Category: Blog

  • Semua Camat

    Hei, apa kabar camat?

    Kamu, aku dan kita semua adalah camat.
    Ya, kita adalah camat alias calon (orang yang) mati.
    Hemmm, mungkin ungkapan ini terdengar menggelikan dan garing? Ataukah sebaliknya? Mengerikan?
    Apapun perasaanmu, kita memang camat. Suka tidak suka, mau tidak mau, siap tidak siap kita semua akan mati.
    Mengingat status kita sebagai camat semestinya menjadikan kita bersyukur. Untuk tidak menyesali masa lalu dan tak merisaukan masa depan. Yang ada di depan matalah yang kita nikmati.
    Camat menyadarkan kita pentingnya memprioritaskan hal yang paling bermakna. Untuk memperjuangkan apa yang kita yakini.
    Hei camat. Bekal apa yang sudah kamu siapkan sejauh ini?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 26 Januari 2021
  • Keajaiban Ikhlas

    Hai kawan.

    Menurutmu, seberapa penting sikap ikhlas itu?
    Menurutku, ikhlas itu super penting.
    Dengan ikhlas, hidup kita akan terasa enteng. Karena, kita menerima apapun yang terjadi. Kita ikhtiar dan tawakkal. Bukan mengeluhkan lalu pasrah.
    Ikhlas merupakan wujud keimanan. Karena kita tahu segala sesuatu telah ditetapkannya.
    Setuju?
    Jika ya, apa pengalamanmu tentang keikhlasan? Adakah keajaiban?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 29 Januari 2021
  • Alami, Mengalami

    “Hidup ini alam”. Begitulah pernyataan yang kudengar dari salah satu teman. Maksudnya?

    Kehidupan ini sejatinya sederhana saja. Kita hanya diharuskan mengalami. Artinya, kita diwajibkan berproses, bereksperimen, berupaya.
    Perkara sukses atau tidaknya itu bukan urusan kita. Meskipun kerja ikhlas, keras, cerdas, dan tuntas tetap menjadi pedoman. Evaluasi dan perbaikan berkelanjutan menjadi patokan.
    Alami, mengalami. Laksana air yang mengalir. Kita hanya perlu diminta untuk menjalani takdir sebaik mungkin yang kita bisa.
    Alami, mengalami. Sudahkah kamu menyadarinya?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 30 Desember 2020
  • Merangkul Ketidaksempurnaan

    “Kesempurnaan hanyalah milik Allah!”

    Ungkapan ini mungkin terdengar sangat klise. Namun toh relevansinya abadi.
    Manusia memang tak luput dari apa yang namanya cacat, kurang, dan lemah. Sekeren apapun kita menampilkan diri pada publik, kita memiliki ketidaksempurnaan dari banyak sisi.
    Jadi, relevansinya apa Mas? Terimalah ketidaksempurnaanmu. Karena semakin kamu mengharapkannya, kebahagiaan semakin menjauh.
    Ketidaksempurnaan menyadarkan kita bahwa kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Hanya Tuhanlah yang sempurna, tempat kita memohon dan bersandar.
    Sudahkah kamu menyadari ketidaksempurnaanmu?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 6 Januari 2020
  • Rahasia Kebahagiaan

    Bahagia? Ehmmm, apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata ini?

    Apapun itu, aku yakin kamu ingin bahagia. Meskipun definisi dan parametermu berbeda denganku dan orang lain.
    Nah, salah satu rahasia kebahagiaan menurutku adalah bersyukur. Mengapa?
    Karena bersyukur mencermin kita menerima dan mengapresiasi apa yang ada dalam diri kita saat ini. Tak menyesali masa lalu, tak merisaukan masa depan.
    Bersyukur membuat hati adem. Karena kita berdamai dengan diri sendiri.
    Sudahkah kamu bersyukur hari ini?
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 13 Januari 2021
  • Benarkah Perbedaan Itu Indah?

    Unik.

    Spesial.
    Berbeda.
    Tidak sama.
    Ya, itulah diri kita.
    Kita memiliki keyakinan, kepribadian, karakter, minat, bakat, kebiasaan dan ideologi masing-masing.
    Tidak ada yang lebih buruk atau lebih baik. Yang ada adalah pilihan. Keputusan untuk menjalani kehidupan yang benar-benar kita inginkan.
    Namun, kita tak boleh egois. Kita hanyalah sebutir debu di tengah miliaran yang lainnya. Kita adalah bagian dari masyarakat.
    Kita tak bisa hidup sendirian. Oleh karena itu, penting untuk mengenali dan menghargai perbedaan-perbedaan dari orang lain.
    Kita perlu berempati. Welas asih. Cinta. Jika tak terwujud, hanya tersisa konflik, permusuhan, dan penderitaan.
    Kita mesti ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian, kita perlu memiliki jiwa melayani. Tidak mementingkan diri sendiri.
    Jadi, benarkah perbedaan itu indah? Sederhana saja. Pelangi indah karena penuh warna. Begitupun umat manusia.
    Agung Setiyo Wibowo
    Depok, 15 Januari 2021