Setuju kah Anda dengan pendapat saya ini?
Kadang, kita terlalu percaya bahwa jabatan tinggi otomatis membuat nama kita dikenal luas. Padahal, menjadi orang penting di sebuah perusahaan itu seperti menjadi kapten kapal yang hebat.
Semua orang di dalam kapal tahu siapa yang memberi komando. Namun, orang-orang di pelabuhan belum tentu tahu siapa kaptennya, apalagi apa yang membuatnya layak dihormati.
Sayangnya, banyak profesional baru menyadari hal ini ketika mereka mulai kehilangan jabatan, berpindah perusahaan, atau ingin membangun sesuatu atas nama sendiri.
Gue pernah membayangkan sebuah situasi seperti ini.
Sebut saja X.
Ia adalah direktur utama sebuah perusahaan besar dengan ribuan karyawan. Pengalamannya panjang. Keputusannya memengaruhi banyak orang. Di ruang rapat, pendapatnya didengar. Di internal perusahaan, reputasinya tidak perlu dipertanyakan.
Kalau ada masalah strategis, orang mencari X.
Jika ada keputusan besar yang harus diambil, X duduk di meja paling depan.
Bila ada target yang sulit dicapai, tim berharap X punya jawabannya.
Singkatnya, X bukan orang sembarangan. Tapi, di luar lingkaran industrinya, nyaris tidak ada yang mengenal siapa dirinya.
Namanya jarang muncul dalam percakapan publik. Pemikirannya tidak terdokumentasi dengan baik. Pengalamannya tidak banyak diketahui oleh profesional di luar perusahaannya. Bahkan, jika seseorang mencari namanya di internet, jejak yang muncul tidak sebanding dengan perjalanan karier dan kontribusinya.
Selama bertahun-tahun, ia sibuk membangun perusahaan, tetapi belum sungguh-sungguh membangun narasi tentang nilai yang ia bawa. Di sinilah percakapan tentang personal branding menjadi relevan.
Jabatan adalah posisi. Reputasi adalah persepsi.
Jabatan memberi seseorang kewenangan, tetapi reputasi membuat orang lain memahami nilai di balik kewenangan tersebut.
Saat X menjabat sebagai direktur utama, orang mungkin mendengarkan pendapatnya karena ia memiliki otoritas formal. Namun, ketika ia berbicara di luar organisasinya, orang lain belum tentu punya alasan untuk mendengarkan.
Mereka belum mengenal cara berpikirnya. Mereka belum memahami prinsip kepemimpinannya. Mereka belum melihat bagaimana pengalaman dan keputusannya dapat membantu organisasi lain menghadapi tantangan serupa.
Padahal, ia mungkin pernah memimpin transformasi organisasi, menyelesaikan konflik antardivisi, membangun budaya kerja, mengambil keputusan sulit, atau membawa perusahaan melewati masa krisis.
Semua itu adalah pengetahuan yang bisa dipelajari orang lain.
Namun, pengetahuan yang hanya tersimpan di kepala tidak otomatis menjadi reputasi. Pengalaman yang tidak pernah diceritakan sulit menjadi referensi. Pemikiran yang tidak pernah dibagikan sulit membangun pengaruh di luar lingkaran terdekat.
Apakah ini berarti kita harus sibuk memamerkan pencapaian?
Tentu tidak.
Hal pertama yang perlu diubah X
Jika gue membantu X membangun reputasinya, gue tidak akan langsung menyuruhnya rajin mengunggah foto di LinkedIn, membuat video setiap hari, atau menulis pencapaian dengan bahasa yang terdengar megah.
Gue akan mengajaknya duduk dan menggali tiga hal.
Pertama, apa yang sebenarnya ia ketahui dari pengalaman memimpin?
Bukan sekadar jabatan apa yang pernah dipegang, melainkan pelajaran apa yang diperoleh dari keputusan-keputusan sulit, kegagalan, konflik, dan perubahan organisasi.
Kedua, siapa yang bisa mendapatkan manfaat dari pemikirannya?
Apakah sesama direktur? Pemimpin generasi berikutnya? Pengusaha yang sedang membangun organisasi? Profesional yang ingin berkembang menjadi pemimpin?
Reputasi yang kuat tidak dibangun dengan berusaha menarik perhatian semua orang. Ia tumbuh ketika pemikiran kita relevan bagi orang yang tepat.
Ketiga, bagaimana pemikiran itu perlu dikomunikasikan?
Pengalaman memimpin transformasi bisa menjadi tulisan tentang perubahan organisasi. Pelajaran menghadapi krisis bisa menjadi refleksi tentang pengambilan keputusan. Prinsip membangun tim bisa menjadi gagasan tentang kepemimpinan.
Dengan pendekatan ini, X tidak perlu menciptakan persona baru. Ia hanya perlu membuat nilai yang selama ini sudah dimilikinya menjadi lebih terlihat dan mudah dipahami.
Yang diubah pertama kali bukan kepribadiannya, melainkan cara mengomunikasikan pemikirannya.
Sebab, orang tidak membutuhkan versi diri kita yang dibuat-buat. Mereka membutuhkan alasan yang jelas untuk memahami dan memercayai kita.
Jangan menunggu sampai jabatan berakhir
Ada satu risiko yang sering tidak disadari para pemimpin.
Selama masih menjabat, nama mereka bisa dikenal karena nama perusahaan, struktur organisasi, atau kewenangan yang melekat pada posisi tersebut.
- Namun, apa yang terjadi ketika mereka pensiun, berpindah industri, menjadi konsultan independen, membangun bisnis sendiri, atau ingin berkontribusi melalui forum publik?
- Apakah orang masih mengingat pemikirannya?
- Apakah mereka tahu keahlian apa yang bisa ditawarkan?
- Apakah ada rekam jejak yang menunjukkan bagaimana ia memandang persoalan dan menciptakan nilai?
Jika jawabannya belum, mungkin sudah waktunya membangun reputasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada jabatan.
Ini bukan ajakan untuk meninggalkan pekerjaan dan menjadi influencer. Justru sebaliknya.
Kita bisa tetap fokus menjalankan pekerjaan sambil mendokumentasikan pemikiran, membagikan pembelajaran, dan membangun jejak profesional secara konsisten.
Mulailah dari hal sederhana. Satu gagasan yang berguna, pengalaman yang memberikan pelajaran, atau perspektif yang membantu orang lain melihat persoalan dari sudut berbeda.
Tidak semua hal harus dipublikasikan. Tidak semua pencapaian perlu diumumkan. Namun, jika ada pengetahuan yang bermanfaat bagi banyak orang, mengapa membiarkannya terkubur dalam rapat dan dokumen internal?
Reputasi tumbuh melalui konsistensi antara apa yang kita kerjakan, apa yang kita katakan, dan nilai yang dirasakan orang lain.
Dari pengalaman menjadi otoritas
Selama 18 tahun terakhir, gue telah menulis lebih dari 100 buku yang diterbitkan oleh berbagai penerbit, termasuk Elex Media Komputindo, Penerbit Buku Kompas, M&C!, Erlangga, Tiga Serangkai, Andi Publisher, dan RajaGrafindo Persada.
Karya-karya tersebut hadir melalui berbagai kanal, termasuk jaringan toko Gramedia di Indonesia, Google Play Books, Amazon, Shopee, dan Tokopedia.
Perjalanan itu mengajarkan bahwa gagasan yang berharga perlu dikemas agar bisa menjangkau orang yang tepat.
Seseorang bisa memiliki pengalaman puluhan tahun, tetapi kesulitan menuangkannya menjadi tulisan. Seorang pemimpin bisa memiliki pemikiran strategis, tetapi belum menemukan cara menyampaikannya kepada publik. Seorang profesional bisa memiliki pencapaian luar biasa, tetapi belum memiliki narasi yang membantu orang memahami nilai di balik pencapaian tersebut.
Di sinilah peran seorang ghostwriter dan personal branding consultant menjadi relevan. Gue membantu menggali pengalaman, menyusun pemikiran, menemukan benang merah, dan mengubahnya menjadi narasi yang autentik serta relevan.
Bagi sebagian pemimpin, bentuknya mungkin berupa artikel LinkedIn. Bagi yang lain, bisa berupa buku, profil profesional, atau dokumentasi perjalanan kepemimpinan.
Formatnya bisa berbeda. Tujuannya sama-sama membuat pemikiran dan kontribusi lebih mudah ditemukan, dipahami, serta diingat.
Karena sebuah buku, misalnya, dapat menjadi wadah untuk mendokumentasikan prinsip kepemimpinan, membagikan pembelajaran lintas generasi, dan memperluas percakapan yang selama ini hanya terjadi di ruang rapat.
Tentu, buku bukan jaminan seseorang akan menjadi terkenal. Begitu pula dengan LinkedIn atau media lainnya.
Namun, ketika pengalaman yang relevan dikomunikasikan secara konsisten, orang memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal cara berpikir kita dan menilai kontribusi yang bisa kita berikan.
Itulah yang gue maksud dengan grow & glow: bertumbuh dari dalam, lalu membuat nilai yang kita miliki terlihat dari luar.
Gue percaya bahwa setiap orang punya cerita yang layak digali. Tantangannya adalah menemukan cerita yang tepat, merumuskannya dengan jernih, dan menyampaikannya kepada audiens yang tepat.
Pasalnya, reputasi dibangun ketika orang bisa melihat bukti pemikiran kita, memahami kontribusi kita, dan mengingat nilai yang kita bawa.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bagi seorang pemimpin adalah, “Apa yang orang lain ketahui tentang nilai yang sudah gue ciptakan?”
Jangan sampai kita menghabiskan puluhan tahun membangun organisasi, memimpin ribuan orang, dan menyelesaikan berbagai persoalan besar, tetapi hampir tidak meninggalkan jejak pemikiran yang bisa dipelajari orang lain.
Terkenal di ruang rapat adalah pencapaian. Namun, memiliki pemikiran yang tetap relevan bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di ruang rapat yang sama adalah warisan.
Warisan itu tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia dimulai dari keberanian untuk menceritakan apa yang sudah kita pelajari.
Karena pengalaman lo terlalu berharga kalau hanya berhenti menjadi cerita di kepala. Saatnya grow inside, glow outside.
Halo Hai, Aku Agung Setiyo Wibowo, Narrative & Authority Strategist. Selama 18 tahun terakhir aku membantu para pemimpin, eksekutif, pengusaha, tokoh publik, organisasi, dan brand mengubah apa yang mereka ketahui, alami, dan yakini menjadi narasi, aset intelektual, dan visibilitas yang membangun otoritas yang bertahan lama.
Pengen menulis dan menerbitkan buku, tetapi masih bingung harus mulai dari mana?
Gue membuka dua pilihan buat lo yang ingin mengubah pengalaman dan gagasan menjadi buku:
Eits …. Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:
- Daftar Online Private Mentoring LinkedIn Hacks
- Baca ebook LinkedIn Hacks
- Dapetin Profile Audit Report
- Ikutan mentoring LinkedIn Storytelling
Ingin gabung komunitas yang saya bangun?
Boleh. Berikut ya.
Leave a Reply