Pertanyaan ini hampir selalu muncul setiap kali saya berbincang dengan penulis pemula:
“Mas, mending nunggu diterima penerbit mayor atau langsung terbit indie?”
Pertanyaan yang wajar.
Karena di kepala banyak orang, penerbit mayor masih dianggap “liga utama”, sementara penerbit indie sering dipersepsikan sebagai “jalan alternatif”.
Padahal, setelah 17+ tahun menulis, menerbitkan ratusan buku, dan mendampingi puluhan klien papan atas sebagai ghostwriter—mulai dari CEO, pejabat publik, akademisi, hingga founder—saya belajar satu hal penting:
Yang menentukan masa depan buku bukan siapa penerbitnya, tapi apa tujuan penulisnya.
Mari kita bahas secara jujur dan berimbang. Tapi sebelumnya, mari kita bongkar beberapa mitosnya ya:
❌ “Kalau indie, bukunya kurang berkualitas”
➡️ Salah. Kualitas ditentukan proses, bukan label.
❌ “Kalau mayor, pasti laku”
➡️ Tidak selalu. Banyak buku mayor yang senyap.
❌ “Pemula harus indie dulu”
➡️ Tidak mutlak. Pemula dengan positioning kuat bisa langsung mayor.