Tag: Menulis Buku

  • Kenapa Si Harus Nulis Buku? Gini, Gengs!

     

    “Eh, lo pernah kepikiran nggak sih, buat nulis buku?”
    “Tulis buku? Duh, kayaknya ribet deh. Gue kan lebih suka nulis caption Instagram, bukan buat novel atau buku serius gitu.”
    “Gue juga dulu gitu, tapi lo tau nggak, nulis buku tuh bisa jadi cara keren buat berbagi pemikiran dan pengalaman lo, sekaligus bikin legacy yang gak gampang hilang!”
    “Eh, serius? Tapi bisa sukses nggak sih? Gimana caranya?”
    “Serius banget! Lo nggak bakal tau sampai lo coba. Banyak orang di luar sana yang bisa banget sukses nulis buku, bahkan dari hal-hal yang simpel banget. Dari pengalaman pribadi, pengetahuan yang lo punya, atau hal-hal yang bikin lo unik.”

    Ternyata, menulis buku itu bukan cuma buat orang yang pengen jadi penulis profesional, loh. Itu bisa jadi cara untuk mengekspresikan diri, berbagi ilmu, bahkan bisa jadi peluang untuk karier lo ke depannya. Kalau lo pikir itu cuma buat orang yang suka nulis banget, pikir lagi. Menulis buku itu, pada dasarnya, adalah cara lo ngomongin dunia lewat tulisan.

    Tapi, mungkin banyak dari lo yang masih mikir, “Emangnya gue bisa?” Atau “Gue nggak punya waktu buat itu.” Nah, di sini gue bakal bahas kenapa nulis buku itu penting, gimana cara mulai nulis, dan apa aja yang lo bisa dapet dari nulis buku. Simak deh!

    Menulis Buku: Lebih Dari Sekadar Menulis Halaman-Halaman

    Menurut penelitian yang dilakukan oleh The Guardian, sekitar 60% orang dewasa di seluruh dunia merasa bahwa mereka memiliki satu ide untuk menulis buku, tapi hanya sedikit yang benar-benar melakukannya. Kenapa? Karena menulis buku sering dianggap sebagai pekerjaan yang “serius banget” dan “berat banget”. Tapi kenyataannya, menulis buku nggak harus selalu ribet kok. Banyak penulis terkenal yang justru mulai dari hal-hal sederhana, dari cerita hidup mereka, atau bahkan dari pengalaman sehari-hari yang mereka tulis dengan cara yang ringan.

    Misalnya, ada Ryan Holiday, seorang penulis yang terkenal dengan buku-buku self-help-nya seperti The Obstacle Is the Way. Sebelum jadi penulis sukses, dia cuma mulai dari menulis artikel-artikel di blognya. Hal yang sama juga berlaku buat Tim Ferriss, penulis buku best-seller The 4-Hour Workweek. Tim nggak langsung nulis buku besar. Dia mulai dengan berbagi eksperimen hidup yang dia coba dan nyatanya itu menarik perhatian banyak orang.

    Jadi, nulis buku nggak harus selalu berbicara tentang sesuatu yang besar dan formal. Lo bisa mulai dengan hal-hal yang lo ngerti banget, atau bahkan yang lo passionate tentang itu. Jangan takut untuk mulai dari yang simpel. Lo tau nggak, The Subtle Art of Not Giving a Fck* karya Mark Manson jadi best-seller karena dia nulis dengan cara yang jujur dan relatable banget, tanpa pretensi, dan itu yang bikin banyak orang merasa terhubung. Lo nggak perlu jadi ahli di bidang tertentu buat mulai menulis—lo hanya perlu berbicara dari hati.

    Studi Kasus: Nulis Itu Bisa Menjadi Langkah Awal Buat Karier Lo

    Gue nggak bakal cuma ngomongin teori, yuk lihat studi kasus dari Maya Angelou, penulis legendaris yang juga seorang penyair dan aktivis. Sebelum menjadi penulis, Angelou adalah seorang perempuan muda yang mengalami banyak kesulitan dalam hidup, dari pelecehan hingga diskriminasi. Tapi yang keren adalah, dia nggak lari dari kenyataan itu. Justru pengalaman hidupnya dia tuangin dalam buku I Know Why the Caged Bird Sings. Buku ini nggak cuma populer karena keindahan bahasa dan tulisannya, tapi juga karena cara Angelou menulis dengan begitu jujur dan berani.

    Pelajaran yang bisa kita ambil dari Maya Angelou adalah menulis bisa jadi cara untuk memproses dan menyembuhkan diri, sementara juga membuka peluang untuk mendapatkan pengakuan. Lo nggak harus menulis tentang kehidupan yang dramatis atau luar biasa. Lo bisa mulai dengan hal-hal kecil yang lo rasa punya makna buat diri lo, dan siapa tahu itu bisa memberi dampak besar bagi orang lain. Dan lebih dari itu, menulis bisa mengubah perspektif lo tentang diri lo sendiri, dan bikin lo lebih percaya diri untuk berbagi cerita.

    Menulis Buku Itu Bisa Jadi Legasi, Gengs

    Tahu nggak sih, salah satu alasan kenapa banyak orang sukses yang menulis buku adalah karena mereka pengen punya legasi? Lo pasti tahu kan, beberapa orang yang kita kagumi—baik itu di dunia bisnis, olahraga, atau bahkan selebritas—mereka punya buku yang mereka tulis tentang pengalaman hidup mereka. Buku-buku itu nggak hanya berbicara tentang keberhasilan mereka, tapi juga tentang pelajaran yang mereka dapat sepanjang hidup. Tools, tips, atau panduan yang mereka bagi, itu jadi ilmu yang bisa kita pakai, bahkan lama setelah mereka nggak ada lagi.

    Contoh lainnya adalah Malcolm Gladwell, penulis buku Outliers dan The Tipping Point. Gladwell menulis dengan gaya yang menarik dan penuh cerita-cerita yang bikin kita mikir, dan itu menjadikannya sebagai figur yang nggak hanya dikenal di bidang jurnalistik, tapi juga di dunia bisnis dan kepemimpinan. Buku-bukunya memberi panduan berharga untuk orang yang ingin sukses, dan karena itulah dia punya pengaruh besar sampai sekarang. Ini bukti bahwa menulis buku itu bisa jadi cara buat lo meninggalkan warisan yang akan terus dikenang.

    Best Practices: Gimana Mulainya?

    Lo mulai bisa nulis dengan cara yang nggak berat, gengs. Coba aja deh mulai dengan menulis di blog atau jurnal pribadi dulu. Jangan buru-buru mikirin harus jadi best-seller. Fokus aja dulu ke konten dan pesan yang pengen lo sampaikan. Jangan khawatir kalau lo ngerasa tulisan lo nggak sempurna, karena proses editing bisa dilakukan nanti. Cobalah menulis setiap hari, meskipun cuma beberapa paragraf. Seiring berjalannya waktu, tulisan lo bakal semakin berkembang dan lo bakal dapetin lebih banyak ide untuk nulis buku.

    Satu hal yang penting, selalu ingat untuk tetap autentik. Nggak ada yang lebih menarik daripada tulisan yang ditulis dengan hati. Tulis apa yang lo tahu, apa yang lo pelajari, dan apa yang lo rasakan.


    Menulis buku memang bukan hal yang gampang, tapi kalau lo mulai dengan langkah kecil dan terus konsisten, lo bisa banget menghasilkan karya yang bukan hanya berharga buat lo, tapi juga buat orang lain. Jadi, kenapa nggak mulai sekarang? Siapa tahu, tulisan lo bisa jadi sesuatu yang akan menginspirasi banyak orang di masa depan!

  • Agar Karyamu Tembus Gramedia

    Buku adalah jendela dunia. Dengan buku kita bisa memperkaya wawasan. Membuka cakrawala tanpa batas.

    Di tengah gempuran internet yang menawarkan informasi gratis, pamor buku seakan memang makin meredup. Namun, itu bukan berarti buku sudah tidak ada peminatnya. Karena selama ada manusia, buku masih ada pasarnya.

    Menyadari hal itu, setiap hari ribuan penerbit masih kewalahan menyeleksi naskah demi naskah. Mereka menyaring naskah-naskah yang masuk untuk memastikan kualitas konten dan potensi pasarnya.

    Di sisi lain, penulis-penulis baru berdatangan dari hari ke hari. Mereka meramaikan bursa penulis di tanah air. Mereka turut mewarnai dunia literasi dengan para penulis senior yang lebih berpengalaman.

    Sebagai penulis 50+ buku dengan lebih dari 15 tahun pengalaman, saya telah merasakan sendiri jatuh-bangun berkecimpung di bidang ini. Dari berbagai pelatihan daring dan luring yang saya adakan, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah bagaimana tips agar naskah buku kita tembus Gramedia.

    Pertanyaan tersebut saya anggap mengandung dua unsur. Yang pertama, buku kita diterbitkan salah satu penerbit di bawah jaringan Kompas Gramedia Group yang mana secara otomatis buku kita akan dipasarkan di jaringan toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Yang kedua, buku kita diterbitkan oleh penerbit ternama, sehingga kemungkinan besar akan juga tampil di rak-rak Toko Buku Gramedia.

    Sederhana saja. Agar naskah buku kita tembus Gramedia, karya kita harus berkualitas. Tidak ada tawar-menawar di sini. Untuk mencapai titik itu, kita perlu memenuhi satu aspek utama.

    Aspak itu adalah: buku kita memecahkan masalah. Buku yang tembus Gramedia otomatis menjadi solusi bagi pembaca. Itu artinya, buku kita perlu memberikan nilai tambah bagi pembaca. Entah itu perspektif baru, pandangan berbeda, metodologi baru, kisah inspiratif yang unik, atau sesuatu yang ada “harga”-nya di mata publik.

    Jika kita ingin memenuhi aspek ini, kuncinya adalah riset. Kita perlu tahu apa saja keluhan, tantangan, atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Abad digital memudahkan kita untuk menemukannya yaitu dengan mengetahui apa saja yang sedang viral, menjadi trending di media sosial atau sedang hype. Ini yang namanya kebutuhan.

                  Dalam hal ini, kita perlu lebih peka. Kita bisa melakukan survei langsung ke toko buku, marketplace, atau toko-toko buku online.  Buku apa  di bidang kepakaran atau passion kita yang sudah atau belum ada. Kita hubungkan dengan kebutuhan masyarakat.  Dari sini, kita bisa menemukan gap-nya.  Begitu mudah bukan?

    Sebagai contoh untuk buku non-fiksi. Anda mengamati bahwa di pasaran belum ada buku yang mengulas tentang kesehatan mental, lalu Anda merasa memiliki kepakaran di situ dan Anda telah menemukan fakta bahwa isu kesehatan mental sedang naik daun di pasaran. Nah, di situlah sweet spot-nya. Anda telah menemukan benang merah. Oleh karena itu, Anda harus segera menulis naskah buku tersebut.

    Mungkin Anda akan bertanya lagi:

    • Minimal berapa halaman Mas?
    • Format penulisannya bagaimana?
    • Dikirimkan ke siapa ya?

    Ini pertanyaan begitu mendasar yang mudah dijawab. Setiap penerbit memiliki kebijakan atau syarat dan ketentuan masing-masing. Tinggal andalkan Google, lalu Anda bisa membacanya di situs web resmi mereka. Ikuti saja apa maunya mereka.

    Sudah begitu jelas bukan?

    Atau Anda merasa masih bingung?

    Jika ingin menerbitkan buku tapi Anda belum tahu harus mulai dari mana atau masih ragu ingin menulis dengan gaya seperti apa, jangan sungkan untuk bertanya.

    Anda bisa menghubungi saya melalui Whatsapp +62 852 3050 4735.  Japri aja saja. Kita bisa berdiskusi sambil ngopi-ngopi.

    Jika Anda tidak punya waktu untuk menghubungi saya secara daring maupun luring, tenang saja. Anda bisa membaca buku Write First. Beli saja versi digitalnya. Karena semua ilmu dan pengalaman saya dalam dunia menulis dan menerbitkan buku telah saya kupas tuntas di situ.

     

    Salam literasi,

    Depok, 23 Maret 2024

  • Menulis itu Membuat Bahagia, Bener Nggak?

    Menulis itu membahagiakan. Bener nggak sih?

    Kalau pengalaman pribadi saya sih, iya! Menulis membuatku bahagia. Karena saya bisa mengekspresikan diri dengan leluasa tanpa takut dikritik oleh orang lain.

    Dari 16 tahun pengalaman menulis sejauh ini, ada begitu banyak momen yang semakin membuat saya yakin bahwa menulis itu membahagiakan.

    Pertama, mendapatkan “tiket” beasiswa S1. Berkat menerbitkan buku selepas SMA, saya mendapatkan “keberuntungan” untuk mendapatkan beasiswa penuh senilai Rp 110 juta dari Pak Theodore Permadi Rachmat (Mantan CEO PT Astra International Tbk dan Pendiri Triputra Group). Sebuah kesempatan yang mengantarkan saya bisa belajar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Paramadina.

    Kedua, membantu saya keluar dari Quarter-Life Crisis. Di usia 27 saya merasa “stuck” dalam hidup. Sehingga mendorong saya untuk Resign dari pekerjaan untuk saya manfaatkan menikmati #CareerBreak selama setahun penuh dalam misi #Sabbatical. Berkat membaca ribuan buku dan (belajar) menulis buku secara otodidak, saya bisa keluar dari masa yang penuh turbulensi tersebut.

    Ketiga, membantu saya keluar dari jeratan utang. Karena pernah terlilit utang yang tidak sedikit, saya mencari berbagai cara untuk mengatasinya. Segala upaya telah saya kerahkan untuk mewujudkannya. Dan pada akhirnya, bukulah yang membantu saya keluar dari “lingkaran setan” bernama utang.

    Berkat menulis bukulah saya bisa meraup ratusan juta dalam hitungan beberapa bulan saja. Bukan tidak mungkin kelak bisa mencapai milyaran bahkan trilyunan dari #menulis. Suatu hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

    Keempat, kesempatan berbagi. Berkat menulis saya telah menjelajahi berbagai negara, kota, dan pulau. Sebagai orang yang ketika masih kecil ingin sekali menjadi guru, rasanya menjadi penulis adalah salah satu pencapaian terbaik bagi diri saya meskipun saya akui bahwa saya bukan penulis sempurna. Berkat menulis, saya diundang untuk mengisi berbagai acara seperti pelatihan, seminar, lokakarya, atau event terkait.

    Kelima, meraih pengakuan. Sejujurnya, tujuan saya menulis hanyalah berbagi. Namun tak bisa saya pungkiri, di awal merintis karier menulis, tujuan saya memang mendapatkan pengakuan dari orang lain. Seiring berjalannya waktu, saya merasa tujuan menulis untuk mendapatkan pengakuan itu menyesatkan. Karena itu begitu egois. Dan bisa menjadi bumerang jika tidak tercapai.

    Dalam enam tahun terakhir, saya sama sekali tidak berniat mendapatkan pengakuan sebagai tujuan saya. Namun, ketika saya menulis sebaik mungkin, lalu ada orang yang mengapresiasi itu lain soal, bukan? Saya begitu percaya bahwa biarlah karya yang akan “bersuara” sendiri.  Kalau karya kita bermanfaat untuk orang banyak, bukankah itu lebih dari cukup?

    Keenam, membuat saya terus-menerus membaca. Sejak kecil hobi saya memang membaca. Dari bangku SD sampai perguruan tinggi, saya selalu menjadi pelajar yang paling banyak meminjam buku. Tidak percaya? Silakan cek sendiri ke almamater-almamater saya. Semoga mereka masih menyimpan rekapnya ya 🙂

    Bagi saya, membaca itu membuat kecanduan dalam arti positif. Dan memang sebagai penulis,  hobi membaca itu menurut saya sebuah keharusan – bukan paksaan.

    Ketujuh, membuat saya terus merasa bodoh. Jika Anda menuliskan nama lengkap saya di Google, Anda akan menemukan bahwa topik buku yang saya tulis maupun yang saya tuliskan untuk klien begitu beragam.

    Nah, itu artinya saya terpacu untuk terus belajar berkat menulis. Dan itu membuat saya bahagia bukan main. Karena bukankah jika merasa pintar kita tidak bisa #LevelUp?

    Kedelapan, mendapatkan ucapan terima kasih. Saya rasa inilah yang paling utama. Mendapatkan ucapakan terima kasih dari orang lain tidak pernah terlintas dari pikiran saya.

    Namun, sudah tidak terhitung orang yang mengucapkan terima kasih karena mereka merasa mendapatkan “sesuatu” dari buku saya. Dari yang menjadikan buku saya sebagai referensi tesis, skripsi, maupun disertasi di kampus-kampus dalam negeri dan luar negeri; hingga tiba-tiba mendapatkan surat elektronik, SMS maupun pesan singkat di Whatsapp karena buku saya dianggap “mengubah hidup?

    Karena menulis membuat saya bahagia, saya akan terus melakukannya. Karena harta tak dibawa mati, namun buku akan membuat nama kita abadi.

     

    Setiabudi, 24 November 2023

    Agung Setiyo Wibowo

  • Buku yang “Menyelamatkan” Hidupku

    Buku telah menyelamatkan hidup saya . .

    Ungkapan di atas mungkin terdengar begitu berlebihan. Namun faktanya itu yang saya alami.

    Terlahir dari keluarga petani gurem, sejak kecil saya didorong oleh kedua orang tua saya untuk mencapai apa yang disebut dengan “kesuksesan” versi orang desa. Apa itu?

    Ya  minimal tidak menjadi pengangguran selepas sekolah. Syukur-syukur kalau bisa membanggakan orang-orang di sekitar.

    Lahir dan dibesarkan di pelosok desa yang warganya mayoritas sebagai buruh tani, TKI dan petani gurem; sejak belia saya memiliki dorongan untuk mengubah nasib. Meskipun pada kenyataannya, perjalanan saya untuk menggapai mimpi tidak selalu berjalan dengan mulus.

    Mengapa buku saya anggap telah menyelamatkan hidup saya?

    Karena dari bukulah saya terinspirasi untuk maju. Dari bukulah saya bisa melihat dunia. Dari bukulah saya terdorong untuk terus-menerus mengembangkan diri. Dan dari bukulah tentu saja saya terdorong untuk mengubah nasib.

    Berikut alasan saya menyebut buku sebagai “penyelamat” hidup saya.

    Pertama, mendapatkan “tiket” beasiswa S1. Saya begitu bersyukur bisa menerbitkan buku pertama saya di tahun 2007, tahun kelulusan SMA saya. Dan buku itulah yang saya rasa menjadi pertimbangan pewawancara untuk meloloskan saya sebagai penerima beasiswa penuh S1 bernama Paramadina Fellowship. Sebuah kesempatan emas yang mengantarkan saya untuk belajar ilmu hubungan internasional di Universitas Paramadina.

    Mungkin buku memang bukan satu-satunya faktor yang membuat saya “beruntung”  menjadi penerima beasiswa tersebut. Karena ada unsur penilaian lain seperti nilai rapor, rekam jejak organisasi, prestasi memenangkan perlombaan dan seterusnya. Namun, entah mengapa saya begitu yakin bahwa bukulah yang membuat para dosen akhirnya memberikan “tiket” bernama beasiswa. Terima kasih diriku yang telah berinisiatif untuk menerbitkan buku pertama selepas SMA.

    Kedua, keluar dari jeratan Quarter-Life Crisis. Berkat membaca dan menulis buku, saya bisa berhasil dari masa kegalauan yang mengerikan. Salah satu fase terburuk yang mengantarkan saya pada titik terendah dalam hidup sebelum akhirnya menemukan titik balik. Sebuah periode yang begitu fluktuatif.  Sebuah pengalaman hidup yang mendorong saya untuk menulis buku menjadi Mantra Kehidupan

    Ya, berkat membaca ribuan bukulah saya pada akhirnya menyadari bahwa menulis buku merupakan salah satu panggilan hidup saya. Membaca buku terbukti membantu saya mengenal diri sendiri lebih baik. Begitu pun proses menulis buku.

    Terima kasih diriku yang telah mau berjuang melewati fase yang tidak mudah. Dan membaca buku maupun menulis buku telah “menyelamatkan” masa depan saya.

    Ketiga, menjadi sumber penghidupan. Sebagai manusia biasa, saya tidak terlepas dari yang namanya kesulitan keuangan. Saya pernah merasa begitu pesimis untuk bisa keluar dari jeratan utang yang mirip “gali lubang, tutup lubang”.

    Saya sempat Down. Saya mencari segala cara untuk bisa keluar dari “lingkaran setan” bernama utang. Saya mencari segala peluang yang ada di depan mata. Dari meminta umpan balik dari teman dekat hingga browsing  di internet, saya sempat “tergiur” untuk menjalani (berbagai) profesi yang nampaknya menjanjikan untuk dijalani.

    Long story short, saya tidak bisa bertahan lama di profesi-profesi baru tersebut. Meskipun memang saya kerjakan secara paruh waktu a.k.a sambilan.

    Entah “energi” dari mana yang mendorong saya, saya lagi-lagi diselamatkan oleh buku. Saya merasa menulis buku merupakan aktivitas yang mengasyikkan dan menghasilkan. Setelah fokus di situ, ternyata memang benar adanya. Ratusan juta saya dapatkan hanya dalam hitungan beberapa bulan.  Dan tentu saja peluang mendapatkan milyaran atau triliunan dari menulis buku bukan tidak mungkin kelak terjadi. Nikmat mana lagi yang saya dustakan?

    Ini bukan tentang profit. Bukan tentang ego atau kebahagiaan semu dari aktivitas bernama menulis buku. Namun  bagi saya, ini adalah tentang amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

    Dan menulis bagi saya merupakan cara saya untuk mensyukuri sisa umur yang diberikan Sang Khalik. Kini, saya begitu bangga menyebut diri saya sebagai seorang penulis buku. Karena ini bukan semata-mata untuk mendapatkan cuan. Namun lebih dari itu. Menulis buku bagi saya merupakan panggilan yang bahkan jika tidak dibayar pun, saya ikhlas melakukannya. Karena saya menyukainya.

    Setidaknya  itulah tiga alasan yang membuat buku menjadi “penyelamat” hidup di mata saya. Entah masih ada berapa banyak alasan lagi di masa depan.

    Tulisan ini saya sengaja saya buat sebagai wujud terima kasih kepada diri sendiri yang tak pernah lelah untuk menulis. Terima kasih diriku.

    Teruslah menulis, Agung!

  • Ingin Nulis 1 Buku Dalam 30 Hari? Tulis Ini!

    “Apa sih rahasia menulis buku cepat Mas Agung?”

    “Gimana cara mengatasi Writer’s Block?”

    “Aku udah berusaha menulis, tapi stuck di tengah jalan.”

    3 item di atas sering ditanyakan kepada saya di berbagai sesi pelatihan yang saya adakan. Manusia memang. Karena toh memang pertanyaan pemula.

    Berdasarkan pengalaman saya menulis buku 16 tahun terakhir, berikut tips menulis buku dengan cepat. Bahkan bisa kurang dari 30 hari.

    Lakukan riset dasar sebelum Anda mulai membuat draf
    Penulis suka membaca. Begitu Anda berhenti membuat draf untuk menemukan penelitian yang diperlukan, Anda tergoda untuk membaca tidak hanya penelitian itu tetapi juga artikel berikutnya dan penelitian berikutnya dan penelitian berikutnya. Lebih cepat dari yang Anda kira, Anda telah kehilangan tiga jam untuk membaca data penelitian menarik yang sebenarnya tidak Anda perlukan untuk menulis buku Anda.

    Pakar produktivitas akan memberi tahu Anda bahwa pola mulai-berhenti, mulai-berhentilah yang membuang-buang waktu dalam aktivitas apa pun: Mengalihkan otak Anda dari satu proses ke proses lainnya. Berpindah lokasi untuk melakukan tugas. Beralih alat untuk melakukan tugas. Intinya, lakukan riset sebelum Anda membuat draf.

    Buat garis besar keseluruhan buku sebelum Anda mulai
    Anda akan bersemangat untuk memulai setiap hari baru karena Anda akan tahu persis kemana tujuan Anda selanjutnya. Anda juga akan melihat di mana mungkin ada tumpang tindih dan menghilangkan bagian-bagian yang berlebihan sebelum Anda meluangkan waktu untuk menyusunnya.

    Jangan pernah membaca ulang apa yang Anda tulis sehari sebelumnya
    Membaca ulang dapat membuang waktu berkreasi Anda yang berharga selama berjam-jam! Teruslah melaju ke depan. Baca ulang hanya ketika Anda sedang dalam tahap pengeditan.

    Pertimbangkan maraton menulis
    Siapkan diri Anda secara fisik dan mental.  Jauhkan diri Anda dari gangguan, dan jadikan fokus total Anda menulis buku, 10 hingga 14 jam sehari, 6 hari seminggu hingga selesai. Segera setelah Anda bangun di pagi hari, buka komputer Anda dan mulailah membuat draf. Saat Anda memerlukan istirahat pertama, jadikan waktu istirahat tersebut sebagai waktu istirahat yang fungsional: Sarapan, berpakaian, atau menyikat gigi—apa pun rutinitas harian Anda. Dengan kata lain, maksimalkan “istirahat” Anda untuk melakukan apa yang diperlukan untuk menjalani 12 atau 14 jam hari menulis.

    Periksa email Anda hanya sekali sehari: di malam hari sebelum tidur
    Anda akan sangat lelah dan akan merespons segala sesuatu dengan sangat cepat hanya karena kelelahan. Orang-orang akan menunggu tanggapan Anda keesokan paginya.

    Gunakan media sosial secara bijak
    Jadwalkan postingan terlebih dahulu. Jangan berlama-lama berselancar di media sosial.

    Berkomitmenlah dengan rencana Anda
    Sangat sulit untuk menjelaskan mengapa Anda menjawab bel pintu setelah Anda mengumumkan kepada tetangga, teman, dan kerabat Anda bahwa Anda akan mengikuti maraton menulis dan tidak bisa hadir hingga tanggal X. Akuntabilitas berhasil.

    Tulis saja terlebih dahulu

    Pengenalan perangkat lunak berfungsi untuk sebagian orang. Saya lebih suka melihatnya di atas kertas atau di layar saat saya menulis, dan saya mengetik dengan sangat cepat. Menuliskannya di atas kertas memungkinkan saya melihat di mana saya memerlukan judul, ketika paragraf menjadi terlalu panjang, di mana poin-poin adalah ide yang bagus. Meskipun demikian, Anda selalu dapat memperbaiki atau menambahkan hal-hal pemformatan tersebut pada tahap pengeditan.

    Catat jam kerja, kata-kata, dan halaman-halaman Anda saat Anda membangun momentum
    Di penghujung hari, catat jam kerja, kata-kata yang ditulis, halaman-halaman yang diselesaikan. Dua alasan: Pertama, motivasi: Melihat pekerjaan Anda meningkat hari demi hari menginspirasi Anda untuk terus maju. Kedua, prediktabilitas: Setelah sekitar satu minggu, Anda akan memiliki gagasan yang kuat tentang hasil harian Anda.

    Output harian rata-rata tersebut kemudian menjadi kuota Anda—dan imbalan Anda. Tulislah setiap hari setidaknya sampai Anda mencapainya. Jika Anda mengalami hari yang sulit dalam menulis dan Anda mencapai kuota di awal hari, Anda dapat memberi penghargaan pada diri sendiri dan berhenti lebih awal.

    Lakukan penyusunan dan pengeditan dalam dua langkah berbeda
    Jangan pernah berhenti membuat draf untuk mengoreksi tata bahasa atau merevisinya agar jelas atau ringkas. Jika Anda menyadari adanya masalah saat membuat draf, cukup tambahkan inisial Anda di tempat dan buat catatan. Kemudian lanjutkan. Pertahankan momentumnya.

     

    Bagaimana? Apakah Anda tertarik menulis buku? Jika iya, tak ada salahnya membaca buku panduan menulis buku berjudul Write First berikut.

    Punya pertanyaan lebih lanjut? Hubungi saya.

  • Sudah Dapet Apa Aja Dari Buku?

    “Hari gene masih nulis buku, emang ada yang (masih mau) baca?”
    “Sebanding nggak sih perjuangan lo nulis buku dengan cuan?”
    “Emang udah dapet apa aja dari nulis bro?”
    Tiga pertanyaan di atas sering banget ku dapetin ketika teman lama maupun kenalan melihat betapa aku konsisten menulis dalam satu dekade terakhir. Aku sih sama sekali nggak tersinggung ya. Karena bukannya setiap orang berhak berkomentar?
    Jadi, udah dapet apa aja dari nulis buku? Banyak. Banyaaaaaak tentunya.
    Pertama dan yang paling penting. Aku merasa bahagia. Kebayang nggak seorang ibu yang berhasil melahirkan bayinya setelah 9 bulan mengandung bagaimana perasaannya? Kira-kira begitu pula perasaanku setiap “anak” intelektualku lahir. Plongggg, bahagia banget.
    Kedua, aku merasa hidupku bermakna. Entah sudah berapa kali aku mendapatkan ucapan terima kasih melalui SMS, pesan masuk di email atau Whatsapp, dan platform lainnya dari pembaca. Mereka merasa buku-buku saya bermanfaat. Entah bisa mengubah pola pikir, menginspirasi, membuat makin produktif, atau bisa menjadi solusi.l
    Yang paling berkesan. Banyak pembaca yang menjadikan buku aku sebagai referensi utama untuk tesis S2-nya di Jerman. Juga untuk skripsi maupun tugas akhir untuk beberapa kampus dalam negeri. Meleleh hatiku 🙂
    Ketiga, pendapatan. Motivasiku menulis adalah untuk berbagi. Ini sudah kupegang teguh dari menulis buku pertama hingga kini, tak berubah. Jadi, bagiku mau bukunya laku atau tidak bodoh amat. Diundang sebagai pembicara “gara-gara” menulis juga kujalani dengan riang. Karena bagiku mendapatkan cuan hanyalah bonus, bukan tujuan akhir.
    Keempat, jalan-jalan. Entah sudah berapa negara, kota, atau pulau yang ku datangi karena “meracik konten”. Puji Tuhan, alhamdulillah. Ini merupakan “efek samping” dari konsisten berbagi kalau kurasa.
    Kelima, warisan. Bagiku, semakin banyak buku yang kuterbitkan; semakin banyak pesan yang bisa kubagi tidak hanya kepada pembaca secara luas, namun paling penting adalah kepada anak cucuku.
    Menulis adalah berkarya untuk keabadian. Tak berlebihan bahwa buku bagiku adalah Legacy. 
     
    Nah, itu adalah beberapa hal yang kudapatkan dari menulis buku selama ini. Bagi kamu yang ingin menulis buku tapi masih bingung mau mulai dari mana, tak ada salahnya membaca Write First.
    Jadi, beranikah kamu menulis (minimal satu) buku selama hidupmu?
    Jika Tuhan memberikanmu kesempatan menulis buku, kira-kira buku tentang apa yang ingin kamu tulis?