Beberapa tahun lalu, saya punya momen jujur yang agak memalukan tapi juga penting. Saya duduk di depan laptop saya—tertarik, punya ide, sudah buka dokumen baru—tapi setelah beberapa menit… saya hanya menatap layar kosong sambil berpikir, “Apa yang mau saya tulis?” Dan akhirnya saya pikir: ah sudahlah. Saya tutup laptop dan pergi makan es krim.
Author: Agung Wibowo
-
Hidupmu Gak Padam, Kamu Cuma Salah Cari Saklar
Bayangkan kamu sedang berdiri di tengah ruangan gelap, semua lampu mati, dan kamu mencari saklar. Kamu tahu pernah ada cahaya di situ, tapi sekarang hanya kegelapan yang menyelimuti. Itu saya, beberapa tahun lalu. Saya sudah “berhasil”: jabatan naik, proyek besar, penghargaan—tapi entah kenapa saya merasa kosong. Saya bertanya: “Apa yang sebenarnya saya kejar? Apa yang membuat saya betul-betul merasa hidup?”
Tiba-tiba, saya menutup buku tugas malam itu dan menangis sendiri karena sadar: saya tidak merasa “menyala” lagi. Saya merasa hanya mengikuti alur, bukan memilih. Semua pencapaian terasa seperti checklist kosong.
Itulah momen klimaks saya—di mana saya akhirnya buka buku What Lights You Up? dan megap-megap (ya, secara emosional) menyadari bahwa: cahaya saya padam bukan karena saya gagal, tapi karena saya lupa mana saklar saya.
Dari titik itu saya mulai perjalanan baru. Dan saya ingin berbagi ke kamu—karena mungkin kamu juga pernah berdiri di ruangan gelap yang sama. -
Koneksi Banyak, Tapi Gak Ada yang Nyaut? Mungkin Kamu Salah Main Jaringan
Saat itu — tiba-tiba LinkedIn saya sepi.
Saya ingat momen itu dengan cukup jelas: saya posting insight panjang tentang transformasi budaya, menyertakan angka, tag rekan kerja, berharap ada komentar, diskusi, mungkin tiga-empat orang yang “oke” dan kirim DM. Tapi yang terjadi… hanya dua like. Dua. Dan satu komentar singkat: “bagus, Bro.”
Di saat saya merasa “oke ini konten bagus, relevan, saya kan banyak koneksi,” realitanya terasa hampa. Saya mengalami ketidaknyamanan: “kenapa saya punya banyak koneksi tapi engagement rendah?” “Kenapa saya posting panjang tapi cuma like tipis?” Saya merasa seperti sedang shout ke ruang kosong. -
Bukan Tentang Siapa Kamu, Tapi Cerita Apa yang Kamu Bawa
“Saya juga pernah merasa sendirian di feed LinkedIn…”
Oke, sebelum kita masuk ke substansi, saya mau jujur dulu. Beberapa bulan lalu saya scroll LinkedIn—lihat koneksi banyak, endorse banyak skill, posting-an bagus pula—tapi saat saya kirim DM atau komentar, ada perasaan: “Udah connect kok kok ya tetap saja saya nggak merasa ‘terkoneksi’.” Rasanya seperti: saya berdiri di tengah kerumunan, semua orang bicara, tapi saya nggak tahu gimana caranya bicara yang bikin orang mendengar.
-
Jangan Biarkan Nasi Jadi Abu
Di banyak sekolah dasar negeri, terutama di pelosok Indonesia, anak-anak masih datang ke kelas dengan perut kosong. Ada yang hanya sarapan teh manis, ada pula yang menunggu jam istirahat dengan menahan lapar. Pemandangan itu, sayangnya, masih menjadi kenyataan di negara yang menyebut dirinya sebagai lumbung pangan tropis.