Mari mulai dengan satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur:
Di era digital, dikenal itu murah.
Dipercaya itu mahal.
Dan di sinilah peran buku sering disalahpahami.
Bayangkan sebuah momen sederhana.
Nama Anda disebut dalam sebuah forum bisnis, seminar nasional, atau wawancara media.
Seseorang berkata dengan yakin, “Seperti yang dijelaskan dalam bukunya Bapak/Ibu….”
Pernahkah Anda berhenti sejenak di tengah hiruk-pikuk media sosial dan bertanya:
“Apakah menulis buku masih relevan di zaman serba cepat ini?”
Pertanyaan ini sering datang dari para tokoh publik, pejabat, pengusaha, dan influencer yang saya temui. Mereka punya nama besar, punya jutaan pengikut, tapi… di satu titik merasa kosong.
Lucu ya…
Banyak konsultan, pejabat, pengusaha, bahkan influencer yang begitu lihai bicara di panggung, pintar berdebat di layar kaca, dan fasih menyusun presentasi berlapis-lapis. Tapi, ketika ditanya: “Sudah punya buku?”—jawabannya sering kali hening.