Ada satu hal yang belakangan ini makin gue sadari. Nggak semua orang yang mengubah hidup kita akan hadir langsung untuk mengajari kita cara menjalani hidup.

Sebagian justru hadir dari kejauhan. Mereka mungkin nggak pernah tahu berapa kali kita hampir menyerah, berapa banyak malam yang kita habiskan untuk overthinking, atau seberapa besar perjuangan kita untuk sampai ke titik sekarang.

Tapi, satu keputusan mereka bisa mengubah arah hidup kita selamanya.

Buat gue, salah satu orang itu adalah Bapak Theodore Permadi Rachmat, atau yang lebih dikenal sebagai Pak TP Rachmat.

Beliau adalah donatur yang membiayai pendidikan S1 gue selama 3,5 tahun di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Paramadina, pada 2008–2012 melalui program Paramadina Fellowship (PF), di era kepemimpinan  Pak Anies Baswedan sebagai rektor.

Waktu itu gue mendapatkan beasiswa senilai sekitar Rp 100 juta. Kuliah benar-benar gratis. Lengkap dengan tinggal di asrama dan mendapatkan uang saku Rp1 juta perbulan.

Bagi orang Have di Jakarta, uang segitu mungkin tak seberapa nilainya. Namun bagi gue yang lahir dari keluarga menengah ke bawah di kampung, mendapatkan beasiswa adalah salah satu “turning point” yang mengubah “peta kehidupan”.

Bayangkan Anda berjalan pulang malam hari lewat gang sempit. Gelap. Lalu sebuah lampu jalan menyala.

Anda tidak tahu siapa yang memasangnya, tidak pernah berterima kasih padanya, bahkan mungkin tak sempat menoleh ke atas.

Anda hanya berjalan lebih cepat dan lebih aman sampai rumah. Lampu itu tidak mengantar Anda pulang. Ia tidak membawakan tas Anda. Ia hanya menerangi jalan, dan membiarkan setiap langkah tetap menjadi milik Anda. Lampu yang baik juga tidak memilih siapa yang boleh lewat. Siapa pun yang berjalan di bawahnya ikut diterangi.

Beasiswa, bagi saya, adalah lampu semacam itu.

Mungkin buat sebagian orang, beasiswa hanyalah bantuan biaya pendidikan. Buat gue, beasiswa itu adalah pintu menuju kehidupan yang sebelumnya belum tentu bisa gue masuki.

Hari ini, gue ingin bercerita tentang sosok di balik salah satu pintu terpenting dalam hidup gue.

Dari Sales Astra Menjadi Pengusaha, tetapi Tidak Berhenti Menjadi Pemberi

Banyak orang mengenal Pak TP Rachmat dari daftar orang terkaya. Forbes menempatkannya di urutan ke-14 pada 2014. Tetapi ceritanya dimulai jauh dari daftar itu. Lahir pada 15 Desember 1943, lulusan Teknik Mesin ITB, beliau memulai kariernya pada 1968 sebagai salesman Astra, karyawan ke-15 di perusahaan itu. Dari sana beliau menanjak hingga menjadi Direktur Utama Astra, mengelola United Tractors, lalu mendirikan Triputra Group pada 1998 dan bersama sepupunya, Edwin Soeryadjaya, ikut membesarkan Adaro Energy.

Biasanya, cerita seperti ini berhenti di sini. Dari bawah ke atas, tepuk tangan, selesai. Namun yang membuat saya terdiam adalah apa yang terjadi di luar ruang direksi.

Keluarga Rachmat mendirikan sebuah yayasan pada 1999, yang pada 2007 berganti nama menjadi Yayasan Pelayanan Kasih A&A Rachmat. Menurut situs Triputra Group, sejak tahun ajaran 2002–2003 yayasan ini telah memberi beasiswa kepada lebih dari 25.000 mahasiswa di seluruh Indonesia, membagikan lebih dari 20.000 kacamata gratis, dan rutin membantu lebih dari 7.000 anak yatim. Kampus tempat saya belajar pun ikut dibantunya. Namanya kini melekat pada Gedung TP Rachmat di Kampus Cipayung Universitas Paramadina.

Penghargaan yang beliau kumpulkan pun menarik untuk dicermati. Jauh sebelum namanya masuk daftar Forbes, beliau sudah menerima Satyalancana Kebaktian Sosial dari Presiden pada 1995. Pada 2019, beliau menerima Bintang Jasa Utama dari Presiden Joko Widodo, dan di tahun yang sama meraih Lifetime Achievement Award dari EY. Artinya, kepeduliannya sudah mendapat pengakuan negara jauh sebelum namanya masuk daftar Forbes.

Ketika menerima gelar Doktor Kehormatan dari ITB pada 2019, beliau jujur mengakui proses kuliahnya “tidak sepenuhnya mulus”. Lalu beliau menyebut prinsip hidupnya: “Less for self, more for others, enough for everyone.” Beliau juga merujuk ajaran lama bahwa kepada orang yang banyak diberi, banyak pula yang dituntut.

Kalau kita melihat perjalanan tersebut, ada pelajaran penting tentang karier. Posisi awal seseorang tidak selalu menentukan seberapa jauh ia bisa melangkah.

Bayangkan seseorang yang memulai karier sebagai sales. Tugasnya mungkin mencari pelanggan, menawarkan produk, menghadapi penolakan, dan mengejar target.

Di mata sebagian orang, pekerjaan itu mungkin biasa saja.

Namun, di balik aktivitas tersebut, ada kemampuan yang sedang dibangun: memahami kebutuhan orang lain, berkomunikasi, membaca peluang, membangun kepercayaan, dan mengeksekusi strategi.

Itulah mengapa gue selalu percaya bahwa kita nggak seharusnya meremehkan pekerjaan pertama seseorang.

Jangan buru-buru menilai seseorang dari jabatan yang tercantum di kartu namanya hari ini. Bisa jadi, ia sedang membangun fondasi untuk sesuatu yang jauh lebih besar.

Tentu saja, kesuksesan tidak datang hanya karena seseorang memulai dari bawah. Ada kompetensi, kerja keras, kesempatan, keputusan strategis, dan berbagai faktor lain yang turut menentukan.

Tetapi, kisah Pak TP Rachmat mengingatkan kita bahwa perjalanan panjang sering kali dimulai dari pekerjaan yang terlihat sederhana.

Buat gue, bagian paling menarik dari kisah beliau justru bukan ketika membicarakan perusahaan yang berhasil dibangun atau kekayaan yang berhasil dikumpulkan. Bagian paling menarik adalah apa yang beliau lakukan dengan keberhasilannya.

Ketika Kesuksesan Tidak Berhenti pada Diri Sendiri

Ada perbedaan antara orang yang sukses mengumpulkan kekayaan dan orang yang menggunakan sebagian keberhasilannya untuk memperluas kesempatan hidup orang lain.

Pak TP Rachmat menunjukkan perhatian terhadap pendidikan dan pelayanan sosial melalui Yayasan Pelayanan Kasih A&A Rachmat.

Menurut informasi resmi Triputra Group, yayasan tersebut berfokus pada tiga bidang: pendidikan, layanan kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Program beasiswanya telah menjangkau lebih dari 25.000 mahasiswa di berbagai perguruan tinggi dan akademi di Indonesia. Yayasan ini juga menjalankan pelatihan bagi guru sekolah dasar.

Mari berhenti sejenak dan membayangkan angka tersebut.

Puluhan ribu mahasiswa.

Di balik setiap angka, ada manusia yang punya cerita masing-masing.

Ada anak dari keluarga sederhana yang ingin mengubah nasib orang tuanya, mahasiswa yang ingin menjadi guru di kampungnya atau anak muda yang ingin membantu keluarganya keluar dari keterbatasan ekonomi.

Bagi sebagian keluarga, biaya kuliah bukan sekadar pos pengeluaran. Itu bisa menjadi tembok besar antara mimpi dan kenyataan.

Kita mungkin mudah berkata, “Kalau mau sukses, ya sekolah yang tinggi.”

Namun, bagaimana kalau seseorang punya kemampuan, semangat belajar, dan potensi, tetapi tidak punya uang untuk membayar biaya pendidikannya?

Di sinilah beasiswa menjadi lebih dari sekadar bantuan finansial. Beasiswa membuka akses menuju kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau.

Konsep ini sejalan dengan pemikiran ekonom dan filsuf Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom. Sen menekankan pentingnya memperluas kebebasan dan kapabilitas manusia agar mereka mampu menjalani kehidupan yang bernilai.

Dengan kata lain, pembangunan tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar kekayaan yang dihasilkan. Kita juga perlu melihat seberapa luas kesempatan yang bisa dinikmati manusia.

Kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, kira-kira begini:

Kita tidak hanya perlu bertanya, “Seberapa jauh gue sudah melangkah?”

Kita juga perlu bertanya, “Setelah gue melangkah sejauh ini, siapa yang bisa ikut melangkah karena keberadaan gue?”

Bagi gue, pertanyaan kedua itulah yang membuat kesuksesan terasa lebih bermakna.

Malcolm Gladwell, dalam Outliers, mengajak kita berhenti mengagumi pohon yang menjulang dan mulai memperhatikan hutannya: tanah, sinar matahari, dan lingkungan yang membuat pohon itu bisa tumbuh tinggi. Contohnya Bill Gates. Pada 1968, ketika masih kelas dua SMP, ibu-ibu perkumpulan orang tua murid di sekolahnya menggelar bazar barang bekas, dan hasilnya dipakai membeli terminal komputer. Di mesin itulah Gates menulis program pertamanya. Salah satu pendiri Microsoft mulai akrab dengan komputer berkat uang bazar. Tak ada orang yang benar-benar naik sendirian.

Pak TP tampaknya paham betul hal ini. Dalam pidato ITB itu, beliau menutup dengan kisah Lucila Hanane Takjerad, lulusan Harvard, anak pengungsi dari Aljazair. Ia bisa bersekolah di sana karena seorang asing pernah membantu ibunya mendaftar sebagai imigran. Sampai hari ini, Lucila tidak mengenal orang itu. Pesannya sederhana: lakukan hal sekecil apa pun yang bisa kita lakukan sekarang, sebab bisa jadi itu yang paling berarti bagi orang lain. Harapan dan kesempatan, kata beliau, itulah yang ingin ia berikan.

Adam Grant, psikolog Wharton, dalam Give and Take, membagi manusia menjadi giver, taker, dan matcher. Temuannya menarik: para giver ternyata berada di dasar tangga kesuksesan, tetapi juga di puncaknya. Bedanya, giver yang sampai di puncak memberi dengan cerdas, tidak sampai habis dikuras. Bagi saya, perjalanan Pak TP tampak seperti contohnya: terus tumbuh sambil terus membagi.

 

Beliau sendiri tidak sedang mengejar tepuk tangan. Dalam pidato yang sama, beliau menegaskan bahwa besar-kecilnya dampak tidak menjadi soal. Yang penting adalah mencoba membuat Indonesia sedikit lebih baik dari waktu ke waktu. Mungkin di situlah bedanya sukses yang membesarkan ego dengan sukses yang membesarkan tanggung jawab.

Gue Adalah Salah Satu Orang yang Merasakan Dampaknya

Kalau hari ini gue memperkenalkan diri sebagai award-winning best-selling author atau narrative & authority strategist, ada satu bagian dari perjalanan itu yang tidak boleh gue lupakan yaitu kesempatan untuk mendapatkan pendidikan tinggi.

Gue tidak ingin mengklaim bahwa beasiswa adalah satu-satunya faktor yang membentuk diri gue hari ini. Perjalanan hidup terlalu kompleks untuk disederhanakan seperti itu.

Ada banyak orang yang berkontribusi,  keputusan yang harus gue ambil,  kegagalan yang perlu gue hadapi, dan  keterampilan yang harus gue bangun sendiri.

Tetapi,  kesempatan pendidikan tersebut merupakan bagian penting dari fondasi perjalanan gue.

Ibarat seseorang yang ingin membangun rumah, beasiswa  adalah fondasi dan akses terhadap bahan bangunan.

Setelah itu, kita tetap harus bekerja, belajar, jatuh, bangkit, dan membangun kehidupan kita sendiri. Namun, tanpa fondasi yang memadai, perjalanan tersebut bisa menjadi jauh lebih sulit.

Karena itulah, ketika mengingat masa kuliah, gue tidak hanya mengingat ruang kelas, buku-buku, diskusi, atau tugas akademik. Gue juga mengingat orang-orang yang memungkinkan perjalanan itu terjadi.

Pak TP Rachmat mungkin tidak mengetahui setiap detail kehidupan gue setelah lulus. Beliau mungkin tidak tahu buku-buku yang kemudian gue tulis, pekerjaan yang pernah gue jalani, atau tantangan yang gue hadapi.

Namun, melalui kesempatan yang beliau bantu hadirkan, ada bagian dari masa depan gue yang ikut terbuka.

Menurut gue, itulah salah satu bentuk kontribusi yang paling menarik dari seorang pemberi beasiswa. Kebaikannya tidak harus selalu hadir di depan mata untuk terus menghasilkan dampak.

Kebaikan yang Tidak Berhenti pada Penerimanya

Dalam buku Give and Take, psikolog organisasi Adam Grant membahas bagaimana pola memberi, menerima, dan membalas kebaikan memengaruhi hubungan serta kehidupan profesional.

Salah satu gagasan yang relevan adalah giver yaitu orang yang bersedia memberikan nilai kepada orang lain tanpa selalu menghitung keuntungan langsung yang akan diterimanya.

Namun, memberi bukan berarti harus mengorbankan diri tanpa batas. Pemberian yang sehat juga membutuhkan kebijaksanaan, batasan, dan keberlanjutan.

Dalam konteks Pak TP Rachmat, pelajaran yang bisa kita ambil  adalah bagaimana sumber daya itu bisa digunakan untuk membuka kesempatan bagi orang lain. Program pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan sosial yayasan tersebut menunjukkan bahwa kontribusi dapat diwujudkan melalui upaya yang terorganisasi, bukan hanya tindakan spontan.

Lalu, bagaimana kalau kita bukan konglomerat? Bagaimana kalau rekening kita biasa saja? Bagaimana kalau kita bahkan masih berjuang membayar cicilan?

Apakah kita masih bisa memberikan dampak?

Absolutely.

Guru bisa memberikan waktu tambahan untuk membantu murid yang tertinggal.

Profesional bisa membagikan pengetahuan kepada fresh graduate yang belum memahami dunia kerja.

Pemilik bisnis bisa memberikan kesempatan pertama kepada orang yang belum punya pengalaman.

Penulis bisa membagikan ilmu yang selama ini hanya tersimpan di kepalanya.

Seseorang yang pernah dibantu bisa memilih untuk membantu orang lain ketika ia sudah punya kapasitas.

Kita tidak harus menunggu kaya untuk menjadi bermanfaat.

Kita hanya perlu memahami bahwa memberi tidak selalu tentang nominal. Kadang, memberi berarti membuka pintu yang sebelumnya tertutup bagi orang lain.

Buat gue, inilah esensi pay it forward yaitu meneruskan kebaikan yang pernah kita terima kepada orang lain, meskipun orang yang kita bantu bukanlah orang yang dahulu membantu kita.

Misalnya, seorang mahasiswa menerima beasiswa. Bertahun-tahun kemudian, ia mungkin belum mampu membiayai pendidikan orang lain. Namun, ia bisa menjadi mentor bagi mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan.

Mahasiswa yang dibimbingnya kelak menjadi pemimpin. Pemimpin itu kemudian membuka kesempatan kerja bagi puluhan orang.

Dampaknya bergerak dari satu orang ke orang lain, seperti riak air ketika sebuah batu kecil jatuh ke danau.

Kita tidak selalu bisa menghitung sejauh mana riak itu bergerak. Tetapi, bukan berarti dampaknya tidak nyata.

Kesuksesan Terbesar Bukan Hanya tentang Apa yang Kita Miliki

Ada satu jebakan yang sering kita hadapi ketika membicarakan kesuksesan. Kita terlalu fokus pada apa yang berhasil dikumpulkan seseorang.

Jabatan. Kekayaan. Pengaruh. Pengakuan. Jumlah pengikut. Penghargaan.

Semua itu bisa menjadi indikator pencapaian, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan seluruh nilai kehidupan seseorang.

Kita perlu melihat apa yang dilakukan seseorang dengan kesempatan, sumber daya, dan pengaruh yang dimilikinya.

Dalam konteks ini, perjalanan bisnis Pak TP Rachmat dan perhatian beliau terhadap pendidikan menawarkan sebuah refleksi menarik. Keberhasilan membangun bisnis dapat berjalan beriringan dengan upaya memperluas kesempatan bagi orang lain. Triputra Group sendiri menyatakan nilai-nilai integritas, keunggulan, kepedulian (compassion), dan kerendahan hati sebagai bagian dari DNA organisasinya.

Tentu, kita tidak bisa mengukur keseluruhan karakter seseorang hanya dari profil perusahaan atau kegiatan filantropinya. Namun, kontribusi yang terdokumentasi tersebut memberi kita contoh konkret tentang bagaimana dunia bisnis dan kepedulian sosial dapat saling terhubung.

Buat gue pribadi, ini juga menjadi pengingat bahwa personal branding yang kuat seharusnya berangkat dari nilai yang kita hidupi dan manfaat yang benar-benar kita berikan.

Bukan sekadar terlihat hebat di LinkedIn, punya jabatan keren di profil, atau viral karena satu unggahan. Melainkan, apakah keberadaan kita membuat orang lain mendapatkan akses terhadap pengetahuan, kesempatan, kepercayaan, atau kehidupan yang lebih baik?

Pertanyaan ini relevan untuk siapa saja, mulai dari fresh graduate, freelancer, karyawan, pengusaha, sampai pemimpin perusahaan.

Kita semua punya ruang untuk memberi dampak.

Skalanya boleh berbeda. Caranya boleh berbeda. Kapasitasnya pun tidak harus sama.

Yang penting, jangan sampai seluruh perjalanan kita hanya berakhir pada kalimat, “Gue berhasil.”

Akan jauh lebih bermakna jika suatu hari kita juga bisa berkata, “Karena gue pernah berada di sini, ada orang lain yang sekarang punya kesempatan untuk melangkah lebih jauh.”

Sebuah Utang Budi yang Tidak Bisa Dihitung dengan Uang

Hari ini, ketika gue mengingat kembali perjalanan pendidikan tersebut, gue sadar bahwa rasa terima kasih tidak selalu bisa dibayar dengan cara yang setara secara finansial.

Gue mungkin tidak bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu. Gue juga tidak bisa kembali menjadi mahasiswa pada 2008 dan menceritakan kepada diri gue yang lebih muda tentang bagaimana hidup akan berjalan.

Namun, gue masih bisa memilih apa yang akan gue lakukan dengan kesempatan yang pernah gue terima.

Sebagai penulis, gue bisa membagikan pengetahuan melalui buku.

Sebagai konsultan , gue bisa membantu orang lain mengenali potensi serta memperjelas arah hidupnya.

Sebagai profesional yang aktif di LinkedIn, gue bisa membantu orang membangun personal branding, memperluas jaringan, dan membuka peluang karier maupun bisnis.

Semua itu tentu bukan pengganti langsung atas bantuan pendidikan yang pernah gue terima. Gue juga tidak ingin mengklaim bahwa setiap hal yang gue lakukan hari ini merupakan akibat langsung dari beasiswa tersebut.

Tetapi, gue berharap perjalanan ini bisa menjadi salah satu cara untuk meneruskan nilai yang sama yaitu membantu orang lain mendapatkan kesempatan untuk bertumbuh.

Mungkin, suatu hari nanti, ada seseorang yang hidupnya berubah karena sebuah buku yang gue tulis,  percakapan yang gue mulai, atau  kesempatan yang gue bantu buka.

Bisa jadi, orang itu akan melakukan hal serupa untuk orang lain.

Maka, gue melihat makna keberhasilan yang lebih panjang daripada usia karier kita sendiri.

Kita tidak harus menjadi orang terkaya di Indonesia untuk memberikan dampak. Kita juga tidak harus punya yayasan besar untuk membantu sesama.

Kita hanya perlu berhenti bertanya, “Apa lagi yang bisa gue dapatkan?” Lalu mulai bertanya, “Dengan apa yang gue punya hari ini, siapa yang bisa gue bantu bertumbuh?”

Memberi Tidak Menunggu Kaya

Mungkin Anda berpikir, “Ya enak, beliau punya banyak.” Maka izinkan saya memakai contoh yang lebih dekat. Bayangkan seorang ibu penjual gorengan di depan sekolah yang diam-diam menambahkan satu bakwan untuk anak yang uangnya kurang. Ia tidak punya yayasan ataupun  gedung bernama dirinya. Tetapi logikanya sama: ia sedang menyalakan lampu kecil. Skalanya yang berbeda, bukan hatinya.

Menjadi penerima yang baik, ternyata, juga sebuah tugas. Kita tidak bisa mengembalikan cahaya itu kepada pemiliknya, tetapi kita bisa meneruskannya. Kebaikan yang tak mungkin dibalas ternyata mengajarkan saya tiga hal. Pertama, cara terbaik berterima kasih adalah membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah alamat, lewat kerja keras dan kejujuran. Kedua, jangan menunggu kaya untuk menjadi lampu bagi orang lain. Ketiga, kebaikan tidak perlu dikenali untuk menjadi berarti.

Pak TP, jika tulisan ini suatu hari sampai ke tangan Bapak, terima kasih. Lampu yang Bapak nyalakan belasan tahun lalu itu masih menerangi langkah saya sampai hari ini.

Terima kasih, Pak TP Rachmat, atas kesempatan pendidikan yang pernah Bapak bantu hadirkan dalam hidup saya. Dengan bangga saya memberi label nama Bapak di belakang saya, Agung Setiyo Wibowo TP Rachmat Fellow.

Saya mungkin tidak bisa membalasnya secara langsung dengan cara yang sama. Namun, saya berharap bisa meneruskan kebaikan itu melalui ilmu, karya, dan kesempatan yang kelak dapat saya bagikan kepada orang lain.

So . . .

Kalau hari ini kita masih menjadi orang yang sedang berjuang, jangan berkecil hati.

Kita mungkin belum punya cukup uang untuk membiayai pendidikan seseorang. Kita mungkin belum punya jabatan untuk membuka lapangan kerja. Kita mungkin belum punya pengaruh besar untuk mengubah sistem.

But hey, kita selalu bisa memulai dari sesuatu yang kecil.

Bagikan pengetahuan. Buka koneksi. Berikan kesempatan. Bantu seseorang percaya bahwa masa depannya masih bisa lebih baik.

Karena kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa jauh dampak sebuah kebaikan akan berjalan.

Kadang, satu pintu yang dibuka untuk seseorang bisa menjadi awal dari ratusan pintu lain bagi generasi setelahnya.

Bagi gue, itulah salah satu bentuk kesuksesan yang layak kita perjuangkan.


Sudah dapet banyak manfaat dari LinkedIn belum? Sudah tahu cara main LinkedIn yang efektif? Sudah paham jurus jitu dapet kerjaan tanpa melamar, dapet klien tanpa pitching, dapet orderan tanpa jualan, dapet investor tanpa proposal, atau dapet mitra bisnis tanpa menawarkan diri? Ikutin solusi gue ini:

#TPRachmat #TheodorePermadiRachmat #ParamadinaFellowship #Beasiswa #PendidikanIndonesia #Philanthropy #PersonalBranding #Leadership #LifeLessons #PayItForward #LinkedInIndonesia #AgungWibowo  #TPRachmat #TriputraGroup #ParamadinaFellowship #BeasiswaIndonesia #Filantropi #PayItForward #KisahInspiratif #LifeCoach #PersonalGrowth #Gratitude #GenZIndonesia #LinkedInHacks

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *