Category: Blog

  • Managing Oneself ala Peter Drucker: Pelajaran untuk Semua, dari Pengusaha hingga Mahasiswa

    “Gue kayaknya ga ngerti deh, kenapa hidup gue gini-gini aja?”
    “Iya nih, gue udah kerja keras, tapi kok tetep stuck ya?”
    “Jadi diri sendiri itu penting, tapi gimana caranya?”

    Mungkin kamu pernah berpikir seperti ini, atau malah sering. Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tantangan, kadang kita butuh waktu untuk berhenti sejenak dan berpikir: Apakah saya sudah memanfaatkan potensi diri dengan baik?

    Nah, kalau pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul dalam pikiran kamu, buku Managing Oneself karya Peter Drucker bisa jadi jawabannya. Buku kecil yang simpel, tapi isinya dalam banget. Bahkan buat kamu yang masih mahasiswa, pekerja kantoran, pengusaha muda, atau konsultan, prinsip-prinsip dalam buku ini bisa banget diterapkan.

    Tapi, apa sih yang bisa dipelajari dari buku ini? Yuk, kita bahas satu per satu.

    1. Kenali Kekuatan dan Kelemahan Diri Sendiri

    Drucker mengingatkan kita untuk mengenal diri kita lebih dalam—baik kekuatan maupun kelemahan kita. Gimana bisa sukses kalau kita nggak tahu apa yang kita bisa dan nggak bisa? Misalnya, seorang pengusaha bisa jadi ahli dalam mengelola produk, tapi kalau nggak paham soal keuangan, ya nggak akan maksimal. Begitu juga dengan karyawan atau mahasiswa, jangan hanya fokus pada satu aspek yang kita kuasai, tapi lihat juga area-area yang perlu diperbaiki.

    Riset menunjukkan bahwa orang-orang yang sukses biasanya memiliki self-awareness yang tinggi, atau kemampuan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan mereka (Harvard Business Review, 2017). Salah satu contohnya, ada studi dari Gallup yang mengungkapkan bahwa 2 dari 3 pekerja tidak tahu kekuatan utama mereka. Ini bukan cuma masalah individu, tapi juga masalah organisasi.

    Contoh Studi Kasus: Misalnya, kamu seorang karyawan di startup, dan kamu tahu kamu jago banget bikin ide baru. Tapi ketika tiba waktunya untuk eksekusi, kamu malah nggak fokus dan sering terganggu. Kalau kamu nggak mengenali kelemahan ini—misalnya, kurang disiplin dalam jadwal—maka itu akan menghambat kemajuan kamu.

    2. Fokus pada Gaya Belajar dan Bekerja yang Sesuai

    Drucker juga mengajarkan kita untuk tahu gaya belajar dan bekerja kita sendiri. Setiap orang itu unik. Ada yang lebih produktif di pagi hari, ada juga yang lebih kreatif di malam hari. Ada yang belajar lebih cepat lewat praktik, ada yang lebih mudah lewat teori.

    Untuk para mahasiswa, ini penting banget. Jangan paksakan diri kamu untuk belajar dengan cara yang nggak sesuai dengan cara belajar kamu. Misalnya, kalau kamu lebih paham lewat diskusi, kenapa nggak coba bikin kelompok belajar?

    Studi dari The Learning Pyramid menunjukkan bahwa pembelajaran aktif seperti diskusi, ajar mengajar, dan praktik langsung bisa meningkatkan retensi informasi hingga 75%. Sedangkan, cara pasif seperti mendengarkan kuliah hanya meningkatkan pemahaman sekitar 5%.

    Best Practice: Penting juga untuk mengetahui kapan waktu terbaik untuk bekerja. Misalnya, kalau kamu merasa lebih kreatif pas pagi hari, manfaatkan waktu itu untuk tugas-tugas yang membutuhkan ide brilian, sementara di sore hari, fokus pada pekerjaan yang lebih rutin.

    3. Mengatur Waktu dan Prioritas

    Waktu itu nggak bisa dibeli, tapi bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Drucker menekankan pentingnya manajemen waktu yang efektif. Buat kamu yang merasa selalu kehabisan waktu untuk melakukan hal-hal yang penting, ini saatnya untuk mengubah cara kamu melihat waktu.

    Penelitian dari The Productivity Project oleh Chris Bailey menunjukkan bahwa orang yang berhasil mengelola waktu dengan baik biasanya tahu benar prioritas apa yang harus mereka kerjakan terlebih dahulu. Mereka membuat to-do list yang jelas, menghindari distraksi, dan selalu memberi batas waktu pada setiap tugas.

    Contoh Kasus: Bayangin seorang pengusaha di Jakarta yang punya banyak klien dan harus membuat keputusan bisnis setiap hari. Kalau dia nggak bisa memprioritaskan pekerjaan yang paling penting (misalnya, meeting dengan klien besar), bisa jadi fokusnya terpecah dan usahanya jadi terhambat. Ini jadi pelajaran besar buat kita semua: prioritas itu penting banget!

    Takeaways dari Managing Oneself oleh Peter Drucker

    1. Self-awareness adalah kunci sukses. Kenali kekuatan dan kelemahanmu, dan terus berkembang.
    2. Sesuaikan cara belajar dan bekerja dengan gaya pribadi. Cari cara yang paling efektif buat kamu supaya bisa lebih produktif.
    3. Manajemen waktu itu sangat penting. Jangan biarkan waktu mengendalikan kamu. Prioritaskan hal-hal yang penting dan jangan takut untuk bilang tidak pada hal yang nggak perlu.

    Kalau kamu merasa artikel ini bermanfaat, jangan lupa like, comment, dan share supaya lebih banyak orang yang bisa belajar bareng dari Managing Oneself. Siapa tahu, langkah kecil ini bisa membawa perubahan besar dalam hidupmu!

  • What Color is Your Parachute? – Bukan Cuma Tentang Warna, Tapi Tentang Mencari Tujuan Hidup

    “Eh, kamu tahu nggak sih tentang buku What Color is Your Parachute? Itu loh, yang katanya bisa bantu kita banget dalam menentukan karir, bahkan hidup kita ke depan.”

    “Iya, gue pernah denger. Itu kayaknya buku legend banget buat yang lagi bingung mau kerja apa, kan?”

    “Bener banget! Tapi nggak cuma buat yang mau nyari kerja aja, loh. Ini buku juga ngebahas gimana kita bisa ngerti potensi diri kita, supaya nggak cuma sekadar kerja, tapi kerja yang punya arti.”

    Ya, itulah gambaran singkat tentang What Color is Your Parachute?, sebuah buku fenomenal yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1970 oleh Richard N. Bolles. Buku ini sudah terjual lebih dari 10 juta kopi di seluruh dunia dan tetap relevan sampai sekarang. Dulu, buku ini lebih dikenal sebagai panduan untuk mencari pekerjaan, namun ternyata What Color is Your Parachute? jauh lebih dari itu. Ia memberikan cara bagi siapa saja—baik pengusaha, karyawan, konsultan, mahasiswa, atau masyarakat umum—untuk mencari makna dalam karir mereka.

    1. Menemukan “Parasut” yang Tepat: Menyadari Apa yang Membuatmu Berbeda

    Salah satu hal pertama yang bisa kita pelajari dari buku ini adalah pentingnya mengenali kekuatan dan minat kita sendiri. Bolles menyebutnya sebagai “parasut”, yaitu metafora untuk karir atau pekerjaan yang sesuai dengan diri kita. Tapi, kamu mungkin bertanya-tanya: bagaimana sih cara menemukan “parasut” itu?

    Di sinilah riset dan pengalaman hidup kita berperan. Ada banyak alat yang bisa membantu kita mengidentifikasi minat dan kekuatan, salah satunya adalah tes minat dan kepribadian seperti Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) atau StrengthsFinder. Studi yang dilakukan oleh Gallup pada 2018 menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja sesuai dengan kekuatan mereka memiliki peluang 6 kali lebih besar untuk merasa terlibat dalam pekerjaan mereka, yang tentu saja berbanding lurus dengan produktivitas yang lebih tinggi.

    Sebagai contoh, misalnya ada seorang karyawan bernama Dika yang merasa terjebak dalam rutinitas kerja yang monoton. Setelah mengikuti beberapa tes kepribadian, Dika menyadari bahwa dia lebih cocok bekerja dalam lingkungan yang dinamis dan memerlukan kreativitas. Dengan informasi ini, Dika bisa mengeksplorasi peluang lain yang lebih sesuai dengan kepribadiannya, misalnya bekerja di bidang pemasaran atau digital marketing yang lebih menantang.

    2. Menyesuaikan Parasut dengan Lingkungan dan Tren yang Ada

    Setelah mengetahui minat dan keahlian kita, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan “parasut” dengan realitas dunia kerja yang ada. Menurut riset yang diterbitkan oleh McKinsey Global Institute pada tahun 2020, dunia kerja kini semakin dipengaruhi oleh tren teknologi, otomatisasi, dan globalisasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.

    Sebagai contoh, ada kisah seorang konsultan bernama Rina yang bekerja di industri keuangan. Di tengah perubahan pesat dalam dunia teknologi, Rina merasa takut tertinggal oleh kemajuan teknologi seperti blockchain dan kecerdasan buatan. Untuk itu, dia mengikuti berbagai pelatihan dan sertifikasi dalam bidang teknologi untuk meningkatkan kemampuannya dan menjaga relevansi dalam pekerjaan.

    3. Mengubah Perspektif: Karir Sebagai Proses, Bukan Tujuan

    Salah satu pelajaran penting dari What Color is Your Parachute? adalah bahwa karir bukanlah sesuatu yang statis atau hanya berfokus pada pekerjaan yang kita lakukan sekarang. Karir adalah sebuah perjalanan yang terus berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu. Buku ini mengajarkan kita untuk melihat karir sebagai proses berkelanjutan yang penuh dengan kemungkinan, bukan hanya sekadar mencari pekerjaan yang ‘ideal’. Konsep ini mengingatkan kita pada teori growth mindset yang dikemukakan oleh Carol Dweck, yang menyatakan bahwa kemampuan kita tidak terbatas, dan kita bisa terus berkembang jika mau berusaha.

    Penting juga untuk mengingat bahwa kadang-kadang kita harus berani beradaptasi atau bahkan mengganti arah karir. Seperti halnya sebuah cerita sukses dari seorang pengusaha Indonesia bernama Farah, yang awalnya bekerja di perusahaan multinasional di bidang keuangan, namun setelah beberapa tahun merasa tidak puas dengan pekerjaannya. Farah memutuskan untuk keluar dan membuka usaha di bidang fashion online. Dengan kerja keras dan ketekunan, bisnis Farah berkembang pesat, dan ia kini menjadi seorang pengusaha sukses yang bisa menginspirasi banyak orang.

    4. Best Practices dan Lessons Learned: Konsistensi dan Pembelajaran Berkelanjutan

    Berdasarkan pengalaman banyak orang, ada beberapa best practices yang bisa kita ambil dari buku ini dan juga dari temuan-temuan riset yang relevan:

    • Jangan takut untuk mulai kecil: Banyak orang yang merasa terjebak di pekerjaan yang tidak mereka sukai, tapi mereka takut untuk memulai dari awal. Padahal, seringkali langkah pertama adalah yang paling sulit, dan setiap perubahan memerlukan waktu.
    • Terus belajar dan berkembang: Dunia berubah begitu cepat, jadi sangat penting untuk terus mengembangkan keterampilan baru. Dari konsultan hingga pengusaha, semua orang yang sukses selalu berinvestasi dalam diri mereka sendiri.
    • Kelola ekspektasi dan realitas: Ketika memilih karir, kita perlu realistis dengan apa yang bisa kita capai dan dengan tantangan yang mungkin muncul. Jangan lupa untuk menjaga keseimbangan antara aspirasi dan kenyataan.

    5. Studi Kasus di Indonesia: Transformasi Karir di Era Digital

    Di Indonesia, kita bisa lihat contoh nyata bagaimana What Color is Your Parachute? dapat diterapkan. Banyak pekerja muda yang kini beralih ke industri digital setelah sebelumnya bekerja di sektor tradisional. Misalnya, seorang lulusan ilmu hukum yang awalnya bekerja sebagai pengacara, kemudian beralih menjadi seorang digital marketer atau content creator. Perubahan ini bukan tanpa alasan; mereka menyadari bahwa dunia digital memberikan banyak peluang yang lebih sesuai dengan minat dan bakat mereka.

    Kesimpulan: Gimana “Parasut” Kamu?

    Jadi, apa warna “parasut” kamu? Apakah kamu sudah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan nilai-nilai hidupmu? Buku What Color is Your Parachute? mengajarkan kita untuk nggak cuma mencari pekerjaan, tapi mencari tujuan hidup yang lebih besar. Pekerjaan itu harusnya lebih dari sekadar mencari uang—tapi juga tentang menemukan kepuasan dan makna.

    Nah, buat kamu yang lagi bingung menentukan arah hidup atau karir, coba deh buka buku ini. Kalau udah baca, jangan lupa share pendapat kamu di komentar! Dan kalau artikel ini bermanfaat, jangan ragu untuk like dan share ke teman-temanmu yang mungkin lagi butuh pencerahan.

    Tunggu apa lagi? Ayo temukan warna “parasut” kamu!

  • Review Buku: How to Win Friends and Influence People oleh Dale Carnegie

    How to Win Friends and Influence People: Pelajaran Hidup Buat Semua Orang!

    “Bro, gue lagi baca buku keren nih, How to Win Friends and Influence People! Gila, ini ngubah banget cara gue ngeliat orang!”
    “Buku klasik itu ya? Gue juga pernah denger, katanya sih buat komunikasi jadi lebih smooth, ya?”
    “Iya, bro! Bukan cuma buat komunikasi, tapi buat jadi pribadi yang lebih ngerti orang lain. Gua yang dulunya introvert, sekarang bisa ngobrol sama siapa aja, bahkan ketemu klien gede pun jadi nggak canggung!”
    “Wah, gitu ya? Pasti banyak banget tips-nya. Boleh pinjam tuh bukunya!”

    Kalau kamu sempat nanya, “Kenapa sih buku yang udah tua banget ini masih relevan sampai sekarang?” Jawabannya simpel: Karena prinsip-prinsip dasar dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan tetap berlaku di segala zaman. How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie bukan hanya sekadar buku tips biasa, tetapi sebuah panduan hidup yang bisa membantu siapa saja—baik pengusaha, karyawan, konsultan, mahasiswa, atau masyarakat umum—untuk lebih sukses dalam berinteraksi dengan orang lain.

    1. Membangun Hubungan yang Otentik: Kunci Sukses dalam Dunia Bisnis

    Apakah kamu pengusaha yang baru merintis usaha atau karyawan yang ingin naik jabatan, buku ini menawarkan strategi penting yang harus kamu kuasai: membangun hubungan yang tulus. Menurut Carnegie, orang lebih suka bekerja sama dengan mereka yang bisa membuat mereka merasa dihargai, bukan hanya sekadar memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi.

    Studi Kasus di Indonesia: Bayangkan kamu seorang pemilik bisnis yang baru saja membuka kafe kecil di Jakarta. Kamu bisa saja fokus hanya pada kualitas kopi dan makanan, tetapi bagaimana jika kamu juga memperhatikan cara kamu berbicara dengan pelanggan? Menurut penelitian oleh Harvard Business Review, pelanggan cenderung kembali ke tempat yang memberikan pengalaman positif secara emosional. Nah, itulah mengapa menjadi pendengar yang baik dan memberikan pujian tulus itu penting! Dengan prinsip ini, pemilik kafe tadi bisa menciptakan atmosfer yang menyenangkan, di mana pelanggan merasa dihargai, dan hubungan itu pun berkembang menjadi loyalitas yang akhirnya menguntungkan bisnisnya.

    2. Persuasi dengan Empati: Menghindari Konfrontasi

    Tidak sedikit orang yang takut berkonfrontasi atau canggung ketika harus menyampaikan pendapat yang berbeda. Carnegie mengajarkan kita untuk menggunakan pendekatan yang lebih empatik dan menghindari kritikan langsung. Alih-alih mengatakan “Lo salah!” lebih baik mengatakan, “Ada cara lain yang mungkin bisa kita coba…” atau “Saya paham apa yang kamu rasakan, tapi bagaimana kalau kita pertimbangkan ini…?”

    Riset dan Pandangan Pakar: Menurut penelitian dari American Psychological Association, konfrontasi yang kasar dan tidak empatik justru sering menyebabkan hubungan menjadi tegang dan bisa merusak kolaborasi. Sebaliknya, pendekatan yang lebih diplomatis dan empatik justru lebih efektif dalam menjaga hubungan jangka panjang.

    Contoh di Dunia Kerja: Bayangkan kamu seorang konsultan yang bekerja dengan klien korporat besar di Indonesia. Di satu titik, klien memberi feedback negatif terhadap rekomendasi yang kamu berikan. Daripada melawan atau merasa tersinggung, coba deh gunakan pendekatan yang lebih lembut, seperti: “Terima kasih atas masukannya. Kalau boleh tahu, apa yang kurang cocok dengan usulan saya? Kita bisa brainstorm bersama untuk menemukan solusi yang lebih pas.” Cara ini menunjukkan bahwa kamu mendengarkan dan menghargai pendapat klien, bukan cuma memaksakan ide kamu.

    3. Menghargai Orang Lain: Kekuatan Pujian yang Tulus

    Pernah nggak sih kamu merasa senang banget pas ada yang ngasih pujian tulus? Misalnya, kalau lagi presentasi dan seseorang bilang, “Wah, lo keren banget bisa jelasin materi itu dengan mudah!” Pujian yang tulus itu bisa bikin kita lebih percaya diri, kan? Ini yang dimaksud Carnegie. Pujian bukan cuma soal memuji, tetapi juga soal memberi pengakuan yang tulus dan spesifik atas usaha atau kelebihan orang lain.

    Best Practice: Seorang pengusaha muda di Bali, yang baru memulai bisnis online shop-nya, sering banget mengirim pesan pribadi ke pelanggan untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan mereka. Alih-alih sekadar mengucapkan terima kasih, ia menyertakan pujian spesifik, seperti, “Saya sangat menghargai cara kamu memilih produk yang sangat cocok dengan selera kamu, itu menunjukkan betapa detailnya kamu dalam memilih.” Tindakan sederhana ini ternyata berhasil meningkatkan loyalitas pelanggan dan bahkan mendatangkan referral lebih banyak.

    3 Takeaways yang Bisa Kamu Dapetin dari Buku Ini:

    1. Jadilah Pendengar yang Baik – Jangan cuma nunggu giliran bicara, tapi dengerin dan benar-benar pahami apa yang orang lain katakan. Orang suka banget kalau mereka merasa didengarkan.
    2. Jaga Hubungan dengan Empati – Kalau ada perbedaan pendapat, hindari konfrontasi langsung. Coba lihat dari sudut pandang orang lain dan sampaikan dengan cara yang lebih bijak.
    3. Berikan Pujian yang Tulus dan Spesifik – Semua orang suka dihargai. Jadi, jangan pelit-pelit buat kasih pujian yang tulus, apalagi kalau itu memang pantas diberikan.

    Secara keseluruhan, buku ini bukan cuma buat orang yang ingin jadi lebih pinter ngomong. Buku ini ngajarin kita untuk menjadi pribadi yang lebih paham, lebih sabar, dan lebih empatik. Hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele, seperti mendengarkan dengan baik atau memberi pujian tulus, ternyata punya dampak besar buat hubungan kita di dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.

    So, buat kamu yang pengen banget jadi jagoan dalam hal komunikasi dan pengaruh, How to Win Friends and Influence People bisa jadi panduan hidup yang cocok banget!

    Kalau menurut kamu artikel ini bermanfaat, jangan lupa like, comment, atau share, ya! Siapa tahu teman kamu butuh tips ini juga! ✨

  • Never Eat Alone”: Pelajaran tentang Koneksi yang Bisa Bikin Kamu Sukses, Nih!

    “Eh, udah makan siang belum? Gimana kalau kita makan bareng?”
    “Yuk, ayo, kebetulan lagi butuh ngobrolin bisnis nih.”

    Pernah nggak kamu denger kalimat-kalimat kayak gitu? Kalau kamu sering diajak makan bareng orang-orang yang punya tujuan atau misi tertentu—baik untuk karier atau hubungan sosial—mungkin kamu udah ngerasain pentingnya networking. Tapi, sebenarnya, apa sih manfaatnya kalau kita sering makan bareng orang-orang ini?

    Buku Never Eat Alone karya Keith Ferrazzi bakal jawab semua pertanyaan itu, sekaligus buka mata kamu tentang betapa berharganya koneksi yang kita bangun dalam hidup ini.

    Apa Sih, Sebenernya “Never Eat Alone”?

    Kalau dibahas dalam konteks sederhana, buku ini ngajarin kita buat nggak pernah makan sendirian, terutama kalau makan itu bisa jadi kesempatan buat ngobrol dan nambah relasi. Tapi lebih dari itu, buku ini nyarankan kita buat aktif membangun jaringan, nggak cuma untuk kepentingan pribadi, tapi juga untuk memberikan manfaat buat orang lain. Intinya, sukses bukan cuma soal usaha sendiri, tapi tentang seberapa banyak orang yang kita bantu, dan sebaliknya, seberapa banyak orang yang mau bantu kita.

    Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Buku Ini

    1. Networking itu bukan cuma tentang “jual diri”

    Banyak orang, terutama yang introvert atau baru mulai karier, berpikir kalau networking itu cuma soal nyari orang buat ngajak kerja sama atau cari peluang bisnis. Padahal, Ferrazzi bilang, networking itu lebih ke tentang membangun hubungan yang saling menguntungkan. Kalau kamu cuma fokus pada “minta”, nggak bakal jalan. Coba deh, bantu orang lain tanpa mikirin apa yang balik buat kamu. Bisa jadi, di kemudian hari, bantuan itu kembali ke kamu dengan cara yang tak terduga.

    2. Jangan takut untuk mulai duluan

    Dalam buku ini, Ferrazzi juga menceritakan banyak pengalaman dirinya yang nggak ragu untuk nyapa orang baru atau ngajak makan orang yang lebih senior. Kalau kita, misalnya, cuma nunggu orang lain dulu yang ngajak atau takut ditolak, ya kita nggak akan maju. Misalnya, kalau kamu mahasiswa, nggak ada salahnya deketin dosen atau alumni buat ngobrol dan tanya-tanya tentang peluang di dunia kerja. Siapa tahu, mereka bisa jadi mentor kamu!

    3. Jadikan Momen Makan itu Produktif

    Nah, poin ini bener-bener seru. Ferrazzi ngajarin kita bahwa makan bersama bisa jadi kesempatan untuk belajar, ngobrolin proyek, atau sekedar berbagi pengalaman. Di Indonesia, budaya makan bareng udah jadi hal yang lumrah, baik di kantor, keluarga, atau bahkan temen-temen kampus. Jadikan itu momen produktif, bukan cuma sekedar makan sambil ngegosip. Coba aja, kalau kamu lagi ngobrol tentang ide bisnis atau hal-hal baru yang bisa jadi peluang, pasti jauh lebih bermanfaat!

    4. Follow-up itu Kunci

    Jangan cuma berhenti di makan bareng atau ngobrol aja, lho. Salah satu hal penting yang diajarkan Ferrazzi adalah follow-up. Ini yang sering terlupakan. Misalnya, setelah makan atau ngobrol, kirim email atau pesan untuk terima kasih dan lanjutkan pembicaraan. Itu bakal ningkatin hubungan dan menunjukkan kalau kamu serius. Pernah nggak sih, setelah ketemu orang baru, kamu cuma diem aja tanpa ada tindak lanjut? Nah, itu bisa bikin hubungan yang kamu bangun jadi sia-sia.

    Studi Kasus: Networking ala Pengusaha Indonesia

    Kamu pasti tau deh, banyak pengusaha Indonesia yang sukses karena koneksi yang mereka bangun. Salah satunya, William Tanuwijaya, CEO Tokopedia. Ia sering menekankan betapa pentingnya memiliki relasi yang luas, terutama di dunia digital. Dalam beberapa wawancara, ia pernah bilang kalau kunci sukses Tokopedia adalah “menjalin relasi yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak”, mulai dari investor, pengguna, hingga partner bisnis.

    Coba pikir, kalau William nggak aktif mengembangkan jaringan dan menjaga hubungan baik dengan partner dan investor, mungkin Tokopedia nggak akan jadi seperti sekarang. Jadi, jangan anggap enteng koneksi yang kamu punya. Coba bangun hubungan yang baik, apalagi buat kamu yang sedang merintis bisnis atau karier.

    Best Practices: Apa yang Bisa Kamu Terapkan?

    1. Buat Daftar Kontak dan Prioritaskan Mereka Sering kali kita punya banyak orang di daftar kontak, tapi nggak tahu siapa yang bisa bantu kita di saat-saat tertentu. Mulailah dari daftar kontak yang relevan, dan kenali siapa yang bisa kamu bantu, dan siapa yang bisa bantu kamu. Kamu juga bisa menyusun agenda makan atau ngobrol dengan mereka, tanpa harus menunggu ada kesempatan besar dulu.
    2. Jadilah Pendengar yang Baik Kalau kamu cuma ngomong tentang dirimu sendiri terus, orang bakal bosan. Jadilah pendengar yang baik. Cobalah untuk memahami kebutuhan dan cerita orang lain, karena siapa tahu dari situ kamu bisa dapet insight atau peluang yang nggak terduga.
    3. Kolaborasi dalam Kegiatan Sosial Di Indonesia, banyak kegiatan sosial atau acara yang bisa jadi tempat buat ketemu orang baru. Misalnya, ikut acara komunitas, seminar, atau kegiatan amal. Ini bisa jadi kesempatan untuk mengenal orang-orang yang punya visi dan misi yang sama.

    Epilog

    Buku ini benar-benar ngajarin kita untuk lebih aware dengan kekuatan dari hubungan yang kita bangun. Jadi, buat kamu yang mau sukses di bidang apapun—baik itu sebagai pengusaha, karyawan, mahasiswa, atau masyarakat umum—mulailah membangun jaringan yang kuat dan saling mendukung.

    ***

    Subscribe sekarang yuk biar lo rutin dapetin tips seputar karier, bisnis, dan pengembangan diri dengan mengklik  bit.ly/LinkedInSuperCareer. Lo juga boleh share artikel ini jika lo ngerasa berguna bagi teman-teman lo. Untuk Insight lebih jauh, kunjungi agungwibowo.com.
    #Newsletter #CareerTips #CareerHack #PengembanganDiri #LevelUp #NaikKelas #BusinessGrowth #LinkedInInsight
  • Curse of Knowledge: Kenapa Kita Perlu Hati-Hati Saat Berbicara di LinkedIn

    “Halo, teman-teman! Coba bayangin nih, kalian lagi ngomongin topik yang udah kalian kuasai banget, tapi orang lain malah bingung dengerin. Pernah ngerasain itu?”

    Pernah nggak sih, kamu ngerasa udah ngerti banget tentang sesuatu, terus coba jelasin ke orang lain, tapi mereka malah bingung atau merasa nggak terhubung? Nah, itulah yang disebut dengan Curse of Knowledge—sebuah fenomena psikologis yang sering bikin kita nggak sadar kalau kita ngomong terlalu teknis atau penuh jargon yang sulit dipahami orang lain.

    Apa Itu Curse of Knowledge?

    Jadi, Curse of Knowledge itu terjadi ketika seseorang yang sudah ahli di suatu bidang kesulitan untuk mengingat apa rasanya menjadi pemula di bidang tersebut. Akibatnya, mereka cenderung menganggap orang lain juga tahu apa yang mereka tahu, dan akhirnya menggunakan bahasa atau penjelasan yang terlalu rumit.

    Contoh nyata di LinkedIn:
    Misalnya, seorang profesional di bidang teknologi yang udah paham banget soal cloud computing, terus bikin postingan yang isinya jargon teknis kayak “DevOps integration with Kubernetes on Azure.” Tentu, buat orang yang nggak terlalu paham teknologi, ini bisa bikin pusing kepala. Padahal niatnya pengen berbagi insight, tapi malah jadi susah dicerna.

    Studi Kasus: Penelitian dari Harvard dan University of California

    Menurut penelitian yang dilakukan oleh Harvard Business Review dan University of California, Curse of Knowledge ini terjadi karena otak kita udah terlanjur terlatih untuk berpikir dalam konteks yang kita kuasai. Ketika kita berbicara dengan orang lain, kita cenderung menganggap mereka tahu hal yang sama. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang “terkutuk” oleh pengetahuan mereka akan lebih sering menggunakan kata-kata yang susah dimengerti tanpa sadar, dan itu sering membuat komunikasi jadi nggak efektif.

    Lessons Learned

    1. Jangan Asumsi Orang Lain Paham
      Meskipun kita udah paham banget tentang suatu hal, jangan langsung anggap orang lain tahu semuanya. Selalu coba untuk menjelaskan dengan cara yang lebih sederhana dan jelas. Hindari jargon yang nggak perlu.
    2. Gunakan Analogi yang Mudah Dipahami
      Dalam penjelasan, coba pakai analogi yang gampang dipahami orang banyak. Misalnya, kalau lagi ngomongin cloud storage, kamu bisa bilang, “Bayangin aja kalau kamu nyimpen barang di gudang yang bisa diakses dari mana aja, kapan aja.”
    3. Saring dan Sesuaikan Informasi
      Ketika membuat konten untuk LinkedIn, sesuaikan gaya bicara dan tingkat kerumitan sesuai dengan audiens kamu. Kalau target audiens kamu adalah orang-orang yang belum familiar dengan topik tertentu, jelaskan dari dasar terlebih dahulu.
    4. Berikan Value Tanpa Overload
      Tujuan utama kita di LinkedIn adalah berbagi value. Jangan sampai kita overload dengan informasi yang malah membuat orang merasa terintimidasi atau bingung. Sesuaikan panjang postingan dan kejelasan argumen supaya tetap engaging.

    Best Practices

    • Sederhanakan Bahasa: Gunakan bahasa yang lebih simpel dan jelas. Hindari penggunaan istilah teknis yang bisa membuat orang merasa nggak nyaman.
    • Interaksi dan Feedback: Berikan ruang bagi pembaca untuk bertanya atau memberi komentar. Ini bisa membantu kamu mengetahui apakah penjelasan kamu sudah cukup mudah dimengerti.
    • Gunakan Visual: Grafik atau infografik bisa sangat membantu dalam menjelaskan topik yang kompleks. Visualisasi data dan informasi bisa membuat pesan yang sulit jadi lebih gampang dipahami.

    Teori Relevan: Keterbatasan Kognitif

    Dalam teori psikologi kognitif, Curse of Knowledge berhubungan dengan keterbatasan kognitif manusia. Artinya, kita seringkali kesulitan untuk berpikir dalam perspektif orang lain yang belum memiliki pemahaman yang sama. Ini juga berhubungan dengan konsep cognitive load theory, yang menyatakan bahwa kita bisa kehilangan perhatian jika terlalu banyak informasi yang disajikan dalam satu waktu.

    Ayo, Kita Diskusi!

    Nah, gimana menurut kalian, guys? Pernah nggak ngerasain Curse of Knowledge pas posting di LinkedIn? Atau ada tips lain buat menyederhanakan pesan supaya lebih gampang dipahami? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!

    Jangan lupa follow dan share ke teman-teman yang butuh tips ini!

  • Kenapa Si Harus Nulis Buku? Gini, Gengs!

     

    “Eh, lo pernah kepikiran nggak sih, buat nulis buku?”
    “Tulis buku? Duh, kayaknya ribet deh. Gue kan lebih suka nulis caption Instagram, bukan buat novel atau buku serius gitu.”
    “Gue juga dulu gitu, tapi lo tau nggak, nulis buku tuh bisa jadi cara keren buat berbagi pemikiran dan pengalaman lo, sekaligus bikin legacy yang gak gampang hilang!”
    “Eh, serius? Tapi bisa sukses nggak sih? Gimana caranya?”
    “Serius banget! Lo nggak bakal tau sampai lo coba. Banyak orang di luar sana yang bisa banget sukses nulis buku, bahkan dari hal-hal yang simpel banget. Dari pengalaman pribadi, pengetahuan yang lo punya, atau hal-hal yang bikin lo unik.”

    Ternyata, menulis buku itu bukan cuma buat orang yang pengen jadi penulis profesional, loh. Itu bisa jadi cara untuk mengekspresikan diri, berbagi ilmu, bahkan bisa jadi peluang untuk karier lo ke depannya. Kalau lo pikir itu cuma buat orang yang suka nulis banget, pikir lagi. Menulis buku itu, pada dasarnya, adalah cara lo ngomongin dunia lewat tulisan.

    Tapi, mungkin banyak dari lo yang masih mikir, “Emangnya gue bisa?” Atau “Gue nggak punya waktu buat itu.” Nah, di sini gue bakal bahas kenapa nulis buku itu penting, gimana cara mulai nulis, dan apa aja yang lo bisa dapet dari nulis buku. Simak deh!

    Menulis Buku: Lebih Dari Sekadar Menulis Halaman-Halaman

    Menurut penelitian yang dilakukan oleh The Guardian, sekitar 60% orang dewasa di seluruh dunia merasa bahwa mereka memiliki satu ide untuk menulis buku, tapi hanya sedikit yang benar-benar melakukannya. Kenapa? Karena menulis buku sering dianggap sebagai pekerjaan yang “serius banget” dan “berat banget”. Tapi kenyataannya, menulis buku nggak harus selalu ribet kok. Banyak penulis terkenal yang justru mulai dari hal-hal sederhana, dari cerita hidup mereka, atau bahkan dari pengalaman sehari-hari yang mereka tulis dengan cara yang ringan.

    Misalnya, ada Ryan Holiday, seorang penulis yang terkenal dengan buku-buku self-help-nya seperti The Obstacle Is the Way. Sebelum jadi penulis sukses, dia cuma mulai dari menulis artikel-artikel di blognya. Hal yang sama juga berlaku buat Tim Ferriss, penulis buku best-seller The 4-Hour Workweek. Tim nggak langsung nulis buku besar. Dia mulai dengan berbagi eksperimen hidup yang dia coba dan nyatanya itu menarik perhatian banyak orang.

    Jadi, nulis buku nggak harus selalu berbicara tentang sesuatu yang besar dan formal. Lo bisa mulai dengan hal-hal yang lo ngerti banget, atau bahkan yang lo passionate tentang itu. Jangan takut untuk mulai dari yang simpel. Lo tau nggak, The Subtle Art of Not Giving a Fck* karya Mark Manson jadi best-seller karena dia nulis dengan cara yang jujur dan relatable banget, tanpa pretensi, dan itu yang bikin banyak orang merasa terhubung. Lo nggak perlu jadi ahli di bidang tertentu buat mulai menulis—lo hanya perlu berbicara dari hati.

    Studi Kasus: Nulis Itu Bisa Menjadi Langkah Awal Buat Karier Lo

    Gue nggak bakal cuma ngomongin teori, yuk lihat studi kasus dari Maya Angelou, penulis legendaris yang juga seorang penyair dan aktivis. Sebelum menjadi penulis, Angelou adalah seorang perempuan muda yang mengalami banyak kesulitan dalam hidup, dari pelecehan hingga diskriminasi. Tapi yang keren adalah, dia nggak lari dari kenyataan itu. Justru pengalaman hidupnya dia tuangin dalam buku I Know Why the Caged Bird Sings. Buku ini nggak cuma populer karena keindahan bahasa dan tulisannya, tapi juga karena cara Angelou menulis dengan begitu jujur dan berani.

    Pelajaran yang bisa kita ambil dari Maya Angelou adalah menulis bisa jadi cara untuk memproses dan menyembuhkan diri, sementara juga membuka peluang untuk mendapatkan pengakuan. Lo nggak harus menulis tentang kehidupan yang dramatis atau luar biasa. Lo bisa mulai dengan hal-hal kecil yang lo rasa punya makna buat diri lo, dan siapa tahu itu bisa memberi dampak besar bagi orang lain. Dan lebih dari itu, menulis bisa mengubah perspektif lo tentang diri lo sendiri, dan bikin lo lebih percaya diri untuk berbagi cerita.

    Menulis Buku Itu Bisa Jadi Legasi, Gengs

    Tahu nggak sih, salah satu alasan kenapa banyak orang sukses yang menulis buku adalah karena mereka pengen punya legasi? Lo pasti tahu kan, beberapa orang yang kita kagumi—baik itu di dunia bisnis, olahraga, atau bahkan selebritas—mereka punya buku yang mereka tulis tentang pengalaman hidup mereka. Buku-buku itu nggak hanya berbicara tentang keberhasilan mereka, tapi juga tentang pelajaran yang mereka dapat sepanjang hidup. Tools, tips, atau panduan yang mereka bagi, itu jadi ilmu yang bisa kita pakai, bahkan lama setelah mereka nggak ada lagi.

    Contoh lainnya adalah Malcolm Gladwell, penulis buku Outliers dan The Tipping Point. Gladwell menulis dengan gaya yang menarik dan penuh cerita-cerita yang bikin kita mikir, dan itu menjadikannya sebagai figur yang nggak hanya dikenal di bidang jurnalistik, tapi juga di dunia bisnis dan kepemimpinan. Buku-bukunya memberi panduan berharga untuk orang yang ingin sukses, dan karena itulah dia punya pengaruh besar sampai sekarang. Ini bukti bahwa menulis buku itu bisa jadi cara buat lo meninggalkan warisan yang akan terus dikenang.

    Best Practices: Gimana Mulainya?

    Lo mulai bisa nulis dengan cara yang nggak berat, gengs. Coba aja deh mulai dengan menulis di blog atau jurnal pribadi dulu. Jangan buru-buru mikirin harus jadi best-seller. Fokus aja dulu ke konten dan pesan yang pengen lo sampaikan. Jangan khawatir kalau lo ngerasa tulisan lo nggak sempurna, karena proses editing bisa dilakukan nanti. Cobalah menulis setiap hari, meskipun cuma beberapa paragraf. Seiring berjalannya waktu, tulisan lo bakal semakin berkembang dan lo bakal dapetin lebih banyak ide untuk nulis buku.

    Satu hal yang penting, selalu ingat untuk tetap autentik. Nggak ada yang lebih menarik daripada tulisan yang ditulis dengan hati. Tulis apa yang lo tahu, apa yang lo pelajari, dan apa yang lo rasakan.


    Menulis buku memang bukan hal yang gampang, tapi kalau lo mulai dengan langkah kecil dan terus konsisten, lo bisa banget menghasilkan karya yang bukan hanya berharga buat lo, tapi juga buat orang lain. Jadi, kenapa nggak mulai sekarang? Siapa tahu, tulisan lo bisa jadi sesuatu yang akan menginspirasi banyak orang di masa depan!