Covid-19 di Mata Saya

Corona. Mungkin kata itu paling populer sejagad di tahun 2020.

Betapa tidak. Ratusan juta orang kehilangan pekerjaan, beralih profesi atau setidak-tidaknya menyesuaikan kebiasaan bekerjanya. Ribuan perusahaan gulung tikar. Dan tak terhitung mahasiswa dan pelajar yang harus belajar daring dari rumah.
Sementara itu, ribuan orang meninggal setiap harinya.
Masyarakat panik. Pemerintah kalang kabut. Iklim bisnis terpukul.
Covid 19 begitu bermakna bagiku. Baik secara personal maupun profesional.
Terlepas dari stres yang sering menghantui, aku menemukan beberapa hikmah dari corona.
Pertama, kebahagiaan ada di dalam diri. Ini tidak bisa dipungkiri. Meski beberapa bulan terpaksa bekerja dari rumah dengan segala dramanya, aku makin sadar bahwa tiada yang bisa merampas kebahagiaan dari diriku. Masalah boleh terus berdatangan, namun bukankah diri kita yang menjadi pengendali?
Kedua, kematian adalah pengingat terbaik. Meski ada sejuta alasan untuk mengeluh, sedih, kecewa, panik, galau atau stres; aku tersadarkan bahwa kematian adalah pengingat terbaik. Karena kematian bisa datang kapan saja, apa guna memikirkan hal-hal yang tidak dibawa mati? Bukankah lebih baik “menyiapkan” bekal mati?
Ketiga, menerima takdir adalah kunci.  Manusia bisa berencana, namun pada akhirnya takdirlah yang lebih berkuasa. Seringkali kita merasa jumawa dan melupakan garis kehidupan yang ditetapkan-Nya. Corona menyadarkan kita bahwa manusia itu sungguh lemah. Oleh karena itu, marilah mengupayakan sebaik mungkin dengan ikhlas. Biarkan hasilnya. Terimalah apapun yang terjadi dengan lapang.
Nah, itulah tiga hikmah corona di mataku. Bagaimana dengan kamu?
Agung Setiyo Wibowo
Jakarta, 19 Juni 2020
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Edit