Category: Blog

  • Menemukan Pekerjaan yang Cocok

    Entah kita sadari atau tidak, pekerjaan adalah salah satu hal yang paling penting bagi kehidupan setiap orang. Buktinya, dari kecil kita selalu ditanya oleh guru, teman atau orang tua kita

    “Nanti kalau udah gede pengen jadi apa?”

    “Apa cita-citamu nak?”

    Kenyataan tersebut ditunjukkan oleh fenomena sengitnya kompetisi untuk bisa diterima di perguruan tinggi favorit. Karena menurut kebanyakan orang, dengan menggondol gelar di PTN/PTS favorit, masa depan bisa terjamin.

    Kita tentu juga sudah dengan fenomena masih tingginya animo masyarakat untuk menjadi seorang PNS atau ASN. Buktinya, tak sedikit yang rela merogoh kocek besar agar kelak bisa menikmati uang pensiun. Wow!

    Well, pekerjaan mungkin memang menyedot sebagian besar waktu kita. Meskipun rata-rata kita bekerja 8-10 jam perhari, kenyataannya bisa lebih dari itu jika kita menambahkan waktu tempuh dari dan ke kantor. Jika sehari kita memakan waktu 2-5 jam perhari saja di jalan, sudah kebayang kan berapa lama waktu kita habis untuk pekerjaan 8-15 jam bukan? Wow!

    Sayangnya, bagi sebagian orang – khususnya generasi kini — tidak mudah menemukan pekerjaan yang cocok. Alhasil fenomena menjadi “Kutu Loncat” masih jamak kita temui. Dan tingkat stres karena tidak menikmati pekerjaan sudah menjadi isu klise yang tetap relevan dari tahun ke tahun.

    Mengapa banyak orang yang tidak menikmati pekerjaannya?

    Apa ada yang salah?

    Tekanan kantor yang tidak lazim atau memang ada faktor lain?

    Tentu sangat kompleks faktornya.

    Sebagai pribadi yang pernah merasakan menderitanya menemukan pekerjaan yang cocok, saya sangat bersyukur sudah bisa mengenali apa yang saya inginkan dalam hidup. Bagi teman-teman yang kini tengah berjuang untuk menemukan pekerjaan yang cocok, jangan patah semangat ya.

    Tak ada salahnya untuk membaca buku The Calling karya saya sebagai inspirasi. Tertarik? Klik link berikut untuk mencari tahu atau membeli ya.

  • Bangga Menjadi Ghost Writer

    Ghost Writer.
    Kata ini sama sekali tidak pernah masuk dalam “radar” saya ketika masih berstatus sebagai pelajar. Lahir dan besar di sebuah dusun kecil di pelosok Magetan, Jawa Timur; impian kebanyakan teman-teman saya adalah menjadi PNS, guru dan tentara.
    Namun, takdir berkata lain.
    Setelah mencoba “mencicipi” beberapa profesi seperti Humas, Dosen, Desainer Pembelajaran dan Konsultan SDM; saya merasa cukup cocok menjadi seorang Penulis. Dari yang awalnya sebuah ketidaksengajaan, kini saya merasa bangga dan menikmati proses menjadi seorang penulis.
    Bukan Sebuah Kebetulan?
    Sejujurnya, buku pertama yang lahir dari tangan saya terbit pada saaat usia saya 19 tahun. Meskipun buku tersebut tidak diterbitkan penerbit besar, saya merasa karya pertama tersebut menjadi hal yang membuat diri saya berharga.
    Setelah berhasil menelurkan belasan buku, saya baru menyadari bahwa menjadi penulis bagi saya bukanlah sebuah kebetulan. Melainkan suratan takdir yang perlu saya syukuri.
    Ya, saya mengamini bahwa manusia bisa memilih. Namun toh pada akhirnya, jalan hidup orang memang misteri.
    Dari Penulis ke Ghost Writer
    Berkat dedikasi saya sebagai penulis, pelan tapi pasti saya menikmati profesi sebagai Ghost Writer. Melihat klien bahagia karena bukunya terbit atau diterbitkan penerbit besar merupakan kepuasan tersendiri bagi saya.
    Memang, sebagai penulis kita mungkin akan lebih bangga jika melihat buku karya kita sendiri “tampil” di rak-rak toko buku ternama. Namun, kini saya jauh lebih bangga jika bisa “menembuskan” buku yang saya tulis untuk klien ke penerbit-penerbit terkemuka.
    Apakah Anda berminat menjadi Ghost Writer?
    Mau belajar menjadi penulis profesional?
    Jangan sungkan untuk menghubungi saya.
  • Seni Membangun Followership

    Harus kita akui atau tidak, kepemimpinan sudah menjadi topik yang Overrated. Buktinya, ada begitu banyak orang yang “berani” memberikan tips dan trik untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan. Apa faktanya?

    Jika kita ketik kata kunci “kepemimpinan” di Google, kita akan mendapatkan lebih dari 30 juta hasil pencarian per 24 Agustus 2023.

    Itu masuk akal. Karena kepemimpinan adalah keahlian yang dapat memberi kita pekerjaan, yang sering kali menuntut rasa hormat, dan dapat membantu kita memperoleh penghasilan lebih tinggi. Namun sebelum kita benar-benar berada dalam posisi kepemimpinan, apa yang dapat kita lakukan?

    Secara tradisional, dunia menganut pandangan yang berpusat pada kepemimpinan. Kebanyakan orang memandang bahwa kepemimpinan adalah hal yang paling penting. Tak mengherankan bila pemimpin — apapun levelnya — senantiasa dipanding lebih hebat dibandingkan pengikut. Padahal pengikut sangat penting bagi keberhasilan tim atau organisasi mana pun, itulah sebabnya mempelajari konsep pengikut dapat mengubah kemampuan kepemimpinan seseorang.

    Apa itu Followership (kepengikutan)?
    Studi tentang kepengikutan berkaitan dengan peran yang dimainkan seorang pemimpin dalam memahami siapa pengikutnya dan cara terbaik untuk memimpin mereka. Pada saat yang sama, hal ini juga membantu para pemimpin memahami bagaimana menjadi pengikut yang lebih baik. Semua pemimpin pernah dan akan menjadi pengikut, dan memahami kebutuhan individu pengikut (termasuk kebutuhan Anda) akan membantu kita memajukan organisasi kita.

    Mengapa Followership itu penting?
    Setiap pemimpin yang baik memahami mengapa pengikut yang baik itu penting. Setiap orang tua juga memahami mengapa kepengikutan yang baik itu penting. Keterampilan ini dimulai saat kita masih muda. Anak-anak yang terlibat dalam olahraga dan anak-anak yang memperhatikan di sekolah sedang mempelajari disiplin yang mendasari kepengikutan. Sama seperti para coach yang mengandalkan atletnya untuk melaksanakan pelajaran dan strategi mereka, atau ketika orang tua berharap anak-anak mereka akan mempraktikkan perilaku yang baik di depan umum, para manajer dan pemimpin dalam lingkungan bisnis juga berharap para pengikutnya menjalankan apa yang telah direncanakan untuk mewujudkan gol tim maupun organisasi.

    Jadi, apa ciri-ciri pengikut yang baik?
    Pengikut yang baik paling baik digambarkan melalui hasil hubungan pemimpin-pengikut. Hasil yang sukses adalah ketika seorang pengikut dengan sengaja melaksanakannya dan, idealnya, meningkatkan visi pemimpinnya. Dan terkadang, yang diperlukan untuk menjadi pengikut yang baik adalah dengan mengingat definisi tersebut sehari-hari. Saat kita berada di posisi sulit dan mencoba memecahkan masalah serta memenuhi tenggat waktu, selalu mengingat tujuan utama pemimpin atau manajer perusahaan kita adalah suatu keharusan. Pada akhirnya, pada saat itulah pengikut yang baik menjadi hal yang paling penting.

    Menurut buku The Courageous Follower: Standing Up to and for Our Leaders karangan Ira Chaleff, pengikut yang baik memiliki karakteristik seperti ini.
    – Pengikut yang baik tidak mengelilingi pemimpinnya; pengikut dan pemimpin berputar bersama demi tujuan yang sama. Mereka bekerja dalam kemitraan yang berkomitmen pada nilai-nilai dan tujuan bersama.
    – Pengikut yang baik bergairah dengan pekerjaan mereka dan orang-orang yang mereka layani. Jika mereka kehilangan gairah terhadap pekerjaan dan organisasi, mereka tidak akan puas menerimanya sebagai hal yang normal.
    – Pengikut yang baik akan membela pemimpinnya ketika mereka menghadapi keluhan yang dibuat di belakang pemimpinnya. Namun mereka juga akan dengan hormat menantang seorang pemimpin jika mereka menyampaikan gagasan atau perilaku yang meragukan.
    – Pengikut yang baik akan berusaha untuk sadar diri dan mencari umpan balik mengenai kinerja mereka sehingga mereka dapat mengidentifikasi kekuatan dan area pertumbuhan.
    – Pengikut yang baik mungkin mempunyai kepentingannya sendiri, seperti pertumbuhan pribadi—tetapi mereka memastikan bahwa kepentingan mereka selaras dengan misi organisasi, bukan bersaing dengan misi tersebut.

    Bagaimana pemimpin bisa menjadi pengikut yang lebih baik?
    Kita dapat mulai dengan mengidentifikasi gaya kepengikutan kita. Ada berbagai alat yang dapat membantu dalam hal ini. Misalnya kita bisa menggunakan model Robert E. Kelley yang menampilkan lima gaya pengikut yang berbeda. Orang dapat mengidentifikasi gaya pengikutnya dengan memahami posisi mereka dalam dua kontinum yang berbeda: keterlibatan (dari pasif ke aktif) dan pemikiran kritis (dari ketergantungan ke independen).

    Pertama, pengikut panutan: Pengikut panutan mempunyai tingkat keterlibatan aktif yang tinggi dan tingkat pemikiran kritis independen yang tinggi. Ciri-ciri pengikut panutan antara lain kemauan untuk mengambil inisiatif, memberikan kritik yang membangun, memiliki rasa kepemilikan, dan memperjuangkan tujuan organisasi.
    Kedua, pengikut konformis: Pengikut konformis memiliki tingkat keterlibatan aktif yang tinggi tetapi tingkat pemikiran kritisnya lebih rendah. Mereka adalah “pelaku” aktif yang sering dianggap sebagai pemain tim. Mereka bersedia menerima tugas dan memercayai pemimpin, namun sering kali mereka lebih mementingkan kebutuhan organisasi daripada kebutuhan mereka sendiri.

    Ketiga, pengikut pasif: Pengikut pasif cenderung berada pada posisi paling bawah dalam hal keterlibatan dan pemikiran kritis. Mereka mengikuti pemimpinnya tanpa pertanyaan, namun membutuhkan arahan yang konsisten. Mereka mungkin adalah tipe orang yang meluangkan waktu, namun tidak lebih dari itu, dan mereka mungkin percaya bahwa organisasi dan para pemimpinnya tidak tertarik dengan ide-ide mereka.
    Keempat, pengikut yang teralienasi: Pengikut yang teralienasi memiliki tingkat pemikiran kritis independen yang tinggi namun keterlibatannya rendah. Mereka sering melihat diri mereka sebagai orang-orang dengan tingkat skeptisisme yang sehat, namun orang lain mungkin melihat mereka sebagai orang yang sinis dan bukan pemain tim. Mereka mungkin merasa pemimpinnya tidak sepenuhnya mengenali atau memanfaatkan bakat mereka.
    Kelima, pengikut pragmatis: Pengikut pragmatis memiliki tingkat keterlibatan dan pemikiran kritis yang moderat. Mereka mungkin merasa lingkungan kerja mereka penuh dengan ketidakpastian dan cenderung melihat apa yang terjadi sebelum mengambil tindakan. Mereka terkadang dianggap oleh orang lain sebagai orang yang memainkan permainan politik, namun mereka biasanya melihat diri mereka sebagai orang yang tahu cara menjalankan sistem untuk menyelesaikan sesuatu.
    Apakah kita menempatkan diri Anda pada kategori pengikut panutan? Banyak orang mengira mereka adalah pengikut panutan, padahal sebenarnya bukan. Kebanyakan orang orang cenderung menempatkan dirinya pada kategori pengikut panutan, tapi itu tidak realistis. Jika kita jujur pada diri sendiri tentang di mana kita akan bekerja, akan lebih mudah bagi kita untuk mengidentifikasi apa kebutuhan kita dan jenis lingkungan kerja apa yang cocok untuk kita.

    Kita perlu semakin memikirkan keterampilan dan kebutuhan orang-orang yang bekerja dengan kita. Alih-alih pengikut beradaptasi dengan pemimpinnya, pemimpin sebaiknya mengidentifikasi dan beradaptasi dengan kebutuhan dan nilai-nilai pengikutnya.

    Pengikut yang baik dan terampil mampu memupuk kepemimpinan yang baik, dengan secara tidak kasat mata membantu menjaga pemimpin pemula tetap tegak dan berada pada jalurnya. Ini adalah seni yang hilang di zaman narsistik kita.

    Kebanyakan orang yang secara alami tertarik pada peran kepemimpinan tidak memiliki kerendahan hati atau kesopanan yang kita inginkan dari seorang pemimpin. Dan sebagian besar orang-orang yang rendah hati dan baik yang mungkin ingin kita lihat dalam peran kepemimpinan dengan cepat merasa terbebani oleh ketegangan, kritik, dan sikap tidak berterima kasih dalam pekerjaan tersebut. Mereka segera mundur ke tempat yang aman atau berakhir meringkuk di sudut kantor. Dan hanya rekan-rekan mereka yang lebih kejam yang tersisa untuk bersaing demi supremasi.

    Jika kita ingin mempunyai harapan untuk mengubah hal ini, kita harus melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam membangun orang-orang yang bukan pemimpin alami namun memiliki kualitas yang dapat melayani organisasi dan komunitas kita.
    Epilog
    Di tengah semakin sengitnya persaingan di abad ini, mungkin kebanyakan orang ingin menjadi pemimpin. Yang perlu kita ingat, kita tidak perlu tumbang ketika dicaci, dan tidak tinggi hati ketika dipuji. Hanya sedikit orang yang memahami bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, pertama-tama kita harus menjadi pengikut yang baik. Seperti yang dikatakan Aristoteles, “Siapa yang tidak bisa menjadi pengikut yang baik, tidak bisa menjadi pemimpin yang baik.”
    Menjadi pengikut yang baik bukan berarti melaksanakan segala instruksi secara membabi buta. Tak mengherankan bila para pengikut di zaman sekarang lebih berkembang. Mereka dengan bijaksana memilih siapa yang mereka ikuti dan menjadikan pengikut sebagai bagian dari “kawah candradimuka”. Di tempat kerja yang semakin demokratis, di mana media sosial memberikan pengaruh yang semakin besar, para pengikut menjadi lebih berdaya dari sebelumnya.
    Robert Kelley, penulis The Power of Followership, membeberkan penelitian untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi hanya sebesar 20 persen. Jadi pengikut dapat mempengaruhi efektivitas organisasinya sebanyak 80 persen.
    Dengan kata lain, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa pengikut yang baik sama pentingnya dengan pemimpin yang baik. Jadi, sudahkah Anda menjadi pengikut yang baik? Siapkah Anda menjadi pemimpin yang hebat?

  • Literasi Keuangan Dimulai dari Keluarga

    Belakangan ini masyarakat dikejutkan dengan tingginya kredit macet di kalangan millennial. Berdasarkan temuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah pinjaman macet lebih dari 90 hari di industri financial technology peer-to-peer (P2P lending), atau yang dikenal dengan sebutan pinjol untuk kategori perseorangan telah mencapai angka Rp1,73 triliun per Mei 2023. Yang menarik, d generasi milenial atau mereka yang berusia 19-34 tahun menjadi “penyumbang” terbesar dari kredit macet tersebut.
    Berbagai pakar menyebutkan bahwa generasi milenial terlilit utang karena fenomena Fear of Missing Out (FOMO) alias ikut-ikutan tren agar merasa tidak “ketinggalan”. Sebagian pakar lain beranggapan bahwa literasi keuangan mereka rendah.
    Menurut penulis, keduanya benar. Generasi “Zaman Now” harus kita akui memang cenderung terimbas “virus” FOMO sebagai imbas masifnya penggunaan media sosial. Di sisi lain, literasi keuangan masyarakat Indonesia dapat dikatakan rendah. Mengapa itu bisa terjadi?
    Karena pendidikan finansial tidak diajarkan di sekolah. Padahal, siapa pun yang bekerja sebagai karyawan maupun yang berbisnis ingin mendapatkan apa yang disebut dengan kesuksesan. Sayangnya, mereka harus otodidak untuk mengelola keuangan. Entah mengikuti kursus, mendaftarkan diri pada program seminar ataupun mengikuti sertifikasi perencanaan keuangan.
    Perencanaan keuangan merupakan salah satu pilar untuk mewujudkan generasi yang mandiri dan berdaya. Rendahnya literasi keuangan hanya menjadikan generasi kita tidak dapat mewujudkan mimpi-mimpinya. Mulai dari membeli rumah, menyekolahkan anak-anak ke jenjang tertinggi, membeli produk asuransi, berinvestasi, bahkan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
    Untuk meningkatkan literasi keuangan, keluarga memegang peranan vital. Oleh karena itu, para orang tua perlu mengedukasi keuangan kepada putra-putrinya sesuai dengan tahapan perkembangannya.
    Nah, bagaimana cara mengedukasi keuangan yang efektif kepada buah hati kita? Berikut sejumlah strategi yang dapat diterapkan.
    Pertama, mendiskusikan topik keuangan secara terbuka. Ketika anak-anak kita sudah cukup besar untuk meminta uang, inilah saatnya untuk berbicara dengan mereka tentang realitas keuangan. Dengan membahas apa artinya menabung, membelanjakan, menyumbang, dan berinvestasi, kita akan membantu mereka mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang cara kerja uang di dunia nyata.
    Kita juga dapat mengajari mereka tentang penganggaran dengan mengatur jumlah uang saku mingguan atau bulanan yang harus mereka pertahankan. Membahas uang saku mingguan atau bulanan sebagai imbalan untuk pekerjaan rumah tangga adalah cara yang bagus untuk memulai anak kita dengan uang untuk dibelanjakan, dan pengetahuan tentang nilai Rupiah. Kita perlu memastikan bahwa diskusi tersebut tetap informatif dan positif sehingga mereka dapat mengingat pesan diskusi tersebut di sepanjang hidup mereka.
    Kedua, mencontohkan kebiasaan baik. Anak-anak belajar dari contoh, jadi penting bagi kita untuk menunjukkan kepada mereka kebiasaan belanja yang dapat mereka pelajari. Kita dapat menjelaskan mengapa kita membeli sesuatu dan  kapan waktu yang tepat untuk membeli secara impulsif atau menunggu sampai uang mereka terkumpul.
    Menunjukkan kepada anak-anak kita bagaimana mengembangkan kebiasaan belanja yang baik memberi mereka kepercayaan diri yang mereka butuhkan untuk sukses dengan uang dan mengembangkan literasi keuangan di kemudian hari. Anak-anak yang belajar keterampilan keuangan praktis di usia muda cenderung merasa nyaman membuat keputusan moneter yang lebih besar sendiri sebagai orang dewasa.
    Ketiga, mengajari anak cara membuat keputusan yang bijak.
    Mengajari anak-anak kita kekuatan pengambilan keputusan yang bijak adalah cara yang bagus untuk memastikan kesuksesan mereka dalam masalah keuangan di kemudian hari. Menjelaskan konsep seperti penundaan kepuasan, berinvestasi untuk masa pensiun, dan memahami risiko versus imbalan akan membantu mereka memahami tidak hanya cara membuat keputusan yang cerdas, tetapi juga mengapa keputusan itu harus dibuat.
    Ketika kita meluangkan waktu untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana menilai pengeluaran mereka dengan hati-hati dan merencanakan kebutuhan masa depan mereka, itu akan memberi mereka landasan yang kuat untuk mengelola uang mereka sendiri di masa dewasa dan meningkatkan literasi keuangan mereka. Mengajari anak-anak tentang manajemen keuangan yang bertanggung jawab dapat membantu mereka memahami pentingnya menyimpan uang daripada membuangnya.
    Keempat, memberikan tanggung jawab atas  uang mereka sendiri. Mengambil kepemilikan atas dana mereka sendiri memberi anak rasa kemandirian dan membantu memperkuat pelajaran dari percakapan di rumah tentang pengelolaan uang. Kita dapat memulai dengan menentukan tunjangan mingguan atau bulanan yang adil. Anak-anak dapat memperoleh uang saku dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, mengasuh adik, atau membantu tugas-tugas lain di rumah.
    Selanjutnya, kita dapat meminta mereka membuka rekening tabungan. Kita mendorong mereka untuk memasukkan uang saku ke dalam rekening tabungan. Anak-anak kemudian dapat melihat cara kerja perbankan, serta belajar menabung.
    Mengajari anak-anak kita keterampilan literasi keuangan dasar seperti membuat rencana pengeluaran, menabung, dan berinvestasi dapat membantu memastikan bahwa mereka membuat keputusan yang tepat ketika tiba waktunya untuk mengelola uang mereka sendiri. Selain itu, memberi contoh akan menunjukkan kepada anak-anak kita betapa bermanfaatnya praktik keuangan yang baik dalam jangka panjang. Dengan kesabaran dan dedikasi, di kemudian hari kita dapat mewujudkan generasi yang bertanggung jawab secara finansial.
  • Mengapa Buku Cetak Sulit Digantikan Ebook?

    Indonesia adalah salah satu negara dengan masyarakat “paling aktif” bermedia sosial di dunia. Tak mengherankan bila warganet tanah air senantiasa berhasil memviralkan sesuatu atau mencuri perhatian warganet dunia.
    Sayangnya, Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan budaya membaca terburuk di dunia. Harus diakui atau tidak, masyarakat kita lebih cenderung menyukai YouTube, menonton televisi, atau  “memelototi” media sosial.
    Sejalan dengan fenomena tersebut, industri perbukuan di nusantara kian memprihatinkan. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya toko buku yang berguguran hingga maraknya penjualan buku bajakan di marketplace.
    Di sisi lain, keberpihakan pemerintah untuk menyejahterakan penulis profesional juga jauh panggang dari api. Salah satu indikatornya adalah tingginya pajak royalti buku.
    Anak-anak zaman now menghabiskan berjam-jam saban hari untuk berselancar di dunia maya. Di saat yang bersamaan, hasrat generasi muda untuk membaca buku agaknya kian mengenaskan. Tak mengejutkan bila bangsa kita saat ini sangat mudah diadu domba, gampang “termakan” berita palsu (hoax), dan begitu aktif mengomentari apa saja meski minim pengetahuan.
    Mengapa Buku Kian Ditinggalkan?
    Sejatinya buku cetak maupun buku digital penuh dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Buku memiliki kemampuan untuk membiarkan imajinasi kita mengalir tanpa batas. Buku juga membantu kita mencapai wawasan dan perspektif baru. Bahkan seringkali membantu kita mengatasi situasi sulit dalam hidup kita.
    Sayangnya, budaya membaca di negeri kita belum beranjak baik meski sudah puluhan tahun terlepas dari era penjajahan. Hal ini agaknya diperparah dengan kuatnya budaya bertutur di berbagai daerah.

    Mengapa Budaya Membaca Buku (Cetak) Perlu Terus Digalakkan?

    Kita semua menyadari manfaat yang dapat kita peroleh dari membaca buku. Mulai dari  membantu meningkatkan keterampilan komunikasi dan kosa kata, meningkatkan daya ingat, memudahkan proses tidur hingga menghilangkan stres. Apa yang orang tidak sadari adalah manfaat membaca buku cetak dibandingkan buku digital (ebook).
    Pertama, meningkatkan konsentrasi. Membaca buku fisik terbukti meningkatkan konsentrasi anak-anak, yang mungkin sering terganggu saat membaca buku elektronik. Pasalnya, tingginya intensitas untuk beralih antar aplikasi dan gelombang notifikasi yang terus menerus dapat menyebabkan berkurangnya tingkat konsentrasi. Sebuah studi yang dilakukan dengan 400 mahasiswa di 5 negara berbeda menemukan bahwa 86% lebih suka membaca teks yang lebih panjang di media cetak, dengan 92% mengatakan itu meningkatkan konsentrasi mereka.
    Secara umum, buku cetak menawarkan lebih sedikit gangguan kepada pembaca. Dengan eReading, pengguna biasanya memiliki akses ke internet, dan oleh karena itu, jutaan potensi gangguan hanya dengan sekali klik.
    Pembaca digital memang lebih cenderung menghabiskan waktu untuk memindai kata kunci daripada memahami keseluruhan teks yang mereka konsumsi. Menurut temuan kajian yang dirilis Mental Floss, 67% siswa mengklaim bahwa mereka dapat melakukan banyak tugas dengan membaca secara digital, sementara hanya 41% yang menyatakan bahwa mereka dapat melakukan banyak tugas saat membaca buku cetak.
    Kedua, mengurangi ketegangan mata. Buku elektronik lebih cenderung menyebabkan ketegangan mata dibandingkan dengan buku cetak. E-book sering membuat mata kita terasa lelah, yang dapat mengakibatkan penglihatan kabur, kering, dan iritasi. E-book tidak hanya dapat menyebabkan ketegangan mata, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan kita untuk tidur. Sebuah temuan studi yang dilakukan oleh tim di Harvard Medical School mengungkapkan bahwa ketika membandingkan kemampuan pembaca e-book dan buku cetak untuk tidur, pembaca e-book membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur karena pancaran cahaya dari perangkat elektronik.
    Menurut Mayo Clinic, aktivitas yang membutuhkan perhatian langsung kita seperti melihat layar untuk sekolah atau pekerjaan, menyebabkan kita kurang berkedip. Semakin sedikit kita berkedip, semakin kering mata kita, yang secara langsung dapat memengaruhi penglihatan kita.

    Peningkatan waktu layar juga dapat menyebabkan Computer Vision Syndrome (CVS). Menurut American Optometric Association, CVS ini dapat mencakup gejala seperti kelelahan mata, penglihatan kabur, mata kering, bahkan nyeri leher dan bahu. Sindrom ini dapat berkembang dari penggunaan komputer, tablet, eReader, dan bahkan ponsel dalam waktu lama.

    Meskipun membaca dalam cahaya redup dapat menyebabkan kelelahan mata, buku cetak tidak memberikan tekanan yang sama pada mata kita seperti salinan digital. Karena banyak dari kita menghabiskan berjam-jam di depan layar sepanjang hari, membaca buku cetak bisa menjadi waktu yang tepat untuk mengistirahatkan mata kita.

    Ketiga, pengalaman yang lebih menyenangkan. Pengalaman membaca secara keseluruhan jauh lebih menyenangkan saat membaca buku cetak. Perangkat elektronik seperti Amazon Kindle mungkin terasa lebih nyaman bagi sebagian pembaca. Namun, banyak yang masih percaya bahwa membolak-balik halaman kertas atau mencoret-coret untuk menandai bagian yang penting sulit digantikan kepuasannya dengan canggihnya fitur Ebook Reader.
    Sebuah studi dari Oxfam yang melibatkan 2.000 responden di Inggris menemukan bahwa 46% orang menikmati pengalaman membalik halaman dan 42% lebih menyukai nuansa buku fisik di tangan mereka ketika dimintai pendapat tentang buku cetak vs e-book.
    Meskipun komunikasi digital kini menjadi aspek umum dalam kehidupan kita sehari-hari, tidak dapat disangkal bahwa kebutuhan akan buku kertas masih sangat terasa di era modern ini.
    Keempat, tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) melakukan studi internasional pada tahun 2018 yang menyelidiki perbedaan nilai ujian antara siswa yang terutama membaca buku cetak vs buku digital. Hasilnya luar biasa dan menunjukkan manfaat yang drastis bagi siswa yang terpaku pada buku cetak.
    Bahkan menurut hasil temuan yang dirilis Kqed, di antara siswa dengan latar belakang sosial ekonomi yang sama, mereka yang membaca buku dalam format kertas mencetak skor 49 poin lebih tinggi pada Program Penilaian Siswa Internasional, yang dikenal sebagai PISA. Itu sama dengan hampir 2,5 tahun belajar. Sebagai perbandingan, siswa yang cenderung lebih sering membaca buku di perangkat digital hanya mendapat skor 15 poin lebih tinggi daripada siswa yang jarang membaca – selisih pembelajaran kurang dari satu tahun.
    Seiring dengan nilai tes, pemahaman umum telah ditemukan jauh lebih baik dengan buku cetak. Menurut Science News Explore, dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2018 yang menganalisis lebih dari 171.000 pembaca, pemahaman membaca ditemukan lebih kuat dengan buku cetak daripada dengan teks digital.
    Kelima, membantu tidur lebih nyenyak. Banyak orang beralih ke membaca untuk bersantai setelah menjalani pekerjaan yang melelahkan dengan harapan  membantu mereka tertidur. Sayangnya, menggunakan perangkat digital untuk membaca sebelum tidur dapat menghambat siklus tidur kita. Pada tahun 2014, ilmuwan Harvard melakukan penelitian yang melibatkan peserta membaca sebelum tidur dengan buku cetak atau eReader. Studi mereka menemukan bahwa peserta yang menggunakan eReader membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur, merasa kurang lelah sebelum tidur, dan memiliki tingkat melatonin yang lebih tertekan daripada mereka yang membaca buku cetak. Ditemukan juga bahwa kualitas tidur ini, lebih buruk pada orang yang menggunakan pembaca digital. Pembaca digital juga melaporkan kesulitan untuk bangun keesokan paginya.
    Keenam, sederhana. Salah satu manfaat terbesar dan paling mendasar dari buku cetak adalah buku-buku itu membuat semuanya tetap sederhana. Mereka dapat dibaca dalam cahaya apa pun, tanpa harus khawatir tentang silau dari matahari atau pantulan. Mereka tidak memerlukan baterai, pengisi daya, internet, atau sumber daya tambahan apa pun.  Karena kesederhanaannya, buku cetak membantu kita fokus hanya pada apa yang kita baca. Ini tentu berbeda dengan membaca buku digital yang “hanya” mengandalkan unsur kepraktisan.
    Ketujuh, merekatkan hubungan emosional. Aspek sentimental dari buku cetak adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Ada perasaan yang sangat istimewa terkait dengan meminjamkan buku kepada teman yang tidak bisa kita tinggalkan. Bagi banyak orang, perpustakaan adalah tempat yang aman dan nyaman yang membangkitkan kenangan indah. Penelitian telah menunjukkan bahwa pada umumnya orang membuat lebih banyak hubungan emosional dan psikologis dengan buku kertas fisik dibandingkan digital. Ini bisa jadi karena nuansa, aroma, catatan yang mereka coret di pinggir, halaman yang mereka tandai, dan bahkan toko tempat mereka membeli buku. Keterikatan keseluruhan pada buku fisik tidak dapat disangkal dan tidak dapat direplikasi atau diganti oleh eReader.
    Nah, bagaimana dengan Anda?
    Kapan terakhir Anda membaca buku cetak?
    Seberapa sering Anda membaca ebook?
    Terlepas dari buku cetak atuapun Ebook yang lebih kita sukai, sejatinya tidak menjadi permasalahan. Yang perlu kita bangun adalah kebiasaan membaca buku agar kita tetap “waras”.
    “Buku adalah jendela dunia.” Agaknya ungkapan ini harus senantiasa kita sampaikan kepada generasi muda yang sejak kecil sudah dimudahkan (tapi juga terperdaya) oleh internet.
  • Mengapa Kita Perlu Detoks Media Sosial?

    “Aku sudah tak aktif bermedia sosial sekarang, semua akunku sudah kuhapus!”
    “Lagi hibernasi dari media sosial, entah kapan lagi aku akan aktif!”
    “Aku sih masih aktif memakai media sosial, tapi sehari saya batasin 30 menit saja!”
     
    Tiga pernyataan di atas saya terima dari tiga teman lama yang saya ketahui belakangan terlihat kurang aktif menggunakan media sosial. Saya sendiri juga pernah “hibernasi” dari media sosial pada kurun 2016-2017 karena satu dan lain hal. Namun kini sudah aktif lagi. 
     
    Setelah saya amati, kini memang semakin mudah menemukan orang-orang di sekitar kita yang memutuskan untuk “detoks media sosial.” Apa itu detoks media sosial?
     
    Detoks media sosial berarti kita “menjauh” dari media sosial untuk sementara waktu. Sebagian orang ada yang non-aktif selama seminggu, sebulan, atau beberapa bulan. Sebagian lainnya mungkin memutuskan lebih lama lagi periode hibernasinya dengan alasan menjaga kesehatan mental. 
     
    Kapan sebaiknya kita memutuskan untuk detoks media sosial?
    Tentu saja menyesuaikan kebutuhan masing-masing. Hanya saja, ada sejumlah indikator yang sebaiknya kita harus segera  menjauh dari media sosial untuk sementara waktu. Misalnya kita merasa iri, FOMO, merasa tidak aman ketika membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain, atau kesulitan tidur di malam hari karena sibuk menikmati (lebih tepatnya diperdaya oleh) media sosial
     
     
    Apa manfaat detoks media sosial?
    Dalam temuan riset yang diterbitkan oleh Libyan Journal of Medicine menunjukkan bahwa sebagian besar merasakan manfaat kesehatan mental dari berhenti menggunakan media sosial. Secara lebih detil, detoks media sosial berfaedah untuk kesehatan karena sejumlah hal berikut. 
     
    Pertama, mood atau suasana hati yang membaik. Hasil temuan berbagai penelitian menunjukkan tentang detoks media sosial yang berkorelasi dengan orang yang merasa lebih baik saat istirahat.
     
    Kedua, kecemasan yang menurun. Salah satu manfaat paling signifikan dari detoksifikasi media sosial adalah meredakan kecemasan.
     
    Ketiga, kualitas fokus yang semakin baik. Di abad digital ini, harus kita akui bahwa kita begitu mudah teralihkan karena membanjirkan informasi. Berlama-lama di media sosial tanpa tujuan yang jelas justru membuat fokus kita memburuk. Itu artinya, dengan menjuahkan diri dari media sosial, kualitas fokus kita akan membaik.
     
    Keempat, meningkatkan kreativitas.  Dengan “puasa” media sosial kita berpeluang menjadi jauh lebih kreatif. Kita bisa memiliki waktu lebih banyak untuk mencoba hobi baru.
     
    Kelima, menghindari FOMO. Menjauhkan diri dari media sosial membuat kita fokus kepada diri sendiri. Kita tidak terpancing untuk “mengamati” pencapaian orang lain. Sehingga, kita bisa menghindari Fear of Missing Out (FOMO) yang belakangan sering dikeluhkan oleh milenial dan Gen Z. 
     
    Keenam, koneksi sosial yang lebih kuat. Dengan detoks media sosial, kita bisa menjalin hubungan sosial sesungguhnya. Sebagaimana temuan riset yang diterbitkan oleh International Journal of Environmental Research and Public Health. 
     
    Ketujuh,  kualitas tidur meningkat. Berdasarkan temuan riset yang diterbitkan oleh Iranian Journal of Psychiatry, kualitas tidur kita menurun jika penggunaan media sosial kita meningkat. Oleh karena itu, dengan tidak “bermain” media sosial, kualitas tidur kita bisa semakin membaik. 
     
    Kedelapan, mengurangi kelelahan mata. “Memelototi” media sosial secara berlebihan bisa merugikan mata kita. Lagi pula, kita bisa berpotensi pusing dan tegang karenanya. Detoks media sosial membuat mata kita lebih sehat. 
     
    Lantas, bagaimana cara melakukan detoks media sosial?
    Pertama, mengurangi penggunaan media sosial secara bertahap. Menurut temuan riset yang dipublikasikan oleh Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking; semakin lama waktu yang kita habiskan di media sosial setiap hari, semakin sulit bagi kita untuk mewujudkan detoks media sosial. 
     
    Kedua, mematikan notifikasi. Cara ini bisa mengurangi hasrat kita untuk memeriksa media sosial secara membabi buta. 
     
    Ketiga, mengurangi platfrom yang digunakan. Jika kita merasa kesulitan untuk benar-benar menjauhkan diri dari segala jenis platform, kita bisa memilih atau menyisakan satu jenis media sosial untuk kita gunakan. 
     
    Keempat, membuat jadwal memakai media sosial secara rutin. Misalnya  jika kita membatasi bermedia sosial 2x setiap hari pada jam tertentu saja. Artinya, kita jangan sampai menggunakannya di luar dari jam waktu yang ditentukan. 
    Kelima, melakukan refleksi diri. Saat kita berkomitmen mengurangi waktu (atau hibernasi sementara waktu dalam) bermedia sosial, kita perlu merenungkannya setiap hari. Apakah ada manfaat atau perbedaannya dibandingkan kita menggunakannya sesuka hati?  Refleksi diri merupakan kunci dari setiap perubahan perilaku.
    Epilog
    Meskipun tidak ada salahnya mengecek media sosial secara rutin, detoks sosial media adalah cara yang baik untuk meningkatkan kesehatan mental dan fisik kita. Ini khususnya jika kita menghabiskan berjam-jam waktu bermedia sosial setiap harinya.
    Jika kita ingin mencoba detoks media sosial, kita bisa mulai menjauhinya selama seminggu atau sebulan. Perhatikan bagaimana perasaan kita dan berusahalah untuk menghabiskan lebih banyak waktu secara pribadi dengan teman dan keluarga.
    Saya yakin, hidup jauh lebih menyehatkan dan membahagiakan tanpa media sosial. Karena saya sudah membuktikannya.
    Bagaimana dengan Anda?
    Siap mencoba?