Tag: Branding

  • Jangan Bangga Dulu Jadi Bos. Kalau Jabatan Hilang, Apa yang Tersisa dari Nama Lo?

    Banyak memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan. Tapi kalau namanya dicari di luar industrinya, hampir tidak ada jejak.

    Setuju kah Anda dengan pendapat saya ini?

    Kadang, kita terlalu percaya bahwa jabatan tinggi otomatis membuat nama kita dikenal luas. Padahal, menjadi orang penting di sebuah perusahaan itu seperti menjadi kapten kapal yang hebat.

    Semua orang di dalam kapal tahu siapa yang memberi komando. Namun, orang-orang di pelabuhan belum tentu tahu siapa kaptennya, apalagi apa yang membuatnya layak dihormati.

    Sayangnya, banyak profesional baru menyadari hal ini ketika mereka mulai kehilangan jabatan, berpindah perusahaan, atau ingin membangun sesuatu atas nama sendiri.

    Gue pernah membayangkan sebuah situasi seperti ini.

    Sebut saja X.

    Ia adalah direktur utama sebuah perusahaan besar dengan ribuan karyawan. Pengalamannya panjang. Keputusannya memengaruhi banyak orang. Di ruang rapat, pendapatnya didengar. Di internal perusahaan, reputasinya tidak perlu dipertanyakan.

    Kalau ada masalah strategis, orang mencari X.

    Jika ada keputusan besar yang harus diambil, X duduk di meja paling depan.

    Bila ada target yang sulit dicapai, tim berharap X punya jawabannya.

    Singkatnya, X bukan orang sembarangan. Tapi, di luar lingkaran industrinya, nyaris tidak ada yang mengenal siapa dirinya.

    Namanya jarang muncul dalam percakapan publik. Pemikirannya tidak terdokumentasi dengan baik. Pengalamannya tidak banyak diketahui oleh profesional di luar perusahaannya. Bahkan, jika seseorang mencari namanya di internet, jejak yang muncul tidak sebanding dengan perjalanan karier dan kontribusinya.

    Selama bertahun-tahun, ia sibuk membangun perusahaan, tetapi belum sungguh-sungguh membangun narasi tentang nilai yang ia bawa. Di sinilah percakapan tentang personal branding menjadi relevan.

    (more…)

  • Kalau Orang Butuh Waktu Lama untuk Mengingatmu, Kamu Sedang Kalah di Branding

    Aku harus mengaku sesuatu yang agak memalukan buat orang yang profesinya “membantu orang lain jadi visible.”

    Lima tahun lalu, ada klien datang ke aku. Produknya bagus. Skill-nya di atas rata-rata. Testimoninya pun tidak sedikit. Tapi dia hampir tidak dikenal siapa-siapa di luar lingkaran kecilnya. Dan waktu itu, aku memberi saran yang sekarang aku sesali: “Fokus aja perbaiki produknya dulu. Branding belakangan.”

    Aku pikir itu saran bijak. Ternyata itu saran yang membuat dia diam-diam kalah dari kompetitor yang produknya biasa saja, tapi namanya lebih dulu nempel di kepala orang.

    Butuh waktu cukup lama — dan satu buku yang mengubah cara aku bekerja — sebelum aku sadar bahwa aku salah karena aku belum paham apa itu branding sesungguhnya.

    Bayangkan ada restoran di gang buntu, jauh dari jalan utama. Chef-nya juara masak, bahan bakunya premium, rasanya bahkan lebih enak dari restoran bintang lima di pusat kota. Tapi karena lokasinya tersembunyi dan tidak ada papan nama yang jelas, restoran itu sepi. Sementara restoran lain, dengan menu standar tapi neon sign mencolok dan nama yang gampang diingat, selalu ramai antre.

    Orang tidak selalu memilih yang terbaik. Orang memilih yang paling gampang diingat, paling gampang ditemukan, dan paling jelas posisinya di kepala mereka.

    Itulah inti dari branding. Dan itu juga inti dari buku yang akhirnya membongkar cara berpikirku: The 22 Immutable Laws of Branding karya Al Ries dan Laura Ries.

    (more…)

  • Bukan Mengejar Viral: Inilah Cara Influencer yang Sebenarnya Bekerja

    “Postinganmu viral, tapi besok orang lupa.”

    Kalimat ini terasa menampar saat pertama kali saya benar-benar memahaminya.
    Di era media sosial, kita sering terjebak pada satu ilusi besar: ramai = berhasil. Padahal, semakin sering saya mengamati—terutama di LinkedIn—semakin jelas satu fakta pahit: banyak orang terlihat terkenal, tapi tidak dipercaya. Banyak yang didengar, tapi tidak diingat. Banyak yang viral, tapi tidak relevan.

    Di titik inilah saya membaca ulang buku Influencer: Building Your Personal Brand in the Age of Social Media karya Brittany Hennessy, dan menyadari satu hal penting:
    menjadi influencer bukan soal jangkauan, tapi soal posisi.

    (more…)