Category: Blog

  • Menjadi Sandwich Generation yang Berdaya

    Ada puluhan juta warga – yang mungkin salah satunya Anda – memiliki kewajiban untuk bertanggungjawab mengurusi kedua orang tua sekaligus anak-anak. Menurut PEW Research, setidaknya 47% orang dewasa berusia 40-an dan 50-an saat ini mendapati diri mereka terjepit di antara dua generasi atau lebih dikenal sebagai Sandwich Generation.

    Istilah Generasi Sandwich diperkenalkan pertama kali pada tahun 1981 oleh seorang Profesor sekaligus direktur praktikum Universitas Kentucky di Lexington, Amerika Serikat bernama Dorothy A. Miller. Generasi sandwich merupakan generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup 3 generasi yaitu orang tuanya, diri sendiri, dan anaknya.

    Kenapa diberi istilah sandwich?

    Diibaratkan seperti sandwich karena sepotong daging terhimpit oleh 2 buah roti. Roti tersebut diibaratkan sebagai orang tua (generasi atas) dan anak (generasi bawah), sedangkan isi utama sandwich berupa daging, mayonnaise, dan saus yang terhimpit oleh roti diibaratkan bagai diri sendiri.

    Disarikan dari berbagai sumber, generasi sandwich terjadi pada seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki rentan umur dari 30 hingga 40 tahun. Namun sebagian pakar ada yang menyebutkan rentang umur mereka adalah antara 30 hingga 50 tahun.

    Aging and Elder Care Expert  bernama Carol Abaya pernah mengkategorikan generasi sandwich menjadi tiga ciri berdasarkan perannya.
    1. The Traditional Sandwich GenerationOrang dewasa berusia 40 hingga 50 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan finansial.
    2. The Club Sandwich GenerationOrang dewasa berusia 30 hingga 60 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua, anak, cucu (jika sudah punya), dan atau nenek kakek (jika masih hidup).
    3. The Open Faced Sandwich GenerationSiapapun yang terlibat dalam pengasuhan orang lanjut usia, namun bukan merupakan pekerjaan profesionalnya (seperti pengurus panti jompo) termasuk ke dalam kategori ini.

    Tidak mengherankan jika penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa “generasi sandwich” sering mengalami tingkat stres yang lebih tinggi daripada orang dewasa lainnya dan cenderung mengatakan bahwa mereka selalu merasa terburu-buru atau terdesak waktu. Pasalnya, ada tuntutan dalam memikul tanggung jawab keuangan untuk anak-anak mereka sekaligus orang tua mereka yang lanjut usia. Akibatnya, begitu terimbas pada masa depan keuangan atau kesejahteraan mereka sendiri.

    Merawat Diri Sendiri Itu Penting
    Dengan semua tanggung jawab ini, mungkin mudah bagi siapa saja yang mengidentifikasi diri sebagai “sandwich” untuk melupakan kebutuhan mereka sendiri. Padahal perawatan diri sangat penting untuk mendukung orang yang dicintai secara efektif.

    ‘Perawatan Diri’ mengacu pada secara aktif mengidentifikasi kebutuhan kita sendiri dan mengambil langkah-langkah untuk memenuhinya. Di pesawat terbang, kita tahu bahwa jika masker oksigen jatuh, kita harus memakai masker kita sendiri sebelum membantu orang lain; aturan yang sama berlaku untuk mengasuh orang yang kita cintai – hanya ketika kita mampu merawat diri kita sendiri, kita dapat berhasil merawat orang lain.

    Kita mungkin sering kali mengutamakan kebutuhan orang lain. Dengan “menyulap” permintaan anak, orang tua, dan pasangan yang seakan-akan “bersaing”. Sehingga, justru mengabaikan kesehatan dan kesejahteraan kita sendiri.

    Lantas, bagaimana menjadi Generasi Sandwich yang berdaya? Setidaknya ada beberapa langkah yang dapat kita terapkan untuk memastikan semuanya berjalan lancar.

    Pertama, menetapkan batasan waktu kita. Mungkin kita merasa harus selalu berada di tiga tempat sekaligus, tetapi menetapkan batasan waktu akan membantu kita memperjelas apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Batasan yang sehat berarti terkadang harus mengatakan “tidak”. Yang pasti kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa kita melakukan yang terbaik yang kita bisa.

    Kedua, mengelola keuangan secara terbuka. Berbicara secara terbuka dengan orang tua dan anak-anak dewasa muda tentang situasi keuangan kita adalah penting meski mungkin bagi sebagian dari diri kita terdengar tabu. Jelaskan bahwa kita perlu mempertimbangkan masa depan keuangan kita sambil juga merawat orang yang kita cintai. Menetapkan batasan dapat menghilangkan beberapa tekanan atau ketidakpastian tentang peran keuangan kita

    Ini juga merupakan ide bagus untuk berbicara dengan perencana keuangan profesional tentang situasi keluarga kita guna mendapatkan panduan, strategi, dan saran. Tanyakan tentang cara terbaik untuk merencanakan biaya yang diantisipasi di masa depan dan cari tahu apakah kita atau orang tua kita dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan tunjangan atau bantuan keuangan apa pun.

    Ketiga, meminta bantuan keluarga terdekat.  Salah satu elemen kunci dari perawatan diri adalah bersedia meminta bantuan saat kita membutuhkannya, namun terkadang Generasi Sandwich begitu kewalahan sehingga mereka kehilangan fakta bahwa ada orang tersayang yang mungkin hanya menunggu untuk diminta bantuan.

    Tidak ada salahnya untuk menghubungi saudara kandung untuk meminta bantuan jika diperlukan. Kita hanya perlu untuk lebih terbuka. Jika bukan mereka yang kita prioritaskan untuk terlibat, siapa yang lebih bisa diandalkan lagi?

    Keempat, merencanakan masa depan. Merawat orang tua atau mertua berusia lanjut memang gampang-gampang susah. Melakukan percakapan dengan mereka sedini mungkin akan membantu memberi kita ketenangan pikiran jika tiba saatnya kita harus membuat keputusan untuk mereka. Tidak ada ruginya bagi kita untuk memikirkan secara matang mengenai tabungan rencana, dana pensiun, asuransi kesehatan, maupun dana pendidikan anak.

    Kelima, mencari bantuan profesional. Menavigasi tantangan merawat dua generasi pada saat yang sama tidaklah mudah, tetapi ada program dan organisasi yang sangat berpengalaman dalam mengatasi apa yang terasa seperti masalah yang rumit.

    Generasi Sandwich tidak jarang merasa bahwa mereka harus mampu menangani semuanya sendiri. Padahal, kini ada begitu banyak penyedia jasa yang bisa meringankan kita jika kita membutuhkannya.

    Jika Anda merupakan salah satu dari Generasi Sandwich, tetaplah tenang. Karena Anda tidaklah sendirian.

    Sebisa mungkin, komunikasikan secara terbuka dengan orang tua untuk membahas kemampuan Anda memberikan bantuan finansial.  Dengan cara ini, harapannya mereka bisa memahami seperti apa keadaan kita. Sehingga, kita bisa meminimalkan stres dalam keseharian.

    Tak lupa, bicarakan secara blak-blakan dengan pasangan Anda untuk menghindari konflik di internal keluarga Anda. Demikian halnya bagi Anda yang dalam waktu dekat merencanakan menikah, bicarakan secara jujur dengan calon pasangan Anda. Karena perencanaan keuangan keluarga adalah salah satu elemen kunci membangun rumah tangga yang harmonis.

    Pada akhirnya, saya teringat dengan penggalan bait lagu Harta Berharga yang dinyanyikan Bunga Citra Lestari berikut. Harta yang paling berharga adalah keluarga
    Istana yang paling indah adalah keluarga
    Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
    Mutiara tiada tara adalah keluarga

  • Nasehat Sebelum Menikah

    Baru-baru ini, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh kasus KDRT yang menimpa aktris sekaligus politisi Venna Melinda. “Drama” KDRT yang dialaminya begitu viral di ranah maya. Tidak lama sebelumnya pasangan Lesty Kejora juga tidak kalah menggegerkan ketika mengalami hal yang sama. Dua kasus KDRT figur publik tersebut agaknya ibarat gunung es.
    Di sisi lain berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2022, sebanyak 447.743 kasus perceraian terjadi pada tahun 2021 yang artinya  meningkat 53,5 persen dari tahun sebelumnya, yakni mencapai 291.677 kasus. Hal  itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat perceraian tertinggi di Asia. Menurut riset penyebab utama yang memicu perceraian adalah perselisihan dan pertengkaran, ekonomi, meninggalkan salah satu, KDRT, mabuk, dihukum penjara, judi, poligami, zina, kawin paksa, cacat badan, dan lainnya.

    Maraknya kasus KDRT dan melonjaknya angka perceraian dari masa ke masa menjadi pelajaran penting bagi siapa saja yang ingin membangun bahtera rumah tangga. Karena cinta saja tidak cukup untuk melanggengkan perkawinan tanpa diiringi oleh persiapan yang matang.

    Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu dipahami ketika memilih “belahan jiwa”. Agar pernikahan yang kita bangun dapat langgeng hingga maut memisahkan.

    Pertama, pasangan kita tidak akan selalu melengkapi kita. Sangat penting bagi kita untuk fokus pada diri sendiri- bukan dengan cara yang egois, bukan dengan cara mengabaikan pasangan, tetapi dengan cara yang mana kita memahami bahwa menjaga diri sendiri akan membantu kita membawa diri sendiri yang terbaik ke dalam hubungan kita. Pasangan harus bisa memiliki keseimbangan antara keterpisahan dan kebersamaan.

    Kedua, menyesuaikan ekspektasi dalam pernikahan. Kita mungkin menginginkan banyak hal dari satu pasangan kita: pendamping, mitra meraih kesuksesan, kekasih yang romantis, orang tua yang baik, teman curhat yang pas dan banyak lagi. Tak ada salahnya memiliki harapan tinggi. Namun yang paling penting sebelum kita menikah; kita perlu mengutarakan harapan-harapan itu kepada calon pasangan. Karena sebagian besar percekcokan yang berujung perceraian diawali dari tidak bertemunya titik temu antara ekspektasi masing-masing.

    Ketiga, memaknai cinta. Kita memang bisa berikhtiar untuk menemukan pasangan paling sempurna versi diri sendiri. Namun, kita perlu menyadari bahwa ada momen-momen ketika merasa tidak selaras atau tidak jatuh cinta. Di situlah sangat penting untuk mengingat lagi nilai-nilai yang kita identifikasi sebagai pasangan, daripada mencoba mengikuti perasaan yang menurut kita seharusnya kita miliki.

    Penelitian oleh psikolog John Gottman menemukan rasio “ajaib” 5 banding 1 di antara pasangan yang sehat. Yaitu untuk setiap satu interaksi negatif selama konflik, orang-orang dalam pernikahan yang stabil dan bahagia memiliki lima interaksi positif atau lebih. Kepositifan itu penting. Sangat penting untuk merasa berada di tempat yang baik, dan itu pasti ditunjukkan melalui tindakan kecil untuk mengekspresikan cinta.

    Mengekspresikan cita tidak harus melalui hal-hal yang muluk-muluk seperti merencanakan keliling dunia atau menghabiskan milyaran rupiah untuk menghadiahi pasangan. Tetapi kita memulainya dengan hal-hal sederhana seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, meringankan beban pasangan atau sekadar memberikan ciuman.

    Keempat, hubungan dengan keluarga besar pasangan. Bagaimana pasangan kita bergaul dengan keluarganya? Apakah mereka dekat atau jauh? Apakah ada konflik? Informasi itu perlu kita ketahui sejak dini.  Karena seringkali masalah yang muncul dalam lingkup keluarga berulang ke dalam pernikahan kita. Ketika pasangan dapat membicarakan hal-hal itu tanpa menghakimi, dapat mendengarkan dan menyesuaikan pengalaman pasangannya, itu sangat luar biasa. Itu menciptakan tingkat kepercayaan yang dalam. Karena bukankah ketika kita menikah kita tidak hanya menikahi pasangan kita, namun juga mempertemukan dua keluarga besar dari latar belakang berbeda?

    Kelima, mengetahui kondisi keuangan pasangan. Sebelum memutuskan menikah, kita semestinya blak-blakan dalam mengungkapkan kondisi keuangan kepada pasangan. Karena keuangan adalah salah satu aspek yang bisa merekatkan sekaligus memisahkan hubungan pernikahan.

    Keenam, memandang konflik. Konflik tidak bisa dihindari — kita perlu mengenali peran kita dalam menyelesaikannya. Ketika kita berada di fase bulan madu, sulit membayangkan akan ada pertengkaran atau sifat dan kebiasaan menyebalkan seperti apa yang dibawa oleh pasangan. Tapi, setiap pasangan suami-istri tidak bisa dilepaskan dari konflik.

    Seringkali, hal-hal yang tidak kita sukai atau benci di kemudian hari dalam hubungan kita lebih berkaitan dengan diri sendiri daripada pasangan kita. Ini semua tentang kerentanan, ketidakamanan, dan ketidaknyamanan yang kita bawa.

    Bagian besar tentang cara menangani konflik dan kemarahan adalah mengetahui bahwa itu dimulai dari diri kita sendiri. Tentang bagaimana kita dapat mengelola kecemasan Anda sendiri, mempraktikkan cara sehat untuk menjaga diri sendiri, dan memastikan kita berada di tempat yang baik untuk mengatasi apa pun penyebab stres yang terjadi.

    Intinya, kunci dalam mengatasi konflik adalah komunikasi. Kebanyakan orang terburu-buru untuk merespon atau bereaksi. Namun, sesungguhnya lebih baik bagi kita untuk diam atau berhenti sejenak, sadar diri dan mendengarkan dari hati.

    Ketujuh, mendiskusikan apa arti pelanggaran kepercayaan. Apakah kita akan monogami dan berkomitmen pada satu orang, atau apakah kita setuju dengan pernikahan yang lebih terbuka? Itu bergantung pada pasangan dan apa batasan dan nilai pribadi mereka.

    Apa arti pengkhianatan bagi kita? Bagi sebagian orang, perilaku yang tidak dapat diterima dapat berarti menggoda lawan jenis, mengirim SMS, atau berselingkuh secara emosional. Bagi yang lain, satu-satunya pemecah kesepakatan mungkin tidur dengan orang lain. Bicarakanlah sebelum menikah.

    Kedelapan, menghadapi situasi sulit. Saat dihadapkan pada kesulitan, kita jangan gampang menyerah. Buktinya, banyak pasangan muda menikah segera bercerai – kurang dari lima tahun setelah pernikahan mereka. Karena hikmah dari konflik dalam pernikahan dan hubungan adalah peluang untuk bertumbuh. Kecuali jika kita mengalami pelecehan atau perilaku tak tertahankan seperti KDRT, beri diri diri kita kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalah.

    Akhir kata, pernikahan adalah salah satu aspek yang membuat seseorang menggapai kebahagiaan. Memiliki kedewasaan, kesehatan mental dan pengetahuan yang mumpuni sebelum menikah merupakan salah satu ikhtiar untuk meminimalkan perceraian.

  • POMOSDA yang Mengubah Jalan Hidupku

    Hidup adalah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda, untuk apa Anda ada, ke mana Anda ingin pergi, dan mengapa Anda ingin sampai di sana.

    Halo, hai  semuanya. Perkenalkan aku Agung Setiyo Wibowo. Aku adalah salah satu alumni POMOSDA angkatan 9 yang lulus di tahun 2007. Bagiku, lima tahun menjadi bagian dari keluarga besar POMOSDA adalah salah satu episode terbaik dalam hidup.  Sebuah perjalanan yang awalnya tidak kuinginkan tapi di kemudian hari justru sangat kusyukuri. Beginilah sepenggal kisah hidupku di Tanjung.

     

    Mengapa POMOSDA? 

    Aku lahir dan besar di Dusun Sumberjo, Desa Ginuk, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan. Kedua orang tuaku adalah buruh tani yang memiliki sepetak tanah dengan luas tak seberapa. Ayahku mati-matian banting tulang untuk bekerja apa saja agar dapur tetap mengebul. Mulai dari menjadi buruh tebang tebu di musim giling, mengumpulkan batu kerikil di kali, menjadi buruh di sawah tetangga, mengumpulkan daun jeruk purut dan tentu saja menjadi kuli serabutan.

    Sejak kecil, aku selalu diberikan wejangan oleh ayahku untuk belajar sebaik mungkin untuk mengubah nasib. Itu mengapa sebelum menjadi santri POMOSDA, aku menjadi pengembala domba untuk membiayai sekolahku. Menemani domba-domba merumput di pinggiran sawah sudah menjadi rutinitas sepulang sekolah dari SD hingga SMP.

    Sejujurnya, aku tidaklah sepintar yang kebanyakan orang kira. Hanya saja, mungkin aku jauh lebih giat belajar dibandingkan kawan-kawanku. Aku senantiasa menyempatkan diri belajar di sela-sela menggembala domba di sawah dan sepulang sembahyang Isya’ maupun selepas sembahyang Subuh. Alhasil, aku senantiasa menjadi Juara Kelas.

    Selulus SMP, salah satu guru SMP-ku bertamu ke rumah orang tuaku di akhir pekan. Sayangnya, aku tidak bisa menemui beliau karena aku sedang menggembala domba di sawah. Menurut penuturan ayah, aku disarankan oleh guruku untuk masuk ke salah satu SMA Negeri terbaik di Kota Madiun karena aku dianggap memiliki “potensi” untuk bersinar terang di kemudian hari.

    Aku pun meminta orang tuaku untuk mengikuti saran guruku. Namun, orang tuaku melarangku untuk menjadi pelajar di Kota Madiun dengan alasan keterbatasan finansial. Beliau memintaku untuk menjadi santri POMOSDA karena biayanya yang terjangkau tapi menawarkan pengalaman pembelajaran berkualitas tinggi.

    Di hari pertamaku menginjakkan kaki di POMOSDA, aku diajak ayahku untuk bertemu dengan Bapak Dzoharul Arifin yang waktu itu menjadi Kepala Sekolah. Rupanya, ayahku mengajukan “keringanan biaya” untuk studiku selama di pondok. Seingatku, ayahku hanya bisa membayar sepertiga dari biaya yang seharusnya dibayarkan.  Alhamdulillah, permohonan tersebut dikabulkan. Aku pun tercatat sebagai Santri Asuh mulai tahun ajaran 2003/2004.

    Sebagai anak asuh, aku memiliki kewajiban ekstra dibandingkan santri kebanyakan yang dijadwalkan secara berkala. Salah satunya adalah membantu Tim Bulek Rohmi di dapur untuk membersihkan dan memotong sayuran yang akan dimasak di keesokan harinya. Oleh karena itu, akvititas rutin ini biasanya aku lakukan bersama para Santri Asuh lainnya di malam hari.

    Sebagai santri yang datang dari keluarga menengah ke bawah tidaklah gampang untuk menyesuaikan diri di POMOSDA. Minimnya uang saku yang kuperoleh dari orang tua mendorongku untuk menghemat pengeluaran semaksimal mungkin.

    Selama di pondok; aku hanya membeli barang-barang yang kubutuhkan, bukan yang kuinginkan. Sebagai dampaknya, aku yang tidak pernah jajan di kantin sama sekali selama di pondok pernah mendapatkan perundungan dari salah satu penjaga kantin dan teman-temanku sendiri. Pengalaman tersebut sempat membuatkan “down”, namun perlahan-lahan aku memandangnya dari sisi yang berbeda. Aku ingin membuktikan bahwa aku harus berprestasi meski terlahir dalam kemiskinan.

     

    Menikmati Belajar di “Penjara Suci”

    Sejak hari pertama menjadi santri POMOSDA, aku bersumpah untuk tidak menyia-nyiakan masa studiku. Apalagi, aku memiliki “beban” sebagai Santri Asuh. Aku tidak ingin mengecewakan ayahku maupun Pimpinan Pondok yang telah menerimaku sebagai santri.

    Padatnya aktivitas di pondok, begitu kunikmati. Dari makan di dapur, mengaji, menghafalkan kosa kata, belajar di malam hari, piket kebersihan, ronda malam, lari pagi, jalan-jalan santai, peringatan hari besar Islam, dan masih banyak lagi.

    Di POMOSDA, aku tidak hanya belajar di kelas. Namun, aku juga dibebaskan untuk memilih Program Vokasional yang beraneka ragam. Waktu itu aku mengambil Elektronika dan Persablonan di dua tahun yang berbeda. Meskipun kini aku sama sekali tidak menerapkan keterampilan tersebut, pengalaman itu mengajarku untuk fokus untuk menekuni potensi, bakat atau kekuatan diri sendiri – bukan “menambal” kekurangan atau kelemahan.

     

    Kewajiban untuk memakai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari di asrama mungkin menjadi “momok” yang dibenci oleh banyak santri. Tapi, bagiku justru menjadi “oase” karena aku menemukan “duniaku” di bidang itu. Berbagai piagam yang berhubungan dengan bahasa seperti pidato, debat, maupun cerdas  cermat yang kuperoleh dari berderet perlombaan di tingkat Kabupaten Nganjuk maupun Provinsi Jawa Timur di kemudian hari menjadi “modal” untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dan berkarier.

    Aku sangat sadar bahwa definisi kesuksesan setiap santri berbeda-beda. Namun bagiku, mengharumkan nama POMOSDA melalui kemenangan dalam berbagai perlombaan merupakan salah satu indikatornya. Meskipun aku selalu memegang prinsip bahwa hasil akhir bukanlah tujuan.

    Puncak dari kebanggaanku sebagai seorang santri adalah ketika dinobatkan sebagai Siswa Berprestasi (Teladan) tingkat SMA Kabupaten Nganjuk 2005. Dari situ aku dipercaya untuk mewakili Bumi Anjuk Ladang untuk perlombaan serupa di tingkat Jawa Timur. Pengalaman itu menyadarkanku bahwa hidup bukanlah untuk berkompetisi dengan orang lain, melainkan berkompetisi dengan diri sendiri. Yaitu untuk mengalahkan keraguan, ketakutan, kebingungan, dan kegalauan yang bersemayam dalam diri.

     

    Terima Kasih POMOSDA

    Secara formal, aku lulus dari SMA POMOSDA di tahun 2007. Ikhtiar untuk mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama untuk kuliah di Universitas Airlangga jurusan Kedokteran dan di Politeknik Keuangan Negara STAN jurusan Bea Cukai di tahun itu belum mendapatkan “approval” dari Allah. Akibatnya aku sempat merasa hancur, terpuruk, gagal, menyalahkan diri sendiri dan di titik terendah dalam hidup karenanya.

    Setelah beberapa saat menenangkan diri di Magetan, perlahan-lahan aku bisa menerima takdir-Nya. Aku menjadi tersadarkan bahwa skenario-Nya selalu yang terbaik.

    Tak ingin berlama-lama mengingat “kegagalan” mendapatkan beasiswa, aku mengikuti ajang Pemilihan Duta Wisata “Bagus-Dyah” Kabupaten Magetan. Berkat perjuangan berdarah-darah (dan tentu saja karena takdir-Nya), aku memenangkan kompetisi tersebut dan berhak maju ke Pemilihan Duta Wisata “Raka-Raki” Provinsi Jawa Timur bersama dengan pasanganku.

    Pengalaman mengikuti kontes Raka-Raki Jawa Timur membuatku “mejeng” di Jawa Pos TV, koran Jawa Pos dan berbagai media lain yang di kemudian hari melambungkan namaku. Menurutku, keterampilan berbahasa Inggris dan beretorika yang kuperoleh dari POMOSDA memiliki andil besar dalam prosesnya.

    Singkat  cerita, aku memutuskan untuk menjalani Masa Pengabdian di POMOSDA per Agustus 2007. Pilihan tersebut kutempuh karena aku ingin mempersiapkan diri untuk mengejar beasiswa di tahun 2008. Alhamdulillah, aku diberi amanah untuk mengurus Perpustakaan yang kupandang sebagai “Surga” karena kegemaran akutku untuk membaca buku.

    Pada Agustus 2008, aku meninggalkan POMOSDA karena mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina Jakarta. Keberuntungan tersebut mungkin tidak pernah menghampiriku andai aku tidak mendampingi para santri membaca di perpustakaan. Pasalnya, aku mendapatkan info beasiswa tersebut dari koran yang memang menjadi salah satu koleksi perpustakaan.

    Bagiku POMOSDA tidak hanya membekaliku untuk “menaklukkan dunia” dengan ilmu-ilmu duniawi yang berfaedah guna mengejar kesuksesan. Namun, yang lebih penting POMOSDA membekaliku untuk “menaklukkan diri sendiri” yang merupakan kunci dari kebahagiaan hakiki.*

     

    *) Tulisan ini sebelumnya dimuat di situs web resmi SMA POMOSDA

     

  • Tips Menulis Buku untuk Pemula

    “Mas, gimana sih biar bisa konsisten menulis?”

    “Mas, sebaiknya menulis itu mulai dari mana?”

    “Mas, share dong tips menghadapi Writer’s Block!”

    Tiga pertanyaan ini begitu sering saya dapatkan di kelas-kelas pelatihan menulis saya. Pun ketika bertemu dengan orang-orang baru.

    Sederhana saja. Sama seperti keterampilan lain, menulis itu dipraktikkan – tidak cukup dibicarakan. Di sini berlaku hukum “jam terbang”. Semakin kita sering mengasahnya, semakin mahirlah kita.

    Oke, saya jawab mulai dari pertanyaan pertama ya.

    “Mas, gimana sih biar bisa konsisten menulis?”

    Jawabanku: Milikilah ritual menulis. Anggap saja menulis itu ibarat ritual yang setiap hari Anda praktekkan.

    Kebayang kan jika setiap pagi kita menikmati sarapan lalu melewatkannya?

    Gimana perasaan Anda jika Anda terbiasa mengendarai mobil sendiri ketika berangkat ke kantor lalu tiba-tiba harus naik KRL?

    Merasa berdosa nggak jika Anda terbiasa salat Subuh berjamaah di masjid lalu Anda kesiangan bangun?

    Sebagai contoh, ritual menulis Anda adalah pukul 5-6 pagi. Anda harus berkomitmen menulis setiap hari. Taruh menulis sebagai agenda harian Anda. Masukkan dalam Google Calendar. Buat notifikasi pengingat. Pasang alarm di jam tersebut. Niscaya Anda akan terpacu untuk bertindak.

    Itu hanya contoh ya. Saya tidak tahu kapan Anda memiliki waktu luang. Yang pasti, sediakan waktu terbaik Anda. Jika sudah menemukannya, Anda wajib mematuhinya.

    Pertanyaan kedua: “Mas, sebaiknya menulis itu mulai dari mana?”

    Jawaban saya simple juga. Dari mana pun. Karena tidak ada formula khusus. Setiap orang tentu memiliki pendekatan berbeda-beda.

    Agar cerita Anda runut, saya sarankan Anda untuk membuat outline. Mengapa?

    Karena outline itu mencerminkan kerangka ide kita. Outline bisa membuat tulisan kita jauh lebih terstruktur. Pada akhirnya, outline juga memudahkan kita untuk melakukan riset. Sehingga, upaya kita lebih terarah.

    Outline membuat waktu kita efisien karena kita tidak lagi “meraba-raba”. Ibarat kita bepergian, outline ibarat peta. Kita sudah tahu arah a.k.a destinasi yang kita tuju.

    Pertanyaan ketiga: “Mas, share dong tips menghadapi Writer’s Block!”

    Jawaban saya sederhana: rehat dulu sejenak. Anda bisa membaca buku-buku yang sejenis dengan topik yang Anda tulis. Anda bisa mendengarkan musik favorit Anda. Anda bisa melakukan hobi Anda.

    Jangan paksakan menulis jika Anda merasa buntu. Karena nanti hasilnya bisa tidka maksimal.

    Dari sini sudah paham kan?

    “Memang bisa semudah itu ya menulis buku?”

    Iya dong.

    Tentu, saya tidak bisa menjamin jika Anda langsung mahir menulis dalam sekejap ketika mempraktikkan tiga jawaban di atas. Karena yang pasti, jam terbang tidak akan pernah bohong.

    Saran saya, perbanyaklah membaca buku. Karena penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jangan pernah bermimpi untuk bisa menjadi penulis ulung jika Anda malas membaca.

    Tak mengherankan bila seorang penulis terkenal bilang, “Anda adalah apa yang Anda baca.” Saya sependapat.

    Buku-buku yang pernah kita baca mempengaruhi genre buku kita. Buku-buku yang pernah kita baca mempengaruhi gaya menulis kita.

    So, kapan Anda berencana menulis buku pertama Anda?

    Topik apa yang ingin Anda tulis di buku pertama Anda?

    Jika ingin menerbitkan buku tapi Anda belum tahu harus mulai dari mana atau masih ragu ingin menulis dengan gaya seperti apa, jangan sungkan untuk bertanya.

    Anda bisa menghubungi saya melalui Whatsapp +62 852 3050 4735.  Japri aja saja. Kita bisa berdiskusi sambil ngopi-ngopi.

    Jika Anda tidak punya waktu untuk menghubungi saya secara daring maupun luring, tenang saja. Anda bisa membaca buku Write First. Beli saja versi digitalnya. Karena semua ilmu dan pengalaman saya dalam dunia menulis dan menerbitkan buku telah saya kupas tuntas di situ.

     

    Salam literasi,

    Depok, 23 Maret 2024

     

     

  • Agar Karyamu Tembus Gramedia

    Buku adalah jendela dunia. Dengan buku kita bisa memperkaya wawasan. Membuka cakrawala tanpa batas.

    Di tengah gempuran internet yang menawarkan informasi gratis, pamor buku seakan memang makin meredup. Namun, itu bukan berarti buku sudah tidak ada peminatnya. Karena selama ada manusia, buku masih ada pasarnya.

    Menyadari hal itu, setiap hari ribuan penerbit masih kewalahan menyeleksi naskah demi naskah. Mereka menyaring naskah-naskah yang masuk untuk memastikan kualitas konten dan potensi pasarnya.

    Di sisi lain, penulis-penulis baru berdatangan dari hari ke hari. Mereka meramaikan bursa penulis di tanah air. Mereka turut mewarnai dunia literasi dengan para penulis senior yang lebih berpengalaman.

    Sebagai penulis 50+ buku dengan lebih dari 15 tahun pengalaman, saya telah merasakan sendiri jatuh-bangun berkecimpung di bidang ini. Dari berbagai pelatihan daring dan luring yang saya adakan, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah bagaimana tips agar naskah buku kita tembus Gramedia.

    Pertanyaan tersebut saya anggap mengandung dua unsur. Yang pertama, buku kita diterbitkan salah satu penerbit di bawah jaringan Kompas Gramedia Group yang mana secara otomatis buku kita akan dipasarkan di jaringan toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Yang kedua, buku kita diterbitkan oleh penerbit ternama, sehingga kemungkinan besar akan juga tampil di rak-rak Toko Buku Gramedia.

    Sederhana saja. Agar naskah buku kita tembus Gramedia, karya kita harus berkualitas. Tidak ada tawar-menawar di sini. Untuk mencapai titik itu, kita perlu memenuhi satu aspek utama.

    Aspak itu adalah: buku kita memecahkan masalah. Buku yang tembus Gramedia otomatis menjadi solusi bagi pembaca. Itu artinya, buku kita perlu memberikan nilai tambah bagi pembaca. Entah itu perspektif baru, pandangan berbeda, metodologi baru, kisah inspiratif yang unik, atau sesuatu yang ada “harga”-nya di mata publik.

    Jika kita ingin memenuhi aspek ini, kuncinya adalah riset. Kita perlu tahu apa saja keluhan, tantangan, atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Abad digital memudahkan kita untuk menemukannya yaitu dengan mengetahui apa saja yang sedang viral, menjadi trending di media sosial atau sedang hype. Ini yang namanya kebutuhan.

                  Dalam hal ini, kita perlu lebih peka. Kita bisa melakukan survei langsung ke toko buku, marketplace, atau toko-toko buku online.  Buku apa  di bidang kepakaran atau passion kita yang sudah atau belum ada. Kita hubungkan dengan kebutuhan masyarakat.  Dari sini, kita bisa menemukan gap-nya.  Begitu mudah bukan?

    Sebagai contoh untuk buku non-fiksi. Anda mengamati bahwa di pasaran belum ada buku yang mengulas tentang kesehatan mental, lalu Anda merasa memiliki kepakaran di situ dan Anda telah menemukan fakta bahwa isu kesehatan mental sedang naik daun di pasaran. Nah, di situlah sweet spot-nya. Anda telah menemukan benang merah. Oleh karena itu, Anda harus segera menulis naskah buku tersebut.

    Mungkin Anda akan bertanya lagi:

    • Minimal berapa halaman Mas?
    • Format penulisannya bagaimana?
    • Dikirimkan ke siapa ya?

    Ini pertanyaan begitu mendasar yang mudah dijawab. Setiap penerbit memiliki kebijakan atau syarat dan ketentuan masing-masing. Tinggal andalkan Google, lalu Anda bisa membacanya di situs web resmi mereka. Ikuti saja apa maunya mereka.

    Sudah begitu jelas bukan?

    Atau Anda merasa masih bingung?

    Jika ingin menerbitkan buku tapi Anda belum tahu harus mulai dari mana atau masih ragu ingin menulis dengan gaya seperti apa, jangan sungkan untuk bertanya.

    Anda bisa menghubungi saya melalui Whatsapp +62 852 3050 4735.  Japri aja saja. Kita bisa berdiskusi sambil ngopi-ngopi.

    Jika Anda tidak punya waktu untuk menghubungi saya secara daring maupun luring, tenang saja. Anda bisa membaca buku Write First. Beli saja versi digitalnya. Karena semua ilmu dan pengalaman saya dalam dunia menulis dan menerbitkan buku telah saya kupas tuntas di situ.

     

    Salam literasi,

    Depok, 23 Maret 2024

  • It’s Growth Zone

    Hidup adalah perjalanan. Apapun gol yang kita miliki, kita perlu berjuang setiap detik untuk mewujudkannya.

    Tak jarang kita dihadapkan pada benturan yang memaksan kita meninggalkan zona nyaman.
    Tak mudah memang. Tak nyaman. Risiko menghadang. Namun, itulah hidup.
    Siapkah dirimu ke zona bertumbuh?
    Maukah dirimu belajar hal-hal baru?
    Bersediahkah dirimu mengambil risiko?
    Beranikah dirimu melawan ketakutan dan keraguan?
    Pad akhirnya, hidup adalah pilihan. Apakah pilihan hidupmu membuatmu berkembang?
    Agung Setiyo Wibowo
    5 Januari 2023