Gue punya dua kakak perempuan. Usia keduanya terpaut jauh dari gue.
Category: Blog
-
Cuek is The Best
Ada satu hal yang gue ingat dari mereka. Salah satunya mantra “Cuek is the best” yang dulu dipajang di pintu masuk kamar.Awalnya gue acuh. Namun selang dua dekade berikutnya, gue jadi tersadarkan diri. Bahwa cuek itu penting.Gue bukan bermaksud untuk bersikap tidak peduli kepada sekitar. Bukan juga untuk bersikap tidak empati, tidak bertenggangrasa atau antisosial.Gue hanya ingin menekankan bahwa cuek itu penting. Terlebih lagi di era digital yang serba terhubung ini. Kita terlalu banyak dijejali dengan informasi, dogma, atau pengaruh dalam lintas wujud.Menurut gue, hanya orang-orang cuek yang bisa terus berada di titik bahagia. Karena cuek mendorong kita untuk menjadi diri sendiri. Tidak terpancing dengan kondisi di luar diri kita. Karena kita tahu, kendali hidup ada pada diri kita.Bagaimana menurutmu? Seberapa cuek lho?Agung Setiyo WibowoDepok, 26 November 2020 -
Persepsimu, Sikapmu
Persepsi? Ehmm, apa yang ada di benakmu tentangnya?
Apapun itu, sesungguhnya segala sesuatu bersifat netral. Baik kejadian, benda, atau seseorang. Kitalah yang mempersepsikan, menghakimi atau menilainya. Dari situlah sikap, pikiran, dan tindakan kita berakal.Jika ada krisis misalnya. Orang yang memandang sisi positif akan menjadikannya sebagai peluang. Sebaliknya, sisi negatif menganggapnya tak lebih dari petaka.Persepsi kita dipengaruhi oleh beragam faktor. Dari pola asuh orang tua, nilai-nilai, pendidikan, pergaulan, hingga lingkungan.Jika kita amati, kebanyakan konflik, perselisihan atau permusuhan dimulai dari ketidaksamaan persepsi. Itulah pentingnya mengenal satu sama lain lebih dalam untuk merekatkan tali komunikasi. Tidak hanya yang tersurat, namun juga yang tersirat. Baik yang terekam secara sadar maupun yang hanya bisa dinilai dari alam bawah sadar.Nah, bagaimana denganmu? Apakah kamu memiliki pengalaman menarik mengenai persepsi?Agung Setiyo WibowoDepok, 27 November 2020 -
Memaknai Kritikan
“Tak ada manusia yang sempurna.” Ungkapan ini begitu klise, bukan?
Ya, kesempurnaan memang hanya milik Tuhan. Sehebat apapun ciptaan-Nya tentu ada kekurangan, kelemahan, kecacatan dan keburukan.Untuk tumbuh, kita perlu kritikan dari orang lain. Karena kita tidak sepenuhnya menyadari “titik buta” kita.Untuk mengembangkan diri, kritikan seyogyanya menjadi keharusan. Karena dari situ kita tahu sisi mana yang perlu diperbaiki, ditingkatkan lagi.Bagi sebagian orang, menerima kritikan sungguh sulit. Menyakitkan, membuat diri “down”, hingga timbul penolakan berlebihan.Nah, bagaimana denganmu? Bagaimana kamu memandang kritikan?Kritikan mereka, modal tumbuhmu.Agung Setiyo WibowoDepok, 4 Desember 2020 -
Haruskah Mengikuti Aliran?
Hai teman.
Pernahkah kamu merasa stres, marah, kecewa, menyesal, takut, cemas, sedih, atau kesal?Jika ya, apa penyebabnya?Jika aku boleh memprediksi, pasti erat kaitannya dengan ekspektasi dan sikap.Dalam hidup, ada banyak hal yang tak bisa kita kontrol. Misalnya, kejadian atau perilaku orang lain terhadap kita. Namun, sesugguhnya kita bisa mengendalikan sikap.Jadi, jika ada temanmu yang bilang “Jalani aja bak air mengalir”, aku sih setuju sekali. Karena semakin kita “melawan”, semakin tidak bahagia diri kita.Mengalir maksudnya menerima dengan ikhlas. Kita menjalani dengan totalitas. Tanpa maksud menghakimi yang berlebihan.Lantas, seberapa “mengalir” hidupmu? Seberapa bahagia dirimu?Agung Setiyo WibowoDepok, 8 Desember 2020 -
Anak Fellow
Anak Fellow menuturkan perjalanan nyata penulis memperjuangkan pendidikan. Terinspirasi dari ribuan teman yang terhubung dengan platform Kampusgw.com, apa yang ditulis di sini menguraikan secara rinci bagaimana jatuh-bangunnya menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi dengan jalur beasiswa.
Sebagai orang yang pernah berkali-kali gagal memperjuangkan beasiswa, penulis bertekad berniat berbagi strategi. Sebagai orang yang sempat “down” lantaran keterbatasan finansial untuk melanjutkan pendidikan, buku ini lahir untuk berbagi tips, trik, dan hikmah. Sebagai orang yang pernah bekerja sambil kuliah, buku ini ada untuk mengajak pembaca merenungkan makna hidup.Memoar ini hadir sama sekali bukan untuk menggurui atau menyombongkan diri. Sebaliknya, pesan-pesan yang tersurat maupun tersirat sengaja dirancang sedemikian rupa oleh penulis untuk menginspirasi, memotivasi, dan mengeluarkan potensi terbaik dari dalam diri pembaca sekalian.
Apa yang Dibahas Dalam Buku Ini?
•Mengingatkan kembali pentingnya pendidikan bagi masa depan generasi muda
•Mengajak pelajar dan mahasiswa memetakan terlebih dahulu kekuatan, minat, bakat, dan potensi diri sebelum memilih jurusan (program studi) tertentu
•Menuturkan hikmah yang tersirat maupun tersurat dari ke-belum-beruntungan dan keberuntungan penulis dalam mendapatkan beasiswa
•Menguraikan strategi, teknik, dan peta jalan dalam memenangkan beasiswa S1 maupun S2
•Menyadarkan urgensi Self-Discovery setelah menamatkan SMA maupun S1
•Mengedukasi betapa strategisnya Self-Mastery sebelum menentukan jurusan kuliah, perguruan tinggi, dan pekerjaan
•Menyodorkan hikmah yang dialami penulis dalam Life After College
•Membagi rahasia melewati Fresh Graduate Syndrome dan Krisis Seperempat Baya
•Memaknai keberhasilan dan kebahagiaan dari beragam sudut pandang
Testimoni
“Setiap orang menghadapi tantangan dan cara tanggap yang unik, oleh karena itu perjalanan hidup setiap individupun menjadi unik. Saya mengenal Agung Setiyo Wibowo sejak tahun 2008 ketika dia harus menjawab tantangan hidupnya untuk memperjuangkan akses memperoleh pendidikan tinggi di tengah biaya pendidikan yang mahal. Sebagai tim panel Paramadina Fellowship saat itu, saya mengagumi kegigihannya dalam cara dia memperjuangkan asa: mengerahkan segala kompetensi dan menyandarkan keyakinan kepada yang Kuasa. Memoar ini menyadarkan pembaca untuk selalu melihat kehidupan dari dua sisi secara berimbang, sekaligus memberikan pesan untuk tidak cepat menyerah dalam memperjuangkan rajutan asa. Untuk kalian yang muda-muda : Rugi bingits kalau gak baca buku ini.”
Dr. Dra. Prima Naomi, M.T.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan Sumber Daya Universitas Paramadina“Tidak perlu membaca buku ini jika hanya ingin mengetahui ‘How To Get Scholarship’. Karena Anda bisa menemukan jutaan artikel ataupun blog yang mengupas tuntas tips dan trik mendapatkan beasiswa. Memoar ini lebih dari itu. Karena mengajak pembaca menemukenali diri sendiri dan merenungkan esensi kehidupan yang dibalut dalam petualangan menimba ilmu.”
Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten
Alumni Queen’s University of Belfast, Inggris Penerima Beasiswa LPDP, Kementerian Keuangan RI
“Touchy, mengalir, dan mengharukan.” Tiga kata ini mungkin paling tepat mewakili bagaimana Mas Agung menguraikan sepenggal kisah hidupnya. Sarat dengan pelajaran hidup, pesan moral, dan cerita menggelitik khas Millennial.”
Digital Expert
“Setiap orang memiliki jalan unik dalam mengarungi perjalanan hidupnya, termasuk dalam memperjuangkan pendidikan, karier dan masa depannya di tengah keterbatasan yang ada. Memoar ini menyadarkan pembaca untuk tetap optimis dalam memperjuangkan dan merealiasikan mimpi dan cita-cita.”
Founder & Managing Director Gerakan Tunas Bangsa
People Development Manager Tanihub
“Selalu ada jalan bagi siapa saja yang mengupayakannya. Sepertinya ungkapan ini paling cocok menggambarkan perjalanan penulis yang penuh tantangan dan cobaan dalam memenuhi cita-cita akademiknya. Kalau Agung bisa maka para pembaca pun juga pasti bisa.”
Founder iBeasiswa
Bagaimana Cara Mendapatkannya?
Anda dapat membeli atau menikmati Anak Fellow melalui dua kanal:
- Google Books: Buka https://books.google.co.id/, lalu ketik Anak Fellow.
- Google Play Book: Buka apps Play Book, lalu ketik Anak Fellow.