Tag: Quarter-Life Crisis

  • Jurus Melewati Quarter-Life Crisis

    Setiap tahunnya jutaan sarjana baru lahir. Namun, 5-8 tahun pertama dalam menapaki tangga karier tidaklah mudah. Karena dalam praktiknya mereka akan dihadapkan pada ketidakpastian, keraguan, kebimbangan, dan kegalauan yang tak berkesudahan. Mereka mempertanyakan jalan mana yang harus mereka tempuh untuk memenangkan masa depan. 
     
    Itulah periode yang penuh turbulensi. Fase ketika seseorang terombang-ambing di “persimpangan jalan”. Masa transisi yang membuat mereka merenungkan kembali terkait apa yang sebenarnya benar-benar mereka inginkan. 
     
    Itulah yang kita kenal dengan krisis seperempat baya atau Quarter-Life Crisis. Sebuah masa yang membuat anak-anak muda melontarkan beberapa pertanyaan mendasar seperti: 
    * Haruskah bertahan dari tempat kerja sekarang? 
    * Bisnis apa yang sebaiknya digeluti? 
    * Apa jurusan S2 yang perlu diambil?
    * Haruskah bekerja sambil melanjutkan S2 di dalam negeri?
    * Beranikah resign dari pekerjaan untuk melanjutkan S2 di luar negeri?
    * Profesi atau industri apa yang sebaiknya dipilih? 
    * Apakah sebaiknya mengambil KPR sekarang? 
    * Kapan sebaiknya menikah?
    * Dan berderet pertanyaan tak berujung yang kerap kali ditanyakan pada mereka yang berusia 20-an sampai 30-an.
     
    Krisis seperempat baya adalah istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional anak-anak muda yang penuh dengan kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan dalam menentukan arah hidup. Krisis ini terjadi sebagai imbas dari tekanan dari dalam diri (internal) maupun pihak luar (eksternal) karena belum adanya tujuan hidup yang jelas sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini, dan begitu banyaknya pilihan yang perlu diambil untuk menentukan “arah” masa depan. 
     
    Krisis seperempat baya adalah transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa yang menjadi “kejutan” bagi banyak orang. Itu bisa membuat setiap orang  merasa tidak berdaya, tidak tahu apa-apa, ragu-ragu, dan takut. Akan tetapi, mengalami krisis seperempat baya sejatinya adalah hal yang lumrah. Karena merupakan sebuah proses untuk menemukan jati diri atau terlahir menjadi “pribadi yang baru”.

    Melewati krisis seperempat baya memang begitu menguras emosi. Sebagaimana sebagian besar millennial Indonesia, saya menghabiskan 5 tahun pertama bekerja dengan menjadi “kutu loncat” alias berpindah-pindah kerja sekaligus profesi. Saya pun dihadapkan kegalauan yang luar biasa ketika memutuskan jurusan kuliah S2. Yang tersulit tentu saja adalah ketika memberanikan diri untuk melepaskan masa lajang.
     
    Setelah mengambil masa Sabbatical selama lebih dari setahun, saya pun berhasil “menaklukkan” krisis seperempat baya. Pengalaman tersebut saya terbitkan dalam buku berjudul Mantra Kehidupan: Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life Crisis. Sebuah buku yang berisi saripati pengalaman pribadi dan hasil riset yang melibatkan lebih dari 200 responden di 20 provinsi dan 27 kota di tanah air serta 8 kota di 7 negara. Mulai dari profesor, bankir, pengacara, pengusaha, guru, artis, hingga pemuka agama.
     
    Berikut adalah jurus melewati Quarter-Life Crisis yang dapat diterapkan oleh generasi muda Indonesia. 
     
    Pertama, identifikasilah pemicunya. Ketika kita meluangkan waktu untuk mengidentifikasi apa yang membuat kita mempertanyakan diri sendiri dan merasa tidak tenang, kita akan mulai memahami bagaimana merasa lebih nyaman dan mengurangi perasaan itu. Jika kita mulai menyadari ketakutan karena tidak mengetahui apa yang kita inginkan dalam hidup dan apakah kita membuat pilihan yang tepat atau tidak, kita bisa mulai merasa lebih nyaman. Jika kita mulai memperhatikan sikap kita terhadap keputusan dan pilihan itu untuk hidup sendiri, maka kita dapat mulai mengubahnya dan menggantinya dengan yang positif.

    Ketika kita mulai mengidentifikasi bahwa kita memberi tekanan pada diri sendiri untuk berada pada titik tertentu, kita dapat mulai menggantinya dengan pemikiran yang lebih rasional. Misalnya, kita dapat mengubah pemikiran kita tentang “Saya harus menjadi Direktur pada usia tertentu atau “Saya harus menikah sekarang” menjadi sikap yang lebih realistis seperti “Saya persis di tempat yang saya inginkan” dan “Saya sedang menuju ke arah terbaik dalam perjalanan hidup saya.”
     
    Kedua, ikuti apa yang membuat bahagia. Bagaimana kita tahu apa yang benar-benar membuat kita bahagia? Pertama-tama kita perlu mengetahuinya dan dapat melakukannya dengan penuh perhatian ketika kita merasa bahagia pada saat itu. Mencatat perasaan ini dapat membantu kita mengidentifikasi apa yang membuat kita merasa bahagia.

    Sebaliknya jika kita berfokus pada apa yang kita pikir harus kita lakukan dan membandingkan diri sendiri dengan teman dan keluarga pada usia yang sama, maka kita akan kehilangan apa yang benar-benar kita inginkan. Ikutilah hasrat kita sendiri dan gunakan itu sebagai motivasi untuk mencapai tujuan pribadi kita.
     
    Ketiga, buatlah rencana.  Saat kita lebih rileks dan merasa tenang, kita bisa meluangkan waktu untuk menyusun rencana. Meluangkan waktu untuk menulis apa yang kita inginkan dalam hidup dapat membantu kita merasa lebih dekat untuk mencapai tujuan tersebut. Membuat tujuan kecil setiap minggu akan membuatnya lebih mudah untuk dicapai dan membantu kita menemukan kepercayaan diri untuk membuat keputusan yang tepat di masa depan.

    Membuat rencana dapat membantu kita merasa lebih sadar diri dan mengabaikan tekanan apa pun untuk melakukan apa yang menurut kita seharusnya dilakukan. Setelah kita memiliki rencana itu, kita dapat mulai menerapkan langkah-langkah kecil untuk membuat perubahan yang dapat membantu meningkatkan sikap kita. Jika sikap kita terhadap diri sendiri menjadi lebih positif, maka kita akan mulai mantap untuk mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup.
     
    Keempat, tekuni pekerjaan sampingan. Salah satu alasan terbesar orang mengalami kesulitan mengambil “lompatan besar” untuk mengejar impian mereka adalah stabilitas keuangan dan jaminan untuk sukses. Kita dapat terus merasa “secured” dan mencoba hal-hal baru dengan bekerja sampingan. Pekerjaan sampingan bisa kita mulai dengan menekuni pekerjaan sesuai hobi atau minat. Bisa juga mengikuti peluang yang ditawarkan oleh pihak luar seperti menjadi dropshipper, reseller, agen asuransi, distributor MLM  dan seterusnya. 
     
    Pekerjaan sampingan memang membutuhkan waktu, tenaga, dan dedikasi ekstra. Namun kita dapat melihatnya sebagai cara untuk mengembangkan hobi dan minat dengan bonus menghasilkan uang dan jaringan yang berfaedah di kemudian hari. Kita tidak pernah tahu, pekerjaan sampingan itu dapat berubah menjadi pekerjaan penuh waktu dan bahkan menghasilkan lebih banyak uang daripada yang kita kira sebelum kita mencobanya. Nasehatilah diri sendiri untuk berani mengambil pekerjaan sampingan. Jika kita sudah siap mental, tidak ada salahnya untuk merintis bisnis kita sendiri. 
     
    Kelima, nikmati ketidaknyamanan sementara. Ada dua jenis ketidaknyamanan dalam hidup ini: ketika kita dihadapkan pada marabahaya, dan ketika kita menghadapi hal baru yang belum pernah diketahui sebelumnya. Ketidaknyamanan berasal dari alam bawah sadar kita yang mencoba memberi sinyal kepada kita bahwa situasi atau gaya hidup kita saat ini tidak lagi melayani kita atau bahwa kita berada dalam “musim pertumbuhan” dan perubahan. 
     
    Nikmatilah ketidaknyamanan dan dengarkan. Kenali bagian-bagian diri kita yang merasa tidak nyaman dan coba cari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan ketidaknyamanan tersebut. Jujurlah dengan diri sendiri dan akui jika kita telah membuat “alasan” untuk membantu diri kita merasa lebih baik. Akan tiba saatnya dalam hidup  ketika kita harus “berdamai” dengan ketidaknyamanan demi pencapaian goal atau kehidupan yang lebih selaras dengan jati diri kita. 
     
    Keenam, temuilah orang-orang yang telah melaluinya. Jika kita ingin tahu tentang karier atau gaya hidup, cobalah untuk bertemu dengan orang-orang yang pernah melakukannya sebelumnya. Salah satu hal indah tentang hidup adalah bahwa ada begitu banyak jalan yang pada akhirnya dapat mengarah pada kepuasan batin. Bicaralah dengan orang-orang yang telah mengambil “lompatan besar” untuk beralih dari sesuatu yang mirip dengan keadaan kita. Kita akan memahami bahwa nampaknya kesuksesan dilalui dengan begitu mudahnya, padahal dalam kenyataannya kemungkinan besar butuh banyak “trial and error” untuk membawa mereka ke tempat mereka sekarang.  Berbicara dengan orang yang telah melakukannya sebelumnya dapat membantu kita mulai melihat bahwa impian kita dapat menjadi kenyataan.
     
    Ketujuh, mintalah bantuan profesional. Selama mengarungi krisis seperempat baya, sudah tidak terhitung lagi jumlah orang yang saya andalkan untuk membantu saya. Mulai dari psikolog, konselor, career coach, dan hypnotherapist. Termasuk ribuan orang yang saya temui secara virtual maupun tatap muka selama menikmati Sabbatical. 
     
    Krisis seperempat baya bukanlah penyakit atau hal yang memalukan karena sebagian besar orang melaluinya juga. Jadi, jangan sungkan untuk menghubungi para profesional untuk membantu kita keluar dari “jeratan” krisis seperempat baya. 
     
    Kedelapan, cintai takdirmu. Setiap orang adalah unik. Orang tua yang mengasuh kita, sekolah yang kita masuki, masalah yang kita lalui, tantangan yang kita hadapi, ambisi yang kita miliki, dan apa yang membuat kita bahagia benar-benar berbeda. Menyadari hal itu, jangan membanding-bandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain karena justru itu akan membuat kita semakin frustasi atau tidak bahagia. 
     
    Yang perlu kita bandingkan adalah pencapaian diri kita hari ini dengan pencapaian kita kemarin. Jika kita telah mengikuti proses yang benar, tentu akan ada progress atau kemajuan. Itulah kesuksesan yang sesungguhnya karena hidup adalah perjalanan. 
     
    Tidak ada salahnya untuk membatasi waktu kita mengakses media sosial. Jika perlu kita bisa mencoba “hibernasi” dalam beberapa waktu. Karena kebanyakan anak muda merasa “insecure” ketika membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
     
    Itulah delapan jurus yang pernah saya andalkan selama mengalami krisis seperempat baya. Selamat mencoba. 
  • 4 Hal yang Kupelajari Selama Melewati Quarter-Life Crisis

    Quarter-Life Crisis.

    Frase ini begitu populer bagi kawula muda. Khususnya yang baru memulai perjalanan kariernya.

    Ya. Quarter-Life Crisis memang paling banyak dialami oleh mereka yang saat ini berusia antara 25-35. Mereka yang saat ini tengah digalaukan dengan berbagai pilihan hidup. Tak heran beberapa pertanyaan berikut kerap mereka.

    Kapan nikah?

    Kapan lanjut S2?

    Haruskan berpindah industri?

    Bisnis apa yang mau ditekuni?

    Beranikah banting setir profesi?

    Perlukah pulang kampung sejenak sebelum bekerja lagi? 

    Beranikah menjadi Self-Employee atau Freeelancer penuh waktu? 

    Dan seterusnya. Dan seterusnya. 

    Saya pribadi, mulai merasakan gejala Quarter-Life Crisis sejak 2012 – tahun ketika saya menamatkan jenjang S1. Jika saya ingat-ingat lagi, “turbulensi jiwa” itu saya alami hingga tahun 2018. Jadi, sekira enam tahun saya mengalaminya dengan puncak kegalauan terjadi di tahun 2016 ketika saya memberanikan diri untuk menikmati jeda selama setahun alias Sabbatical.

    Lantas, apa yang kupelajari selama masa pancaroba itu? Kira-kira berikut hikmahnya.

    Mengenali Diri Sendiri Itu adalah Kuncinya

    Kebanyakan anak muda yang mengalami Quarter-Life Crisis tidak memahami dirinya sendiri. Mereka buta dengan kelebihan, kekurangan, bakat, minat, passion, atau kepribadian sendiri. Tak mengherankan mereka terjerembab bertahun-tahun menghadapi Quarter-Life Crisis yang seolah-olah tak berkesudahan. Saya sendiri memanfaatkan Sabbatical untuk mengenali diri sendiri lebih baik.

    Menikmati Proses itu Penting

    Tak sedikit Gen Y maupun Gen Z yang ingin “terburu-buru” sukses di usia muda. Tidak salah memang. Namun, yang salah adalah ketika mereka tidak mau menikmati proses. Tidak ada progress tanpa proses. Oleh karena itu, kita harus ikhlas menikmati segala hal yang ditawarkan oleh hidup pada diri kita. Seberat apapun tantangan yang kita miliki.

    Bahagia itu Tanpa Syarat

    Sesungguhnya semua orang mendambakan kebahagiaan. Karena segala hal yang kita lakukan memang mencerminkan apa yang menurut kita bisa membawa kebahagiaan. Sayangnya, seringkali anak muda justru tergiur dengan kebahagiaan semu. Mereka pikir bahagia itu ditentukan oleh cuan, jumlah likes atau followers di media sosial, ketenaran, pangkat, atau prestas duniawi lainnya. Padahal, siapapun bisa bahagia tanpa ditentukan oleh benda atau kejadian yang di luar kontrol kita.

    Setiap Orang Memiliki Jalan Masing-Masing

    Mungkin ini terdengar begitu klise. Namun toh memang begitu kenyataannya. Seringkali anak muda galau karena merasa insecure ketika melihat teman sebayanya kelihatan lebih tampan/cantik, sukses, terkenal, bahagia,  atau memiliki sesuatu yang wah. Mereka tidak menyadari bahwa hampir semua orang hanya memperlihatkan hal-hal yang indah saja di media sosialnya. Mereka kurang menyadari bahwa semua orang memiliki jalan masing-masing. Maka, membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain hanya malah membuat diri kita tidak bahagia. Mereka lupa bahwa yang perlu dibanding-bandingkan adalah pencapaian diri kita sendiri saat ini dengan sebelumnya. Apakah ada kemajuan? Apakah lebih baik? Atau justru sebaliknya? Ini nih yang perlu dievaluasi.

    Nah, itulah 4 hal yang kupelajari selama “mengidap” krisis seperempat baya. Saat ini, Alhamdulillah aku mulai menikmati perjalanan hidup yang digariskan oleh Tuhan.

    Saat ini aku merasa bahagia. Karena aku tahu, bahagia adalah pilihan.

    Bagi teman-teman yang saat ini sedang mengalami Quarter-Life Crisis, nikmati saja prosesnya. Karena kelak kamu pasti akan melewatinya.

    Cintai takdirmu. Hidup hanya sekali.

     

    Agung Setiyo Wibowo

    Jakarta, 10 Juni 2022

  • Jurus Mengarungi Quarter-Life Crisis

    Baru -baru ini saya bertemu dengan sahabat kuliah. Sebut saja masing-masing bernama Tom, Fahmi, dan Andi. Kami akhirnya bisa berjumpa setelah lebih dari tiga tahun jarang bertegur sapa. Bulan Ramadhan rupanya menjadikan persuaan kami menjadi nyata dalam momen klise bertajuk Buka Bersama (Bukber).

    Tom merupakan jebolan Teknik Kimia dari PTN terbaik Indonesia yang terletak di Kota Bandung. Sejak lulus kuliah di akhir 2012, ia sampai saat ini masih bekerja di sebuah perusahaan migas asal Malaysia. Berdasarkan pengakuannya, ia ingin menyegerakan diri untuk undur diri. Namun belum ada “gambaran” mau melakukan apa setelahnya. Pikirannya terombang-ambing antara mengambil MBA di Ivy League atau membesut startup sendiri.

    Fahmi merupakan alumni Universitas Gadjah Mada jurusan Ilmu Politik. Ketika menjadi mahasiswa di Kota Gudeg, ia pernah dipercaya sebagai pimpinan di organisasi kemahasiswaan paling bergengsi tingkat nasional. Di penghujung perkuliahannya hingga empat tahun setelah wisuda, ia menjabat sebagai Staf Ahli salah satu Menteri. Ia belum lama ini menyelesaikan jenjang Master di Australia jurusan Kebijakan Publik. Saat ini hatinya gundah apakah mau merintis organisasi nirlaba yang dari dulu diidam-idamkannya atau menjadi “orang kepercayaan” politisi ternama lagi.

    Sementara itu Andi merupakan Lulusan Ekonomi dari Universitas Indonesia. Sejak wisuda hingga saat ini masih aktif sebagai seorang Konsultan Manajemen ternama. Ia telah menikah tiga tahun lalu. Sayangnya, belum diberi buah hati. Berdasarkan curhatannya, ia memang cukup sukses di bidang karirnya. Namun, ia merasa “remah-remah” ketika membicarakan biduk rumah tangganya. Ia merasa iri dengan Tom dan Fahmi yang masih melajang. Sehingga bebas mau pergi ke mana saja tanpa  dipusingkan “perizinan” dengan pasangan.

    Tom, Fahmi, dan Andi adalah potret dari Gen Y Indonesia yang termasuk kelompok kelas menengah baru. Dalam perspektif psikologi, apa yang mereka utarakan di atas bisa dikatakan sebagai Quarter-Life CrisisSebuah masa ketika seorang early jobbers dan profesional berusia 20an hingga 30an mempertanyakan keputusan yang telah diambil sekaligus mencemaskan apa yang akan dihadapi. Sebuah periode ketika anak-anak muda yang terlihat sukses di mata orang kebanyakan namun realitanya takut salah mengambil keputusan, ragu-ragu dalam melangkah, terlalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan galau akut yang seakan tak berkesudahan.

    Cerita sahabat kuliah saya di atas hanyalah puncak gunung es. Ketiganya mungkin mewakili suara jutaan millennial Indonesia yang kini menekuni segala profesi.

    Quarter-Life Crisis bukanlah isu baru. Itu merupakan fenomena global  yang tidak pandang batasan geografis. Sebagaimana dalam buku saya Mantra Kehidupan yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo setahun silam.

    Berikut ialah beberapa jurus mengarungi Quarter-Life Crisis yang bisa jadi bermanfaat untuk rekan-rekan.

    Pertama, kenali misi hidupmu. Mungkin terdengar berlebihan. Namun, begitulah semestinya. Dengan mengenal misi hidup sendiri, hidup kamu akan lebih terarah.

    Misi berbeda dengan goal. Misi lebih berkaitan dengan tujuan hidup. Apa  saja yang akan menjadi “warisan” kelak ketika kamu tiada. Misi bersifat jangka panjang dan berkaitan erat dengan spiritual. Sementara itu goal merupakan target-target yang bisa mendukung misi tersebut. Jika goal lebih bersifat fleksibel, misi sebaliknya.

    Misi berkaitan dengan identitasmu. Ia sebaiknya sudah dulu lebih kamu miliki sebelum beraktifitas. Karena kata orang Barat, “Activity follows identity”. Maksudnya, segala bentuk aktivitasmu berbanding lurus dengan identitas yang kamu yakini.

    Kedua, jangan membanding-bandingkan. Ini sudah pasti harus kamu lakukan. Membandingkan dirimu dengan orang lain hanya akan membuatmu tidak bahagia.

    Apa guna membanding-bandingkan? Bukankah dari lahir kita memang sudah “berbeda”? Lagipula, mimpi kita tidaklah sama.

    Yang harus kamu sadari, hanya kamu yang mengetahui apa yang kamu inginkan. Karena setiap individu merupakan unik.

    Jadi, kamu jangan sekali-kali membandingkan prestasi diri sendiri dengan orang lain. Bandingkan saja prestasi dirimu saat ini dan sebelumnya. Karena sukses sejatinya bukanlah hasil akhir. Melainkan progress alias kemajuan yang kamu capai dari waktu ke waktu.

    Ketiga, nikmati setiap momennya. Dalam kamus Barat, bisa dikatakan sebagai “present” yang artinya hidup di saat ini, sekarang juga.

    Sederhana saja. Kamu hanya perlu untuk ikhlas menjalani setiap proses untuk mewujudkan misi hidupmu. Dengan senantiasa “sadar” tanpa terikat pada hasil.

    Karena pada akhirnya, bahagia itu tak ada syaratnya. Ia hanya perlu kita terima, kita lalui, kita selami. Ia bukan masa lalu yang perlu kita sesali. Ia bukan masa depan yang kita cemaskan. Ia ada di depanmu, sekarang juga.

    Ketiga di atas hanyalah tiga dari berderet jurus untuk mengarungi Quarter-Life CrisisBisa jadi sebagian cocok dengan dirimu. Sebagian lainnya mungkin tidak relevan.

    Yang pasti, hanya kamu yang tahu dengan dirimu sendiri. Cuma kamu yang memegang kendali kebahagiaanmu. Sebagaimana kata filsuf Persia Umar Khayyam bahwa “Be happy for this moment. This moment is your life.”

     

    *) Artikel ini pertama kali dimuat di Biem.com pada 30 April 2018

  • Buah Semedi Itu Bernama Life Mantra

    Mungkin semua orang pernah menikmati liburan. Tapi saya yakin belum tentu semua orang berani keluar dari pekerjaan hanya untuk “semedi”. Satu aktifitas yang dianggap buang-buang uang, waktu, tenaga dan pikiran.

    Gw sendiri memutuskan “bertapa” selam 1 (satu) tahun penuh. Meninggalkan karir yang cukup baik (untuk ukuran kelas menengah Indonesia). Menjalani hari demi hari tanpa perlu menunggu perintah bos, aturan waktu yang mengikat, dan gaya hidup yang nyaman. Satu fase yang penuh dengan hal-hal paling mengejutkan dalam hidup.

    So, apa yang didapatkan selama semedi? Ada banyak. Tapi salah satunya ya buku kecil berjudul Mantra Kehidupan: Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome & Quarter-Life CrisisHanya butuh 2 minggu menuliskan “bocah” ke-8 saya ini. Tapi, isinya tidak main-main.

     

    So, apa sih pesan dari “jabang bayi” ini?

    1. Saripati (>) 1/4 abad petualangan, pergumulan bathin dan kontemplasi menjalani hidup.
    2. “Oleh-oleh” 1 tahun penuh masa Sabbatical (Gap Year) melintasi lebih 16 provinsi, ratusan kota dan ribuan desa. Termasuk 6 bulan “semedi” di sebuah pulau (surga) di bibir Selat Malaka 😛
    3. Riset saya pribadi yang menghabiskan wawancara face to face (maupun virtual) lebih dari 500 orang di 20 provinsi, 35 kota, dan 7 negara. Mulai dari Profesor, CEO, Menteri, Juru Bicara Presiden, Rektor, anggota DPR, bankir, penulis, artis, dokter, pengacara, pedagang, bhiksu, motivator, penyanyi, Pemimpin Redaksi, Panglima TNI, ilmuwan, politisi, PR, akuntan, petani, hingga profesional dari berbagai bidang.
    4. Studi literatur yang “memakan” lebih dari 1300 buku. Sebagian besar terbitan USA dengan perspektif (peradaban dan pemikiran) gado-gado. Mulai dari Islam, Barat, Kejawen, Yahudi, Persia, Tiongkok, dan Hindi.

    Baca Juga:  Ngapain Aja Gue Selama “Semedi”? —– Apa Yang Gue Dapet Selama Gap Year? —– 4 Hal Yang Harus Lho Pikirkan Sebelum Sabbatical

     

    Mengapa buku ini gw tulis?
    Simple saja. Gw pernah berada di titik terendah dalam hidup bertajuk Quarter-Life Crisis. Mencoba berdamai diri sendiri dengan mendatangi para bijak bestari, yogi, dan mencari “diri yang hilang” melalui beragam cara. Memakai jasa hipnoterapis, Life Coach, psikiater, grafolog, hingga psikolog. > 50 Self-Assesment multipendekatan (dan teknologi) telah gw coba.

    Gw nggak ingin adik-adik generasi di bawah gw mengalami hal yang sama. So, buku ini tidak berisi bualan. Bukan curhatan sampah. Bukan pula rangkaian kata-kata untuk (sok) memotivasi. Buku ini murni hasil perenungan berbasis riset ilmiah.

    Buku ini nggak berisi kutipan sono-sini yang penuh teori. Tapi sarat dengan Work Book. So, rugi banget kalau hanya sekedar membaca tapi nggak mau mengerjakan “tugas” dari gw.

    Dan . . . . buku ini dilengkapi dengan berderet pendekatan untuk mengenali diri pembacanya. Self-Discovery paripurna. Inshaallah.

    Gw ucapkan banyak terima kasih untuk para Guru Kehidupan yang telah memberikan testimoni. Bapak Asep Saefuddin, Kang Dedi Priadi, Mas Kemal Gani. dan Coach Andrew Tani.

     

    13 Maret 2017 bisa didapatkan di Gramedia terdekat di seluruh Indonesia. Semoga nggak molor ya hehe.

  • Life Mantra: Jurus Melewati Fresh Graduate Syndrome dan Krisis Seperempat Baya

    Berbicara mengenai masa transisi memang tidak ada habisnya. Sebuah fase kehidupan yang sarat dengan kejutan, ketidakpastian, dan tentu saja perubahan. Sebuah periode yang lekat dengan persimpangan, pengambilan keputusan, dan pilihan ekstrem.

    Turbulensi kehidupan di masa peralihan terbukti menjadikan setiap orang lebih dewasa. Hal itu ditopang oleh dorongan dari dalam diri dan tekanan sosial bertubi-tubi yang membuatnya mengenal diri lebih dekat dari fase kehidupan mana pun.

    Namun bukan berarti masa peralihan berjalan mulus-mulus saja. Yang kebanyakan terjadi justru sebaliknya. Alih-alih langsung tanggap menerima ketidaknyamanan, orang-orang yang melewati “masa pancaroba” tersebut dirundung kegalauan tak berkesudahan. Bimbang mengambil keputusan, cemas menghadapi masa depan, hingga takut menentukan pilihan. Akibatnya stuck tak terelakkan lagi.

    Buku sederhana yang Anda baca saat ini muncul ke  permukaan bukan tanpa tujuan. Karena penulis  secara pribadi pernah terjerembab dalam krisis seperempat baya yang menguras emosi. Terpaan badai fresh graduate syndrome yang membuatnya menjadi “kutu loncat”, hilang arah, jatuh di titik terendah dalam hidup, berpetualang selama setahun dalam misi sabbatical, hingga menemukan diri yang baru. Mirip roller coaster.

    Terinspirasi dari kisah nyata yang dialami penulis, buku ini diperkuat oleh riset dari berbagai institusi.  Termasuk survei pribadi yang melibatkan lebih dari 200 orang di 20 provinsi dan 27 kota di tanah air serta 8 kota di 7 negara. Mulai dari profesor, bankir, pengacara, pengusaha, guru, artis, hingga pemuka agama.

     

    Apa Kata Mereka? 

    “Tidak seperti buku-buku self-help lainnya, buku ini ditulis dengan ungkapan bahasa yang menakjubkan. Mengalir lepas seperti air! Inilah kelebihan tulisan-tulisan Agung Setiyo Wibowo. Mas Agung – demikian penulis biasa disapa – menulis dengan aliran kata yang fasih, bernas, diksi yang membumi, namun tetap akurat mengungkap fakta.” 

    (Dedi Priadi, MT., MA., – Inventor PRiADI Psychological Fingerprints)

     

    “Buku ini penting dibaca oleh para fresh graduate yang masih galau dengan masa depannya. Masa transisi dari lulus kuliah hingga bekerja dan berumah tangga memang tidak mudah. Karena ada begitu banyak pilihan, persimpangan jalan, dan ketidakpastian yang sering membingungkan setiap individu. Banyak orang yang hanya jalan di tempat atau malah jatuh terjerembab. Buku ini mungkin tidak bisa menjadi obat instan, tapi setidaknya bisa dijadikan rujukan untuk menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan menjadi baik.”

    (Kemal E. Gani – Group Chief Editor SWA Media Inc.)

     

    “Buku Life Mantra karya Agung Setiyo Wibowo akan mengisi kekosongan referensi bagi para fresh college graduate yang dapat memberikan nasehat berharga mengenai upaya menyiasati dan merintis permulaan karir generasi para milenial pada abad ke 21 ini.”

    (Andrew Tani – CEO AndrewTani & Co.)

     

                “Saya salut kepada penulis buku ini, Mas Agung Setiyo Wibowo, yang telah mampu menuangkan pemikirannya tentang Fresh Graduate Syndrome (FGS) dan Krisis Seperempat Baya (QLC). Mengapa? Karena masalah ini sering dihadapi orang di saat berbahagia tetapi dihadapkan dengan kebingungan masa depan. Pada saat seseorang lulus ujian sarjana dan diwisuda, tentu bahagia. Tetapi pada saat itu juga dia bingung, tidak yakin, kurang faham keterampilan apa yang telah diperolehnya selama ini. Memang itu tidak melulu kesalahan individual, tetapi juga persoalan kelembagaan pendidikan dan dunia kerja. Akan tetapi setidaknya buku ini bisa menjadi penerawang bagaimana masa depan itu harus dihadapi.

                Rasa salut saya juga bertambah karena buku ini boleh dikatakan sebagai produk riset. Karena buku ini diperkuat melalui setidaknya 200 responden di 20 provinsi, 27 kota/kabupaten di Indonesia, dan 8 kota di 7 negara. Ini luar biasa dan membuat tentunya kita semakin ingin tahu apa isinya. Untuk menghilangkan rasa kepenasaran itu, buku ini menjadi wajib  dibaca. Selain itu, diharapkan juga buku ini dapat membantu metode self-help dan move on. Masa depan itu kita sendiri yang menentukan melalui kerja, usaha dan do’a. Selamat membaca.”

    (Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc – Rektor Universitas Trilogi, Guru Besar Statistika FMIPA IPB)

     

    Siapa sih yang perlu baca?

    1. Fresh Graduates (SMA/SMK/D1/D3/S1)
    2. Profesional muda yang masih galau dengan masa depan
    3. Para jomblo yang bengong jika ditanya kapan kawin
    4. Para Career Climber yang merasa stuck dengan pekerjaan sekarang
    5. Orang tua hebat yang peduli dengan kesuksesan putera-puterinya
    6. Para manager/supervisor (atasan) yang ingin mengenal lebih baik bawahannya
    7. Para Direktur Sumber Daya Manusia (HR) yang ingin tahu “luar dalam” karyawannya
    8. Siapapun yang ingin mencari jati diri, kebahagiaan, dan ketentraman
    9. Para pencari kebijaksanaan di mana pun berada

     

    Berapa harganya?

    Di Gramedia, buku ini dipatok Rp. 64.800,- per eksemplar.

     

    Bagaimana cara mendapatkannya?

    Ada dua cara sih sebenarnya mah:

    1. Anda bisa membeli buku sederhana ini di Gramedia terdekat di kotamu.
    2. Anda bisa membeli buku versi digital di Scoop dengan harga Rp 50.400,-
    3. Anda bisa membeli secara daring melalui Bukabuku dengan harga Rp 51.840,-
    4. Anda bisa memesan langsung kepada saya dengan harga Rp 65.000,- (di luar ongkos kirim). Bonus voucher Squline senilai Rp 100.000,- untuk belajar bahasa Inggris/Mandarin/Jepang, dan gratis Self-Discovery Coaching bersama penulis senilai Rp 500.000,-. Ini hanya berlaku untuk 50 pemesan pertama sebelum 30 April 2017 ya 😛 

    Nggak Sabar Mau Baca? Yuk Isi Formulir Pemesanan Di sini!

    Bagaimana cara pembayaran jika membeli langsung kepada penulis?

    1. Pembeli mengirim SMS/Whatsapp ke 085230504735 dengan mengetik <Jumlah Eksemplar> <Life Mantra> <Nama> <Kota Asal>
    2. Penulis memberitahukan ongkos kirim (+ Rp 65.0000/harga buku) kepada pembeli
    3. Pembeli mentransfer ke rekening  34200-99-761 (BCA) atas nama Agung Setiyo Wibowo
    4. Pembeli mengirimkan bukti transfer melalui grandsaint@gmail.com maupun Whatsapp/Instagram/Line +62 852 3050 4735
    5. Penulis mengirimkan buku ke alamat yang diinginkan pembeli

     

    Adakah narahubung untuk ‘kepo’ maksimal?

    Ya ada dong dear. Lho langsung bisa menghubungi penulisnya Agung Setiyo Wibowo melalui:

    • hello@agungwibowo.com atau grandsaint@gmail.com (surel)
    • +62 852 3050 4735 (Call/SMS/Whatsapp/Telegram/Line)