banyak orang yang belum berhasil menerapkannya. Karena mereka masih kalah dengan ego atau hawa nafsunya.
    Kebahagiaan bisa kita wujudkan dengan begitu banyak cara. Berikut adalah sejumlah cara terpopuler yang bisa kita coba terapkan dalam keseharian.
    Pertama,  berbagi. Dalam semua ajaran agama, berbagi senantiasa dianjurkan. Entah dalam bentuk materi, waktu, tenaga, pikiran atau lainnya.
    Kedua, membuat jurnal syukur. Caranya gampang, setiap hari kita menuliskan apa yang dapat kita syukuri. Tidak harus muluk-muluk, namun dapat kita mulai dari yang kecil-kecil.
    Ketiga, berolahraga. Selain membuat fisik kita bugar, berolahraga juga dapat menjaga kebahagiaan kita. Karena dalam prosesnya, tingkat stres dapat menurun.
    Keempat, membantu orang lain. Bantuannya bisa berupa apa saja. Semakin orang lain merasa terbantu, semakin berbahagialah kita.
    Nah, bagaimana dengan Anda hari ini?
    Sudahkah Anda bahagia?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 8 Mei 2023
  • Seni Mengelola Tim Intergenerasi

    Beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan salah satu CEO dari generasi milenial dan Baby Boomers tentang betapa sulitnya mengelola lintas generasi ketika mereka jauh lebih tua atau lebih muda dari tim yang dipimpin.

    CEO dari generasi Baby Boomers  tidak mengerti mengapa bawahan langsungnya menanggapi pesan suaranya dengan email alih-alih meneleponnya kembali, sedangkan CEO dari generasi milenial tidak mengerti preferensinya untuk panggilan telepon ketika informasi yang sama dapat dikomunikasikan melalui teks.

    Pelajaran yang dapat dipetik oleh semua generasi di sini adalah mempelajari cara berkolaborasi dengan dan menghargai preferensi, kebiasaan, dan perilaku unik rekan kerja yang tumbuh di masa yang berbeda dengan kita.

    Ketika kita pada dasarnya tidak dapat berhubungan dengan seseorang karena kesenjangan generasi, kita sering menggunakan stereotip berbahaya dan menyalahkan masalah yang dapat dipecahkan satu sama lain alih-alih bekerja untuk memahami — dan menghargai — perbedaan yang menjauhkan kita. Akibatnya, kinerja dan produktivitas kerja kita terkena dampak negatif.

    Untuk mendapatkan panduan tentang bagaimana kita dapat melewati ini dan menyadari banyak manfaat dari pekerjaan lintas generasi, saya langsung teringat dengan gagasan Profesor Megan Gerhardt, direktur pengembangan kepemimpinan di Farmer School of Business Universitas Miami dan penulis Gentelligence.

    Pertama, stereotip berbahaya.
    Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, ada lima generasi dalam angkatan kerja. Rupanya, kita masing-masing menunjukkan sifat dan nilai kepribadian yang unik.

    The Silent Generation (lahir 1925 hingga 1945; setia tapi tradisional)
    Baby boomer (1946 hingga 1964; kolaboratif tetapi enggan berubah)
    Generasi X (1965 hingga 1980; mandiri tapi rentan depresi)
    Milenial (1981 hingga 2000; bersemangat tetapi ingin diakui)
    Generasi Z (2001 hingga 2020; progresif tapi tidak loyal)

    Generalisasi ini, sebagian besar, bermasalah. Sang Profesor mengingatkan kita langkah pertama untuk mengatasi bias usia, dan mengembangkan rasa saling menghormati satu sama lain, adalah menghilangkan prasangka mereka.

    Banyak percakapan generasi dalam berita hari ini mengandalkan stereotip palsu dan headline clickbait, daripada meluangkan waktu untuk memahami perbedaan penting yang merupakan bagian dari identitas generasi kita. Ketika kita menetapkan karakteristik negatif atau menyeluruh untuk setiap kelompok, kita menyiratkan bahwa nilai, keyakinan, dan tujuan mereka pada dasarnya “catat”.

    Ada nilai dalam mendidik diri kita sendiri tentang realitas yang dihadapi generasi berbeda sepanjang karier mereka.

    Pada kenyataannya, apa yang kita hargai sebagai individu sering kali dipengaruhi oleh peristiwa yang sepenuhnya di luar kendali kita, yang ditentukan oleh pengalaman kita di awal kehidupan dan karier kita. Setiap generasi memasuki dunia kerja dalam kondisi tertentu, yang pada akhirnya membantu membentuk gol, preferensi, dan pendorong kesuksesan kita.

    Misalnya, lulusan perguruan tinggi baru-baru ini, yang memulai pekerjaan pertamanya selama pandemi dan terbiasa dengan bekerja jarak jauh, mungkin sangat menghargai pekerjaan yang fleksibel dan lebih suka berkomunikasi secara digital. Di sisi lain, seseorang yang memasuki dunia kerja pada tahun 2008, selama Resesi Hebat, mungkin menghargai keamanan dan rutinitas pekerjaan, dan lebih suka bekerja kantoran “9-5” rutin yang dapat diprediksi, lima hari seminggu.

    Masalahnya adalah stereotip usia melangkah terlalu jauh dengan asumsi bahwa setiap orang bereaksi terhadap tonggak sejarah generasi mereka dengan cara yang sama. Itu adalah asumsi, seringkali salah, dan dapat membuat karyawan merasa terkucil dan dihakimi bahkan sebelum mereka masuk ke kantor. Ini, pada gilirannya, mempengaruhi kinerja. Sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan oleh NIH menemukan bahwa, “karyawan yang terancam oleh stereotip berbasis usia terkait  kerja kurang mampu berkomitmen pada pekerjaan mereka saat ini, kurang berorientasi pada gol profesional jangka panjang, dan pada akhirnya kurang menyesuaikan diri secara psikologis.”

    Ketika Profesor Gerhardt mengatakan bahwa kita harus menghindari membuat asumsi tentang orang hanya berdasarkan usia mereka, ada nilai dalam mendidik diri kita sendiri tentang realitas yang dihadapi generasi berbeda sepanjang karier mereka. Memahami nuansa ini sangat penting untuk menerima satu sama lain.

    Kedua, preferensi berkomunikasi secara terbuka.
    Sama seperti kita tidak mengharapkan tindakan kita dipahami secara akurat atau disetujui secara universal ketika kita melakukan perjalanan ke tempat lain, kita seharusnya tidak mengharapkan alasan kita mendekati pekerjaan kita dengan cara tertentu menjadi jelas bagi orang-orang yang telah tumbuh dan memulai kehidupan profesional mereka pada titik waktu yang berbeda.

    Sebaliknya, kita harus berbicara secara terbuka satu sama lain tentang preferensi kita, terutama dalam hal metode komunikasi. Manajer dari berbagai generasi dapat memberi contoh dengan membantu anggota tim mereka menemukan cara untuk berkomunikasi dengan jelas satu sama lain. Jika kita memiliki bawahan langsung yang lebih tua dan lebih muda dari kita, tanyakan kepada karyawan kita interaksi seperti apa yang paling nyaman bagi mereka.

    Belajar dari dua CEO beda generasi di atas: CEO dari generasi Baby Boomers memiliki pengalaman kerja puluhan tahun dan memahami bahwa berbicara dengan pelanggan dan kolega melalui telepon dan bertemu dengan mereka secara langsung adalah penting saat membangun hubungan yang menarik dan tahan lama. Namun, CEO dari generasi milenial menghabiskan tahun-tahun formatifnya berkomunikasi melalui pesan teks dan email. Nampaknya formatnya lebih cepat dan efisien (mirip dengan 65% Generasi Z).

    Sama seperti tidak ada gaya kerja yang benar atau salah, tidak ada metode komunikasi yang benar atau salah. Tunjukkan bawahan langsung kita bahwa kita bersedia keluar dari zona nyaman. Kompromi adalah kunci untuk menemukan jalan tengah yang tidak menghakimi, jadi cobalah menganggap perbedaan kita sebagai kesempatan belajar.

    Misalnya, kita dapat beralih di antara metode komunikasi bergantung pada tujuan percakapan. Bertukar email untuk pendekatan yang lebih cepat dan lebih efisien, tetapi bertemu langsung saat percakapan membutuhkan keintiman tambahan dan pembangunan hubungan.

    Ketiga, hormat pada batasan.
    Representasi yang lebih luas dari kelompok usia di tempat kerja telah memperkenalkan keyakinan dan nilai baru ke dalam kantor. Topik tabu di masa lalu, seperti keragaman dan inklusi, kesehatan mental, dan peran gender, menjadi banyak dibahas dalam lingkungan profesional.

    Sama seperti ras, etnis, jenis kelamin, orientasi seksual, agama, disabilitas, kelas, kepribadian, dan latar belakang pendidikan seseorang akan memengaruhi seberapa nyaman mereka membicarakan topik-topik ini di tempat kerja, begitu pula usia dan asuhan mereka.

    Proresor Gerhardt menjelaskan bahwa penelitian telah menunjukkan generasi muda cenderung lebih progresif mengenai masalah sosial, serta lebih nyaman membicarakan topik yang sebelumnya dianggap tabu di tempat kerja. Ia menekankan bahwa Kesediaan karyawan yang lebih muda untuk menerima dan menormalkan diskusi tentang topik-topik penting ini menghasilkan penurunan stigma yang secara tradisional melingkupi pembicaraan tentang mereka di tempat kerja.

    Penting juga untuk diingat bahwa perasaan karyawan kita tentang topik ini akan bervariasi.

    Tidak perlu setiap orang setuju, tetapi penting bagi mereka untuk memahami mengapa organisasi memberi nilai tinggi pada masalah yang sedang dibahas.

    Prestasi paling menantang yang mungkin kita hadapi sebagai manajer dari karyawan yang lebih tua dan lebih muda akan melibatkan penghormatan terhadap berbagai batasan dari masing-masing anggota tim kita sambil menjunjung tinggi nilai, batasan, dan aturan dasar kita sendiri.

    Untuk menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa bersedia untuk meminta bantuan, membagikan ide terbaik mereka, dan mengambil risiko, kita perlu memprioritaskan keamanan psikologis. Orang-orang datang berinteraksi dengan pengalaman berbeda dan berbagai tingkat keinginan untuk terlibat. Peran manajer adalah untuk memberikan kesempatan berkelanjutan untuk melakukan diskusi ini — bukan untuk memaksa orang ke sudut pandang tertentu.

    Saat menavigasi topik yang menantang semacam itu, akan sangat membantu bagi manajer untuk mendasari percakapan dalam diskusi tentang bagaimana masalah tersebut relevan dengan nilai-nilai organisasi dan misi keseluruhan.

    Misalnya, dalam hal keragaman dan inklusi, ada perspektif hukum, moral, dan strategis yang penting untuk dipertimbangkan. Tidak perlu bagi setiap orang dalam organisasi untuk menyetujui atau berbagi prioritas yang sama, tetapi penting bagi mereka untuk memahami mengapa organisasi memberi nilai tinggi pada masalah yang sedang dibahas.

    Kita juga perlu memfasilitasi diskusi tentang norma-norma bersama yang paling sesuai untuk tim kita – daripada mengabaikan cara yang selalu dilakukan atau mendukung preferensi satu kelompok usia di atas yang lain. Kita pun bisa mencoba menciptakan perubahan di tingkat organisasi dengan berbicara kepada Manajemen tentang mengembangkan inisiatif yang mendorong generasi yang lebih tua dan lebih muda untuk terhubung dan berbagi keahlian mereka, seperti program mentoring bersama.

    Keempat, tidak tebang pilih atau “pilih kasih”.
    Untuk menciptakan budaya di mana orang dari segala usia dapat belajar dari satu sama lain, para manajer menciptakan proses pengambilan keputusan yang inklusif yang mendorong dialog terbuka.

    Selama rapat, lakukan upaya ekstra untuk memastikan setiap suara didengar dan dipertimbangkan. Meskipun ini biasanya merupakan praktik yang baik, tim multi-generasi terkemuka tersebut mungkin menghadapi tantangan unik. Misalnya, satu penelitian terhadap lebih dari 6.000 milenial mengungkapkan bahwa 50% peserta mempertanyakan kemampuan mereka untuk sukses di tempat kerja, membuat mereka dua kali lebih khawatir tentang keahlian mereka daripada generasi yang lebih tua.

    Menurut pengalaman saya sebagai milenial, ketakutan ini dapat menimbulkan keinginan untuk membuktikan diri, terutama dalam pengaturan kelompok. Saya dan teman-teman saya sering membagikan pendapat dan perspektif kita tanpa harus diminta. Saya juga melihat keinginan kita untuk didengar disalahtafsirkan sebagai kesombongan oleh pekerja dan manajer yang lebih berpengalaman. Anggota generasi yang lebih tua terkadang cepat mengabaikan kita, dengan alasan kurangnya keahlian kita.

    Alih-alih mengabadikan dinamika “kita versus mereka” di tempat kerja, mari kita ubah narasinya ke depan.

    Jika kita melihat pola-pola ini terungkap dalam pertemuan kita sendiri, atau kita melihat diri kita melakukan bias ini, ubahlah pendekatannya. Ketika kita menjadi frustrasi dengan karyawan kita yang lebih muda karena blak-blakan, nikmati saja prosesnya. Alih-alih menutupnya, beri mereka ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka dengan hormat dengan mengajukan pertanyaan dan mendorong mereka untuk menimbang.
    Demikian pula, jika karyawan yang lebih tua dengan cepat memberhentikan anggota tim yang lebih muda, atasi dengan menyarankan anggota tim yang lebih muda untuk angkat bicara.

    Tindak lanjuti anggota tim yang lebih tua secara personal dan ingatkan mereka bahwa meskipun seseorang memiliki sedikit pengalaman, wawasan mereka diterima dan berharga. Nasihat ini berlaku dua arah. Jika kita melihat anggota tim yang lebih muda membuat asumsi tentang kolega mereka yang lebih berpengalaman, minta mereka untuk mengubah perilakunya. Ingatkan tim kita bahwa keragaman pemikiran membantu meningkatkan skala wawasan baru dan memungkinkan organisasi membuat keputusan yang lebih baik dan menyelesaikan tugas dengan lebih sukses.

    Ketika kita beralih dari pola pikir bahwa interaksi generasi adalah proposisi “menang-kalah”, muncul kemungkinan bahwa kolaborasi antargenerasi dapat menghasilkan pembelajaran dan kesuksesan yang lebih besar. Karena setiap generasi memiliki sesuatu untuk diajarkan dan sesuatu untuk dipelajari. Kita semua memiliki pengalaman dan pengetahuan untuk dibagikan.

    Ada cara untuk menjembatani kesenjangan generasi. Itu dimulai dengan komunikasi, kerendahan hati, dan rasa ingin tahu yang lebih dalam tentang kekuatan dan keterbatasan anggota tim dan diri kita sendiri. Itu dimulai dengan penerimaan bahwa kita pada dasarnya adalah orang yang berbeda dengan wawasan yang sama berharganya untuk ditawarkan.

  • Seni “Bersaing” dengan Diri Sendiri

    Sangat mudah bagi kita untuk membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Apalagi, kini kita hidup di abad digital yang memungkinkan kita dapat saling “memantau” kemajuan orang lain melalui akun media sosial.
    Padahal, hidup bukanlah tentang berkompetisi atau mengalahkan orang lain.
    Ya, kita cukup membandingkan diri sendiri kita hari ini dengan kemarin. Apakah ada kemajuan? Apakah ada perubahan yang lebih baik?
    Pasalnya, gol setiap orang bersifat unik, membanding-bandingkan pencapaian kita justru tidak membuat kita lebih baik. Melainkan membuat kita makin terpuruk.
    Agar bisa memiliki kesehatan mental sekaligus mencapai kebahagiaan sejati, kita hanya perlu bercermin dan belajar bagaimana bersaing dengan diri sendiri.
    Berikut adalah sejumlah manfaat untuk “bersaing” dengan diri sendiri sebagai upaya kita mengejar apa yang disebut dengan kesuksesan — dan lebih penting lagi menggapi kebahagiaan sejati.
    Pertama, menghargai kemajuan diri sendiri. Menghargai pencapaian seseorang atau kesuksesan yang mereka miliki sering kali diselimuti rasa iri atau malah membuatkan diri kita “down”. Saat kita (merasa) bersaing dengan orang lain, kita akan berhenti menghargai kemajuan mereka, dan akan sulit bagi kita untuk mengenali dan menghargai upaya mereka.

    Persaingan yang sehat itu baik ketika kita belajar dari orang lain, tetapi ketika kita terlalu berfokus pada persaingan, kita akan mulai membandingkan diri kita dengan orang lain dan berhenti memandang upaya mereka sebagai keuntungan bagi mereka dalam mencapai nilai-nilai mereka. Seseorang yang tetap setia pada diri mereka sendiri dan berjuang untuk apa yang mereka yakini patut dirayakan.

    Kedua, menjaga hubungan baik. Ketika kita terlalu sibuk dengan gagasan untuk mengalahkan orang lain, sulit untuk membangun hubungan yang berkualitas dengan mereka. Jika kita akhirnya bisa bekerja sama dengan orang-orang dan fokus belajar satu sama lain, kita bisa berbagi pengetahuan dan berkembang.

    Alih-alih fokus untuk berkompetisi, lebih baik kita fokus untuk bisa berkolaborasi.

    Ketiga, menikmati proses. Kita mungkin adalah masyarakat yang sangat berorientasi pada hasil akhir. Orang suka berbicara tentang pencapaian mereka dan pencapaian yang mereka dapatkan. Apa yang benar-benar layak untuk dirangkul di sepanjang jalan adalah pelatihan dan pengetahuan yang kita kumpulkan saat kita mencapai suatu tujuan.

    Memfokuskan kembali pikiran kita untuk merangkul kekuatan dan pengetahuan yang telah kita bangun lebih penting daripada melihat hasil akhir.

    Contoh yang bagus untuk hal ini mungkin seseorang di tim sepak bola. Kita selalu mengharapkan seseorang untuk menggambarkan pencapaian mereka di tim sepak bola sebagai trofi dan kejuaraan yang telah mereka menangkan. Namun, seseorang yang telah bermain sepak bola selama bertahun-tahun dan tidak pernah memenangkan kejuaraan juga memiliki hak untuk berbicara tentang pengalaman yang mereka miliki, bagaimana mereka belajar tentang kerja tim, bagaimana mereka menjadi lebih kuat, dan bagaimana mereka membuat beberapa permainan hebat selama menggunakan keterampilan mereka.

    Keempat, fokus pada kekuatan diri sendiri. Ketika kita menghabiskan waktu untuk bersaing dengan diri kita sendiri daripada terus-menerus mengejar persaingan, kita dapat mempelajari keterampilan apa yang benar-benar berharga bagi kita dan apa yang kita kuasai. Mempelajari keterampilan baru memang penting, tetapi ketika kita terus-menerus bersaing dengan orang lain yang mungkin sudah memiliki keahlian dalam keterampilan itu, kita akan merasa frustrasi.

    Kita harus meningkatkan bidang yang kita kuasai dan fokus pada keterampilan baru yang dapat kita bangun tanpa menjadi frustrasi dalam mencapai tingkat ahli itu. Kita bisa saja berkompetisi dalam “keterampilan yang salah” hanya karena keterampilan itu berharga bagi orang lain. Asah keterampilan yang ingin kita tingkatkan sendiri.

    Kelima, meningkatkan rasa syukur. Akan selalu ada seseorang yang lebih baik dari kita. Saat kita menerima kenyataan bahwa akan selalu ada seseorang yang lebih baik dari kita, kita dapat berusaha untuk merasa lebih baik tentang peningkatan yang kita buat dari waktu ke waktu.

    Intinya, kita perlu menyadari bahwa setiap orang memperjuangkan apa yang menurutnya paling penting atau membahagiakan. Dan tentunya gol, target atau apa yang kita kejar dengan orang lain tidak pernah sama.
    Untuk menjaga hidup agar terus waras di abad ini, kita perlu meningkatkan kesadaran diri. Bahwa layaknya tata surya, setiap orang memiliki “orbit” masing-masing. Setiap individu memiliki “waktu suksesnya” sendiri-sendiri.
    Pada akhirnya, saya jadi teringat petuah dari Rando Kim yang merupakan penulis buku laris sekaligus profesor di Korea Selatan, bahwa:
    “Setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba; forsythia, kamelia, dan bunga-bunga lain. Bebungaan itu tahu kapan mereka akan mekar; tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain. Apakah kamu merasa tertinggal dari teman-temanmu? Apakah kamu merasa telah menyia-nyiakan waktu sementara teman-temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kamu berpikir demikian, ingatlah bahwa kamu memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga dengan teman-temanmu. Musimmu belum datang. Namun, ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar sebelum dirimu. Jadi, angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu. Ingat, kamu begitu menakjubkan!”
  • Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

    Bagi saudara-saudara kita umat Islam, Ramadhan senantiasa ditunggu-tunggu. Masjid maupun surau lebih ramai dari biasanya. Tradisi berbagai takjil, sahur on the road hingga buka bersama-sama bergema di mana-mana. Pedagang musiman kebanjiran rezeki.
    Bagi sebagian umat, puasa tidak lebih dari sekadar menjalankan kewajiban. Bagi sebagian lainnya, ibadah di bulan suci ini dimanfaatkan untuk memaksimalkan diet. Yang lainnya memaksimalkan untuk mendekatkan diri kepada Ilahi. Apapun niatnya, puasa memiliki segudang manfaat.
    Puasa tidak sekadar ritual ibadah tahunan masyarakat Islam. Namun temuan riset dari berbagai pendekatan sains menemukan fakta-fakta yang mengejutkan juga yang mungkin tidak pernah kita sadari.
    Berikut sejumlah manfaat puasa dilihat dari berbagai sudut padang.
    Pertama, mengendalikan keinginan. Puasa, pada dasarnya, adalah membantu kita mengendalikan keinginan atau hawa nafsu. Tidak sekadar menunda waktu untuk makan, minum, berhubungan badan bagi pasutri, atau yang lainnya.
    Kecanduan yang merusak dan perilaku sabotase lainnya itu begitu merusak. Dan semuanya perlahan tapi pasti menghancurkan hidup kita.
    Setiap keputusan yang kita buat adalah penting. Jika kita membenarkan keputusan yang buruk dari waktu ke waktu, kita bisa terhalang untuk membuat kebiasaan berkualitas. Lebih tepatnya, perilaku buruk yang konsisten sebenarnya adalah cerminan dari kebiasaan buruk.
    Dan kebiasaan buruk adalah jalur cepat menuju kehidupan yang buruk — yang akarnya adalah kurangnya pengendalian diri.

    Jika kita bahkan tidak dapat mengendalikan diri sendiri, apa yang dapat kita kendalikan?

    Tetapi saat kita berpuasa, kita secara sadar memilih untuk tidak makan — bahkan jika kita merasa lapar — untuk sesuatu yang lain. Dan tidak ada yang lebih mendasar untuk bertahan hidup selain makanan. Akibatnya, ketika kita belajar mengendalikan makan kita sendiri, kita mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan kecanduan yang kurang mendasar dan seringkali merusak.

    Puasa sejauh ini (mungkin) merupakan latihan kemauan paling canggih yang tersedia. Jika kita “bijak” berpuasa, kita bisa belajar mengendalikan setiap aspek lain dalam hidup . Jika dapat mengatasi kecanduan apa pun, tidak peduli seberapa dalam tertanam. Secara medis, puasa telah terbukti dengan cepat menghilangkan keinginan akan nikotin, alkohol, kafein, dan obat-obatan lainnya.

    Kedua, mendongkrak kepercayaan diri. Secara neurokimia, puasa meningkatkan kadar katekolamin — seperti dopamin — yang meningkatkan kebahagiaan dan kepercayaan diri sekaligus mengurangi kecemasan.
    Tapi ini lebih sederhana dari itu. Tanpa pengendalian diri, kita tidak dapat memiliki kepercayaan diri. Memang, kepercayaan diri mencerminkan pandangan kita tentang kemampuan kita sendiri. Dan jika kita terus-menerus melakukan sabotase diri, alih-alih percaya diri, kita akan mengalami konflik internal.

    Konflik internal merusak kemauan kita. Ini melelahkan dan membuat kita terus-menerus bersikap defensif  —  baik terhadap orang lain maupun diri Anda sendiri.

    Tetapi ketika kita melihat diri kita bertindak dengan cara yang kita inginkan, kepercayaan diri kita meningkat.  Kita mengembangkan kepercayaan yang lebih besar pada kemampuan kita sendiri, dan ini mendorong kita untuk mengambil tujuan, risiko, dan tantangan yang lebih besar di masa depan. Akhirnya, kita mengembangkan self-efficacy yang memungkinkan kita mengendalikan takdir dan masa depan kita.

    Ketiga, menyehatkan fungsi otak.  Puasa sebenarnya meningkatkan jumlah sel otak kita. Berikut adalah daftar singkat dari beberapa manfaat kognitif puasa yang didukung secara ilmiah:
    · Puasa jangka pendek menginduksi autophagy neuronal yang mendalam (misalnya, “makan sendiri,”), yang merupakan cara sel mendaur ulang bahan limbah, menurunkan proses pemborosan, dan memperbaiki diri. Kesehatan otak bergantung pada autofagi saraf. Studi lain menunjukkan bahwa gangguan autofagi saraf memicu degenerasi saraf. Sederhananya, tanpa proses autofagi, otak tidak berkembang dengan baik dan tidak berfungsi secara optimal.

    · Puasa meningkatkan kadar faktor neurotropik yang diturunkan dari otak (brain-derived neurotrophic factor atau BDNF), protein yang berinteraksi dengan neuron di hippocampus, korteks, dan otak depan basal (bagian otak yang mengatur memori, pembelajaran, dan fungsi kognitif yang lebih tinggi) . BDNF membantu neuron yang ada bertahan hidup sambil merangsang pertumbuhan neuron baru dan pengembangan konektivitas neuro-sinaptik. Tingkat BDNF yang rendah terkait dengan Alzheimer, kehilangan ingatan, dan gangguan kognitif.

    · Temuan riset menunjukkan bahwa BDNF rendah berhubungan dengan depresi. Memang, antidepresan meningkatkan kadar BDNF. Dengan demikian, banyak dokter percaya puasa dapat mengurangi depresi.

    · Puasa mengurangi kemungkinan terkena stroke.

    · Puasa mengurangi stres oksidatif, disfungsi mitokondria, dan penurunan kognitif yang biasanya diakibatkan oleh trauma otak. Penelitian telah menemukan bahwa puasa 24 jam (tetapi bukan 48 jam) melindungi saraf terhadap trauma pada otak seperti gegar otak.

    · Puasa mengurangi stressor kognitif yang menyebabkan penuaan, penurunan kognitif, dan penyakit kronis.

    · Puasa mengurangi risiko kanker.

    · Puasa meningkatkan harapan hidup.

    · Puasa meningkatkan pembelajaran dan memori.

    · Puasa meningkatkan kemampuan kita untuk fokus dan berkonsentrasi.

    Jika kita pernah berpuasa sebelumnya, kita dapat membuktikan manfaat mental radikal dari puasa. Jika belum, silakan mulai menjalankan ibadah puasa secara rutin. Selama beberapa waktu, kita akan dikejutkan oleh hasil kognitif.

    Keempat, membantu menemukan tujuan hidup. Dengan peningkatan kejernihan dan fungsi kognitif yang dibawa oleh puasa, lebih mudah untuk menganalisis kebiasaan buruk kita dan membuat keputusan penting tentang arah hidup kita.
    Saat kita melepaskan diri dari kebisingan kecanduan  — bahkan kecanduan makanan untuk sementara waktu — kita dapat terdorong untuk menemukan kebenaran hakiki.

    Saat berpuasa, kita akan segera menyadari ketidaksesuaian dalam hidup kita. Kebiasaan buruk kita, kurangnya organisasi dan niat, dan jalan yang salah arah diletakkan di bawah mikroskop kognitif dan spiritual.

    Dengan peningkatan perspektif dan kemauan, kita dapat menggunakan puasa sebagai sarana untuk “melepaskan” kecanduan, perilaku, hubungan, masa lalu — apa pun yang kita inginkan — memulai kembali, dan bergerak maju. Secara fisik, kognitif, emosional, dan spiritual, puasa secara harfiah adalah pengaturan ulang. Ini memungkinkan tubuh kita untuk mengejar fungsi pencernaan yang dibutuhkan yang biasanya tertunda karena makan terus-menerus. Tetapi itu juga membantu kita mengatur ulang dengan cara lain.

    Puasa dapat menjadi pemicu kita untuk menjaga perspektif yang benar tentang apa yang paling penting dalam hidup kita, dan itu membantu memastikan kita tetap berada di jalur yang kita inginkan.

    Kelima, menjaga kesehatan. Sebagai masyarakat, otak kita telah salah dilatih tentang sifat sebenarnya dari rasa lapar, secara kimiawi menipu kita agar merasa lapar setiap 2–4 jam. Tapi ini sebenarnya menggelikan. Secara alami, tubuh kita tidak akan merasa lapar selama 12-24 jam setelah makan.
    Penelitian telah menunjukkan bahwa orang gemuk tidak menerima sinyal yang benar untuk memberi tahu mereka bahwa mereka kenyang karena pola makan yang berlebihan. Zat kimia saraf dan hormon mereka rusak karena pola makan yang tidak benar.

    Saat kita berpuasa, tubuh kita mengatur pelepasan hormon yang benar, sehingga kita bisa merasakan rasa lapar yang sesungguhnya. Selanjutnya, dengan aliran hormon yang tepat, kita akan lebih cepat kenyang.

    Manfaat kesehatan puasa lainnya yang didukung secara ilmiah termasuk:
    · Puasa dapat membalikkan gangguan “pesta makan”, dan membantu mereka yang merasa sulit untuk menetapkan pola makan yang benar karena pekerjaan dan prioritas lainnya.
    · Puasa dapat membersihkan kulit kita dari jerawat, memungkinkan kitaa untuk memiliki “aura” yang sehat.
    · Puasa “memulai kembali” sistem kekebalan tubuh kita dari kerusakan akibat radikal bebas, mengatur kondisi peradangan dalam tubuh dan membunuh pembentukan sel kanker.
    · Puasa menjaga tingkat tekanan darah.
    · Puasa menjaga kadar kolesterol.
    · Diabetes tipe 2 telah menjadi hal biasa dalam budaya kita yang tidak sehat. Puasa telah terbukti sangat mendukung resistensi insulin dan menyebabkan penurunan kadar gula darah yang mengesankan.
    · Demikian pula, tingkat darah insulin turun secara signifikan, yang memfasilitasi pembakaran lemak.
    · Tingkat darah hormon pertumbuhan dapat meningkat sebanyak 5X. Tingkat hormon pertumbuhan yang lebih tinggi membantu pembakaran lemak dan pembentukan otot, dan memiliki banyak manfaat lainnya.

    Fungsi tubuh kita tidak hanya akan meningkat saat kita berpuasa, tetapi pengambilan keputusan kita mengenai kesehatan dan kebugaran kita akan meningkat.

    Keenam, menguatkan keterampilan motorik dan ketelitian. Penelitian telah menemukan bahwa penurunan kemampuan kognitif dan motorik yang berkaitan dengan usia (seperti keseimbangan fisik) dapat dikurangi dengan puasa.
    Ketujuh, memperbaiki kualitas tidur. Jika kita sering bepergian atau memiliki siklus tidur yang kurang baik, penelitian menemukan bahwa puasa dapat mengatur ulang siklus tidur kita. Penelitian lain menemukan bahwa puasa dapat meningkatkan kualitas tidur kita secara keseluruhan.
    Kedelapan, meningkatkan produktivitas. Salah satu penulis best-seller keturunan India Robin Sharma pernah mengatakan, “Jika Anda ingin menyelesaikan lebih banyak dalam hidup, makanlah lebih sedikit.”
    Manusia bersifat holistik. Saat tubuh kita terlalu kenyang, terutama pada makanan olahan, tingkat energi kita rendah dan pikiran kita menjadi “tumpul”. Sebaliknya, penelitian di Yale menemukan bahwa perut kosong membantu kita berpikir dan fokus lebih baik.

    Dalam keadaan berpuasa, pikiran kita bisa menyempit pada pekerjaan kita. Pasalnya amplifikasi kognitif dan sensual dari puasa memaksa kita untuk fokus. Dengan kata lain, puasa membantu kita hidup menjadi lebih produktif.

    Kesembilan, membuat emosi stabil.  Puasa menstabilkan emosi kita. Ini terjadi dengan melepaskan diri dari ketergantungan emosional pada makanan, selain menghilangkan makanan yang merangsang secara berlebihan seperti kafein, gula olahan, atau asam lemak trans — yang semuanya berdampak negatif pada emosi kita.
    Puasa juga dapat mengatur ulang pola emosi negatif. Kita semua terkurung dalam siklus emosional yang aneh, dan puasa dapat membebaskan kita darinya — memungkinkan kita mengalami dunia dengan cara yang lebih sehat. Penting juga untuk dicatat bahwa emosi kita sangat dipengaruhi oleh lingkungan kita  —  dan puasa memungkinkan kita untuk melihat ketidaksesuaian hidup kita dengan lebih jelas  —  sehingga menantang kita untuk membentuk kembali lingkungan kita.
    Kesepuluh, membantu tubuh “berenergi”. Puasa memberi kita perasaan “ringan” fisik, yang memberikan dorongan energi. Alasan lain lonjakan energi ini adalah karena, dalam pola makan normal, tubuh kita umumnya mengubah makanan melalui karbohidrat dan gula. Tapi puasa melatih tubuh kita untuk mengubah energi dari lemak, sehingga meningkatkan tingkat energi alami kita.
    Kesebelas, membantu diet.  Puasa memfasilitasi penurunan berat badan 3–8 persen dari total massa tubuh hanya dalam beberapa minggu. Selama jangka waktu yang sama, kita bisa kehilangan 4–7 persen lingkar pinggang kita.
    Puasa menurunkan kadar insulin, sekaligus meningkatkan kadar hormon pertumbuhan dan peningkatan jumlah norepinefrin (noradrenalin) — koktail hormonal yang memecah lemak tubuh dan memungkinkan penggunaannya untuk energi.

    Akibatnya, puasa sebenarnya meningkatkan laju metabolisme kita sebesar 4–14 persen, membantu kita membakar lebih banyak kalori.

    Kedua belas, meningkatkan kesadaran diri. Puasa membuat tingkat kesadaran diri kita membaik. Pengalaman saya dengan puasa bersifat fisik, emosional, kognitif, dan spiritual. Dan saya memanfaatkan puasa untuk semua nilainya.
    Jika kita sedang mencari terobosan mental dan spiritual  — atau sekadar peningkatan aliran kecerdasan — puasa teratur akan membantu kita dalam hal ini.
    Ketiga belas, memperbaiki penampilan. Puasa membersihkan kulit dan memutihkan mata. Adalah umum untuk melihat jerawat bersih saat berpuasa; dan bagian putih mata tidak pernah terlihat sejernih dan seterang setelah berpuasa.
    Alasannya adalah pelepasan hormon pertumbuhan manusia, yang diketahui dapat membuat kulit kita terlihat lebih muda dan lebih cerah.Tapi itu bahkan lebih sederhana dari itu. Saat kita menjalani kehidupan yang mengendalikan diri, kesehatan dan kepercayaan diri kita bersinar.
    Keempat belas, membantu proses pembelajaran.  Penelitian menegaskan bahwa berpuasa meningkatkan fokus, memori, dan kemampuan untuk memahami informasi. Sederhananya, puasa meningkatkan efisiensi dan efektivitas otak. Sehingga hal itu bisa membuat proses pembelajaran kita menjadi efektif.
    Di luar rasa, puasa juga meningkatkan ketajaman semua indera kita, termasuk pendengaran dan penciuman, dan terkadang bahkan penglihatan.
    Sebenarnya, itu bisa menjadi pengalaman yang mengejutkan ketika fungsi otak kita meningkat secara radikal selama puasa. Keterampilan mendengarkan kita meningkat, dan kita fokus pada setiap kata yang diucapkan orang lain. Pemikiran kita diasah dan kemampuan kita untuk merespons dengan cepat dan akurat begitu kuat.

    Secara keseluruhan, puasa menjadikan diri kita jauh lebih baik dalam segala aspek. Selamat menjalan ibadah puasa Ramadhan 1444 H bagi yang menjalankan.
  • Jurus “Merangkul” Gen Z di Tempat Kerja

    Belum lama ini saya mendapatkan “curhatan” teman kuliah yang notabene merupakan seorang Kepala Departemen di sebuah BUMN. Ia mengeluhkan beberapa “kelakukan” anggota timnya yang membuatnya stres bukan kepalang.
    Arya (bukan nama sebenarnya), mengaku sering diperlakukan bak “teman nongkrong” oleh bawahannya sendiri. Rupanya memang ada salah satu anggota bawahannya yang sering memanggilnya ketika meminta tolong — bukan ia didatangi. Sebagian yang lainnya secara terang-terangan mengajak berdebat terbuka ketika argumennya dianggap tidak masuk akal. Tak sedikit yang tiba-tiba mengundurkan diri karena merasa tidak mendapatkan umpan balik.
    Setelah berdiskusi panjang lebar, ternyata semua anggota tim yang dianggap “meresahkan” tersebut adalah para Fresh Graduate yang datang dari Generasi Z. Generasi yang tentu berbeda dengan dirinya yang notabene merupakan Gen Y alias milenial.
    Siapa Gen Z?
    Selama bertahun-tahun, para pemimpin di berbagai sektor fokus untuk lebih memahami generasi milenial. Khususnya sejak makin populernya artikel karangan Joel Stein di majalah Time yang berjudul “The Me Me Me Generation”.
    Namun, belakangan Generasi Z sudah mulai “membanjiri” angkatan kerja. Lahir antara sekitar tahun 1997 dan 2012, anggota tertua Gen Z mulai atau sudah merintis karier mereka. Ini berarti dinamika tempat kerja akan mulai bergeser saat Generasi X dan bahkan Gen Y menjadi manajemen dan Generasi Baby Boomers mulai pensiun.
    Faktanya menurut Hasil Sensus Penduduk Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sebanyak 27,94% populasi Indonesia adalah Gen Z. Jumlah mereka sudah mengalahkan milenial  (25,87%) yang sebelumnya digadang-gadang menjadi lokomotif kemajuan tanah air. Melihat komposisi Gen Y dan Gen Z, kita semua tentu setuju bahwa keduanya  memegang peranan penting pada kemajuan bangsa saat ini dan tahun-tahun mendatang.
    Seberapa baik pemahaman kita mengenai Gen Z?
    Menurut berbagai pakar, Gen Z dianggap anti-identitas. Sebagai kelompok, mereka menghindari label dan merangkul otonomi maupun ekspresi individu. Mereka lebih cenderung liberal secara sosial dan politik dan cenderung tidak mengatakan bahwa jenis kelamin, orientasi seksual, atau ras mereka adalah komponen kunci dari identitas mereka.
    Secara umum Gen Z memang disebut-sebut memiliki harapan maupun perspektif pekerjaan yang berbeda dan dinilai begitu menantang bagi organisasi mana pun. Mereka mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memudahkan berbagai sendi kehidupan. Terhubung di internet bagi mereka seolah-olah sama pentingnya dengan bernafas karena mereka lahir di abad digital.
    Berdasarkan temuan riset Bruce Tulgan selama satu dekade, ada lima karakteristik utama Gen Z yang menjadi pembeda dengan generasi sebelumnya.
    Pertama, media sosial ialah cerminan masa depan mereka. Generasi ini tidak pernah mengenal dunia yang benar-benar terasing dari keberadaan orang lain. Media sosial menjadi jembatan atas keterasingan, karena semua orang dapat terhubung, berkomunikasi, dan berinteraksi.
    Hal itu berkaitan dengan karakteristik kedua, bahwa keterhubungan Gen Z dengan orang lain adalah hal yang terpenting. K
    Ketiga, kesenjangan keterampilan dimungkinkan terjadi dalam Gen Z. Ini yang menyebabkan upaya mentransfer keterampilan dari generasi sebelumnya seperti komunikasi interpersonal, budaya kerja, keterampilan teknis dan berpikir kritis harus intensif dilakukan.
    Keempat, kemudahan Gen Z berselancar secara virtual menyebabkan pengalaman mereka menjelajah secara geografis menjadi terbatas.  Namun, kemudahan mereka terhubung dengan banyak orang dari beragam belahan dunia menyebabkan Gen Z memiliki pola pikir global.
    Terakhir, keterbukaan Gen Z dalam menerima berbagai pandangan dan pola pikir, menyebabkan mereka mudah menerima keragaman dan perbedaan pandangan akan suatu hal. Namun, dampaknya kemudian, mereka cukup kesulitan untuk mendefinisikannya sendiri. Identitas diri yang terbentuk sering kali berganti menyesuaikan berbagai aspek yang mempengaruhi cara mereka berpikir dan bersikap.
    Memimpin Gen Z Secara Efektif
    Menyadari beberapa karakteristik di atas, bagaimana cara bekerja sama atau memimpin mereka secara efektif? Apakah berkolaborasi dengan Gen Z perlu pendekatan khusus? Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk merangkul mereka.
    Pertama, utamakan Work-Life Balance. Sebagai sebuah kelompok, Generasi-Z lebih suka berwirausaha,  cerdas secara teknologi, dan individualistis daripada generasi sebelumnya. Seperti Milenial sebelum mereka,  Gen-Z menghargai keseimbangan kehidupan-kerja dan menjaga kesehatan mental mereka dengan cara yang tidak pernah dipelajari oleh Generasi Baby Boomers.
    Kedua, pimpin dengan contoh. Gen-Z tidak suka diberi tahu apa yang harus dilakukan dan tidak akan patuh begitu saja seperti generasi sebelumnya. Memimpin dengan memberikan keteladanan melalui visi dan umpan balik menjadi lebih penting dari sebelumnya. Tempatkan mereka pada posisi yang mana mereka melihat diri mereka memiliki pengaruh paling besar dan di mana kita tahu bahwa kita dapat memimpin mereka menuju kesuksesan.
    Ketiga, pahami kebutuhan mereka. Generasi-Z adalah generasi pertama yang menuntut apa yang mereka yakini penting di tempat kerja. Ini termasuk menginginkan lebih — termasuk memprioritaskan kesehatan mental, memiliki fleksibilitas dengan jam kerja, mendapatkan lebih banyak waktu liburan dan tidak menetap. Pemimpin harus mulai memahami kebutuhan karyawan Gen-Z dengan melakukan dialog terbuka, meminta umpan balik, dan bereaksi dengan tepat untuk menghindari Turnover yang tinggi.
    Keempat, berikan peluang pertumbuhan. Karyawan Gen-Z umumnya memandang kehidupan kerja mereka sebagai cara untuk belajar, tumbuh dan berkembang dan tidak terikat pada satu peran atau perusahaan. Pemimpin perlu memahami pola pikir ini, kemudian memberikan kesempatan kepada talentanya untuk terus belajar dan tertantang dengan pengalaman baru. Gen-Z juga membawa perspektif baru dan berbeda ke tempat kerja yang dapat dipelajari oleh para pemimpin, sehingga para pemimpin dapat memperoleh manfaat dari “mentoring terbalik”.
    Kelima, manfaatkan keinginan Gen Z untuk berubah. Gen-Z akan terus menantang status quo dan memiliki lebih banyak suara dan dampak di tempat kerja. Para pemimpin harus menyadari bahwa Gen-Z bukanlah “alien” dari planet lain (seperti yang sering digambarkan), melainkan merupakan katalisator kolektif untuk perubahan yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong perubahan strategis. Pemimpin yang gagal memanfaatkan kekuatan Gen-Z menempatkan organisasi mereka pada posisi yang tidak menguntungkan.
    Keenam, fokuslah pada pendekatan personal. Sangat mudah untuk membuat stereotip generasi yang berbeda, tetapi berfokus pada individu dan apa yang memotivasi dan menginspirasi mereka adalah jalan terbaik ke depan. Mengetahui bahwa Gen-Z termotivasi oleh perasaan dihargai, berkontribusi, dan membuat perubahan di tempat yang penting; para pemimpin harus mengikat upaya untuk memberi dampak, memperkuat apresiasi mereka, dan mempertimbangkan investasi dalam pengembangan agar tim terus bergerak maju.
    Ketujuh, legowolah untuk belajar dari mereka. Gen-Z berbeda dalam kenyamanan mereka dengan teknologi. Mereka terlahir dengan itu dan memiliki kemudahan bawaan untuk berinteraksi dengan informasi dan “konektivitas” yang dapat dikembangkan oleh teknologi. Mereka memandang dunia sebagai tempat yang sama-sama dapat diakses, dan mereka membawa ide-ide baru yang besar. Pemimpin perlu memiliki rasa ingin tahu dan keterbukaan untuk belajar dari mereka, sama seperti mereka akan belajar dari pemimpin saat ini.
    Kedelapan, hilangkan budaya kerja Toxic. Gen-Z tidak mentolerir budaya beracun, diskriminasi, ketidaksesuaian antara kata-kata dan tindakan manajemen, atau pekerjaan yang tidak fleksibel agar sesuai dengan kehidupan pribadi mereka. Pemimpin perlu melakukan percakapan dengan semua anggota tim untuk membangun budaya kerja yang aman dan menyelaraskan harapan dan komitmen, dan mereka perlu terbuka untuk membahas budaya kerja. Gen-Z tidak peduli dengan apa yang kita ketahui sampai mereka tahu bahwa kita peduli.
    Kesembilan, ciptakan lingkungan yang mendukung.  Generasi-Z telah menantang norma-norma di tempat kerja tradisional dengan bersikap terbuka dan jujur tentang kebutuhan mereka sendiri. Para pemimpin dapat bersiap untuk mengelola generasi yang dinamis ini dengan mengenal mereka dan memahami kebutuhan mereka, kemudian membina lingkungan yang mendukung agar mereka berkembang dan produktif, sehingga membangun kepercayaan. Jika tidak, mereka akan menciptakan peluang mereka sendiri untuk berkembang dan berkembang.
    Nah, bagaimana dengan pengalaman Anda? Seberapa baik Anda merangkul Gen Z? Siapkah organisasi Anda “terbang lebih tinggi” lagi karena dukungan mereka?
  • Pentingnya Self-Coaching

    Dewasa ini, kebanyakan dari kita memiliki “tekanan” yang begitu besar untuk mencapai apa yang disebut dengan kesuksesan. Entah kita sadari atau tidak, kita mendorong diri sendiri atau bahkan mencoba memenuhi ekspektasi orang lain. Apalagi diperkuat oleh budaya “memamerkan diri” atas nama personal branding pada linimasa media sosial tertentu agar kita diberi label bahagia, sukses, berpengaruh, atau mungkin terkenal di mata audiens.

    Di tengah tekanan hidup yang semakin tinggi, sejatinya semua dari kita membutuhkan “sedikit” bantuan dari orang lain. Salah satunya dari seorang coach profesional jika kita memiliki anggaran untuk membayarnya. Bila kita ingin melakukan coaching secara mandiri, kita semua memiliki kapasitas untuk melakukannya. Pasalnya, tidak ada waktu yang lebih baik daripada sekarang untuk mengembangkan penguasaan diri kita dan menunjukkan kebaikan pada diri kita sendiri.

    Salah satu teman karib saya, Krishna (bukan nama sebenarnya), adalah coach yang hebat bagi orang lain, baik secara informal maupun formal. Dia menyemangati anak-anaknya, memotivasi rekan-rekannya, melatih stafnya, dan mendukung teman-temannya. Tapi dia dengan bebas mengakui bahwa dia membutuhkan bantuan untuk menggunakan keterampilan itu pada dirinya sendiri.

    Saat kita memberi, memberi, memberi kepada orang lain, terlalu mudah untuk melupakan kebutuhan kita sendiri dan teralihkan serta menjauh dari agenda kita sendiri. Self-coaching adalah bentuk dari perawatan diri.

    Kita semua mampu melakukan coaching kepada diri kita sendiri, entah bertujuan untuk melejitkan karier, memiliki kebiasaan yang sehat atau untuk mengembangkan bisnis secara eksponensial. Sayangnya, banyak orang yang belum memahami esensi dari coaching.

    Singkat kata, self-coaching adalah proses membina pertumbuhan dan perkembangan kita, terutama melalui periode transisi, baik di ranah profesional maupun pribadi.

    Self-Coaching mencakup seluruh diri kita dan semua bidang kehidupan kita. Jika semuanya baik-baik saja di satu area, itu bagus, tetapi jika kita tidak puas atau tidak bahagia di area lain, ini harus menjadi fokus kita — terutama karena hal itu dapat memengaruhi aspek lain dalam hidup kita.

    Dari pengetahuan yang saya dapatkan dari International Coaching Federation (ICF) sekaligus pengalaman pribadi, berikut adalah beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk Self-Coaching.

    1. Identifikasi hasil yang kita inginkan
    Ini adalah titik awal kita. Kita perlu memutuskan tujuan akhir kita untuk mengetahui ke mana tujuan kita dan ke mana harus mengarahkan upaya kita.

    Tanyakan pada diri kita pertanyaan seperti, “Apa yang penting bagi saya saat ini?”, “Saya ingin menjadi orang sebaik apa?”, “Apa yang harus saya kejar?”, “Apa yang perlu saya miliki?”, atau “Apa yang perlu saya lakukan agar bahagia?”

    Cobalah untuk lebih spesifik dengan bingkai positif. Misalnya, tujuan seperti “Saya ingin tidak mudah tersinggung” dapat dibuat lebih spesifik dan positif dengan mengatakan, “Saya ingin lebih sabar dengan pasangan dan anak-anak saya setiap hari,” atau “Saya ingin menunjukkan lebih banyak sabar dengan tim saya dalam rapat.”

    2. Kembangkan kesadaran diri
    Lakukan penilaian cepat dan mudah untuk meninjau posisi kita saat ini. Intinya bukan untuk menilai diri sendiri dan membuat diri kita merasa buruk — ini hanya untuk mendapatkan beberapa informasi tentang di mana kita berada dan di mana kita ingin berada.

    Langkah pertama adalah membawa kesadaran pada situasi kita dan menentukan apa yang perlu kita kerjakan. Pertimbangkan posisi kita pada skala 1 sampai 10 di area yang ingin kita tingkatkan. Kita juga dapat membuat jurnal harian seputar topik ini untuk mengeksplorasi lebih jauh apa yang kita alami.

    3. Lakukan brainstorming pilihan
    Timbang kemungkinan yang terbuka untuk kita. Ini adalah kesempatan bagus untuk menjadi kreatif dan bertukar pikiran bagaimana kita dapat mencapai tujuan kita. Pilihan apa yang tersedia untuk kita? Opsi mana yang paling beresonansi saat ini?

    4. Buat rencana
    Bagaimana kita akan menempatkan pilihan kita pada tempatnya? Apa yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan ini atau memperbaiki situasi kita? Tindakan apa yang perlu kita ambil untuk mencapai tujuan kita?

    Misalnya, berdasarkan contoh sebelumnya, sebuah rencana mungkin terlihat seperti “Pada jam 7 malam, saya akan mematikan gadget saya dan tersedia untuk anak-anak dan pasangan saya,” atau “Dalam pertemuan hari Senin, saya akan mendengarkan masukan setiap anggota tim, sebelum saya berbicara.”

    5. Ambil tindakan
    Ambil langkah pertama — dan lanjutkan. Tetaplah pada rencana kita. Apakah kita melakukan apa yang kita katakan ketika kita mengatakan akan melakukannya?

    6. Ukur dan rayakan
    Tentukan bagaimana kit akan mengukur kesuksesan kita dan merayakannya. Pertahankan diri kita untuk bertanggung jawab, atau temukan teman sharing untuk melihat bagaimana keadaan kita. Hadiahi upaya kita saat kita mencapai tonggak sejarah itu atau mencapai tujuan itu.

    Self-Coaching adalah hal mudah sekaligus gratis yang dapat kita lakukan untuk menggapai kebahagiaan dan kesuksesan versi diri kita sendiri.  Berikut adalah dua praktik sederhana yang dapat kita coba terapkan

    Pertama: Gunakan Roda Kehidupan
    Ada teknik coaching yang sangat sederhana dan efektif sehingga banyak Life Coach maupun Business Coach menggunakannya sebagai latihan dengan klien mereka.

    Ini disebut Roda Kehidupan, dan ini adalah latihan hebat yang dapat kita lakukan di rumah untuk menguasai pengembangan diri kita.

    Yang harus kita lakukan adalah mempertimbangkan bagaimana kita saat ini menghabiskan waktu dalam hidup kita dan seberapa puas kita dengan setiap aktivitas selama jadwal harian kita.

    Itu harus mencakup area apa pun yang penting bagi kita. Termasuk keuangan, karier, keluarga, sosial, kesehatan, percintaan, spiritual dan hobi. Kita mungkin dapat memikirkan lebih banyak kategori dari itu.

    Bayangkan “roda” seperti diagram lingkaran. Setiap irisan kue merupakan aspek penting dalam kehidupan kita.

    Sekarang, nilai rasa kepuasan kita untuk setiap kategori. Kita dapat menggunakan skala bernomor dari 1-10 atau cara lain untuk memeringkatnya. Nilai mereka berdasarkan tingkat penghargaan yang kita rasakan dan jumlah yang membuat kita bersemangat.

    Setelah semuanya diberi peringkat, akan mudah untuk melihat area mana dalam hidup kita yang paling membutuhkan improvisasi.

    Tujuan dari latihan ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kepuasan hidup kita saat ini. Ini akan memberi kita beberapa detail tentang di mana harus memulai perjalanan Self-Coaching. Melalui pengembangan diri, kita akan menemukan cara untuk menaikkan skor hingga seimbang ke tingkat yang dapat diterima berdasarkan cara kita memprioritaskan masing-masing skor.

    Kedua: Temukan Alasan Kuat
    Latihan efektif lainnya yang dapat kita lakukan sendiri, di rumah, adalah menemukan alasan kuat atau motivasi dari dalam diri.

    Alasan kuat kita adalah bagian mendasar dari proses coaching karena, menurut banyak teori motivasi, jika kita menemukannya, kita dapat menggunakannya untuk keuntungan kita agar tetap termotivasi dan mencapai tujuan kita.

    Alasan kuat kita adalah hasrat kita yang paling dalam. Itu ibarat adalah “bahan bakar” yang menggerakkan mobil atau sepeda motor.  Jika kita memiliki tujuan dalam pikiran, tanyakan pada diri sendiri “mengapa saya ingin mencapai tujuan ini?” Jawabannya biasanya dikaitkan dengan emosi yang begitu kuat ini.

    Kemudian, tanyakan pada diri kita lagi. Dan lagi. Dan lagi!

    Kedengarannya membosankan tetapi sebenarnya bisa sangat menyenangkan dan mencerahkan. Akhirnya, kita akan memahami semuanya dan membuka “motivator” terdalam kita sendiri.

    Mari kita lihat sebuah contoh:
    Jika kita ingin belajar menerbitkan buku karya sendiri, tanyakan pada diri sendiri “mengapa?”
    Jika jawabannya adalah “personal branding”, lanjutkan: mengapa?

    Kita mungkin menyadari bahwa alasan kita ingin menerbitkan buku karya sendiri adalah agar dianggap ahli atau menonjol di bidang tertentu. Sehingga, orang akan mempersepsikan diri kita sesuai harapan kita.

    Tapi jangan berhenti di situ! Mengapa Personal Branding itu penting bagi kita?

    Akhirnya, kita mungkin menyadari bahwa keinginan kita untuk menerbitkan buku karya sendiri berakar pada kebutuhan untuk diakui oleh banyak orang.

    Seperti yang kita lihat, urutan “mengapa” dapat membantu introspeksi yang menakjubkan. Sekarang setelah kita mengetahui lebih banyak tentang emosi yang mendorong minat kita, kita dapat membuat rencana yang sesuai!

    Alasan kita akan menjadi jangkar bagi hampir semua kesuksesan Self-Coaching maupun pengembangan diri kita.

    Jadi, siapkah kita untuk mencapai mimpi terbesar kita? Maukah kita berubah demi melejitkan potensi terbaik diri kita? Jika jawaban keduanya iya, mungkin Self-Coaching patut kita pertimbangkan untuk dicoba.